Bersangka baiklah kepada Allah

október 2, 2008

Rabu, 2008 Oktober 01

Husnudz-Dzan di Jalan Allah

Husnuz-Dzan Di Jalan Allah
Khuthbah Idul Fitri http://www.blogger.com/img/gl.photo.gif

Oleh : H. Mas’oed Abidin

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر كَبِيْرًا وَ اْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيلاً لاَ ِإلَهَ إِلاَّ الله هُوَ الله أَكْبَر، الله أَكْبَر وَ ِلله الحَمْد. الحَمْدُ لله الذِي جَعَلَ العِيْدَ مُوْسِمًا لِلخَيْرَاتِ وَ جَعَلَ لَنَا مَا فيِ الأرضِ لِلعِمَارَات وَ زَرْعِ الحَسَنَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ خَالِقُ الأرْض وَ السَّمَاوَات، و أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَ رَسُوْله الدَّاعِي إِلىَ دِيْنِهِ بِأَوْضَحِ البَيِّنَات. اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِك عَلَى سَيِّدِالكَائِنَات، نَبِيِّنَا مُحَمَّد وَ عَلىَ آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ التَّابِعِيْنَ المُجْتَهِدِين لِنَصْرَةِ الدِّين وَ إِزَالةِ المُنْكَرَات. أُوْصِيْكُمْ وَ إِيَّاىَ بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ ، الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحَمْد.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada tuhan selain Allah yang
Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah.

Allah Maha Besar sebesar-besarnya, segala puji bagi-Nya sebanyak-banyaknya, Maha Suci Allah dari pagi hingga petang hari. Tiada tuhan selain Allah, sendiri. Yang benar janji-Nya, yang memberi kemenangan kepada hamba-Nya, yang memuliakan prajurit-Nya sendirian. Tiada tuhan selain Allah, dan kita tidak beribadah kecualihanya kepada Allah, mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci. Tiada tuhan selain Allah. Allah Maha Besar, bagi Allah-lah segala puji.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Pada pagi hari ini kita menyaksikan ratusan juta umat manusia mengumandangkan takbir, tahlil, tasbih, dan tahmid.
Semilyar mulut menggumamkan kebesaran, kesucian, dan pujian untuk Allah Subahanhu wa Ta’ala, sekian banyak pasang mata tertunduk di hadapan kemaha-besaran Allah Azza wa Jalla, sekian banyak hati diharu-biru oleh kecamuk rasa bangga, haru, bahagia dalam merayakan hari kemenangan besar ini.

Sebuah kemenangan dalam pertempuran panjang dan melelahkan.
Bukan melawan musuh di medan laga, bukan melawan pasukan dalam pertempuran
bersenjata.
Tetapi, pertempuran melawan musuh yang ada di dalam diri kita, nafsu dan syahwat serta syetan yang cenderung ingin menjerumuskan kita.

Ibnu Sirin berkata tentang sulitnya mengendalikan jiwa, “Aku tidak pernah mempunyai urusan yang lebih pelik ketimbang urusan jiwa.”

Hasan Bashari berkata, “Binatang binal tidak lebih memperlukan tali kekang ketimbang jiwamu.”

Kemenangan melawan hawa nafsu ini adalah inti kemenangan.
Ini kemenangan terbesar.
Kemenangan utama akan melahirkan kemenangan-kemenangan lain dalam semua kancah kehidupan dunia yang kita arungi.

Kita memerlukan kemenangan seperti ini untuk memenangkan semua pertarungan yang di hadapi dalam hidup ini.
Betapapun banyaknya alat peragat berupa materi untuk merebut kemenangan yang di-kuasai oleh seseorang, kelompok, atau bangsa, ternyata mereka harus menelan kekalahan jua.
Sebenarnya, mereka menguasai ilmu dan teknologi, senjata canggih dan perlengkapan yang mencukupi.
Namun semua itu tidak berdaya ketika berhadapan dengan seseorang, kelompok, atau bangsa yang memiliki ketangguhan jiwa, mempunyai kekuatan mental, yang dibentengi oleh kematangan pribadi.

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar (memiliki ketangguhan).” (Al-Baqarah: 249).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu.

Selama sebulan penuh kita berada dalam bulan suci, bulan penuh keberkahan dan nilai.
Bulan yang mengantarkan kita kepada suasana batin yang sangat indah.
Bulan yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan bagi kita kaum Muslimin.
Bulan Ramadhan melatih kita untuk memberi perhatian kepada waktu.
Sungguh banyak manusia yang tidak bisa menghargai dan memanfaatkan waktunya.

Ramadhan melatih kita untuk selalu rindu kepada waktu-waktu shalat, yang barangkali di luar Ramadhan kita sering mengabaikan waktu-waktu shalat itu.
Adzan telah berkumandang di samping kanan kiri telinga kita, namun kita masih tetap dengan segala kesibukan kita.
Tidak tergerak bibir kita untuk menjawabnya apa lagi untuk memenuhi panggilan itu. Dan kita telah membiarkan suara Muadzin itu memantul di tembok rumah dan kantor kita, lalu pergi bersama angin lalu.

Selama bulan Ramadhan ini kita selalu menunggu suara adzan, minimal adzan Maghrib dan Shubuh. Kita tempel di rumah kita, bahkan kita hapal jadwal Imsakiyyah. Mudah-mudahan selepas Ramadhan ini rasa rindu kepada waktu shalat selalu kita pelihara.

Waktu adalah kehidupan.
Barangsiapa menyia-nyiakan waktunya berarti ia menyiakan-nyiakan hidupnya.

Ada survei tahun 1980 bahwa Jepang adalah negara pertama yang paling produktif dan efektif dalam menggunakan waktu. Disusul Amerika dan Israel.
Subhanallah, ternyata negara-negara itu kini menguasai dunia.

Sebagai seorang muslim, mestinya kita menjadi orang yang paling disiplin dengan waktu kita.

Al-Qur’an yang kita baca di bulan Ramadhan mengisyaratkan pentingnya waktu bagi kehidupan.
Bahkan pada banyak ayat Allah bersumpah dengan waktu.
Maka jika kita ingin menjadi manusia yang terhormat di antara manusia lain dan bermartabat di sisi Allah, hendaknya kita isi waktu kita dengan hal-hal yang produktif, baik untuk kepentingan dunia atau akhirat kita.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu.

Ramadhan juga melatih kita untuk memakmurkan tempat-tempat ibadah; masjid, mushalla, dan surau. Gegap gempita kita mendatangi rumah-rumah Allah ini, kita kerahkan anak istri kita untuk meramaikan tempat suci ini.
Hingga ketika menyaksikan pemandangan indah ini seseorang sempat berkhayal, “Andai Ramadhan datang dua belas kali setahun.”

Begitu indah pemandangan ini, suara pujian dan doa bersahut-sahutan dari pengeras suara di antara masjid-masjid.
Alam serasa hanyut dalam tasbih dan istighfar, di bawah naungan Asma’ al Husna.

Suasana ini perlu kita pertahankan selepas Ramadhan ini, kita perlu mengerahkan keluarga kita untuk memakmurkan masjid-masjid Allah.
Sehingga kita layak mendapatkan janji Allah, bahwa,
“Ada tujuh golongan manusia yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya di hari dimana tidak ada naungan selian naungan Allah .dan (salah satu daripadanya adalah) seseorang yang hatinya terikat dengan masjid.”

Ramadhan juga melatih kita untuk lebih mementingkan ketaatan kepada Allah dengan mengorbankan tenaga dan kepentingan kita

Di saat-saat kita masih lelah bekerja seharian, setelah sepanjang siang kita bertahan dengan rasa lapar dan dahaga. Ketika kita mestinya beristirahat dari kepenatan, namun, justru kita ruku’ dan sujud dalam shalat tarawih atau qiyamu
Ramadhan dengan satu harapan, mudah-mudahan kita mendapatkan ridha Allah. Itu semata satu-satunya yang paling berharga dalam hidup kita selaku Muslim.

Semangat ini mestinya kita pelihara tetap ada setelah Ramadhan meninggalkan kita.

Kita wajib mengabdi dan mempersembahkan apa yang kita miliki ini untuk meraih keridhaan Allah.

Sejatinya, apa yang kita miliki saat ini hanya amanah dari Allah Ta’ala, apakah kita dapat menjaga dan menunaikan amanah ini atau tidak.

Semestinya keridhaan Allah itu menjadi tujuan kita.
Tidak ada desah nafas, mulut bergerak, tangan berayun, dan kaki melangkah kecuali kita harus mengiringinya dengan satu pertanyaan, “Apakah dengan apa yang saya ucapkan dan saya lakukan ini saya akan mendapatkan ridha Allah.” ???

Hingga serasilah apa yang sering kita ikrarkan,
” Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam.”

Ramadhan melatih kita untuk mempunyai rasa solidaritas sesama manusia, dengan rasa lapar dan dahaga kita teringat akan nasib sebagian dari saudara-saudara kita yang kurang beruntung di dalam hidup ini, mereka setiap harinya dirongrong rasa lapar dan dahaga.

Rasa kemanusiaan semacam ini nyaris mulai sirna dewasa ini.
Saat budaya hedonisme mulai menjangkiti manusia modern, di mana mereka hanya disibukkan oleh urusan pribadi, nafsi-nafsi, urusanku sendiri sendiri.
Hal ini diakibatkan karena orientasi hidup manusia modern yang hanya memandang materi sebagai satu-satunya tujuan.
Terkadang untuk memenuhi ambisi kebendaannya seseorang rela menghalalkan segala cara.

Maka Solidaritas semacam ini perlu kita pelihara dan kita aplikasikan dalam hubungan dengan sesama manusia dengan melakukan shiyam-shiyam sunnah, di mana Islam telah mensyariatkannya.

Manusia maju atau modern perlu melakukan puasa untuk melatih kepekaan sosialnya

Para pejabat perlu melakukan puasa sunnah untuk merasakan derita yang dialami sebagian besar bangsa ini.
Sehingga, muncul kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada masyarakat miskin. Minimal dapat menurunkan gaya hidup kelas tinggi mereka di tengah bangsa yang menangis ini.

Di antara tanggung jawab umarak adalah melindungi orang lemah dengan memperbaiki silaturahim dan menanam tekad memancangkan keadilan di tengah kehidupan dengan saling menghormati, seperti sabda Rasulullah SAW :

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِى الأرْضِ، يَأوِى إِلَيْهِ الضَّعِيْفِ وَ بِهِ يَنْتَصِرُ المَظْلُوْمُ وَ مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ الله فِى الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ القِيَامَةِ.
رواه ابن النجار عن أبي هريرة

“Penguasa (pemerintahan) yang dilindungi oleh Allah di bumi, lantaran berlindung kepadanya orang lemah dan karena orang teraniaya mendapatkan pertolongan (dengan adil). Barang siapa di dunia memuliakan penguasa yang menjalankan perintah Allah, niscaya orang itu di hari kiamat dimuliakan pula oleh Allah” (Diriwayatkan oleh ibnu Najar dari Abu Hurairah).

Kita menyambut adanya itikad baik dari pemimpin negeri membudayakan hidup sederhana.
Alangkah indahnya jika ajakan hidup sederhana ini di terapkan oleh semua pihak, terutama para pejabat, menteri, anggota dewan, dirjen-dirjen dan lainnya. Ini akan menggurangi anggaran negara dan dapat dialokasikan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Bangsa ini masih terpuruk.
Rakyat masih menderita.
Kemiskinan menjadi pemandangan utama di setiap sudut kota dan pelosok desa. Tidaklah pantas memamerkan kemewahan di hadapan mereka.
Apalagi menggunakan fasilitas negara.

Zuhud, adalah sikap yang diajarkan Islam kepada kita dalam hidup ini.
Az-Zuhri ditanya tentang makna zuhud dan dia menjawab, “Zuhud bukanlah berpakaian yang kumal dan badan yang dekil. Zuhud adalah memalingkan diri dari syahwat dunia.”

Orang mukmin boleh kaya dan berjaya,
namun yang ada di hatinya hanyalah Allah semata.
Letakkan harta di tanganmu dan jangan letakkan di hatimu.
Demikian nasihat ulama.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu

Sungguh banyak pelatihan dalam Diklat Ramadhan kepada kita.
Besar sungguh hikmah disyariatkan shiyam sebulan penuh.
Agar sebelas bulan dalam setahun, kita lalui dengan menerapkan nilai-nilai Ramadhan.

Suasana spiritual yang dilatih selama sebulan Ramadhan ini menjadi energi bagi kita mengarungi sebelas bulan berikutnya. Agar predikat takwa itu benar-benar terjaga dalam diri.

Ketakwaan adalah bekal hidup dan modal untuk menghadapi pengadilan Allah Azza wa Jalla.

“Dan berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”

“Sesungguhnya sebaik-baik kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS,49, Al Hujurat : 13)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu

Ramadhan telah memberikan banyak perubahan dalam diri kita.
Mulai dari sikap, perilaku, dan paradigma dalam memandang hidup dan kehidupan. Mestinya ini semua menjadi bekal untuk melakukan perubahan-perubahan di masa depan. Perubahan yang mengantarkan hidup kita ke arah yang lebih baik. Apakah sebagai pribadi maupun bangsa.

Kehidupan yang kita lalui masih sulit.
Beban yang kita pikul semakin berat sebagai pribadi atau bangsa.

Kita sekarang belum juga bisa keluar dari krisis multi dimensi yang cukup pelik.
Pekerjaan kian sulit dicari.
Harga-harga masih membumbung tinggi.
Angka pengangguran masih tinggi.
Bencana alam silih berganti.
Kejahatan telah meraja-lela.

Demi sesuap nasi, nilai-nilai yang semestinya dijunjung dan dijaga tidak diindahkan lagi.
Bahkan, nyawa yang begitu mahal dan berharga oleh semua agama dan ideologi, kini menjadi taruhan yang sangat murah sekali.

Dari layar TV dan media cetak kita sering menyaksikan peristiwa pembunuhan yang sungguh menjadikan bulu kuduk kita berdiri.
Anak membantai ayah bundanya sendiri. Suami mencincang istri.
Tetangga menghabisi tetangga. Saudara menggorok leher saudara kandungnya.
Rata-rata motifnya sama,.. ekonomi… !!!.
Semua harus bangkit untuk mengatasi semua kesulitan yang melanda bangsa ini.

Tidak akan pernah ada bekal terbaik untuk menghadapi kondisi sulit ini selain ketakwaan semata.

Di dalam lubuk hati umat Islam mesti dikumandangkan pernyataan tulus Khalifah Umar Ibnu Khattab ;

نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا الله بِالإِسْلاَم فَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا العِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ
رواه الحكم

“ Kita adalah umat yang telah dibikin berjaya oleh Allah dengan bimbingan agama Islam. Kalaulah (satu kali) kita ingin mencapai kejayaan lagi dengan bimbingan selain agama Islam, (sudah pasti) malah kehinaan yang akan ditimpakan Allah kepada kita.”

Di hari yang fitri ini, di tengah merayakan kemenangan besar, di masa baru saja selesai melakukan pelatihan sebulan penuh.
Di mana nuansa kesucian masih kita rasakan.
Di saat pikiran dan hati telah mengalami pencerahan oleh nilai-nilai ketakwaan. Marilah kita menatap hari esok yang lebih baik, penuh optimisme.

Memang seorang Mukmin Muttaqin berpantang kehilangan asa dalam kondisi apapun. Optimisme adalah harga mati jika kita ingin bangkit mengatasi berbagai kesulitan ini.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu.

Ada beberapa variabel untuk membangun optimisme dalam diri kita.

Pertama, Husnudzan kepada Allah.
Husnudzan atau berprasangka baik kepada Allah harus kita kokohkan dalam diri kita. Kita sepakat bahwa tidak ada satu peristiwa yang terjadi selain hanya dengan izin dan kehendak Allah semata. Termasuk ujian dan kesulitan yang sedang kita hadapi sebagai bangsa atau Negara.

Seorang Mukmin selalu menerima semua ketentuan Allah dengan prasangka baik.
Mukmin punya prinsip bahwa apa yang menimpanya, itulah yang terbaik baginya menurut ketentuan Allah.
Mukmin tidak mau menggerutu kepada Penciptanya.

Mereka tidak pernah memberontak kepada keputusan Tuhannya.
Mukmin selalu menatap semua ujian itu dengan senyum.
Mereka yakin akan mendapatkan dua keuntungan dari ujian itu:
1. Diangkat dan dihapuskannya kesalahan dan dosa-dosanya
2. Dan tinggikan derajatnya di sisi Allah Azza wa Jalla

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ: أَنَّهُ قَالَ : عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ. إِنَّ اللهَ، إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ. فَمَنْ رَضِىَ، فَلَهُ الرِّضَا. وَ مَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

 سنن الترمذي، كتاب الزهد، باب ماجاء في الصبر على البلاء (2320)، سنن ابن ماجه، كتاب الفتن، باب الصبر على البلاء 4011

Dari Anas bin Malik RA. Rasulullah SAW bersabda: Besarnya suatu balasan amal tergantung pada besarnya cobaan yang diterima. Karena sesungguhnya Allah, jika mencintai suatu kaum, maka ia timpakan bala’ pada mereka. Siapa yang ridha, baginya keridhaan Allah. Siapa yang gundah gulana, makaia akan tersiksa karena kegundahannya (baginya kemurkaan Allah).” (HR. Turmudzi, [2320], Ibnu Majah [4021])

“Sungguh mengherankan urusan seorang Mukmin, semua urusannya berakibat baik baginya, dan itu tidak terjadi kepada selain orang-orang Mukmin, jika mereka mendapatkan kebaikan ia bersyukur dan itu baik baginya. Dan jika mereka mendapat bencana ia bersabar dan itu baik pula baginya.” (HR.Muslim)

Husnudzan harus kita pelihara dalam diri kita.
Allah tidak menghendaki dari hamba-Nya selain kebaikan di dunia dan di akhirat.
Jangan sampai kita celaka di dunia dan teraniaya di akhirat akibat prasangka buruk kepada Allah.
Na’udzu billah, tsumma na’udzu billah.

Kedua, Tidak putus dari berdoa.
Doa merupakan senjata orang beriman, berdoa merupakan ibadah dan enggan berdoa merupakan kesombongan kepada Allah Azza wa Jalla.

Sebagai bangsa, kita ini diharapkan orang lain mestinya sudah hancur berantakan, mestinya negara yang bernama Indonesia ini sudah gulung tikar.
Krisis ekonami berkepanjangan telah menggiling bangsa.
Krisis kepercayaan, rusak moral, bom meledak di mana-mana, pemerintahan yang lemah Berbagai tekanan bahkan konspirasi untuk menghancurkan bangsa kita begitu kuat dilakukan orang.
Pertikaian dan permusuhan antar suku, entis, dan antar agama menjadi-jadi.
Pertumbuhan ekonomi yang kian memburuk.
Hutang negara kian membumbung tinggi.
Semuanya itu, mestinya sudah cukup membuat kita, sebagai bangsa ambruk terkapar

Tetapi kenyataannya tidak.
Kita masih hidup sebagai bangsa yang kuat.
Apapun keadaannya, kita masih bisa berdiri tegak.
Mengapa hingga saat ini kita masih bisa bertahan…..???.

Kita yakin seyakin-yakinnya, semuanya telah terjadi berkat doa yang dipanjatkan setiap muslim di negeri ini.
Semua itu berkat ratusan juta pasang tangan yang selalu ditengadahkan ke langit. Berdoa agar negeri ini dijauhkan dari kehancuran.
Perpaduan hati dan kecintaan menjadi awal dari persatuan.
Akhlak mulia dan sifat malu pada generasi muda akan menjadikan dunia bersih tak bernoda.

Sabda Rasulullah SAW sebutkan,

العَدْلُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأُمَرَاءِ أَحْسَنُ، السَّخَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأَغْنِيَاءِ أَحْسَنُ، اَلْوَرَعُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى العُلَمَاءِ أَحْسَنُ الصَّبْرُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الفُقَرَاءِ أَحْسَنُ، التَّوْبَةُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الشَّبَابِ أَحْسَنُ، الَحيَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى النِّسَاءِ أَحْسَنُ.
رواه الديلمى عن عمر

“Keadilan itu baik, akan tetapi lebih baik kalau berada pada umarak (pejabat pemerintahan). Kedermawanan itu baik, akan lebih baik jika ada pada orang-orang yang mampu (hartawan). Hemat cermat itu sangat baik, akan tetapi lebih baik kalau cermat itu berada pada orang berilmu. Kesabaran itu baik, namun akan lebih baik kalau ada pada orang miskin. Tobat (meninggalkan dosa itu baik), tetapi akan lebih baik kalau ada pada pemuda. Malu itu baik, tetapi akan lebih baik kalau ada pada perempuan”. (HR. Dailami dari Umar bin Khattab).

Di tangan umarak terletak kunci pemerintahan.
Penguasa yang baik akan menjadikan kehidupan dunia jernih dan saling menyayangi dalam tatanan berbangsa.

خِيَارُ أَئِمَّتُكُمُ الذِّينَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَ يُحِبُّوْنكَمُ ْو َتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَ يُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ.

“Pemimpin/penguasa kamu yang terbaik ialah yang kamu cintai dia setulus hati, sedang mereka pun mencintai kamu rakyatnya dengan sesungguh hati pula. Kamu selalu mendo’akan keselamatan mereka kepada Allah, begitu pula mereka selalu berdo’a dan berusaha keras untuk kesejahteraan kamu rakyatnya, dengan seikhlas hati pula.

وَ شِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الذِّيْنَ تَبْغُضُوْنَهُمْ وَ يَبْغْضُوْنَكُمْ تلَعِْنُوْنـَـهُمْ وَ يَلْعَنُوْنَكُمْ.
رواه مسلم عن ابن مالك

Sejahat-jahat pimpinan pengusaha kamu ialah mereka yang selalu kamu benci karena tindak tanduknya yang tidak adil, dan merekapun membenci kamu rakyatnya setengah mati. Kamu selalu mengutuk dan melaknat mereka supaya kekuasaan mereka cepat tumbang,sedangkan mereka sendiri mengutuki kamu pula dengan cara mempersulit dan menyengsarakan kamu rakyatnya….” (Hadits menurut riwayat Imam Muslim dari A’uf bin Malik).

Ketiga, meneladani para nabi dan rasul. Mereka adalah kekasih-kekasih Allah. Sungguhpun demikian, ujian dan cobaan selalu Allah timpakan kepada mereka, amat dahsyat dan tak terperikan. Bahkan di antara mereka ada yang mendapat gelar Ulil Azmi karena keberhasilan mereka dalam mengahadapi ujian berat.

Rahasianya adalah mereka tidak pernah berputus asa kepada Allah Ta’ala.

Adalah nabiyullah Zakaria yang selalu merindukan anak, namun hingga di usianya yang mulai senja, si buah hati yang di idamkannya belum kunjung datang.
Hal itu tidak membuatnya putus asa dan kehilangan optimisme.

Dengarkan Al-Quran menuturkan,
(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakariya, yaitu tatkala ia berdo`a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo`a kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya`qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai”.(QS.19, Maryam: 2-6).

Orang yang sudah tua renta, istrinya mandul pula, lalu mengharapkan mempunyai anak. Rasanya akan mustahil terjadi. Harapan akan tinggal harapan.

Kekasih Allah tidak pernah menyandarkan harapannya kepada sebab-sebab manusiawi semata.

Sebab sebab itu juga merupakan kehendak Allah.
Sungguh Allah mampu menciptakan dari yang tiada menjadi ada.
Tentulah tidak akan sulit menciptakan dari yang sudah ada, walau usia renta dan istri mandul.

Akhirnya Allah mendengar doanya dan melihat ketegarannya.
“Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS.19, Maryam: 7).

Itu pula yang dialami Ibrahim, Khalilullah, ketika beliau bermohon diberi turunan ketika berdoa “Rabbi, Hablii minas-Shalihin”.

Tidak ada yang mustahil bagi Allah.
Tugas kita hanyalah tetap berusaha dan berdoa.

Pada perang Khandaq, saat sepuluh ribu pasukan sekutu yang terdiri dari suku Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya mengepung Madinah. Sementara Rasulullah hanya didukung dua ribu pasukan dengan parit (khandaaq) yang mengelilingi sebagian sisi kota.

Sementara itu pula, orang-orang Yahudi Bani Quraidzah yang terikat perjanjian dengan kaum Muslimin untuk melindungi wilayah perbatasan kota Madinah, telah berkhianat dan membatalkan perjanjian mereka dengan kaum muslimin dan bergabung dengan pasukan sekutu.

Dengarlah bagaimana sikap Rasulullah SAW ketika menghadapi kondisi genting ini,

“ dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS.61, Ash-Shaaf : 13)

Allahu Akbar,
Bergembiralah wahai sekalian kaum Muslimin dengan kemenangan dari Allah dan pertolongan-Nya.
Ternyata Allah memperhatikan optimisme hamba terbaik-Nya. Dua ribu pasukan Muslim dapat mengalahkan sepuluh ribu pasukan sekutu plus orang-orang Yahudi Bani Quraidzah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu
Keempat, beramal dan bertawakkal.
Allah tidak menurunkan emas dari langit. Gunakan seluruh potensi yang Allah telah karuniakan kepada kita.

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yang telah kamu kerjakan”. (At-Taubah:105).

Rasulullah SAW menyebutkan kedudukan amalan karya kita di dunia ini dalam menciptakan kebahagiaan bersama-sama.

الدُّنْيَا الأَرْبَعَةُ نَفَرٍ: عَبْدٌ رِزْقَهُ الله مَالاً وَ عِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيْهِ وَ يَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ وَ يَعْلَمُ اللهُ حَقًّا فَهذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ
رواه الترمذي

“ Dunia ini berada dalam genggaman empat tahapan; seorang yang diberi rezki oleh Allah dengan kekayaan dan ilmu, lalu dengan kekayaan itu dia bertaqwa kepada Allah, selanjutnya di ikat tali silahturrahmi dengan masyarakat, kemudian di perhatikannya benar batas-batas hak untuk Allah. Maka disanalah kedudukan sebaik-baiknya.” (HR.Tirmidzi)

Indonesia adalah negara yang berpenduduk muslim terbanyak dengan tanah air paling strategis di perlintasan dunia. Indah seakan “qith’ah minal jannah fid-dunya”.

Negeri ini mesti kita bangun untuk umat masa depan.
Di awali memperbaiki silaturrahim.

صِلَةُ الرَّحِمِ وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَ حُسْنُ الِجوَارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارَ وَ يَزِدْنَ فِى الأعْمَارِ.  رواه أحمد

“Menghubungkan silaturrahim, budi pekerti yang baik den berbuat baik terhadap tetangga, itulah yang akan meramaikan kampung dan menambah umur”. (HR Ahmad)

Tidak ada yang mengubah diri kita selain kita sendiri.

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikuti-nya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaga-nya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS.13, Ar-Radu: 11).

Minimal dengan memanjatkan do’a secara tulus dan ikhlas agar kemelut tidak terjadi, sebagai bagian dari mensyukuri nikmat, sesuai firman Allah,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

 (ingat juga), ketika Tuhanmu mema’lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Surat ibrahim ayat 7)

Akhirnya, dengan jiwa yang suci bersih bak seorang bayi yang baru lahir. Marilah kita tundukkan hati kita kepada kebesaran Allah, menengadah, mengharap akan karunia dan rahmat-Nya, untuk kita keluarga kita, kaum Muslimin, dan bangsa kita,

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ اِسْرَافَنَا فِى أَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافَرْيْن.

“Ya Allah, Ampunilah dosa kami, ampunilah keteledoran kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum kafir”.

اللَّهُمَّ لاَ تُمْكِنُ الأَعْدَاءَ فِيْنَا وَلاَ تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ َيَخافُكَ وَلاَ يَرْحَمُنَا

Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau beri kemungkinan musuh berkuasa terhadap kami janganlah Engkau berikan kemungkinan mereka memerintah kami, walaupun kami mempunyai dosa. Janganlah Engkau jadikan yang memerintah kami, orang yang tidak takut kepada-Mu, dan tidak mempunyai kasih sayang terhadap kami”.

اللهُمَّ أَهْلِكِ الكَفَرَةَ الَّذِي يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَ يَكْذِبُوْنَ رَسُلَكَ وَ يُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَائَكَ

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah orang-orang yang selalu menutup jalan Engkau, yang tidak memberikan kebebasan kepada agama-Mu, dan mereka-mereka yang mendustakan Rasul-Rasul Engkau,dan mereka yang memerangi orang-orang yang Engkau kasihi”.

