Bersangka baiklah kepada Allah

Rabu, 2008 Oktober 01

Husnudz-Dzan di Jalan Allah

Husnuz-Dzan Di Jalan Allah
Khuthbah Idul Fitri http://www.blogger.com/img/gl.photo.gif

Oleh : H. Mas’oed Abidin

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر كَبِيْرًا وَ اْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيلاً لاَ ِإلَهَ إِلاَّ الله هُوَ الله أَكْبَر، الله أَكْبَر وَ ِلله الحَمْد. الحَمْدُ لله الذِي جَعَلَ العِيْدَ مُوْسِمًا لِلخَيْرَاتِ وَ جَعَلَ لَنَا مَا فيِ الأرضِ لِلعِمَارَات وَ زَرْعِ الحَسَنَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ خَالِقُ الأرْض وَ السَّمَاوَات، و أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَ رَسُوْله الدَّاعِي إِلىَ دِيْنِهِ بِأَوْضَحِ البَيِّنَات. اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِك عَلَى سَيِّدِالكَائِنَات، نَبِيِّنَا مُحَمَّد وَ عَلىَ آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ التَّابِعِيْنَ المُجْتَهِدِين لِنَصْرَةِ الدِّين وَ إِزَالةِ المُنْكَرَات. أُوْصِيْكُمْ وَ إِيَّاىَ بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ ، الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحَمْد.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada tuhan selain Allah yang
Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah.

Allah Maha Besar sebesar-besarnya, segala puji bagi-Nya sebanyak-banyaknya, Maha Suci Allah dari pagi hingga petang hari. Tiada tuhan selain Allah, sendiri. Yang benar janji-Nya, yang memberi kemenangan kepada hamba-Nya, yang memuliakan prajurit-Nya sendirian. Tiada tuhan selain Allah, dan kita tidak beribadah kecualihanya kepada Allah, mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci. Tiada tuhan selain Allah. Allah Maha Besar, bagi Allah-lah segala puji.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Pada pagi hari ini kita menyaksikan ratusan juta umat manusia mengumandangkan takbir, tahlil, tasbih, dan tahmid.
Semilyar mulut menggumamkan kebesaran, kesucian, dan pujian untuk Allah Subahanhu wa Ta’ala, sekian banyak pasang mata tertunduk di hadapan kemaha-besaran Allah Azza wa Jalla, sekian banyak hati diharu-biru oleh kecamuk rasa bangga, haru, bahagia dalam merayakan hari kemenangan besar ini.

Sebuah kemenangan dalam pertempuran panjang dan melelahkan.
Bukan melawan musuh di medan laga, bukan melawan pasukan dalam pertempuran
bersenjata.
Tetapi, pertempuran melawan musuh yang ada di dalam diri kita, nafsu dan syahwat serta syetan yang cenderung ingin menjerumuskan kita.

Ibnu Sirin berkata tentang sulitnya mengendalikan jiwa, “Aku tidak pernah mempunyai urusan yang lebih pelik ketimbang urusan jiwa.”

Hasan Bashari berkata, “Binatang binal tidak lebih memperlukan tali kekang ketimbang jiwamu.”

Kemenangan melawan hawa nafsu ini adalah inti kemenangan.
Ini kemenangan terbesar.
Kemenangan utama akan melahirkan kemenangan-kemenangan lain dalam semua kancah kehidupan dunia yang kita arungi.

Kita memerlukan kemenangan seperti ini untuk memenangkan semua pertarungan yang di hadapi dalam hidup ini.
Betapapun banyaknya alat peragat berupa materi untuk merebut kemenangan yang di-kuasai oleh seseorang, kelompok, atau bangsa, ternyata mereka harus menelan kekalahan jua.
Sebenarnya, mereka menguasai ilmu dan teknologi, senjata canggih dan perlengkapan yang mencukupi.
Namun semua itu tidak berdaya ketika berhadapan dengan seseorang, kelompok, atau bangsa yang memiliki ketangguhan jiwa, mempunyai kekuatan mental, yang dibentengi oleh kematangan pribadi.

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar (memiliki ketangguhan).” (Al-Baqarah: 249).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu.

Selama sebulan penuh kita berada dalam bulan suci, bulan penuh keberkahan dan nilai.
Bulan yang mengantarkan kita kepada suasana batin yang sangat indah.
Bulan yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan bagi kita kaum Muslimin.
Bulan Ramadhan melatih kita untuk memberi perhatian kepada waktu.
Sungguh banyak manusia yang tidak bisa menghargai dan memanfaatkan waktunya.

Ramadhan melatih kita untuk selalu rindu kepada waktu-waktu shalat, yang barangkali di luar Ramadhan kita sering mengabaikan waktu-waktu shalat itu.
Adzan telah berkumandang di samping kanan kiri telinga kita, namun kita masih tetap dengan segala kesibukan kita.
Tidak tergerak bibir kita untuk menjawabnya apa lagi untuk memenuhi panggilan itu. Dan kita telah membiarkan suara Muadzin itu memantul di tembok rumah dan kantor kita, lalu pergi bersama angin lalu.

Selama bulan Ramadhan ini kita selalu menunggu suara adzan, minimal adzan Maghrib dan Shubuh. Kita tempel di rumah kita, bahkan kita hapal jadwal Imsakiyyah. Mudah-mudahan selepas Ramadhan ini rasa rindu kepada waktu shalat selalu kita pelihara.

Waktu adalah kehidupan.
Barangsiapa menyia-nyiakan waktunya berarti ia menyiakan-nyiakan hidupnya.

Ada survei tahun 1980 bahwa Jepang adalah negara pertama yang paling produktif dan efektif dalam menggunakan waktu. Disusul Amerika dan Israel.
Subhanallah, ternyata negara-negara itu kini menguasai dunia.

Sebagai seorang muslim, mestinya kita menjadi orang yang paling disiplin dengan waktu kita.

Al-Qur’an yang kita baca di bulan Ramadhan mengisyaratkan pentingnya waktu bagi kehidupan.
Bahkan pada banyak ayat Allah bersumpah dengan waktu.
Maka jika kita ingin menjadi manusia yang terhormat di antara manusia lain dan bermartabat di sisi Allah, hendaknya kita isi waktu kita dengan hal-hal yang produktif, baik untuk kepentingan dunia atau akhirat kita.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu.

Ramadhan juga melatih kita untuk memakmurkan tempat-tempat ibadah; masjid, mushalla, dan surau. Gegap gempita kita mendatangi rumah-rumah Allah ini, kita kerahkan anak istri kita untuk meramaikan tempat suci ini.
Hingga ketika menyaksikan pemandangan indah ini seseorang sempat berkhayal, “Andai Ramadhan datang dua belas kali setahun.”

Begitu indah pemandangan ini, suara pujian dan doa bersahut-sahutan dari pengeras suara di antara masjid-masjid.
Alam serasa hanyut dalam tasbih dan istighfar, di bawah naungan Asma’ al Husna.

Suasana ini perlu kita pertahankan selepas Ramadhan ini, kita perlu mengerahkan keluarga kita untuk memakmurkan masjid-masjid Allah.
Sehingga kita layak mendapatkan janji Allah, bahwa,
“Ada tujuh golongan manusia yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya di hari dimana tidak ada naungan selian naungan Allah .dan (salah satu daripadanya adalah) seseorang yang hatinya terikat dengan masjid.”

Ramadhan juga melatih kita untuk lebih mementingkan ketaatan kepada Allah dengan mengorbankan tenaga dan kepentingan kita

Di saat-saat kita masih lelah bekerja seharian, setelah sepanjang siang kita bertahan dengan rasa lapar dan dahaga. Ketika kita mestinya beristirahat dari kepenatan, namun, justru kita ruku’ dan sujud dalam shalat tarawih atau qiyamu
Ramadhan dengan satu harapan, mudah-mudahan kita mendapatkan ridha Allah. Itu semata satu-satunya yang paling berharga dalam hidup kita selaku Muslim.

Semangat ini mestinya kita pelihara tetap ada setelah Ramadhan meninggalkan kita.

Kita wajib mengabdi dan mempersembahkan apa yang kita miliki ini untuk meraih keridhaan Allah.

Sejatinya, apa yang kita miliki saat ini hanya amanah dari Allah Ta’ala, apakah kita dapat menjaga dan menunaikan amanah ini atau tidak.

Semestinya keridhaan Allah itu menjadi tujuan kita.
Tidak ada desah nafas, mulut bergerak, tangan berayun, dan kaki melangkah kecuali kita harus mengiringinya dengan satu pertanyaan, “Apakah dengan apa yang saya ucapkan dan saya lakukan ini saya akan mendapatkan ridha Allah.” ???

Hingga serasilah apa yang sering kita ikrarkan,
” Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam.”

Ramadhan melatih kita untuk mempunyai rasa solidaritas sesama manusia, dengan rasa lapar dan dahaga kita teringat akan nasib sebagian dari saudara-saudara kita yang kurang beruntung di dalam hidup ini, mereka setiap harinya dirongrong rasa lapar dan dahaga.

Rasa kemanusiaan semacam ini nyaris mulai sirna dewasa ini.
Saat budaya hedonisme mulai menjangkiti manusia modern, di mana mereka hanya disibukkan oleh urusan pribadi, nafsi-nafsi, urusanku sendiri sendiri.
Hal ini diakibatkan karena orientasi hidup manusia modern yang hanya memandang materi sebagai satu-satunya tujuan.
Terkadang untuk memenuhi ambisi kebendaannya seseorang rela menghalalkan segala cara.

Maka Solidaritas semacam ini perlu kita pelihara dan kita aplikasikan dalam hubungan dengan sesama manusia dengan melakukan shiyam-shiyam sunnah, di mana Islam telah mensyariatkannya.

Manusia maju atau modern perlu melakukan puasa untuk melatih kepekaan sosialnya

Para pejabat perlu melakukan puasa sunnah untuk merasakan derita yang dialami sebagian besar bangsa ini.
Sehingga, muncul kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada masyarakat miskin. Minimal dapat menurunkan gaya hidup kelas tinggi mereka di tengah bangsa yang menangis ini.

Di antara tanggung jawab umarak adalah melindungi orang lemah dengan memperbaiki silaturahim dan menanam tekad memancangkan keadilan di tengah kehidupan dengan saling menghormati, seperti sabda Rasulullah SAW :

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِى الأرْضِ، يَأوِى إِلَيْهِ الضَّعِيْفِ وَ بِهِ يَنْتَصِرُ المَظْلُوْمُ وَ مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ الله فِى الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ القِيَامَةِ.
رواه ابن النجار عن أبي هريرة

“Penguasa (pemerintahan) yang dilindungi oleh Allah di bumi, lantaran berlindung kepadanya orang lemah dan karena orang teraniaya mendapatkan pertolongan (dengan adil). Barang siapa di dunia memuliakan penguasa yang menjalankan perintah Allah, niscaya orang itu di hari kiamat dimuliakan pula oleh Allah” (Diriwayatkan oleh ibnu Najar dari Abu Hurairah).

Kita menyambut adanya itikad baik dari pemimpin negeri membudayakan hidup sederhana.
Alangkah indahnya jika ajakan hidup sederhana ini di terapkan oleh semua pihak, terutama para pejabat, menteri, anggota dewan, dirjen-dirjen dan lainnya. Ini akan menggurangi anggaran negara dan dapat dialokasikan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Bangsa ini masih terpuruk.
Rakyat masih menderita.
Kemiskinan menjadi pemandangan utama di setiap sudut kota dan pelosok desa. Tidaklah pantas memamerkan kemewahan di hadapan mereka.
Apalagi menggunakan fasilitas negara.

Zuhud, adalah sikap yang diajarkan Islam kepada kita dalam hidup ini.
Az-Zuhri ditanya tentang makna zuhud dan dia menjawab, “Zuhud bukanlah berpakaian yang kumal dan badan yang dekil. Zuhud adalah memalingkan diri dari syahwat dunia.”

Orang mukmin boleh kaya dan berjaya,
namun yang ada di hatinya hanyalah Allah semata.
Letakkan harta di tanganmu dan jangan letakkan di hatimu.
Demikian nasihat ulama.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu

Sungguh banyak pelatihan dalam Diklat Ramadhan kepada kita.
Besar sungguh hikmah disyariatkan shiyam sebulan penuh.
Agar sebelas bulan dalam setahun, kita lalui dengan menerapkan nilai-nilai Ramadhan.

Suasana spiritual yang dilatih selama sebulan Ramadhan ini menjadi energi bagi kita mengarungi sebelas bulan berikutnya. Agar predikat takwa itu benar-benar terjaga dalam diri.

Ketakwaan adalah bekal hidup dan modal untuk menghadapi pengadilan Allah Azza wa Jalla.

“Dan berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”

“Sesungguhnya sebaik-baik kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS,49, Al Hujurat : 13)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu

Ramadhan telah memberikan banyak perubahan dalam diri kita.
Mulai dari sikap, perilaku, dan paradigma dalam memandang hidup dan kehidupan. Mestinya ini semua menjadi bekal untuk melakukan perubahan-perubahan di masa depan. Perubahan yang mengantarkan hidup kita ke arah yang lebih baik. Apakah sebagai pribadi maupun bangsa.

Kehidupan yang kita lalui masih sulit.
Beban yang kita pikul semakin berat sebagai pribadi atau bangsa.

Kita sekarang belum juga bisa keluar dari krisis multi dimensi yang cukup pelik.
Pekerjaan kian sulit dicari.
Harga-harga masih membumbung tinggi.
Angka pengangguran masih tinggi.
Bencana alam silih berganti.
Kejahatan telah meraja-lela.

Demi sesuap nasi, nilai-nilai yang semestinya dijunjung dan dijaga tidak diindahkan lagi.
Bahkan, nyawa yang begitu mahal dan berharga oleh semua agama dan ideologi, kini menjadi taruhan yang sangat murah sekali.

Dari layar TV dan media cetak kita sering menyaksikan peristiwa pembunuhan yang sungguh menjadikan bulu kuduk kita berdiri.
Anak membantai ayah bundanya sendiri. Suami mencincang istri.
Tetangga menghabisi tetangga. Saudara menggorok leher saudara kandungnya.
Rata-rata motifnya sama,.. ekonomi… !!!.
Semua harus bangkit untuk mengatasi semua kesulitan yang melanda bangsa ini.

Tidak akan pernah ada bekal terbaik untuk menghadapi kondisi sulit ini selain ketakwaan semata.

Di dalam lubuk hati umat Islam mesti dikumandangkan pernyataan tulus Khalifah Umar Ibnu Khattab ;

نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا الله بِالإِسْلاَم فَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا العِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ
رواه الحكم

“ Kita adalah umat yang telah dibikin berjaya oleh Allah dengan bimbingan agama Islam. Kalaulah (satu kali) kita ingin mencapai kejayaan lagi dengan bimbingan selain agama Islam, (sudah pasti) malah kehinaan yang akan ditimpakan Allah kepada kita.”

Di hari yang fitri ini, di tengah merayakan kemenangan besar, di masa baru saja selesai melakukan pelatihan sebulan penuh.
Di mana nuansa kesucian masih kita rasakan.
Di saat pikiran dan hati telah mengalami pencerahan oleh nilai-nilai ketakwaan. Marilah kita menatap hari esok yang lebih baik, penuh optimisme.

Memang seorang Mukmin Muttaqin berpantang kehilangan asa dalam kondisi apapun. Optimisme adalah harga mati jika kita ingin bangkit mengatasi berbagai kesulitan ini.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu.

Ada beberapa variabel untuk membangun optimisme dalam diri kita.

Pertama, Husnudzan kepada Allah.
Husnudzan atau berprasangka baik kepada Allah harus kita kokohkan dalam diri kita. Kita sepakat bahwa tidak ada satu peristiwa yang terjadi selain hanya dengan izin dan kehendak Allah semata. Termasuk ujian dan kesulitan yang sedang kita hadapi sebagai bangsa atau Negara.

Seorang Mukmin selalu menerima semua ketentuan Allah dengan prasangka baik.
Mukmin punya prinsip bahwa apa yang menimpanya, itulah yang terbaik baginya menurut ketentuan Allah.
Mukmin tidak mau menggerutu kepada Penciptanya.

Mereka tidak pernah memberontak kepada keputusan Tuhannya.
Mukmin selalu menatap semua ujian itu dengan senyum.
Mereka yakin akan mendapatkan dua keuntungan dari ujian itu:
1. Diangkat dan dihapuskannya kesalahan dan dosa-dosanya
2. Dan tinggikan derajatnya di sisi Allah Azza wa Jalla

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ: أَنَّهُ قَالَ : عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ. إِنَّ اللهَ، إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ. فَمَنْ رَضِىَ، فَلَهُ الرِّضَا. وَ مَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

 سنن الترمذي، كتاب الزهد، باب ماجاء في الصبر على البلاء (2320)، سنن ابن ماجه، كتاب الفتن، باب الصبر على البلاء 4011

Dari Anas bin Malik RA. Rasulullah SAW bersabda: Besarnya suatu balasan amal tergantung pada besarnya cobaan yang diterima. Karena sesungguhnya Allah, jika mencintai suatu kaum, maka ia timpakan bala’ pada mereka. Siapa yang ridha, baginya keridhaan Allah. Siapa yang gundah gulana, makaia akan tersiksa karena kegundahannya (baginya kemurkaan Allah).” (HR. Turmudzi, [2320], Ibnu Majah [4021])

“Sungguh mengherankan urusan seorang Mukmin, semua urusannya berakibat baik baginya, dan itu tidak terjadi kepada selain orang-orang Mukmin, jika mereka mendapatkan kebaikan ia bersyukur dan itu baik baginya. Dan jika mereka mendapat bencana ia bersabar dan itu baik pula baginya.” (HR.Muslim)

Husnudzan harus kita pelihara dalam diri kita.
Allah tidak menghendaki dari hamba-Nya selain kebaikan di dunia dan di akhirat.
Jangan sampai kita celaka di dunia dan teraniaya di akhirat akibat prasangka buruk kepada Allah.
Na’udzu billah, tsumma na’udzu billah.

Kedua, Tidak putus dari berdoa.
Doa merupakan senjata orang beriman, berdoa merupakan ibadah dan enggan berdoa merupakan kesombongan kepada Allah Azza wa Jalla.

Sebagai bangsa, kita ini diharapkan orang lain mestinya sudah hancur berantakan, mestinya negara yang bernama Indonesia ini sudah gulung tikar.
Krisis ekonami berkepanjangan telah menggiling bangsa.
Krisis kepercayaan, rusak moral, bom meledak di mana-mana, pemerintahan yang lemah Berbagai tekanan bahkan konspirasi untuk menghancurkan bangsa kita begitu kuat dilakukan orang.
Pertikaian dan permusuhan antar suku, entis, dan antar agama menjadi-jadi.
Pertumbuhan ekonomi yang kian memburuk.
Hutang negara kian membumbung tinggi.
Semuanya itu, mestinya sudah cukup membuat kita, sebagai bangsa ambruk terkapar

Tetapi kenyataannya tidak.
Kita masih hidup sebagai bangsa yang kuat.
Apapun keadaannya, kita masih bisa berdiri tegak.
Mengapa hingga saat ini kita masih bisa bertahan…..???.

Kita yakin seyakin-yakinnya, semuanya telah terjadi berkat doa yang dipanjatkan setiap muslim di negeri ini.
Semua itu berkat ratusan juta pasang tangan yang selalu ditengadahkan ke langit. Berdoa agar negeri ini dijauhkan dari kehancuran.
Perpaduan hati dan kecintaan menjadi awal dari persatuan.
Akhlak mulia dan sifat malu pada generasi muda akan menjadikan dunia bersih tak bernoda.

Sabda Rasulullah SAW sebutkan,

العَدْلُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأُمَرَاءِ أَحْسَنُ، السَّخَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأَغْنِيَاءِ أَحْسَنُ، اَلْوَرَعُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى العُلَمَاءِ أَحْسَنُ الصَّبْرُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الفُقَرَاءِ أَحْسَنُ، التَّوْبَةُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الشَّبَابِ أَحْسَنُ، الَحيَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى النِّسَاءِ أَحْسَنُ.
رواه الديلمى عن عمر

“Keadilan itu baik, akan tetapi lebih baik kalau berada pada umarak (pejabat pemerintahan). Kedermawanan itu baik, akan lebih baik jika ada pada orang-orang yang mampu (hartawan). Hemat cermat itu sangat baik, akan tetapi lebih baik kalau cermat itu berada pada orang berilmu. Kesabaran itu baik, namun akan lebih baik kalau ada pada orang miskin. Tobat (meninggalkan dosa itu baik), tetapi akan lebih baik kalau ada pada pemuda. Malu itu baik, tetapi akan lebih baik kalau ada pada perempuan”. (HR. Dailami dari Umar bin Khattab).

Di tangan umarak terletak kunci pemerintahan.
Penguasa yang baik akan menjadikan kehidupan dunia jernih dan saling menyayangi dalam tatanan berbangsa.

خِيَارُ أَئِمَّتُكُمُ الذِّينَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَ يُحِبُّوْنكَمُ ْو َتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَ يُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ.

“Pemimpin/penguasa kamu yang terbaik ialah yang kamu cintai dia setulus hati, sedang mereka pun mencintai kamu rakyatnya dengan sesungguh hati pula. Kamu selalu mendo’akan keselamatan mereka kepada Allah, begitu pula mereka selalu berdo’a dan berusaha keras untuk kesejahteraan kamu rakyatnya, dengan seikhlas hati pula.

وَ شِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الذِّيْنَ تَبْغُضُوْنَهُمْ وَ يَبْغْضُوْنَكُمْ تلَعِْنُوْنـَـهُمْ وَ يَلْعَنُوْنَكُمْ.
رواه مسلم عن ابن مالك

Sejahat-jahat pimpinan pengusaha kamu ialah mereka yang selalu kamu benci karena tindak tanduknya yang tidak adil, dan merekapun membenci kamu rakyatnya setengah mati. Kamu selalu mengutuk dan melaknat mereka supaya kekuasaan mereka cepat tumbang,sedangkan mereka sendiri mengutuki kamu pula dengan cara mempersulit dan menyengsarakan kamu rakyatnya….” (Hadits menurut riwayat Imam Muslim dari A’uf bin Malik).

Ketiga, meneladani para nabi dan rasul. Mereka adalah kekasih-kekasih Allah. Sungguhpun demikian, ujian dan cobaan selalu Allah timpakan kepada mereka, amat dahsyat dan tak terperikan. Bahkan di antara mereka ada yang mendapat gelar Ulil Azmi karena keberhasilan mereka dalam mengahadapi ujian berat.

Rahasianya adalah mereka tidak pernah berputus asa kepada Allah Ta’ala.

Adalah nabiyullah Zakaria yang selalu merindukan anak, namun hingga di usianya yang mulai senja, si buah hati yang di idamkannya belum kunjung datang.
Hal itu tidak membuatnya putus asa dan kehilangan optimisme.

Dengarkan Al-Quran menuturkan,
(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakariya, yaitu tatkala ia berdo`a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo`a kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya`qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai”.(QS.19, Maryam: 2-6).

Orang yang sudah tua renta, istrinya mandul pula, lalu mengharapkan mempunyai anak. Rasanya akan mustahil terjadi. Harapan akan tinggal harapan.

Kekasih Allah tidak pernah menyandarkan harapannya kepada sebab-sebab manusiawi semata.

Sebab sebab itu juga merupakan kehendak Allah.
Sungguh Allah mampu menciptakan dari yang tiada menjadi ada.
Tentulah tidak akan sulit menciptakan dari yang sudah ada, walau usia renta dan istri mandul.

Akhirnya Allah mendengar doanya dan melihat ketegarannya.
“Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS.19, Maryam: 7).

Itu pula yang dialami Ibrahim, Khalilullah, ketika beliau bermohon diberi turunan ketika berdoa “Rabbi, Hablii minas-Shalihin”.

Tidak ada yang mustahil bagi Allah.
Tugas kita hanyalah tetap berusaha dan berdoa.

Pada perang Khandaq, saat sepuluh ribu pasukan sekutu yang terdiri dari suku Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya mengepung Madinah. Sementara Rasulullah hanya didukung dua ribu pasukan dengan parit (khandaaq) yang mengelilingi sebagian sisi kota.

Sementara itu pula, orang-orang Yahudi Bani Quraidzah yang terikat perjanjian dengan kaum Muslimin untuk melindungi wilayah perbatasan kota Madinah, telah berkhianat dan membatalkan perjanjian mereka dengan kaum muslimin dan bergabung dengan pasukan sekutu.

Dengarlah bagaimana sikap Rasulullah SAW ketika menghadapi kondisi genting ini,

“ dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS.61, Ash-Shaaf : 13)

Allahu Akbar,
Bergembiralah wahai sekalian kaum Muslimin dengan kemenangan dari Allah dan pertolongan-Nya.
Ternyata Allah memperhatikan optimisme hamba terbaik-Nya. Dua ribu pasukan Muslim dapat mengalahkan sepuluh ribu pasukan sekutu plus orang-orang Yahudi Bani Quraidzah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu
Keempat, beramal dan bertawakkal.
Allah tidak menurunkan emas dari langit. Gunakan seluruh potensi yang Allah telah karuniakan kepada kita.

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yang telah kamu kerjakan”. (At-Taubah:105).

Rasulullah SAW menyebutkan kedudukan amalan karya kita di dunia ini dalam menciptakan kebahagiaan bersama-sama.

الدُّنْيَا الأَرْبَعَةُ نَفَرٍ: عَبْدٌ رِزْقَهُ الله مَالاً وَ عِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيْهِ وَ يَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ وَ يَعْلَمُ اللهُ حَقًّا فَهذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ
رواه الترمذي

“ Dunia ini berada dalam genggaman empat tahapan; seorang yang diberi rezki oleh Allah dengan kekayaan dan ilmu, lalu dengan kekayaan itu dia bertaqwa kepada Allah, selanjutnya di ikat tali silahturrahmi dengan masyarakat, kemudian di perhatikannya benar batas-batas hak untuk Allah. Maka disanalah kedudukan sebaik-baiknya.” (HR.Tirmidzi)

Indonesia adalah negara yang berpenduduk muslim terbanyak dengan tanah air paling strategis di perlintasan dunia. Indah seakan “qith’ah minal jannah fid-dunya”.

Negeri ini mesti kita bangun untuk umat masa depan.
Di awali memperbaiki silaturrahim.

صِلَةُ الرَّحِمِ وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَ حُسْنُ الِجوَارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارَ وَ يَزِدْنَ فِى الأعْمَارِ.  رواه أحمد

“Menghubungkan silaturrahim, budi pekerti yang baik den berbuat baik terhadap tetangga, itulah yang akan meramaikan kampung dan menambah umur”. (HR Ahmad)

Tidak ada yang mengubah diri kita selain kita sendiri.

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikuti-nya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaga-nya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS.13, Ar-Radu: 11).

Minimal dengan memanjatkan do’a secara tulus dan ikhlas agar kemelut tidak terjadi, sebagai bagian dari mensyukuri nikmat, sesuai firman Allah,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

 (ingat juga), ketika Tuhanmu mema’lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Surat ibrahim ayat 7)

Akhirnya, dengan jiwa yang suci bersih bak seorang bayi yang baru lahir. Marilah kita tundukkan hati kita kepada kebesaran Allah, menengadah, mengharap akan karunia dan rahmat-Nya, untuk kita keluarga kita, kaum Muslimin, dan bangsa kita,

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ اِسْرَافَنَا فِى أَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافَرْيْن.

“Ya Allah, Ampunilah dosa kami, ampunilah keteledoran kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum kafir”.

اللَّهُمَّ لاَ تُمْكِنُ الأَعْدَاءَ فِيْنَا وَلاَ تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ َيَخافُكَ وَلاَ يَرْحَمُنَا

Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau beri kemungkinan musuh berkuasa terhadap kami janganlah Engkau berikan kemungkinan mereka memerintah kami, walaupun kami mempunyai dosa. Janganlah Engkau jadikan yang memerintah kami, orang yang tidak takut kepada-Mu, dan tidak mempunyai kasih sayang terhadap kami”.

اللهُمَّ أَهْلِكِ الكَفَرَةَ الَّذِي يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَ يَكْذِبُوْنَ رَسُلَكَ وَ يُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَائَكَ

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah orang-orang yang selalu menutup jalan Engkau, yang tidak memberikan kebebasan kepada agama-Mu, dan mereka-mereka yang mendustakan Rasul-Rasul Engkau,dan mereka yang memerangi orang-orang yang Engkau kasihi”.

اللهُمَّ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لا َتَرُوْدَهُ عَنِ القَوْمِ الُمجْرِمِْينَ.

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah kesatuan mereka, dan pecah belah barisan mereka. Turunkan kepada mereka ‘azab sengsara-Mu, yang selalu Engkau timpakan kepada golongan-golongan yang selalu berbuat dosa”.

اللهُمَّ أَعِزِّ الإِسْلاَمِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اخْذُلِ الكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِيْنَ

“Wahai Tuhan kami, berilah kemuliaan kepada Islam dan kaum Muslimin, rendahkanlah orang-orang yang kafir dan orang musyrik”.

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللِه بَرَكَاتهُُ

Padang, 1 Syawal 1429 H / 1 Oktober 2008 M.


