Nasib Rumah gadang di Padang

Padang Kota Lama, Nasib Rumah Gadangmu Kini…

 

Sample Image

 

Tak terawatt : Keberadaan sejumlah rumah gadang yang ada di Kota Padang. Hanya saja sebagian dari rumah ini kondisinya tidak terawat.

 

Sabtu, 02 Agustus 2008

Rumah gadang peninggalan rang Minang di Padang lama satu persatu terlupakan. Padahal benda-benda kuno tersebut salah satu bentuk aset daerah yang dapat menarik perhatian dunia internasional di sektor pariwisata. Ilham Safutra—Padang.  Sayangnya, puluhan rumah adat yang ditinggalkan para leluhur rang Padang itu, kini nasibnya memiriskan. 

Meskipun sebagiannya terselamatkan oleh sebagian anak cucunya. Padang sebagai negeri rantau rang Minang dari negeri asalnya di Pariangan Kabupaten Tanahdatar. Negeri yang mulanya tidak berpenghuni ini dijadikan daerah panarukoan itu dijadikan sebagai negeri sendiri. Hal itu dilakukan sebagai salah satu bukti tanda daerah baru itu memang milik orang yang manaruko di sana. Dengan alasan itu rang Minang membangun rumah gadang di Padang.

Kawasan yang banyak didirikan rumah gadang di Alanglaweh, Subarangpadang, dan Tarandam. Kini rumah kebanggaan orang pribumi ini satu per satu semakin sulit ditemukan. Punahnya benda peninggalan sejarah itu disebabkan beberapa alasan.

Ada karena generasi penerus dari kaum ini tidak sanggup melakukan pemeliharaan, ada pula ditinggalkan anak cucunya merantau ke negeri seberang. Sehingga rumah itu jadi rumah tua tak berpenghuni. Dari sejumlah rumah gadang yang hilang dan yang diubah itu, ternyata masih tersisa beberapa rumah gadang lainnya yang masih berdiri cukup kokoh.

Ironisnya rumah yang tertinggal itu sebagiannya tidak lagi ditempati. Salah satunya di Jalan Ranah sekitar rumah makan Midun, Kelurahan Ranah, Kecamatan Padang Selatan. Rumah tersebut sudah dicatat sebagai cagar budaya. Umurnya sekitar seratus tahun lebih. Sayangnya rumah itu kini dihuni hewan anjing untuk beranak pinak. Buktinya ketika Padang Ekspres menyambangi rumah tersebut, hewan buas itu nyaris menyerbu.

Rina (45), salah seorang warga sekitar rumah itu, ketika disinggahi Padang Ekspres  mengatakan rumah kuno itu telah terdaftar di Pemerintah Kota (Pemko) Padang, tapi hingga sekarang bentuk aslinya yang terbuat dari bahan kayu dan semen itu semakin tidak dapat lagi ditempati.  “Rumah gadang ini hanya dihuni anjing untuk berkembang biak,” terang Rina. Di samping rumah itu, masih ada rumah gadang tua lainnya yang masih dihuni. Diperkirakan umurnya lebih muda.

Sementara itu di Jl Thamrin terdapat sekitar empat rumah gadang Padang kuno lainnya. Kondisinya tidak lagi asli. Sebagian bahan bangunan itu sudah berganti dengan bahan-bahan yang diproduksi sepuluh tahun terakhir.
Satu di antara rumah gadang di Jl Thamrin itu masih ditempati keturunannya.

Umur rumah gadang yang dihiaskan dengan ukiran-ukuiran tradisional ini sekitar 400 tahun. Rumah gadang itu dibangun pertama kali Puti Nani bersama suaminya Tuanku Saruaso dari kerajaan Pagaruyung. Rumah ini dibangun jauh sebelum Masjid Raya Ganting. Keturunan pemilik rumah ini telah 10 keturunan.  Keturunan pertama Puti Nani dua orang puti, Puti Tirajo yang kawin dengan Tuangku Saruaso dari Selayo. Seorang regen pada zaman itu. Anak keduanya Puti Sari Rajo yang dipersunting Sultan Babulu Lidah, seorang regen, dari Kerajaan Indropuro. 