اللهُمَّ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لا َتَرُوْدَهُ عَنِ القَوْمِ الُمجْرِمِْينَ.

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah kesatuan mereka, dan pecah belah barisan mereka. Turunkan kepada mereka ‘azab sengsara-Mu, yang selalu Engkau timpakan kepada golongan-golongan yang selalu berbuat dosa”.

اللهُمَّ أَعِزِّ الإِسْلاَمِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اخْذُلِ الكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِيْنَ

“Wahai Tuhan kami, berilah kemuliaan kepada Islam dan kaum Muslimin, rendahkanlah orang-orang yang kafir dan orang musyrik”.

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللِه بَرَكَاتهُُ

Padang, 1 Syawal 1429 H / 1 Oktober 2008 M.


Renungan “Menjelang Dhuha” …… INGIN TAUBAT JANGAN DITUNDA-TUNDA … SEGERAKAN BERSIH DIRI LAHIR BATHIN .. !!!

maí 31, 2009
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ
وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ
يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ
وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ
نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ
يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“ Hai orang-orang yang beriman,
bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya,
mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian,
dan memasukkan kalian ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi
dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia;
sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka,
sambil mereka mengatakan, “ Wahai Rabb kami,
sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami,
sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. ”
(Q.S. At Thahrim : 8)

Setiap orang mukmin sangat memerlukan dua perkara,
yaitu pengampunan dosa
dan penghapusan kesalahan.
Kenyataannya,
tidak seorangpun yang terlepas dari dosa dan kesalahan.

Abu Tamam mengisyaratkan sebuah hadits Rasulullah SAW
yang bersumber dari Anas bin Malik r.a:

“Setiap orang di antara kamu sekalian melakukan kesalahan,
dan sebaik-baik orang
yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat.”
(HR. Ahmad)

Dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh manusia
akan mengotori hatinya,
bagaikan noda hitam di atas kain putih,
tiada yang dapat membersihkannya
kecuali taubat.

Rasulullah SAW menyebut di dalam haditsnya
yang diriwayatkan oleh Ahmad.
Rasulullah SAW bersabda:

“Orang yang meminta ampun dari dosa
seperti orang yang tidak berdosa”.
(HR. Bukhari)

Dan Allah berfirman;
“Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertaubat
dan menyukai
orang-orang yang menyucikan diri.”
(Q.S. Al Baqarah: 222)

Arnussa 1427 004Sebenarnya syetan telah menipu
dan menjebak kita
dan memenuhi kehidupan kita,
dengan berbuat maksiat,
sehingga menyesatkan kita dari jalan Allah,
menjauhkan kita dari jalan keselamatan
semua perdayaan syaitah itu,
membukakan bagi kita pintu-pintu jahannam
dan syaithan melakukan semua itu bujuk rayunya
sehingga manusia terjerumus
ke dalam jurang kemaksiatan
hingga penuh berlumur dosa.  Seyogyanyalah kita untuk segera mengetuk pintu taubat mengharap maghfirah Allah.

Tidak ada kata putus asa
tidak ada istilah terlambat ..
dalam bertaubat
untuk menuju kepada Allah
meski dosa-dosa telah memenuhi kolong langit.

Allah adalah tuhan seluruh makhluk
yang menciptakan semuanya…
selalu menguji dan menyileksi amal
dan perbuatan hamba-hamba Nya….

Barangsiapa yang banyak dosanya
dan ia ingin bertaubat
maka pintu taubat selalu terbuka ….

Namun …
ambil mengertilah dengan syarat taubat itu …

1. harus menghentikan maksiat …
dan menyesali perbuatan yang telah terlanjur dilakukan.

2. harus berniat sungguh-sungguh…
untuk tidak mengulanginya lagi.
Dan, manakala dosa yang pernah ia lakukan itu
adalah berhubungan dengan hak manusia …
maka taubatnya ditambah dengan syarat yang ketiga ini …

3. harus menyelesaikannya dengan orang yang berhak
dengan meminta maaf kepadanya,
atau meminta kehalalan atau ridha…
atau mengembalikan apa yang harus ia kembalikan.

Di antara keutamaan yang didapat
oleh orang-orang yang bertaubat ialah …
Allah menyibukkan para malaikat-Nya
agar memintakan ampunan bagi mereka
yang bertaubat itu …
dan malaikat berdoa kepada Allah
mengharapkan Allah melindungi mereka
dari siksaan neraka jahannam,
lalu memasukkan mereka yang bertaubat itu ..
ke surga yang penuh dengan kenikmatan,
dan mendinding mereka yang telah bertaubat itu
dari kejahatan dan kesalahan.

Para malaikat yang membawa ‘Arsy di langit
juga sibuk memintakan ampunan
bagi orang-orang yang bertaubat ….

Allah berfirman:
“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arasy
dan malaikat yang berada di sekelilingnya
bertasbih memuji Rabbnya …
dan mereka beriman kepada-Nya
serta memintakan ampun
bagi orang-orang yang beriman
(seraya mengucapkan),
Ya Rabb kami …,
Rahmat dan Ilmu-Mu meliputi segala sesuatu,
maka berilah ampunan ….
kepada orang-orang yang bertaubat
dan orang yang mengikuti jalan Engkau
dan peliharalah mereka …
dari siksaan neraka yang menyala-nyala.
Ya Rabb kami …,
dan masukkanlah mereka …
ke dalam sorga ‘And
yang telah Engkau janjikan kepada mereka
dan telah Engkau janjikan pula
untuk orang-orang yang shaleh
di antara bapak-bapak mereka,
dan istri-istri mereka,
dan keturunan mereka semua.
Sesungguhnya Engkaulah …
yang Maha Perkasa
lagi Maha bijaksana,
dan peliharalah mereka
dari (balasan) kejahatan …
Dan….,
menjadi orang-orang yang Engkau pelihara
dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu,
maka sesungguhnya
telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya
dan itulah kemenangan yang besar. ”
(Q.S. Al Mukmin: 7-9)

Cukup banyak ayat-ayat di dalam Kitab Allah
yang mengabarkan diterimanya taubat
orang-orang yang bertaubat,
kalau memang taubat mereka itu tulus dan benar,
yang tentunya dengan cara-cara tertentu
yang telah diberikan tuntunan
oleh Allah dan Rasulullah jua…

Penerimaan taubat ini dilandaskan kepada karunia,
ampunan dan rahmat Allah,
yang tidak akan menyempit
karena keberadaan seseorang yang durhaka,
seperti apapun kedurhakaannya itu.

Terlebih lagi ….
orang yang bertaubat
dan juga memperbaiki diri …
serta beramal shaleh.

Tidak kurang dari sebelas tempat
di dalam Al Qur’an,
Allah mensifati diri-Nya
dengan sebutan at Tawwab
(Maha Menerima Taubat).

Kita akhiri pembahasan ini
di pagi ini menjelang dhuha ..
dengan firman Allah :
“ Sesungguhnya taubat di sisi Allah
hanyalah taubat bagi orang-orang
yang melakukan kejahatan
lantaran kejahilan,
yang kemudian mereka bertaubat
dengan segera …..
Maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya.
Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.
Dan tidaklah taubat itu diterima Allah
dari orang-orang yang melakukan kejahatan
yang hingga apabila telah datang ajal kepada seseorang,
barulah ia mengatakan,
“ Sesungguhnya aku bertaubat sekarang ”.
Dan tidak pula diterima taubat
orang-orang yang mati
sedang mereka dalam kekafiran.
Bagi orang-orang itu
telah Kami sediakan siksa yang pedih. ”
(Q.S. An Nisaa’: 17-18)

Karena itu janganlah ada
di antara kita yang menunda taubat
hingga hari esok.
Karena maut itu
datang secara tiba-tiba.
Bersegeralah untuk mensucikan jiwa
di mana dan bila saja,
waktunya ada…

Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam bukunya Al Fawaid mengatakan :
“Bila kau berpulang ke alam baqa,
tidak membawa bekal taqwa,
kau lihat orang-orang yang membawanya
pada hari perhimpunan.
Kau akan menyesal,
karena kau tidak seperti mereka.
Mereka mempunyai persiapan
sedangkan kau tidak memilikinya.”

Allahu A’lam Bishshawab
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wa barakatuh,
Buya H. Masoed Abidin

Danau Cimpago Padang
Semoga apa yg kita kerjakan, hendaknya diridhai oleh Allah Swt. Semoga buya sehat selalu dan bisa terus menyampaikan dakwahnya di fb ini… . FB tidak bersalah, tapi oknum2 yg berbuat tak senonoh yg merusak fb.. sehingga muncul fatwa haram. Lanjutkan terus buya…

  Edi Erwin pada 31 Mei 9:30

Alhamdulillah, terima kasih Buya

 Hendy Damanik pada 31 Mei 9:41

ASSALAMUALIKM BUYA…. SALM KENAL….

 Lisna Ova pada 31 Mei 14:03

Terimakasih tausiahnya Buya, semoga Buya senantiasa sehat walafiat dan kami bisa terus mendapatkan tausiah dari Buya…

 Anita Kencanawati pada 31 Mei 14:15

Terima kasih buya atas pencerahannya.. mudaha-mudahan kita termasuk kedalam kelompok ummat yang selalu bertaubat, amiinn..

 Nurlaila Zai pada 31 Mei 17:05

Terima kasih tausiahnya buya, semoga kita tetap menjadi umatNya yang senantiasa bertaubat memohon magfirahNya. Amiiiin.

 Subardini Adek pada 31 Mei 19:47

Terima kasih Buya atas dakwahnya. Manfaatkan terus Buya fasilas FB ini untuk berdakwah, sarana yang baik sekali tersedia untuk mengingatkan ummat yang selalu lupa bertobat, apalagi saat globalisasi sekarang, banyak orang melakukan hal yang tidak benar karena terdesak keadaan. Tanpa disadari sudah banyak berbuat kesalahan yang perlu diingatkan terus menerus. Semoga dakwah Buya ini dapat menyadarkan ummat yang sudah banyak melenceng. Amiiiin.

 Razali Nazir pada 31 Mei 21:34

Terimakasih Buya, notesnya telah memberikan pencerahan kepada kalbu saya. Semoga kami2 semua menjadi insan yang selalu berusaha untuk membersihkan hati dan diri dan tidak lupa selalu bertobat…amin.
Buya teruslah berdakwah melalui Fb ini seperti ajakan teman2, karena dalam kehidupan kami kadang kami lupa …terimaksih Buya, semoga Allah selalu mengaruniakan kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan untuk Buya dan keluarga. amiiin ya Gusti…wassalam.

 Intan Munajat pada 31 Mei 21:58

potonya indah sekali, dimana itu Buya? terimakasih.

 Intan Munajat pada 31 Mei 21:58

Terimakasih buya… Dyan sangat butuh penyejuk rohani seperti yang buya Tag kan ini…
semoga Allah selalu membuka kan pintu maaf dan Ampunannya untuk umat yang lalai seperti ananda buya ini

Jazzakillah Khair buya

 Dyan Eka Putri pada 31 Mei 22:55


MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIYHI WA SALLAM

febrúar 25, 2009

MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIYHI WA SALLAM

Oleh: H.Mas’oed Abidin*

http://www.masoedabidin.multiply.com

Memperingati “maulid-rasul” sebenarnya menanamkan keinginan kuat mengikuti jejak langkah — sunnah Rasul — yang di wariskannya, sesuai Wahyu Allah tentang keutusan Muhammad Rasulullah SAW menjadi “Rahmat bagi seluruh alam” , dan rela menjadikannya “uswah hasanah” , suri ketauladanan yang teramat sempurna dari “nabi terakhir” yang telah melakukan perubahan (ishlah) menyeluruh terhadap berbagai prilaku kearah yang lebih baik dalam kehidupan manusia, dari kondisi dzulummat (kegelapan) kepada peradaban (civilisasi) yang terang benderang, transparan, an-nur atau kehidupan yang penuh cahaya.

Bila disadari sungguh-sungguh kehadiran manusia di permukaan bumi memikul dua beban utama untuk melakukan ishlah (perubahan, perbaikan, reform) dan untuk uswah (pencontohan) dalam peran kekhalifahan. Tanpa kedua sikap ini sebenarnya tidak terdeteksi eksistensi manusia.

Perubahan yang di bawa Rasulullah SAW, berdasar bimbingan Wahyu Allah SWT, menuntun manusia kepada fithrahnya menjadi ummat bertuhan (tauhidic weltanschaung) dan berakhlaq budi pekerti. Terbukti bahwa perubahan dimaksud tidak semata bertumpu kepada keinginan pribadi, tetapi selalu dengan bimbingan Khaliq Maha Pencipta. Dan prilaku manusia yang terbimbing wahyu Allah dan sunnah Rasul ini, pasti terjauh dari pertentangan dalam kehidupan manusia. Inilah perbedaan mendasar dalam hal perubahan yang di lakukan reformer lainnya yang sering melahirkan pemaksaan kehendak, tindakan kekerasan bahkan anarkis.

Perubahan berdasar Sunnah Rasulullah SAW, bermuara kepada “syari’at Islam”, dan berintikan proses perubahan dan perbaikan berbentuk tajdid (pemurnian) , Ishlah (penyempurnaan dan penyelesaian) dan taghyir (perubahan sikap) . Perubahan prilaku yang berperadaban kearah perbaikan prilaku tanpa merusak.

Ajaran Islam mengingatkan ummat untuk menghindari tindakan merusak (fasad=anarkis) dalam tatanan prilaku maupun idea (pemikiran) dengan berupaya menjauhi pemaksaan kehendak.

Agama Islam menghormati prinsip tidak ada paksaan dalam agama . Kewajiban asasi melembagakan musyawarah dalam setiap urusan. Teguh identitas (shibghah) dalam ujud amar ma’ruf (proaktif mengajak dan mengamalkan kebaikan-kebaikan) dan nahyun ‘anil munkar (taat asas menolak setiap kejahatan).

Gerakan amar makruf-nahiy munkar bertujuan melawan segala corak kemakshiyatan menyangkut tatanan dan hubungan pribadi, keluarga, masyarakat, lingkungan, bangsa dan negara. Tujuan utamanya menciptakan ummat berkualitas “khaira ummah” atas dasar “iman” kepada Allah. Intensitas tinggi berpacu dalam menggairahkan perlombaan kepada kebaikan “fastabiqul-khairat”.

Ajaran Islam terbukti dalam sejarah panjang peradaban manusia berhasil menciptakan suatu komunitas ummat yang kian hari bertambah jumlahnya sampai akhir zaman .

Risalah Rasulullah SAW, mencatat kegelapan perilaku kehidupan jahiliyah masa lalu, antara lain ;“Kami adalah orang jahiliyah, penyembah berhala (kepatuhan kepada selain Allah dengan pemberhalaan kedudukan, kekuasaan, harta kekayaan), pemakan bangkai (tidak mengenal halal-haram), memutus silaturrahim (dengan penidasan, anarkis, intimidasi), berbuat bencana terhadap jiran tetangga, dan perbuatan keji (judi,rampok,korupsi,zina) , sehingga yang kuat menelan yang lemah (arogansi kekuasaan, pemupukan kekuatan golongan dan kelompok). Sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul dari kalangan kami sendiri, yakni Muhammad SAW yang sangat kami kenal nasab, kebenaran, kejujuran, amanah (tranparansi), dan baik pekertinya. Karena itu kami mempercayainya, dan kami benarkan risalahnya” (HR.Buchari, Abu Daud).

Hadist ini sebenarnya berisikan;

Pertama, Risalah Rasulullah SAW diterima karena kejujuran pembawanya (pribadi Muhammad Al-Amin).

Kedua, keutamaan Wahyu Allah mampu merombak tata prilaku kehidupan masyarakat secara kaffah (menyeluruh).

Ketiga, keteguhan ummat dengan tingkat konsistensi (istiqamah) yang tinggi dalam kerangka jihad fii sabilillah.

Keempat, teguh keyakinan kepada kehidupan ukhrawi, bahwa hidup tidak semata materil fisik.

Kelima, kecerdasan ummat melihat cerdas Agama Islam adalah konsep hidup terbaik.

Kelima faktor ini yang menjadi pembangkit utama harakah Islam sebagai kekuatan alternatif masa datang. Ummat Islam hari ini di tuntut berperan aktif sebagai pengisi konsep, pelaku penggerak kehidupan duniawi berkeadilan.

Agama Islam tidak hanya ibadah dalam arti sempit (puasa, shalat, zikir dan do’a), tetapi menata amalan nyata yang shalih dalam membentuk kualitas hidup “hasanah” di dunia dan di akhirat.

Ummat Islam mesti sadar bahwa Dakwah Ilaa Allah selalu berhadapan dengan kekuatan konsep fikrah (ghazwul fikriy) Yahudi dan Salibi , dalam penguasaan ekonomi tersistim kearah pemelaratan ummat yang kaya menjadi sangat tergantung kepada belas kasihan para pemodal sehingga lahirlah masyarakat yang miskin dari kekayaan.

Keadaan seperti ini, akhirnya diperparah oleh percaturan politik dengan bungkus demokratisasi, humanisasi, dan hak asasi yang pada dasarnya menjadi kemasan dari phobia terhadap Islam yang berujung dengan intimidasi terhadap ummatnya. Dalam rangka ini kita peringati Maulid Nabi.

Padang, Rabi’ul Awwal 1430 H/ Maret 2009 M.


Perang Asimetris Hamas

janúar 14, 2009

Perang Asimetris

MULANYA Israel ingin meniru taktik perang Amerika di Irak: menghabisi Hamas laksana main PlayStation, menggunakan superioritas udaranya. Sepertiga cadangan roket Hamas hancur dibom pesawat Israel. Sungguh, Hamas tak pernah selantak ini. Toh, setelah serangan itu, 500-an roket Hamas masih menghujani wilayah Israel.

Pada 3 Januari lalu, Israel menggelar serangan darat. Besoknya, tentara mereka—dilengkapi tan k Merkava, dilindungi tembakan howitzer, dikawal helikopter Apache dan pesawat taktis F-16—sudah membagi dua Gaza, wilayah seluas setengah Jakarta. Tapi Hamas, yang terlatih dalam peperangan asimetris, yang mengandalkan taktik gerilya, tak kunjung takluk. Inilah kekuatan Israel versus Hamas.

Angela Dewi, Philipus Parera, YS

Tak Kenal Damai

Pada 1918 Inggris merebut Palestina dari Turki. Inggris menjanjikan negara bagi Yahudi di tanah Palestina.

1946
Pemukim Yahudi tidak sampai sepersepuluh penduduk Palestina.

1947
PBB membagi wilayah Palestina menjadi dua negara: untuk Yahudi dan Arab. Yerusalem berada di bawah pengawasan dunia.

1949 – 1967
Tak lama setelah Negara Israel diproklamasikan pada 1948, negara-negara Arab mengibarkan perang. Israel menang perang dan menguasai wilayah Palestina. Pada 1967 kembali meletus perang.

Tidak hanya memenangi perang yang dikenal sebagai Perang Enam Hari, Israel menguasai Tepi Barat, Sinai, Gaza, dan Dataran Tinggi Golan.

2000
Presiden Clinton menjadi tuan rumah negosiasi perdamaian pada pertengahan tahun 2000. Perundingan dilanjutkan di Taba, Mesir, pada tahun berikutnya, tapi Kamp David II ini gagal.

Serangan Roket ke Israel Serangan Udara ke Gaza
60 27/12 150
40 100
70 100
40 110
67 66
50 70
30 65
40 3/1 40

DEMOGRAFI
Luas: 365 Km2
Populasi: 1,4 juta (48,8% di bawah 15 tahun)
Mata pencarian: Jasa (60%), Industri (25%), Agrikultur (10%)

F-16
Andalan Israel untuk menjatuhkan aneka bom, termasuk bom pendobrak bunker yang menghancurkan terowongan bawah tanah di Rafah.

Pantai Gaza
Salah satu jalur senjata Hamas. Panjang garis pantai 55 kilometer. Sejak 2006 Israel melarang nelayan Gaza keluar lebih dari 6 mil laut.

Terowongan
Hamas membangun jaringan terowongan bawah tanah untuk menyelundupkan senjata dari Mesir. Tahun lalu dari terowongan ini diselundupkan 175 ton bahan peledak dan 10 juta butir peluru.
Lokasi: Rafah dan sepanjang jalur Philadelphi
Jumlah: 400 buah

KHAN YUNIS
Terjadi perang kota antara Hamas dan Israel

KOTA GAZA
Sekolah PBB dibom Israel, 3 tewas.

Pangkalan Roket Hamas ke Israel
Setengah juta penduduk Israel dalam jangkauan roket Hamas yang ditembakkan dari Gaza.

4 Januari
Israel membelah Gaza.

JABALYA
Sekolah dihajar peluru artileri, 42 tewas.

Hamas meluncurkan roketnya dari wilayah padat penduduk.

Roket Qassam
Dibuat sendiri oleh Hamas
Jangkauan: 13 kilometer
Hulu ledak: 10 kilogram

Roket Grad
Lebih jauh dan lebih akurat dari roket Qassam, Grad dapat menjangkau beberapa kota di Israel, termasuk Ashdod, Ashkelon, dan Beersheba. Tapi Tel Aviv, Yerusalem, dan—rumah reaktor nuklir Israel—Dimona masih 75 kilometer lagi.
Jangkauan: 20 kilometer
Hulu ledak: 20 kilogram

Penjaga Pantai Hamas
Dibentuk: 2007
Personel: 200
Persenjataan: Beberapa kapal patroli, kapal karet, yang dilengkapi senjata ringan dan senapan mesin.

Angkatan Laut Israel
Personel: 1.800, dengan 1.000 orang cadangan
Persenjataan: 13 kapal perang, 3 kapal selam, 50 kapal patroli cepat .

Tiga Hamas, Satu Israel
Tentara Israel terlatih menghadapi taktik gerilya di wilayah kota. Namun, menurut Efraim Inbar, Direktur Begin-Sadat Center for Strategic Studies di Bar-Ilan University, perang itu akan dibayar mahal. ”Lusinan tentara Israel bisa tewas, meski tiga atau empat Hamas akan mati untuk setiap satu Israel yang tewas,” ujarnya.

Israel
Personel: 176.500 orang (peringkat 31 dunia), 2,9 juta lainnya siap dimobilisasi
Anggaran militer: US$ 18,7 miliar (sekitar Rp 187 triliun), 9,4 persen pendapatan domestik bruto
Persenjataan:

  • Tank: 970 tank kelas berat, termasuk Merkava
  • Artileri: 1.064 buah
  • Pesawat tempur: 875 buah, 524 di antaranya F-16
  • Pesawat angkut: 84 buah
  • Helikopter militer: 286 buahHamas
    Personel: 20 ribu, 400 pengebom bunuh diri
    Persenjataan:
  • Mortir standar 120 mm dengan mesin tambahan yang meningkatkan jangkauan dari 6 menjadi 10 kilometer
  • Beberapa lusin roket jarak jauh Grad dan beberapa ribu roket jarak pendek Qassam
  • Lusinan peluru kendali antitank Sagger dan Konkurs (Rusia), daya tembusnya 45 dan 60 sentimeter dengan jangkauan hingga 3-4 kilometer
  • Misil antipesawat SA-7 buatan Rusia
  • Bahan peledak 80 ton yang ditinggalkan Fatah

    Sumber: Hamas’s military buildup in the Gaza Strip, April 2008; globalsecurity.org; Jane’s Defence


  • Genocida Israeli, APRES LE MASSACRE DE CANA EN 2006 , LE MASSACRE COURAGEUX A DISTANCE DES ENFANTS DE GAZA DECEMBRE 2008/JANVIER 2009

    janúar 9, 2009

    Kebiadaban Israel di Gaza

    http://portail.islamboutique.fr/gaza2008/

    APRES

    LE MASSACRE DE CANA EN 2006 ,

    LE MASSACRE COURAGEUX A DISTANCE DES ENFANTS DE GAZA

    DECEMBRE 2008/JANVIER 2009

    Ces jeunes israéliens regardent avec curiosité et humour les bombardements de l’armée israélienne . On regarde à la jumelle , on rit , on s’appelle pour décrire le moment , mais ce n’est pas pour décrire les festivités du jour de l’an … C’est pour profiter du moment d’extermination de la population palestinienne !
    Mis à jour le 08-01-09
    Mis à jour le 07-01-09
    Mis à jour le 06-01-09

    Mis à jour le 05-01-09

    Les médias français ont “omis” de mentionner que l’armée israélienne utilise des armes non conventionnelles contre la population palestinienne : “Le phosphore blanc ou White phosphorus” . Article du Times confirmé par plusieurs journalistes d’Al Jazeera : http://www.timesonline.co.uk/tol/news/world/middle_east/article5447590.ece

    Un autre article pour vous montrer les conséquences de ce phosphore blanc et vous comprendrez les brûlures multiples aux visages et sur les corps de tous ces palestinien(ne)s décédés et blessés (Qu’Allah Fasse Miséricorde à nos frères soeurs morts en martyres) .

    http://www.cmaq.net/fr/node.php?id=22837

    Mis à jour le 04/01/09

    Ce jour-ci les médias occidentaux ont “omis” de mentionner que l’armée israélienne fait exploser sans limites les ambulances palestiniennes (déjà près de 7 morts : ambulanciers et victimes)

    Mis à jour 03/01/2009
    Mis à jour le 02/01/2009
    Mis à jour 01/01/09
    Mis à jour 31/12/2008
    xc

    Israel’s actions in Gaza strip should be condemned and stopped. But, any condemnations against Israeli attack’s to Gaza Strip and any demands for International body to act against Israel should be framed in a non-religious and non-racial framework. In other words, I want to see the world stops invoking anti-semitism.

    Yet, as the events in Gaza are unfolded; more and more Palestinian are wounded, I am in the brink of my cause. In the dissapointment toward Israel and the United Nations, I am trying to find the reason why anti-semitism should never be exercised, even in the today-look like situation. I almost lost cause. But, seeing pictures of wounded Palestinians in TV this evening, I finally find the reason why anti-semitism, even in the current Israeli attack, should still no longer be entertained.

    Two Miseries
    First of all, anti-semitism has created so much miseries. At least two are now visible. The first misery is the extermination of Jews and their dispersion from their homeland in Europe. Hundred thousand of Jews had to give up their life simply because they carry their identity as Jews.

    But, it should also be remembered that it is exactly the same anti-semitism (the one entertained in Europe), that created unnecessary and actually avoidable second misery in Palestine. As European Jews were dissilusioned with their situation in Europe, the Zionist Movement saw that the previously promised land might given them hope and security. While I do not agree with the use of biblical justification for their choice of Palestine, the zionists (in the name of Jewish people), of course, have rights to choose places that they think will provide safety and security for them. Unfortunately, they ignored the fact that in Palestine, there have been other communities live there for hundred years. And like Jews who have rights to choose land in order for them live peacefully, Palestinians have also rights to defend their homeland so they can live peacefully.

    The course at that time, I guess, laid on the hand of the Great Britain and other big powers who were dividing the cake of Ottoman’s defeat in 1916. Had they, at the end of First World War, resorted to other means in dealing with Jewish people’s misery, rather than only stuck to the solution of making Palestine home for dispersed Europen Jews, miseries that we are now seeing in Palestine would never happen. The Great Britain and big powers should have asked Europe that was actually the perpetrator of anti-semitism to be held responsible for the miseries that they caused to the Jews. Say, the Great Britain and the others would have pressured Poland, Germany or other European countries to provide land for Jewish people to build their own state, if these countries did not want Jews to live in their territory. But the super powers chose, instead, Palestine as a solution.

    Unfortunately, as we have heard and seen for decades, the choice proven to be disastrous. Anti-semitism has brought another avoidable misery.

    Inability of Living in Coexisentence with the Others
    The second reason why anti-semitism should never be exercised is because the practical implication of anti-semitism’s spirit is detrimental for the future of peace in this world. Anti-semitism rejects the idea that human being has equal dignity and rights. It also rejects diversity as the basic fact of human being life. In anti-semitism, this spirit carries practical implication which is the inability to live peacefully in coexistance with people having different identities. Such spirit is not only exercised by the old-Europe, but also possibly by current Europe, the Muslim world, and even the very victim of anti-semitism it self.

    The state of Israel, as the formal representation of Jewish people who were the victim of anti-semitism, has been showing the inability to live in coexistence with poeple of different races. Since 1948, without the consent of the inhabitants of the Mandatory Palestine, Israel had been granted almost half of Palestine territory. Yet, as the time goes on, the whole world see Israel keeps expanding that territory almost to the extent that the other indigenous communties living in that area have no more spaces to live. The expansion, to me, shows how Israel does not want the other communities to live in the same area with the people of Israel. It shows how Israel can not live in coexistence with other people in the area. In other words, Israel has embraced the spirit of anti-semitism that it rejects in the first place.