Adat dan Agama Islam menjadi utama dalam Sistim Kepemimpinan di Sumatera Barat yang beradat Minangkabau

Oleh Buya H.Mas’oed Abidin

Bekal utama dalam hidup, adalah keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT dan hidup beradat. Sudah  semestinya diajarkan adat dan syarak, karena nilai-nilai tamadun budaya Minangkabau – ABS-SBK — terikat kuat dengan penghayatan Islam. Sikap jiwa dari masyarakat Minangkabau, masih tertuntun oleh akhlak, sesuai bimbingan ajaran Islam, dalam adagium “Adat basandi Syara’, syara’ basandi Kitabullah “ dan “syara’ mamutuih, Adat memakai !”. Nilai-nilai budaya ini, menjadi pegangan hidup yang positif, mendorong dan merangsang serta penggerak setiap kegiatan masyarakat dalam bernagari.

Sifat dan kebiasaan-kebiasaan untuk mengembangkan kegiatan ekonomi seperti menghindarkan pemborosan, kebiasaan menyimpan, hidup berhemat, memelihara modal supaya jangan hancur, melihat jauh kedepan. Maka sikap jiwa yang lahir dari pemahaman syarak dalam budaya Minangkabau, kekuatan besar dari kekayaan budaya masyarakat yang tidak ternilai besarnya.

Adat Minangkabau memang unik. Di tengah keunikan adat budaya Minangkabau itu, seringkali ditemui beberapa kendala dalam menerapkan nilai-nilai budaya adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK), dan syarak mangato adaik mamakaikan itu. Di antaranya disebabkan oleh terabaikannya selama ini generasi muda didalam pewarisan nilai budaya Minangkabau itu. Kemudian hubungan kekerabatan keluarga mulai menipis dan peran ninik mamak kini hanya sebatas seremonial, serta peran utama dari ulama mulai kehilangan wibawa,

Keunikan nilai-nilai ideal kehidupan di Minangkabau ini, mesti dihidupkan terus dalam kehidupan bernagari. Terutama dengan menumbuhkan rasa memiliki bersama, kesadaran akan hak milik kaum, dan juga kesadaran terhadap suatu ikatan kekrabatan bernagari, bersuku serta memupuk kesediaan pengabdian dalam hubungan semenda menyemenda dalam hubungan positif pernikahan. Maka perlu dikuatkan ikatan Pembangunan di Nagari dengan  memakai pola keseimbangan dan nilai kepemimpinan di dalam Nagari, adalah keteladanan .

Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap yang selalu berpegang pada nilai-nilai iman dan taqwa, memiliki daya kreatif dan innovatif, menjalin kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi, tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan ini. Memahami nilai nilai budaya luhur, punya makna jati diri yang jelas, menjaga martabat, patuh dan taat beragama, menjadi agen perubahan, dengan motivasi yang bergantung kepada Allah, mengamalkan nilai nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, dinamis dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik material, tanpa harus mengorbankan nilai nilai kemanusiaan.

Kita memang merasakan secara sadar, bahwa akan ada pergeseran budaya ketika mengabaikan nilai-nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan penyakit social yang kronis, seperti kegemaran berkorupsi, aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak Islami, serta suka melalaikan ibadah. Kelemahan seperti ini tumbuh disebabkan pembinaan akhlak anak nagari sering tercecerkan, pendidikan surau hampir tiada lagi, atau peran pendidikan surau di rumah tangga juga melemah, dan peran pendidikan akhlak berdasarkan prinsip budaya ABS-SBK menjadi kabur. Janji Allah SWT sangat tepat, ”apabila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi “,

Semua kita mengharapkan lahirnya masyarakat mandiri dan berprestasi di bawah pengendali kemajuan yang sebenarnya yakni agama dan budaya, lebih jelasnya didalam budaya tamaddun (ABS-SBK) yang telah berlaku turun temurun dalam masyarakat Minangkabau. Tercerabutnya agama dari diri masyarakat Sumatera Barat –Minangkabau –, berakibat besar kepada perubahan perilaku dan tatanan masyarakatnya, karena “adatnya bersendi syarak, syaraknya bersendi kitabullah” dan “syarak mangato (=memerintahkan) maka adat mamakai (=melaksanakan)” – sungguhpun dalam pengamatan sehari-hari sudah sulit ditemui.

Akibat tercerabutnya nilai nilai adat itu, maka akan ditemui maraknya penyakit masyarakat (pekat, tuak, arak, judi, dadah, pergaulan bebas di kalangan kaula muda, narkoba, tindakan kriminal dan anarkis), yang merusak tatanan keamanan, maka akibat yang dirasakan adalah prinsip ABS-SBK menjadi kabur. Maka peranan pemimpin semsetinya menjadi suluah bendang (suluh yang menerangi) di Minangkabau atau yang disebut mempunyai sikap Tungku Tigo Sajarangan yang sejak dahulu telah membawa umatnya dengan informasi dan aktifitas — kepada keadaan yang lebih baik, kokoh aqidah, qanaah, istiqamah, berilmu pengetahuan, mencintai nagari, matang dengan visi dan misi bernagari, kebersamaan dan gotong royong, berkualitas dengan iman dan hikmah, amar maktruf dan nahyun ‘anil munkar, research oriented, professional, berteraskan iman dan ilmu pengetahuan, mengedepankan prinsip musyawarah dan mufakat. Jiko mangaji dari alif, Jiko naiak dari janjang, Jikok turun dari tango, Jiko babilang dari aso, artinya hidup berperaturan.

Wallahu’alamu bis-shawaab


“HIDUP BERKELUARGA SATU IBADAH” (16 JULAI 2010 / 4 SYA,BAN 1431H) .. dengan khutbah di Kuala Lumpur

Jabatan Kemajuan Islam Malaysia http://www.islam.gov.my/khutbahjakim

MUSLIMIN YANG DIRAHMATI ALLAH,

Bersempena dengan perhimpunan kita untuk menunaikan fardhu Jumaat pada hari ini marilah sama-sama kita bertakwa kepada Allah SWT dengan bersungguh-sungguh melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Mudah-mudahan kehidupan kita beroleh kebahagian di dunia dan kesejahteraan di akhirat yang kekal abadi, insya-Allah.

Tajuk khutbah pada hari ini ialah: HIDUP BERKELUARGA SATU IBADAH.

MUSLIMIN YANG DIRAHMATI ALLAH,

Budaya berzina terus menjadi isu panas di negara ini kerana sering dikaitkan dengan kes-kes pengguguran kandungan, pembahagian kondom percuma, pil pencegah hamil percuma, pembuangan bayi, rasuah seks dan pembunuhan.

Walaupun budaya keji ini dibenci oleh semua agama tetapi hanya Islam sahaja yang mengenakan hukuman yang paling berat kepada penzina iaitu direjam sampai mati jika pernah berkahwin dan disebat 100 kali jika dilakukan oleh mereka yang belum pernah berkahwin.
Hukuman keras yang dikenakan oleh Islam ini amat waras kerana perbuatan berzina adalah perbuatan yang menjatuhkan harga diri manusia serta melahirkan status nasab atau keturunan hina yang berpanjangan.

Pada hari Jumaat yang mulia ini mimbar mengingatkan bahawa pergaulan bebas adalah punca utama penzinaan. Ketahuilah bahawa seorang lelaki yang mendekati wanita pada dasarnya ia telah mendekati pintu perzinaan. Seorang lelaki yang memberi tumpuan penuh pandangan kepada wanita bererti ia telah mendekati perzinaan.

Begitu pula dengan mereka yang senang melayari gambar-gambar porno di internet, menonton video lucah adalah mendorong kepada perzinaan. Termasuk juga orang yang sudah bertunang dan menyangka bahawa setelah bertunangan ia boleh melakukan apa saja terhadap calon isteri adalah bercanggah dengan ajaran Islam. Firman Allah dalam surah al-Israa’ ayat 32:

Yang bermaksud: “Dan janganlah kamu menghampiri zina, sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji dan satu jalan yang jahat.”

Kita perlu ingat bahawa orang yang berzina akan menerima azab siksa yang sangat pedih di neraka Jahannam. Kepanasan api neraka adalah 70 kali ganda kepanasan api yang ada di atas dunia ini. Dalam beberapa hadith disebutkan di akhirat kelak, Allah SWT tidak menegurnya, tidak menyapanya dan tidak memandangnya.

Ketika perbuatan berzina berleluasa dan pintu-pintu menuju perzinaan juga terbuka luas yang kelihatan sukar disekat, maka ketahuilah bahawa musibah bersiap sedia datang menerpa kita. Seberapa dekat kita dengan pinti-pintu menuju perzinaan, sedekat itu pulalah musibah yang akan diturunkan oleh Allah SWT.

Musibah mungkin tidak menimpa diri kita tetapi akan menimpa anak cucu kita misalnya turut terjebat dengan amalan perzinaan.

Nafsu seks adalah fitrah anugerah Allah SWT kepada manusia untuk mewujudkan kasih sayang dan mendapatkan ketenangan dalam kehidupan. Bagaimana pun perlepasaan dan pembebasan hawa nafsu hendaklah dilakukan secara halal iaitu melalui perkahwinn yang sah.

Hadith dari Muslim meriwayatkan Abu Zarr al-Ghifari berkata Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud, “ Sesungguhnya setiap kali seseorang itu bertakbir adalah satu sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyeru yang makruf itu adalah sedekah, dan menghalang yang munkar juga sedekah, melakukan hubungan kelamin suami isteri juga adalah sedekah”. Lalu kami bertanya kepada Rasulullah, “ adakah kami mendatangi isteri-isteri kami baginya mendapat pahala?. Rasulullah bersabda “ Tidakkah kamu sedar jika melakukan syahwat kepada yang haram itu berdosa, maka sebaliknya bila melakukan perbuatan yang halal itu pastilah berpahala”.

Para sahabat RA apabila mendengar sabda Rasulullah itu agak terkejut kerana mereka tidak terfikir sebelum itu dan agak pelik juga. Lantaran itu mereka pun segera menyusulkan pertanyaan kepada Rasulullah dengan kehairanan: “Melakukan hubungan kelamin antara suami isteri pun diberi pahala”.

Rasulullah SAW menjelaskan dengan mudah, ‘jika seseorang melakaukan zina maka mereka berdosa, dimasukkan ke dalam neraka kerana persetubuhan haram. Tentulah tidak adil jika tidak diberi pahala bagi seseorang yang berusaha melakukan pernikahan yang halal bagi menghindarkan dari melakukan zina. Jika orang yang berzina itu menerima padah masuk neraka maka logiknya orang yang melakukan persetubuhan halal itu diberi pahala dan seterusnya memasuki syurga Allah”.

Hubungan kelamin suami isteri itu seperti juga makan minum, hukum asalnya adalah harus. Maka setiap yang harus itu untuk menjadikan dia sebagai sesuatu ibadah yang berpahala hendaklah disertai dengan niat, menjaga adab-adab hubungan kelamin seperti janganlah mendatangi isteri kamu seperti seekor binatang yang menerkam mangsanya, tidak mengadakan hubungan kelamin pada waktu haid, nifas dan sebagainya. Tidak mencerita atau merakam apa yang berlaku semasa hubungan kelamin serta menjaga kemaluan masing-masing.

SIDANG JUMAAT YANG DIRAHMATI ALLAH,

Selari dengan hidup berkeluarga itu satu ibadah, maka pada dasarnya hukum perkahwinan yang ditetapkan Islam adalah tidak membebankan. Berdasarkan hadith-hadith Rasulullah bahawa sekurang-kurangnya majlis walimah atau kenduri kahwin adalah menyembelih seekor kambing, kadar mas kahwin dan hantaran yang rendah adalah dituntut kerana membawa keberkatan dalam perkahwinan dan perlu mengelakkan pembaziran.

Bagaimana pun kerana mempertahankan adat, menjaga status dan perbuatan menunjuk-nunjuk, maka menyebabkan perbelanjaan mas kahwin, hantaran dan kenduri kendara melambung tinggi.

Walaupun menjaga adat atau status ini memberi kepuasan kepada ibubapa tetapi ia amat membebankan anak-anak kita, mereka memikul beban hutang atau kemungkinan mereka menagguhkan perkahwinan yang akhirnya membuka laluan melakukan perzinaan, mengandung anak luar nikah dan membuang bayi.

Sekali lagi mimbar menyeru ibubapa dan jemaah sekalian marilah kita mengikut sunnah dan bersederhana dalam melaksanakan majlis perkhwinan, agar dengan pendekatan ini tidak akan membebankan mana-mana pihak dalam membina ikatan perkahwinan serta mengelak dari kancah kemaksiatan.

Jadikanlah hidup berkeluarga sebagai satu ibadah yang sentiasa di rahmati Allah SWT.

Mengakhiri khutbah pada minggu ini marilah sama-sama kita merenung firman Allah dalam surah al-Ruum, ayat 21:

Maksudnya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, bahawa Ia menciptakan untuk kamu, isteri-isteri dari jenis kamu sendiri, supaya kamu bersenang hati dengannya, dan dijadikan di antara kamu perasan kasih sayang. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi keterangan-keterangan bagi orang yang berfikir”.

http://www.islam.gov.my/khutbahjakim/upload/doc/Hidup%20Berkeluarga%20Satu%20Ibadah%20(Rumi).doc


Menetapkan pilihan menjadi Ibadu r-Rahman

“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang (Ibadurrahman) itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan)  yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya ia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami …Anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami, penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam sorga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan-ucapan selamat di dalamnya.” (Q.S. Al Furqan: 63-75)

Ibadurrahman adalah hamba-hamba yang dinisbatkan kepada Allah semata (Ar Rahman) yang mengandung pengertian, bahwa mereka adalah hamba-hamba yang layak mendapatkan rahmat Allah dan mereka selalu berada dalam lingkup rahmat-Nya. Mereka adalah orang-orang yang menyadari kekuasaan Allah dan memenuhi hak-hak-Nya, yang memurnikan agama karena Allah dan Allah memurnikan agama-Nya bagi mereka.

Dinisbatkannya mereka kepada Allah Yang Maha Rahman – sebagaimana yang dinyatakan langsung oleh Allah – oleh karena disana juga ada golongan-golongan hamba yang lain, seperti hamba syeitan, hamba taghut, hamba syahwat, hamba uang, hamba khamar, hamba narkoba, hamba birahi, hamba harta, hamba tahta, hamba wanita.

Ibadurrahman mempunyai sifat dan tanda-tanda sebagaiman yang disebutkan Allah di dalam ayat-ayat di atas. Sifat-sifat tersebut adalah:

1.  Tawadhu’ dan rendah hati

2.  Murah hati

3.  Mendirikan shalat malam (Qiyamullail)

4.  Takut neraka

5.  Sederhana dalam membelanjakan harta

6.  Tauhid

7.  Menjauhi tindak pembunuhan dan menghormati kehidupan

8.  Menjauhi zina

9.  Taubat Nasuha

10.   Tidak bersumpah palsu dan meninggalkan pekerjaan yang tidak bermanfaat

11.   Menyelami ayat-ayat Allah

12. Memohon kebaikan bagi istri dan keluarganya

Sifat Ibadurrahman yang pertama: Tawadhu’

Sifat Ibadurrahman yang pertama diungkapkan oleh Al Qur’an bahwa mereka berjalan di muka bumi dalam keadaan rendah hati dan penuh tawadhu’.

Ibadurrahman berjalan di muka bumi dalam keadaan  rendah hati, tawadhu’ dan lemah lembut, berjalan dengan penuh kewibawaan dan kehormatan, tidak dengan sikap sombong dan semaunya sendiri, tidak merasa lebih tinggi dari siapapun, tidak menyeramkan dan tidak congkak.

Syaikh Yusuf Al Qardhawy mengatakan maksud berjalan dengan rendah hati bukan berarti berjalan dengan cara membungku-bungkuk seperti orang sakit, sebab Rasulullah SAW tidak berbuat seperti itu, begitu pula para sahabat. Sebagaimana yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib r.a, dari Nabi SAW, bahwa saat berjalan badan beliau bergerak-gerak seperti sedang meniti jalan menurun. Ini merupakan jalannya orang-orang yang penuh semangatdan pemberani, seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim di dalam Zadul Ma’ad . Abu Hurairah juga pernah berkata, “Aku tidak melihat sesuatu pun yang lebih bagus dari pada Rasulullah SAW. Seolah-oleh matahari berjalan di muka beliau. Aku juga tidak melihat seseorang yang lebih jalannya daripada beliau, seakan-akan bumi menjadi turun di hadapan beliau. Kami sudah berusaha menyeimbangi beliau, tapi beliau seperti tidak peduli.”

Rasulullah tidak berjalan seperti orang sakit atau lamban. Tapi maksud cepat disini bukan berarti cara berjalan yang menghilangkan kewibawaan, yang berjalan terlalu cepat. Artinya sedang-sedang saja, tidak terlalu cepat tidak terlalu lambat, sesuai dengan perawakan, umur dan kemampuan.

Rasulullah SAW juga para sahabat beliau telah menyontohkan kepada kita sikap tawadhu’ yang pada dasrnya adalah salah satu landasan sikap dan akhlak mereka.

Kemudian marilah kita simak kata-kata hikmah berikut ini yang terdapat dalam kitab Muzakarah fi manazili as Shiddiqin wa ar Rabbaniyyin; min khilali an Nushus wa Hikam Ibnu ‘Athaillah Sakandary karya Syaikh Sa’id Hawwa:

“Barangsiapa yang beranggapan bahwa dirinya tawadhu’ pada hakikatnya dia orang-orang yang sombong, sebab anggapan tawadhu’ seperti ini tidak timbul kecuali lantaran rasa tinggi diri/tinggi hati. Karena itu, jika engkau beranggapan bahwa dirimu telah tawadhu’ sebenarnya engkau adalah orang yang takabur (sombong).”


« Murah Hati »

وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Q.S. Fushilat: 34)

Sifat Ibadurrahman yang kedua: Murah hati

Sifat Ibadurrahman yang kedua adalah sifat Murah Hati saat bergaul dengan manusia, terutama dengan orang-orang yang jahil dan bodoh. Sebagaimana firman Allah SWT,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى اْلأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا

“… dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, maka mereka mengucapkan kata-kata yang baik (yang mengandung keselamatan),” (Q.S. Al Furqan: 63)

Mengucapkan kata-kata yang baik artinya membebaskan diri dari kata-kata yang mengandung dosa, celaan, fitnah dan rasa dendam. Tidak membals keburukan dengan keburukan yang sama, meskipun itu sanggup dilakukan dan punya hak untuk membalasnya.

Allah SWT berfirman:

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ لا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling dari padanya dan mereka berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang yang jahil.” (Q.S Al-Qashash: 55)

Ketika orang-orang jahil menyapa, maka Ibadurrahman mengucapkan perkataan yang baik, tidak melumuri lidahnya dengan kata-kata yang sia-sia, tidak meladeni dan menghindarinya. Karena mereka tidak mau waktu mereka terbuang hanya untuk melayani sesuatu yang tidak bermanfaat, bukankah waktu sangat berharga apalagi bagi Ibadurrahman. Begitulah Ibadarurrahman, mereka menjaga lidah, waktu dan umur, melindungi lembaran-lembaran kebaikan yang sudah ada dan mengisi dengan kebaikan-kebaikan yang lain, menghindari keburukan dan sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat bagi mereka.

Nabi Isa a.s pernah berjalan melewati sekumpulan orang-orang Yahudi, lalu mereka melontarkan kata-kata  yang tidak senonoh kepda beliau, tapi beliau menanggapi perkataan mereka dengan kebaikan. Maka ada beberapa orang bertanya kepada  beliau, “Orang-orang itu telah melontarkan kata-kata tidak senonoh kepada engkau, namun engkau justru mengatakan yang baik kepada mereka.” Beliau menjawab, “Segala sesuatu mengeluarkan apa yang ada di dalamnya.”

Anas bin Malik r.a pernah berkata; “Jika ada yang mengucapkan kata-kata kasar kepadamu, misalnya dengan ungkapan, “Wahai orang zalim, fasik, pendusta, pembohong”, atau kata-kata lain yang tidak senonoh, maka hadapilah ia dengan berkata, “Kalau memang engkau berkata bahwa aku ini seperti yang engkau katakan, semoga Allah mengampuni kesalahanku. Jika engkau dusta atau mengada-adaatau memfitnah dengan kata-katamu itu, semoga Allah mengampuni kedustaanmu.”

Allah SWT berfirman: “Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Q.S. Fushilat: 34)

Di dalam ayat di atas Allah memerintahkan kita untuk tetap berlaku baik bahkan yang lebih baik kepada orang yang berbuat jahat kepada kita, agar dia berbalik menjadi teman yang setia. Karena manusia itu menjadi tawanan kebaikan. Jika kita berbuat baik kepada seseorang, maka kebaikan itu akan mengikat dirinya  dengan diri kita, sebagaimana yang dikatakan seorang penyair:

“Tundukkan hati manusia dengan berbuat baik kepadanya. Karena hanya kebaikan yang dapat menundukkan hati manusia”.

Dalam pembahasan sebelumnya banyak disebut tentang orang-orang yang jahil dan bagaimana menykapinya dalam pergaulan. Siapakah mereka yang disebut dengan orang-orang yang jahil? … Menurut Syaikh Yusuf Al-Qardhawy, jahil menurut Al Qur’an adalah setiap orang yang durhaka kepada Allah Azza wa Jalla, setiap orang yang memberi kekuasaan kepada hawa nafsu untuk  mengalahkan kebenaran dan setiap orang yang memberi kekuasaan kepada syahwat untuk mengalahkan akal sehat. Orang-orang yang meremehkan, mengolok-olok  masalah yang serius dan mengejek kebenaran. Begitupun setiap orang yang akhlaknya buruk.

Al Qur’an menceritakan ketika para wanita tertarik dan terpesona saat menatap wajah tampanNabi Yusuf a.s, maka Nabi Yusuf a.s berkata, “…Dan jika tidak Engkau hindarkan aku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk memenuhi keinginan mereka, dan tentulah aku termasuk orang-orang yang jahil.” (Q.S. Yusuf: 33)

Al Qur’an juga menceritakan ketika Nabi Musa a.s memerintahkan kaumnya agar menyembelih sapi betina, maka mereka berkata, “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.” (Q.S. Al Baqarah: 67)

Sebagai penutup dari pembahasan kedua sifat Ibadurrahman marilah kita simak hadits Rasulullah SAW berikut ini:

“Bersabda Nabi SAW kepada ‘Uqbah bin ‘Amir r.a, “Wahai ‘Uqbah, maukah engkau aku beritahukan budi pekrti ahli dunia dan akhrat yang paling utama? Yaitu: Melakukan silaturrahmi (menghubungkan kekeluargaan) dengan orang yang telah memutuskannya, memberi kepad orang yang tidak pernah memberimu, dan memaafkan orang yang pernah menganiayamu.” (H.R. Hakim)

Sifat Ibadu r-Rahman yang Ketiga

«  Menyukai Mendirikan Shalat Malam  »

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

Dan pada sebagian malam hari, (shalat) tahajjudlah sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhamu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”

(Q.S. Al Israa: 79)

Sifat Ibadurrahman yang ketiga: Shalat Malam

Pada malam hari Ibadurrahman berada dalam keadaan antara sujud dan berdiri, yang berarti mereka sedang mendirian shalat (Qiyamullail). Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Q.S. Al Furqn: 64)

Mereka diberi sifat sujud, karena mereka meletakkan kening di atas tanah, menghadap Allah. Dan mereka juga berdiri, membaca Kalamullah. Mereka melakukan itu bukan mencari kehormatan di mata manusia, bukan untuk mencari ketenaran dan pujian, tapi mereka melakukannya karena mengharap ridha Allah dan rahmat-Nya serta karena takut akan azab-Nya.

Di dalam riwayat banyak sekali yang menceritakan tentang keadaan Rasulullah SAW dalam melewati waktu malamnya. Salah satunya diriwayatkan bahwa suatu hari Ubaid bin Umair dan Atha’ bin Abu Rabbah mendatangi rumsh Sayyidah Aisyah r.a lalu mereka bertanya, “Beritahukanlah kepada kami sesutau yang paling menakjubkan yang engkau lihat pada diri Rasulullah SAW!” Setelah diam beberapa saat, Aisyah menjawab, “Suatu malam beliau berkata kepadaku, ‘Hai Aisyah, biarkan aku malam ini beribadah kepada Rabbku.” Aku berkata, “Demi Allah, aku suka selalu dekat dengan engkau, namun aku juga suka apa yang membuat engkau senang.”

Maka beliau bangkit, bersuci, lalu berdiri untuk mengerjakan shalat. Beliau terus menerus menangis, lalu beliau duduk dan masih tetap menangis hingga janggut beliau basah oleh air mata. Lalu beliau berdiri dan  terus menangis hingga tanah di dekat beliau basah. Kemudian Bilal datang mengumandangkan Azan Subuh. Ketika melihat beliau menagis, Bilal menghampiri beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, engkau menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lampau dan dosa-dosamu yang akan datang.” Beliau menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?”

Begitulah waktu malam yang dilalui oleh Rasulullah SAW, dan begitu juga yang dilakukan oleh para sahabat beliau. Al Hasan bin Shaleh – salah salah seorang fuqaha salaf – pernah menjual seorang budak perempuan kepada sekumpulan orang. Ketika memasuki sepertiga terakhir dari waktu malam, wanita budak bangun dan menyeru  mereka, “sahalat, shalat!” Mereka bertanya-tanya, “Apakah sudah subuh? Apakah fajar sudah terbit?” Wanita budak itu  balik bertanya, “Apakah kalian tidak shalat kecuali subuh saja?” Mereka menjawab, “Memang, kami hanya biasa mengerjakan shalat fardhu.” Maka budak itu menemui Al Hasan dan memohon kepadanya dengan berkata, “Tuan menjual aku kepada sekumpulan orang yang tidak mendapatkan bagian apapun dari waktu malam. Demi Allah aku memohon agar tuan mengambil aku kembali.”

Barangsiapa yang tidak bisa melakukan semua itu (Shalat malam), maka hendaklah ia mendirikan shalat fardhu tepat pada waktunya dan tidak mengulur-ulur shalat subuh sehingga matahari hampir terbut dan lebih suka tidur.

Syaikh Yusuf Al Qardhawy mengatakan, “Pola hidup manusia sudah banyak yang rusak. Dulu mereka suka tidur lebih cepat dan bengun lebih cepat pula. Ketika berbagai macam perangkat dan fasilitas modern, media massa, TV, film, Video  ada dimana-mana, maka mereka belum tidur hingga tengah malam, dan mereka pun  kesulitan bangun lebih dini.”

“Disebutkan dari Nabi SAW, bahwa ada seseorang yang tidur sepanjang malam hingga pagi hari. Maka beliau bersabda, “Itulah orang yang dikencingi syeithan di bagian telinganya.” (H.R. Bukhari & Muslim)

Rasulullah SAW bersabda:

“Syeithan membuat tiga simpul tali dibagian  belakang kepala salah seorang diantara kalian, yang pada setiap simpul tali ia bubuhkan stempel, ‘Malam masih panjang, maka tidurlah lagi’, Jika ia bangun dan menyebut nama Allah, maka simpul itupun terburai. Jika ia wudhu’, maka satu simpul lagi terburai, dan jika ia mendirikan shalat, maka seluruh simpul terburai, sehingga dia menjadi bersemangat dan tentram jiwanya. Jika tidak, maka tertekanlah jiwanya dan (timbullah) malas.” (H.R. Bukhari)

Simpul tali syeithan itu senantiasa ada di kepala setiap orang. Karena itu Rasulullah SAW bersabda;

“Lepaskanlah simpul tali syeithan itu meskipun dengan dua rakaat.” (H.R. Ibnu Khuzaimah)

Syaikh DR. Yusuf Al Qardhawy mengatakan, “Shalat malam dapat dikerjakan seusai shalat Isya hingga waktu fajar. Kita bisa memilih bagian dari bentangangan waktu itu. Shalatlah menurut kesanggupan, bisa dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat, delapan rakaat, hingga dua belas rakaat, dan akhirilah dengan shalat witir, karena sesungguhnya akhir shalat malam itu dipersaksikan. Tuntunan yang paling sederhana dari setiap muslim ialah melaksanakan shalat fardhu. Tapi Allah mensifati Ibadurrahman, bahwa mereka adalah orang-orang yang sujud dan berdiri melaksanakan shalat di waktu malam (Qiyamullail), dan tidak mensifati mereka sebagai orang-orang yang hanya memelihara dan mendirikan shalat fardhu. Memang memelihara shalat fardhu merupakan satu tingkatan, tapi itu bukan tingkatan Ibadurrahman. Artinya, Ibadurrahman memiliki tingkatan yang lebih tinggi lagi.”

Abdullah bin Sallam berkata, “Ketika pertama kali Rasulullah SAW menginjakkan kaki di Madinah, maka orang-orang berkerumun mengelilingi beliau, dan aku termasuk mereka yang ikut berkerumun. Setelah aku amati kuperhatikan wajah beliau, maka aku tahu bahwa wajah itu bukanlah wajah pendusta. Perkataan yang  pertama kali aku dengar dari beliau adalah :

“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, jalinlah hubungan persaudaraan dan shalatlah pada malam setelah manusia tidur, niscaya kalian akan masuk  sorga dengan sejahtera.” (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)

Allahi A’lam bi as Shawab

Sifat Ibadu r-Rahman yang Keempat adalah «  Takut akan Bahaya Neraka  »

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ (1) وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ (2) عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (3) تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً (4) تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ ءَانِيَةٍ (5) لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إلاَّ مِنْ ضَرِيعٍ (6) لاَ يُسْمِنُ وَلاَ يُغْنِي مِنْ جُوعٍ

“Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan?, Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (Q.S Al Ghasyiyah: 1-7)

Sifat Ibdurrahman yang keempat: Takut Neraka

Pada edisi sebelumnya telah dibicarakan tentang sifat-sifat yang dimiliki Ibadurrahman yaitu:

1.  Berjalan di muka bumi  dengan rendah hati (Tawadhu’), dan ini merupakan keadaan yang ada pada diri mereka.

2.  Mengucapkan kata-kata yang baik (murah hati) jika mereka disapa orang-orang jahil. Ini merupakan keadaan mereka bersama orang lain.