Kini rumah itu masih berdiri kokoh. Meski telah mengalami tambal sulap beberapa kali, namun bentuk aslinya masih dipertahankan. Dengan luas 320 meter persegi di atas tanah 1000 meter, di rumah ini terdapat enam bilik (kamar tidur), palanta, ruang dayang, yang kini digunakan untuk ruang keluarga.  St Damhuri Bur St Khairullah (65), salah keturunan ketujuh Puti Nani ketika ditemui Padang Ekspres mengatakan ia bersama keluarga besar selalu mempertahankan bentuk asli rumah peninggalan nenek moyangnya. “Kita berusaha menjadikan rumah ini tetap seperti dulu kala.

Sayangnya biaya perawatannya tidak selalu cukup,” keluhnya didampingi sumendanya Yuharlia Rasyid (65). Sejatinya rumah itu menjadi aset daerah. Sebab rumah itu menjadi salah satu bukti peradapan orang Minang di Padang zaman dulu.  

Sementara itu, Wakil Sekretaris LKAAM Kota Padang St Lukman St Maruhun Alamsyah mengatakan rumah gadang di Padang yang ditemui saat ini tidak menggunakan gojong. Hal itu disebabkan pengaruh kedatangan orang-orang dari Kejaraan Aceh sebelum kedatangan koloni-koloni Protugis dan Belanda.

Dikatakan St Lukman, zaman itu Kerajaan Aceh hendak menyerang Kerajaan Minangkabau di Pariangan. Namun kerajaan Aceh tidak berhasil. Untuk memuaskan hatinya, kerajaan Aceh menguasai Padang. Waktu itulah Islam disebarkan ke seluruh orang Minang di Padang. Sebagai bentuk kekuasaan Aceh di Padang, maka rumah gadang yang dulunya dibangun dengan bergonjong di potong tentara Aceh. “Sebab itulah rumah gadang di Padang tidak lagi menggunakan gonjong. Selain itu juga rumah gadang padang ada kemiripan dengan rumah adat Aceh,” terang St Lukman. “Kita berharap rumah-rumah gadang yang masih tinggal itu dijadikan cagar budaya,” tutup St Lukman.       (***)

© 2008 PADANG EKSPRES - Koran Nasional Dari Sumbar

Published in: on ágúst 6, 2008 at 2:02 am Ummæli (0)

Tan Malaka Pahlawan Nasional yang dicabut oleh Soekarno

Kematian Tan Malaka dan Darurat Perang Jenderal Sudirman

Kompas, Sabtu, 26 Juli 2008 | 01:29 WIB

ZULHASRIL NASIR

Membaca artikel Sabam Siagian, ”Tentang Tan Malaka” (Kompas, 12/7) yang menanggapi tulisan saya, ”Tan Malaka dan Kebangkitan Nasional” (Kompas, 7/07), ada hal-hal yang ingin dikesankan mantan Dubes RI untuk Australia itu.

Pertama, politik diplomasi Syahrir seolah tak bermasalah bagi TNI dan pejuang sehingga kombinasi politik diplomasi dan pertahanan disimpulkan telah melahirkan Indonesia merdeka.

Kedua, negara memiliki legitimasi mengeksekusi Tan Malaka atas nama keadaan darurat perang guna ”memikul wibawa penuh Panglima Besar Letjen Sudirman”.

Dwitunggal

Adam Malik dalam buku Mengabdi Republik menyatakan, dwitunggal tidak hanya satu pasang—Soekarno-Hatta—tetapi ada dua pasang lagi: Sjahrir-Amir Sjarifuddin dan Tan Malaka-Sudirman.. Saya ulas pasangan ketiga, Tan Malaka-Sudirman.

Bagi Tan Malaka, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah harga mati. Kompromi para pemimpin politik menghadapi Belanda adalah naif dan melelahkan. Maka, Tan Malaka bersama 139 organisasi (Masyumi, PNI, Parindra, PSI, PKI, Front Rakyat, PSII, tentara, dan unsur laskar) menggelar Kongres Persatuan Perjuangan di Purwokerto, 4-5 Januari 1946. Sudirman hadir sebagai unsur tentara.

Setelah mempelajari gagasan Tan Malaka, kongres yang dilanjutkan di Solo, 15-16 Januari, dengan 141 organisasi mengesahkan rancangan Tan Malaka yang disebut ”Minimum Program”.

Program itu untuk mengatasi aneka masalah, seperti pertentangan antara pimpinan negara dan pemuda/rakyat, konflik antarpejuang, dan sikap Inggris yang mengakui kedaulatan Belanda di Indonesia. Sebutlah itu konsolidasi para pejuang. Kehadiran Sudirman dalam kongres itu adalah poin utama hubungan politik Tan Malaka-Sudirman. Tan Malaka mencatat ucapan Sudirman saat itu, ”Lebih baik kita di atom daripada merdeka kurang dari 100 persen.”