    While the people and the government of Palestine have rights to defend their homeland, they might also embrace the spirit of anti-semitism if they want to wipe out Israeli Jews from today’s Palestine.

    ***
    In its original meaning, antisemitism is against Jewish people. But, at the end of this article, I want to point that the spirit of anti-semitism can be exercised by any actors and can endanger of any race, ethnic or religious groups. Those who can not live in coexistence with other people having different ethnic and religion are essentially embracing the spirit of anti-semitism. Those who were refused their rights to live in an area simply because they have different identities with the majority or other groups are the victims of the spirit of anti-semitism. For the peaceful future of this world, lets get rid of the spirit of anti-semitism and embrace the beauty of living in coexistence with those who are different with us.


    Apa Kata Rizal Ramli, menurut www.kabarindonesia.com

    janúar 5, 2009

    DR. RIZAL RAMLI: Cangkir Emas Dipakai Mengemis
    Oleh : Wilson Lalengke

    11-Okt-2007, 08:12:53 WIB – [www.kabarindonesia.com]

    KabarIndonesia – Bicara blak-blakan, sangat terbuka dan lancar tanpa beban.
    Itulah kesan kuat yang melekat sebagai ciri khas ekonom lulusan Master dan Doktor dari Boston University, Amerika Serikat ini.

    Namun, ia tidak sekedar bicara alias asbun (asal bunyi) tapi semua yang dipaparkan selalu didukung oleh fakta, data dan analisa yang tajam tentang berbagai hal yang sedang dibahas, terutama bila bicara tentang persoalan ekonomi Indonesia.
    Pengetahuan dan wawasannya yang luas di bidang ekonomi ditunjang oleh
    keberanian dan kejujuran yang tinggi, memang tidak diragukan lagi. Hingga
    tidak mengherankan jika sebagian kalangan memberikan julukan kepadanya
    sebagai “The Trusted Indonesian Economist”.

    Dr. Rizal Ramli, dilahirkan di Padang, Sumatra Barat, pada 10 Desember 1953.

    Ayahnya seorang asisten Wedana sementara ibunya adalah Guru.

    Ibunya meninggal pada saat Rizal masih berumur 7 tahun, sehingga ia harus tinggal dengan neneknya di kota Bogor.

    Sebagai anak seorang guru, ia sangat rajin membaca. Ia sejak muda telah kenal dan bergaul akrab dengan berbagai buku bacaan, termasuk buku-buku penting karya Albert Einstein. Tidak heran jika kemudian ayah 3 anak (Dhitta Puti Saraswati, Dipo Satrio, dan Daisy) ini kemudian sangat mengagumi dan mengidolakan pemikir besar Einstein dan mengoleksi berbagai versi biografi dari ilmuwan berkebangsaan Jerman itu.

    Debut Rizal Ramli sebagai sosok pemikir yang kritis dan berani dimulai sejak
    suami Herawati M. Mulyono ini sebagai mahasiswa di Institut Teknologi
    Bandung (ITB). Kala itu, di tahun kedua masa belajarnya, ia sudah melibatkan
    diri dalam diskusi-diskusi yang bersinggungan dengan bidang politik di Dewan Mahasiswa, yang kemudian mengantarkannya menjadi Deputi Ketua Dewan Mahasiswa ITB tahun 1977.

    Karakter dan idealismenya sangat kuat sehingga ia berani mengoreksi kekeliruan sistim politik dan strategi pembangunan Indonesia masa itu, yang sempat mengantarkan Rizal muda ke penjara militer selama beberapa bulan dan penjara Sukamiskin, Jawa Barat, selama satu tahun (1978/1979) akibat aksi menentang pemilihan kembali Soeharto sebagai presiden.

    Sikap kritis dan tidak mau kompromi dengan kebijakan berbau korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang dijalankan pemerintahan negara tetap menjadi kesehariannya hingga di usia paruh baya hari ini.

    Konsekwensi dari keteguhan idelismenya itu, Ramli praktis tidak pernah
    diberi kesempatan berkarir di pemerintahan sampai tumbangnya rezim Suharto.

    Kiprahnya bagi pembangunan bangsa melalui peran aktif di pemerintahan baru dimulai ketika Presiden Abdulrahman Wahid memintanya menjadi Kepala Badan Logistik (Bulog) pada April 2000. Saat itu, kinerja Bulog sangat buruk dan membutuhkan pembenahan internal oleh orang yang kapabel dan terpercaya untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap badan ini. Tugas utama Ramli oleh Presiden Gusdur, panggilan akrab Abdurrahman Wahid, adalah mendorong Bulog menjalankan kembali fungsinya dengan baik yakni memenuhi kebutuhan rakyat, menjaga harga penjualan petani sebaik mungkin dan membersihkan Bulog dari praktek KKN.

    Hanya selang beberapa bulan mengemban tugas sebagai Kepala Bulog, tepatnya pada Agustus 2000, pendiri ECONIT Advisory Group, sebuah lembaga riset yang bergerak dalam bidang ekonomi, industri dan perdagangan, ini ditunjuk untuk menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Perekonomian (Agustus 2000 – Juni 2001), dan kemudian menjadi Menteri Keuangan dari Juni hingga Juli 2001.

    Sebagai Menko Perekonomian, mantan Pemimpin Redaksi Jurnal Ekonomi dan Sosial Prisma ini juga merangkap beberapa jabatan penting dan strategis
    dalam pemulihan perekonomian yang hancur dilanda krisis moneter, yakni
    sebagai Ketua Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) dan Ketua Tim Keppres 133 untuk renegosiasi listrik swasta.

    Kinerja Ramli di pemerintahan dinilai berhasil oleh banyak pihak karena
    walau hanya dengan waktu yang relatif pendek, yakni hanya 15 bulan, ia
    berhasil melakukan sejumlah terobosan yang efektif untuk mendorong reformasi institusional, restrukturisasi sektoral maupun korporat, serta percepatan pemulihan ekonomi. Di Bulog misalnya, ia berhasil melakukan restrukturisasi agar Bulog menjadi organisasi yang transparan, accountable, dan lebih profesional, sekaligus mendorong regenerasi; meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, di mana Bulog meningkatkan pembelian gabah, bukan beras.

    Ketika menjadi Menko Perekonomian, alumni Departemen Fisika ITB ini
    mencanangkan 10 Program Percepatan Pemulihan Ekonomi yang diakui oleh dunia internasional sebagai program pemulihan ekonomi yang kredibel. Hasilnya, ekonomi Indonesia selama tahun 2000 tumbuh sebesar 4,8%, di atas perkiraan semula yang hanya 2-3% dengan budget deficit yang lebih kecil dari perkiraan semula, yaitu hanya  3,2% dari GDP (perkiraan semula adalah  4,8% dari GDP).
    Turn around ekonomi Indonesia mulai terjadi pada tahun 2000. Total ekspor
    Indonesia selama tahun 2000 mencapai US$ 62 milyar, atau naik 27% dari
    ekspor Indonesia pada tahun 1999.

    Kebijakan yang ditempuh selama menjadi Ketua KKSK dan Ketua Tim Kepres 133 juga terbilang sukses. Sebagai Ketua KKSK, Dr. Rizal Ramli berhasil
    memutuskan sekitar 140 keputusan penting, baik yang menyangkut
    restrukturisasi hutang maupun percepatan penjualan asset yang dikelola oleh
    BPPN.

    Salah satunya adalah restrukturisasi bisnis dan hutang PT IPTN menjadi PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) sehingga viable secara bisnis dan
    finansial. Hasil dari langkah-langkah tersebut PT. DI penjualannya meningkat
    dari Rp. 508 milyar pada tahun 1999 menjadi Rp, 1,4 triliun pada tahun 2001.

    Kerugian perusahaan sebesar Rp. 75 milyar tahun 1999 berubah menjadi
    keuntungan sebesar Rp. 11 milyar.

    Itulah sebagian kecil keberhasilan dan karya dosen tamu di berbagai
    perguruan tinggi dalam dan luar negeri yang dapat disebutkan di sini. Rizal,
    yang pernah mengambil dan menyelesaikan program Asian Studies di Sophia
    University, Tokyo, Jepang tahun 1975 ini, juga telah menghasilkan banyak
    sekali karya ilmiah yang telah dimuat jurnal-jurnal ekonomi terbitan dalam
    dan luar negeri. Selain sebagai pengajar bidang ekonomi, ia juga banyak
    berperan sebagai penasehat dan konsultan ekonomi bagi berbagai institusi
    baik swasta maupun pemerintah, seperti misalnya menjadi konsultan ekonomi DPR RI dari tahun 1993 hingga 1999.

    Sebagai seorang ahli ekonomi kelas dunia, sudah barang tentu akan sangat
    menarik untuk mendengar komentar dan pandangan-pandangannya tentang keadaan ekonomi serta prospek perekonomian Indonesia di tengah arus ekonomi global selama ini. Menurut Rizal, yang sejak 2006 lalu tercatat menjadi wakil pemerintah pada PT Semen Gresik (pesero) Tbk sebagai Presiden Komisaris, negara kita sebenarnya adalah negara kaya raya yang digadaikan kepada pihak asing dengan harga sangat murah; ibarat cangkir emas yang digunakan mengemis uang recehan kepada negara-negara kreditor.

    Berikut ini adalah hasil wawancara KabarIndonesia dengan Bapak Dr. Rizal Ramli di Jakarta beberapa waktu lalu, yang dituturkan dengan gaya monolog.

    KabarIndonesia (KI): Pak Rizal Ramli, politik dan ekonomi ibarat dua sisi mata uang, saling terkait satu sama lain. Mohon diuraikan pandangan-pandangan, hasil analisa, dan prediksi Pak Rizal tentang kondisi politik dan hubungannya dengan pembangunan ekonomi Indonesia ke masa depan, dan mungkin ada pesan-pesan yang dapat disampaikan kepada masyarakat kita agar bisa segera keluar dari krisis ekonomi yang belum juga pulih hingga
    kini?

    Dr. Rizal Ramli (RR): Politik di Indonesia agak berbeda dengan politik di luar negeri. Mungkin kita masih dalam tahap awal dalam berdemokrasi. Politik
    kita masih pada tahap love and hate relationship (hubungan berdasarkan cinta dan benci   red). Jadi, pemimpin itu mula-mula sangat dicintai, ekspektasi rakyat itu sangat berlebihan. Kemudian ada periode di mana mulai ada tanda tanya, betul tidak pemimpin ini bekerja untuk kita semua? Betul tidak ini pemimpin untuk semua pihak? Nah, setelah itu, seandainya
    pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab, masuk ke fase hate. Kalau
    sudah hate, orang Indonesia rata-rata selalu berkata “asal bukan”. Misalnya
    waktu itu asal bukan Soeharto, asal bukan Habibie, asal bukan Gusdur, asal
    bukan Megawati. Memang SBY (Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono   red) saat ini sudah masuk fase kritis. Sudah mulai orang berpikir asal bukan.
    Sebetulnya sangat ironis, presiden pertama yang dipilih secara demokratis,
    presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat.

    Ada dua masalah utama yang dihadapi Indonesia.

    Pertama: kualitas kepemimpinan dan yang kedua school of thought (cara berpikir   red) dalam bidang itu, yang lebih banyak mengandalkan cara berfikir apa yang dikenal di kalangan economist Washington Consensus. Yaitu garis kebijakan ekonomi dari Washington untuk negara-negara berkembang, yang mereka sendiri tidak laksanakan dalam prakteknya. Di Asia Timur ini hanya ada dua negara yang secara konsisten melaksanakan Washington Consensus, yaitu Indonesia dan Philipina. Kedua negara ini tingkat ketimpangannya sangat luar biasa. Kedua negara ini, sejak beberapa dekade terus merosot. Prestasi terbesar dari kedua negara ini adalah menjadi eksportir tenaga kerja wanita terbesar di dunia.

    Negara-negara di Asia Timur lainnya seperti Malaysia, Singapura, Thailand,
    China, Jepang dan sebagainya tidak menjalankan Washington Consensus. Mereka lebih percaya bahwa di dalam bidang ekonomi, dalam perumusan kebijakan di bidang ekonomi, mereka lebih mandiri; menggunakan apa yang disebut model Asia Timur. Dalam model Washington Consensus, peranan pemerintah seminimum mungkin, sementara dalam model Asia Timur pemerintah memainkan peranan yang proaktif dalam bidang ekonomi. Dengan cara inilah negara-negara di Asia Timur mengejar ketinggalannya dari Barat. Walaupun di dalam bidang politik dan militer mereka bekerjasama dengan Washington, tetapi dalam bidang ekonomi mereka mau mandiri dalam perumusan kebijakan, karena hanya dengan cara itu mereka bisa mengejar ketertinggalan dari Barat dan pelan-pelan nanti mereka bisa lebih kuat secara militer.

    Pada pertengahan tahun 1960-an GNP perkapita Indonesia, Malaysia, Thailand, Taiwan, China nyaris sama, yaitu kurang dari US$100 per kapita. Setelah lebih dari 40 tahun, GNP perkapita negara-negara tersebut pada tahun 2004, mencapai: Indonesia sekitar US$ 1.000, Malaysia US$ 4.520, Korea Selatan US$ 14.000, Thailand US$ 2.490, Taiwan US$ 14.590, China US$ 1.500. Jadi harus ada pertanyaan. kok negara-negara lain bisa maju lebih cepat, tingkat kesejahteraan rakyatnya lebih baik, jurang antara kaya-miskin ada tapi tidak sebesar yang ada di Indonesia. Nah, tidak bisa hanya menyalahkan presiden demi presiden, tapi karena ada satu school of thought yang dominan di dalam pembangunan ekonomi Indonesia yang hanya merupakan sub-ordinasi dari kepentingan Internasional.

    Dari segi yang lain, kalau dilihat dari segi sejarah, kita itu mendapatkan
    political independence (kemerdekaan politik – red) pada 17 Agustus 1945,
    kemerdekaan politik sebagai bangsa. Tahun 1998, rakyat kita mendapatkan
    freedom, demokrasi, kebebasan untuk menyatakan apa saja dan menulis apa saja yang selama rezim otoriter Soeharto tidak mungkin. Tetapi sejak tahun 1945, belum pernah terjadi kebangkitan ekonomi. Tidak ada kebangkitan ekonomi.
    Setelah tahun 1998, kita juga tidak punya kebangkitan ekonomi itu. Jadi
    harus ada pertanyaan mendasar, ketika kita sudah memiliki political
    independence, sudah memiliki freedom in terms of democratic mechanism
    (kebebasan dalam arti mekanisme demokrasi   red), tetapi mengapa belum
    pernah terjadi kebangkitan ekonomi sampai sekarang.

    Nah, jawabannya adalah apa yang disebut the creeping back of neo-colonialism (kembalinya kolonialisme gaya baru   red). Bukan lagi model kolonialisme jaman dulu, pakai kekuatan militer dan dominasi politik, tetapi penguasaan ekonomi melalui mekanisme pasar. Proses kembalinya neo-kolonialisme itu sebetulnya dimulai pada tahun 1967 saat renegosiasi utang dengan kreditor-kreditor.

    Set back sedikit, waktu KMB (Konferensi Meja Bundar red) di Belanda, Indonesia memang ditekan pada waktu itu untuk mengambil alih utang-utang pemerintahan Hindia Belanda. Publik tidak banyak tahu bahwa Pemerintah Indonesia ditekan untuk membayar seluruh utang-utang dari pemerintah Hindia Belanda. Padahal banyak dari utang-utang itu adalah utang untuk melawan dan menghancurkan kelompok pejuang kemerdekaan Indonesia, termasuk para pejuang kemerdekaan kita, seperti perang di Aceh, perang Pattimura di Maluku, dan sebagainya. Itu adalah ongkos buat Belanda. Nah itu dinyatakan sebagai utang pemerintah Indonesia.

    Pada waktu itu, Soekarno dengan Hatta menyatakan ’sudahlah, kita ambil utang-utang itu, yang penting kita merdeka dulu, soal utang urusan belakangan’. Begitu KMB ditandatangani, bung Karno memerintahkan, jangan bayar itu utang. Jadi walaupun utang itu disepakati, pemerintah Indonesia tidak pernah mau bayar. Taktiklah istilahnya itu.

    Tapi waktu pemerintahan Soeharto, awal Orde Baru pada tahun 1967, Widjojo Nitisastro dan kawan-kawan yang disebut sebagai Mafia Berkeley membuat kesepakatan baru untuk mulai membayar utang Hindia Belanda tersebut yang sebetulnya secara moral itu tidak justified (dibenarkan   red), secara histories politis itu tidak justified. Tetapi Widjojo dan kawan-kawan waktu itu sepakat untuk mulai mencicilnya. Widjojo dan kawan-kawan itu memang dididik di Berkeley, dipersiapkan untuk mengambil alih pengelolaan ekonomi setelah Soekarno jatuh, supaya membelokkan garis ekonominya, satu garis dengan garis Washington. Sejak itulah dimulai the creeping back of
    neo-colonialism. Seperti diketahui bahwa sekarang, untuk menguasai suatu
    negara tidak perlu secara militer, tidak perlu secara fisik, asal ekonominya
    bisa dikendalikan, negara tersebut bisa dikuasai.

    Sejak itu, walaupun Mafia Berkeley berkuasa nyaris tidak pernah berhenti
    selama 40 tahun, berlanjut ke muridnya, ke cucu muridnya dan seterusnya.
    Presiden bisa berganti, partai yang berkuasa bisa ganti, jenderal bisa ganti, TNI bisa melakukan reformasi, tapi di dalam bidang ekonomi tetap pada
    garisnya Mafia Berkeley. Nah, inilah yang menjadi sumber mengapa Indonesia tidak bisa menjadi besar, karena mereka dalam prakteknya sering menjadi conduit (saluran   red) bagi lembaga-lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia, IMF, untuk merumuskan undang-undang di Indonesia, merumuskan berbagai kebijakan.

    Contoh: awal orde baru tahun 1967, UU investasinya dibikin oleh satu lembaga kreditor kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan jadilah UU Investasi. Banyak sekali UU yang masuk ke kategori itu. Misalnya, Bank Dunia bilang, saya kasih 400 juta dollar tapi Indonesia harus bikin UU Privatisasi Air, sehingga petani juga harus bayar air.

    Kemudian ADB (Asia Development Bank – red) juga kasih pinjaman 300 juta
    dollar tapi Indonesia harus ada UU Privatisasi, agar perusahaan-perusahaan
    negara bisa dijual dengan harga murah. Jadi banyak sekali UU dan peraturan
    pemerintah yang sebetulnya dipesan oleh lembaga-lembaga keuangan
    internasional.

    Hal itu sesungguhnya melanggar konstitusi. Kita ini adalah sovereign state
    (negara yang berdaulat   red), tidak boleh ada pihak manapun yang memberi
    iming-iming memberi pinjaman dengan syarat ada UU yang mereka susun. Jelas saat orang menyusun UU, kepentingan dia adalah nomor satu. Kalau ada satu negara yang UU-nya dipesan dikaitkan dengan pinjaman, pembuatan UU yang diikat dengan pinjaman, jelas yang memberi pinjaman itu memiliki
    kepentingan-kepentingan di dalam pembuatan UU itu. Jika ada satu negara yang mengikuti pola seperti ini, bisa dibayangkan bahwa negara ini tidak akan
    pernah bisa maju. Di Asia, yang ikut model ini hanya ada dua negara yakni
    Indonesia dan Philipina. Negara lain tidak mau mengikuti itu, kalau kebijakan ekonomi, mereka rumuskan sendiri. Mereka buat UU yang mencerminkan
    kepentingan negara mereka, kepentingan rakyat mereka.

    Seperti banyak diketahui, di Asia Timur sering terjadi konflik dagang, misalnya antara Taiwan dengan Amerika, Malaysia dengan Eropa, dan Singapura juga, walaupun secara politik dan militer, mereka ikut hegemoninya Washington. Nah kita di dalam politik luar negeri mengaku independen, dalam prakteknya tidak selalu independen. Di dalam bidang militer kita punya kerjasama dengan negara-negara besar, tapi dalam bidang ekonomi kita, pola neo kolonialisme benar-benar masih berlangsung hingga saat ini. Selama itu tidak dihancurkan jangan mimpi Indonesia bisa jadi negara besar.

    Sesungguhnya Indonesia ini adalah negara yang kaya sekali. Istilah saya,
    Indonesia ini memiliki banyak golden bowls, cangkir emas, seperti Freeport,
    Cepu, dan sebagainya. Tapi karena mental pemimpin dan elitnya itu inlander,
    maka kekayaan itu seakan tidak bermakna. Cepu misalnya, nilainya antara 120 billion dollar sampai 150 billion dollar. Lebih besar daripada cadangan
    minyaknya bekas Caltex di Sumatra Selatan. Tetapi pengelolaan ladang minyak ini diberikan kepada perusahaan Exxon tanpa kompensasi yang memadai.

    Nah, cangkir emas atau golden bowls ini dipakai untuk mengemis uang recehan. Dari Bank Dunia 300 juta dollar, dari Amerika 400 juta dollar, dari Eropa sekian juta dollar. Pemimpin kita tidak tahu golden bowl yang dia pegang, baru satu Cepu saja, nilainya ratusan milyar dollar. Belum lagi Freeport nilainya berapa, dan yang lain-lain yang bertebaran di nusantara itu berapa nilainya.

    Kenapa itu bisa terjadi, karena para pemimpin dan elit kita masih bermental
    inlander dan tidak percaya diri. Tidak memiliki kemampuan intelektual untuk
    menghadapi kepentingan-kepentingan negara besar itu.

    Selama mental inlander ini masih dominan di kalangan elit kita, saya tidak yakin Indonesia akan menjadi negara besar. Tapi kalau prasyarat tadi itu kita penuhi, yaitu pertama kita hancurkan hubungan neo kolonialisme di dalam bentuk utang yang dikaitkan dengan UU dan peraturan pemerintah, kita rumuskan kebijakan ekonomi kita sendiri. Yang kedua, kita tidak boleh punya sikap inlander yang bermental rendah diri. Asset-asset yang ratusan milyar dollar ini adalah milik bangsa kita.

    Nah, kalau hal itu terjadi, Indonesia pasti akan menjadi negara besar. Tapi
    sayangnya, mohon maaf, dari nama-nama yang pernah memimpin Indonesia sejak awal orde baru sampai nama-nama dari para elit yang bercita-cita menjadi pemimpin di tahun 2009, tidak jauh dan tidak lebih, hanya mengulang lagu lama.

    Motifnya hanya sekedar power (kekuasaan   red), memanfaatkan power itu untuk popularitas, untuk kepentingan kelompok, dan lain-lain. Belum ada yang bicara beyond (lebih daripada – red) itu. Kalau hanya mengulang, okey pemimpinnya baru, lagunya lagu lama, istilah saya itu ‘old wine in a new bottle’ (anggur masam di botol baru – red), Indonesia tidak akan ke mana-mana.

    Menurut saya, Indonesia perlu pemimpin baru dan jalan baru. Karena sudah 40 tahun sejak orde baru sampai sekarang, pemimpin sudah berganti beberapa kali, tapi lagunya tetap lagu lama, yakni lagu sub-ordinasi kepada
    kepentingan internasional, lagu the creeping back of neo-colonialism. Hanya
    jika diputus mata rantainya, baru akan terjadi perubahan dan memungkinkan
    kebangkitan ekonomi Indonesia. Saya mau berkampanye. Bukan dalam arti mau jadi pemimpin, tetapi berkampanye bahwa Indonesia perlu jalan baru.

    Pointnya adalah keinginan mengubah school of thought. Hal ini bisa dilakukan melalui media dan lain-lain bahwa Indonesia perlu jalan baru. Kalau hanya pemimpin baru, rakyat Indonesia hanya akan dibohongi kembali. Ada dulu pemimpin yang idealismenya bela ‘wong cilik’ tetapi setelahnya, bela ‘wong licik’. Kenapa bisa begitu, ini lebih disebabkan oleh school of thought-nya itu tidak mungkin bela rakyat kecil. Selama masih menggunakan cara Mafia Berkeley, tidak mungkin ada jalan baru yang lebih pro kepentingan rakyat dan nasional.

    KI: Terima kasih Pak Rizal atas waktu dan uraian sangat gamblang yang sudah
    diberikan ini.

    RR: Terima kasih kembali.

    Itulah hasil bincang-bincang redaksi KabarIndonesia dengan penggemar
    olahraga renang dan tennis meja itu.

    Sebagai Presiden Komisaris PT. Semen Gresik (persero) Tbk, saat ini Rizal Ramli amat serius melakukan sejumlah langkah-langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi, mendorong program pengurangan biaya dan meningkatkan keuntungan PT. Semen Gresik Tbk. Tujuan tersebut dicapai dengan melakukan konsolidasi dan integrasi ketiga perusahaan yaitu PT. Semen Gresik, PT. Semen Padang, dan PT. Semen Tonasa.
    Bersama-sama Komisaris dan manajemen mempersiapkan kerangka retrukturisasi organisasi dan finansial untuk jangka menengah. Hasil dari langkah-langkah tersebut, laba bersih Semen Gresik naik 29,3 % menjadi Rp 1,295 triliun, dan EBITDA margin mencapai 26,1 % pada tahun 2006. Bahkan untuk pertama kalinya PT. Semen Gresik Tbk masuk kelompok 7 BUMN yang paling menguntungkan.
    Tercatat kemudian PT Semen Gresik Tbk menerima penghargaan dalam kategori Most Committed to a Strong Dividend Policy 2007 (peringkat ke-7) dan Best Corporate Governance 2007 (peringkat ke-8) dari majalah FinanceAsia. Obsesi dan impian pria berkacamata itu terhadap tanah airnya cukup sederhana: “Saya hanya menginginkan negara ini sejahtera dan maju,” ujarnya suatu saat kepada wartawan. Selamat berkarya Bung Rizal!

    Biodata Singkat:

    Nama : Rizal Ramli
    Tempat/tgl. Lahir : Padang, 10 Desember 1953

    Pendidikan

    Ph.D dalam bidang ekonomi, Boston University, Boston, AS, 1990.
    M.A. dalam bidang ekonomi, Boston University, Boston, AS, 1982.
    Asian Studies, Sophia University, Tokyo, Jepang 1975.
    Departemen Fisika, Institut Teknologi Bandung, 1973   1980.

    Bidang Keahlian

    Makro Ekonomi, Keuangan dan Industri

    Pengalaman Kerja

    Chairman of the Board, ECONIT Advisory Group. 2002   saat ini.
    Presiden Komisaris PT. Semen Gresik, Tbk. 2006   saat ini.
    Executive Chairman, GlobeAsia Magazines, 2007.
    Menteri Keuangan. Juni 2001   Juli 2001.
    Menteri Koordinator bidang Perekonomian RI. Agustus 2000   Juni 2001.
    Kepala Badan Urusan Logistik. April 2000   Maret 2001.
    Sekretaris Tim Monitoring, Program Percepatan Pemulihan Ekonomi
    Pemerintahan Gus Dur & Megawati, April 2000   Agustus 2000.
    Managing Director ECONIT Advisory Group, think tank independen bidang
    ekonomi, industri dan perdagangan. 1993   2000.
    Penasehat Ekonomi di DPR-RI. 1993   1999.
    Konsultan Ekonomi untuk beberapa lembaga keuangan, Bank Indonesia, serta lembaga internasional. 1993   1999.
    Anggota Redaksi Jurnal Ekonomi dan Sosial PRISMA.
    Dosen Ekonomi Program Magister Manajemen Fakultas Pasca Sarjana
    Universitas Indonesia. 1992  1999.
    Dosen Tamu dalam bidang ekonomi, sering memberikan kuliah di berbagai
    perguruan tinggi didalam dan luar negeri, berbagai departemen, seperti
    Departemen Keuangan, Perindustrian dan Perdagangan, Bank Indonesia, BUMN.
    Juga kuliah tamu di LEMHANAS, SESKO TNI-POLRI, dan lain-lain.

    Pengalaman Organisasi

    Deputi Ketua Dewan Mahasiswa ITB, Bandung, 1977.
    Staf Pimpinan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) 1993-1999.
    Wakil Ketua Umum Forum Komunikasi Pasca’45, 1999   2000.
    Diadili dan dipenjara di Sukamiskin Bandung, 1978/79 sebagai salah seorang
    pimpinan mahasiswa yang menolak kepemimpinan Presiden Soeharto.