3.  Melalui waktu malam dengan sujud dan berdiri menghadap Rabb mereka. Ini merupakan keadaan mereka bersama Allah. Dikala orang lain lalai dan tidur pulas, justru mereka bangun dan mendirikan shalat lail, bermujahadah menghadapi Allah.

Hamba-hamba yang disifati langsung oleh Allah  sebagai Ibadurrahman ini, melakukan semua yang disebutkan di atas karena ada rasa takut dan harap yang selalu merasuki diri mereka. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang memiliki rasa takut yang begitu besar kepada Allah, kepada azab-Nya, seakan-akan neraka terpampang nyata di hadapan mereka. Karena itu timbullah rasa harap akan maghfirah Allah, ampunan dan ridha-Nya, hidayah dan rahmat-Nya serta harapan akan dijauhkan dari jilatan api neraka yang sangat dahsyat. Mereka menyadari bahwa mereka hidup di dunia nyata, tertuntun dengan sekian ragam kewajiban kehidupan. Namun, meskipun demikian, mereka tidak dapat menafikan bahwa suatu hari kematian pasti akan datang menjemput. Setelah kematian ada kebangkitan.

Setelah kebangkitan ada pengumpulan. Setelah itu ada hisab (perhitungan), mizan (timbangan), ada penyerahan kitab. Tiada seorangpun yang mengetahui dengan tangan apa ia akan menerimanya, tangan kanan (ash-habul yamin) atau dengan tangan kirinya (ash-habul syimal)? Tidak ada yang mengetahui ke sisi mana timbangan amalnya, ke sisi kebaikan atau keburukan?. Yang lebih menggetarkan lagi, kemana ia diantar, apakah ke dalam syurga tau dilempar ke dalam neraka? Maka tidak heran jika para Ibadurrahman  merasa seakan-akan neraka jahannam itu terpampang dengan nyata di hadapan mereka, yang seakan-akan neraka itu hendak meluluh lantakkan diri mereka dan lidah-lidah apinya seakan hendak menjilati kulit mereka dan menembus ubun-ubun mereka. Karena itu mereka berdoa.

Setiap orang akan melewati shirah yang di bawahnya api neraka yang menganga. Tiada yang tahu apakah dia selamat melintasi/menyeberangi jembatan yang ada di atas neraka itu ataukah akan jatuh ke dalamnya? Apakah ia dapat melewatinya secara cepat ataukah melewatinya secara tertati-tatih dan akhirnya jatuh di dalamnya? Allah SWT berfirman:

وَإِنْ مِنْكُمْ إلاَّ وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا (71) ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

“Dan tidak ada seorangpun dari kamu sekalian melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabb-mu adalah suatu kepastian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (Q.S. Maryam: 71-72)

Setiap individu muslim dan keluarga muslim harus menanamkan keimanan dalam diri dan keluarganya serta menjaganya dari jilatan api neraka.

Diriwayatkan bahwa Nabi Daud pernah berkata:

“Ya Ilahi, aku tak pernah sabar akan panasnya terik matahari. Lantas, bagaimana mungkin aku bisa sabar akan panasnya api neraka-Mu?”

Nabi Isa a.s pernah berkata:

“Beberapa banyak badan yang bagus, lisan yang fasih, wajah yang berseri, kelak berada di atas api neraka sambil berteriak-teriak kesakitan.”

Syeikh Yusuf Al Qardhawy mengatakan:

“Kematian merupakan pintu, dan setiap orang akan memasukinya. Tempat tinggal macam apakah yang ada di balik pintu itu? Tempat tinggal engkau adalah sorga, selagi engkau mengerjakan hal-hal yang diridhai Allah. Jika tidak, maka nerakalah tempat tinggal engkau. Keduanya merupakan tempat tinggal yang berbeda. Maka pilihlah tempat tinggal engkau.”

Allah dan Rasul-Nya telah mengingatkan dan menggambarkan keadaan neraka sedemikian rupa, sehingga begitu jelas dan tanda-tandanya tampak di depan mata, agar kelak kita tidak lagi mempunyai hujjah di hadapan Allah. Karena itu manusia harus berada diantara takut dan harap, tidak boleh terlalu dikuasai harapan sehingga mereka merasa aman dari tipu daya Allah, dan tidak pula terlalu dikuasai rasa takut, sehingga putus asa terhadap rahmat Allah. Tapi jika seseorang merasa dosanya terlalu banyak, kedurhakaannya menumpuk, kitab amalnya dipenuhi dengan kesalahan-kesalahan, maka dia harus lebih banyak merasa takut daripada berharap, selalu mengingat dosa-dosanya dan tidak melalaikannya.

Menghisab (menghitung) dirinya sebelum dihisab, menimbang amalnya sebelum ditimbang, bertanya kepada dirinya sebelum ditanya. Dia harus mengingat neraka dan bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Apa yang telah engkau lakukan? Apa yang telah engkau abaikan? Apa yang telah engkau langgar?” Siapa tahu yang demikian ini bisa meluruskan, membuat dia menyadari apa yang telah luput, lalu membenarkan apa yang telah diabaikanya, sehingga hari ini lebih baik dari kemaren, dan besok lebih baik dari pada hari ini. Beginilah keadaan orang-orang mukmin.

Allahu A’lam bi Ash Shawab

This slideshow requires JavaScript.



Menelisik Amalan Ramadhan, untuk bekal dalam perjalanan se tahun mendatang

Mari kita telisi amalan Ramadhan kita, yang baru kita lepas beberapa hari yang lalu, dan menanyakan ke diri kita, mampukah kita menjaganya di dalam setahun mendatang ??? Semoga kita dapat melaksanakannya.

Wassalam,

(JPEG Image, 236×290 pixels)Tangga al HaramBuya H. Masoed Abidin

وَ إِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيْبٌ
أُجِيْبُ دَعْوََََة الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
فَلْيَسْتَجِيْبُوْالِى وَ لْيُؤْمِنُوْابِي
لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku sangat dekat.
Aku perkenankan setiap do’a dari orang yang berdo’a,
apabila ia berdoa  (bermohon) kepada-Ku.
Karena itu hendaklah mereka itu memenuhi segala permintaanku
(hendaklah melaksanakan perintah-Ku dalam bermohon kepada-Ku),
dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku,
agar mereka selalu berada pada kebenaran.
(QS,2 – al Baqarah : 186)

Peluang sangat besar disediakan oleh Allah SWT untuk umat manusia di bulan Ramadhan ini.
Allah SWT telah membelenggu setan di bulan ini, sehingga memudahkan manusia meningkatkan amaliahnya.

Dengan berkah Allah pula, di bulan ini pintu neraka di tutup dan pintu kebaikan di buka.
Di bulan Ramadhan tersedia rahmat, ampunan dan bebas dari azab Neraka.

وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَ أَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَ آخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوْكِهِ فِيْهِ غَفَرَ اللهُ وَ أَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ.   (رواه ابن حزيمة)

“ Bulan Ramadhan adalah bulan yang  permulaannya adalah rahmat, pertengahannya keampunan (maghfirah) dan akhirnya adalah pemerdekaan (pembebasan) dari azab neraka. (HR. Ibn Khuzaimah).

Ramadhan bulan penuh berkah.
Apabila  manusia tahu besarnya rahmat tersimpan di bulan ini, niscaya manusia berharap kiranya Allah SWT menjadikan semua bulan sepanjang tahun bernilai sama dengan Ramadhan.

Manusia dicipta dengan lengkap.
Diberi bekal keinginan dan dorongan hawa nafsu.
Manusia di bimbing oleh akal (ratio) untuk beramal baik.
Dalam mengharungi lautan kehidupan, manusia diberi pedoman yang lurus, Kitabullah yang lengkap.

Dengan semua nikmat Allah itu, manusia diuji  bermacam godaan, di antaranya dorongan beramal baik (shaleh) atau pancingan nafsu sendiri untuk berbuat salah.

Manusia dibekali petunjuk dan hidayah Allah.

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهَوْا

Maka apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, tinggalkanlah…,” (QS.59, al-Hasyr : 8).

Manusia wajib setia mengikutinya  agar kedamaian dan ketenteraman hidup dapat diujudkan.

Memanfaatkan fasilitas Allah ini, manusia di dorong untuk memenangkan pertempuran melawan godaan syaithaniyah.

Jalan menyucikan jiwa pada dasarnya adalah menundukkan ghaflah dengan memperbanyak  zikrullah, dan melawan  maksiat dengan bertaubat.
Di antaranya niat yang ikhlas karena Allah, dan upaya konsisten (istiqamah) mencari redha Allah.
Semua itu dapat diraih dengan berbagai latihan.
Termasuk latihan Ramadhan.

Kemenangan akan diraih dengan kesungguhan diri (jihadun nafs) dan keteguhan (istiqamah)  iman yang mampu membedakan antara baik dan buruk.

Allah Maha Tahu dengan kelemahan manusia.
Rahmat Allah menghadirkan bulan mulia untuk manusia.
Agar manusia dapat kembali menyusun kekuatan dirinya.
Semestinya bulan Ramadhan di jalani sepenuh hati.
Melaksanakan ibadah dan taqarrub dengan teratur.

وَ عَنِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا جَاءَ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ وَ أُغْلِقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَ صُفِّدَتْ الشَّيْاطِيْنُ.   (أخرجه مسلم)

“ Jika datang Ramadhan maka dibukakan pintu sorga dan di gembok pintu-pintu neraka serta dirantai syaithan-syaithan”
(HR. Muslim dari Abi Hurairah RA).

MENJAGA  PERUT

Menjadikan perut sebagai tuan, bekerja keras pagi dan petang lantaran takut perut tak berisi, atau hidup di dunia ditakar dengan perut kenyang saja, rasanya  kurang  tepat dijadikan tujuan utama hidup ini.

مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِ عَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أَكَلاَتٌ  يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإ ِنْ كَانَ لاَ مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَ ثُلُثٌ لِشِرَابِهِ، وَ ثُلُثٌ لِنَفْسِهِ.   (رواه أحمد و الترمذي و ابن ماجة و النسائي و ابن حبان)

“Tidak ada tempat yang paling buruk dari perut seorang yang dipenuhi oleh makanan. Cukuplah bagi anak Adam (manusia) beberapa makanan –(dan dalam satu riwayat beberapa suap)—untuk menegakkan tulang punggungnya. Dan sekiranya harus demikian, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk menumannya, dan sepertiga lagi untuk bernafas.” (HR.Ahmad, Tirmidzi).

Dalam kekenyangan sangat mudah digoda  malas.
Susah mengendali syahwat.
Sulit  merasakan nikmatnya ibadah.
Di akhirat nanti, pasti akan sangat banyak pertanggungan jawab di hadapan Rabbun Jalil.

لَنْ تَزُوْلَ قَدَمًا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَسْأ َلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، و عَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أِبْلاَهُ، و عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ، و فِيْمَا أَنْفَقَهُ، و عَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ (رواه الطبراني)

Pada hari kiamat seorang hamba (manusia) akan ditanya tentang empat perkara; tentang usianya, di pergunakan untuk apa; tentang masa mudanya, dengan apa di isi; tentang hartanya, dari mana di dapatkan dan kemana di belanjakan; dan tentang ilmunya, apa yang ia perbuat dengannya. (HR.Thabrani)

JIHAD AKBAR

Baginda Rasulullah SAW berkata,
“Seseorang tidak dikata mujahid karena melompati musuh di medan laga. Tetapi yang mujahid itu, adalah menahan diri (memiliki ke sabaran)”.
Berani tanpa perhitungan, bukanlah kesabaran. Kesabaran  mendorong seseorang bertindak benar dan   menjadikan seseorang berani berjuang mempertahankan keyakinannya.. Kesabaran adalah mampu mengendalikan diri.

SABAR adalah khazanah kekayaan jiwa yang tidak dapat di ukur dengan harta benda belaka.
Pengendalian diri, memiliki kesabaran sebelum bertindak adalah satu urusan besar dan berat.
Baginda Rasulullah SAW menyebutnya “jihad akbar”,
atau “perjuangan yang berat”.

Dengan modal jihad itu, Islam menembus seluruh permukaan bumi dengan kekuatan kesabaran dan jiwa yang terkendali.

لاَ يَبْقَى على ظَهْرِ الأرضِ بَيْتَ مَدَرٍ ولا وَبَرٍ، إلاَّ أَدْخَلَهُ الله الإسلام، بِعِزِّ عَزِيْزٍ، أو بِذُلِّ ذَلِيْلٍ … (رواه أحمد و الطبراني و ابن حبان و الحاكم)

Tidak ada rumah yang mewah maupun yang sederhana di muka bumi ini yang tidak akan dimasuki Islam. Dengan memuliakan orang yang mulia, atau dengan nebnghinakan orang yang hina. (HR.Ahmad dll).

Sepulang dari Perang Uhud yang terkenal dengan banyaknya syuhada berguguran, Baginda Rasulullah bekata, “Kita baru saja keluar dari jihad (perang) yang kecil saja. Kita akan memasuki jihad (perang) yang lebih besar lagi”. Pernyataan ini mengundang tanya sahabat setia “mana lagi perang (jihad) yang besar itu, wahai baginda Rasul?”. Sahabat merasa perang yang  baru lalu adalah paling besar yang mereka pernah alami. Rasulullah SAW menjawab, “jihadul akbar, jihadun nafsi”. (Al Hadist).

Memang mengalahkan nafsu adalah perang berat.
Perang besar yang hanya dapat dimenangkan dengan perjalanan menuju Allah.
Dan mempertahankan kebaikan tersebut terus menerus atau istiqamah di dalam melaksanakan  kewajiban ibadat yang ikhlas kepada Allah.

Hati yang bersih mampu menanggung beratnya jihad sepanjang masa.
Jihadun nafs, latihannya adalah shaum atau ibadah puasa yang di awali dan di akhiri pengendalian diri sejak mulai menahan, sesudah sahur tatkala fajar datang menjelang.

وَ كُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطَ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ اَتِمُّوْا الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ.

“…dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar…kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam (maghrib datang)…” (QS.2, al-Baqarah  ayat 187).

Tidak ada toleransi dalam ta’abudi kepada Allah SWT.
Ibadah adalah disiplin tinggi.
Makin tinggi nilai latihan, makin lama berbekas dalam diri.
Manusia berkualitas memiliki disiplin tinggi dalam setiap kondisi.

Bangsa yang tangguh menghajatkan manusia yang rela menahan diri, berhemat.
Memiliki rasa solidaritas (ukhuwah) yang mendalam.
Semua tercipta dengan latihan terus menerus.

Ibadah Ramadhan tujuan utamanya  La’allakum Tattaquuna menjadi orang terlindungi.

Bangsa bertakwa, adalah bangsa yang mawas diri.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَ اتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ و اْلأَرْضِ

Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.

Sejak awal manusia di anugerahi “fithrah” yang bersih.
Martabatnya dibina dengan ibadah jasmaniah  dan rohaniyah.
Martabat pada kemampuan menahan amarah, memupuk kesabaran dan niat yang ikhlas merebut redha Allah.

إنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، و إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ ورَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللهِ ورَسُوْلِهِ، فَمَنْ كانَتْ هِجْرَتَهُ إلَى دُنْيَا يُصِيْبُهَا أوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَجَرَ إلَيْهِ.(رواه البخاري و مسلم)

Sesungguhnya setiap amal itu karena niatnya. Dan bagi setiap orang itu apa yang diniatkan. Maka barangsiapa  yang (niat) hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, berarti hijrahnya itu untuk (mendapatkan redha dan karena taat kepada) Allah dan Rasul-Nya. Dam barangsiapa yang hijrahnya karena kepentingan dunia yang dia kejar, atau karena seorang perempuan yang akan dia kawini. Maka jirahnya itu untuk apa yang dia niatkan itu.”
(HR.Imam Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khattab RA)

Setiap insan yang memelihara fithrah kesucian jiwanya adalah pribadi kuat. Dijuluki “peribadi muttaqien”, jujur, tabah berdisiplin, mempunyai “harga diri”, pandai “berterima kasih”.
Itulah “peribadi berwatak”.

Manusia yang menjaga fithrah memiliki hati nurani yang hidup,  peduli dengan “kaum dhu’afa” (kaum lemah).

Memiliki fithrah berarti punya rasa bahagia dalam kalbu.
“Kebahagiaan dalam memberi”,
menyiratkan rasa bahagia pada pemberi dan penerima.

Memberi dan menerima,
sesuai martabat dihormati keberadaannya di tiap anggota masyarakat.
“Memberi” bukan monopoli kalangan kaya saja.
“Menerima” tidak pula milik kalangan “bernasib malang”.
Si-pemberi  memikul kewajiban karena ditangannya ada yang wajib dia keluarkan.
Si-penerima memiliki pula kewajiban untuk menerima haknya dari sipemberi.

Hakikatnya, si penerima yang dhu’afak telah menyelamatkan si pemberi yang kaya dari hukuman.
Memberi kepada dhu’afak miskin,
berarti menyelamatkan orang kaya dari menahan hak orang lain.

Maka, orang kaya seharusnya berterima kasih kepada masakin di sekitarnya, karena dhuafak miskin itu yang menyelamatkan orang kaya  tersebut.

Satu ketika kelak, akan datang masanya semua orang kaya ingin memberikan hartanya.
Namun, tidak seorangpun yang mau menerima.
Keadaan ini disebutkan Rasulullah SAW sebagai pertanda kiamat.

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرُ فِيْكُمْ المَالَ فَيَفِيْضُ، حَتَّى يَهَمُّ رَبُّ المَالَ مَنْ يَقْبَلُ مِنْهُ صَدَقَتَهُ، و حَتَّى يُعْرِضَهُ فَيَقُوْلُ الَّذِي يُعْرِضُهُ عَلَيْهِ لاَ أَرَبَ لِي.     (متفق عليه)

Hari kiamat tidak akan terjadi hingga harta umat Islam demikian melimpah dan berlebihan, hingga orang yang mempunyai harta kesulitan mencari orang yang mau menerima sedekahnya, dan jika ia ingin memberikan hartanya kepada seseorang, orang yang akan di berikan harta tersebut berkata, ‘Aku tidak ingin’.
(HR. Muttafaq ‘Alaih, al Lu’ Lu’ wal Marjan : 594.

Bila disimak hadist ini, pemberi dan penerima, sesungguhnya sama sama memiliki  “martabat” di sisi Allah.

Kedua kelompok, atas-bawah dan kaya-miskin,
dapat  berperan mengisi kehidupan duniawi yang indah dan serasi.
Mempertinggi makna kehidupan duniawi dengan harga  menghargai
menurut kemampuan masing-masing pula.

Akan datang masanya,
manusia tidak mau menerima pemberian manusia lain,
karena merasa di balik pemberian tersimpan keinginan
ingin membeli penerima.

Kesadaran memanfaatkan sesuatu
yang berasal dari hasil karya dan keringat sendiri,
self-help dengan mandiri,
lebih utama dari menjadi beban orang lain.

Tatkala manusia sadar asas hidup duniawi,
ketelatenan  menjadi peraih kebahagiaan.
Dan kebahagiaan adalah milik bersama.

Tidak ada kebahagiaan kalau hidup sendiri.
Maka tentulah semua orang ingin membantu.
Tanpa harus lebih dahulu menunggu
tangisan orang miskin minta dibantu.

Renungan hadist Rasulullah SAW menyatakan ;

لَيَأْتِيَنَّ عَلى النَّاسِ زَمَانٌ يَطُوْفُ الرَّجُلُ فِيْهِ بِالصَّدَقَةِ مِنَ الذَّهَبِ ثُمَّ لاَ يَجِدُ أَحَدًا يَأْخُذُهَا مِنْهُ. (متفق عليه)

Akan datang masa dimana seseorang akan berkeliling dengan membawa sedekah dari emas, namun ia tidak menemukan seorangpun yang mau menerimanya. (HR.Muttafaq ‘Alaih, Lu’ Lu’ wal Marjan : 593)

Mengatasi kesenjangan sosial,
seorang Muslim yang berharta wajib “membayarkan zakat,
mengeluarkan infaq, shadaqah” dalam rangka ibadah.

اُعْبُدُوْا الرَّحْمَنَ، و أطْعِمُوا الطَّعَامَ، و أفْشُوا السَّلاَمَ، تَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ         (رواه الترمذي و أحمد و البخاري)

Sembahlah Yang Maha Pengasih (Allah ‘Azza Wa Jalla), dan berilah makanan (kepada orang yang perlu diberi makan, yakni fuqarak wal masakin atau dhu’afak), dan sebarkanlah salam (kepada semua orang di dalam pergaulan kehidupan), niscaya kamu akan masuk sorga dengan salam (penuh keselamatan). (HR.Tirmidzi)

Jangan hendaknya para dhu’afak yang telah lemah
menjadi lebih tak berdaya.
Hanya menampung belas kasihan semata.
Orang kaya harus tahu beban derita orang melarat di kelilingnya.
Jangan dinanti mereka meminta.
Ulurkan tangan di saat ada kemampuan.
Inilah kepedulian menurut ajaran Agama Islam.

Fungsikan lembaga sosial yang ada.
Giatkan pendistribusian kekayaan dengan teratur.
Utamakan nilai manfaat.
Iringkan dengan pendayagunaan Lembaga-lembaga Baitul Maal,
atau Badan Amil Zakat.
Perankan Masjid Masjid dengan sempurna.
Buatkan segera data lengkap “kaum dhu’afa” (kalangan lemah)
di lingkungan sendiri.
Termasuk juga Anak Yatim.

مَنْ ضَمَّ يَتِيْمًا بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ فِى طَعَامِهِ و شَرَابِهِ، حَتَّى يَسْتَغْنَي عَنْهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ الْبَتَّةُ. (رواه أبو يعلى و أحمد)

“Barang siapa yang menggabungkan (menanggung) anak yatim diantara kaum Muslimin, dalam makan dan minumnya, sampai mereka merasa cukup (kenyang) dari makan dan minum itu, maka ia (yang menanggung anak-anak yatim dan dhu’afak) itu pasti memperoleh sorga”
(HR.Abu Ya’la dan Ahmad, dalam Al Munthaqa min At Targhib (1517) dan Majma’ Az Zawa-id (8/16).

Bagikan kepada yang “berhak”
dengan amanah  jujur dan benar.
Bila perlu, ketok pintu “kalangan tak berpunya”
atau dhu’afak itu.
Antarkan langsung ke rumah mereka,
seperti dilakukan Khalifah Umar bin Khattab
dalam upaya menyejahterakan kaum dhu’afak.

تَعْبُدُ الله ولا تُشْرِك بِهِ شَيْئًا، و تُقِيْمُ الصَّلاَةَ، و تُؤْتِي الزَّكَاةَ، و تَصِلُ الرَّحِمَ

Sembahlah Allah SWT dan jangan sekutukan Dia dengan apapun. Dirikanlah Shalat, keluarkan zakat, dan sambunglah tali silaturrahim.

Sediakan diri  “mengetok hati” kalangan berpunya.
Ingatkan bahwa di tangan mereka ada hak orang lain,
yang wajib di keluarkan.
Sehingga kesenjangan sosial teratasi.
Wa ila’ilahi turja’ul umuur.

TAHAN RASA DAN KATA

Sahabat Umar ibn Khattab berkata,
“Tidaklah seseorang itu banyak berbicara
melainkan banyak salahnya.
Dan tidaklah banyak salahnya
melainkan banyak dosanya.
Dan tidaklah banyak dosanya
melainkan masuk neraka”.

Banyak dosa ditimbulkan oleh lidah.
Memfitnah, menggunjing,
berdusta, memaki dan lain-lain.

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ، وَ الْعَمَلَ بِهِ: فَلَيْسَ ِللهِ حَاجَةٌ فيِ أَنْ يَدَعْ طَعَامَهُ وَ شَرَابَهُ.   (رواه البخاري)

“ Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan (tidak meninggalkan) perbuatan itu, maka sekiranya dia (dengan berpuasa)  meninggalkan makan dan minumnya, Allah tidak memperlukan itu”.
(HR. Bukhari, dalam kitab as-Shaum dari Abu Hirairah).

Perintah Allah kepada umat untuk beribadah
di bulan puasa dimaksudkan mencipta kemuliaan hidup.

Memelihara hubungan vertikal dengan Allah Yang Maha Esa
atau hablum min Allah.

Membina hubungan serasi bermasyarakat
atau hablum min an naasi secara horisontal.

Ibadah Ramadhan mengokohkan kedua hubungan  di maksud.

Shaum tidak  semata menahan rasa haus dan lapar.
Shaum adalah pula menahan diri dari berkata yang tidak senonoh. Menghindar dari berkata cabul.

وَ الصِّيَامُ جَنَّةٌ وَ إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفَثْ، وَلاَ يَسْخَبْ.                    (متفق عليه اللفظ للبخاري)

Shiyam itu adalah junnatun, yakni perisai.
Apabila satu ketika seorang dari kamu sedang berpuasa,
hendaklah dia tidak berbuat cabul
dan tidak pula berbantahan.
(HR. Muttafaq ‘alaihi, menurut lafazd Imam Bukhari)

REBUT  YANG PASTI

Bila di simak hakikat ibadah dalam Islam
tidak mengabaikan kegiatan rutin.
Tidak pula penyendirian dalam ibadah.
Hidup jamaah memiliki nilai lebih dibanding sendiri.
Mengasingkan diri dan memisah dari lingkungan
bukan ajaran Islam.

أنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللهِ و أَخْشَاكُمْ لَهُ، و لَكِنِّي أَقُوْمُ و أَنَامُ، و أَصُوْمُ وأَفْطُرُ، و أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي (متفق عليه)

Aku ini adalah orang yang paling tahu tentang siapa Allah
dan paling takut kepada Nya,
tapi aku ini bangun malam dan tidur.
Aku juga berpuasa dan berbuka.
Dan aku kawin dengan sejumlah perempuan.
Maka barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku,
berarti dia bukan dari golonganku.
(HR. Muttafaq ‘alaih).

Rasulullah SAW mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan,
seiring taqarrub kepada Allah.
Tujuan akhir adalah bahagia dunia dan di akhirat yang sama.

إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، و إنَّ اللهَ تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا، و اتَّقُوا النِّسَاءَ!

Sesungguhnya dunia itu lezat dan menggiurkan.
Dan sesungguhnya Allah SWT menjadikan kalian
sebagai khalifah di atas bumi.
Kemudian DIA melihat bagaimana kalian bekerja.
Takutilah  dunia, dan berhati-hatilah
dalam menjaga hak-hak kaum perempuan.

Dalam seruan shalat Jum’at,
terlihat pula betapa ibadah berjamaah
menjadi kewajiban masyarakat muslim.

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلَوَات مِنْ يَوْمِ الْجُمْعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَ ذَرُوْا اْلبَيْعَ ذَالِكُمْ خَيْرَ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang yang beriman,
apabila diseru untuk menunaikan shalat
pada hari Jum’at,
maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah
dan tinggalkan jual beli.
Yang demikian itu lebih baik bagimu
jika kamu mengetahui.”

Perintah Allah ini mempunyai makna besar.

Pertama,
shalat Jum’at lebih baik
dari pekerjaan menghasilkan keuntungan (laba) materi.
Melaksanakan shalat Jum’at
untungnya lebih besar dari perdagangan (jual beli).

Kedua,
kehidupan umat muslimin
bergerak antara masjid (ibadah shalat)
dan pasar (ibadah muamalah di tampat usaha).

Ayat ini menggambarkan keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi.

Ketiga,
selesai beribadah laksanakan tugas tugas rutin,
mencari redha Allah.

Keempat,
orang mukmin mesti berhitung  matematis.
Ibadah shalat Jum’at
waktu pelaksanaannya hanya beberapa puluh menit
memberi  keuntungan ukhrawi berlipat kali.
Perdagangan keuntungannya spekulatif.

Mukmin berilmu memilih hal yang pasti
dan tidak mau spekulasi.

Keyakinan tauhidullah mendorong inovatif
dengan pemahaman positif (positif thinking)
bahwa tidak ada yang terbuang percuma di sisi Allah.

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، إِلاَّ كاَنَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَلاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ إلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. (رواه مسلم)

Seorang Muslim yang menanam suatu tanamaan,
maka jika hasil dari tanamannya itu
dimakan oleh manusia,
maka akan menjadi sedekah baginya;
jika hasilnya dicuri orang,
juga akan menjadi sedekah baginya,
dan jika dicabut oleh orang lain,
maka itu juga akan menjadi sedekah baginya
hingga hari kiamat.
(HR.Muslim).

Beribadah, motivasinya adalah mencari redha Allah.
Redha Allah ini mutlak.
Allah telah menyediakan segalanya untuk hidup
dengan nilai nilai kemanusiaan.

Perlu diikat dengan ibadah kepada Khalik.
Ibadah adalah perjalanan kepada Allah
(rihlah ilaa Allah).

Kita perlu memahami pengertian berjalan menuju Allah,
rukun dan titik tolaknya.
Berjalan menuju Allah artinya
berpindah dari jiwa yang tidak bersih (kotor)
kepada jiwa yang bersih.

Berjalan menuju Allah adalah
berpindah dari akal
yang tidak mengikut syarak (tidak syar’i)
kepada akal yang tunduk kepada syarak.

Berpindah dari hati yang kafir, munafiq, fasiq,
sakit atau keras kepada hati yang tenang lagi selamat.

Berjalan  dari roh yang menyimpang dari pintu Allah,
kepada roh yang mengenal Allah.