Sudirman dikenal tegas, melindungi anak buah, dan tidak kenal kompromi. Ketidaksetujuannya pada diplomasi tergambar pada sikap tetap bergerilya daripada menyerah meski kesehatan Sudirman sakit parah. Sikap menyerah Soekarno dan Hatta kepada Belanda oleh sebagian orang dinilai cara taktis menghadapi diplomasi internasional. Namun, itulah yang membedakan kedua pasang pemimpin itu. Bagi Tan Malaka, kemerdekaan adalah 100 persen dan bagi Sudirman ”tentara tidak kenal menyerah”.

Bagi keduanya, tidak ada lagi penjajahan Belanda dengan segala siasatnya. Perundingan adalah siasat Belanda seperti terjadi dalam hasil Perjanjian Linggarjati dan Renville. Dan Belanda tetap menekan pemerintah dengan Agresi Militer I (13 Juli 1947) dan II (18 Desember 1948). Akibatnya, TNI harus hijrah dari satu tempat ke tempat lain, meninggalkan kantong pertahanan, yang amat menjengkelkan Sudirman.

Saat di pemerintahan pengungsian Yogyakarta muncul kemelut antarpemimpin, saat itu juga terjadi penangkapan terhadap kelompok Persatuan Perjuangan dan Barisan Banteng yang dilakukan Pesindo (kelompok Syahrir) pada 17 Maret dan 16 Mei 1946. Hubungan dwitunggal itu berlanjut saat Sudirman menugaskan Mayjen Sudarsono membebaskan tokoh-tokoh Persatuan Perjuangan dan Barisan Banteng: Tan Malaka, Adam Malik, Chairul Saleh, Muwardi, Abikusno, M Yamin, Sukarni, dan lainnya. Semua dibebaskan. Atas perintah lisan Sudirman, Mayjen Sudarsono menangkap Sutan Sjahrir dan dilepaskan 1 Juli 1946 karena campur tangan Soekarno.

Tuduhan kudeta lalu diarahkan ke kelompok Tan Malaka saat terjadi peristiwa 3 Juli 1946, di mana Mayjen Sudarsono mendatangi Soekarno-Hatta di Yogya, mendesak agar memecat Syahrir. Soekarno-Hatta menolak dan Amir Syarifuddin (Menteri Pertahanan) menangkap Tan Malaka/Persatuan Perjuangan termasuk Mayjen Sudarsono.

Meski tuduhan kudeta tidak terbukti di Mahkamah Agung Militer, dan Jenderal Sudirman ikut bersaksi. Tidak adanya pembelaan Sudirman kepada Tan Malaka dan kawan-kawan merupakan tanda tanya. Namun, ini tidak dapat ditafsirkan Sudirman meninggalkan teman-temannya. Kemungkinan, Sudirman tunduk kepada sumpah prajurit, patuh kepada Panglima Tertinggi APRI Soekarno dan pengaruh intelektual Hatta.

Tak sekeji itu

Saya tidak percaya uraian Sabam bahwa karena pengumuman Darurat Perang Panglima Besar Sudirman, maka Surachman dan Sukotjo mengeksekusi Tan Malaka (21 Februari 1949). Sudirman tidak sekeji itu. Juga tidak diyakini, Hatta bagian komplotan itu. Diyakini, yang terjadi adalah panafsiran berbeda di antara faksi-faksi tentara di lapangan. Juga penafsiran legalisme Sabam tentang kegiatan Tan Malaka yang menjadikan dirinya Pemimpin Revolusi Indonesia setelah Soekarno-Hatta ditangkap dan dibuang ke Sumatera. Dikesankan, Tan Malaka seolah mengesampingkan peran Pemerintahan Darurat RI (PDRI).

Saya tidak yakin semua pemimpin pejuang di lapangan tahu telah dibentuk PDRI begitu Soekarno-Hatta ditangkap. Adalah masuk akal jika inisiatif Tan Malaka mengambil alih pimpinan (jika Sabam benar) untuk menghindari kekosongan kekuasaan berdasar Testamen Politik Soekarno, Oktober 1945 (”…jika saya tiada berdaya lagi, saya akan menyerahkan pimpinan revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusioner, Tan Malaka….”), tindakan Tan Malaka sah menurut logika hukum.

Bung Sabam perlu tahu, TB Simatupang dan dr J Leimena sempat tergugah mengisi kekosongan kekuasaan itu karena tidak tahu bahwa sudah terbentuk PDRI di Sumatera. Komunikasi radio RI saat itu amat terbatas.