    Keluarga

    Nama Istri : Herawati M. Mulyono
    Nama Anak : Dhitta Puti Saraswati, Dipo Satrio, dan Daisy


    Menggali Potensi Zakat, Menggerakkan Umat berbasis Kemampuan dan Kompetensi

    janúar 5, 2009

    Menggali Potensi Zakat

    Menggerakkan Umat berbasis Kompetensi

    Oleh : H Mas’oed Abidin

    Sasaran akhir puasa Ramadhan adalah la’allakum tasykurun, artinya supaya kamu bersyukur.[1] Tidak sempurna kehidupan bermasyarakat bila kegembiraan rasa syukur ini tidak di iringi dengan peduli kepada orang sekeliling, terutama kepada yang belum bernasib baik, fuqarak wal masakin.

    Bersama Pengurus BAZDA Sumbar dan BAZDA Kabupaten Merangin Jambi di Nurul Iman Padang

    Bersama Pengurus BAZDA Sumbar dan BAZDA Kabupaten Merangin Jambi di Nurul Iman Padang

    Pembuktiannya adalah dengan mengeluarkan zakat fithrah bagi meringankan beban derita kaum tak berpunya. Satu bimbingan Islam dalam merasakan suatu kegembiraan secara bersama (ijtima’i).

    Zakat Fithrah, kewajibannya fardhu’ain bagi setiap Muslim. Apabila dia telah memasuki bulan Ramadhan dan memasuki Idul Fithri. Tidak peduli, apakah dirinya sudah akil baligh ataupun belum, berbadan besar ataupun kecil, berkeadaan sanggup ataupun tidak. Sebab seyoyanya dihari itu tidak ada yang mengatakan tidak sanggup.

    Dibayarkan sebelum salat Idul Fithri. Bila dibayarkan sesudah Idul Fithri, nilainya sama seperti sedekah biasa. Boleh dibayarkan sejak awal Ramadhan.

    Sebaiknya dengan makanan yang kita makan. Boleh dihitung dengan nilai uang sebesar harga makanan yang dikeluarkan (3 sha’, atau 5,5 kg = sepuluh tekong beras).

    Dibayarkan kepada fuqarak wal masakin. Tidak terbatas jumlah boleh menerima. Sesuai bimbingan Rasulullah SAW, aghnuhum ‘anis-suaal fii hadzal yauma, artinya kayakanlah mereka (orang-orang tak berpunya) itu dari masalah minta-meminta pada hari lebaran ini.

    Bila tidak dibayar, puasanya tergantung antara bumi dan langit (al Hadist).

    Hakikatnya, “zakat fithrah menjadi pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang tercela dan dari dosa, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin(HR.Abu Daud).

    Perintah agama sangat tegas. Kayakan mereka orang fakir miskin yang tidak sanggup itu, pada hari lebaran idul fithri ini. Bebaskan mereka dari bertawaf, berkeliling meminta-minta dihari besar yang mulai ini. Demikian inti ajaran Islam. Maksudnya supaya satu sama lain saling ringan meringankan. Berat sepikul ringan sejinjing.

    Dihari lebaran terbuka pintu pendapatan insidentil dari setiap orang fuqarak dan masakin. Jangan mereka dihina dan dihardik. Semestinya setiap orang yang berpunya merasa malu dihadapan Allah, bila dikelilingnya berserak orang-orang miskin. Secara alamiah kondisi menjamurnya kemiskinan adalah penggambaran nyata dari kondisi kekayaan orang berada yang tidak banyak bermanfaat dalam mengurangi jumlah orang miskin dikelilingnya.

    Setiap diri yang berpunya, semestinya sanggup menyalahkan diri sendiri apabila banyak orang miskin disekililingnya.

    Mungkin sekali sebahagiannya disebabkan karena yang kaya kurang peduli, dan enggan berzakat secara terarah. Atau karena haknya dirampas dengan prilaku tak terpuji, seperti korupsi, manipulasi, dan sebagainya.

    Pada sehari lebaran Idul Fithri diperintahkan mengeluarkan zakat fithrah untuk tu’matan lil masakin, atau memberi makan orang miskin. Selanjutnya, orang miskin yang dikayakan dihari itu mampu membantu diri dan keluarganya, mampu pula melaksanakan ajaran agamanya secara teguh dan bertanggung jawab.

    Zakat fithrah tidak dimaksudkan penumpukan modal oleh lembaga keuangan tetapi bias menjadi sumber modal langsung bagi simiskin yang telah menerimanya tanpa ikatan suatu akad perjanjian. Maka yang diperlukan adalah kesadaran tinggi fuqarak wal masakin itu, agar disamping keperluan konsumptif lebaran, maka dapat dijadikan modal milik sendiri yang akan dikembangkan sebagai penupang peningkatan ekonomi keluarga.

    Dengan kekayaan yang diterima oleh fakir dan miskin, mereka bisa berbelanja. Bisa membeli makanan dan minuman. Bisa membesarkan hari besar jamuan Allah. Mereka bisa pula membayarkan zakat fithrahnya sendiri. Dan pada hari ini semestinya secara ideal, tidak ada lagi orang fakir dan miskin, walaupun hanya dalam bilangan sehari.

    Pada hari lebaran itu, tidak ada lagi orang yang menganggap bahwa dirinya berada diatas, dan orang lain yang tidak berpunya (fuqarak wal masakin) menjadi orang dibawah, atau golongan have not any, dan tidak diperhitungkan.

    Bila pada masa-masa yang panjang, yang bisa berzakat hanya si kaya, tetapi di hari Idul Fithri, yang miskin dan faqir juga ikut berzakat, dari pendapatan zakat yang mereka terima. Ini suatu gambaran masyarakat yang memiliki kekuatan ampuh, atau khaira ummah itu. Mudah-mudahan.

    Membantu Ummat Yang Lemah

    Perangai taqwa dan syukur merupakan satu hal yang tidak terpisah. Saling mengokohkan, ibarat aur dengan tebing.

    Taqwa selalu subur dengan syukur.

    Syukur akan senantiasa berbuah karena taqwa.

    Nikmat yang sejati hanya ada pada diri yang selalu bertaqwa dan bersyukur itu. Nikmat seperti itu merupakan kebahagiaan hakiki, yang sanggup dirasakan sepanjang hari, dan menjadi dambaan Mukmin sejati.

    Bagaimana mungkin kita akan dapat merasakan nikmatnya bahagia dan bahagianya nikmat anugerah Allah, pada hari seperti sekarang ini ??

    Akankah kita dapat merasakan nikmatnya bahagia, bila disaat-saat kita semua bergembira ria, kalau disamping kita ada orang yang menangis tersedu-sedu? Sedu sedannya, seakan jeritan tanpa suara.

    Padahal, mereka sedang menangis, memikirkan dan merasakan kehampaan hidup, karena tidak berpunya dan tidak punya apa-apa, kecuali nyawa berbungkus kulit …?

    Akan sirnalah semua kebahagiaan pada hari ini, jika masih ada di keliling kita orang yang dengan nasib dan takdir yang ada padanya, masih menengadahkan tangan mengharap sesuap nasi, untuk dimakan anak beranak, atau karena melihat anak-anak orang lain bergembira berpakaian baru…. Alangkah malangnya nasib badan.

    Padahal sebenarnya. Mereka hanya tidak memiliki kesempatan, belum berkemampuan untuk menggantinya, walau agak sepotong. Karena tidak ada sumber pendapatan, hilangnya lowongan pekerjaan, tak ada pula yang mau berbelas kasih.

    Membiarkan kondisi ini, dan menganggapnya suatu hal biasa, agaknya kita akan digolongkan kepada orang-orang yang disebut-sebut, Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Na’dzu billah .., Kita dianggap sebagai pendusta kebenaran agama, walau masih menyatakan diri pemeluk agama, tetapi sebenarnya sudah jauh tercampak dari ajaran agama.

    Itulah orang yang menghardik anak yatim, yang menyia-nyiakan hak anak yatim. Yang tidak peduli dengan pembinaan generasi.

    Yang melecehkan ratapan para dhu’afak.

    Yang tidak membantu mengatasi problema kemiskinan. Akan tetapi naifnya, malah selalu berupaya mengintip-intip kesempatan …… mencari kaya dengan memiskinkan orang lain …berladang dipunggung orang dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. [2]

    Bahagia Dalam Memberi

    Cobalah dibayangkan. Pada suasana lebaran seperti kita rasakan saat ini. Dipagi hari dikala Rasulullah SAW masih hidup, beliau keluar menuju tempat salat ibadah ‘Idul Fithri. Beliau lihat, seorang bocah termenung menyendiri. Dengan tatapan mata menerawang, dan disampingnya ada teman sebaya bergembira ria, berpakaian baru pembelian ayah. Ditangan temannya ada penganan enak buatan ibu.

    Dari jauh si bocah hanya bisa melihat, sambil menikmatinya dengan bermenung. Alangkah indahnya kegembiraan teman sebaya. Ditemani gelak tawa penuh bahagia. Dilihat diri, jauh berbeda. Dikala itu terasa badan tersisih. Kemana ayah tempat meminta. Kemana gerangan dicari ibu tempat mengadu.

    Dalam situasi seperti itu, Rasulullah SAW lewat menghampiri. Meletakkan kedua telapak tangan Beliau dikepala si bocah.

    Sambil bertanya Rasul berkata, “Kenapa dikau wahai anak? Teman-temanmu gelak ketawa, dikau merana sedih menangis, gerangan apakah yang menyulitkan ?

    Andaikan ada pemimpin zaman sekarang, yang menolehkan pandang kepada silemah, yang tidak pernah mengenal rasa senang. Alangkah indahnya hidup ini ?.

    Dengan nada tersendat, kerongkongan tersumbat, menahan perasaan kekanakan sibocah lugu menjawab, “Wahai Rasulullah, bagaimana diri tak akan sedih, melihat teman bergembira ria, pulang kerumah ada sanak saudara, lelah bermain ada ibu menghibur, duka dihati ada ayah yang menyahuti.

    Sedang diriku wahai Nabi, terasa nian malangnya hidup ini, tiada ibu tempat mengadu, ayahpun sudahlah pergi, badan tinggal sebatang kara. Yatim piatu aku kini……..,”

    Mendengar rintihan kalbu bocah yang bersih, yang mengharap belas kasih dengan tulus seketika, Rasulullah SAW berkata, “…maukah engkau wahai anak, jika rumah Rasulullah menjadi rumahmu, Ummul Mukminin menjadi ibumu …?”.

    Andaikan ada masa kini, pintu rumah terbuka bagi silemah, lapangan kerja tersedia bagi dhu’afak, tentulah merata bahagia ditengah bangsa ini.

    Jawaban spontan Nabi, menjadikan wajah si bocah berseri-seri, walau yang didengar barulah ajakan, tetapi harapan hidup sudah terbuka.

    Diri tidak sendiri lagi.

    Ada pelindung pengganti bunda. Walaupun ibu dan ayah sudah tiada. Serta merta Nabi memangku si bocah. Mencium kedua pipi sianak yang sudah lama …, tidak pernah lagi dirasakannya.

    Sirnalah air mata yang tadinya terurai lantaran sedih dan hampa. Berganti air mata gembira lantaran bahagia.

    Demikianlah satu bukti sangat substansil dari sabda Nabi SAW disampaikan Beliau pada Kotbah Wada’ itu, “Aku dan orang-orang yang menanggung anak yatim, berada di sorga seperti ini (lalu beliau mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, seraya memberi jarak keduanya)” (HR.Bukhari, Abu Daud dan Tirmidzi, lihat Al-hadits As-Shahihah/Al-Bani:800).

    Membangun Jembatan Rasa

    Membangun mawaddah fil qurba, mestilah bersih dari kedurhakaan dan kemunafikan. Jembatan rasa akan kokoh kuat, bila di ikat oleh hati dan jiwa dalam kemasan kalimat tauhid.

    Kesatuan hati dan hati menjadi sumber kekuatan yang ampuh dalam ukhuwah yang integrative.

    Kita tidak dapat membayangkan betapa rusaknya masyarakat yang berlabel ukhuwah tetapi hati mereka tidak mau bertemu.

    Mempertemukan hati dengan hati hanya mungkin dengan kekuatan tauhid. Keyakinan kepada Allah SWT.

    Kekuatan kalimah tauhid, atau kalimatun thayyibah, dapat membentengi ummat dan mampu menjadi kekuatan dalam membina persaudaraan atas dasar ukhuwah imaniyah. Kalimah tauhid adalah seumpama pohon yang kokoh kuat dengan urat menghunjam bumi dan pucuk melembai awan.

    Bentuk kerukunan ummat bertauhid digambarkan oleh Allah SWT..”Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (QS.14, Ibrahim : 24-25).

    Disaat yang mulia, dihari jamuan Allah ini, kita besarkan Asma Allah, agar kita tidak menjadi golongan yang melupakan Allah, yang telah menganugerahi kita nikmatNya.

    Supaya kita tidak terjerembab kedalam kehidupan ummat yang lupa diri.”Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS.59, Al Hasyr :19).

    Mudah-mudahan pada hari ini, kita semua dapat menciptakan suasana gembira dengan kesederhanaan, serta dapat pula menciptakan kebahagian disekitar lingkungan kita.

    ‘Izzatun-nafs, Martabat Bangsa

    Ikhlas memberi mampu mengubah sedih menjadi gembira, sanggup mengubah duka menjadi bahagia.

    Nabi Muhammad SAW. menyebutkan, “Barang siapa yang menggabungkan (menanggung) anak yatim diantara kaum Muslimin, dalam makan dan minumnya, sampai mereka merasa cukup (kenyang) dari makan dan minum itu, maka ia (yang menanggung anak-anak yatim dan dhu’afak) itu pasti memperoleh sorga(HR.Abu Ya’la dan Ahmad, dalam Al Munthaqa min At Targhib (1517) dan Majma’ Az Zawa-id (8/16). Hari ini berapa banyak jumlah anak yang bernasib serupa dikeliling kita. Mereka lemah miskin, karena telah dimiskinkan oleh suasana.

    Diperlukan saling peduli (ta’awun), yang menjadi alas-dasar pembentukan masyarakat berkualitas, sebagai telah digambarkan dalam salah satu semboyan Nabi SAW “tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah”.

    Meujudkan masyarakat bertangan diatas, dimulai dengan menanam keyakinan akan rahmat Allah sebagai masyarakat berpunya, yang memiliki ‘izzah (harga diri), tidak menggantung nasib kepada keinginan orang lain. Harkat martabat bangsa amat ditentukan oleh kemandirian, self help bersikap kaya jiwa (ghinan-nafs) yang mampu berdiri dikaki sendiri. Bersedia membuka pintu hati mengulurkan tangan kepada orang lain dalam rangkaian mutual help (man a’thaa wat-taqaa) dan selfless-help (wa shaddaqa bil husnaa).

    Sikap budaya dalam adat di Ranah Minang, singkek uleh ma uleh, kok kurang tukuak manukuak. Senyatanya, inilah sebahagian modal dasar daerah kita dalam menghadapi UU Otoda No.22 dan 25/1999.

    Satu pelajaran paling berharga, yang dapat kita ambil dari Sunnah Rasulullah SAWOrang yang paling disukai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling disukai Allah adalah yang menyenangkan sesama orang Muslim (artinya janganlah ditaburkan kemaksiatan yang mengundang lahirnya bencana). Kamu hilangkanlah susahnya. Kamu lunasilah hutangnya. Kamu usirlah laparnya. Dan Aku, Muhammad SAW, lebih senang bersama saudaraku dalam satu keperluan yang diatasi secara bersama, daripada beri’tikaf dimasjidku ini, yakni Masjid Nabawi di Madinah, selama sebulan penuh”.

    Pesan Nabi SAW juga menegaskan, “Sembahlah Allah Yang Maha Pengasih. Berilah makanan kepada orang yang lapar. Sebarkanlah salam kepada sesama manusia. Kalian akan masuk sorga dengan selamat” (HR. Tirmidzi (1856), Ahmad (6587, Al Musnad) dan Bukhari (981, Al Adab al-Mufrad)

    Mari kita tumbuhkan kebahagiaan dalam memberi sebagai satu sikap jiwa (mental attitude) yang berguna mengubah dan memberi kecerahan dalam hidup.

    Membesarkan

    Asma Allah

    Berbahagialah kiranya kita pada hari ini, dalam merayakan suatu kemenangan. Kemenangan dari satu perjuangan besar. Mengendalikan diri dan nafsu sebulan penuh di bulan Ramadhan. Kemenangan dalam merebut taqwa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”, (QS.2, Al Baqarah : 183)

    Bersyukurlah kita kepada Allah Yang Maha Esa, yang mengaruniai kita sekalian dihari raya ini, suatu nikmat besar. Nikmat dapat melaksanakan perintah-perintah Nya. Kemudian dapat menikmati Idul Fithri.

    Kembali kepada fithrah yang paling manusiawi. Yang menjadi idaman setiap Mukmin.

    Bergembiralah kita semua, pada hari ini. Tatkala kita mampu menghidangkan suasana gembira. Tidak semata-mata teruntuk bagi orang yang telah melaksanakan puasa Ramadhan. Tetapi juga dapat dinikmati oleh orang-orang disekitar kita. Amatlah wajar, kalau kemeriahan hari ini diisi dengan saling bermaafan. Saling berjabat tangan, mengharap redha Allah. Saling memaafkan diantara kita. Dari anak kepada orang tuanya, dari yang kecil kepada yang besar. Dari antara teman sejawat, sekantor dan rekan sebaya. Dari murid terhadap gurunya.

    Dari pemimpin terhadap rakyatnya. Secara timbal balik. Kepada setiap shaimin, yang baru meninggalkan Ramadhan beberapa jam yang lewat, kita ucapkan pula “minal ‘aidin wal faa izin, wa kullu ‘aamin wa antum bi khairin” …Berbahagialah siapa yang telah kembali dari perjuangan besar, jihadun-nafsi.

    Semoga kemenangan itu selalu membawa kepada keadaan yang lebih baik dalam menanam kebaikan, ditahun-tahun mendatang.

    Disamping kegembiraan itu, sepantasnya pula kita selalu mawas diri. Selalu berhati-hati terhadap kriteria yang disebut Rasulullah SAW, …berapa banyaknya orang yang berpuasa, tetapi tidak ada yang mereka peroleh, kecuali hanya lapar dan haus semata … Na’udzubillah. Mudah-mudahan kita terhindar dari apa yang telah di-gambarkan oleh Rasulullah SAW ini.

    Do’a Penutup

    Allahumma Yaa Rabbana, Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami semua ummat Mu yang memiliki sibghah, memiliki jati diri. Mememiliki keteguhan ‘izzah nafsi, tahu akan martabat diri.

    Yaa Allah, Ya Rabbana,

    Dengan hati yang bersih penuh harap, dengan kedua telapak tangan kami menengadah kepada MU, kami bermohon kepada MU ; Jangan Engkau jadikan kami menjadi ummat buih (ghutsa-an ka ghutsa-as-sail), yang dipermainkan serta diperebutkan oleh orang-orang yang tengah kelaparan, seakan memperebutkan sepiring makanan dihadapan mereka.

    Wahai Allah, Yaa Lathief,

    Hindarkan bangsa ini, bangsa Indonesia yang besar ini dari penyakit wahn, yakni penyakit hubbud-dunya, mencintai dunianya amat-sangat berlebihan sehingga mau menjual diri dan keyakinan mereka. Yaa ‘Aziiz, hindarkan bangsa ini dari penyakit karahiyatul-maut, penyakit enggan beramal dan berjihad dijalan MU.

    Allahumma Yaa Ghaffar,

    Kami menyadari sudah banyak nikmat MU kepada kami. Namun terkadang kami selalu lupa mensyukurinya. Kami sadar telah banyak kesalahan dan kezaliman kami lakukan, sadar ataupun tidak, tapi kami lalai memohon ampun. Yaa Rahmanu Yaa ‘Aziizu, ampunilah kami semua. Ampunilah kedua orang tua kami. Bimbing kami dan pemimpin bangsa kami selalu beribadah kepada MU,

    Yaa Mujiibu,

    Jadikan kami hamba-hamba MU yang selalu beribadah kepada MU, sesuai maksud Engkau menciptakan kami. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

    Allahumma, Yaa Rahiim, Yaa ‘Aziiz, Yaa Jabbar, Yaa badii’us-samawati wal ardhi, Hindarkan bangsa kami dari keruntuhan karena kelalaian orang-orang bodoh ditengah kami. Berikan kami kekuatan dan ketabahan dalam memikul setiap amanah menciptakan kebahagiaan duniawi dan ukhrawi secara tauhidik, integralistik. Hindarkan kami wahai Rahman, dari perpecahan dan poergaduhan yang akan menyebabkan hilangnya semerbak kami.

    Yaa Malikul Quddus, as Salamul Mukminul Muhaimin, Jadikan kami semua hamba yang mencintai Alquran, dan mampu mengamalkan Alquran.

    Dengan Alquran ini, Yaa Allah, Engkau telah keluarkan ummat manusia dari kegelapan jahiliyah kealam terang benderang dengan bimbingan hidayah Alquran,

    Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. (QS.14,Ibrahim:1).

    Tiada yang lain tempat kami meminta, hanyalah Engkau semata. Tiada yang lain yang kami sembah, kecuali hanyalah Engkau saja.


    [1] bacalah maksud dari firman Allah pada QS.2, al Baqarah: 185

    [2] Lihatlah makna terkandung didalam Qs.107, al Maa’uun: 1-3.

    Kemiskinan

    Sumatera Barat, dengan akar budaya Minangkabau, sangat intens (basitungkin) dalam mengantisipasi berkembangnya kemiskinan. Akan tetapi luas dan letak tanah di Minangkabau sebenarnya kurang bersahabat. [1]

    Perlulah pula dimaklumi, sebahagian dari luas lahan dimaksud, sudah didiami anak kemenakan warga transmigrasi. Sejak dari Pasaman, Sitiung, Lunang-Silaut, Solok Selatan. Sebahagiannya pula diolah oleh perusahaan-perusahaan perkebunan, yang menyebar dari Pasaman hingga ke batas Mandailing (Tapsel). Dari Sijunjung hingga ke batas Jambi dan Riau. Begitu pula mendekat batas Bengkulu, di ujung Pesisir Selatan.

    Tanah yang tadinya berada dalam status tanah ulayat Nagari, atau dalam sako pusako tinggi, pelan-pelan berangsur tergeser. Mengiring gerak roda pengembangan wilayah.

    Secara keseluruhan tanah-tanah kosong tadinya, kini mulai ditanami. Pelan-pelan tetapi pasti, menjanjikan mutiara hijau di kepingan wilayah Sumatera Barat.

    Mulai dari tanaman sawit, karet, cokelat, lada/merica, kulit manis, hingga ketela pohon (ubi kayu).

    Masa doeloe seketika tanah-tanah itu belum diolah, hanya dijadikan anak kemenakan sebagai hutan tempat mencari kayu api. Paling tinggi tempat simpanan kayu pembuat rumah atau untuk mencari akar-rotan.

    Persawahan atau perladangan anak nagari semasa itu, merupakan hasil taruko ninik-mamak. Sawah bajanjang bapamatang dan ladang babiteh babentalak. Dari mamak turun ke kemenakan. Begitulah seterusnya.

    Letaknyapun di sekeliling Dusun Taratak. Bahkan ada yang berada di keliling rumah tempat diam.

    Perkembangan dusun menjadi desa, dan nagari masuk lurah, anak kemenakan ikut bertambah. Rumah kecil tak mampu lagi menampung jumlah cucu dan cicit. Bangunan barupun ditegakkan, tanah persawahan menjadi satu-satunya pilihan untuk batagak rumah baru.

    Manaruko hutan menjadi sawah, tidak lagi merupakan kebiasaan masa kini. Sebaliknya yang terjadi, mengurangi areal persawahan menjadi lokasi perumahan.

    Di sinilah ditemui kritisnya masalah peternakan jika dikaitkan dengan sumber pendapatan pertanian.

    Akan tetapi, masyarakat Minangkabau, tidak dapat dikatakan miskin dan belum pula bisa dikatakan berada. Yang jelas, mereka tetap bisa hidup dan bertahan hidup, di areal yang makin terbatas itu.

    Keadaan itu memungkinkan, karena adanya peran budaya Minang yang sedari awal intensif mengantisipasi gejala kemiskinan itu.

    Antara lain, bunyi pantun.

    Karatau madang di ulu,

    ba buwah ba bungo balun,

    marantau-lah buyuang dahulu,

    di rumah paguno balun.

    Adanya kebiasaan merantau menjadikan pemuda-pemuda Minangkabau (Sumatera Barat), mencari hidup di lahan orang lain. Modalnya keyakinan, kemauan dan tulang delapan karat.

    Sementara itu, sang dara (gadis/remaja putri) Minangkabau, tidak pula dibiarkan hidup cengeng. Mereka diajar bertani, merenda, menjahit, menyulam, dan berbagai kepandaian puteri lainnya. Yang sungguhpun, dirasakan bahwa kepandaian-kepandaian semacam itu, kini mulai terasa langka.

    Kalaulah kemiskinan yang ada, tidak dirasakan sebagai bahaya, itu hanya disebabkan karena pandainya batenggang.

    Sesuai bunyi pantun;

    Alah bakarih samporono,

    Bingkisan rajo majopaik,

    tuah basabab bakarano

    pandai batenggang di nan rumik.

    Selanjutnya, kepandaian batenggang itu digambarkan dalam pantun lainnya;

    Latiak-latiak tabang ka pinang,

    hinggok di pinang duo-duo,

    satitiak aie dalam piriang,

    di sinan ba main ikan rayo.

    Falsafah budaya ini, bukannya menelorkan masyarakat yang statis. Sama sekali tidak. Bahkan melahirkan sikap jiwa yang digjaya. Satu iklim jiwa (mentalclimate) yang subur. Bila pandai menggunakannya dengan tepat, akan banyak membantu dalam usaha pembangunan sumber daya manusia di ranah ini.

    Sifat egoistis, memang kurang diminati dalam budaya Minangkabau. Membiarkan kemelaratan orang lain, dengan menyenangkan diri sendiri, mungkin merupakan sikap yang tak pernah diwariskan. Yang ada, hanyalah tenggang manenggang dan raso jo pareso. Menurut bahasa halusnya alur dan patut.

    Mengatasi masalah kemiskinan ditengah kelembagaan masyarakat Minangkabau, terlihat dari usaha dan perhatian khusus terhadap kemakmuran lahiriyah (material).

    Ungkapan itu jelas tersimak dalam untaian pepatah yang menyibakkan arti kemakmuran itu.

    Rumah Gadang gajah maharam

    Lumbuang baririk di halaman

    Rangkiang tujuah sa jaja

    Sabuah si Bajau-bajau

    Panenggang anak dagang lalu

    Sabuah si Tinjau Lauik

    Panenggang anak korong kampuang

    Birawari lumbuang nan banyak

    Makanan anak kamanakan

    Manjilih di tapi aie

    Mardeso di paruik kanyang.


    Berencana Berhemat

    Untuk mewujudkan terpeliharanya kondisi dimaksud, diingatkan sungguh pentingnya perencanaan dan penghematan. Perencanaan yang jauh jangkauannya ke depan, dengan pengkajian potensi yang tengah dimiliki. Penghematan dengan tujuan bisa memahami situasi, untuk mendukung berhasilnya sebuah program yang tengah dikembangkan.

    Perhatian yang dalam maknanya ini, terungkap di dalam kalimat-kalimat;

    Ingek sabalun kanai

    Kulimek sabalun abih

    Ingek-ingek nan ka pai

    Agak-agak nan ka tingga.

    Maka, melupakan dan mengabaikan nilai-nilai luhur budaya ini, akan berarti satu kerugian. Membangun kesejahteraan sebagai upaya mengantisipasi kemiskinan, bertitik tolak pada pembinaan unsur sumber daya manusia.

    Memulainya dengan cara sederhana. Dengan apa yang ada. Yaitu potensi alam yang terbatas, dan menggerakkan potensi yang terpendam di dalam sumber daya manusianya. Terutama di pedesaan-pedesaan.

    Mengembalikan kepada benih-benih kekuatan yang ada di dalam dirinya masing-masing. Melalui usaha-usaha yang terpadu serta berkesinambungan. Dengan mempertajam daya observasi, dan meningkatkan daya pikir masyarakat pedesaan dimaksud.

    Usaha itu berkelanjutan dengan mendinamisir daya gerak serta memperhalus daya rasa. Kemudian meningkat pengembangan daya cipta, dan menumbuh bangkitkan daya kemauan mereka.