Perjalanan kepada Allah adalah
dengan melaksanakan segala kewajiban peribadatan kepadaNya.
Berjalan dari jasad yang tidak terkendali dengan  syarak
kepada jasad yang terkendali secara sempurna
oleh syariat Allah ‘Azza Wa Jalla.

Kesimpulannya:
berjalan menuju Allah adalah berpindah
dari zat yang kurang sempurna
kepada zat yang lebih sempurna
dalam kesalehan dan dalam mengikut Rasulullah SAW,
baik dalam ucapan, perbuatan atau keadaan amalannya.”

Syarat-syarat perjalanan menuju Allah
disebutkan  antara lain,
ilmu dan zikir.

Tidak ada perjalanan  menuju Allah tanpa ilmu.
Tidak ada perjalanan menuju Allah tanpa zikir.
Ilmu adalah yang menerangi jalan.
Zikir adalah bekal perjalanan dan sarana pendakian.

Rasulullah SAW bersabda:

قال عليه الصلاة والسلم:  “الدنيا ملعونة ملعون ما فيها الأ ذكر الله وما واله أ و  عا لما ومتعلما”
(رواه ابن ماجه وهو صحيح)

Dunia dilaknat,
dilaknat apa yang ada di dalamnya,
kecuali zikir kepada Allah dan apa yang menyertainya,
– artinya orang yang senantiasa ingat
dan mengerti bahwa semua yang ada ini
adalah ciptaan Allah SWT
yang mesti tunduk dan patuh kepada kehendak Allah itu saja,
dengan satu gerakan ubudiyah pengabdian –,
atau orang yang berilmu
dan yang menpelajari ilmu”
(Hadith sahih, diriwayat oleh Ibnu Majah).

Kita amat memerlukan ilmu
yang membawa kita kepada mengenali
segala perintah Allah.

Kita memerlukan ilmu
untuk mengenali hikmatnya,
agar dapat melaksanakan
segala perintah Allah
dan merealisasikan hikmatNya.

Kita berhajat kepada zikir.
Agar supaya Allah selalu bersama kita
dalam perjalanan menuju redhaNya.

Maka rukun berjalan menuju Allah
adalah ilmu dan zikir.
Tidak akan ada perjalanan
melainkan dengan keduanya.

Menempuh jalan menuju Allah itu terbagi dua golongan.
Satu di antaranya lebih banyak memperhatikan zikir.

Meskipun,
mereka ambil zikir itu bersumber dari ilmu.
Kelompok ini  kemampuannya untuk mencapai ilmu memang terbatas. Tetapi, kesanggupan beribadat, beramal dan berzikir adalah besar.

Jalan yang ditempuh tentulah memperbanyak zikir,
dengan kemestian yang tidak boleh dilalaikan
adalah menyertainya dengan ilmu.

Zikir ialah yang diwarisi
atau yang dianjurkan
dan yang termasuk ke dalam
perintah Allah dan RasulNya SAW semata-mata jua adanya.

Golongan lain lebih banyak merperhatikan ilmu.
Meskipun mereka mengambil ilmu
dikembangkan kepada zikir.
Pembahagian ini semata
karena kecenderungan minat manusia.
Ada yang condong minatnya kepada ilmu lebih besar
dengan kemampuan mencapai ilmu  tersedia.

Maka jalan yang sesuai bagi kelompok ini
adalah menuntut ilmu dibarengi zikir.
Pada akhirnya,
Insya Allah keduanya akan sampai
pada tujuan mereka (wusul).

Tidak diragukan
bahwa ilmu ialah ilmu tentang Alquran dan As-Sunnah
serta yang diperlukan oleh salik dalam perjalanan zikirnya.
Maka nilai ibadah lebih mahal
dibandingkan dengan segala yang melekat
pada peribadi seorang manusia.

Ibadah akan mengisi bilai kemanusian
terutama faktor mental.

Karena itu,
pengalaman yang diperdapat pada bulan Ramadhan
seharusnya dijadikan pelajaran
untuk mempersiapkan ibadah yang lebih baik.

Sehingga Ramadhan mampu memberi makna
untuk diri masing-masing
dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan
kepada Allah SWT,

وَ لِكُلِّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوْا وَ مَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ

“Dan masing masing orang memperoleh derajat derajat
yang seimbang dengan apa yang dikerjakannya.
Dan, Tuhanmu Allah
tidak pernah lengah
dari apa apa yang mereka telah kerjakan “
(QS. Al An’aam, 6 : 132).

Di dunia ini ibarat menanam.
Di akhirat nanti menuai buahnya.
“Ad dunya daar al-‘amal,
wal akhirah daar ul-jazaa”.
“Dunia ini tempatnya berbuat ‘amal (karya),
akhirat tempat mendapatkan balasan
(dari amalan semasa di dunia ini)”
(Hadist).

Maka di bulan Ramadhan kita tanam amal ibadah.
Keutamaan bulan Ramadhan adalah sarana
bagi pertambahan nilai ibadah kita yang kurang selama ini.

Penekanannya terletak kepada “aktifitas”.
Gerak untuk melaksanakan ‘amalan.

Nilai sebuah ‘amal (karya)
tidak berarti jika tidak ada usaha merealisir amal (karya) itu.

شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهِرٍ جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَ قِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا. مِنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنْ خِصَالِ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ وَ هُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ

“Di bulan Ramadhan,
terdapat satu malam yang lebih utama dari seribu bulan”.
Seterusnya Rasulullah SAW. bersabda,
“Mengerjakan puasa di siang harinya diwajibkan.
Dan mendirikan malam harinya
(dengan ibadah sunnah seperti tarawih, tadarus Alquran)
menjadi penambah pahala dari amal puasa Ramadhan itu.”

Selanjutnya,
“Amalan amalan yang wajib,
seperti tujuh puluh kali
lebih baik dari pada amalan serupa
di luar bulan Ramadhan.
Dan bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran”.
(HR. Ibn Khuzaimah dari Salman al-Farisi).

Keutamaan Ramadhan  di dapat
dengan dorongan yang tinggi dalam beribadah.
Supaya manusia memiliki ethos kerja yang tinggi.

Ibadah sanggup membentuk watak pekerja yang tangguh
berfikir realistis dalam mengkaji
dan mensyukuri nikmat Allah.

Dari beberapa hadits di simpulkan
ada amalan tertentu untuk lebih di perbanyak.

Khususnya di bulan Ramadhan,
karena keutamaan sorga yang terbuka
dan Pintu Neraka di tutup
serta di rantai iblis dan Syaithan.

وَ عَنِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا جَاءَ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ وَ أُغْلِقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَ صُفِّدَتْ الشَّيْاطِيْنُ.    (أخرجه مسلم)

Hadist dari Abi Hurairah RA,
bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“ Apabila telah datang Ramadhan,
maka dibukakan pintu-pintu sorga,
dan dikunci pintu-pintu neraka,
serta dibelenggu syaithan-syaithan.”
(HR.Muslim).

Menghindar dari syaithan hanya dengan takwa
dan menukar amalan buruk dengan yang baik
di sepanjang waktu dan di masa datang.

اِتَّقِ الله حَيْثُمَا كُنْتَ، وَ أتْبِعِ السَّيِّئَةَ اْلحَسَنَةَ تَمْحُهَا،   و خَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

Takutlah kepada Allah dimanapun engkau berada.
Ikutilah kesalahan oleh kebaikan,
niscaya ia akan mengapus kesalahan itu,
dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.
(al Hadist).

Baginda Rasulullah menyebut Ramadhan Syahr al muwasah.
Berlapang lapang adalah adat manusia yang beradat.
Sifat terpuji ini hanya ada
pada orang yang mau memperhatikan nasib
dan keadaan orang lain.

Memberi makan kepada orang berbuka sangat di anjurkan.

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ رَضَىَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقَصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ. (رواه الترمذى و النسائي و ابن ماجة)

Dari Zaid bin Khalid RA, dari Nabi SAW,
bahwa telah bersabda Rasulullah,
“Barangsiapa memberi makanan  buka puasa
(ifthar shaim) untuk orang yang berpuasa,
maka dia akan mendapatkan pahala
seperti pahala orang yang berpuasa itu,
tanpa dikurangi sedikitpun
dari pahala puasa orang yang berpuasa
(yang diberi perbukaan itu).”
(HR.Tirmidzi, Nasa’I dan Ibn Majah).

Lapang melapangi adalah sifat yang memiliki
kepedulian sosial yang tinggi.
Memiliki kepekaan sosial yang mendalam.

Kepedulian sosial tidak dimiliki
oleh orang yang egoistis.
Perangai yang hanya mau mementingkan diri sendiri
akan menjadi  benalu dalam bermasyarakat.

Kepekaan sosial melahirkan hidup bertenggang rasa.
Dan tercipta kehidupan masyarakat tolong menolong.

وَ تَعَاوَنُوا عَلَى البِرِّ و التَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْا عَلَى اْلإِسْمِ و الْعُدْوَانِ وَ اتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ.

Ta’aawanuu ‘Alal birri wat takwa.
Saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.
Dan jangan bertolongan dalam
berbuat ma’shiyat dan permusuhan.
Sesungguhnya Allah itu keras iqab-Nya.

Sikap gotong royong
adalah  modal utama
penggerak pembangunan.
Tumbuh dari kepedulian sosial yang tinggi.
Rasa peduli,
adalah hikmah lain dari shaum (puasa).

Baginda Rasulullah SAW
menyebutkan dalam hadist
dialog dengan sahabat-sahabat beliau,

قَالُوْا: يَارَسُوْلُ اللهِ لَيْسَ كُلُّنَا يَجِدُ مَا يَفْطُرُ الصَّائِمُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْطِى اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى تَمْرَةٍ أَوْ عَلَى شُرْبَةِ مَاء أَوْ مَذْقَةِ لَبَنٍ.

Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW,
‘Ya Rasulullah!
Bukankah tidak semua dari kita berkemampuan
memberikan berbuka  (ifthar shaim)
makan puasa  ini kepada orang yang berpuasa?’.

Rasulullah SAW menjawab,
“Allah memberikan pahala  yang sama besarnya
kepada orang yang memberikan perbukaan makan
kepada orang yang berpuasa,
walaupun pemberian itu
karena ketidak mampuannya
hanya sanggup memberikan sebutir korma,
seteguk air atau hanya seteguk susu”.
(HR.Ibn Khuzaimah)

Di bulan Ramadhan diperbanyak pahala puasa
dengan “pemurah”,
dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

كَانَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْهِ أَجْوَدَ بِا لْخَيْرِ مِنَ الرَّيْحِ الْمُرْسَلَةِ

Adalah Nabi SAW di bulan Ramadhan
berada dalam penuh kebaikan (pemurah)
melebihi angin sepoi-sepoi basah.
(HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibn. Majah).

Agama Islam,
memulai pendekatan
dari menumbuhkan rasa ni’mat dalam memberi.
Menambah  rasa syukur dalam menerima.
Al Yaadul ‘ulya. Khairun Minal Yadis Sufla…”,
kata Baginda Rasulullah SAW.

Maknanya tiada lain adalah,
“Tangan di atas (yang memberi),
lebih baik dari tangan yang dibawah
(yang hanya menerima)”.
(Al Hadist).

Hikmahnya tegas sekali.
Muslim harus menjadi umat terbaik
Berkualitas mulia (khairin),
menjadi umat bertangan di atas.
Umat yang mampu memberi
dengan kasih sayang sesama,
sebagaimana kasih
terhadap diri sendiri.

لا تُؤْمِنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبُّ ِلأِخِيْهِ ما يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.  (متفق عليه)

Belum beriman seorang dari kalian
sehingga mereka mencintai
terhadap saudaranya (sesama beriman)
layaknya mereka mencintai
terhadap dirinya sendiri
(HR.Muttafaq ‘Alaih).

Membentuk umat yang mampu memberi
tidaklah mudah.
Kemampuan memberi itu
harus ditopang oleh adanya syarat dan rukun.
Satu rukunnya adalah harus berpunya.
Punya meteri untuk diberikan.
Punya sikap suka memberi.
Punya kualitas tidak senang menerima.
Punya izzatun nafs
atau harga diri yang tinggi.

Suka memberi didorong oleh sikap jiwa dari dalam.
Memberi dengan ikhlas.
Memberi yang berkualitas
melahirkan rasa solidaritas (ukhuwah).

Menerima, mesti pula dijadikan
“menerima” yang berkualitas.
Pihak yang “memberi”
dan yang “menerima”,
memiliki derajat kemuliaan.

Ibadah shaum
melahirkan keikhlasan yang tinggi.
Yang memberi telah memberi dengan ikhlas.
Yang menerima, juga menerima dengan ikhlas.
La’allakum Tasykuruuma
(supaya kamu bersyukur).

Bersyukur adalah pandai berterima kasih.
Bersyukur tidak semata sebatas mengucapkan Alhamdulillah.

Bersyukur, bermakna memelihara apa yang ada.

إنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُوْلُ يَوْمَ القِيَامَةِ: يَابْنَ آدَمَ! اسْتَطْعَمْتُكَ، فَلَمْ تُطْعِمْنِي! قَالَ: يَا رَبِّ! كَيْفَ أُطْعِمُكَ و أَنْتَ رَبُّ اْلعَالَمِيْنَ؟! قال: أَمَا عَلِمْتُ أَنَّهُ اسْتَطْعَمَكَ عَبْدِي فُلاَنٌ، فَلَمْ تُطْعِمْهُ؟ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتُ ذَلِكَ عِنْدِي؟  (رواه الطبراني)

“Sesungguhnya Allah SWT  ‘Azza  wa  Jalla,
berfirman pada hari kiamat.
‘ Hai anak cucu Adam!
Aku minta makan kepadamu,
tapi kamu tidak memberi-Ku makan.’
Dia (anak Adam) berkata,
‘Ya Rabb!
Bagaimana aku mau memberi-Mu makan,
sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?!’
Allah berfirman,
‘ Apa kau tidak tahu,
bahwa si Fulan hamba-Ku itulah
yang meminta kepadamu makan.
Mengapa tidak kamu beri makan?
Apa kau tidak tahu,
kalau kau memberinya makan,
maka kau akan mendapatkan (ganjaran)
hal itu dari sisi-Ku?’

‘Hai anak Adam!
Aku meminta kepadamu minum,
tapi kau tidak memeberi-Ku minum!’
Dia (hamba) berkata,
‘Ya Rabb!
Bagaimana aku mau memberi-Mu minum,
sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?!’
Allah SWT  berfirman,
‘ Hamba-Ku si Fulan meminta padamu minum,
tapi tidak kau beri dia minum.
Apa kau tidak tahu
bahwa kalau kau memberinya minum,
kau akan mendapatkan (pahala)
hal itu dari sisi-Ku?’.”
( HR.Muslim).

Menggunakan ni’mat
menurut ketentuan pemberi ni’mat.

Bersedia memberikan hak Allah
melalui makhluk-Nya.

Setiap ni’mat yang telah diterima manusia
dalam hidup di dunia
akan ditanya kemana dipergunakan.

اِغْتَنِم خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، و صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، و غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، و فَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، و حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ.    (رواه الحاكم)

Manfaatkanlah sebaik-baiknya lima macam kesempatan
sebelum datang lima yang lainnya;
masa mudamu sebelum datang masa tuamu,
waktu sehatmu sebelum datang masa sakitmu,
saat kayamu sebelum tiba saat miskinmu,
waktu senggang – lapangmu – sebelum datang waktu sibukmu
dan hidupmu sebelum matimu datang menjelang’.
(HR.Hakim)

Nabi Muhammad SAW  selalu  berdoa kepada Allah
agar tidak di perdaya oleh kekayaan dunia
dan tidak hina karena kefakiran yang dimiliki.

اَللَّهُمَّ إَنِّى أَعُوْذَبِكَ مِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الغِنَى، اَللَّهُمَّ إَنِّى أَعُوْذَبِكَ مِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الفَقْرِ.    (رواه البخاري)

Wahai Allah,
sesungguhnya aku ini berlindung kepada MU
dari jahatnya fitnah kekayaan.
Ya Allah,
sesungguhnya aku ini berlindung kepada MU
dari buruknya fitnah kefakiran
(HR. Bukhari Muslim)

Pemurah sesama manusia,
terutama kepada dhu’afak,
karena do’a fakir miskin
sangat mustajab.

Yang tidak peduli nasib simiskin,
sesungguhnya bukanlah golonganku,
kata Nabi Muhammad SAW.

Manusia bukan objek dari alam.
Tetapi sebaliknya,
alam adalah objek bagi manusia.
Alam dibuat untuk  kepentingan,
keperluan manusia.

Manusia adalah subjek terhadap alam itu.
Bila ilmu pengetahuan alam
mengenal adanya geo-centris
dimana bumi sebagai pusar
kendali kehidupan alamiyah.

Maka Allah Yang Maha Pencipta
telah menciptakan manusia
sebagai titik sentral
dari kehidupan di bumi
yang alamiyah ini.

Bumi tidak akan menjadi pusat perhatian,
bila ditakdirkan tidak dihuni oleh manusia.

Apabila masa sekarang planit-planit lain
di keliling bumi mulai menjadi perhatian
dan bahan penelitian,
justeru karena adanya manusia penghuni  bumi.

QIYAMUL-LAIL, SHOLAT MALAM

Rasulullah SAW bersabda;
“Barangsiapa yang melaksanakan Qiyamul-Lail
di Ramadhan atas dasar iman dan ikhlas
pasti diampuni dosa-dosanya yang telah lewat”.
(H.R. Bukhari Muslim).

Melakukan amalan baik,
seperti shalatul-lail,
serta menyeru orang lain
untuk ikut melaksanakannya,
niscaya  akan mendatangkan
keuntungan besar.

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا و أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ (رواه مسلم و أحمد و الترمذي و النسائي و ابن ماجة)

Barangsiapa yang menyunnahkan suatu sunnah
yang baik di dalam Islam,
maka dia mendapatkan pahalanya
dan pahala orang yang mengamalkan sesudahnya,
tanpa mengurangi sedikitpun
dari pahala mereka.
(HR.Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Nasa’I, dan Ibnu Majah).

Seruan untuk setiap Mukmin
agar berjihad memelihara kepatuhan
terhadap Allah SWT
dengan sujud dan rukuk yang teratur.

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا ارْكَعُوْا وَ اسْجُدُوْا وَ اعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوْا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُوْنَ. وَ جَاهِدُوْا فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيْكُمْ إِبْرَاهِيْمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ قَبْلُ وَ فِي هَذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَ تَكُوْنُوْا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيْمُوْا الصَّلَوَاتَ وَ آتُوْا الزَّكَوَاتَ وَ اعْتَصِِمُوْا بِاللهِ هُوَ مَوْلاَكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَ نِعْمَ النَّصَيْرُ.

“Hai orang-orang yang beriman,
ruku`lah kamu,
sujudlah kamu,
sembahlah Tuhanmu
dan perbuatlah kebajikan,
supaya kamu mendapat kemenangan.
Dan berjihadlah kamu
pada jalan Allah
dengan jihad yang sebenar-benarnya.
Dia telah memilih kamu
dan Dia sekali-kali
tidak menjadikan untuk kamu
dalam agama suatu kesempitan.
(Ikutilah)
agama orang tuamu Ibrahim.
Dia (Allah)
telah menamai kamu sekalian
orang-orang muslim dari dahulu,
dan (begitu pula) dalam (Alquran) ini,
supaya Rasul itu
menjadi saksi atas dirimu
dan supaya kamu semua menjadi saksi
atas segenap manusia,
maka dirikanlah sembahyang,
tunaikanlah zakat
dan berpeganglah kamu pada tali Allah.
Dia adalah Pelindungmu,
maka Dialah sebaik-baik Pelindung
dan sebaik-baik Penolong.”
(QS.22, al-Hajj ayat 77-78).

Tanggung jawab muslim memelihara shalat mereka,
dengan shalat di awal waktu.

Para Malikat  mengawasi umat manusia
dan melaporkan setiap hari
keadaan umat tersebut tentang shalatnya.

Hadist Nabi Muhammad SAW
menceritakan kepada kita
betapa malaikat bertimbang terima
pada dua waktu shalat subuh dan ashar.

يَتَعَاقِبُوْنَ فِيْكُمْ: مَلاَئِكَةٌ بِالَّليْلِ، وَ مَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَ يَجْتَمِعُوْنَ فِي صَلاَةِ الْفجْرِ، وَ صَلاَةِ الْعَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُوْنَ الَّذِيْنَ بَاتُوْا فِيْكُمْ،  فَيَسْأَلُهُمْ وَ هُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُوْلُوْنَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ، وَ آتَيْنَاهُمْ وَ هُمْ يُصَلُّوْنَ.   (متفق عليه)

Malaikat akan saling bergiliran
memperhatikan kalian.
Ada malaikat yang bertugas pada malam hari
dan ada malaikat yang bertugas pada siang hari.
Mereka (kedua kelompok malaikat itu)
berkumpul pada shalat Fajar dan shalat Ashar.
Kemudian malaikat yang telah bertugas
mengawasi kalian akan naik kelangit,
dan Allah SWT menanyakan laporan mereka,
dan Allah SWT lebih tahu dari mereka tentang itu,
bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku
saat kalian meninggalkan mereka?
Mereka menjawab,
“kami meninggalkan mereka sedang saat shalat,
dan kami datang di saat mereka sedang shalat juga.
(HR. Muttafaq ‘alaih)

TADARUS ALQURAN

Bulan Ramadhan adalah bulan Nuzul Quran.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ القُرْآنَ هُدًى للنَّاسِ و بَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى و الفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَ مَنْ كَانَ مَرِيْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ. يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ و لِتُكْمِلُوْا العِدَّةَ و لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ  و لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan,
bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran
sebagai petunjuk bagi manusia
dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu
dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).
Karena itu,
barangsiapa di antara kamu hadir
(di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu,
maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu,
dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan
(lalu ia berbuka),
maka (wajiblah baginya berpuasa),
sebanyak hari yang ditinggalkannya itu,
pada hari-hari yang lain.
Allah menghendaki kemudahan bagimu,
dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya
dan hendaklah kamu mengagungkan Allah
atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,
supaya kamu bersyukur.
(QS.2, al Baqarah : 185)

Mendalami Alquran
sama halnya dengan menambah ilmu
yang berguna untuk kehidupan manusia.

Dengan membaca dan menghafal Alquran
sebenarnya seseorang melatih memori otaknya.

Melatih perekaman otak
agar tidak cepat menjadi pelupa
dan melatih kefasihan lidah.

Membaca Alquran dengan makhrij huruf yang benar
sama dengan mengajar kefasihan lidah
pada semua lahjah (intonasi)
bahasa-bahasa dunia.

Rajin membaca Alquran
berarti menambah ilmu pengetahuan.

Dan orang berilmu
tampil dengan sikap teguh,
kuat, dan istiqamah,
yakni konsisten dalam bertindak
atau berbuat kearah yang baik.

POLA QURANI.

Sebagai muslim ada kewajiban
mewujudkan  masyarakat makmur
berkeadilan ketenteraman
yang menjadi idaman dalam hidup ini.

Berkeadilan sejati adalah makmur
dan tenteram di bawah naungan
Rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

Sebagai insan hamba Allah,
tidak boleh kita  mengabaikan
dimensi kultural dari bangsa ini.
Lebih 85% umat ini memiliki
nilai nilai khair umatin
atau umat utama.
Sebagai konsekwensi dari
dinamika sosial
bangsa yang berkemampuan tinggi.

Tepatnya,
perlu di mulai
dengan menerapkan Pola “Q”
yang semestinya tidak ditolak
oleh bagian terbesar
generasi bangsa ini
yang telah menerima Alquran
sebagai hidayah.

“Pola Qurani” yang bermuatan hidayah
mampu menjadi nilai dasar
pembentukan kualitas manusia.

Muatan dasar pertama adalah imaniyah.
Keyakinan kepada Kekuasaan Allah Yang Maha Esa.
Dikenal dengan formula “tauhid”,
yang memberikan motivasi kepada manusia
menggerakkan aktivitas nyata.

Mengantisipasi perubahan cepat yang tengah berlaku.
Suatu tatanan peradaban modern (maju)
dapat di terima oleh umat,
selama perubahan tersebut
tidak harus berakibat tercerabutnya umat
dari nilai dasar iman dan kepribadian Islami.

Formula tauhid,
adalah kesadaran bahwa alam ini
di cipta dengan kesiapan
menerima setiap perubahan.

Setiap perubahan itu
berada di dalam kerangka idealisme
yang tetap utuh,
yakni mencari redha Allah.

Muatan kedua adalah
formula ukhuwwah.

Kesadaran pentingnya persaudaraan
dan kekerabatan
yang di ikat dengan tali keakraban
(sebangsa dan setanah air).

Muatan ini mendorong terciptanya
upaya upaya nyata dan serius
mengaktualisasikan potensi yang di miliki
guna di arahkan kepada kehidupan mandiri (self help)
dalam upaya menciptakan tatanan bermasyarakat
yang lebih baik (mutual help).

Pada akhirnya
mampu melahirkan masyarakat yang hidup
dan menghidupi (selfless help)
sebagai uswah hasanah
atau sosok ketauladanan.

Formula ukhuwwah,
kekerabatan (kesaudaraan)
berperan dalam memecahkan masalah kemiskinan
dan kemelaratan umat,
dengan meluruskan kesenjangan sosial
atas prinsip ta’awunitas,
yaitu kerjasama
atas dasar sama sama bekerja.

Firman Allah dalam Al Qur^an menyebutkan,
“I’maluu ‘alaa makanatikum, inni ‘amil”,
artinya
“kamu masing masing berbuat pada tempat (posisi) kamu,
akupun berbuat pula
(menurut kemampuan pada posisiku pula)”.

Makna lebih dalam ialah
berkembangnya tatanan saling menghormati
pada posisi sama sama terhormat.

Dan tertutupnya kesempatan
exploitation de l’homme par l’homme
seperti pada kehidupan kapitalistis.

Muatan ketiga adalah formula fii sabilillah,
yang pada hakekatnya
mengikat diri pada pemilihan
hanya pada jalan Allah.

Maknanya,
bahwa sumber pendapatan
dan pembiayaan yang di lakukan
terhindar dari kebocoran kebocoran
(waste  atau mubazzir).

Menegakkan aturan normatif
merupakan konsekwensi logis
agar secara aktualita
di dapati batas batas antara boleh dan tidak,
antara suruhan dan larangan,
antara halal dan haram,
dan kepedulian yang tinggi
terhadap perubahan perubahan
dengan bimbingan akhlakul karimah.

Muatan keempat,
adalah formula ukhrawi.

Karena antara keperluan dunia
dan kepentingan akhirat
sama sekali tidak terpisah.

Tidak berdiri sendiri sendiri
tanpa ada ketergantungan satu sama lainnya.

Kepercayaan kepada hari akhir
(kehidupan sesudah mati)
sebenarnya keyakinan
terhadap adanya kewajiban
pertanggungan-jawab individual
yang tidak bisa dimanipulasi datanya.

Keyakinan ini menempatkan
pernilaian bahwa
“hari akhir itu lebih baik
dari hari sekarang (dunia) ini”.

Konsep kesejahteraan hari akhirat
amat ditentukan oleh pemilihan yang amat tepat
di masa kini (duniawi).

Konsep “ukhrawi”
melahirkan sikap positif
dalam bertindak dengan penuh kehati hatian.

Memilih amal yang tepat,
disiplin yang tinggi,
hemat, tidak takabbur,
bahkan terjauh dari sikap perilaku tercela.

Akhirnya mampu membentuk
kualitas manusia efektif dan konstruktif.

Kualitas itu ada pada semua proses pembangunan
di seluruh segi kehidupan manusia
di dalam mencipta kedamaian dunia.

Maka, formulasi “akhirat”
membentengi umat dari gejolak faham sekularistik,
yang muaranya adalah hedonistik,
vandalisme, anarkis, sadisme dan a moral.

Kepercayaan atau keyakinan kepada kehidupan ukhrawi
memposisikan manusia pada peranan strategis.

Muatan nilai-nilai yang dididikkan
menciptakan sumber daya manusia seimbang.
Dengan memiliki kehandalan intelektual,
fisik, profesionalitas.
Memiliki keimanan dan ketakwaan.
Mempunyai kepribadian luhur, dan akhlak karimah,
seperti yang diharapkan
dalam format pembangunan manusia seutuhnya.

Muatan kelima,
adalah formula ilmu dan hikmah.

Keperluan  terhadap ilmu,
menjadi bahagian awal dari pemberitaan Alqurani,
pada ayat ayat yang pertama di turunkan.

Ilmu tidak pernah berhenti,
sampai dunia berakhir dengan kiamat.
Allah SAW menyebutnya dalam Fiman Nya,

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ.  خَلَقَ اْلإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اِقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ.  الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ اْلإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ.

” Bacalah,
Dan Tuhanmu lah Yang Maha Pemurah.
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia
apa yang tidak diketahuinya”
(Al ‘Alaq, QS.96 ayat 3 5).

Untuk mendapatkan ilmu
perlu dicari guru yang ikhlas
(syeikh atau  mursyid)
yang dapat  memberikan ta’lim  pembelajaran,
tarbiyah pendidikan,
dan diiringi oleh tarqiyah  pembimbingan.

Kewajiban mendapatkan guru
(belajar, menuntut ilmu) ini a
dalah termasuk dalam kaedah usul fiqh
yang menyebutkan,

ما لا يتم ا لواجب الا به فهو واجب

Sesuatu perkara
yang menyebabkan sesuatu kewajiban
tidak akan dapat disempurnakan
kecuali dengannya
maka perkara tersebut
adalah wajib juga hukumnya.