Catatan lain adalah pemerintahan Hatta tidak menunjukkan tanggung jawabnya jika benar itu sebuah eksekusi terhadap Tan Malaka. Tan Malaka bukan hewan, dia pemimpin dan pejuang mendahului Hatta dan Soekarno. Rezim bahkan sengaja menutupi kematian Tan Malaka. Ada yang menyebut Tan Malaka dibunuh di pinggir kali lalu dihanyutkan, dan sebagainya. Hingga kini, negara tampak tak ingin mengungkap temuan Harry Poeze tentang kuburan Tan Malaka di Selopanggung, Kediri. Jika negara tidak bertanggung jawab bukankah itu sebuah pembunuhan?

Setelah terjadi pembunuhan terhadap Tan Malaka, Hatta memberhentikan Sungkono sebagai Panglima Divisi Jawa Timur dan Surachmat sebagai Komandan Brigade karena kesembronoan mengatasi kelompok Tan Malaka. Agaknya, fakta ini pula yang mendorong Soekarno mengangkat Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional, 28 Maret 1963.

ZULHASRIL NASIR Penulis Guru Besar UI

Masih Mengenang 100 tahun M. Natsir

Masih dalam suasana 100 tahun M Natsir, dari padang kini kita baca…..
 
Menyusuri Jejak Masa Kecil M Natsir

 
Oleh: Febrianti/PadangKini.com

NATSIR menatap selembar foto hitam-putih itu lekat-lekat dan lama, selembar foto yang menggambarkan sebuah rumah beratap limas dengan halaman yang luas, dengan sungai yang jernih mengalir di sampingnya dan jembatan kayu jati yang berukir di atasnya.

Seolah ingin mengenang masa kecil dalam foto itu nun jauh di Lembah Gumanti yang permai di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, dari atas tempat tidurnya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta,  Natsir lama menatap foto itu.

Ini diceritakan Hamdi El Gumanti, 60 tahun, salah seorang pengurus Dewan Dakwah Islamiyah di Jakarta semasa itu. Hamdi juga cucu Sutan Rajo Ameh di Alahan Panjang,  pemilik rumah tempat Natsir dilahirkan.

“Seminggu sebelum wafat Pak Natsir memaggil saya dan meminta saya tolong carikan foto rumah masa kecilnya di Alahan Panjang, saya kaget, sebelumnya Pak Natsir tidak pernah seperti itu,” kata Hamdi.

Hamdi bergegas berangkat dari Jakarta ke Alahan Panjang dan membongkar album yang ada di rumah Jembatan Berukuir. Foto yang diinginkan Natsir ketemu dan ia segera terbang ke Jakarta memberikan foto itu pada Natsir. Tiga hari kemudian, 6 Februari 1993, Natsir meninggal.

Di masa tuanya, Natsir memang beberapa kali pernah ingin bernostalgia masa kecilnya di Sumatera Barat, tetapi tidak pernah kesampaian.

Menurut Hamdi, di Jakarta pada tahun 70-an,  Natsir pernah dekat dengan pamannya Hamdi yang bernama Syahrul Kamal. Mereka bersepakat akan akan  pulang kampung ke Alahan Panjang, tapi batal karena Syahrul Kamal keburu meninggal.

Pada 1991, saat berkunjung ke Padang dan Bukittinggi Natsir juga sempat ingin bernostalgia mengunjungi tempat-tempat masa kecilnya seperti di Alahan Panjang, Solok, dan Maninjau, namun itu juga batal. Hal ini diceritakan Aisyah Rahim Natsir, putri Natsir yang kelima.

“Saat itu saking bersemangatnya Bapak meresmikan Islamic Center di Padang, naik tangga sampai ke lantai 4, lalu jantungan, akhirnya nggak jadi, padahal Bapak sepertinya ingin bernostalgia, ia mengatakan pada kakak saya ingin ke Alahan Panjang, Solok dan ke Danau  Maninjau, ke Maninjau saja tidak sempat, Bbapak hanya sempat lewat di Solok, dan Bapak menunjuk di dekat jembatan Solok itu dulu sekolah,” kata Aisyah.

Natsir dilahirkan di Jembatan Berukir, Alahan Panjang. Daerah yang dikenal dengan Lembah Gumanti itu adalah dataran tinggi yang subur dengan kebun-kebun kopi dan kebun sayur, serta sawah yang luas. Berhawa dingin dan kerap hujan karena berada di Gunung Talang.