    Supaya dapat dikembalikan kepercayaan kepada diri sendiri. Dan ditumbuhkan kemauan untuk melaksanakan sikap mandiri (self help). Sesuai bimbingan Allah:

    “Allah tidak akan memberikan perubahan terhadap apa-apa dengan satu kaum, sampai kaum itu berupaya melakukan perubahan (perbaikan) terhadap sikap jiwa (apa yang ada) dalam diri mereka sendiri.”. (Ar Ra’d, 13:11).

    Kita rasanya tidak perlu segan menyatakan bahwa wangsa Minangkabau hampir seratus persen penganut Islam. Sungguhpun, barangkali satu dua sudah ada yang berpindah keyakinan mereka, karena perpustakaan musim atau pergantian nilai-nilai kebudayaan.

    Begitu eratnya jalinan adat dan agama ini, melahirkan pilinan adatnya bersendi syara’, syara’ bersendikan Kitabullah.

    Islam yang mengajarkan nilai-nilai ukhuwah terjalinlah berkulindan dengan kebiasaan luhur.

    Senteng babilai/Kurang batukuak

    Batuka ba anjak/Barubah basapo.

    Sebagai pengalaman amar ma’ruf, nahi munkar dalam ajaran agama yang dianut.

    Anggang jo kekek bari makan

    Tabang ka pantai ka duo nyo

    Panjang jo singkek pa ulehkan

    Makonyo sampai nan dicito.

    Adat hidup, tolong manolong. Adat mati, janguak manjanguak. Adat lai, bari mambari. Adat tidak, salang manyalang (basalang tenggang).

    Begitulah yang terjadi, sehingga dalam kehidupan seharian, terlihat nyata dalam perbuatan. Karajo baik ba imbauan, Karajo buruak ba hambauan.

    Kalau dalam perkembangan zaman, kebiasaan-kebiasaan lama ini mengalami proses pergeseran nilai-nilai budaya asing.

    Akan tetapi tetap diyakini, bahwa nilai-nilai budaya Minang itu, tidak hilang dan tidak pula habis.

    Ini jelas merupakan sebuah potensi yang bisa digerakkan.

    Dalam kaitannya dengan budaya merantau, terbentuklah pula ikatan-ikatan keluarga di perantauan. Sedari ikatan, dalam hubungan saparuik hingga se taratak, dusun nagari. Sampai kepada lingkungan wilayah yang luas, dari Sikiliang air Bangih, dari ombak nan badabua, sampai ka durian di takuak rajo. Artinya meliputi wilayah adat dan nilai budaya Minangkabau.

    Tujuannya, pada mulanya sekedar ba suo suo. Mempererat hubungan kekeluargaan. Meningkatkan, kepada memikirkan kampuang halaman. Dan berakhir, kepada usaha membangun kampung halaman.

    Belum terdata dengan akurat, berapa perbandingan jumlah orang Minang yang di rantau itu. Apakah jumlah mereka sama dengan jumlah yang tengah menetap di kampung. Atau barangkali beberapa kali lipat dari penghuni ranah sendiri.

    Telah lama terjadi, bahwa orang kampung ikut menikmati hasil orang rantau. Malah sering tersua, sirkulasi hidup kampung ditentukan dari rantau. Mulai dari pembinaan pribadi keluarga, membangun rumah, menebus sawah, hingga membangun sarana umum milik nagari.

    Perencanaan pembangunan nagari, sering tidak dapat dilaksanakan, tanpa diikut sertakan dunsanak yang tinggal di rantau. Begitulah kenyataan yang tersua.

    Namun di dalamnya diakui merupakan satu potensi yang bisa dikembangkan.

    KEKAYAAN orang rantau, mungkin tidak sebanding dengan modal yang tertanam di kampung (nagari). Karena rantau adalah lahan usaha. Umumnya bergerak dalam bidang usaha perniagaan. Sedikit yang menggarap usaha pertanian. Karena adanya ungkapan, kalau akan bertani juga, mungkin lebih baik mengolah lahan di kampung saja.

    Lapangan usaha sebagai ambtenaar kata orang saisuak, sangat diminati orang Minang. Mulai berpalingnya kepada managemen perusahaan-perusahaan swasta. Bahkan dalam usaha mandiri, belakangan ini paling banyak digeluti.

    Lapangan usaha itu, banyak menjanjikan pendapatan yang lumayan. Daripada menanti apa yang ditetapkan berbentuk gaji bulanan. Apalagi lapangan di kantor-kantor pemerintah makin hari makin sempit juga. Dan cepatnya gerak pembangunan bangsa, telah membuka lapangan kerja baru. Kejelian mengkaji kesempatan menyebabkan arus mobilitas horizontal menuju rantau, tak mudah di hempang.

    Kerasnya hidup di rantau, suatu tantangan yang berat. Diperlukan sikap jiwa yang matang. Di samping kemauan keras, dan tulang delapan karat, dibawa juga falsafah budaya untuk pedoman mengarungi lautan kehidupan rantau.

    Falsafah hidup itu, disimak dalam kehidupan keseharian tanah rantau.

    Panggiriak pisau si rauik,

    Patunggkek batang lintabung,

    Salodang ambiak ka nyiru.

    Setitiak jadikan lauik,

    Sakapa (sekepal) jadikan gunuang,

    Alam takambang jadi guru.

    Belajar kepada alam, mengambil pelajaran dari perjalanan hidup yang tengah diarungi. Tidak lain adalah seiring bidal pantun;

    Biduak dikayuah manantang ombak

    Laia di kambang manantang angin.

    Nangkodoh ingek kamudi

    padoman nan usah dilupokan.

    Pedoman dalam menempuh kehidupan itu, dikiatkan;

    Hendak kayo, badikik-dikik (hemat)

    Hendak tuah, batanua urai (penyantun)

    Hendak mulia, tapek i janji (amanah)

    Hendak luruih, rantangkan tali (mematuhi peraturan)

    Hendak buliah, kuat mancari (etos kerja yang tinggi)

    Hendak namo, tinggakan jaso (berbudi daya)

    Hendak pandai, rajin belajar (rajin dan berinovasi)

    Dek sakato mangkonyo ada (kerukunandan partisipatif)

    Dek sakutu mangkonyo maju (memelihara mitra usaha)

    Dek ameh mangkonyo kameh (perencanaan masa depan)

    Dek padi mangkonyo manjadi (pemeliharaan sumber ekonomi)

    Tidak mengherankan, bila tantangan berat di rantau mampu diatasi. Dan sesuatu yang paling menarik, bahwa perantau sanggup mengolah pekerjaan apa saja asal halal. Tidak memilih pekerjaan, dengan motivasi hidup yang tinggi. Kondisi ini membuka peluang kepada percepatan mobilitas vertical dalam bentuk peningkatan pendapatan.

    Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu.

    Nan gurun buek ka parak, Nan bancah jadikan sawah.

    Nan padek ka parumahan, Nan munggu pandam pakuburan.

    Nan gaung katabek ikan, Nan padang kapangimpauan.

    Nan lambah kubagan kabau, Nan rawang ranangan itiak.

    Begitulah pemeliharaan dan pemanfaatan sumber daya alam, secara optimal, untuk kesejahteraan ummat manusia.

    Kekayaan nilai-nilai seperti itu, merupakan modal besar. Dan telah memberikan motivasi yang kuat, dalam upaya mengentaskan kemiskinan di ranah ini. Setidak-tidaknya berperan aktif memintasi, agar kemiskinan itu tidak meruyak. Sungguhpun kenyataan bahwa pengentasannya tidak berubah drastis.

    Benteng Tawazunitas

    Perubahan tata kehidupan secara ekonomis, di tengah perkembangan iptek memang satu keharusan. Perubahan itu tidak bisa ditolak, dan dia akan bergerak terus. Karena diyakini, dunia itu berisi perubahan-perubahan.

    Jika manusia menjadi statis di tengah dinamika perkembangan, maka yang akan ditemui adalah penderitaan.

    Yang perlu dipertimbangkan di tengah perubahan-perubahan itu, obyektifitas-nya.

    Apakah manusia akan menjadi obyek dari perubahan itu? Ataukah, manusia akan berperan aktif memanfaatkan perubahan-perubahan itu, untuk peningkatan mutu kehidupannya. Baik dalam bidang material, ataupun emosional (kejiwaan).

    Jawaban ini, akan banyak tergantung dari kesiapan watak, dari manusia yang menghadapi perubahan-perubahan dimaksud.

    Yang paling tepat barangkali, adalah manusia memanfaatkan perubahan-perubahan, untuk diri mereka. Dan kurang manusiawi, jika manusia diperbudak oleh perubahan-perubahan itu. Yang lebih maknawi, bahwa manusia akan berusaha memilih dan memilah perubahan (inovasi) yang datang. Terapannya adalah, tepat guna dan bernilai guna.

    Ukurannya, dalam manfaat nilai lebih, tanpa mengorbankan nilai-nilai positif yang hakiki, yang sebelumnya telah dipunyai. Dalam kata lain bisa diungkapkan, bahwa perubahan-perubahan (kemajuan) iptek yang mendunia (globalisasi), tidak perlu mengorbankan nilai-nilai adat maupun keyakinan (agama), dari pengendali iptek (manusia) itu.

    Peningkatan tingkat kehidupan (ekonomi), tidak perlu mengorbankan kegotong royongan, umpamanya. Sikap jiwa saling memuliakan, tidak perlu diganti dengan egoistis, (siapa lu, siapa gua). Sebagaimana pernah menjangkiti kehidupan masyarakat lainnya. Akhirnya bisa berkembang kepada hilangnya kepedulian sosial.

    Kita memerlukan benteng-benteng kejiwaan yang kuat. Di antaranya adalah pemeliharaan nilai keseimbangan atau disebut juga tawazunitas, menurut istilah agama.

    Nilai budaya Minang mengingatkan, “sekali aie gadang sekali tapian barubah”. Yang berubah itu hanya tapian saja. Kebiasaan-kebiasaan ketepian, tapi berlaku sebagaimana biasa. Bukan berarti datangnya perubahan (aie gadang), lantas tepian pun ditinggalkan.

    Yang diajarkan adalah perubahan akan selalu ada. Bahkan, dalam menghadapi setiap invasi yang akan datang, selalu diingatkan. Jangan bertemu hendaknya, “Jalan dialih urang lalu. Tepian diasak urang mandi.”.

    Untuk ini diperlukan keteguhan sikap dan pendirian.

    Kita tidak dapat membayangkan, bentuk masyarakat macam apa jadinya, kalau nilai-nilai (norma-norma) sudah menipis. Perlu dipertanyakan. Apakah generasi kini, atau yang akan datang masih dipersiapkan memiliki nilai-nilai budaya mereka? Masihkah nilai-nilai (norma) hukum mereka pertahankan?

    Masihkah, norma-norma agama (nilai agama) mereka minati? Masihkah, nilai-nilai kebiasaan bermasyarakat menjadi kegandrungan untuk dipelihara? Bagaimana, hubungan riil yang terjadi?

    Kecemasan ini beralasan sekali. Karena berkembangnya kecenderungan kehidupan serba boleh (permissive society). Yang dipertahankan adalah hak. Dan melupakan pentingnya terlebih dahulu melaksanakan kewajiban. Nilai agama dan budaya, pada dasarnya berisikan “Declaration of Human Duties” itu. Berisikan piagam dasar kewajiban-kewajiban asasi manusia (masyarakat).

    SUNGGUHPUN ukuran kelayakan telah mengalami perubahan, beriring dengan kadar perkembangan. Akan tetapi, ukuran baik dan buruk, boleh dan tidak, acuan kepantasan (normatif, manusiawi, kemasyarakatan), harus tetap dipertahankan. Diantara ukuran yang kita miliki adalah alur dan patut.

    Jiko mangaji dari alif, jiko babilang dari aso.

    Jiko naik dari janjang, jiko turun dari tanggo.

    Memulai dengan apa yang ada.

    Kita wajib bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta ‘ala, atas mulai meningkatnya taraf kemakmuran masyarakat, dengan ukuran materi. Tetapi kenaikan pendapatan masyarakat ini, menjadi tidak sebanding, dengan kebutuhan yang meningkat deras. Akibatnya pendapatan yang tadinya sebatas pemenuhan kebutuhan primer (pangan, sandang, papan), terserap oleh kebutuhan lainnya (sekunder, prestise).

    Pemilihan mana yang pokok menjadi kabur. Tersebab ukuran keseragaman kehidupan, mulai menjalar di tengah kelompok masyarakat (desa).

    Sering bertemu, kesalahan arah dalam menentukan pilihan. Kebutuhan mana yang didahulukan. Sering pula dikaburkan oleh dorongan bisa mendapatkan lebih mudah. Melalui hutang (kredit) tanpa jaminan, yang menjalar hingga ke pelosok-pelosok dusun.

    Tanpa disadari, bahwa garis yang tadinya dibuat, mau tak mau terlintas. HIngga bayang-bayang tidak lagi sepanjang badan. Dan kemiskinan yang ditakuti itu, kian hari kian tinggi. Dan si miskin pun kian terperosok jauh ke dalam. Jumlahnya pun makin bertambah.

    Di antara lain, penyebabnya karena tidak adanya sumber penghasilan yang ketat. Kehidupan desa yang tadinya hanya mengandalkan hasil pertanian, besarnya tetap segitu gitu juga.

    Pengentasan hanya dimungkinkan, dengan terbukanya sumber pendapatan yang bervariasi.

    Misalnya perkebunan atau peternakan. Bagi daerah-daerah tertentu, bisa dikembangkan pertukangan, kerajinan rumah tangga. Bahkan di pantai-pantai, dapat juga berbentuk nelayan, atau perikanan.

    Di beberapa daerah (wilayah), kesempatan membuka lahan usaha ini sudah mulai tampak Pasaman sebagai contoh, kini mulai bergerak ke arah perkebunan besar kelapa sawit. Ribuan hektar banyaknya. Perusahaan-perusahaan besar nasional telah lama mulai menggarapnya. Diperbanyak jumlahnya oleh perusahaan agribisnis yang ada di daerah sendiri.

    Tanahnya tadi adalah tanah ulayat. Diserahkan sebagai konsesi melalui izin usaha. Bahkan ada yang langsung dialihkan dengan pemindahan hak melalui jual beli.

    Begitu juga di Sitiung (Sijunjung) daerah transmigrasi. Sekarang mulai dilirik Lunang-Silaut (Pesisir Selatan).

    Beberapa daerah lainnya, seperti Alahan Panjang, Bidar Alam, Sungai Kunyit (daerah Solok Selatan) yang berbatasan Jambi, telah pula berkembang ke arah perkebunan Sawit, Karet, Teh dan Cokelat.

    Daerah Limapuluh Kota misalnya, selain perkebunan teh Halaban, mulai pula ke Baruh Gunung, dan Suliki Gunung Emas. Kebun karet rakyat dan pengempaan gambir, mulai agak bernafas dengan leluasa.

    Di kaki Gunung Sago dan Gunung talang, mulai bergerak perkebunan rakyat lainnya. Ada yang berbentuk kulit manis, murbei, markisa. Dan juga tanaman palawija, sedari lobak, kentang, bawang merah dan putih.

    Sebenarnya semua ini, adalah penghasilan yang lumayan, bisa berguna dalam mengentaskan kemiskinan masyarakat pedesaan.

    Idealnya, masyarakat pedesaan itu harus berani memulai. Memulai dengan apa yang ada. Karena yang ada itu sudah cukup untuk memulai. Potensi besar yang dimiliki, yang ada itu, adalah telapak tangan dan potensi alam anugerah Allah.

    Dengan sedikit bimbingan pengetahuan, dan manajemen perusahaan, semua potensi yang potensial itu, niscaya kalau digerakkan akan merupakan potensi yang riil.

    Maka seharusnya dan semestinya-lah perusahaan perkebunan besar di sentra-sentra tadi, mulai membangunkan untuk rakyat pedesaan warga setempat, perkebunan-perkebunan mini.

    Secara selektif, dipilihkan masyarakat desa yang tidak berpunya. Hingga mereka menjadi orang berpunya, (dalam hal ini minimal sebidang perkebunan yang telah jadi).

    Ada sebuah gejala yang mulai terlihat mengenaskan. Yaitu, menurunnya tingkat penghidupan penduduk desa, di sekeliling daerah perkebunan atau daerah transmigrasi.

    Penduduk desa yang tadinya memiliki ulayat, sekarang bahkan ada yang tidak mempunyai sekeping tanahpun, untuk diolah mereka sebagai lahan usaha. Kalaupun ada, modal pengolahan (materil dan pengetahuan) sangat minim sekali.

    Kehidupan masa depan mereka, jadinya kabur dan mungkin saja hilang.

    PROSES kemiskinan bergerak tumbuh lebih cepat dari tumbuhnya komoditas perkebunan yang ditanam.

    Maka, mengutamakan “peserta” perkebunan, dengan mendahulukan penduduk desa sekelilingnya menjadi lebih mendesak. Hendaknya jangan timbul penduduk “desa siluman”, yang memetik hasil dari lingkungan desa, tetapi membiarkan penduduknya tetap merana. Program PIR yang sudah ada, hendaknya lebih selektif disasarkan kepada penduduk yang beul-betul miskin.

    Melalui program terpadu semacam ini, pengentasan kemiskinan niscaya bisa di-entaskan.

    Hal yang sama, bisa dikembangkan pula pada sentra lain-lain. Melalui periklanan, nelayan, pertukangan, home industri, atau usaha-usaha serupa.

    Sepanjang ranah pesisir, mulai dari Sikilang Air Bangis hingga mendekat Muko-Muko, bisa diperbaiki kehidupan nelayan. Warga nelayang yang miskin, secara berangsur-angsur bisa memiliki perahu-perahu pemukat, mesin tempel (motor boat), jaring-jaring pukat dan peralatan lainnya yang layak dimiliki oleh kehidupan para nelayan.

    Peralatan permodalan, berupa mesin jahit, pertukangan, untuk sentra “home industri”, disasarkan juga kepada kelompok miskin.

    Sungguhpun usaha ini telah dilakukan pemerintah. Tetapi keikut sertaan seluruh unsur masyarakat desa dan rantau perlu lebih dipadukan. Peranan informal leader amat menentukan.

    Yang penting adalah, membuat kiat bagaimana kesejahteraan itu bermuara di desa.

    Meningkatnya pendapat masyarakat desa, merupakan sumber pendapatan baru bagi masyarakt kota. Rumus ini tidak perlu diragukan lagi.

    Membentuk desa binaan merupakan langkah awal yang perlu diwujudkan. Usaha ini seiring sungguh dengan garisan Allah Subhanahu wa Taala.

    “Berikanlah kepada karib kerabat (masyarakt keliling, sanak keluarga di kampung halaman) haknya. Begitu pula terhadap orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Janganlah kamu menjadi orang “mubadzdzir” (pemboros, dan melakukan tindakan yang tidak bermanfaat, membuang-buang kesempatan). Karena orang-orang pemboros adalah teman dari Syaithan. Dan syaithan itu sangat inkar kepada Tuhannya.”. (QS. Al Isra’, 17:26-27).

    Bukakan Pintu Hati

    Kalau disadari, bahwa di keliling kita terserak sumber daya yang besar dari umat, yang sedang terpelanting dan menderita, ada berbagai kelompok dan kedudukan. Diantaranya, Pelajar dan Mahasiswa, bekas pegawai-pegawai Negeri Sipil, Militer, pegawai perusahaan-perusahaan swasta dan guru-guru sekolah partikulir (Madrasah-Madrasah), Masyarakat Tani, pedagang kecil dan buruh kecil. Semuanya adalah sumber daya manusia (SDM) yang besar kontribusinya.

    Walaupun diantaranya ada yang invalid, atau yang di tinggalkan oleh yang telah gugur, ada yang menderita tekanan kehidupan, dhu’afak, kehilangan rumah atau pekerjaan. Kesemuanya merupakan kekuatan masyarakat yang perlu di bina untuk ikut berperan aktif dalam proses kehidupan bangsa ditengah bergulirnya roda pembangunan (development) itu. Untuk menghimpunnya, diperlukan usaha dengan berbagai upaya, baik yang bersifat psychologis ataupun technis. Langkah pertama, adalah buka kan “pintu hati” dan “pintu rumah” bagi mereka yang memerlukan bantuan dalam rangka pemulihan kehidupan. Tunjukkan minat kepada mereka dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.

    Andaikata belum mampu memberikan bantuan sewaktu itu juga, sekurang-kurangnya sokongan moril harus diberikan. Hidupkan harapan mereka kepada kekuatan kerahiman Ilahi, suburkan kepercayaan mereka kepada kekuatan yang ada pada diri mereka sendiri, dengan hati yang tulus ikhlas.

    Hati yang lebih tulus dan pikiran yang jernih serta lega akan kembali mengisii harapan. Upaya ini niscaya akan menambah himmah (gita dan minat) untuk bekerja terus. Sekurang-kurangnya, akan menambah daya tahan umat untuk menghindarkan diri dari tindakan menyalahi hukum Syar’iy, maupun urusan duniawi. Sekali-kali jangan ditinggalkan umat dengan bermacam-macam perasaan tak tentu arah. Tanpa pegangan yang pasti, umat akan patah hati dan semangat untuk bisa menjumpai kita kembali.

    Kriteria untuk merebut suatu keberhasilan oleh seorang pemimpin, dalam semua level kedudukannya, adalah selalu berada ditangah umat yang di pimpinnya. “TIAP-TIAP KAMU ADALAH PEMIMPIN, DAN TIAP-TIAP PEMIMPIN AKAN DIMINTA PERTANGGUNGAN JAWAB ATAS YANG DIPIMPINNYA”(Al Hadist Riwayat Al Bukhary, dari Abdullah Ibn Umar) Begitu peringatan Rasulullah SAW.

    Pemikiran (ide) seorang pemimpin walaupun belum selalu komplet dan limitatif, menjadi tidak terbatas bila berpadu dengan pengalaman. Pengalaman disertai kearifan membaca kondisi keliling merupakan pelajaran sangat berharga sebagai penggugah dan pengantar pemikiran. Pengalaman serta daya pikir dan daya cipta, bila dipadukan akan sangat bermanfaat untuk menciptakan kesempurnaan dalam praktek.

    Sambil berjalan kumpulkan data pengalaman sebanyak mungkin, karena tindakan seperti ini bukan barang lama, tidak pula ilmu baru. Syukurlah, bila ada kesadaran akan kenyataan bahwa semua hal baru dapat di kerjakan oleh semua orang, asal mau. Semua barang yang lama itu tetap akan baru, selama sesorang belum mengerjakannya. Yang terpenting selalu mencoba untuk membangkitkan kreativitas dalam berusaha. Sebagai upaya inovatif untuk tetap bersemangat dalam menjalani roda kehidupan ini.

    Barangkali juga dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya. Semboyan amal itu seharusnya adalah; “Yang mudah sudah dikerjakan orang, Yang sukar kita kerjakan sekarang, Yang “tak mungkin” dikerjakan besok” Demikian diantara pesan Bapak DR.Mohamad Natsir (1961).

    Dengan mengharapkan hidayat Ilahi, mari kita sahuti panggilan Allah SWT, “Katakanlah : Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat”!

    Gerakkan Potensi Ummat

    Selalu saja menjadi pertanyaan yang agak sulit dijawab. Tentang darimana bisa diambilkan dana bagi pengentasan kemiskinan itu.

    Pertanyaan selanjutnya, siapa yang berkompeten melaksanakan usaha pengentasan kemiskinan tersebut?

    Bagaimana memulainya? Dan apakah kira-kira usaha itu akan berhasil segera? Barangkali, banyak lagi pertanyaan lainya yang mungkin tumbuh sesudah itu.

    Harus diakui secara sadar, bahwa “pengentasan kemiskinan” itu, bukanlah pekerjaan mudah. Tidak semudah mengucapkannya. Dan hasilnya, juga tidak bisa cepat, drastis dan sekali jalan.

    Secara berangsur-angsur, adalah pasti. Sesuai hukum alam, sebagai satu “sunnatullah” yang telah digariskan. Yaitu, “thabaqan ‘an thabaq”, atau “selangkah demi selangkah”.

    Jika tidak seluruhnya bisa berhasil, bukan berarti pula seluruhnya tidak dikerjakan. Kerjakan juga mana yang mungkin. Inilah dasar dari optimisme cita luhur itu.

    Pandangan ajaran Islam lebih tegas lagi. Setiap muslim, tidak dibebaskan membiarkan saudaranya (tetangganya) kelaparan di sampingnya. Sementara dia tidur kekenyangan. Begitu jelasnya ajaran Rasulullah, Shallallahu alaihi wa sallam.

    Karena itu, tugas ini menjadi beban setiap Muslim yang berada. Fii amwalihim naqqun ma luum. Di dalam hartanya, ada hak orang lain. Hak itu berupa infaq, shadaqah dan zakat.

    Zakat sebagai sumber dana ummat (Islam), pernah berperan membiayai perjuangan kemerdekaan. Lihatlah, bagaimana gencarnya pengumpulan zakat, untuk pembeli senjata, pemberli pesawat udara (Seulawah satu). Dimasa kita berjuang mencapai kemerdekaan dimasa penjajahan kolonial Belanda dahulu (1945).

    Jauh sebelumnya, bahkan hingga kini, zakat merupakan satu sumber pembangunan bidang pendidikan (agama). banyak Madrasah, pesantren, yang telah dibangun dengan “dana zakat” itu.

    Masjid dan Mushalla, barangkali adalah pembuatan toko, kebun, kapal atau pabrik dengan uang zakat. Dan hasilnya diperuntukkan bagi kepentingan si miskin.

    Untuk melakukan studi banding, beberapa negeri tetangga telah lebih dahulu melakukannya.

    Mesir, sudah lebih dari seribu tahun mengelola uang zakat, untuk penguasaan tana-tanah produktif (pertanian), dan sarana-sarana ekonomi (perdagangan, dan pabrik-pabrik). Hasilnya samapai hari ii, menyantuni lembaga pendidikan tertua Al Azhar. Tidaklah berlebihan bila disebutkan bahwa Institut Al Azhar Mesir ini, merupakan institut terkaya, yang mengelola harta waqaf dan zakat.

    Bagaimana soalnya dengan kontraktor? Masihkah zakat dikeluarkan sebagai halnya petani? Sebahagiannya, ada yang mempersoalkan bahwa mereka terikat beban hutang dengan bank.

    Bagaimana pula dengan bank-bank, yang sekarang telah menjadi perusahaan (PT)? Adakah mereka mengeluarkan zakat?

    Pertanyaan juga kepada para pegawai, yang jika dihitung, ada yang mendapatkan gaji, rendahnya Rp. 2,4 juta per tahung? Bahan ada yang lebih, hingga 50 sampai 100 juta? Atau yang yang menengah saja, sekitar Rp 12 juta setahun? Masihkah dipersoalkan, bahwa kami masih dihimpit hutang, karana pembelian mobil dan lain-lainnya, sampai dua atau tiga buah?

    Secara sederhana, bisa dimulai menghitungnya. Berapa besar DIP yang diberikan pemerintah pusat untuk daerah Sumbar tahun ini. Semuanya jelas dikerjakan oleh kontraktor (perusahaan). Kalaulah 2,5 persen dikeluarkan dalam bentuk zakat, barangkali kita memiliki sumber dana sekian milyar rupiah.

    Kalaulah 2,5 persen pula dari keuangan perusahaan besar seperti PT Semen Padang, PT Bank-bank, dan PT-PT lainnya, maka akan bertambah pula sekian ratus juta rupiah, pertahunnya.

    Menghitung, memang lebih mudah daripada memungut atau mengeluarkannya. Disinilah peluang kerja bagi BAZIS. Dan, seharusnya BAZIS itu, menjadi perencana, penghitung, pembagi, dan penggerak. Semacam badan perencanaan pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Penyedia istimewa (sumber pendapatan) bagi orang-orang yang perlu diangkatkan.

    Begitulah angan-angan yang gerangan perlu dikembangkan.

    GEBU MINANG, bisa juga berperan mulai dari rantau. Badan amal ini bisa bertindak sebagai penggerak pula, untuk mewujudkan Desa-desa Binaan. Mungkin dengan mengeluarkan obligasi dan mengajak pihak-pihak berpunya, untuk menanamkan modalnya bagi kesejahteraan anak kemenakan di kampung halaman.

    Mungkin sekali, mengajak kerjasama “Bank Muamalat Indonesia”, dalam bentuk syarikat usaha. Berbagai hasil kelaknya, dengan mengawali pada berbagai tugas dan kerjaan.