Dengan kaedah ini dapat di pahami
betapa pentingnya usaha-usaha pembentukan da’iya,
imam khatib, para mu’allim dan tuangku
di nagari-nagari pada saat kembali ke surau.
Memberikan bekalan yang cukup
melalui pelatihan dan pembekalan ilmu yang memadai.
Membuatkan anggaran belanja yang memadai
di daerah-daerah menjadi sangat penting
di dalam mendukung satu usaha yang wajib.

Tidak syak lagi,
merawat berbagai penyakit batin itu wajib.
Siapapun yang dikuasai oleh penyakit batin
wajib mencari guru
yang dapat menjauhkan dari berbagai sifat jahat itu.

Merebut ilmu,
sesuai dengan bimbingan Rasulullah SAW
menjadi kewajiban bagi setiap Muslim
(lelaki dan perempuan),
(Al Hadist).

Tidak ada batas usia menuntut ilmu
sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
“Tuntutulah ilmu itu dari ayunan
hingga ke liang lahat (qubur)”
(Al Hadist).

Tidak pula terbatas di satu wilayah
seperti yang dianjurkan
“Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”.

Kenyataan tentang keberhasilan manusia
di dalam ukuran universal
hanyalah dengan penguasaan ilmu pengetahuan.

Hal ini senyatanya amat sesuai
dengan sabda Rasulullah SAW,
“Siapa yang inginkan dunia
dia harus peroleh dengan ilmu,
siapa yang inginkan akhirat
juga harus direbut dengan ilmu,
dan sesiapa yang inginkan keberhasilan kedua duanya
(dunia dan akhirat)
maka keduanya harus direbut dengan ilmu”
(Al Hadist).

Seorang yang ingin melakukan tazkiyah nafs
mesti didukung oleh himmah (minat dan cita) yang kuat.

Himmah  diartikan cita-cita,
tekad yang bulat dan kuat,
yang di dorong oleh niat yang tulus,
keyakinan yang benar,
cara yang benar
di dalam mencapai cita-cita itu.

Seorang yang memiliki himmah kuat
didorong menjalani jalan Allah
seumur hidupnya.

Himmah akan mendorongnya bersungguh-sungguh,
tanpa lalai dan letih.
Himmah tidak mengenal segan
sampai kepada tercapainya tujuan perjalanan.

Untuk menjaga himmah ini
maka hendaklah dibaca
dan diingatkan selalu doa munajat :

الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي

Ya Allah, Ya Tuhanku!
Engkaulah tujuan hidup dan matiku
dan keredhaan-Mu adalah yang ku cari.

Redha adalah aplikasi utama dari nilai Alqurani
yang di turunkan oleh Allah pada bulan Ramadhan.

Salah satu keutamaan puasa Ramadhan
dan membaca Alquran itu
disebutkan dalam salah satu Sabda Rasulullah,
”Puasa dan sholat malam
membela si hamba pada hari kiamat.
Puasa berkata,
‘Ya robbi, saya halangi ia
untuk makan dan minum disiang hari ’.

Alquran juga berkata,
‘Aku rintangi ia untuk tidur di malam hari’.
Maka jadikanlah kami penolongnya.”

Melakukan tazkiyah nafs
menghendaki  adanya teman (ikhwan).
Agar sama-sama ingat-mengingatkan
dan bantu-membantu
dalam berbagai masalah yang dihadapi.

Apabila tazkiyah nafs akan dicapai dengan sempurna,
hindarilah untuk berdampingan
dengan orang yang menyukai kejahatan.

Jauhilah bergaul dengan para pengikut hawa nafsu
dan yang tidak beradab sopan.

Seiring pula dengan Firman Allah,

يُؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَآءُ وَ مَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوْا اْلأَلْبَابِ

” Allah menganugrahkan al hikmah
(kefahaman yang dalam tentang Alquran dan As Sunnah)
kepada siapa yang Dia kehendaki.
Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu,
ia benar-benar telah dianugrahi
karunia yang banyak.
Dan hanya orang-orang yang berakallah
yang dapat mengambil pelajaran
(dari firman Allah). “
(Al Baqarah, QS. 2 ayat 269).

Tazkiyah nafs
memerlukan perawatan dari berbagai  penyakit nafs
dengan menjaga dan menyuburkan jiwa itu.

Ketika roh suci ditiupkan kedalam tubuh manusia,
semua hati manusia telah diperkenalkan kepada Allah
dan musyahadah kepada-Nya.

Allah berfirman :

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِد ْ نا

Bukankah Aku ini Tuhan kamu? (Para roh menjawab):
Benarlah (Engkau Tuhan kami) Kami saksikan.

Setelah Allah memasukkan roh itu ke dalam jasad manusia,
hati itu telah lupa  terhadap janji dan pengakuan tersebut.
Hanya Rahmat Allah semata,
dengan diturunkan  agama kepada para rasulNya.
Dengan melaksanakan ajaran agama itu,
roh manusia dikenalkan kembali kepada Allah SWT.

Roh manusia yang berada dalam jasad
(Nafs al-Natiqah) itu
mudah dikotori berbagai perkara.

Pengotoran yang sangat berbahaya
ialah syirik atau menyekutukan Allah.

Karena itu, orang musyrikin  rohaninya najis.

Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

Bahawasanya orang-orang musyrikin itu najis.

Selain syirik,
berbagai maksiat dan dosa-dosa
besar maupun kecil
juga mencemari jiwa dan hati manusia.

Jiwa yang telah tercemar berbagai maksiat
akan mengandungi berbagai sifat tercela
dan jauh dari sifat-sifat terpuji.

Hati akan mati, karena ghaflah yaitu lalai.

Langkah pertama ke arah tazkiyah nafs itu
ialah menghidupkan jiwa
atau hati yang mati karena ghaflah itu.
Cara terbaik dengan zikrullah
dan muraqabah
atau tafakkur mengingati nikmat Allah.

Nabi SAW bersabda :

مثل الذي يذكر ربه والذي لايذكر ربه مثل الحي والميت

Umpama orang yang mengingati Tuhannya
dan orang yang tidak ingatkan Tuhannya
seumpama perbandingan orang yang hidup dengan yang mati.

Satu keniscayaan bahwa pergolakan kompetitif
di era globalisasi didominasi oleh
pemilik ilmu pengetahuan dan teknologi.
Mereka berpeluang menguasai dunia global masa datang.
Penguasaan ilmu pengetahuan (hikmah)
adalah bagian integral dalam Pola Qurani (Pola Q).

Penguasaan ilmu pengetahuan bagi umat ini
menjadi dorongan kuat
dan akomodasi alternatif
untuk memotivasi manusia (Muslim)
mengantisipasi langkah zaman jauh kedepan.

Akan tetapi,
dengan ilmu semata
tanpa dikuatkan oleh hati yang bersih,
akan di dapati satu susunan masyarakat
yang berilmu banyak dengan keyakinan tipis.

Kalau umat Islam masih “mendua”
menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup,
maka selama itu pulalah umat Islam
ditimpa berbagai macam kegelisahan
dan penderitaan.

Umat Islam yang menderita itu,
tidak bisa dilepaskan
dari keingkaran pada kebenaran ayat ayat Alquran.
Karena itu,
mari kita benar benar menjadikan Alquran
pedoman hidup yang membawa kesejahteraan
secara keseluruhan.

Dengan mengembangkan kehidupan berpola Qurani
sebagai salah satu pilihan tepat
bermuatan hidayah Allah
yang di percayai umat terbanyak
dari generasi bangsa ini.

Pola Qurani yang diterapkan ini
dapat menopang laju pembangunan negara tercinta
dan menjanjikan langkah positif kedepan
guna menatap perubahan zaman.

Semua langkah tersebut
mestinya  di lakukan
dengan mengharap redha Allah.

I’TIKAF DI MASJID

Maknanya berdiam di Masjid
mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah padaNya.

إَنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ و أَقَامَ الصَّلَوَةَ وَ ءَاتَي الزَّكَوَةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ.

Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah
ialah orang-orang yang beriman kepada Allah
dan hari kemudian,
serta tetap mendirikan shalat,
menunaikan zakat
dan tidak takut (kepada siapapun)
selain kepada Allah,
maka merekalah
orang-orang yang diharapkan
termasuk golongan orang-orang
yang mendapat petunjuk.
(QS.at Taubah : 18)

Rasulullah selalu beri’tikaf
terutama 10 malam terakhir Ramadhan.
Para malikat di langit selalu bersujud
dan tasbih kepada Tuhannya.
Tidak sejengkalpun permukaan langit
yang terluang dari tempat bersujudnya malaikat.

أَطتِ السَّمَاءُ، و يَحِقُّ لَهَا أنْ تَئِطَ. و الَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ! ما ِفيْهَا مَوْضِعُ شِبْرٍ إلاَّ و فِيْهِ جَبْهَةُ مَلَكٍ سَاجِدٍ، يُسَبِّحُ الله بِحَمْدِهِ.       (رواه ابن مردوبه)

Langit tertutup,
dan memang sepantasnya ia tertutup.
Demi zat yang Yang Menguasai Diri Muhammad!
Tidak ada satu tempat selebar satu jengkalpun,
kecuali di sana ada kening malaikat
yang sedang bersujud dan bertasbih
kepada Allah
dengan segala pujian-pujian.
(HR.Ibnu Marduweih).

Sudah sewajarnya
manusia menyediakan waktu
untuk bersujud di masjid.

Ibadah I’tikaf di Masjid
sangat disenangi oleh Rasulullah SAW,
terutama di bulan Ramadhan.

“Masjid adalah rumah
untuk setiap orang yang bertakwa
dan Allah bertanggung jawab
akan memberi rahmat
kepada orang yang menjadikan masjid
sebagai rumahnya,
dan ia akan melewati jembatan
keridhaan Allah SWT.”
(HR.  Thabrani)

Setiap muslim hendaknya sadar
bahwa yang akan membantu
dalam hidup di dunia dan di Padang Mahsyar,
semata hanya pertolongan dari Allah
dan dari sesama yang bertauhid.

Pertolongan akan didapat
dari mereka yang sama bersujud,
termasuk para malaikat,
dan dari mereka yang sama taat
dan patuh kepada Allah SWT.

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ، وَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلَوَاتَ وَ يُؤْتُوْنَ الزَّكَوَاتَ وَ هُمْ رَاكِعُوْنَ.

“ Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah,
Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman,
yang mendirikan shalat
dan menunaikan zakat,
seraya mereka tunduk (kepada Allah).”
(QS.5, al-Maidah, ayat 55).

Allahu Akbar wa Lillahi l-hamd


Memaknai Dzikrullah

MEMAKNAI ZIKRULLAH …….

Menjelang Shalat Dhuha di pagi ini

OLEH : H. MAS’OED ABIDIN

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman,
berzikirlah (dengan menyebut) Nama Allah,
zikir dengan sebanyak-banyakya.”
(Q.S. Al Ahzab: 41)

Salah satu wasilah atau cara agar selalu berkomunikasi dengan Allah
adalah berzikir (Zikrullah).
Zikir berasal dari akar kata dalam bahasa Arab; zakara, yazkuru, zikran.

Zikir secara harfiah berarti ingat dan sebut.
Ingat adalah gerak hati, sedangkan sebut adalah gerak lisan.
Zikrullah berarti mengingat Allah.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa zikir
mengandung dua pengertian yakni zikrul lafzhy dan zikrul ma’nawy.

Zikrul lafzhy adalah zikir yang mengandung puji-pujian kepada Allah,
baik berupa tasbih, tahmid, tahlil
yang dilafazkan dengan lisan.

Sedangkan zikrul ma’nawy adalah
zikir dengan mengingat Allah dalam hati,
baik ketika diberikan Allah nikmat atau sebaliknya.

Kedua bentuk zikir ini tidak dapat dipisahkan,
ia saling berkaitan satu dengan lainnya.

Misalnya,
ketika seorang mukmin mendapatkan suatu nikmat dalam hidupnya,
maka ia akan langsung ingat kepada Allah,
bahwa nikmat itu adalah pemberian-Nya,
setelah itu ia akan mengucapkan puji-pujian kepada Allah
sebagai tanda syukurnya.

Zikir terdiri dari empat bagian yang saling terikat,
tidak terpisahkan,
yaitu zikir lisan (ucapan),
zikir qalbu (merasakan kehadiran Allah),
zikir ‘aql (menangkap bahasa Allah di balik setiap gerak alam),
dan zikir amal (taqwa).

Idealnya zikir itu berangkat dari kekuatan hati
ditangkap oleh akal,
dan diucapkan dengan lisan,
lalu dibuktikan dengan ketaqwaan;
yang tampak di dalam amal nyata di dunia ini.

Zikir adalah perintah Allah kepada orang-orang yang beriman.
Maka orang yang beriman adalah orang yang banyak berzikir.
Kurang iman, kurang zikir.
Tidak beriman tidak akan berzikir.
Berzikir berarti taat kepada perintah Allah.

Prakteknya, zikir bisa dilakukan dalam keadaan berdiri,
ketika duduk atau dalam keadaan berbaring.

Allah SWT berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu),
ingatlah Allah (fazkurullaha) di waktu berdiri,
di waktu duduk, dan diwaktu berbaring …”
(Q.S. An Nisa’ : 103)

Zikir dapat pula dilakukan di mesjid, mushalla,
di rumah, di kantor, di pasar,
atau di jalan sekalipun,
dan bisa dilakukan sendiri-sendiri atau berjama’ah (dalam majelis).

Tempat zikir berada di dalam hati,
bukan hanya diujung lidah belaka.

Zikir dilakukan dengan qalbu menjadi khusyu’,
khudhu’, tadharru’, tawadhu’,
dan yang melahirkan rasa khauf dan raja’,
dilakukan di setiap kesempatan,
pagi dan petang, siang dan malam.

Allah SWT berfirman :

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ
بِالْغُدُوِّ وَاْلآصَالِ وَلاَ تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Dan sebutlah (Nama) Tuhanmu dalam hatimu
dengan merendahkan diri dan rasa takut,
dan dengan tidak mengerasakan suara,
di waktu pagi dan petang,
dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”
(Q.S. Al-A’raf: 205)

Zikir adalah pangkal ketentraman, ketenangan dan kedamaian.
Allah adalah sumber ketenangan dan kedamaian.
Maka untuk mencapai kedamaian dan ketenangan
jalannya adalah mendatangi sumbernya
dan membersamakan diri dengan-Nya.

Zikir itulah jalan pembersamaan (ma’rifatullah).

Firman Allah :

… أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

“… Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku,
niscaya Aku ingat (pula) kepadamu…”
(Q.S. Al Baqarah: 152).

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“…… (Yaitu) orang-orang yang beriman
dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah.
Ingatlah ….,
hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram.”
(Q.S. Ar Ra’d: 28)

Adapun orang yang meninggalkan zikrullah
berarti ia telah membuka keleluasaan syetan untuk menguasainya.

Allah SWT berfirman:

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ
أَلاَ إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Syetan telah menguasai mereka
dan menjadikan mereka lupa mengingat Allah (zikrullah);
mereka itulah golongan syetan.
Ketahuilah …..,
bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah
golongan yang merugi.”
(Q.S. Mujadilah: 19)

Hujjatul Islam Imam Al Ghazali dalam Ihya ‘Ulum Ad Din berkata:
“Ketahuilah bahwa orang-orang yang memandang dengan cahaya bashirah
mengetahui bahwa tidak ada keselamatan kecuali
dalam pertemuan dengan Allah SWT.
Dan tidak ada jalan untuk bertemu Allah kecuali
dengan kematian hamba dalam keadaan menyintai Allah
dan mengenal Allah (hubbullah dan ma’rifatullah).

Sesungguhnya cinta dan keakraban
tidak akan tercapai
kecuali dengan selalu mengingat yang dicintai.

Sesungguhnya pengenalan kepada-Nya
tidak akan tercapai
kecuali dengan senantiasa berfikir
tentang berbagai penciptaan Allah,
sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala….

Hubbullah dan ma’rifatullah hanya dapat dicapai
dengan mengoptimalkan waktu-waktu malam dan siang
untuk bertafakkur dan berzikir. “

الحَمْدُ ِللهِ غَافِرِ الذَّنـْبِ وَ قَابِلِ التَّوْبِ شَدِيْدِ العِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ إِلَيْهِ اْلمَصِيْرُ

َ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، يُسَبِّحُ لَهُ مَا فيِ السَّموَاتِ وَ مَا فيِ الأَرْضِ
لَهُ المُلْكُ وَ لَهُ الحَمْدُ، وَ هُوَ عَلىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

َ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، البَشِيْرُ النَّذِيْرُ، وَ السِّرَاجُ المُنِيْرُ

صَلَوَاتُ اللهِ وَ سَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَ عَلىَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِهِ
وَ عَزَّرُوْهُ وَ نَصَرُوْهُ وَ اتـَّبَعُوْا النُّوْرَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ
وَ رَضِيَ اللهُ عَمَّنْ دَعَا بِدَعْوَتِهِ وَ اهْتَدَى بِسُنَّتِهِ، وِ جَاهَدَ جِهَادَهُ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنُِ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ

Report Note ;

Donna Savitri at 12:29 on 15 June, Terimo kasih atas tausiahnya

Sara Dewi Mangil at 13:31 on 15 June, Alhamdulillah, tks buya

Pepi Agum Widianti at 14:55 on 15 June, Alhamdulillah, Buya terima kasih atas silaturrahim yang telah terpaut, subhanallah memberikan bgitu banyak manfaat. Terima kasih telah berbagi dan mengingatkan.

Titin Anggraini at 15:40 on 15 June, Terima kasih buya masih mau mengingatkan kami yang sering lupa…. mudah-mudahan ini semua bermanfaat untuk kami di dunia dan akhirat. Tin tunggu siraman rohani lainnya dari buya, thanks buy….

Alex Lincoln at 16:42 on 15 June, Ass Alhamdulillah… Semoga tulisan Buya ini akan menjadi manfaat bagi kami sekeluarga beserta saudara saudara kita seiman yang sempat membacanya dan sekaligus menjadi ilmu yang bermanfaat bagi Buya, Amiiiiiiiiiiiin…

Susianti Annisa H at 17:20 on 15 June, Syukran Buya tas tausiyahnya… Susi tunggu tausiyah brikutnya… Mg Buya slalu d lindungi oleh Allah…

Dwi Mutia at 19:44 on 15 June, alhamdullillah, trima kasih byk tausiahnya buya..

Rauf Jabbar at 21:29 on 15 June, Alhamdullilah, semoga Allah senantiasa melimpahkan Rahmat nya buat kita semua dan klg kt dgn slalu ingat kpd Nya, Amiiiiin

Fitri Adona at 10:00 on 16 June, Alhamdulillah. Terimakasih Buya. Saya akan ingat selalu.

Awenk Hasyim at 16:18 on 17 June, Terima kasih buya….Semoga ini dapat meningkatkan ibadah kami..Amiin.

Abdul Hamid Damanik

Aristo Munandar

Auda Thariq

Rafika Dewi

Shofwan Karim

Nina Karmilawati

Dewi Mutiara

Roland Y. Mandailiang

Roni Patihan

‘Ain Syams Al-Qohiroh

Haja Aini Addini

Rina Fajri Nuwarda

‘Dewis’ Is Sikumbang

Asnelly Dewiyanti

Dyan Eka Putri

Marlis Rahman

Lily Maria Yulis

Asraferi Sabri

Ivo Sabrina

Deri Manoppo

Deri Marta

Meidia Utami

Anita Kencanawati

Linda Gustaf

Rusli Zainal

Mambang Mit

Rika Mitaliani

Rachman Chalid

Rainal Rais


Membina Rumah Tangga

This slideshow requires JavaScript.

MEMBINA RUMAH TANGGA DAN MEMELIHARA NILAI-NILAI PERNIKAHAN SESUAI BIMBINGAN AGAMA ISLAM

Oleh : H. Mas’oed Abidin

الحَمْدُ ِللهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ تَعَالىَ مِنْ سُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مَنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ،  وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَدَّى الأَمَانَةَ، وَ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَ نَصَحَ لِلأُمَّةِ، وَ جَاهَدَ فيِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّد، وَ عَلىَ آله وَصَحْبهِ. أَمَّا بَعْدُ.

Pernikahan Warisan Indah Sunnah Rasulullah

(JPEG Image, 236×290 pixels)Tangga al HaramSabda Rasulullah SAW, “an- nikahu sunnati, man raghiba ‘an sunnati falaisa minni”, artinya “nikah itu sunnahku, dan yang tidak mau mengikuti sunnahku, tidaklah termasuk umatku” (al Hadist).  Dengan menikah, dua orang yang sebelumnya masih asing, mengikat diri dalam satu aqad atau perjanjuan nikah dan ijab-kabul dihadapan wali, saksi dan qadhi (penghulu), untuk saling perhatian, kasih sayang, kepedulian, simpati, ketulusan, dan cinta (mahabbah).

Kriteria Memilih Isteri

  1. a. Beragama Islam dan shalehah (QS. Al-Nisâ’/4: 34)

Rasul Allâh SAW bersabda, “Perempuan dinikahi karena empat faktor: Pertama, karena harta; Kedua, karena kecantikan; Ketiga, kedudukan; dan Keempat, karena agamanya. Maka hendaklah engkau pilih yang taat beragama, engkau pasti bahagia.” (HR. Bukhâriy dan Muslim).

  1. b. Berasal dari keturunan yang baik-baik

Rasul Allâh SAW bersabda, “Jauhilah oleh kamu sicantik yang beracun!, lalu sahabat bertanya: “Wahai Rasul Allâh, siapakah perempuan yang beracun itu? jawab Rasul Allâh,”Perempuan yang cantik tapi berada dalam lingkungan yang jahat.” (HR. Dâr al-Quthniy).

  1. c. Masih perawan

Diriwayatkan dari Jabir,

84

Rasul Allâh SAW bersabda, “Sesungguhnya Rasul Allâh telah berkata kepadanya, kata Beliau: “Hai Jabir, apakah engkau kawin dengan perawan atau dengan janda?” Jawab Jabir: “Saya kawin dengan janda”. Kata beliau: “Alangkah baiknya jika engkau kawin dengan perawan. Engkau dapat menjadi hiburan baginya dan diapun  menjadi hiburan bagimu.” (HR. Jama’ah).

  1. d. Carilah perempuan yang Sehat atau tidak Mandul

Rasul Allâh SAW bersabda, “Dari Mu’qil bin Yasar, katanya telah datang seorang laki-laki kepada Nabi SAW. Kata laki-laki itu, “Saya telah mendapat seorang perempuan yang bangsawan dan cantik tapi hanya dia tidak beranak (mandul). Baikkah saya kawin dengan dia ?”. Jawab Nabi SAW, “Jangan”, kemudian laki-laki itu datang untuk kedua kalinya dan Nabi tetap melarangnya. Kemudian pada kali ketiga laki-laki itu datang lagi. Nabi bersabda: “Kawinlah dengan yang dikasihi dan berkembang menghasilkan keturunan (subur)”. (HR. Abu Dâud dan Al-Nasâ’i).

  1. Beraklak mulia, sopan santun, bertutur kata baik.

Kriteria Memilih Laki-Laki Calon Suami

  1. Laki-laki yang beragama Islam dan shaleh (QS. Al-Nûr/24: 3 dan 26).
  2. Mempunyai kemampuan membiayai kehidupan Rumah Tangga (sesuai dengan hadits Mutafaqq `alaihi – “yâ ma`syar al-syabâb”).
  3. Cerdas dan Sehat (layak untuk berumah tangga, baik jasmani dan rohani). dan
  4. Cakap Hukum (Baligh).
  5. Berakhlak mulia, sopan santun, bertutur kata baik dan pandai bergaul di tengah keluarga.

keluarga sakinah Sesudah Nikah

Setelah akad nikah dilaksanakan, suami isteri mempunyai hak dan kewajiban, untuk mencapai tujuan perkawinan, membentuk keluarga bahagia dan kekal dalam aturan syari’at Islam, yang disebutkan dengan “Rumahku adalah syorgaku”.

Ada berapa resep untuk mewujudkan keluarga sakinah dan bahagia.[1] Di antaranya :

  1. 1. Saling Mengerti antara Suami-isteri

Seorang suami atau isteri harus tahu latar belakang pribadi masing-masing. Karena pengetahuan terhadap latar belakang pribadi masing-masing adalah sebagai dasar untuk menjalin komunikasi masing-masing. Dan dari sinilah seorang suami atau isteri tidak akan memaksakan egonya. Banyak keluarga hancur, disebabkan oleh sifat egoisme. Ini artinya seorang suami tetap bertahan dengan keinginannya dan begitu pula isteri. Seorang suami atau isteri hendaklah mengetahui hal-hal sebagai berikut :

a)      Perjalanan hidup masing-masing,

b)      Adat istiadat daerah masing-masing (jika suami isteri berbeda suku dan atau daerah),

c)      Kebiasaan masing-masing,

d)      Selera, kesukaan atau hobi,

e)      Pendidikan,

f)       Karakter/sikap pribadi secara proporsional (baik dari masing-masing, maupun dari orang-orang terdekatnya, seperti orang tua, teman ataupun saudaranya, dan yang relevan dengan ketentuan yang dibenarkan syari`at.

  1. 2. Saling Menerima

Suami isteri harus saling menerima satu sama lain. Suami isteri itu ibarat satu tubuh dua nyawa. Tidak salah kiranya suami suka warna merah, si isteri suka warna putih, tidak perlu ada penolakan. Dengan keredhaan dan saling pengertian, jika warna merah dicampur dengan warna putih, maka akan terlihat keindahannya.

  1. 3. Saling Menghargai

Seorang suami atau isteri hendaklah saling menghargai:

  1. Perkataan dan perasaan masing-masing
    1. Bakat dan keinginan masing-masing
      1. Menghargai keluarga masing-masing. Sikap saling menghargai adalah sebuah jembatan menuju terkaitnya perasaan suami-isteri.
      2. 4. Saling Memercayai

Jika suami isteri saling mempercayai, maka kemerdekaan dan kemajuan meningkat, serta hal ini merupakan amanah Allâh.

  1. 5. Saling Mencintai

Suami isteri saling mencintai akan memunculkan beberapa hal seperti, lemah lembut dalam bicara, selalu menunjukkan perhatian, bijaksana dalam pergaulan, tidak mudah tersinggung, dan perasaan (batin) masing-masing akan selalu tenteram

Suami atau isteri harus selalu merawat dan memupuk lima saling di atas untuk mencapai keluarga bahagia dan kekal beradasarkan Syari’at Islam. Tidak ada kata lebih indah, tentang hubungan suami-isteri, selengkap Firman Allah,

“Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah/2: 187).

Rasa damai dan tenteram hanya dicapai dengan saling mencintai. Maka rumah tangga muslim punya ciri khusus, yakni bersih lahir baathin, tenteram, damai dan penuh hiasan ibadah.

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS.ar-Rum : 21).

Ayat ini memakai dua kosa kata secara berurutan, yakni mawaddah, dan rahmah. Kedua-duanya berarti cinta, kasih dan sayang. Mawaddah artinya cinta dan ghairah ketika masih usia awal dan saling ketertarikan antara keduanya. Rahmah adalah cinta, kasih sayang, kepedulian karena pengalaman dalam perjalanan waktu dalam wadah ketenteraman (sakinah).

Cinta kasih yang tulus, dapat wujud jika memiliki rasa thaat dan kesadaran mempertanggung jawabkan kepada Allah SWT. Surat an-Nisa’ ayat 1 sudah cukup sebagai pegangan.

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Dorongan Segera Menikah

Menikah itu separoh dari agama, sebagaimana sabda Rasul Allâh SAW,

اِذَا تَزَوَّجَ اْلعَبْدُ فَقَدِاْستَعْمَلَ نِصْفُ اْلدِّيْنُ فَاْليَتَّقِ اللهَ فِي اْلنِّصْفِ الْبَاقِي  . رَوَاهُ البَيْهَقِى.

“Apabila telah nikah seseorang, maka ia benar-benar telah menyempurnakan seruan agama. Maka hendaklah ia takut kepada Allâh pada separoh yang tinggal” (HR. Baihaqiy).

Undangan KMII Tokyo 088Pernikahan adalah ibadah yang sakral. Mempunyai risiko hukum. Bimbingan agama menyebutkan, “Empat hal yang dibolehkan jika keempat hal itu diucapkan, yaitu : “Thalaq, Memerdekakan (hamba sahaya), Nikah dan Nadzar.” Maka, “Tidak ada gurauan dalam keempat hal itu.”, demikian Ali bin Abi Thalib RA dalam riwayat Umar RA.

52

Hal yang terpenting dalam kehidupan di dunia ini adalah kebahagiaan, melalui “proses penyempurnaan” ke arah pencapaiannya. Di akhirat tidak lagi penyempurnaan, seperti yang dialami di dunia ini. Maka, “Dunia tempat beramal, dan akhirat adalah tempat menerima ganjarannya”.

Kehidupan di dunia menjadi indah dan bahagia karena dihiasi empat hal. sesuai hadits Rasulullah SAW,

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الْصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْحَنِيْءُ .وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاءِ: الْجَارُ الْسُوءُ، وَالْمَرْأَةُ السُّوْءُ، وَالْمَرْكَبُ الْسُّوْءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيَّقُ.

(رَوَاهُ أَحْمَدٌ وَ إِبْنُ حِبَّانٌ).

“Empat hal yang merupakan kebahagiaan, yaitu: perempuan shalehah, rumah yang luas, tetangga yang baik, kendaraan yang nyaman. Empat hal yang merupakan penderitaan, yaitu: tetangga yang jahat, isteri yang jahat, kendaraan yang buruk dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).