    Masyarakat Minang terangnya adalah masyarakat muslim, yang bagi mereka adat dan agama Islam berjalin-berkelindan. Adatnya bersendi syara’ , dan syara’ bersendi Kitabullah (Al Quran).

    Masjid dan Mushalla, serta Lembaga-lembaga Agama Islam, yang selama ini telah berperan sebagai ujung tombak “pengumpul zakat”. Bisa lebih difungsikan, dengan memberikan mutu dan kualitas ummat Islam sendiri.

    Akhirnya, “mass-media”, bisa dimintakan partisipasinya pula. Terutama dalam pengumuman dan pelaporan setiap kegiatan pengumpulan dan pemanfaatan dana-dana ummat. Tentu secara berkala dan bertanggung jawab.

    “Apa yang bisa dilakukan di sini” adalah awal dari gagasan tulisan ini. Kalimat itu juga mengakhirinya. Terpulanglah kepada kita, darimana akan dimulai. Menggerakkan potensi ummat dengan mengharap ridha Allah, adalah tujuan utamanya.

    “Allahumma zidha ‘ilman”. Wahai Allah, tambahlah ilmu kami. Ilmu yang bermanfaat yang bisa dikembangkan, bisa diaplikasikan menjadi kenyataan. Karena Engkau tela berfirman,”Sesiapa yang telah Engkau berikan hikmah (yakni ilmu yang bermanfaat, bisa diterapkan untuk menciptakan kemaslahatan ummat banya, atas dasar ridha Engkau). Berarti mereka telah Engkau anugerahkan kebaikan yang besar.” (Al Quran)


    PENGENTASAN kemiskinan, dengan pengertian usaha bersama-sama mengurangi tingkat kemiskinan perlu ditampilkan. Perlu dipentaskan. Karena usaha mengatasi kemisikinan di tengah kehidupan ummat, sesungguhnya merupakan usaha yang mulia.

    Agama Islam, dengan mempedomani Al Quran dan Sunnah Rasulullah selalu memberikan perhatian yang besar serta berkesinambungan terhadap masalah sosial ini. Ajaran Al Quran amat memperhatikan usaha-usaha penanggulangan kemiskinan.

    Tidak diragukan lagi, ayat-ayat pertama dari Mashhaf Al Quran, memberikan ciri-ciri sifat dan sikap seorang Muttaqin (orang yang bertaqwa). Diantaranya, orang yang percaya kepada Yang Ghaib (Allah), mendirikan shalat serta membelanjakan sebahagian rezekinya (hartanya) untuk kemaslahatan ummat banyak. Artinya, memberikan perhatian penuh terhadap kehidupan orang-orang miskin. Seperti tertera dalam Wahyu Allah, Surat Al Baqarah, 2 : 3 (Al Quran).

    Karena itu, seorang Muslim seyogyanya tidak perlu merasa sungkan dan segan, dalam berusaha mementaskan setiap usaha ke arah pengentasan kemiskinan.

    Al Quran yang menjadi pedoman setiap Muslim (jumlah kita diakui terbanyak di Dunia ini), seyogyanya mengambilkan pelajaran tentang cara-cara yang diajarkannya guna mengentaskan kemiskinan ummat.

    Karena sudah pasti, yang terbanyak di antara ummat yang berada di bawah garis kemiskinan itu, tentulah Muslim pula.

    Al Quran menceritakan, di kala seorang kafir (yang menolak ajaran Allah), dimasukkan ke dalam neraka, mereka ditanya, Apa sebabnya mereka tercampak ke dalam kehinaan (Neraka) ini. Jawabnya karena, pertama, Kami bukanlah termasuk golongan orang-orang yang shalat.

    Kedua, Kami tidak hendak memberi makan orang miskin.

    Ketiga, Kami asyik membicarkan kebathilan. Tanpa berusaha sedikitpun menghapus kebathilan itu. Habis hari karena berbincang. Tak ada waktu tersisa untuk mengubah kepincangan-kepincangan.

    Keempat, Kami mendustakan hari pembalasan (hari akhirat). Keyakinan mereka hanya terpaut kepada hal-hal duniawiyah semata. Yang ada hanya pemikiran masa kini, di sini. Tidak ada sama sekali berpikir dan berbuat untuk hari esok. Hari yang pasti didatangi setiap diri. Nanti, setelah mati.

    Keterangan tersebut jelas diterangkan Allah dalam Firman Nya, Al Quran Surah ke 74, Al Muddatsir ayat 40 – 47.

    Yang menjadi titik perbincangan adalah memberi makan orang miskin.

    Ruang lingkungan luas. Termasuk memberi makan, juga adalah menyiapkan sumber atau lahan usaha bagi si miskin. Hingga setiap saat mempunyai harapan dari hasil garapannya. Mereka tidak lagi disibukkan mengumpulkan sesuap nasi atau setekong beras untuk makan gari ini. Tapi, sudah mempunyai sumber usaha yang menghasilkan makan setiap hari. Untuk dirinya sendiri dan untuk keluarganya pula. Jadi, usaha melahirkan kemandirian.

    Secara konvensional, yang disebut miskin itu peminta-minta. Dia tidak punya kerja, kecuali hanya meminta-minta. Sungguhpun mereka punya hak untuk meminta-minta kepada orang yang berpunya (lihat Surat Adz Dzariyat, 51:19-20). Tapi sama-sama tidak bermartabat, membiarkan diri selalu menjadi peminta-minta. Atau juga tidak mulia tindakan si kaya yang memupuk terpeliharanya kebiasaan orang yang selalu meminta-minta.

    Dalam sebuah ajaran Rasululah Shallallahu ‘alaihi wassalam ditegaskan, “Mencari kayu api ke hutan, mengikatnya dan kemudian menjualnya, (berusaha dengan tangan sendiri, memeras keringat), kemudian hasilnya kamu terima, dan kamu makan berserta keluarga di rumah. Usaha demikian itu lebih bermartabat, daripada kamu berkeliling menengadahkan tangan meminta-minta, diberi ataupun tidak diberi oleh orang lain. Allah lebih senang kepada tangan yang di atas daripada tangan yang di bawah (peminta-minta).

    Menelurkan Harga Diri.

    Umar bin Khattab, memberikan arahan lebih keras. Tatkala dilihatnya seorang pemuda, duduk mendo’a menengadahkan tangan meminta rezeki. Tanpa berusaha meninggalkan pojok dinding Ka’bah. Sedari pagi hingga malam, hanya berseru dengan nada memelas.

    “Wahai Tuhan, berilah aku rezeki harta”. Begitulah yang didengar Umar bin Khattab, keluhan remaja yang memiliki tubuh sehat dan otot perkasa.

    Dengan nada keras, sembari mengancam dengan mata pedang, Umar mengingatkan,

    “Wahai pemuda. Janganlah sekali-kali kamu hanya pandai menengadahkan tangan, meminta-minta diturunkan rezeki harta. Kamu harus tahu, sejak langit berkembang, Allah tidak pernah menurunkan hujan emas dan perak. Gerakkan tanganmu! Allah akan beri kamu rezeki.”.

    Peringatan keras ini, memiliki ajaran dan pandangan yang sungguh dalam.

    Larangan meminta-minta. Tumbuhkan sikap berusaha. Melahirkan etos kerja yang tinggi. Sebagai pembuka jalan bagi pintu rezeki.

    Di sinilah terdapat salah satu kunci. Mengentaskan kemiskinan melalui “pemberian pelajaran”, menunbuhkan “harga diri”. Menumbuhkan “rasa malu” selalu menjadi beban orang lain. Jadi, harus ada program jelas untuk mengubah sikap kebiasaan.

    Orang miskin adalah orang yang serba kekurangan. Orang yang berkekurangan lantaran tidak mempunyai apa-apa. Tidak memiliki mata pencaharian. Tidak mempunyai kepandaian dalam mencari nafkah. Mereka perlu dibantu dan diangkatkan derajatnya.

    Dicarikan baginya lahan dan lapangan pekerjaan. Dibuatkan untuk mereka sumber pengidupan. Dididik mereka untuk bisa berusaha untuk hidup. Ajarkan mereka arti dan makna “madiri” dalam bentuk perbuatan dan kenyataan.

    Lebih halus ta’rif atau definisi yang diberikan Rasul Shallallahu ‘alaihi wassalam, sebagaimana diriwatkan Bukhari Muslim dalam shahihnya.

    “Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta (sebagai pemulung), agar diberikan kepadanya sesuap nasi atau sebuah dua biji korma. Tapi orang miskin itu, adalah mereka yang hidupnya tidak layak berkecukupan. Kemudian mereka diberi sedekah, dan sesudah itu mereka tidak pergi lagi meminta-minta kepada orang lainnya.”. (HR. Bukhari dan Muslim, Shahih Insya Allah).

    Hadist lainnya menyebutkan;

    “Orang miskin itu, hanyalah orang yang menjaga kehormatannya.”.

    Mereka perlu mendapatkan perhatian. Terhadap nasib mereka perlu ditumbuhkan kepedulian yang tinggi.

    Perangi Kemiskinan,

    Kemelaratan dan Kebodohan

    Pelunturan kadar ummat Islam lebih banyak disebabkan berjangkitnya wabah “kemelaratan” dan “kebodohan”, pada sebahagian besar ummat alternatif ini.

    Walaupun sebenarnya sinyal Al Quran menyebutkan bahwa posisi ummat itu berada pada papan atas, sesuai Firman Allah ; “Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnasi, ta’muruuna bil ma’rufi wa tanhauna ‘anil munkari, wa tu’minuuna billahi”, artinya sebenarnya kamu adalah umat terbaik yang di tampilkan di tengah kehidupan manusia, karena kamu senantiasa mengajak kepada yang ma’ruf dan menegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah. (QS.

    Shibghah (identitas) sebagai “umat terbaik” itu, tidak akan terwujud bila kadar ummat itu tersungkup oleh kemelaratan (baik secara fisik, materiil, dan keyakinan atau keimanan kepada Allah Yang Maha Esa). Kadar ummat itu pun akan luntur tersebab oleh kebodohan yang membelit seperti kebiasaan meniru apa yang ada pada orang lain tanpa memilih dan memilah bentuk yang akan ditiru itu (kerangka piki­ran, pandangan, dan polah tingkah), dalam fenomena kehid­upan aliran.

    Kemelaratan adalah musuh besar kemanusiaan, memelukan perlawanan gigih melenyapkannya, sesuai peringatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam “hampir saja kefakiran (kemelara­tan) itu yang membuka peluang untuk kufur (durhaka dan menolak kebenaran ajaran agama“.

    Kemelaratan adalah hasil sikap perbuatan manusia, seperti dalam memenuhi kebutuhan melalui kredit dan riba, dan hilangnya ukuran kepantasan dan kepatutan. Kemelaran juga terlahir karena hilangnya etos kerja, serta berjangkitnya perangai malas dan lalai (syaithaniyah). Kemelaratan, berkembang menjadi wabah di tengah ummat tatkala berdampingan dengan kebodohan.

    Kebodohan dalam membuat perhitungan serta pernilaian, terhadap urgensi, efisiensi, dan kurang teliti dalam melakukan pengukuran antara bayang‑bayang dan badan, atau antara pasak dengan tiang.

    Pada hakekatnya riba (kredit lunak berbunga besar), atau pinjaman yang salah penerapannya akan berakibat “meningkatnya harga barang yang normal menjadi sangat tinggi”, atau berpengaruh besar terhadap neraca pembayaran antar bangsa, kemudian berakibat melejitnya laju inflasi, akibatnya akan dirasakan pada semua orang pada semua tingkah penghidupan.

    Benih malas dominan mewarnai bangsa yang melarat dan bodoh, tumbuh subur pada generasi yang tidak memiliki kemampuan mengatur diri sendiri (mandiri) yang pada giliorannya terpaku pada konsepsi orang yang lebih kuat, membuka peluang eksploitasi manusia di tengah‑tengah manusia yang merdeka. Generasi yang malas dan bodoh mustahil diharap­kan memimpin bangsanya karena tidak memiliki aset apa‑apa (bernilai kosong) untuk dipersandingkan pada arena dunia kompetisi, terutama pada abad dua puluh satu, akan berpeluang dikutak‑katik‑kan orang lain, lantaran terlahir bermentalkan itik yang bisa dihalau hanya dengan sebilah ranting.

    Inilah problema yang akan di hadapi di abad mendatang, di saat dunia akan digeluti oleh persaingan yang keras dan perlombaan yang tajam, pada era persaingan bebas. Kebodohan serta segala keterbelakangan yang mendera umat Islam diberbagai belahan dunia saat ini sangat wajar dipulangkan kepada umat Islam. Dia harus benar‑benar menjadikan ajaran Allah sebagai sumber keberkatan kehidu­pannya. Sebaliknya, umat Islam itu maupun sebagai aparat pemerintahan maupun sebagai rakyat biasa, sangat wajar berusaha terus‑menerus menimba ilmu pengetahuan yang ada dalam kitab suci Alquran. Serta menjadikan Alquran benar‑benar sebagai pedoman hidup untuk mencapai kesejahteraan di dunia maupun di akhirat.

    Kajian menjadi sangat penting, bila kita sadari bahwa pelunturan kadar ummat Islam di negara ini, akan berakibat fatal bagi hilangnya kekuatan nasional, pada lebih dari 85 prosen penduduk negeri tercinta, Nusantara Indonesia, yang di awali dari hilangnya kesadaran berbangsa dan pudarnya semangat kebersamaan. Kalaulah umat Islam masih saja “mendua”, maksudnya tidak sepenuh hati menjadikan Alqur’an sebagai pedoman hidup, maka selama itu pulalah umat Islam akan ditimpa berbagai macam kegelisahan dengan berbagai bentuk penderitaan. Sebab, umat Islam yang menderita itu, tidak bisa dilepas­kan dari keingkarannya pada kebenaran ayat‑ayat Alqur’an. Oleh sebab itu, marilah kita benar‑benar menjadikan Alqur­’an sebagai pedoman hidup yang membawa kesejahteraan secara keseluruhan. Wallahu a’lamu bis-shawaab.

    Fakir dan miskin, adalah bayangan kehidupan yang berbahaya. Bahayanya jelas digambarkan oleh Rasulullah. Beliau berkata, “Hampir-hampir kefaqiran yang membawa kekufuran”. Walaupun tidak selamanya orang kufur itu terdiri dari orang fakir. Atau sebaliknya tidak pula selamanya orang berpunya terjauh dari kekufuran.

    Namun, dapat disimak terminologi sosialnya, bahwa kekufuran itu terbuka itu terbuka pada salah satu pintunya kefakiran.

    Maka mengatasi kefakiran dan kemiskinan, bermakna menghambat peluang kearah kekufuran. Disini terletak satu peran utama setiap muslim yang mampu. Kewajiban asasi, dalam kaitannya dengan “hablum minan saasi” atau hubungan horizontal antara sesama manusia (Muslim).

    Dalam hubungan ini, Ali bin Abi thalib mengandaikan. “Andaikata, kefakiran atau kemiskinan mewujudkan dirinya dalam sosok tubuh seperti manusia, niscaya aku akan cabut pedangku. Aku tebas batang lehernya. Sehingga kemiskinan (kefakiran) itu tidak sempat hidup ditengah kehidupan manusia banyak.”.

    Demiakian Ali bin Abi Thalib, mengumumkan perang terhadap kemiskinan (kefakiran).

    Akan tetapi Umar bin Khattab, langsung mementaskan di arena kekhalifahan beliau. Bagaimana beliau sendiri berperan langsung dalam mengentaskan kemiskinan di zamannya.

    Diantaranya tersebut kisah, bahwa Umar bin Khattab selalu melakukan perjalanan incognito, ke pelosok-pelosok desa, ke gubuk-gubuk reot. Melihat dan meneliti keadaan kehidupan masyarakat kalangan bawah.

    Di suatu malam, Umar bin Khattab mendengan suara tangisan anak-anak dari sebuah gubuk. Terdengar pula dendangan ibu menentramkan tangisan anak itu.

    Setelah mendekat, Umar bin Khattab meminta izin kepada sang Ibu agar diperbolehkan masuk. Dalam dialog pendek, dari sang ibu didapat penjelasan, bahwa dia berusaha menenangkan tangisan anaknya yang tengah kelaparan. Untuk menghubur dan menenangkan anak menjelang tidur, ibu itu sengaja merebus batu.

    Umar bertanya kepadanya, “Wahai ibu, kenapa ibu tidak datang saja kepada Amirul Mukminin (Umar bin Khattab), untuk meminta pangan? Sehingga tidak perlu berbohong terhadap anakmu?”.

    Sang Ibu menjawab, “Seharusnya Amirul Mukminin tahu tentang nasib rakyatnya.”.

    Umar segera bangkit dan pamit dengan wajah duka. Di dalam hatinya berkecamuk rasa iba dan tanggung jawab. Memang kewajibannya, membela rakyatnya yang miskin.

    Dia kumpulkan gandum yang ada dirumahnya. Dimasukkannya ke dalam karung. Dipikulnya sendiri dengan pundaknya. Dibawanya juga di malam hari itu, ke rumah ibu yang merebus baru untuk anaknya yang kelaparan.

    Dia masak sendiri gandum bawaannya hingga matang. Siap dihidangkan sebagai makanan yang layak. Dia berikan kepada anak yang tengah kelaparan itu. Diapun bergurau dengan anak itu sampai sang anak tertidur. Tidur bukan karena lapar. Tapi tidur dengan perut berisi.

    Demikian salah satu bentuk adegan, bagaimana Umar bin Khattab “mementaskan” usaha-usaha mengentaskan kemisikinan di zamannya.

    Yang dapat dipetik dari pementasan itu, usaha-usaha pengentasan kemisikinan, perlu dilakukan secara nyata. Tidak sebatas keinginan dan teori belaka.

    Umar bin Khattab menjadi orang yang pertama dalam banyak hal. Pertama mendirikan baitul-maal, (pembagian warisan). Juga pertama kali mengirimkan bahan makanan melalui Laut Merah dari Mesir ke Madinah. Menetapkan pengenaan zakat atas ternak kuda. Menyediakan gudang-gudang yang berisi gandum (bahan pangan) bagi orang-orang yang kehabisan bahan makanan (fakir miskin).

    Zakat dan Prinsip

    ZAKAT merupakan satu institusi yang dapat dipakai sebagai alternatif bagi pengentasan kemiskinan ummat. Minimal terbatas bagi kalangan Muslim. Di tengah kehidupan sesama muslim.

    Atas dasar, “Saling bertolonganlah kamu atas kebaikan dan ketaqwaan”. (QS. Al Maidah, 5:2).

    Dengan demikian Al Quran, meletakkan prinsip ta‘awunitas atau partisipatif (saling tolong bertolongan untuk kebaikan dan ketaqwaan). Tidak ada prinsip ta’awunitas itu untuk keburukan maupun kema’shiyatan.

    Harus dibedakan, antara zakat dengan infaq dan shadaqah, dalam kaitannya sebagai perintah Allah. Walaupun diakui semuanya merupakan sumber dana ummat.

    ZAKAT merupakan dana yang wajib dikeluarkan, wajib di-tagih, wajib di-pungut, dari pemegang dana.

    INFAK dan SHADAQAH lainnya (diluar zakat), harus digalakkan untuk dikeluarkan, sebagai alat untuk meningkatkan ukhuwwah (solidaritas) dan jihad ff sabiilillah (peningkatan amaliyah dalam meningkatkan dan mempertahankan aqidah dan kaedah di jalan Allah).

    Zakat, sebagaiman halnya shalat, merupakan satu arkaan min arkaanil-Islam. Sendi-sendi dari Islam. Zakat merupakan rukun (sendi) Islam yang ke-empat, setelah syahadatain, shalat, dan shaum (puasa).

    Dalam Kitab suci Al Quranul Karim, selalu diseiringkan perintah shalat dan zakat ini. Hingga dapat dikatakan, zakat inilah yang membedakan apakah seseorang itu mukmin atau kafir (munafik).

    Orang mukmin yang benar, selain mempercayai hari akhir, serta mengerjakan shalat, dan tidak mempersekutukan Allah, juga seorang pembayar zakat.

    Karena Al Quran selalu menghubungkan antara shalat dan zakat, maka para sahabat Rasulullah (salafus-shalih), selalu berperdapat, antara keduanya tidak boleh ada pemisahan.

    Al Quranul Karim juga menyebutkan zakat dengan kata-kata shadaqah. Bermakna shadaqah yang wajib. Sebagai pembuktian atas pembenaran perintah Allah, yang melekat pada harta benda seorang mukminin.

    Membayarkan zakat kewajiban muslim, sama halnya dengan kewajiban shalat. Maka memungut zakat dari seorang yang berkewajiban zakat merupakan perintah Allah pula. (At Taubah, 9:103). “Ambillah (pungutlah) dari sebahagian harta mereka sadaqah (zakat).

    Dalam pelaksanaan pemungutan zakat, harus ada satu badan. Bagi negara-negara Islam, perintah pemungutan datangnya dari Kepala Negara (Amirul Mukminin). Tentu melalui satu penegasan perundang-undangan, sesuai dengan Kitabullah. Untuk daerah kita, bisa dilakukan oleh Baitul Maal atau BAZIS.

    Karena itu, dalam pandangan Al Quran (Islam), seorang belum dapat disetarakan dengan orang-orang yang bertaqwa, sebelum dia mengeluarkan sebahagian hartanya (berupa zakat). Tanpa zakat, seseorang terjauh dari rahmat Allah.

    Kewajiban Asasi

    Tatkala Rasulullah mengirimkan utusan ke Yaman, bernama Mua’adz bin Jabal, Nabi menginstruksikan beberapa patokan yang harus dijalankannya. Antara lain, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam shahihnya.

    “Kau akan berada di tengah ummat Ahli Kitab. Ajaklah mereka mengakui, tidak ada Tuhan selain Allah dan Saya (Muhammad) adalah Rasul-Nya.

    “Bila mereka menerima (mengakui), beritahukanlah kepada mereka, bahwa mereka wajib melaksanakan shalat lima kali dalam sehari semalam.

    “Bila mereka telah menjalankannya, beritahukan pula, mereka diwajibkan mengeluarkan zakat, yang dipungut dari orang-orang kaya dan dikembalikan kepada orang-orang miskin.

    Dan bila mereka menjalankannya (shalat dan zakat ), maka kau harus melindungi harta kekayaan mereka itu. Selanjutnya rasulullah menegaskan lagi .

    “Dan takutlah kepada doa-doa orang yang teraniaya (diantaranya orang-orang miskin). Karena antara doa orang teraniaya dengan allah tidak ada batas (penghalang)“ (HR.Bukhari muslim, dari Anas Radhiallahu “anhu).

    “Aku diperintahkan memerangi manusia, kecuali bila meraka meng-ikrar0kan syahadat, bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul Allah (kemudian) mendirikan Shalat dan membayarkan zakat”. (HR.Bukhari Muslim).

    Peringatan Rasullulah lainnya, berbunyi “Bila shadaqah (zakat) bercampur dengan kekayaan laian. Bila harta kekayaan tidak dikeluarkan zakatnya . Kekayaan itu akan binasa “ (HR Bazar dan Baihaqi , liaht Nailul Authar, jilid IV-126).

    Jelaslah zakat itu bagi seseorang Mukmin yang memiliki harta kekayaan, memiliki beberapa fungsi ,

    1. Perintah Allah (tanda pembenaran syahadat da shalat)

    2. Pembesih harta kekayaan

    3. Pengentasn Kemiskinan ummat, karena ditujukan kepada orang miskin.

    4. Sumber dana ummat, penggunaanya diarahkan kepada obyek tertentu (hasnaf delapan)

    5. Pembeda antara Mukmin & Munafik

    Kehidupan sehari-hari menberiakan bukti nyata “tidak ada orang yang melarat lantaran mengeluarkan zakat“. Bahkan sebaliknya yang sering bersua, orang kaya (Muslim), akhirnya tidak pernah mengenyan ketentraman , lantaran selalu menahan hak zakat..

    Zakat wajib dikelola dengan management yang benar. Sumbernya menjadi jelas, sebagai mana ditetapkan Al-qur’an. Setiap muslim yang mempunyao harta, wajib berzakat. Kewajiban demikian ditentukan berdasarkan batas (hisab) dari segi jumlahnya . Batas juga dari waktu (haul), dalam setahun. Dan batas besarnya kewajiban yang wajib dikeluarkan . Sedari tingkat 2,5 (dua setengah) persen, 5 persen, 10 persen, bahkan ada yang sampai 20 persen dari besarnya kekayaan (hisab).

    Penerima zakat, juga dijelaskan dengan tegas. Antaranya Al Quran Surat At Taubah (IX) ayat 60. Ayat dari Firma Allah tersebut menjelaskan penerima zakat tersebut adalah “orang-orang”. Subjeknya kelompok perorangan. Terdiri dari (1) .orang fakir (2) . Orang Miskin (3). Orang (para) Amil (pengelola zakat ). (4). Orang (para) Muallaf yang dibujuik hatinya. (5). Mereka (orang) yang diperhamba (membebaskan perbudakan ). (6). Merka yang dililit hutang (mandi hutang). (7). Jihad dijalan Allah . (8). Dan orang yan gterlantar dalam perjalanan .

    “Demikian diwajibkan Allah Maha Tahu Maha Bijaksana (QS 9 : 60).

    Lima kelompok dari delapan asnaf ini adalah orang-orang yang amat memerlukan perhatian khusus. Karena mereka tengah berada ditepi jurang kemelaratan. Mereka adalah fakir,miskin, budak yang diperhamba, orang yang dililit hutang dan yang terlantar dalam perjalanan.

    Dua kelompok tengah berhadapan dengan medan dakwah illallah . Ya’ni, Muallaf dan fisabilillah. Kelompok yang dengan kesadaran hati mereka menerima Islam, Problema yang dihadapi mereka bukan sedikit. Kadang-kadang berbentuk pengucilan dari kelompok (agama) anutan lamanya.

    Mereka cenderung tengah berproses kearah kemiskinan, jika tidak segera diantisipasi.

    Sebagaimana juga halnya “fisabilillah “. Merka tengah berjihad. Bisa sebagai pejuang di meda laga, karena mempertahankan aqidah Islamiah. Bisa juga mereka yang tengah berdakwah didaerah sulit.

    Ruang lingkup fisabilillah ini cukup luas. Bisa juga mereka yang tengah menuntut ilmu pengetahuan, kemudian berkewajiban kembali ke tengah ummatrnya, membina dan mencerdaskan kel;ingkungannya.

    Pada hakekatnya, mereka bukanlah berjuang untuk diri sendiri, tetapi untuk kepentingan orang banyak . Atas redha Allah semata. Maka mereka perlu mendapatkan perhatian yang mendalam.

    Kesemua kelompok itu, mendapatkan porsi dari sumber zakat menurut prioritas secara kondisional dan situasional. Pengelolaanya adalah “amil” zakat. Untuk itu, mereka berhak mendapatkan bahagian. Intisarinya agar amanah untuk pihak-pihak yang diprioritaskan, tidak menyimpang kepada yang lainnya . Terciptanya keadilan dan pemerataan sesuai dengan program yang hendak dikembangkan. Amil zakat tetap akan menerima bahagian dari zakat itu, walau merka terdir dari orang-orang berpunya juga. Terserah apakah bahagian imerka akan mereka nikmati berbentuk materi, atau akan mereka kembalikan lagi dalam bentuk shadaqah. Semuanya ini lebih banyak ditentukan oleh kualitas pribadi para amail.

    Bahkan ada kalanya orang-orang “berduit” yang diberi amanah sebagai “amil” zakat, bisa meniru aa yang dilakukan oleh Kaum Anshar (Madinah) terhadap kaum Muhajirin, dalm sejarah Hijrah Rasullullah Shallallahu a’alaihi Wa Salam..

    Mulianya sikap merka seperti diceritakan Allah di dalam Al Hasyr (QS.LIX) ayat -9 , antara lain mereka tunjukkan kasih sayang kepada orang berpindah ke kampung mereka, (Dewasa ini sebagai program Transmigrasi .Pen).

    Dan tidak meraka menaruh keinginan dalam hati terhadap apa yang diberikan kepada merka (yang berpindah itu). Bahkan mereka utamakan kawannya lebih dari diri mereka sendiri meskipun mereka dalam kesusahan (pula)..

    Begitu kira-kira bentuk-bentuk dari kualitas ummat, yang terbina karena iman mereka terhadap Allah. Hidup dalam kehidupan redha Allah.