Hadist ini menjelaskan bahwa perempuan yang shalehah itu adalah perempuan yang patuh pada ajaran agama, setia pada suaminya, pandai menjaga hati suaminya, pandai menjaga kehormatan dan martabat serta keluarganya. Kebahagiaan akan sirna ketika yang menjadi tetangga adalah orang jahat, dan hidup didampingi isteri yang tidak setia.

Pernikahan menjamin keseimbangan dalam kehidupan, dengan adaya pasangan suami-isteri.

Memilih calon isteri atau suami, tidak mesti dari  keluarga terdekat. Umar bin Khaththab RA. menganjurkan, Aghribu wa lâ tadhawwu(carilah yang jauh/asing dan jangan kamu menjadi lemah).

Pernikahan akan merekat tali persaudaraan semakin luas. Menunda pernikahan akan mengundang bahaya, sebagai dipaparkan Rasul Allâh SAW,

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ  (رَوَاهُ التُّرْ مُذِىوَإِبْنُ حِبَّانٌ فِى صَحِيْحِهِ)

“Yang paling banyak menjerumuskan manusia kedalam neraka adalah mulut dan kemaluannya.” (HR. Al-Tirmidziy dan dia berkata hadits ini shahih).

Sabda Rasul Allâh SAW mengingatkan, Ada tiga faktor yang membinasakan manusia yaitu mengikuti hawa nafsu, kikir yang melampaui batas dan mengagumi diri sendiri (‘ujub).” (HR. al-Tirmidziy).

Allâh SWT amat meridhai pernikahan, dan menjanjikan mudah jalan untuk melaksanakannya,

تزويج العسر, لقوله تعالى: … إِنْ يَّكُونُوْا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ والله وَاسِعٌ عَلِيْمٌ.

“Kesulitan dalam pelaksanaan nikah, sebagaimana firman Allâh: Yakinlah, jika kamu miskin Allâh akan memampukan kamu dengan karunia (rezki-Nya), dan Allâh Maha luas (pemberian-Nya).” (HR. Buchariy).

Kandungan hadits Bukhâriy, Jilid 3, Juz 7, halaman 8 ini[2] mendorong segera menikah karena Pernikahan akan memelihara kehormatan diri.

Nabi Muhammad SAW (570-632 H)[3], mendorong muda-mudi yang telah mampu, untuk melangsungkan pernikahan.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ لَنَارَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَائَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.  (رَوَاهُ مُتَفَقٌّ عَلَيْهِ)[4]

“Rasul Allâh SAW bersabda : “Wahai para pemuda, siapa saja di antara kamu sudah mampu (lahir dan bathin) untuk berkeluarga, maka kawinlah. Sesungguhnya hal yang demikian lebih memelihara pandangan mata, memelihara kehormatan, dan siapa yang belum mampu untuk berkeluarga, dianjurkan baginya untuk berpuasa, karena hal itu akan menjadi pelindung dari segala perbuatan memperturutkan syahwat.” (HR. Mutafaqq `alaihi).[5]

Suami Isteri Seirama Membina Keluarga

Suami dalam bahasa Alquran disebut zauj, berasal dari kata izdiwaj artinya: isytibah wat tawazun (serupa dan seirama). Suami-isteri atau zaujan, berarti dua orang yang serupa dan seirama, tidak bertolak belakang secara hukum syar’i ataupun secara ukuran manusiawi biasa. Di dalam tatanan adat Minangkabau seorang suami adalah “Yang akan dibawa menjadi kawan seiring, tegak akan dibawa beriya, duduk akan dibawa berunding”, tugas semenda di Minangkabau. Tidak dapat serasi, seirama, cinta sejati dan kasih-sayang, dua insan yang bertolak belakang perangainya. “ wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (QS.24, an-Nur: 26).

Ayat ini memberi tahu kita agar menjauhi fitnah. Rumah Tangga Sakinah itu sarat dengan nilai-nilai religius, saling amanah (memercayai), dan tidak melupakan perintah Allâh. Dalam kehidupan ini, perlu ada keyakinan bahwa hanya Allâh satu-satunya pembimbing keluarga. Rasa bahagia akan tercipta dengan kuatnya rasa saling pengertian antara kedua keluarga di dalam mencapai tujuan pernikahan.

Jauhilah Bahaya Zina

Yang dimaksud perempuan zina ialah perempuan-perempuan nakal yang pekerjaannya berzina (pelacur). Dan laki-laki pezina adalah kelompok pelaku dan pendukung zina.

Di akhir zaman, manusia mulai mengaggap enteng soal zina bahkan cenderung menghalalkan Zina atau mentolerir perbuatan zina sebagaimana peringatan Rasul Allâh SAW,

لَيَكُوْنَنَّ فِى أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَ وَالْحَرِيْر َوَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِف  َ

Pasti akan ada dari umatku suatu kaum yang (berusaha) menghalalkan zina, sutra, khamar (segala yang dapat merusak akal), dan alat-alat musik !” (HR. Al-Bukhâriy).[6]

Hadist Rasul Allâh SAW ini mengingatkan umat Islam membatasi diri dengan lain jenis, agar terjauh dari pornoaksi.

لاَيَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ (رَوَاهُ الْبُخَارِى وَمُسْلِمْ)

“Janganlah sekali-kali (di antara kalian) berduaan dengan perempuan, kecuali dengan mahramnya.” (HR. Al-Bukhâriy dan Muslim).

Hadist Nabi SAW ini menjadi panduan agar tidak terjadi pelanggaran hukum, menjauhi yang haram, perlindungan hak-hak, menegakkan sendi kehidupan peribadi muslim, dan terpelihara hubungan dengan Sang Khaliq (hablun minallah), serta memberikan batasan syari`at (ketentuan agama Islam).

Hidup membujang membuka peluang berbuat serong, menimbulkan fitnah, dan mudah jatuh kelobang zina. Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak tahu ada dosa yang lebih besar setelah membunuh jiwa daripada zina”.

Dalam riwayat (asbabun Nuzul) diceriterakan seorang minta izin kepada Nabi untuk kawin dengan pelacur yang perhubungannya telah dimulai sejak masa jahiliah, namanya: Anaq. Nabi tidak menjawabnya sehingga turunlah ayat yang berbunyi:

“ laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.[7] (QS. 24, an-Nur: 3)

Rasul SAW membacakan ayat ini dan berkata: “Jangan kamu kawin dengan dia.” (HR. Abu Daud, Nasa’i dan Tarmizi).

Allah SWT mengizinkan lelaki mukmin kawin dengan perempuan mu’minah yang muhshanah atau yang bersih dan terpelihara. Dan perempuan mukminah dengan lelaki muhshan, terlarang dengan seorang lelaki pezina.

“ dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki [8] (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian[9] (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan Tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu[10]. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. 4, an-Nisa’ : 24).

Barangsiapa tidak mau menepati ketetapan Allah SWT berdasarkan wahyu Alquran (QS.24, An Nur : 3), maka dia musyrik, dan tidak boleh dikawini kecuali oleh musyrik juga.

“  perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.”. (QS.24, an-Nur: 2)

Ketetapan Allah ini agar manusia tetap terjaga kebersihan jiwa dan badannya, supaya tidak terjatuh ke lembah zina. Pelaku zina mendapat hukuman fisik, yakni “dera”.

Dera ini adalah hukuman jasmani Larangan mengawininya adalah hukuman moral. Haram mengawini pelacur adalah memurnikan kehormatan dan menjaga sucinya garis turunan, selaras dengan fitrah manusia dan sesuai dengan akal yang sehat. Fitrah manusia menganggap jijik perbuatan pelacuran.

Keutamaan syariat Islam, mengharamkan kawin dengan pelacur sampai dia taubat dan mengosongkan rahimnya, paling sedikit haidh satu kali.  Zina dalam Islam termasuk satu dosa besar yang harus dijauhi oleh semua individu yang mengklaim dirinya muslim. Alquran, Surah Al Isra ayat 32, secara eksplisit menyatakan,

“ dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan (menuju banyak) kejahatan yang buruk lainnya.”

Berapa tafsir Alquran menyebut larangan keras atas perbuatan zina karena beberapa faktor.

Pertama, zina tidak hanya perilaku yang sangat memalukan, tapi ia juga tidak konsisten dengan self-respect atau respek pada manusia lain.

Kedua, zina membuka jalan pada banyak perbuatan jahat yang lain.

Ketiga, zina menghancurkan fondasi dasar keluarga.

Keempat, zina dapat menyebabkan penyakit, pembunuhan, permusuhan dan hilangnya reputasi dan harta benda pelakunya.[11]

Kelima, zina secara permanen melepaskan ikatan hubungan keluarga dan masyarakat.

Keenam, apabila terjadi hamil, maka hal itu bertentangan dengan maslahat anak yang lahir atau yang akan lahir dari hubungan zina itu. Maknanya agama Islam memerintah perlunya kesucian diri, baik lelaki dan wanita, di segala waktu – sebelum menikah atau selama berumah tangga.

Apabila setiap individu muslim bertekad untuk menjalani setiap larangan besar dalam Islam, seperti larangan berzina, maka umat Islam akan menjadi pelopor penanggulangan penyakit HIV/AIDS di seluruh dunia. Itulah salah satu makna implisit keagungan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam).

Perzinaan tidak akan berkembang bila kesopanan dijaga dengan baik, serta takut kepada iqab Allah.

Kesopanan lelaki dan perempuan di masa berinteraksi diperintah mengawal pandangan dan menjaga faraj mereka. Kaum perempuan memiliki kemuliaan khas dengan intensif menjaga auratnya.

“ Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS.24, an Nur : 31)

Diminta kepada kaum perempuan tidak menampakkan perhiasan atau aurat mereka kecuali kepada orang-orang yang rapat atau muhrim.

Kata perhiasan bermakna barang yang kemas dan terjaga dengan baik.

Perhiasan perempuan adalah bahagian anggota tubuh yang amat menarik (seperti yang ada di dada) supaya ditutup dengan sempurna.

Maka, pakaian perempuan harus menutup bahagian dada mereka, atau dada ditutup sehelai kain lain yang disebut khumur.

Undangan KMII Tokyo 048

Nasehat Pernikahan

Mengucapkan Ijab Kabul artinya ikrar timbang terima tanggung jawab dari ayah bunda isteri kepada seorang lelaki yang akan menjadi suami atau yang akan menjadi menantu-nya.

Dalam istilah di Minangkabau di sebut bahwa menantu itu  “.. nan ka di-bao jadi kawan  sa-iriang, tagak  ka  di-bao  ba-iyo,  duduak  ka  di-bao  ba-rundiang = yang akan di bawa jadi kawan seiring, tegak di bawa beriya bertidak, duduk untuk teman berunding.”

Sasaran pernikahan adalah mendapatkan kedamaian, kenyamanan dan ketenangan.

Ketika manusia dalam keadaan lemah atau miskin sekalipun tidak terhalang baginya untuk melangsungkan pernikahan, karena Allâh SWT telah menjamin rizkinya.

“ Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian – yakni, hendaklah laki-laki yang belum kawin atau perempuan- perempuan yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat kawin –, di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki, dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Nûr/24: 32).

Sabda Nabi Muhammad SAW, menyebutkan, “Rasa malu dan iman itu sebenarnya berpadu menjadi satu, bilamana lenyap salah satunya hilang pulalah yang lain.” (Hadits Qudsi).[12]

Agama Islam sangat mengecam pola hidup membujang (celibat) atau hidup tanpa ada ikatan perkawinan yang sah.

Agama Islam melarang celibat tersebut terjadi dalam kondisi ia mampu untuk nikah, kecuali ada alasan biologis, seperti impoten[13].

  1. I. Peran Suami Isteri

Allah SWT perintahkan setiap suami, wa ‘a-syiruu-hunna bil ma’ruf, artinya pergaulilah isterimu dengan dengan ma’ruf, lemah lembut, yang di ikrarkan dalam sighat thalaq ta’lik. Tanggung-jawab suami menurut Alquran sangat berat.  الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ Lelaki adalah pemimpin bagi kaum perempuan … (QS. an-Nisa’:34), dan “menggauli isterinya dengan baik” (QS.an-Nisa’:19).

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa, dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata, dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS.4, An-Nisa’ : 19).

Hak-hak hidup lelaki dan perempuan tidak ada berbeda,

“ … dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.

Lelaki berkewajiban melindungi perempuan. Di sini tugas dan kehormatan laki-laki yang diberikan Allah SWT.

Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.al-Baqarah:228).

Betapa bijaksana Allah, memberikan tanggung jawab kepada lelaki memikul tugas menyeluruh membina rumah tangga. Ketahuilah bahwa suami adalah pemimpin di tengah rumah tangganya.

Rumah tangga wajib di bina. Masyarakat keliling mesti di tenggang. Keduanya wajib di jaga. Mancari kato mufakaik, ma-nukuak mano nan kurang, Mam-bilai mano nan senteng, ma-uleh sado nan singkek, Man-jinaki mano nan lia, ma-rapekkan mano nan ranggang, Ma-nyalasai mano nan kusuik, Ma-nyisik mano nan kurang, Ma-lantai mano nan lapuak,  mam-baharui mano nan usang.

Betapa agung Allah, yang mewajibkan suami  musyawarah dengan isteri, serta menggauli isteri lemah lembut setiap waktu.

مَا كَانَ الرِّفْقُ فيِ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ  ]رواه الضياء عن أنس[

Lemah lembut dalam sesuatu (urusan) menyebabkan indahnya sesuatu dan jika lemah lembut itu telah dicabut dari sesuatu, niscaya yang akan tersisa adalah keburukan. (Diriwayatkan oleh Dhia dari Anas).

Rasulullah SAW bersabda, sebaik-baik kamu adalah yang paling baik pada keluarganya.” Nilai martabat terletak pada akhlak.

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنِ إِيْمَانا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًاَ ]رواه الطبراني و أبو نعيم[

Sebaik-baik mukmin seseorang adalah yang paling sempurna akhlaknya”. (HR. Thabarany dan Abu Nu’aim).

Kewajiban suami, menjadi pelindung terhadap perempuan. Umar bin Khattab RA, menceritakan tentang bakti isterinya.

“Isteriku, benteng bagiku dari api neraka. Isteriku, orang yang paling  setia mendampingiku di saat senang dan susah. Isteriku yang membantu, menjaga, memelihara rumah dan hartaku. Isteriku adalah  ibu dari anak-anakku. Saya tahu betul, betapa berat tugas ibu, mengandung, melahirkan, menyusukan, dan menjaga  anak-anak. Selain itu, isteriku tanpa mengenal lelah, setiap hari mencuci pakaianku, dan memasakkan makanan untukku, dan anak-anakku. Karena itu, aku selalu memaafkannya. Mungkin banyak hak-haknya yang belum sempat aku penuhi.” Kiat Umar ini mesti ditiru.

Kebahagiaan rumah tangga bisa di perdapat dengan saling pengertian dan musyawarah. Hindari sifat menang sendiri dan memaksakan kehendak. Bina rumah tangga dengan kasih sayang. Hindari sifat tertutup dan saling curiga. Hadapi masalah bersama. Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako sampai nan di cito.

Kaedah hidup di Ranah Minang mengadatkan, ”Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai, Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan  tali, Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso, Handak pandai rajin balaja.” Suami dituntut berpendir­ian teguh, lembut hati, penyabar, dan melaksanakan suruhan Allah.

إِنَّ مِنْ أَخْلاَقِ المُؤْمِنِ قُوَّةً فيِ دِيْنٍ وَ حَزْمًا فيِ لِيْنٍ وَ إِيْمَانًا فيِ يَقِيْنٍ وَ حِرْصًا فيِ عِلْمٍ وَ شَفَقَةً فيِ مِقَةٍ وَ حِلْمًا فيِ عِلْمٍ وَ قَصْدًا فيِ غِنًى وَ تَجَمُّلاً فيِ فَاقَةٍ وَ تَحَرُّجًا عَنْ طَمَعٍ وَ كَسْبًا فيِ حَلاَلٍ وَ بِرًّا فيِ اسْتِقَامَةٍ وَ نَشَاطًا فيِ هُدًى وَ نَهْيًا عَنْ شَهْوَةٍ وَ رَحْمَةً لِلْمَجْهُوْدِ.

Sesungguhnya, termasuk budi pekerti orang beriman ialah, kuat memegang agama, tegas bersikap, ramah lembut, beriman dengan keyakinan, merebut ilmu pengetahuan, membantu dengan kasih sayang, ramahtamah dalam berilmu, sederhana di waktu kaya, mampu bersahaja dikala miskin, memelihara diri dari tamak, berusaha di jalan yang halal, selalu berbuat baik, rajin menjalankan pimpinan yang benar, membatasi diri dari keinginan nafsu dan kasih sayang terhadap orang yang berkekurangan. Inilah profil suami ideal itu.

Suami yang berakhlak mulia akan mampu membentuk rumah tangga ideal (baiti jannati)

أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ المَرْءِ: أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً، وَ أَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا، وَ خُلَطَاؤُهُ صَالِحِيْنَ، وَ أَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِي بَلَدِهِ

Empat kebahagiaan dalam hidup manusia: isterinya perempuan yang saleh, anak-anaknya orang baik-baik, teman sepergaulannya orang-orang yang saleh, dan rezekinya diperoleh di negerinya. (Diriwayatkan oleh Dailami dari ‘Ali).

II.Posisi Isteri dan Peran Kaum Perempuan

Islam sangat menghormati kedudukan perempuan, "Sorga ditelapak kaki Ibu", artinya bahwa "Keridhaan Allâh terletak pada keridhaan kedua orang tua (ayah dan ibu). Agama Islam dengan hadist Nabi Muhammad SAW telah meletakkan penghormatan kepada posisi kaum perempuan (ibu) dengan tiga banding satu dengan kaum lelaki (ayah). Selain itu, « perempuan adalah tiang negeri, rusak perempuan maka rusaklah negeri ». Perempuan adalah ibu yang mendidik pertama dari generasi yang dilahirkannya.

Agama Islam telah mengembalikan fitrah kaum perempuan dari rongrongan kebiasaan jahiliyah yang telah mengingkari kesucian kaum perempuan, dan menganggap kedudukan perempuan sangat rendah. Kaum perempuan dapat menghidupkan suasana hidup yang indah dan bahagia, bila dibimbing oleh nilai-nilai ajaran agama yang luhur (Dinul Islam).

Di era globalisasi ini karena dorongan paham kebebasan (liberalisme), kebendaan (materialisme) dan mengutamakan kepentingan sendiri (individualisme), tanpa disadari kaum perempuan kembali menjadi obyek pemuasan nafsu rendah. Kaum perempuan jadi mangsa porno aksi dan pornografi. Kaum perempuan dianggap pemuas nafsu dan kreativitas seni semata. Di samping kaum perempuan tidak pula menjaga harkatnya dengan kukuh ketika berhadapan kenikmatan sensual dan erotik yang amat merusak moral.

Kaum perempuan semestinya tidak berpaling dari kodrat sebagai perempuan, yang mempunyai kelebihan dan memiliki keterbatasan-keterbatasan, sesuai kehendak Maha Pencipta. Kaum perempuan wajib mempersiapkan diri jadi isteri shalehah, sesuai sabda Rasul Allâh SAW,

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ ثَلاَثٌ الطَّيِّبُ وَالنِّسَاءُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِى فِي الصَّلاَةِ.

“Ada tiga hal yang sangat aku senangi di dunia ini, yaitu: Wangi-wangian, Isteri shalehah, dan ketenangan saat shalat.”(Imam Nawawi, 2005, hal. 75).

Kaum perempuan yang menjadi isteri shalehah dan amanah dalam kekayaannya, pasti mendapatkan dua pahala, satu pahala ibadah dan satu pahala sedekah, karena harta isteri adalah hak isteri.[14] Umar bin al-Khatthab RA, berkata,

لَوْلاَ اْدِّعَاءُ الْغَيْبِ لَشَهِدْتُ عَلَى خَمْسِ نَفَرٍ أَنَّهُمْ اَهْلُ الْجَنَّةِ الْفَقِيْرُ صَاحِبُ اْلعِيَالِ وَالْمَرْئَةُ الرَّاضِى عَنْهَازَوْجُهَاوَالْمُتَصَدِّقَةُ بِمَهْرِهَاعَلَىزَوْجِهَا وَالْرَّاضِى عَنْهُ اَبَوَاهُ وَالْتَّائِبُ مِنْ الذَّنْبِ.

“Sekiranya tidak takut dituduh mengetahui yang ghaib, tentulah aku mau bersaksi bahwa kelima golongan manusia ini adalah termasuk ahli surga, yaitu: a. Orang fakir yang menanggung nafkah keluarganya; b. perempuan yang suaminya ridha kepadanya; Isteri yang menshadaqahkan mahar/maskawinnya kepada suaminya; Anak yang kedua orang tuanya ridha kepada dirinya; dan Orang yang bertobat dari kesalahannya.”

Agama Islam mengajar umatnya, untuk selalu bersikap ridha dan syukur atas apa yang telah ditakdirkan oleh Allâh. Sikap ini dapat merasakan indahnya kehidupan berkeluarga, dengan menjadikan rumahku adalah surgaku”, dengan saling membutuhkan, saling memberi kemudahan, saling menjaga keutuhan rumah tangga, sebagai kekuatan dalam berbagai persoalan hidup, sesuai perkembangan zaman.

Wahyu Alquran menempatkan perempuan dengan hak dan kewajiban seimbang. Perempuan, sumber sakinah (bahagia) dengan merajut kasih dan rahmah. Tenteram, dengan mawaddah kasih sayang. Citra perempuan Minangkabau sangat sempurna diperankan pada posisi sentral IBU = Ikutan Bagi Ummat. Ibu adalah inti keluarga. Perempuan adalah “tiang negeri(al Hadist). Kaum perempuan wajib menjaga marwah (muruah) dengan menjaga “aurat”, sebagai ujud ciri-ciri feminim.

Sifat feminim yang merupakan sumber kasih sayang, kelembutan, keindahan, dan sumber cahaya Ilahi, mempunyai potensi untuk menyerap dan mengubah kekuatan kasar menjadi sensitivitas, mengubah rasionalitas menjadi intuisi, dan mendorong seksualitas menjadi spiritualitas, sehingga memiliki daya tahan terhadap kesakitan, penderitaan dan kegagalan”. Hancurnya sebuah rumah tangga ideal akibat sikap isteri terlalu maskulin.[15]

III. Isteri mesti Menjaga Diri dan Muruah

  1. Pakaiannya menutup aurat. Mempunyai  malu dan sopan.

“ Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.33, al Ahzab : 59).

Jilbab (33:59), adalah penudung atau khumur yang artinya juga adalah “pakaian luar; gaun panjang yang menutupi seluruh badan, atau mantel yang menutupi leher dan payudara[16].

  1. Tidak berkata keras, apalagi bersikap kasar sombong, di kacak batih bak batih, di kacak langan bak langan, yang diarahkan kepada suami junjungan diri.
    1. Jangan menolak panggilan suami kepada yang baik. Jangan berpuasa sunat tanpa seizin suami (kecuali puasa yang wajib). Jangan meninggalkan rumah tanpa seizin suami. Jangan berhias berlebih-lebihan untuk dilihat orang lain. Jangan lupa berbenah diri ketika suami pulang ke rumah. Jangan menerima tamu laki-laki yang bukan muhrim, di saat suami tidak di rumah.
    2. Simpan rahasia rumah tangga dengan baik.  Karena, suami isteri adalah ibarat pakaian yang saling melindungi, karena “.. mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka…” (QS.2, al-Baqarah : 187).

Pesan Rasulullah SAW, “Seorang isteri yang taat melakukan shalat 5 waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga diri (kehormatan faraj-nya), setia kepada suaminya, — dia akan di masukkan ke dalam sorga dari pintu mana saja yang dia ingini”.[17]

Alangkah mulia dan tingginya penghargaan Allah SWT bagi seorang isteri. Bila ia mau mengamalkannya.

Dengan bekal syariat Islam dan adat istiadat yang  baik  dapat dibina rumah tangga sakinah, “Baiti jannati”, yakni Rumah Tangga Sorga.

Seorang ibu di rumah tangganya, sangat dituntut bersifat kreatif, ulet, tabah, sabar dan mampu menghidangkan keindahan, dan selalu hati-hati melangkah.  “ boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. “ (QS.2, Al Baqarah : 216)

Arif bahwa di balik sesuatu tersimpan sesuatu. Jangan terperdaya kepada yang tampak lahir semata. Arif melahirkan kewaspadaan dalam bertindak dan berperangai.

Dalam awa akie mambayang,   Dalam baiak kanalah buruak,

Dalam galak tangih kok tibo,    Hati gadang utang kok tumbuah.

Maknanya, sejak awal, diperhitungkan apa mudharat dan manfaat dari suatu. Hati-hati dalam bertindak.

Jangan perturutkan hati gadang, sehingga lupa nasehat orang tua-tua.

Di balik gembira, bisa menanti duka membawa tangis. Sia-sia hutang tumbuh, kurang awas nagari kalah.

A.  Tipe perempuan, tidak boleh ditiru

  1. Perempuan kufur dan khianat kepada suami, seperti isteri Nuh dan Luth, berakhir keneraka. Firman Allah, “ Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan, bagi orang-orang kafir. Keduanya, berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh, di antara hamba-hamba kami. Lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk ( ke dalam jahannam itu)”. (QS.66,at Tahrim :10),  Nabi-nabi sekalipun, tidak dapat membela isteri-isterinya atas azab Allah,  apabila mereka menentang ajaran agama.
  2. Perempuan yang suka meninggalkan bengkalai dan merusak rajutan …. “ Dan janganlah kamu menjadi seperti seorang perempuan, yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. Kamu menjadikan sumpah (perjanjian)-mu sebagai alat penipu di antaramu…,” (QS.16, an-Nahl :92).
    1. Tipe Perempuan yang Perlu Ditiru
    2. Selalu menghindar dari kezaliman dan kemusyrikan. Senantiasa berharap sorga, seperti Asiyah isteri Fir’aun ; “ Dan Allah membuat isteri Fir’aun, perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu, dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS.66 at-Tahrim : 11). Sekalipun isteri seorang kafir, bila menganut ajaran Allah dengan taat, akhirnya masuk dalam jannah.
    3. Selalu berupaya agar generasi yang dilahirkannya menjadi zurriyat yang memegang teguh amanah Allah. “ Dan (ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau, anak yang dalam kandunganku ini, menjadi hamba yang saleh, dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Maka, tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan, dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu, dan (padahal), anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya, aku telah menamai dia Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya, serta anak-anak keturunannya, dengan (pemeliharaan) Engkau (ya Allah),  daripada syaitan yang terkutuk.” (QS.3, Ali Imran : 35-36),

Doa ibu muda ini makbul.

Maryam, melahirkan anak laki-laki yang sangat baik, mulia dan bermartabat, menjadi Nabi dan Rasul Allah untuk Bani Israil, yaitu Isa ibni Maryam.

  1. Selalu memelihara faraj, yakni Maryam itu sendiri. “ Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-kitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang (perempuan) yang taat.” (QS.66, Tahrim : 12).

  1. perempuan di minangkabau

”Adapun yang disebut perempuan, memakai tertib dengan sopan. Mamakai baso jo basi. Tahu ereng dan gendeng. Memakai rasa dan periksa, malu dan sopan. Menjauhi sumbang dan salah. Mulut manis, tutur bahasa disenangi. Kato baik kucindan murah, pandai bergaul  sama besar. Hormat kapada ibu bapo. Khidmat kepada orang tua, patuh kepada suami, Takut kepada Allah, mengikut perintah sunnah Rasulullah. Tahu dengan Korong dan kampong.

Mengenal tumah tangga. Tahu  manyuri mangulindan. Takut budi akan terjual. Malu di paham akan tergadai. Tahu di mungkin dengan patut. Meletakkan sesuatu pada tempatnya. Tahu tinggi dan rendah, bayang-bayang sepanjang badan. Boleh ditiru diteladani. Kan suri teladan kain, kan cupak teladan betung. Meleleh boleh dipalit, menetes dapat ditampung.Setitik dapat dilautkan, sekepal dapat digunungkan, oleh orang se nagari.” Inilah, harkat perempuan di Ranah Bundo, mulia dan bermartabat.

Perempuan Minang, padu isi dengan lima sifat utama; benar,  jujur, pandai, fasih terdidik, dan bersifat malu. Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek. Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso, Malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso.  Al hayak nisful iman = malu adalah paruhan dari Iman.

Dalam siklus ini generasi Minangkabau lahir bernasab ke ayahnya, bersuku ke ibunya, dan bersako ke mamak atau memperoleh gelar sako dan pusako dari mamaknya. Ketek banamo gadang bagala.

Perlu di Ingat !

1.       Jangan cepat berputus asa.

Riak jo galombang adalah permainan laut. Bergisir sampan dan pendayung adalah hal biasa.

Jangan cepat berputus asa, akan binasa jadinya rumah tangga. Minta selalu pertolongan dari Allah.

Ingat pesan Rasulullah SAW,  Bila perlu perlindungan minta perlindungan kepada Allah. Bila engkau memerlukan pertolongan minta pertolongan dari Allah “.

  1. Jangan meminta kepada yang dikeramat-keramatkan, atau paranormal. Akibatnya bisa terseret kepada mensyarikatkan Allah, satu dosa besar, ujungnya doa tidak akan dikabulkan Allah.
  2. Shalat yang lima waktu jangan dilalaikan apalagi di tinggalkan. Doamu dinilai dari sini !!!.
  3. Pesan Rasulullah SAW, “ sinarilah rumah tangga kalian berdua, dengan shalat dan bacaan Alquran.”