    Harus dipungut

    Tidak pantas, zakat dihitung oleh pemilik harta kekayaan, menurut keinginan dan kepentingannya semata.

    Zakat harus dipungut. Karena itu institusi “amil” perlu membagi dirinya menjadi pemungut (collector) dan pembagi zakat (distributor).

    Demi memudahkan para pemungut (kolektor,amil) dalam menjalankan tugasnya maka kemajuan iptek sekarang ini, memungkinkan sekali untuk menyusun lebih dahulu kohir (formulir zakat) .

    Selengkapnya dapat berisikan cara-cara yang tepat dan mudah bagi pemilik harta kekayaan untuk menghidupkan semangat berzakat. Juga memudahkan menghitung berapa sesungguhnya besar zakat mereka yang semestinya dikeluarkan.

    Akan salah kiprah jadinya, kalau ditemuinya juga pembayar zakat hanya mengeluarkan berupa kain sarung tua, ampelop uang di akhir tahun . Sebagaimana biasanya di bulan-bulan Ramadhan . Kemudian membagikan secara merata kepada siapa saja yang menurutnya pantas . Karena mungkin sasarannya kurang tetap. Dampaknya bisa berakibat memperbanyak jumlah orang miskin. Pendistribusian zakat perlu dipandu oleh Amil Zakat. Hal ini akan mempermudah terlaksananya “pementasan “ dan “pemintasan” dari usaha-usaha ke arah “pengentasan kemiskinan” ummat..

    Zakat sesungguhnya bukanlah milik pembayar zakat. Zakat adalah “harta milik Allah”, yang diamanahkan untuk dibayarkan kepda orang-orang tertentu “ yang ditentukan oleh Allah. Mungkin saja terjadi,pemilik zakat menyerahkan kepada badan (amil) tertentu . Tersebab karena keragu-raguan hati semata. Apakah zakatnya sampai kesasaran atau tidak.

    Maka dalam hal demikian itu menjadi tugas pokok dari amillah untuk mengumumkan pertanggung jawaban secara terbuka kepada ummat. Bisa sekali dengan memanfaatkan media massa yang ada dan menjangkau seluruh lapisan ummat.

    Pantas,pintas dan pentas

    Zakat sebagai penghapus kemiskinan telah dipentaskan sejak mas aRasullullah Shallalahu ‘alaihi Wassalam. Dalam sebuah hadist, sebagai mana diriwayatkan Bukhari Muslim, Rasullullah mengingatkan, “Meminta-minta tidak halal kecuali salah seorang dari tiga beban “. Pertama ,”orang yang menanggung beban berat (tidak mampu memikul sendiri ),maka baginya halal meminta “,Ketiga “orang yang dibalut kemiskinan maka baginya pun halal meminta sampai dia kembali tegak dan hidup secara wajar “.”Selain dari tersebut diatas haram baginya makan hasil meminta-minta.“. (HR.Bukhari Muslim, dari Qabishah al Hilali).

    Batasan dan larangan Rasulullah ini, membuka peluang boleh meminta sampai terangakat kemiskinan dan di dalamnya terkandung makna berilah kepada seorang miskin sessuatu yang menyebabkan sesudahnya di a bisa hidup wajar (terangkat kembali dari garis kemiskinan).

    Hidup layak, sebagai ukuran “kepantasan“, bervariasi sesuai kondisi kehidupan ummat dikala itu. Makanya kalangan miskin diangkat melalui pendidikan, pengajaran bagaimana membina hidup yang layak. Mengajarkan cara-cara mengolah kehidupan. Siap untuk membentuk hidup yang layak. Bisa melalui lapangan hidup pertanian, pertukangan, (nelayan) perikanan, perkebunan. Bahkan juga meniti usaha-usaha perniagaan.

    Untuk itu tentu perlu dikaji kesediaan “simiskin” untuk mengubah sikap jiwa. Dari menerima kemudian memakan .Menjadi penerima,pengolah, pemelihara dan baru memakan hasilnya, untuk dirinya dan keluarganya.

    Karena itu,tepat dan pantas jika kafir miskin diberi zakat hingga ia berkecukupan . Boleh dalam bentuk peralatan permodalan . Besarnya bantuan itu boleh disesuaikan dengan keperluan (untuk mengentaskan kemiskinan), agar dari usahanya diperoleh keuntungan. Meskipun jumlah permodalan itu besar (Imam Nawawi, Syarah Minhaj -VI/159).

    Bahkan Imam Syafei menegaskan, ”Bantuan zakat bisa dalam bentuk memberikan sebuah pekerjaan. Malah kemudian bisa pula ditambah untu usaha-usaha lainnya hingga dapat memenuhi kebutuhan si-miskin” (Al Umm). Yang kemudian pendapat ini disepakati pula oleh Imam Ahmad,”orang miskin boleh mengambil zakat untuk seluruh kebutuhan hidup (berupa sumber usaha yang berketerusan)” (Al Inshaf,III/238).

    Selanjutnya Ma’alim as Sunnah (II/239) menjelaskan pendapat Khattabi, ”Batas pemberian zakat adalah kecukupan (bagi simiskin yang diangkatkan derajatnya). Dengan zakat diciptakan kehidupan seseorang menjadi lebihj baik. Batas itu disesuaikan dengan kondisi serta tingakat kehidupan umum yang berlaku.Tentu akan berbeda pada tiap orang, sesuai dengan keadaaan mereka (bangsa)”.

    Pendapat-pendapat itu merujuk kepada kebijaksanaan umum yang pernah dilakukan oleh Umar bin Khattab. ”Kalau memberikan bantuan hendaknya mencukupi.”. Umar mementaskan dalam masa pemerintahannya . Umar pernah memberikan bantuan (zakat) berupa tiga ekor unta kepada seorang laki-laki yang memerlukan bantuan.

    Kemudian Umar pernah mengatakan niatnya yang teguh dalam “mengentaskan kenmiskinan “ di tengah rakyatnya .Akan aku ulangi pembagian zakat (sedekah) walaupun diantara mereka baru akan cukup dengan menyerahkan seratus ekor unta”.(Al Anwaal,565-566).

    Ternyatalah ,institusi zakat dapat dipergunakan secara efektif. Dalam usaha meningkatkan taraf hidup sesama muslimin untuk menjadi keluarga yang mampu dan hidup penuh dengan kelayakan, dalam ukuran ekonomis. Entaskan kemiskinan.

    Ini pula yang menjadi paham dai Imam Al Ghazzali (Ihya,I/207, al Halabi), ”Hendaknya zakat dapat dipakai untuk pembeli tanah (diolah bagi keperluan orang miskin ) dan hasilnya cukup untuk seumur hidup”.

    Maka termasuk “pantas” mempergunakan zakat untuk usaha yang berkesinambungan mendatangkan hasil tetap.Pantas juga membuka perkebunan dan lahan-lahan pertanian . Sebagai jalan “pintas” untuk mengentaskan kemiskinan itu.

    Yang perlu dijaga tujuan utamnyahanya untuk kepentingan peningakatan taraf hidup orang melarat. Tidak untuk kepentingan yang lain dari itu.

    Disinilah peran BAZIS. 

    Jangan Berpangku Tangan

    Dengan tidak mengurangi penghargaan terhadap apa yang tengah di lakukan untuk menyalurkan aspirasi umat, yang selama ini terpelanting timbull pertanyaan, apakah kita boleh pasif dan berpangku tangan saja sambil menunggu-nunggu apa yang sedang terjadi dan akan dilaksanakan oleh “pihak yang berwajib” itu ? Jawabnya tentu tidak !

    Seorang “pemimpin” pemandu dan pembina umat, tidak boleh pasif dengan berpangku tangan. Pertanggungan jawab moral seorang tidak mengizinkannya untuk bertindak tidak acuh (pasif) terhadap keadaan umat yang di pimpinnya. Terutama semua yang oleh umum dianggap mempunyai kedudukan pemimpin tadinya, dalam seluruh strata kepemimpinan.

    Bencana akan menimpa umat, apabila golongan pemimpin, besar ataupun kecil, disaat seperti sekarang ini asyik merawati diri, lalu mendandani kehidupan masing-masing. Kemudian larut dan membiarkan umat tenggelam di dalam nasibnya tanpa pegangan yang pasti. Umat yang lebih lemah tidak boleh dibiarkan mencari nasib masing-masing tanpa pegangan dan arah yang pastiserta tanpa bimbingan dan panduan. Inilah beban seorang “pemimpin”.

    Timbul pertanyaan; Apakah yang dapat dilakukan sekarang ? Sementara, mungkin sekali pemimpin umat itu belum dan tidak mempunyai apa-apa?. Tidak mempunyai kapital, tidak pula mempunyai wewenang apa-apa. Memang ada bedanya, bagi yang sudah dianggap orang sebagai pemimpin dari orang ‘awam.

    Makanya yang dianggap seorang pemimpin itu, ialah karena memiliki beberapa hal. Seharusnya, seorang pimimpin yang bijak wajib memiliki; (a). Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, (b). Daya-pikir dan daya-cipta, (c). Cara hidup yang bersih, (d). Akhlak dan budi pekerti yang baik, (e). Rasa cinta kepada Agama, Nusa dan Bangsa pada umumnya, (f). Rasa setia kawan yang telah pernah terhimpun dalam hubungan persaudaraan, sebagai pembawaan sejarah dan persamaan pandangan hidup khususnya.

    Yang dimiliki itu tidak dapat diukur dengan ukuran materiil atau kekuatan lahir. Akan tetapi tidak syak lagi, semua itu adalah modal dan tenaga pendorong. Di samping itu ada pula modal yang terdapat di luar kita, yakni pada diri umat yang bersangkutan sendiri, berupa kemauan, kecakapan menurut bakat masing-masing, dan ketabahan hati menghadapi kesukaran, yang sudah tidak asing lagi bagi kehidupan mereka selama ini.

    Disekeliling kita terbentang bumi Allah yang kaya raya. terkandung di dalamnya seribu satu macam sumber hidup bagi tiap-tiap seseorang yang sungguh-sungguh berkemauan menggali dan mempergunakannya. Semuanya merupakan modal yang cukup besar dan effektif apabila dipergunakan dengan sebaik-baiknya, dan akan diberkati oleh Allah Yang Maha Rahiem, bila dipergunakan dengan mengharapkan keredhaan Nya.

    Pariwisata Luhak Agam

    Antara Potensi dan Nilai-nilai

    Adat dan Agama

    Oleh : H. Mas’oed Abidin

    Pendahuluan

    Dari mana akan kita mulai ???

    Pertanyaan ini mengusik kita untuk mendahului.

    Padahal sebelumnya, kita sudah berada didepan. Tapi tidak pernah mencapai garis finish.

    Allah telah mentakdirkan kita sebagai satu kaum yang menempati dataran tinggi. Berbukit, berlurah, dihiasi tebing dan munggu. Sungainya mengalir melingkar membalut negeri, seperti Batang Sianok diam – diam mengalir terus. Ditingkah gemercik air menimpa dedaunan dipagi hari. Bila hujan pun tidak turun, embun tetap menyuburkan tanah. Dikelilingnya didapati sawah berjenjang, ladang berbintalak. Diapit gunung menjulang tinggi, dikawal Singgalang dan Merapi.

    Danau Maninjau airnya biru, tampak nan dari Embun Pagi..

    Sungguhpun risau sering mengganggu, kampung halaman selalu menanti.

    Indah sekali !!!

    Alam yang indah karunia Ilahi ini, seakan “qith’ah minal jannah fid-dunya”, sepotong sorga tercampak kebumi. Mengundang orang yang datang berdecak kagum.

    Keindahan alam ini, bertambah cantik, karena ada pagar adat yang kuat dan agama yang kokoh. Tampak dalam tata pergaulan dan sikap laku sejak dahulu. Masyarakatnya ramah. Peduli dengan anak dagang.

    Pendidikannya maju.

    Dengan negeri ribuan dokter, dan para ahli. Hanya didataran tinggi ini, ditemui Parabek dan Canduang. Tempat bermukim para penuntut ilmu dari seluruh penjuru.

    Bahkan dari Malaysia, Brunei, Thailand dan Pattani. Disamping dari seluruh Nusantara, bahkan dari Aceh, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Disini pula didapati satu-satunya Kwik School, sekolah guru, kata orang doeloe, yang melahirkan banyak pujangga dan pendidik.

    Dari halamannya tempat bermain para cendekiawan, Agus Salim, Hatta, Syahrir, Natsir, dan sederetan nama yang panjang, yang dikenal menjadi negarawan yang diakui.

    Dan ini adalah bahagian dari kaba itu.

    Bila kaba ini ingin di lanjutkan pula.

    Yang bersua adalah hidup anak negeri berpagarkan nilai-nilai.

    Nilai-nilai Adat

    Sebagai masyarakat beradat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pula pelajaran-pelajaran antara lain:

    1). Bekerja:

    Ka lauik riak mahampeh. Ka karang rancam ma-aruih. Ka pantai ombak mamacah. Jiko mangauik kameh-kameh. Jiko mencancang, putuih – putuih. Lah salasai mangko-nyo sudah.

    Artinya setiap yang dilakukan haruslah program oriented. Sama sekali bukanlah kemauan perseorangan (orientasi personal) semata. Sejak dari perencanaan hingga sasaran yang hendak dicapai terpolarisasi melalui persilangan pendapat masyarakat ditempat mana program itu akan dilaksanakan.

    2). Caranya:

    · Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo.

    Artinya, ada kesamaan visi dan kesediaan kontrol.

    · Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan di cito,

    Artinya, harus dihidupkan kerja sama, tidak hanya sebatas sama bekerja.

    · Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang, (basalang tenggang.).

    Maknanya, kesediaan investasi mensukseskan misi yang ada pada visi yang sama.

    · Karajo baiak ba-imbau-an, Karajo buruak bahambau-an.

    Tiada lain yang diminta adalah terjalinnya network yang sempurna.

    · Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru.

    Dipastikan adanya satu kearifan, membaca setiap perubahan dalam membuat satu estimasi.

    · Jiko mangaji dari alif, Jiko babilang dari aso, Jiko naiak dari janjang, Jiko turun dari tanggo.

    Adanya prinsip taat asas, dan terjaminnya law enforcement, pelaksanaan program pada koridor yang tepat.

    · Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Disinan api mangko hiduik

    Dituntut adanya kesepahaman akan adanya keberagaman usaha, yang satu sama lain terikat, terkait dan saling mendukung, serta sustainable.

    · Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai, Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali, Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso, Handak pandai rajin balaja.

    Kaedah ini tiada lain adalah penerapan dinamika kehidupan masyarakat yang inovatif, kreatif, yang sangat diperlukan untuk pengembangan daerah dalam menggali potensinya.

    · Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju, Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangkonyo manjadi.

    Arti yang lebih menukik adalah kooperatif. Adalah wajar sekali, kalau bapak koperasi itu lahir dari putra Minangkabau.

    · Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek kaparak. Nan bancah jadikan sawah, Nan munggu pandam pakuburan, Nan gauang katabek ikan, Nan padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak.

    Makna yang lebih dalam adalah berlakunya prinsip-prinsip ekonomi pembangunan secara makro dan mikro, dengan berwawasan lingkungan.

    · Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik.

    Modal utama untuk siap bersaing dan bertanding disaat AFTA-2003, persaingan global dan akan diterapkannya borderless-community system itu

    · Latiak-latiak tabang ka Pinang. Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo.

    Ada suatu unggulan yang sangat spesifik dan mendorong kepada optimisme yang tinggi. Lebih egaliter, tak pernah mau dikalahkan. Konsekwensinya, adalah siap tampil dengan keungulan. Tidak hanya semata tampil beda.

    3). Kemakmuran :

    Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja. Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu. Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan.

    Makmur tidak milik satu orang. Kemakmuran akan terpelihara bila keamanan terjamin. Semua orang dapat menimati kemakmuran secara patut dan pantas dalam keserta-mertaan. Dalam pengembangan setiap usaha, sangat diperlukan pemerataan penghasilan.

    Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang.

    4). Perhatian dengan penuh kehati-hatian sangatlah penting.

    Ingek sabalun kanai, Kulimek balun abih,

    Ingek-ingek nan ka-pai. Agak-agak nan ka-tingga.

    Teranglah sudah …., bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat lahir dan batin material dan spiritual pasti dia akan menemui disini satu iklim mental climate yang subur. Bila pandai menggunakannya dengan tepat akan banyak sekali membantunya dalam usaha membangun anak nagari dan kampung halaman.

    Lah masak padi ‘rang singkarak, masaknyo batangkai-tangkai, satangkai jarang nan mudo. Kabek sabalik buhua sontak, Jaranglah urang nan ma-ungkai, Tibo nan punyo rarak sajo.

    Artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku. Melupakan atau mengabaikan ini, lantaran menganggap sebagai barang kuno, yang harus dimasukkan kedalam museum, di zaman modernisasi sekarang, ini berarti satu kerugian. Sebab berarti mengabaikan satu partner “yang amat berguna” dalam pembangunan masyarakat dan negara.

    Nilai Agama

    “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka ? (Pada hal), Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri mereka sendiri.

    Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olokkannya” (QS.30, Ar-Rum, ayat 9-10).

    Sekarang, kita tengah menyaksikan satu kondisi terjadinya pergeseran pandangan masyarakat dunia dewasa ini.

    Maka masyarakat Minang, khususnya di Luhak Agam yang umatnya seratus prosen Islam wajib berperan aktif kedepan diabad XXI.

    Dengan upaya menjadikan firman Allah sebagai aturan kehidupan.

    Melaksanakan secara murni konsep agama dalam setiap perubahan. Agar peradaban kembali gemerlapan.

    Berpaling dari sumber kekuatan murni, Kitabullah dan Sunnah Rasul, dengan menanggalkan komitmen prinsip syar’i dan akhlak Islami akan berakibat fatal untuk umat Islam, bahkan penduduk bumi.

    Pada gilirannya umat Islam akan menjadi santapan konspirasi dari kekuatan asing.

    Konsekwensinya adalah wilayah yang sudah terpecah akan sangat mudah untuk dikuasai.

    Kembali kepada watak Islam tidak dapat ditawar-tawar lagi. Bila kehidupan manusia ingin diperbaiki.

    Tuntutan kedepan agar umat lahir kembali dengan iman dan amal nyata dalam ikatan budaya (tamaddun).

    · Tatanan masyarakat harus dibangun diatas landasan persatuan (QS.al-Mukminun:52).

    · Mayarakat mesti ditumbuhkan dibawah naungan ukhuwwah (QS.al-Hujurat:10).

    · Anggota masyarakatnya didorong hidup dalam prinsip ta’awunitas (kerjasama) dalam al-birri (format kebaikan) dan ketakwaan (QS.al-Maidah:2).

    · Hubungan bermasyarakat didasarkan atas ikatan mahabbah (cinta kasih), sesuai sabda Rasul: “Tidak beriman seorang kamu sebelum mencintai orang lain seperti menyayangi diri sendiri”.

    · Setiap masalah diselesaikan dengan musyawarah (QS.asy-Syura:38).

    · Tujuan akhirnya, penjelmaan satu tatanan masyarakat yang pantang berpecah belah (QS.Ali Imran:103).

    Rahasia keberhasilan adalah “tidak terburu-buru” (isti’jal) dalam bertindak. Tidak memetik sebelum ranum. Tidak membiarkan jatuh ketempat yang dicela. Kepastian amalan adanya husnu-dzan (sangka baik) sesama umat. Mengiringi semua itu adalah tawakkal kepada Allah.

    Dalam tatanan berpemerintahan, kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak, sebelum kekuasaan itu menjejak bumi.

    Ukurannya adalah adil dan tanggap terhadap aspirasi yang berkembang.

    Takarannya adalah kemashlahatan umat banyak.

    Kemasannya adalah jujur secara transparan.

    Kekuatan hati (dhamir) penduduk (rakyat) terletak pada ditanamkannya kecintaan yang tulus.

    Menghidupkan energi ruhanik lebih didahulukan sebelum menggerakkan fisik umat.

    Titik lemah umat karena hilangnya akhlaq, moralitas Islami.

    Enggan memahami syari’at, berakibat hilangnya kecintaan (kesadaran) terhadap Islam. Lahirnya radikalisme, berlebihan dalam agama, menghapuskan watak Islam.

    Tidak menghormati hubungan antar manusia, merupakan kebodohan pengertian terhadap prinsip sunnah. Akibatnya adalah tindakan merusak (anarkis).

    Potensi Pariwisata Di Luhak Agam

    1. Keindahan Alamnya sangat potensial. Indah. Sangat indah. Menjadi alat promosi pariwisata internasional. Sudahkah dicatatkan sebagai trade mark ???

    2. Adatnya kokoh. Masih tersimpan dalam prilaku empat jinih di nagari nan ampek kali ampek (IV Angkat Canduang, IV Koto, Tilatang Kamang, Sungai puar). Masihkah masyarakat Minang tahu di nan ampek ???

    3. Agamanya kuat. Banyak sekolah, madrasah yang bisa diangkat kualitasnya. Sebab promosinya sudah lama dikenal. Problematikanya, kenyataan bahwa jalinan ini mulai mengendur. Karena pergeseran nilai-nilai. Akibatnya, kita kehilangan salah satu asset yang amat potensial. Apa upaya mendudukkanny kembali ???

    4. Rakyatnya rajin. Bagaimana memelihara dan memacunya ???

    5. Setiap daerah memiliki keunggulan. Dari segi makanan, ada Rinuak Maninjau, Karak kaliang Sungai Jariang, Pisang di Jambak, Kampung Pisang dan Baso, Gulai Itiak Koto Gadang, Daun Kahwa dari Pagadih, Randang Koto Tuo, Kue Kacang dari Biaro, Sarang Balam dari Batagak, Bika dari Batu Palano, Kue Sangko dari Sungai Puar, Saka Lawang dan Sungai Landir, Nasi Kapau dari Tilkam. Banyak sekali potensi yang bisa dijual. Siapakah yang menjualnya sekarang ???

    6. Setiap desa ada produk. Jauh sebelum Jepang menerapkan “one village one product”. Tenunan Pandai Sikek (Batagak), Kerajinan emas (Guguak Tinggi, Guguak Randah), Silver Work (Kotogadang), Konveksi (IV Angkat), Kerajinan Besi (Sungai Puar), Tarawang (IV Angkat), Suji (Kamang dan Tilatang). Tugas kedepan, adalah mebuat perubahan program dari memperdayakan kepada memberdayakan. Mampukah kita ???

    Kesimpulan

    Pariwisata, mengundang orang untuk melihat apa yang tidak ada pada mereka.

    Pariwisata yang berhasil adalah yang menyajikan produk wisata yang bisa mengasilkan pendapatan anak nagari. Mendorong mereka untuk hidup, dan memberi hidup.

    Pariwisata menyajikan produk yang belum atau tidak dimiliki orang lain (produk unggulan). Semuanya itu, memerlukan kesiapan-kesiapan antara lain ;

    1. Melibatkan seluruh unsur anak nagari berprilaku yang menarik.

    2. Melibatkan kembali semua anak nagari memakaikan adat dan agama yang terjalin erat dan rapi. Sehingga menjadi bahan penelitian bagi orang lain. Contoh dinegeri orang, seperti di Bali, Brunei, Malaysia, India, yang melaksanakan apa yang kita sebutkan “indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan”, yaitu budaya dan tamaddun.

    3. Pariwisata yang akan lama bertahan dimasa mendatang, di abad keduapuluh satu, adalah wisata budaya, alam, spiritual, ilmu pengetahuan, disamping situs-situs peninggalan lama. Di Agam masih tersimpan semuanya itu. Lebih jauh, akan lahir dengan sendirinya para peneliti, kolektor potensi-potensi budaya tersebut.

    4. Latihan pemandu wisata, yang beradat dan beragama menjadi satu yang sangat utama sebagai pendukung pariwisata Luhak Agam.

    5. Event-event Internasional,

    · Pertemuan pelukis sketsa Manca Negara dikaki Merapi, Singgalang, Embun Pagi Danau Maninjau dan sebagainya.

    · Pencak Silat Harimau Campo Luhak Agam,

    · Layang-layang seperti Jepang atau Thailand,

    · Festival tari, folk-lore, dan sejenisnya. Dan banyak lagi yang bias digali secara kreatif.

    Akhirulkalam, gagasan ini sesungguhnya bisa dikembangkan dalam scope yang lebih luas Minangkabau, sebagai asset pariwisata Sumatera Barat.

    Insya Allah.



    [1] Ada sinyalemen Prof. Emil Salim (pernah menjabat Menteri KLH, Kabinet Pembangunan V), tentang lahan Ranah Minang. Sebagai dikatakannya, tanah di Minangkabau, tidak (kurang) bersahabat. “Dari keseluruhan wilayah Sumatera Barat, hanya sekitar 14 persen saja yang kondisi tanahnya subur dan cocok untuk areal pertanian.”. Begitulah kira-kira, kesimpulan Prof. DR. Emil Salim, (sebagai diungkapkan Singgalang, Rabu, 7 Juli 1993, halaman pertama) dari Musyawarah Pola Dasar Pembangunan Sumbar.


    Membenahi Perjalanan Hidup

    desember 24, 2008

    Oleh : H. Mas’oed Abidin

    Firman Allah Subhanahu wa ta’ala

    وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

    “Dan orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh pada (jalan) kami, sesungguhnya kami akan pimpin mereka di jalan-jalan kami: dan sesunggunya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Al-Ankabut, ayat 69.).

    Kebenaran terbuka bagi siapapun untuk mempelajarinya. Asal saja orang dapat merasakan nilai dan kepentingannya, mempunyai daya inisiatif dan imagination (daya cipta), tentu akan dapat mempergunakannya. dekat-piramida-kairoKepandaian-kepandaian betapapun sederhananya, seperti membuat tempe, tahu dan kecap, membibitkan buah-buahan, menanam sayur mayur, merangkai dan mengatur bunga, menganyam tikar di zaman jet supersonic dan satelit-satelit yang mengitari bumi seperti sekarang ini, tidak dapat dikatakan sesuatu yang tidak berarti. Disinilah letak community development yang sebenarnya. Begitulah proses mempertinggi kesejahteraan hidup, yang dinamakan proses pembangunan ekonomi itu. Procesnya dapat dipercepat, tetapi dia mempunyai undang-undang baja sendiri, yang tak dapat tidak, harus dijalani. Ini seringkali pada umumnya, dilupakan orang, dengan segala akibat-akibat yang mengecewakan.

    Daerah kita terkenal sebagai daerah yang kaya dengan sumber alam. Tetapi kecenderungan penduduknya, baru memindah-mindahkan barang-barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Adapun menghasilkan barang belum mendapat perhatian mereka. Padahal sumber kemakmuran yang azasi adalah produksi, yakni menghasilkan barang. Ini seringkali “dilupakan” pula.

    Latar belakang usaha kedepan adalah merombak tradisi dengan membuka pikiran masyarakat dan membuka jalan baru, memulai dari urat masyarakat itu sendiri, dengan cara-cara yang praktis, melalui amaliyah yang sepadan dengan kekuatan mereka, serentak disertai dengan membangun jiwa dan pribadi mereka, sebagai satu umat yang mempunyai wijhah, falsafah dan tujuan hidup yang nyata, yang mempunyai shibgah, corak kepribadian yang terang, yang disebut dengan istilah yang semacam itu dinamakan orang; “satu aspek dari Social Reform”. Inilah hakekat pembangunan masyarakat itu.

    Pekerjaan ini mempunyai aspek yang menafaskan jiwa lain, yakni berusaha menggerakkan urat nadi masyarakat. Menumbuhkan kekuatan yang terpendam dikalangan yang lemah. Karena ingin berhubungan dengan para dhu’afa tidak dalam bentuk menjadikan dhu’afak kita menjadi pengemis. Pembinaan dhu’afak didukung cita-cita hendak menjelmakan tata-cara hidup kemasyarakatan yang berdasarkan :

    1. hidup dan memberi hidup (ta’awun), bukan falsafah berebut hidup,
    2. menanamkan tanggung jawab tiap-tiap anggota masyarakat atas kesejahteraan lahir batin dari masyarakat secara timbal balik (takaful dan tadhamun)
    3. mengajarkan keragaman dan ketertiban yang bersumber kepada disiplin jiwa dari dalam, bukan hanya kepatuhan lantaran penggembalaan dari luar;
    4. menumbuhkan ukhuwwah yang ikhlas, bersendikan Iman dan Taqwa,
    5. mengajarkan hidup seimbang (tawazun) antara kecerdasan otak dan kecakapan tangan, antara ketajaman akal dan ketinggian akhlak, antara amal dan ibadah, antara ikhtiar dan do’a;

    7Ini wijhah (wajah sasaran) yang hendak dituju, dan ini pula shibgah (jatidiri) yang hendak dipancangkan, terutama oleh community development itu. Tidak seorangpun yang berpikiran sehat di negeri ini yang akan keberatan terhadap penjelmaan masyarakat yang semacam itu. Suatu bentuk masyarakat dengan susunan hidup saling bertolongan (jama’ah) yang diredhai Allah sesuai dengan Adat basandi Syara’ dan Syara’ nan basandi Kitabullah.