Undangan KMII Tokyo 013

Martabat manusia ditentukan oleh akhlaknya. Pematangan sikap pribadi berawal dari rumah tangga. Menanamkan perangai yang jujur.

Membentuk perangai umat harus dimulai dengan menanam sahsiah pada keluarga. Pembinaan rohani anggota keluarga dilaksanakan dengan agama. Dimulai dengan menanamkan rasa ”Khauf”

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan penuh rasa takut (khauf) dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka” (Q.S. As Sajadah: 16)

Kata khauf yang berarti takut, telah disinggung di dalam Al Qur’an sebanyak 134 kali, dan sinonimnya yaitu kata “Khasy-syah” yang juga berarti takut terdapat sebanyak 84 kali. Allah SWT menjadikan kehidupan di dunia ini ibarat ruang ujian, yang harus ditempuh manusia. Firman Allah tentang hal tersebut:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Dialah Allah — Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2)

Rasa takut (Khauf) merupakan sifat kejiwaan dan kecenderungan alami yang bersemayan dalamhati manusia, dan memiliki peran penting dalam kehidupan kejiwaan manusia. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: “Man khaafa Aamana”, barangsiapa yang takut, aman!” Kalau kita tidak takut hujan, kita tidak akan sedia payung, bila kita tidak takut sakit kita tidak berupaya meningkatkan kesehatan kita.

Islam tidak memandang rasa takut yang ada dalam diri manusia sebagai aib yang harus dihilangkan. Namun demikian, rasa takut akan menjadi sesuatu yang buruk apabila seseorang tidak mampu mengatur dan menyalurkan rasa takutnya, apalagi bila rasa takut itu jadi perintang kemajuan, kebebasan dan kehormatannya.

Ali bin Abi Thalib AS, menasehati kita: “Kalau anda bertekad melakukan sesuatu, maka arungilah. Karena bayangan bencana terlihat lebih besar dari yang sebenarnya.” Jadi sesungguhnya menunggu datangnya bencana lebih buruk dari bencana itu sendiri. Karena lebih baik kita melakukan persiapan dan menyusun kekuatan bathin menghadapi sesuatu yang akan datang.

Al Qur’an telah menggambarkan rasa takut yang timbul pada jiwa para rasul dan hamba-hamba  Allah yang shaleh, meskipun mereka adalah manusia pilihan yang terkenal suci dan bersih. Allah SWT berfirman:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلاَ تَخَافِي وَلاَ تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: “Susukanlah dia, dan apabila kamu takut (khawatir) maka hanyutkanlah ia ke dalam sungat (Nil). Dan janganlah kamu takut dan (jangan pula) bersedih hati. Karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (Q.S. Al Qashash : 7)

Takut (al khauf) adalah masalah yang berkaitan dengan kejadian yang akan datang. Seseorang hanya merasa takut jika yang dibenci tiba yang dicinta sirna. Khauf merupakan salah satu syarat iman dan melaksanakan hukum-hukumnya.

Takut kepada Allah adalah rasa takut yang harus dimiliki setiap hamba. Karena rasa takut itu mendorong untuk meningkatkan amal kebaikan  dan bersegera dalam meninggalkan semua yang dilarang-Nya. Rasa takut kepada Yang Maha Kuasa adalah salah satu pilar penyangga keimanan kepada-Nya. Dengan adanya rasa takut, timbul rasa harap (rajaa’) akan maghfirah (ampunan), ‘inayah (pertolongan), serta rahmat Allah dan ridha-Nya. Sehingga hakikat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin benar-benar  terpatri dalam qalbu seorang hamba.

Di saat manusia merasakan getaran rasa takutnya kepada Allah, maka saat itu berarti mereka memiliki rasa takut pula akan ancaman azab yang Allah sediakan bagi orang-orang yang durhaka kepada-Nya. Ma’rifah (pengetahuan) akan sifat Allah akan mengantarkan ke dalam pengetahuan tentang azab-Nya.

Seorang hamba yang shaleh, berma’rifatullah, dan merealisasikan hakikat kehambaannya dengan senantiasa mengamalkan perintah-Nya dan mengamalkan pula semua ajaran rasul-Nya, pasti akan memilki rasa takut yang mendalam terhadap azab yang mengancamnya. Sikap ini akan melahirkan selalu waspada, sehingga tidak ada amal atau prilaku yang mengarah kepada hal-hal yang menjadikan Allah murka dan menjadikan dirinya durhaka kepada Allah. Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku.” (Q.S. Az Zumar: 13)

Sesungguhnya rasa takut kepada Allah itu merupakan salah satu perangai yang diciptakan dalam diri manusia untuk memotivasi mereka dalam menyebarluaskan dan menjaga nilai-nilai Ilahy.

Orang yang benar dalam memposisikan rasa takutnya akan merasakan rahmat Allah, baik dalam kehidupan duniawi maupun ukhrawi.

IV. DOA PENUTUP

اللَّهُمَّ اصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَ اهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَ نَجَّنَا مِنَ الظُّلُمَاتَ إِلىَ النُّوْرِ وَ جَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَنَ،

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فيِ أَسْمَاعِنَا و أَبْصَارِنَا وَ قُلُوْبِنَا وَ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَاتِنَا وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ، وَ اجْعَلْنَا شَاكِرِيْنَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِيْنَ ِبهَا قَابِلِيْنَ لَهَا وَ أَتِمَّهَا عَلَيْنَا.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ اْلعَفْوَ وَ العَافِيَةَ فيِ دِيْنِنَا وَ دُنْيَاناَ وَ أَهْلِيْنَا وَ أَمْوَالِنَا،

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.

Tokyo,  25  Muharram  1430  H / 22  Januari  2009 M


[1] Prof. Dr. Zakiah Darajat dalam bukunya “Ketenangan dan Kebahagiaan Dalam Keluarga” memberikan 5 (lima) resep mewujudkan keluarga tenang dan bahagia

[2] (سُوْرَةُالنُّوْرِ/24:32) (رَوَاهُ الْبُخَارِى-كِتَابُ النِّكَاحِ-جِلِدْ 3, جُزْءٌ 7:8)

[3] Muhammad SAW, adalah orang nomor satu dunia dalam sejarah peradaban manusia, beliau seorang pemimpin yang tangguh, tulen, dan efektif. Lihat Michail H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, (Jakarta : PT. Dunia Pustaka Jaya, 1988), Cet. Ke-8. judul asli: The 100`s, a Ranking of The Most Influential Persons in History.

[4] Al-Bukhâriy, Shahih al-Bukhâri, (Bairut : Dâr al-Ihyâ’ al-Turâts al-`Arabiy, [tth]), Juz 7, h. 3

[5] Hadits ini tercantum dalam Shahih Bukhari pada kitab al-Nikah, Jilid tiga, juz tujuh halaman tiga dan Shahih Muslim pada kitab al-Nikah, Juz  2, halaman 118-119.

[6] صَحِيْحُ الْجَمْع/ِ 5466

[7] Maksud ayat ini Ialah: tidak pantas orang yang beriman kawin dengan yang berzina, demikian pula sebaliknya.

[8] Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya.

[9] Ialah: selain dari macam-macam wanita yang tersebut dalam surat An Nisaa’ ayat 23 dan 24.

[10] Ialah: menambah, mengurangi atau tidak membayar sama sekali maskawin yang telah ditetapkan.

[11] HIV/AIDS hanyalah salah satu efek buruk perbuatan zina seperti disinggung dalam Surah Al Isra: 32 di atas. Tidak menutup kemungkinan efek-efek lain yang jauh lebih mengerikan dari AIDS akan menyusul apabila zina masih dianggap sebagai hal biasa tanpa sedikit pun mengindahkan larangan Sang Pencipta. Tidak ada obat pencegahan AIDS yang paling mujarab bagi umat Islam kecuali menjauhi zina dan tidak menikahi mereka yang pernah melakukan zina.

[12] Menurut bahasa kata Qudsi adalah dinisbatkan pada lafazh “al-Qudsu” atau “al-Qudusu“. Artinya suci dan bersih. Disebut juga hadits Ilahiy, dinisbatkan pada lafazh “al-Hilâhu”. Atau disebut juga hadits rabbaniy, dinisbatkan pada lafazh “al-Rabbu“. Menurut istilah sesuatu yang didasarkan dan di-isnadkan oleh Nabi SAW kepada Allâh, tapi bukan al-Qur’ân.

[13] Ajaran Kristiani (Katolik) menganggap celibate mencerminkan kesempurnaan (seperti dialami Yesus hingga di salib dan Maryam yang tetap perawan), seperti tertera dlm Injil Matius 19: 12, 27-29; Korintus 7: 32-33 dan Surat Paulus, Rum 12: 1 yang isinya: “karena itu, saudara-saudara demi kemurahan Allâh aku menasehati kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan hidup yang kudus dan berkenan kepada Allâh; itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Jakarta, LAI, 1990, h. 203- PB), Yang menentang sikap menyendiri adalah Protestan. Ajaran agama islam tidak mengajarkan pola hidup yang egois ini.

[14] Kandungan Hadits Riwayat Bukhâriy dan Muslim, lihat dalam SAHID, No. 10/Tahun III/Februari 1991, hal. 41.

[15] Hani’ah, HISKI, UNP-1997, dan Armiyn Pane, “Belenggu”

[16] [The Holy Qur'an, Abdullah Yusuf Ali (1946), halaman 1126, nota kaki 3765]. Ia bukan tudung kepala. (Tudung kepada yang kini dipakai oleh kaum wanita adalah ‘mandil’ dalam bahasa Arab. Ia bermaksud kerchief; handkerchief; head kerchief, dalam bahasa Inggeris. Tetapi ia tidak terdapat di dalam al-Qur’an.)

[17] Hadist dari Anas bin Malik.


Renungan “Menjelang Dhuha” …… INGIN TAUBAT JANGAN DITUNDA-TUNDA … SEGERAKAN BERSIH DIRI LAHIR BATHIN .. !!!

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ
وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ
يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ
وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ
نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ
يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“ Hai orang-orang yang beriman,
bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya,
mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian,
dan memasukkan kalian ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi
dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia;
sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka,
sambil mereka mengatakan, “ Wahai Rabb kami,
sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami,
sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. ”
(Q.S. At Thahrim : 8)

Setiap orang mukmin sangat memerlukan dua perkara,
yaitu pengampunan dosa
dan penghapusan kesalahan.
Kenyataannya,
tidak seorangpun yang terlepas dari dosa dan kesalahan.

Abu Tamam mengisyaratkan sebuah hadits Rasulullah SAW
yang bersumber dari Anas bin Malik r.a:

“Setiap orang di antara kamu sekalian melakukan kesalahan,
dan sebaik-baik orang
yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat.”
(HR. Ahmad)

Dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh manusia
akan mengotori hatinya,
bagaikan noda hitam di atas kain putih,
tiada yang dapat membersihkannya
kecuali taubat.

Rasulullah SAW menyebut di dalam haditsnya
yang diriwayatkan oleh Ahmad.
Rasulullah SAW bersabda:

“Orang yang meminta ampun dari dosa
seperti orang yang tidak berdosa”.
(HR. Bukhari)

Dan Allah berfirman;
“Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertaubat
dan menyukai
orang-orang yang menyucikan diri.”
(Q.S. Al Baqarah: 222)

Arnussa 1427 004Sebenarnya syetan telah menipu
dan menjebak kita
dan memenuhi kehidupan kita,
dengan berbuat maksiat,
sehingga menyesatkan kita dari jalan Allah,
menjauhkan kita dari jalan keselamatan
semua perdayaan syaitah itu,
membukakan bagi kita pintu-pintu jahannam
dan syaithan melakukan semua itu bujuk rayunya
sehingga manusia terjerumus
ke dalam jurang kemaksiatan
hingga penuh berlumur dosa.  Seyogyanyalah kita untuk segera mengetuk pintu taubat mengharap maghfirah Allah.

Tidak ada kata putus asa
tidak ada istilah terlambat ..
dalam bertaubat
untuk menuju kepada Allah
meski dosa-dosa telah memenuhi kolong langit.

Allah adalah tuhan seluruh makhluk
yang menciptakan semuanya…
selalu menguji dan menyileksi amal
dan perbuatan hamba-hamba Nya….

Barangsiapa yang banyak dosanya
dan ia ingin bertaubat
maka pintu taubat selalu terbuka ….

Namun …
ambil mengertilah dengan syarat taubat itu …

1. harus menghentikan maksiat …
dan menyesali perbuatan yang telah terlanjur dilakukan.

2. harus berniat sungguh-sungguh…
untuk tidak mengulanginya lagi.
Dan, manakala dosa yang pernah ia lakukan itu
adalah berhubungan dengan hak manusia …
maka taubatnya ditambah dengan syarat yang ketiga ini …

3. harus menyelesaikannya dengan orang yang berhak
dengan meminta maaf kepadanya,
atau meminta kehalalan atau ridha…
atau mengembalikan apa yang harus ia kembalikan.

Di antara keutamaan yang didapat
oleh orang-orang yang bertaubat ialah …
Allah menyibukkan para malaikat-Nya
agar memintakan ampunan bagi mereka
yang bertaubat itu …
dan malaikat berdoa kepada Allah
mengharapkan Allah melindungi mereka
dari siksaan neraka jahannam,
lalu memasukkan mereka yang bertaubat itu ..
ke surga yang penuh dengan kenikmatan,
dan mendinding mereka yang telah bertaubat itu
dari kejahatan dan kesalahan.

Para malaikat yang membawa ‘Arsy di langit
juga sibuk memintakan ampunan
bagi orang-orang yang bertaubat ….

Allah berfirman:
“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arasy
dan malaikat yang berada di sekelilingnya
bertasbih memuji Rabbnya …
dan mereka beriman kepada-Nya
serta memintakan ampun
bagi orang-orang yang beriman
(seraya mengucapkan),
Ya Rabb kami …,
Rahmat dan Ilmu-Mu meliputi segala sesuatu,
maka berilah ampunan ….
kepada orang-orang yang bertaubat
dan orang yang mengikuti jalan Engkau
dan peliharalah mereka …
dari siksaan neraka yang menyala-nyala.
Ya Rabb kami …,
dan masukkanlah mereka …
ke dalam sorga ‘And
yang telah Engkau janjikan kepada mereka
dan telah Engkau janjikan pula
untuk orang-orang yang shaleh
di antara bapak-bapak mereka,
dan istri-istri mereka,
dan keturunan mereka semua.
Sesungguhnya Engkaulah …
yang Maha Perkasa
lagi Maha bijaksana,
dan peliharalah mereka
dari (balasan) kejahatan …
Dan….,
menjadi orang-orang yang Engkau pelihara
dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu,
maka sesungguhnya
telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya
dan itulah kemenangan yang besar. ”
(Q.S. Al Mukmin: 7-9)

Cukup banyak ayat-ayat di dalam Kitab Allah
yang mengabarkan diterimanya taubat
orang-orang yang bertaubat,
kalau memang taubat mereka itu tulus dan benar,
yang tentunya dengan cara-cara tertentu
yang telah diberikan tuntunan
oleh Allah dan Rasulullah jua…

Penerimaan taubat ini dilandaskan kepada karunia,
ampunan dan rahmat Allah,
yang tidak akan menyempit
karena keberadaan seseorang yang durhaka,
seperti apapun kedurhakaannya itu.

Terlebih lagi ….
orang yang bertaubat
dan juga memperbaiki diri …
serta beramal shaleh.

Tidak kurang dari sebelas tempat
di dalam Al Qur’an,
Allah mensifati diri-Nya
dengan sebutan at Tawwab
(Maha Menerima Taubat).

Kita akhiri pembahasan ini
di pagi ini menjelang dhuha ..
dengan firman Allah :
“ Sesungguhnya taubat di sisi Allah
hanyalah taubat bagi orang-orang
yang melakukan kejahatan
lantaran kejahilan,
yang kemudian mereka bertaubat
dengan segera …..
Maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya.
Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.
Dan tidaklah taubat itu diterima Allah
dari orang-orang yang melakukan kejahatan
yang hingga apabila telah datang ajal kepada seseorang,
barulah ia mengatakan,
“ Sesungguhnya aku bertaubat sekarang ”.
Dan tidak pula diterima taubat
orang-orang yang mati
sedang mereka dalam kekafiran.
Bagi orang-orang itu
telah Kami sediakan siksa yang pedih. ”
(Q.S. An Nisaa’: 17-18)

Karena itu janganlah ada
di antara kita yang menunda taubat
hingga hari esok.
Karena maut itu
datang secara tiba-tiba.
Bersegeralah untuk mensucikan jiwa
di mana dan bila saja,
waktunya ada…

Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam bukunya Al Fawaid mengatakan :
“Bila kau berpulang ke alam baqa,
tidak membawa bekal taqwa,
kau lihat orang-orang yang membawanya
pada hari perhimpunan.
Kau akan menyesal,
karena kau tidak seperti mereka.
Mereka mempunyai persiapan
sedangkan kau tidak memilikinya.”

Allahu A’lam Bishshawab
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wa barakatuh,
Buya H. Masoed Abidin

Danau Cimpago Padang
Semoga apa yg kita kerjakan, hendaknya diridhai oleh Allah Swt. Semoga buya sehat selalu dan bisa terus menyampaikan dakwahnya di fb ini… . FB tidak bersalah, tapi oknum2 yg berbuat tak senonoh yg merusak fb.. sehingga muncul fatwa haram. Lanjutkan terus buya…

  Edi Erwin pada 31 Mei 9:30

Alhamdulillah, terima kasih Buya

 Hendy Damanik pada 31 Mei 9:41

ASSALAMUALIKM BUYA…. SALM KENAL….

 Lisna Ova pada 31 Mei 14:03

Terimakasih tausiahnya Buya, semoga Buya senantiasa sehat walafiat dan kami bisa terus mendapatkan tausiah dari Buya…

 Anita Kencanawati pada 31 Mei 14:15

Terima kasih buya atas pencerahannya.. mudaha-mudahan kita termasuk kedalam kelompok ummat yang selalu bertaubat, amiinn..

 Nurlaila Zai pada 31 Mei 17:05

Terima kasih tausiahnya buya, semoga kita tetap menjadi umatNya yang senantiasa bertaubat memohon magfirahNya. Amiiiin.

 Subardini Adek pada 31 Mei 19:47

Terima kasih Buya atas dakwahnya. Manfaatkan terus Buya fasilas FB ini untuk berdakwah, sarana yang baik sekali tersedia untuk mengingatkan ummat yang selalu lupa bertobat, apalagi saat globalisasi sekarang, banyak orang melakukan hal yang tidak benar karena terdesak keadaan. Tanpa disadari sudah banyak berbuat kesalahan yang perlu diingatkan terus menerus. Semoga dakwah Buya ini dapat menyadarkan ummat yang sudah banyak melenceng. Amiiiin.

 Razali Nazir pada 31 Mei 21:34

Terimakasih Buya, notesnya telah memberikan pencerahan kepada kalbu saya. Semoga kami2 semua menjadi insan yang selalu berusaha untuk membersihkan hati dan diri dan tidak lupa selalu bertobat…amin.
Buya teruslah berdakwah melalui Fb ini seperti ajakan teman2, karena dalam kehidupan kami kadang kami lupa …terimaksih Buya, semoga Allah selalu mengaruniakan kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan untuk Buya dan keluarga. amiiin ya Gusti…wassalam.

 Intan Munajat pada 31 Mei 21:58

potonya indah sekali, dimana itu Buya? terimakasih.

 Intan Munajat pada 31 Mei 21:58

Terimakasih buya… Dyan sangat butuh penyejuk rohani seperti yang buya Tag kan ini…
semoga Allah selalu membuka kan pintu maaf dan Ampunannya untuk umat yang lalai seperti ananda buya ini

Jazzakillah Khair buya

 Dyan Eka Putri pada 31 Mei 22:55


MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIYHI WA SALLAM

MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIYHI WA SALLAM

Oleh: H.Mas’oed Abidin*

http://www.masoedabidin.multiply.com

Memperingati “maulid-rasul” sebenarnya menanamkan keinginan kuat mengikuti jejak langkah — sunnah Rasul — yang di wariskannya, sesuai Wahyu Allah tentang keutusan Muhammad Rasulullah SAW menjadi “Rahmat bagi seluruh alam” , dan rela menjadikannya “uswah hasanah” , suri ketauladanan yang teramat sempurna dari “nabi terakhir” yang telah melakukan perubahan (ishlah) menyeluruh terhadap berbagai prilaku kearah yang lebih baik dalam kehidupan manusia, dari kondisi dzulummat (kegelapan) kepada peradaban (civilisasi) yang terang benderang, transparan, an-nur atau kehidupan yang penuh cahaya.

Bila disadari sungguh-sungguh kehadiran manusia di permukaan bumi memikul dua beban utama untuk melakukan ishlah (perubahan, perbaikan, reform) dan untuk uswah (pencontohan) dalam peran kekhalifahan. Tanpa kedua sikap ini sebenarnya tidak terdeteksi eksistensi manusia.

Perubahan yang di bawa Rasulullah SAW, berdasar bimbingan Wahyu Allah SWT, menuntun manusia kepada fithrahnya menjadi ummat bertuhan (tauhidic weltanschaung) dan berakhlaq budi pekerti. Terbukti bahwa perubahan dimaksud tidak semata bertumpu kepada keinginan pribadi, tetapi selalu dengan bimbingan Khaliq Maha Pencipta. Dan prilaku manusia yang terbimbing wahyu Allah dan sunnah Rasul ini, pasti terjauh dari pertentangan dalam kehidupan manusia. Inilah perbedaan mendasar dalam hal perubahan yang di lakukan reformer lainnya yang sering melahirkan pemaksaan kehendak, tindakan kekerasan bahkan anarkis.

Perubahan berdasar Sunnah Rasulullah SAW, bermuara kepada “syari’at Islam”, dan berintikan proses perubahan dan perbaikan berbentuk tajdid (pemurnian) , Ishlah (penyempurnaan dan penyelesaian) dan taghyir (perubahan sikap) . Perubahan prilaku yang berperadaban kearah perbaikan prilaku tanpa merusak.

Ajaran Islam mengingatkan ummat untuk menghindari tindakan merusak (fasad=anarkis) dalam tatanan prilaku maupun idea (pemikiran) dengan berupaya menjauhi pemaksaan kehendak.

Agama Islam menghormati prinsip tidak ada paksaan dalam agama . Kewajiban asasi melembagakan musyawarah dalam setiap urusan. Teguh identitas (shibghah) dalam ujud amar ma’ruf (proaktif mengajak dan mengamalkan kebaikan-kebaikan) dan nahyun ‘anil munkar (taat asas menolak setiap kejahatan).

Gerakan amar makruf-nahiy munkar bertujuan melawan segala corak kemakshiyatan menyangkut tatanan dan hubungan pribadi, keluarga, masyarakat, lingkungan, bangsa dan negara. Tujuan utamanya menciptakan ummat berkualitas “khaira ummah” atas dasar “iman” kepada Allah. Intensitas tinggi berpacu dalam menggairahkan perlombaan kepada kebaikan “fastabiqul-khairat”.

Ajaran Islam terbukti dalam sejarah panjang peradaban manusia berhasil menciptakan suatu komunitas ummat yang kian hari bertambah jumlahnya sampai akhir zaman .

Risalah Rasulullah SAW, mencatat kegelapan perilaku kehidupan jahiliyah masa lalu, antara lain ;“Kami adalah orang jahiliyah, penyembah berhala (kepatuhan kepada selain Allah dengan pemberhalaan kedudukan, kekuasaan, harta kekayaan), pemakan bangkai (tidak mengenal halal-haram), memutus silaturrahim (dengan penidasan, anarkis, intimidasi), berbuat bencana terhadap jiran tetangga, dan perbuatan keji (judi,rampok,korupsi,zina) , sehingga yang kuat menelan yang lemah (arogansi kekuasaan, pemupukan kekuatan golongan dan kelompok). Sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul dari kalangan kami sendiri, yakni Muhammad SAW yang sangat kami kenal nasab, kebenaran, kejujuran, amanah (tranparansi), dan baik pekertinya. Karena itu kami mempercayainya, dan kami benarkan risalahnya” (HR.Buchari, Abu Daud).

Hadist ini sebenarnya berisikan;

Pertama, Risalah Rasulullah SAW diterima karena kejujuran pembawanya (pribadi Muhammad Al-Amin).

Kedua, keutamaan Wahyu Allah mampu merombak tata prilaku kehidupan masyarakat secara kaffah (menyeluruh).

Ketiga, keteguhan ummat dengan tingkat konsistensi (istiqamah) yang tinggi dalam kerangka jihad fii sabilillah.

Keempat, teguh keyakinan kepada kehidupan ukhrawi, bahwa hidup tidak semata materil fisik.

Kelima, kecerdasan ummat melihat cerdas Agama Islam adalah konsep hidup terbaik.

Kelima faktor ini yang menjadi pembangkit utama harakah Islam sebagai kekuatan alternatif masa datang. Ummat Islam hari ini di tuntut berperan aktif sebagai pengisi konsep, pelaku penggerak kehidupan duniawi berkeadilan.

Agama Islam tidak hanya ibadah dalam arti sempit (puasa, shalat, zikir dan do’a), tetapi menata amalan nyata yang shalih dalam membentuk kualitas hidup “hasanah” di dunia dan di akhirat.

Ummat Islam mesti sadar bahwa Dakwah Ilaa Allah selalu berhadapan dengan kekuatan konsep fikrah (ghazwul fikriy) Yahudi dan Salibi , dalam penguasaan ekonomi tersistim kearah pemelaratan ummat yang kaya menjadi sangat tergantung kepada belas kasihan para pemodal sehingga lahirlah masyarakat yang miskin dari kekayaan.

Keadaan seperti ini, akhirnya diperparah oleh percaturan politik dengan bungkus demokratisasi, humanisasi, dan hak asasi yang pada dasarnya menjadi kemasan dari phobia terhadap Islam yang berujung dengan intimidasi terhadap ummatnya. Dalam rangka ini kita peringati Maulid Nabi.

Padang, Rabi’ul Awwal 1430 H/ Maret 2009 M.


Genocida Israeli, APRES LE MASSACRE DE CANA EN 2006 , LE MASSACRE COURAGEUX A DISTANCE DES ENFANTS DE GAZA DECEMBRE 2008/JANVIER 2009

Kebiadaban Israel di Gaza

http://portail.islamboutique.fr/gaza2008/

APRES

LE MASSACRE DE CANA EN 2006 ,

LE MASSACRE COURAGEUX A DISTANCE DES ENFANTS DE GAZA

DECEMBRE 2008/JANVIER 2009

Ces jeunes israéliens regardent avec curiosité et humour les bombardements de l’armée israélienne . On regarde à la jumelle , on rit , on s’appelle pour décrire le moment , mais ce n’est pas pour décrire les festivités du jour de l’an … C’est pour profiter du moment d’extermination de la population palestinienne !
Mis à jour le 08-01-09
Mis à jour le 07-01-09
Mis à jour le 06-01-09

Mis à jour le 05-01-09

Les médias français ont “omis” de mentionner que l’armée israélienne utilise des armes non conventionnelles contre la population palestinienne : “Le phosphore blanc ou White phosphorus” . Article du Times confirmé par plusieurs journalistes d’Al Jazeera : http://www.timesonline.co.uk/tol/news/world/middle_east/article5447590.ece

Un autre article pour vous montrer les conséquences de ce phosphore blanc et vous comprendrez les brûlures multiples aux visages et sur les corps de tous ces palestinien(ne)s décédés et blessés (Qu’Allah Fasse Miséricorde à nos frères soeurs morts en martyres) .

http://www.cmaq.net/fr/node.php?id=22837

Mis à jour le 04/01/09

Ce jour-ci les médias occidentaux ont “omis” de mentionner que l’armée israélienne fait exploser sans limites les ambulances palestiniennes (déjà près de 7 morts : ambulanciers et victimes)

Mis à jour 03/01/2009
Mis à jour le 02/01/2009
Mis à jour 01/01/09
Mis à jour 31/12/2008
xc

Israel’s actions in Gaza strip should be condemned and stopped. But, any condemnations against Israeli attack’s to Gaza Strip and any demands for International body to act against Israel should be framed in a non-religious and non-racial framework. In other words, I want to see the world stops invoking anti-semitism.

Yet, as the events in Gaza are unfolded; more and more Palestinian are wounded, I am in the brink of my cause. In the dissapointment toward Israel and the United Nations, I am trying to find the reason why anti-semitism should never be exercised, even in the today-look like situation. I almost lost cause. But, seeing pictures of wounded Palestinians in TV this evening, I finally find the reason why anti-semitism, even in the current Israeli attack, should still no longer be entertained.

Two Miseries
First of all, anti-semitism has created so much miseries. At least two are now visible. The first misery is the extermination of Jews and their dispersion from their homeland in Europe. Hundred thousand of Jews had to give up their life simply because they carry their identity as Jews.

But, it should also be remembered that it is exactly the same anti-semitism (the one entertained in Europe), that created unnecessary and actually avoidable second misery in Palestine. As European Jews were dissilusioned with their situation in Europe, the Zionist Movement saw that the previously promised land might given them hope and security. While I do not agree with the use of biblical justification for their choice of Palestine, the zionists (in the name of Jewish people), of course, have rights to choose places that they think will provide safety and security for them. Unfortunately, they ignored the fact that in Palestine, there have been other communities live there for hundred years. And like Jews who have rights to choose land in order for them live peacefully, Palestinians have also rights to defend their homeland so they can live peacefully.

The course at that time, I guess, laid on the hand of the Great Britain and other big powers who were dividing the cake of Ottoman’s defeat in 1916. Had they, at the end of First World War, resorted to other means in dealing with Jewish people’s misery, rather than only stuck to the solution of making Palestine home for dispersed Europen Jews, miseries that we are now seeing in Palestine would never happen. The Great Britain and big powers should have asked Europe that was actually the perpetrator of anti-semitism to be held responsible for the miseries that they caused to the Jews. Say, the Great Britain and the others would have pressured Poland, Germany or other European countries to provide land for Jewish people to build their own state, if these countries did not want Jews to live in their territory. But the super powers chose, instead, Palestine as a solution.

Unfortunately, as we have heard and seen for decades, the choice proven to be disastrous. Anti-semitism has brought another avoidable misery.

Inability of Living in Coexisentence with the Others
The second reason why anti-semitism should never be exercised is because the practical implication of anti-semitism’s spirit is detrimental for the future of peace in this world. Anti-semitism rejects the idea that human being has equal dignity and rights. It also rejects diversity as the basic fact of human being life. In anti-semitism, this spirit carries practical implication which is the inability to live peacefully in coexistance with people having different identities. Such spirit is not only exercised by the old-Europe, but also possibly by current Europe, the Muslim world, and even the very victim of anti-semitism it self.

The state of Israel, as the formal representation of Jewish people who were the victim of anti-semitism, has been showing the inability to live in coexistence with poeple of different races. Since 1948, without the consent of the inhabitants of the Mandatory Palestine, Israel had been granted almost half of Palestine territory. Yet, as the time goes on, the whole world see Israel keeps expanding that territory almost to the extent that the other indigenous communties living in that area have no more spaces to live. The expansion, to me, shows how Israel does not want the other communities to live in the same area with the people of Israel. It shows how Israel can not live in coexistence with other people in the area. In other words, Israel has embraced the spirit of anti-semitism that it rejects in the first place.

While the people and the government of Palestine have rights to defend their homeland, they might also embrace the spirit of anti-semitism if they want to wipe out Israeli Jews from today’s Palestine.

***
In its original meaning, antisemitism is against Jewish people. But, at the end of this article, I want to point that the spirit of anti-semitism can be exercised by any actors and can endanger of any race, ethnic or religious groups. Those who can not live in coexistence with other people having different ethnic and religion are essentially embracing the spirit of anti-semitism. Those who were refused their rights to live in an area simply because they have different identities with the majority or other groups are the victims of the spirit of anti-semitism. For the peaceful future of this world, lets get rid of the spirit of anti-semitism and embrace the beauty of living in coexistence with those who are different with us.


Apa Kata Rizal Ramli, menurut www.kabarindonesia.com

DR. RIZAL RAMLI: Cangkir Emas Dipakai Mengemis
Oleh : Wilson Lalengke

11-Okt-2007, 08:12:53 WIB – [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia – Bicara blak-blakan, sangat terbuka dan lancar tanpa beban.
Itulah kesan kuat yang melekat sebagai ciri khas ekonom lulusan Master dan Doktor dari Boston University, Amerika Serikat ini.

Namun, ia tidak sekedar bicara alias asbun (asal bunyi) tapi semua yang dipaparkan selalu didukung oleh fakta, data dan analisa yang tajam tentang berbagai hal yang sedang dibahas, terutama bila bicara tentang persoalan ekonomi Indonesia.
Pengetahuan dan wawasannya yang luas di bidang ekonomi ditunjang oleh
keberanian dan kejujuran yang tinggi, memang tidak diragukan lagi. Hingga
tidak mengherankan jika sebagian kalangan memberikan julukan kepadanya
sebagai “The Trusted Indonesian Economist”.

Dr. Rizal Ramli, dilahirkan di Padang, Sumatra Barat, pada 10 Desember 1953.

Ayahnya seorang asisten Wedana sementara ibunya adalah Guru.

Ibunya meninggal pada saat Rizal masih berumur 7 tahun, sehingga ia harus tinggal dengan neneknya di kota Bogor.

Sebagai anak seorang guru, ia sangat rajin membaca. Ia sejak muda telah kenal dan bergaul akrab dengan berbagai buku bacaan, termasuk buku-buku penting karya Albert Einstein. Tidak heran jika kemudian ayah 3 anak (Dhitta Puti Saraswati, Dipo Satrio, dan Daisy) ini kemudian sangat mengagumi dan mengidolakan pemikir besar Einstein dan mengoleksi berbagai versi biografi dari ilmuwan berkebangsaan Jerman itu.

Debut Rizal Ramli sebagai sosok pemikir yang kritis dan berani dimulai sejak
suami Herawati M. Mulyono ini sebagai mahasiswa di Institut Teknologi
Bandung (ITB). Kala itu, di tahun kedua masa belajarnya, ia sudah melibatkan
diri dalam diskusi-diskusi yang bersinggungan dengan bidang politik di Dewan Mahasiswa, yang kemudian mengantarkannya menjadi Deputi Ketua Dewan Mahasiswa ITB tahun 1977.

Karakter dan idealismenya sangat kuat sehingga ia berani mengoreksi kekeliruan sistim politik dan strategi pembangunan Indonesia masa itu, yang sempat mengantarkan Rizal muda ke penjara militer selama beberapa bulan dan penjara Sukamiskin, Jawa Barat, selama satu tahun (1978/1979) akibat aksi menentang pemilihan kembali Soeharto sebagai presiden.

Sikap kritis dan tidak mau kompromi dengan kebijakan berbau korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang dijalankan pemerintahan negara tetap menjadi kesehariannya hingga di usia paruh baya hari ini.

Konsekwensi dari keteguhan idelismenya itu, Ramli praktis tidak pernah
diberi kesempatan berkarir di pemerintahan sampai tumbangnya rezim Suharto.

Kiprahnya bagi pembangunan bangsa melalui peran aktif di pemerintahan baru dimulai ketika Presiden Abdulrahman Wahid memintanya menjadi Kepala Badan Logistik (Bulog) pada April 2000. Saat itu, kinerja Bulog sangat buruk dan membutuhkan pembenahan internal oleh orang yang kapabel dan terpercaya untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap badan ini. Tugas utama Ramli oleh Presiden Gusdur, panggilan akrab Abdurrahman Wahid, adalah mendorong Bulog menjalankan kembali fungsinya dengan baik yakni memenuhi kebutuhan rakyat, menjaga harga penjualan petani sebaik mungkin dan membersihkan Bulog dari praktek KKN.

Hanya selang beberapa bulan mengemban tugas sebagai Kepala Bulog, tepatnya pada Agustus 2000, pendiri ECONIT Advisory Group, sebuah lembaga riset yang bergerak dalam bidang ekonomi, industri dan perdagangan, ini ditunjuk untuk menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Perekonomian (Agustus 2000 – Juni 2001), dan kemudian menjadi Menteri Keuangan dari Juni hingga Juli 2001.

Sebagai Menko Perekonomian, mantan Pemimpin Redaksi Jurnal Ekonomi dan Sosial Prisma ini juga merangkap beberapa jabatan penting dan strategis
dalam pemulihan perekonomian yang hancur dilanda krisis moneter, yakni
sebagai Ketua Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) dan Ketua Tim Keppres 133 untuk renegosiasi listrik swasta.

Kinerja Ramli di pemerintahan dinilai berhasil oleh banyak pihak karena
walau hanya dengan waktu yang relatif pendek, yakni hanya 15 bulan, ia
berhasil melakukan sejumlah terobosan yang efektif untuk mendorong reformasi institusional, restrukturisasi sektoral maupun korporat, serta percepatan pemulihan ekonomi. Di Bulog misalnya, ia berhasil melakukan restrukturisasi agar Bulog menjadi organisasi yang transparan, accountable, dan lebih profesional, sekaligus mendorong regenerasi; meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, di mana Bulog meningkatkan pembelian gabah, bukan beras.

Ketika menjadi Menko Perekonomian, alumni Departemen Fisika ITB ini
mencanangkan 10 Program Percepatan Pemulihan Ekonomi yang diakui oleh dunia internasional sebagai program pemulihan ekonomi yang kredibel. Hasilnya, ekonomi Indonesia selama tahun 2000 tumbuh sebesar 4,8%, di atas perkiraan semula yang hanya 2-3% dengan budget deficit yang lebih kecil dari perkiraan semula, yaitu hanya  3,2% dari GDP (perkiraan semula adalah  4,8% dari GDP).
Turn around ekonomi Indonesia mulai terjadi pada tahun 2000. Total ekspor
Indonesia selama tahun 2000 mencapai US$ 62 milyar, atau naik 27% dari
ekspor Indonesia pada tahun 1999.

Kebijakan yang ditempuh selama menjadi Ketua KKSK dan Ketua Tim Kepres 133 juga terbilang sukses. Sebagai Ketua KKSK, Dr. Rizal Ramli berhasil
memutuskan sekitar 140 keputusan penting, baik yang menyangkut
restrukturisasi hutang maupun percepatan penjualan asset yang dikelola oleh
BPPN.

Salah satunya adalah restrukturisasi bisnis dan hutang PT IPTN menjadi PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) sehingga viable secara bisnis dan
finansial. Hasil dari langkah-langkah tersebut PT. DI penjualannya meningkat
dari Rp. 508 milyar pada tahun 1999 menjadi Rp, 1,4 triliun pada tahun 2001.

Kerugian perusahaan sebesar Rp. 75 milyar tahun 1999 berubah menjadi
keuntungan sebesar Rp. 11 milyar.

Itulah sebagian kecil keberhasilan dan karya dosen tamu di berbagai
perguruan tinggi dalam dan luar negeri yang dapat disebutkan di sini. Rizal,
yang pernah mengambil dan menyelesaikan program Asian Studies di Sophia
University, Tokyo, Jepang tahun 1975 ini, juga telah menghasilkan banyak
sekali karya ilmiah yang telah dimuat jurnal-jurnal ekonomi terbitan dalam
dan luar negeri. Selain sebagai pengajar bidang ekonomi, ia juga banyak
berperan sebagai penasehat dan konsultan ekonomi bagi berbagai institusi
baik swasta maupun pemerintah, seperti misalnya menjadi konsultan ekonomi DPR RI dari tahun 1993 hingga 1999.

Sebagai seorang ahli ekonomi kelas dunia, sudah barang tentu akan sangat
menarik untuk mendengar komentar dan pandangan-pandangannya tentang keadaan ekonomi serta prospek perekonomian Indonesia di tengah arus ekonomi global selama ini. Menurut Rizal, yang sejak 2006 lalu tercatat menjadi wakil pemerintah pada PT Semen Gresik (pesero) Tbk sebagai Presiden Komisaris, negara kita sebenarnya adalah negara kaya raya yang digadaikan kepada pihak asing dengan harga sangat murah; ibarat cangkir emas yang digunakan mengemis uang recehan kepada negara-negara kreditor.

Berikut ini adalah hasil wawancara KabarIndonesia dengan Bapak Dr. Rizal Ramli di Jakarta beberapa waktu lalu, yang dituturkan dengan gaya monolog.

KabarIndonesia (KI): Pak Rizal Ramli, politik dan ekonomi ibarat dua sisi mata uang, saling terkait satu sama lain. Mohon diuraikan pandangan-pandangan, hasil analisa, dan prediksi Pak Rizal tentang kondisi politik dan hubungannya dengan pembangunan ekonomi Indonesia ke masa depan, dan mungkin ada pesan-pesan yang dapat disampaikan kepada masyarakat kita agar bisa segera keluar dari krisis ekonomi yang belum juga pulih hingga
kini?

Dr. Rizal Ramli (RR): Politik di Indonesia agak berbeda dengan politik di luar negeri. Mungkin kita masih dalam tahap awal dalam berdemokrasi. Politik
kita masih pada tahap love and hate relationship (hubungan berdasarkan cinta dan benci   red). Jadi, pemimpin itu mula-mula sangat dicintai, ekspektasi rakyat itu sangat berlebihan. Kemudian ada periode di mana mulai ada tanda tanya, betul tidak pemimpin ini bekerja untuk kita semua? Betul tidak ini pemimpin untuk semua pihak? Nah, setelah itu, seandainya
pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab, masuk ke fase hate. Kalau
sudah hate, orang Indonesia rata-rata selalu berkata “asal bukan”. Misalnya
waktu itu asal bukan Soeharto, asal bukan Habibie, asal bukan Gusdur, asal
bukan Megawati. Memang SBY (Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono   red) saat ini sudah masuk fase kritis. Sudah mulai orang berpikir asal bukan.
Sebetulnya sangat ironis, presiden pertama yang dipilih secara demokratis,
presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat.

Ada dua masalah utama yang dihadapi Indonesia.

Pertama: kualitas kepemimpinan dan yang kedua school of thought (cara berpikir   red) dalam bidang itu, yang lebih banyak mengandalkan cara berfikir apa yang dikenal di kalangan economist Washington Consensus. Yaitu garis kebijakan ekonomi dari Washington untuk negara-negara berkembang, yang mereka sendiri tidak laksanakan dalam prakteknya. Di Asia Timur ini hanya ada dua negara yang secara konsisten melaksanakan Washington Consensus, yaitu Indonesia dan Philipina. Kedua negara ini tingkat ketimpangannya sangat luar biasa. Kedua negara ini, sejak beberapa dekade terus merosot. Prestasi terbesar dari kedua negara ini adalah menjadi eksportir tenaga kerja wanita terbesar di dunia.

Negara-negara di Asia Timur lainnya seperti Malaysia, Singapura, Thailand,
China, Jepang dan sebagainya tidak menjalankan Washington Consensus. Mereka lebih percaya bahwa di dalam bidang ekonomi, dalam perumusan kebijakan di bidang ekonomi, mereka lebih mandiri; menggunakan apa yang disebut model Asia Timur. Dalam model Washington Consensus, peranan pemerintah seminimum mungkin, sementara dalam model Asia Timur pemerintah memainkan peranan yang proaktif dalam bidang ekonomi. Dengan cara inilah negara-negara di Asia Timur mengejar ketinggalannya dari Barat. Walaupun di dalam bidang politik dan militer mereka bekerjasama dengan Washington, tetapi dalam bidang ekonomi mereka mau mandiri dalam perumusan kebijakan, karena hanya dengan cara itu mereka bisa mengejar ketertinggalan dari Barat dan pelan-pelan nanti mereka bisa lebih kuat secara militer.

Pada pertengahan tahun 1960-an GNP perkapita Indonesia, Malaysia, Thailand, Taiwan, China nyaris sama, yaitu kurang dari US$100 per kapita. Setelah lebih dari 40 tahun, GNP perkapita negara-negara tersebut pada tahun 2004, mencapai: Indonesia sekitar US$ 1.000, Malaysia US$ 4.520, Korea Selatan US$ 14.000, Thailand US$ 2.490, Taiwan US$ 14.590, China US$ 1.500. Jadi harus ada pertanyaan. kok negara-negara lain bisa maju lebih cepat, tingkat kesejahteraan rakyatnya lebih baik, jurang antara kaya-miskin ada tapi tidak sebesar yang ada di Indonesia. Nah, tidak bisa hanya menyalahkan presiden demi presiden, tapi karena ada satu school of thought yang dominan di dalam pembangunan ekonomi Indonesia yang hanya merupakan sub-ordinasi dari kepentingan Internasional.

Dari segi yang lain, kalau dilihat dari segi sejarah, kita itu mendapatkan
political independence (kemerdekaan politik – red) pada 17 Agustus 1945,
kemerdekaan politik sebagai bangsa. Tahun 1998, rakyat kita mendapatkan
freedom, demokrasi, kebebasan untuk menyatakan apa saja dan menulis apa saja yang selama rezim otoriter Soeharto tidak mungkin. Tetapi sejak tahun 1945, belum pernah terjadi kebangkitan ekonomi. Tidak ada kebangkitan ekonomi.
Setelah tahun 1998, kita juga tidak punya kebangkitan ekonomi itu. Jadi
harus ada pertanyaan mendasar, ketika kita sudah memiliki political
independence, sudah memiliki freedom in terms of democratic mechanism
(kebebasan dalam arti mekanisme demokrasi   red), tetapi mengapa belum
pernah terjadi kebangkitan ekonomi sampai sekarang.

Nah, jawabannya adalah apa yang disebut the creeping back of neo-colonialism (kembalinya kolonialisme gaya baru   red). Bukan lagi model kolonialisme jaman dulu, pakai kekuatan militer dan dominasi politik, tetapi penguasaan ekonomi melalui mekanisme pasar. Proses kembalinya neo-kolonialisme itu sebetulnya dimulai pada tahun 1967 saat renegosiasi utang dengan kreditor-kreditor.

Set back sedikit, waktu KMB (Konferensi Meja Bundar red) di Belanda, Indonesia memang ditekan pada waktu itu untuk mengambil alih utang-utang pemerintahan Hindia Belanda. Publik tidak banyak tahu bahwa Pemerintah Indonesia ditekan untuk membayar seluruh utang-utang dari pemerintah Hindia Belanda. Padahal banyak dari utang-utang itu adalah utang untuk melawan dan menghancurkan kelompok pejuang kemerdekaan Indonesia, termasuk para pejuang kemerdekaan kita, seperti perang di Aceh, perang Pattimura di Maluku, dan sebagainya. Itu adalah ongkos buat Belanda. Nah itu dinyatakan sebagai utang pemerintah Indonesia.

Pada waktu itu, Soekarno dengan Hatta menyatakan ‘sudahlah, kita ambil utang-utang itu, yang penting kita merdeka dulu, soal utang urusan belakangan’. Begitu KMB ditandatangani, bung Karno memerintahkan, jangan bayar itu utang. Jadi walaupun utang itu disepakati, pemerintah Indonesia tidak pernah mau bayar. Taktiklah istilahnya itu.

Tapi waktu pemerintahan Soeharto, awal Orde Baru pada tahun 1967, Widjojo Nitisastro dan kawan-kawan yang disebut sebagai Mafia Berkeley membuat kesepakatan baru untuk mulai membayar utang Hindia Belanda tersebut yang sebetulnya secara moral itu tidak justified (dibenarkan   red), secara histories politis itu tidak justified. Tetapi Widjojo dan kawan-kawan waktu itu sepakat untuk mulai mencicilnya. Widjojo dan kawan-kawan itu memang dididik di Berkeley, dipersiapkan untuk mengambil alih pengelolaan ekonomi setelah Soekarno jatuh, supaya membelokkan garis ekonominya, satu garis dengan garis Washington. Sejak itulah dimulai the creeping back of
neo-colonialism. Seperti diketahui bahwa sekarang, untuk menguasai suatu
negara tidak perlu secara militer, tidak perlu secara fisik, asal ekonominya
bisa dikendalikan, negara tersebut bisa dikuasai.

Sejak itu, walaupun Mafia Berkeley berkuasa nyaris tidak pernah berhenti
selama 40 tahun, berlanjut ke muridnya, ke cucu muridnya dan seterusnya.
Presiden bisa berganti, partai yang berkuasa bisa ganti, jenderal bisa ganti, TNI bisa melakukan reformasi, tapi di dalam bidang ekonomi tetap pada
garisnya Mafia Berkeley. Nah, inilah yang menjadi sumber mengapa Indonesia tidak bisa menjadi besar, karena mereka dalam prakteknya sering menjadi conduit (saluran   red) bagi lembaga-lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia, IMF, untuk merumuskan undang-undang di Indonesia, merumuskan berbagai kebijakan.

Contoh: awal orde baru tahun 1967, UU investasinya dibikin oleh satu lembaga kreditor kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan jadilah UU Investasi. Banyak sekali UU yang masuk ke kategori itu. Misalnya, Bank Dunia bilang, saya kasih 400 juta dollar tapi Indonesia harus bikin UU Privatisasi Air, sehingga petani juga harus bayar air.

Kemudian ADB (Asia Development Bank – red) juga kasih pinjaman 300 juta
dollar tapi Indonesia harus ada UU Privatisasi, agar perusahaan-perusahaan
negara bisa dijual dengan harga murah. Jadi banyak sekali UU dan peraturan
pemerintah yang sebetulnya dipesan oleh lembaga-lembaga keuangan
internasional.

Hal itu sesungguhnya melanggar konstitusi. Kita ini adalah sovereign state
(negara yang berdaulat   red), tidak boleh ada pihak manapun yang memberi
iming-iming memberi pinjaman dengan syarat ada UU yang mereka susun. Jelas saat orang menyusun UU, kepentingan dia adalah nomor satu. Kalau ada satu negara yang UU-nya dipesan dikaitkan dengan pinjaman, pembuatan UU yang diikat dengan pinjaman, jelas yang memberi pinjaman itu memiliki
kepentingan-kepentingan di dalam pembuatan UU itu. Jika ada satu negara yang mengikuti pola seperti ini, bisa dibayangkan bahwa negara ini tidak akan
pernah bisa maju. Di Asia, yang ikut model ini hanya ada dua negara yakni
Indonesia dan Philipina. Negara lain tidak mau mengikuti itu, kalau kebijakan ekonomi, mereka rumuskan sendiri. Mereka buat UU yang mencerminkan
kepentingan negara mereka, kepentingan rakyat mereka.

Seperti banyak diketahui, di Asia Timur sering terjadi konflik dagang, misalnya antara Taiwan dengan Amerika, Malaysia dengan Eropa, dan Singapura juga, walaupun secara politik dan militer, mereka ikut hegemoninya Washington. Nah kita di dalam politik luar negeri mengaku independen, dalam prakteknya tidak selalu independen. Di dalam bidang militer kita punya kerjasama dengan negara-negara besar, tapi dalam bidang ekonomi kita, pola neo kolonialisme benar-benar masih berlangsung hingga saat ini. Selama itu tidak dihancurkan jangan mimpi Indonesia bisa jadi negara besar.

Sesungguhnya Indonesia ini adalah negara yang kaya sekali. Istilah saya,
Indonesia ini memiliki banyak golden bowls, cangkir emas, seperti Freeport,
Cepu, dan sebagainya. Tapi karena mental pemimpin dan elitnya itu inlander,
maka kekayaan itu seakan tidak bermakna. Cepu misalnya, nilainya antara 120 billion dollar sampai 150 billion dollar. Lebih besar daripada cadangan
minyaknya bekas Caltex di Sumatra Selatan. Tetapi pengelolaan ladang minyak ini diberikan kepada perusahaan Exxon tanpa kompensasi yang memadai.

Nah, cangkir emas atau golden bowls ini dipakai untuk mengemis uang recehan. Dari Bank Dunia 300 juta dollar, dari Amerika 400 juta dollar, dari Eropa sekian juta dollar. Pemimpin kita tidak tahu golden bowl yang dia pegang, baru satu Cepu saja, nilainya ratusan milyar dollar. Belum lagi Freeport nilainya berapa, dan yang lain-lain yang bertebaran di nusantara itu berapa nilainya.

Kenapa itu bisa terjadi, karena para pemimpin dan elit kita masih bermental
inlander dan tidak percaya diri. Tidak memiliki kemampuan intelektual untuk
menghadapi kepentingan-kepentingan negara besar itu.

Selama mental inlander ini masih dominan di kalangan elit kita, saya tidak yakin Indonesia akan menjadi negara besar. Tapi kalau prasyarat tadi itu kita penuhi, yaitu pertama kita hancurkan hubungan neo kolonialisme di dalam bentuk utang yang dikaitkan dengan UU dan peraturan pemerintah, kita rumuskan kebijakan ekonomi kita sendiri. Yang kedua, kita tidak boleh punya sikap inlander yang bermental rendah diri. Asset-asset yang ratusan milyar dollar ini adalah milik bangsa kita.

Nah, kalau hal itu terjadi, Indonesia pasti akan menjadi negara besar. Tapi
sayangnya, mohon maaf, dari nama-nama yang pernah memimpin Indonesia sejak awal orde baru sampai nama-nama dari para elit yang bercita-cita menjadi pemimpin di tahun 2009, tidak jauh dan tidak lebih, hanya mengulang lagu lama.

Motifnya hanya sekedar power (kekuasaan   red), memanfaatkan power itu untuk popularitas, untuk kepentingan kelompok, dan lain-lain. Belum ada yang bicara beyond (lebih daripada – red) itu. Kalau hanya mengulang, okey pemimpinnya baru, lagunya lagu lama, istilah saya itu ‘old wine in a new bottle’ (anggur masam di botol baru – red), Indonesia tidak akan ke mana-mana.

Menurut saya, Indonesia perlu pemimpin baru dan jalan baru. Karena sudah 40 tahun sejak orde baru sampai sekarang, pemimpin sudah berganti beberapa kali, tapi lagunya tetap lagu lama, yakni lagu sub-ordinasi kepada
kepentingan internasional, lagu the creeping back of neo-colonialism. Hanya
jika diputus mata rantainya, baru akan terjadi perubahan dan memungkinkan
kebangkitan ekonomi Indonesia. Saya mau berkampanye. Bukan dalam arti mau jadi pemimpin, tetapi berkampanye bahwa Indonesia perlu jalan baru.

Pointnya adalah keinginan mengubah school of thought. Hal ini bisa dilakukan melalui media dan lain-lain bahwa Indonesia perlu jalan baru. Kalau hanya pemimpin baru, rakyat Indonesia hanya akan dibohongi kembali. Ada dulu pemimpin yang idealismenya bela ‘wong cilik’ tetapi setelahnya, bela ‘wong licik’. Kenapa bisa begitu, ini lebih disebabkan oleh school of thought-nya itu tidak mungkin bela rakyat kecil. Selama masih menggunakan cara Mafia Berkeley, tidak mungkin ada jalan baru yang lebih pro kepentingan rakyat dan nasional.

KI: Terima kasih Pak Rizal atas waktu dan uraian sangat gamblang yang sudah
diberikan ini.

RR: Terima kasih kembali.

Itulah hasil bincang-bincang redaksi KabarIndonesia dengan penggemar
olahraga renang dan tennis meja itu.

Sebagai Presiden Komisaris PT. Semen Gresik (persero) Tbk, saat ini Rizal Ramli amat serius melakukan sejumlah langkah-langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi, mendorong program pengurangan biaya dan meningkatkan keuntungan PT. Semen Gresik Tbk. Tujuan tersebut dicapai dengan melakukan konsolidasi dan integrasi ketiga perusahaan yaitu PT. Semen Gresik, PT. Semen Padang, dan PT. Semen Tonasa.
Bersama-sama Komisaris dan manajemen mempersiapkan kerangka retrukturisasi organisasi dan finansial untuk jangka menengah. Hasil dari langkah-langkah tersebut, laba bersih Semen Gresik naik 29,3 % menjadi Rp 1,295 triliun, dan EBITDA margin mencapai 26,1 % pada tahun 2006. Bahkan untuk pertama kalinya PT. Semen Gresik Tbk masuk kelompok 7 BUMN yang paling menguntungkan.
Tercatat kemudian PT Semen Gresik Tbk menerima penghargaan dalam kategori Most Committed to a Strong Dividend Policy 2007 (peringkat ke-7) dan Best Corporate Governance 2007 (peringkat ke-8) dari majalah FinanceAsia. Obsesi dan impian pria berkacamata itu terhadap tanah airnya cukup sederhana: “Saya hanya menginginkan negara ini sejahtera dan maju,” ujarnya suatu saat kepada wartawan. Selamat berkarya Bung Rizal!

Biodata Singkat:

Nama : Rizal Ramli
Tempat/tgl. Lahir : Padang, 10 Desember 1953

Pendidikan

Ph.D dalam bidang ekonomi, Boston University, Boston, AS, 1990.
M.A. dalam bidang ekonomi, Boston University, Boston, AS, 1982.
Asian Studies, Sophia University, Tokyo, Jepang 1975.
Departemen Fisika, Institut Teknologi Bandung, 1973   1980.

Bidang Keahlian

Makro Ekonomi, Keuangan dan Industri

Pengalaman Kerja

Chairman of the Board, ECONIT Advisory Group. 2002   saat ini.
Presiden Komisaris PT. Semen Gresik, Tbk. 2006   saat ini.
Executive Chairman, GlobeAsia Magazines, 2007.
Menteri Keuangan. Juni 2001   Juli 2001.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian RI. Agustus 2000   Juni 2001.
Kepala Badan Urusan Logistik. April 2000   Maret 2001.
Sekretaris Tim Monitoring, Program Percepatan Pemulihan Ekonomi
Pemerintahan Gus Dur & Megawati, April 2000   Agustus 2000.
Managing Director ECONIT Advisory Group, think tank independen bidang
ekonomi, industri dan perdagangan. 1993   2000.
Penasehat Ekonomi di DPR-RI. 1993   1999.
Konsultan Ekonomi untuk beberapa lembaga keuangan, Bank Indonesia, serta lembaga internasional. 1993   1999.
Anggota Redaksi Jurnal Ekonomi dan Sosial PRISMA.
Dosen Ekonomi Program Magister Manajemen Fakultas Pasca Sarjana
Universitas Indonesia. 1992  1999.
Dosen Tamu dalam bidang ekonomi, sering memberikan kuliah di berbagai
perguruan tinggi didalam dan luar negeri, berbagai departemen, seperti
Departemen Keuangan, Perindustrian dan Perdagangan, Bank Indonesia, BUMN.
Juga kuliah tamu di LEMHANAS, SESKO TNI-POLRI, dan lain-lain.

Pengalaman Organisasi

Deputi Ketua Dewan Mahasiswa ITB, Bandung, 1977.
Staf Pimpinan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) 1993-1999.
Wakil Ketua Umum Forum Komunikasi Pasca’45, 1999   2000.
Diadili dan dipenjara di Sukamiskin Bandung, 1978/79 sebagai salah seorang
pimpinan mahasiswa yang menolak kepemimpinan Presiden Soeharto.

Keluarga

Nama Istri : Herawati M. Mulyono
Nama Anak : Dhitta Puti Saraswati, Dipo Satrio, dan Daisy


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.