    Untuk inilah sekarang kita merintis, merambah jalan guna menjelmakan hidup bermasyarakat saling menghargai dan menghormati yang belum kunjung terjelma di negeri ini, kecuali dalam khotbah alim-ulama, pepatah petitih ahli adat, dan pidato para cerdik cendekia. Tugas kita sekarang adalah mulai merintiskan dengan cara dan alat-alat sederhana tetapi dengan api cita-cita mendalam yang berkobar-kobar dalam dada masing-masing.

    وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُون َ(7)

    فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (8)

    …. tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan ni`mat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Hujurat, 7-8)

    Ini nawaitu yang tertanam dari semula. Jagalah agar api nawaitu jangan padam atau berubah di tengah jalan.

    Padang, 25 Desember 2008


    Menuju Baitul Atiq

    desember 24, 2008

    Menyahuti Panggilan tanah suci

    Oleh : H. Mas’oed Abidin

    Perjalanan ke Baiti el-‘Atiq

    Selamat Jalan Haji Mabrur. Selamat Jalan Jamaah Haji.

    di-gua-hiraIbadah haji, Rukun Islam Kelima, dilakukan seorang muslim, dalam rangka memenuhi perintah Allah SWT. semata. Ibadah adalah bukti nyata dari ikrar (syahadat) yang telah diucapkan. Di dalam ibadah ini terpancang tiga marhalah (pentahapan perjalanan).

    Pertama adalah mahabbah (kecintaan mendalam) kepada Allah dan Rasul. Kecintaan ini di simbulkan dengan seruan talbiyah. Labbaika, Allahumma labbaika, laa syarika laka labbaika, hakikinya bermaknaaku datang wahai Allah, hanya memenuhi penggilanMU, karena kecintaanku semata kepadaMu, tidak ada syarikat bagiMu.

    Kedua adalah tonggak ridha atau kerelaan innal hamda wa an-ni’mata laka wa al mulka laa syariika laka, hakikinya mengandung arti bahwa, sungguh semua nikmat yang kumiliki berasal dariMu dan semestinya dipergunakan untuk mematuhi printahMu saja, dan semua kerajaan, kepemilikan dan kekuasaan hanya milikMu semata, tidak ada syarikat bagiMu. Radhitu billahi rabban, wa bil-Islami Diinan, wa bi Muhammadin Nabiyyan wa Rasulan. Aku rela hanya Allah Rabb (tuhan)-ku, aku rela hanya Islam Din (Agama)-ku, aku rela kepada Muhammad SAW Nabi dan Rasul yang di utus kepadaku. Maka, ibadah Haji atau umrah adalah klimaks penyerahan diri seorang muslim secara total kepada Allah SWT. Belum lengkap ke-Islaman seseorang yang telah memiliki kemampuan (istitho’ah) bila dia belum menunaikan ibadah haji.

    Ketiga adalah marhalah shibghah atau identitas Muslim muttaqin. Hati (qalbu)-nya dibuhul keyakinan tauhid. Lahir dari keimanannya itu niat atau motivasi lillahi ta’ala. Agaknya perlu dipahami bahwa haji adalah sarana untuk mencapai tujuan lebih mulia dari sikap taqwa kepada Allah. Pikiran (aqal)-nya dihiasi kejernihan fikrah Islami. Direfleksikan dalam pola berfikir, cara bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Fisik (jasad)-nya melakukan amal yang diperintahkan. Meniru kepada apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Semua pangkat dan emblem duniawi tidak bernilai apapun di hadapan Rabb el Alamin. Tidak ada harganya kekayaan dunia, kecuali hanya selembar ihram. Karenanya, di dalam Al-Qur’an, pada semua ayat yang berkaitan dengan haji, selalu diakhiri oleh Allah SWT dengan pesan yang jelas, agar bertaqwa.

    Barangkali bentuk haji yang seperti inilah yang disebut sebagai Haji Mabrur. Kemabruran lantaran makbulnya amalan haji menjadi idaman setiap calon jemaah. Bukti mabrur ada pada haji yang mampu mendorong terjadinya perobahan orientasi, visi dan misi kearah peningkatan amal saleh, baik ritual maupun sosial, dalam rangka menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih sesuai dengan ajaran Islam. Haji mabrur amat berguna untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Karena itu, balasan paling pantas dan paling tinggi untuk haji mabrur hanyalah jannah (sorga) semata.

    Jika dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya, haji mempunyai sifat dan karakteristik tersendiri, terutama jika dikaitkan dengan masalah waktu dan tempat pelaksanaan. Memang di dalam Islam ibadah formal (mahdhah) ada tiga bentuk pelaksanaannya. Pertama, waktu pelaksanaan ditentukan tetapi tempat pelaksanaan tidak ditentukan. Kedua, tempat pelaksanaannya ditentukan dan boleh dikerjakan kapan saja. Ketiga, waktu dan tempat pelaksanaannya diatur dan ditetapkan oleh Allah SWT.

    Haji adalah ibadah katagori yang ketiga ini. Faktor inilah yang menetapkan kewajiban menunaikan haji diwajibkan Allah kepada Muslimin yang mampu hanya satu kali dalam seumur hidup. Dalam hadits riwayat Imam Muslim dan Nasa’i dari Abu Hurairah diterangkan, ketika Nabi menyampaikan bahwa Allah telah mewajibkan kepada kaum muslimin melaksanakan ibadah haji, lalu ada yang bertanya; apakah kewajiban berhaji itu setiap tahun ya Rasulullah? Nabi diam dan tidak menjawab pertanyaan ini, bahkan sampai tiga kali masalah ini ditanyakan. Kemudian Nabi menjawab: Kalau saya jawab ya, saya khawatir haji ini difardhukan Allah kepadamu setiap tahun, dan kamu pasti tidak akan sanggup melaksanakannya. Karena haji waktunya ditentukan dan harus dilakukan di lokasi tertentu pula yaitu Masy’aril Haram (Makkah, Mina, Arafah dan Muzdalifah di Saudi Arabia), maka faktor kemampuan (istitha’ah) menjadi syarat utama pelaksanaan ibadah haji.

    Seringkali istitha’ah atau kemampuan hanya diartikan dari segi kemampuan finansial saja. Sehingga siapa yang dapat membayar ONH sudah dianggap mampu berhaji. Padahal konsep istitha’ah itu berkaitan pula dengan kesehatan fisik, mental, ekonomi, keamanan, pemahaman ilmu-ilmu manasik dan bahkan kesempatan untuk menunaikannya. Dan terkait pula dengan masalah akomodasi selama disana (Saudi Arabia), walaupun ini bukanlah unsur utama, namun unsur ibadah lebih menjadi sasaran utamanya.

    Disini perlunya bimbingan diberikan kepada calon jema’ah haji. Diperlukan bimbingan yang berkesinambungan: sebelum melaksanakan ibadah haji, selama dalam pelak sanaan ibadah haji dan masa pasca haji (setelah kembali ke tanah air).

    Menyahuti Nida’ (Seruan) Makkah

    Setiap orang yang melakukan haji akan selalu mendambakan haji mabrur. Hal ini sangat wajar. Di dalam sebuah hadits, Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah SAW, bersabda : “Satu umrah yang lainnya menghapus dosa diantara keduanya, sedangkan haji mabrur balasannya tidak lain adalah surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Yang perlu diperhatikan oleh para penziarah (haji) yang ingin melaksanakan ibadah haji seharusnya dan seyogyanya ia sudah dan telah menjalankan atau mengamalkan rukun-rukun Islam yang lainnya dengan baik dan benar.

    Sering orang mengatakan bahwa dia belum mau pergi haji karena merasa belum mendapat panggilan, padahal baik dari segi ekonomi maupun fisik dia termasuk orang yang mampu. Pemahaman seperti ini sungguh satu pandangan yang tidak benar.

    Tatkala seorang menyatakan dirinya Muslim (orang Islam) dan menerima agama Islam dengan di awali mengucapkan syahadat, ketika itu ia sudah dipanggil untuk melaksanakan ibadah haji.

    Tergantung kepada usaha dan kesungguhan hati dan fisiknya merealisir persyaratan-persyaratan yang dituntut perlu dipersiapkan menyahuti nida’ (panggilan) berhaji ke Makkah el Mukarramah itu.

    Oleh karena itu, jika sudah mempunyai niat untuk menunaikan ibadah haji dan persyaratan telah terpenuhi, hendaklah segera melaksanakannya,. Jangan sampai ditunda-tunda lagi. Penundaan yang direncanakan apalagi yang direkayasa untuk tahun-tahun depan, padahal sudah ada kesempatan di tahun ini, dalam kenyataan biasanya menjadi beberapa tahun kemudian. Bahkan dapat tertunda untuk selama-lamanya karena sudah keburu mati.

    Karena itu, bagi yang sudah mendapat panggilan ke hajji atau umrah ke rumah tua (Bait el ‘Atiq di Makkah) tunaikanlah segera dengan sebaik-baiknya. Berusahalah menjadikan ibadah haji dan umrahnya menjadi satu perjalanan rohani paling mengesankan. Jadikan menyahuti seruan Makkah ini menyenangkan. Di dalam perjalan itu akan di saksikan li yasy-haduu manafi’a lahum, artinya banyak persaksian dan sarat dengan pengalaman spiritual paling berharga. Akhirnya, akan terasakan manfaat besar, terhindar dari segala kesulitan dan kesusahan.

    Persiapan Rohani

    Dalam hal ini yang diperlukan adalah mempersiapkan kondisi batin dan rohani sebaik-baiknya. Semaksimal mungkin bersih dari cacat dan dosa. Tujuannya adalah agar kita bisa berangkat dalam keadaan sebersih dan sesuci mungkin. Terlepas dari segala beban yang memberatkan batin dan pikiran kita.

    Agar perjalanan rohani ini bisa berlangsung dengan baik dan lancar, dan usaha meraih haji mabrur, maka setiap langkah wajib dijaga dan dipelihara.

    Betulkan dan Luruskan niat.

    Ibadah haji adalah kewajiban setiap hamba kepada Allah SWT. Menjadi beban bagi setiap mukmin yang mukallaf dan mampu. Langkah awal, betulkan dan luruskan nawaitu. Di dahului memasang niat yang ikhlas untuk pergi haji ataupun umrah. Niat menunaikan ibadah haji hanya karena melaksanakan perintah Allah. Semata-mata untuk mengharapkan ridha-Nya saja.

    Kepergian ketanah suci bukan karena alasan-alasan lain. Hindarkan diri dari perasaan ria, ingin dipuji, merasa hebat sendiri, takabur, sombong serta sifat-sifat lainnya. Berserah diri hanya kepada Allah. Perjalanan ini dilakukan dengan ikhlas semata. Sabda Rasulullah SAW , Barang siapa yang mengerjakan ibadah haji semata-mata ikhlas karena Allah dan tidak berbuat rafats serta tidak fasik, maka kembalilah ia seperti dilahirkan oleh ibunya. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

    Yang dimaksud rafats ialah cabul, bersetubuh, bercumbu-kata yang menimbulkan birahi, ungkapan keji dan omongan kotor. Sedangkan fasik adalah melakukan kejahatan dan maksiat.

    Latih diri bersifat sabar dan tolong menolong.

    Sifat sabar amat diperlukan dalam melaksanakan ibadah haji. Sabar sudah mulai di saat menetapkan keinginan untuk berangkat ke tanah suci. Terasa berat urusan untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Kemudahan hanya dirasakan karena bantuan dari Allah SWT.

    Semua urusan memerlukan sifat sabar. Kesabaran di saat pembayaran ONH, pemeriksaan kesehatan, pendaftaran, menunggu panggilan untuk keberangkatan dan lain-lainnya. Melatih sabar dalam menghadapi semua rintangan mempermudah diri meraih haji mabrur.

    Di tanah suci Makkah dan Madinah, berkumpul jutaan jamaah dari berbagai penjuru dunia. Berbagai sifat dan kebiasaan mereka. Sifat sabar sangat diperlukan disana..Segala macam hal bisa terjadi di tengah ramainya jamaah itu. Mulai dari sekedar kena senggol, kena dorong atau bahkan rebutan tempat, baik di Masjid maupun di tempat penginapan. Pertengkaran suami isteri dapat pula terjadi, jika sifat sabar dan sanggup mengendalikan diri tidak dipunyai.

    Puncak ujian kesabaran dirasakan pada saat berpakaian ihram. Banyak yang di haramkan dan perlu di hindari. Setiap orang dilarang bermusuhan, mencaci dan bertengkar (termasuk perbuatan jidal) sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT, …..Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, fasik dan berbuat jidal di saat mengerjakan haji…(Al-Baqarah: 197).

    Selain sifat sabar, sifat tolong menolong amat perlu di tanah suci. Disana akan ditemui keadaan dimana orang lain sangat memerlukan pertolongan. Dalam keadaan demikian, jangan ragu memberikan pertolongan. Dengan pertolongan yang diberikan untuk orang lain, Insya Allah pertolongan dari Tuhan segera akan datang pula. Sudah terbukti, orang yang banyak menolong orang lain dengan ikhlas, segala urusannya akan berjalan dengan lancar. Dan akan terhindar dari kesulitan.

    Perlu diingat, bahwa menolong itu hendaklah dengan penuh keikhlasan. Tanpa mengharapkan sesuatu. Kecuali hanya mencari ridha Allah semata.

    Berangkat dengan Harta yang Halal dan Baik

    Mengerjakan haji dan umrah salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Dalam melaksanakannya di tuntun dalam keadaan bersih dan suci. Begitu juga dengan harta yang akan kita gunakan untuk itu.

    Rasulullah Saw. menyatakan: “Apabila seseorang pergi melaksanakan ibadah haji dengan nafkah yang baik (halal) dan meletakan kakinya di atas kenderaannya, maka ketika dia berseru: Labbaik Allahumma labbaik,ia akan mendapat sambutan dengan seruan dari langit: Diterima panggilanmu dan berbahagialah engkau, karena bekalmu halal dan kenderaan yang engkau pakai halal, dan hajimu diterima, tidak ditolak.’(HR. Thabrani dari Abu Hurairah)

    Bersih dan sucikan diri.

    Maksudnya adalah membersihkan dan mensucikan diri. Secara rohaniah dapat dilakukan dengan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah dari segala dosa. Dalam bertaubat hendaklah bertekad tidak akan kembali lagi kepada dosa. Selanjutnya, memohon maaf kepada orang tua, isteri/suami, anak, anak saudara, famili, tetangga serta para sahabat.

    Dari sisi ibadah, membersihkan diri bermakna memperbaiki atau meningkatkan mutu shalat. Kalau masih sering tertinggal atau lalai di dalam mengerjakannya, maka berusahalah untuk lebih berdisiplin melaksanakan kewajiban shalat ini.

    Kemudian diikuti dengan mengeluarkan zakat, bagiyang belum melakukannya. Zakat termasuk unsur “pembersih” diri dan harta, sehingga tidak bercampur dengan yang bukan hak kita. Usahakan sesering mungkin mengeluarkan infak, sadaqah, dan lain-lain sebagainya. Semua hal tersebut perlu dilakukan sebelum berangkat ketanah suci. Bersihnya diri, mudah-mudahan terhindar dari berbagai kesulitan yang mungkin datang menjadi peringatan Allah untuk kita.

    Mempelajari tata cara pelaksanaan ibadah.

    Ibadah haji satu rangkaian yang terkait oleh waktu dan tempat. Di antara ibadah itu ada yang merupakan rukun haji, yang kalau ditinggalkan berakibat batal (tidak sah) haji. Ada rangkaian ibadah wajib haji yang apabila tidak sempat melakukan tidak membatalkan haji, mesti ditebus dengan membayar denda atau dam. Ada pula bersifat sunnat haji. Ada pula larangan yang dapat merusak atau membatalkan ibadah haji.

    Mempelajari tata cara pelaksaan haji dengan baik akan menjadikan manasik haji terlaksana dengan sempurna. Pelajari sebaik-baiknya hal yang wajib, syarat rukun, sunnat dan lainnya yang mestinya dilakukan atau ditinggalkan. Mengerjakan hal-hal yang merusak ibadah haji, tidak sempurna rukun haji, akan berakibat membatalkan ibadah haji.

    Setiap calon haji dan umrah hendaknya cermat menangkap nilai hikmah yang terkandung dalam segala peragaan manasik haji.

    Pelajari do’a-do’a dan bacaan ibadah.

    Sebenarnya dalam melaksanakan ibadah haji, do’a dan bacaan dapat ditemui dan dibaca dari buku manasik sambil melakukan ibadah. Menghafalnya tentu lebih baik. Hafalan do’a manasik akan memperlancar pelaksanaan ibadah, tanpa harus bolak-balik melihat buku. Makna dan maksud dari do’a dan bacaan tersebut perlu juga dipelajari dan dimengerti. Supaya kita lebih bisa menghayati maksud dan kandungan dari do’a yang dibaca.

    Semua do’a dalam pelaksanaan ibadah haji adalah do’a yang bagus. Intinya memohon kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat. Seperti do’a safar sebagaimana diajarkan Nabi SAW. Apabila do’a-do’a itu dapat dihayati makna dan maksudnya, Insya Allah ibadah akan menjadi lebih khusyu’.

    Menyelesaikan hutang piutang

    Segala hutang piutang yang memberatkan dan mengganggu ketenangan dalam menunaikan ibadah haji, sebaiknya dilunasi sebelum berangkat. Paling tidak menjelaskan masalahnya kepada keluarga yang ditinggal. Agar mereka mengetahui, dengan sebuah wasiat. Sehingga kalau terjadi sesuatu kehendak Allah dengan diri kita, mereka yang ditinggalkan dapat menyelesaikan hutang piutang itu dengan baik.

    Menyiapkan bekal buat yang ditinggalkan.

    Selama meninggalkan rumah dan keluarga dalam perjalanan ke tanah suci, tanggung jawab terhadap orang yang ditinggalkan di tanah air harus dipenuhi. Seharusnya, sebelum berangkat ke tanah suci, hendaknya meninggalkan bekalan untuk mereka, dengan jumlah mencukupi keperluan kehidupan selama kita berada di tanah suci.

    Memahami Sejarah Perjuangan Nabi SAW

    Selama berada di tanah suci tersedia kesempatan berziarah ketempat-tempat bersejarah di sekitar kita Makkah dan Madinah. Mengetahui riwayat dari tempat-tempat bersejarah di saat berziarah, akan mendatangkan kesan mendalam. Dapat memberikan gambaran sejarah perjuangan Islam yang lebih lengkap.

    Mengetahui peristiwa bersejarah yang terjadi di tempat yang dikunjungi (ziarahi) yang berkaitan erat dengan perjuangan Nabi SAW dan para sahabatnya di dalam mempertahankan Islam, akan mempertebal keimanan kepada Allah. Selanjutnya akan menguatkan penghayatan terhadap nilai ajaran yang dibawa Rasulullah Saw.

    Mempelajari cara shalat jenazah dan menghafal bacaannya.

    Pada musim haji, baik di Masjidil Haram maupun di Masjid Nabawi, hampir selalu shalat wajibnya di iringi dengan shalat jenazah. Ini terjadi karena memang banyak jamaah haji yang meninggal dunia di tanah suci itu. Mungkin cuaca dan medan yang berat. Atau karena kondisi jamaah yang lemah.

    Karena itu bagi yang belum mengetahui tata cara pelaksanaan shalat jenazah atau belum hafal bacaannya, dianjurkan untuk mempelajari serta menghafalkannya sebelum berangkat ketanah suci. Sehingga pada saat melakukannya di tanah suci dapat melaksanakan dengan baik dan benar.

    Memantapkan Persiapan Jasmani

    Persiapan jasmani khususnya kesehatan tentunya telah diberikan oleh dokter yang ahli. Namun, persiapan fisik perlu dijaga dengan teratur, di antaranya, Memelihara dan menjaga kondisi kesehatan tubuh sejak dari berangkat. Jika perlu melakukan general chek up kesehatan. Latihan-latihan senam, disesuaikan dengan dengan kondisi dan usia. Latihan berjalan di panas matahari. Sering-sering berkonsultasi dengan dokter.

    Seperti dapat dibaca dalam buku manasik haji, ada beberapa cara melaksanakan ibadah haji, seperti, Tamattu’ ialah melaksanakan umrah terlebih dahulu di bulan-bulan haji, setelah itu baru mengerjakan haji.

    Untuk pelaksanaan umrah haruslah Bersuci: mandi, berwudlu. Berpakaian ihram. Shalat sunnat ihram dua rakaat. Niat umrah dari miqat. Thawaf umrah. Sa’I umrah dan Tahallul. Untuk pelaksanaan haji, haruslah pula didahului dengan Bersuci; mandi, berwudlu. Berpakaian ihram. Shalat sunat ihram dua rakaat. Niat haji dari pemondokan masing-masing. Mabit di Mina untuk berangkat menuju Arafah (8 Dzulhijjah). Wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah). Menuju Mudzdalifah sehabis magrhib. Mengumpulkan batu di Mudzdalifah. Melontar Jumrah Aqabah (10 Dzulhijjah), Jumrah Wustha dan Jumrah al-Ulaa di Mina (pada hari tasyrik). Thawaf di Masjidil Haram, Sa’i antara Safa dan Marwa, dan Tahallul. Semuanya dilakukan dengan tertib, yang wajib di dahulukan secara beraturan. Tata cara pelaksanaannya telah ditunjukkan dengan baik di dalam buku petunjuk Manasik Haji.

    Labbaika, Allahumma Labbaika. Laa syarika laka labbaika. Innal hamda wan-ni’mata laka wal mulka, laa syarika laka. Dengan persiapan rohani dan jasmani (fisik) yang baik, Insya Allah para jamaah haji tahun ini menjadi “hajjan mabruran, wa sa’yan masykuran, wa dzanban maghfuran, wa tijaratan lan taburan”. Amin Ya Rabbal Bait al ‘Atiq.

    Billahit taufiq wal hidayah.

    Padang, Zulhijjah 1429 H


    Jangan Mengundang Musibah karena Lengah dengan Perintah Allah

    desember 20, 2008

    Musibah Datang karena lengah

    Oleh Buya H. Mas’oed Abidin

    Firman Allah, “ Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami musibah melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami…” (Q.S. At Taubah: 51). Musibah adalah ujian yang datang dari Allah SWT. Pada hakikatnya setiap manusia tidak menginginkan datangnya musibah, baik musibah hilangnya harta benda, kecelakaan, ataupun kematian. Baik musibah itu berupa ujian besar maupun kecil belaka. Akan tetapi, maklumilah bahwa ujian itu senantiasa akan datang kepada semua manusia bimana waktu saja. Walau manusia berupaya lari daripada musibah itu, namun iapun akan tetap jua datang menghampirinya.

    Buya Di Depan Bab Fahd Masjidil Haram

    Ditinjau dari ketentuan dari Allah (taqdir), musibah terjadi atas izin dan ketentuan Allah semata. Tanpa izin dan ketentuan-Nya tidak mungkin musibah terjadi. Dipandang dari sisi kemanusiaan atau hukum kausalitas (sebab akibat), ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan Allah SWT mendatangkan musibah kepada makhluknya.

    Pertama, karena manusia kurang peduli. Tidak mau bersedekah karena terlalu sayang terhadap hartanya Berkembangnya kebiasaan hidup kikir. Bersedekah sesungguhnya akan membawa keberkahan, dan menyebabkan terhindar dari musibah. Tidak dapat dimungkiri bahwa seorang yang senang bersedekah  akan dicintai dan didukung oleh masyarakat kelilingnya. Seorang yang cekil kedekut atau kikir, dengan harta maupun dengan tenaga, akan dijauhi oleh lingkungannya. Kebakhilan akan membuka jalan bagi datangnya musibah. Berkaitan dengan anjuran bersedekah ini Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah itu akan menutup tujuh puluh pintu keburukan (musibah).” (HR. Ath Thabrani). Allah SWT berfirman: “Apa saja yang telah kalian nafkahkan (infaqkan) Allah akan menggantinya”. (Q.S. As Saba’: 39)

    Kedua, kurangnya bersilaturrahim atau malas menyambung tali persaudaraan. Silaturrahim adalah amal yang diwajibkan dalam ajaran Islam. Silaturahim mesti masuk ke dalam agenda hidup Silaturahim menumbuhkan kasih sayang di antara ummat. Dengan kasih sayang persaudaraan dan persatuan dapat dibina. Kedengkian dan kebencian dapat diobati dengan silaturahim. Segala macam bencana dapat dihindari dengan kuatnya persaudaraan. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezkinya dan dipanjangkan umurnya maka hubungkanlah tali silaturrahmi (persaudaraan).” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Ketiga, musibah datang karena melupakan Allah dan lalai atas perintah-perintah-Nya. Melupakan Allah, cepat ataupun lambat akan mengundang datangnya musibah. Allah SWT berfirman “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa.” (Q.S. Al An’am: 44) Na’udzubillah.

    Keempat, bencana terjadi karena ulah tangan manusia belaka, seperti berbuat kerusakan, seperti penebangan hutan dan lain-lain. Ulah tangan manusia jua akan mengundang banjir, tanah longsor, bumi runtuh, ozon menipis. Peringatan Allah SWT dalam Al Quran-ul Karim pada surat Ar-Rum ayat 14 sedahlah jelas sekali.

    Di dalam menghadapi musibah ini manusia terbagi kepada beberapa golongan. Ada golongan yang selalu dilindungi oleh Allah SWT. Golongan ini senantiasa berjalan lurus meniti jalan Allah, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Bahkan di setiap keadaan senantiasa berusaha bersama dengan Allah. Meyakini bahwa tiada daya dan upaya melainkan hanya dengan izin Allah SWT. Golongan ini akan mendapatkan perlindungan Allah dari semua musibah yang datang.

    Ada kelompok yang manakala dalam keadaan sehat, senang dan lapang lupa kepada Allah. Ketika dikepung cobaan, mereka bersujud kembali bertaubat kepada Allah, dengan sadar, dengan memasrahkan diri bertaubat nashuha dan menyesali kelalaian mereka selama ini. Insya Allah akan mendapat keampunan dari Allah Azza wa Jalla.

    Ada pula kelompok yang melupakan Allah SWT tatkala senang dan mengingatnya tatkala susah saja. Manakala kesusahan telah berlalu mereka kembali ke kesesatan. Melupakan sama sekali apa-apa yang pernah berlaku sebelumnya. Kelompok ini termasuk ke dalam orang-orang musyrik, sebagaimana dijelaskan Allah dalam Al Quran surat Yunus (10), ayat 22 dan 23.

    Ada kelompok paling buruk. Hatinya mengeras seperti batu. Walaupun berbagai bencana dan musibah telah datang, namun mereka tidak hendak bermohon ampun kepada Tuhannya. Mereka malas berkata, “ Wahai Rabb-ku ! ”. Mereka tidak mau mengambil pelajaran dari musibah yang ditimpakan. Mereka menganggap semuanya ini semata karena pergantian masa dan perputaran alam sahaja Mereka menganggap semua yang terjadi tidak ada campur tangan Allah padanya. Kelompok ini adalah orang kafir.

    Gempa di Sumbar

    Gempa di Sumbar

    Yakinilah bahwa musibah yang datang dapat menjadi teguran, dan bisa pula menjadi azab dari Allah. Musibah sebenarnya  untuk menyadarkan manusia akan kelalaiannya dan memberi ingat manusia agar kembali dan segera sadar ke jalan Allah. Marilah kita senantiasa hindari semua musibah dengan mendekatkan diri dan taat kepada Allah SWT.

    Bulan Ramadhan adalah bulan latihan bagi manusia beriman untuk mengamalkan keikhlasan di dalam mengendalikan nafsu syahwat, makan dan minum, semata-mata karena mengharapkan redha Allah saja. Allahu a’lam bissawab

    Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh,

    Buya H. Mas’oed Abidin


    Talempong jo Gandang Tansa

    desember 20, 2008
    Talempong bagandang tansa jo pupuik sarunai garinyiak Minangkabau

    Talempong bagandang tansa jo pupuik sarunai garinyiak Minangkabau