Di Alahan Panjang ini pemandangan alam amat indah, selain perkebunan yang subur, juga dilingkupi dua danau yang dijuluki Danau Kembar yaitu Danau Diatas dan Danau Dibawah. 

Tak Banyak yang Tahu
M.Natsir kecil dulunya lahir di sebuah rumah yang besar yang terletak di dekat Jembatan Berukir, Alahan Panjang 17 Juli 1908. Saat menetap di Alahan Panjang karena menjadi pegawai Belanda di pemerintahan setingkat kecamatan di Alahan Panjang, Ayah M. Natsir, Mohamad Idris Sutan Saripado tinggal di rumah seorang saudagar kopi kaya di Alahan Panjang, Sutan Rajo Ameh.

“Mungkin kakek saya Sutan Rajo Ameh bersahabat dengan Mohamad Idris Sutan Saripad, Bapaknya Pak Natsir sehingga mereka diajak tinggal di rumah itu,” kata Hamdi, cucu Sutan Rajo Ameh yang juga lahir di rumah itu.

Di rumah besar itu, Keluarga Sutan Rajo Ameh bersama istrinya Siti Zahara dan anak-anaknya tinggal di bagian kiri rumah. Sementara  ayah Mohammad Idrus Saripado dan Istrinya Khadijah bersama anaknya menempati rumah bagian kanan.

Menurut Hamdi, rumah itu berhalaman luas, di sisi kirinya mengalir Batang Hiliran Gumanti (batang artnya sungai) yang berair jernih. Airnya berasal dari Danau Diatas dan mengalir terus ke hilir. Di atas sungai itu ada jembatan dari kayu jati yang penuh ukiran yang dibangun Belanda.

“Ketika itu tempat paling indah di Alahan Panjang mungkin di rumah kakek saya, di sampingnya ada sungai dengan jembatan yang berukir dan di depannya ada lapangan yang hijau ditumbuhi rumput dan dipagari pohon pinang,” kata Hamdi.

Di belakang rumah kelahiran Natsir saat ada kolam ikan dan taman kecil yang tetata apik, karena Sutan Rajo Ameh amat suka menata taman dan duduk di kursi malas menghadap ke kolam ikan.

Di sebelah kolam ikan ada sungai Batang Hiliran Gumanti yang sebagian kecil airnya  dialirkan ke kincir air untuk menumbuk padi.  Itu adalah satu-satunya kincir air penumbuk padi  yang ada di Alahan Panjang semasa itu. Sayangnya rumah kelahiran Natsir terbakar saat  agresi Belanda pada 1947 tinggal di Indonesia. Rumah besar itu terbakar kena bom.

“Kata almarhum nenek saya Siti Zahara, waktu kecil ini Pak Natsir orangnya lugu, jujur dan punya sifat yang sejak kecil sudah kelihatan akan jadi pemimpin, selain itu Natsir juga suka dengan segala hal yang rapi, merapikan kamar tidurnya, dan suka membantu mencuci piring,” kata Hamdi.

Seperti umumnya anak lelaki Minang pada masa itu, Natsir kecil juga ke surau, belajar mengaji.  urau itu tidak jauh dari rumahnya, di depan lapangan. Namanya Surau Dagang yang didirikan oleh pedagang dari nagari-nagari di sekitar Alahan Panjang. Pedagang ini berjualan tiap pekan di Pasar Perserikatan Alahan Panjang tak jauh dari surau itu.
Menurut Hamdi, surau itu dulunya dari kayu, lantainya bambu dan atapnya dari daun rumbia, kini sudah berubah menjadi Masjid Al Wusta.

Dijaga Penjaga Buta
Tidak banyak yang  tahu tentang masa kecil Natsir di Alahan Panjang, karena orang-orang segenerasi dengan Natsir apalagi generasi di atas Natsir sudah tidak ada lagi. Apalagi Natsir di Alahan Panjang hanya pada masa sebelum masuk Sekolah Rakyat (SR) di Kota Solok.

Kini Alahan Panjang tidak banyak berubah. Lembah Gumanti berhawa dingin. Ladang sayuran dan kebun kopi masih terhampar luas, karena Alahan Panjnag termasuk sentra pemasok sayuran untuk Sumatera Barat dan Riau.

Namun tempat kelahiran Natsir agak berubah. Rumah kelahiran Natsir yang terbakar telah dibangun lagi pada 1957. Walaupun cukup besar tapi kalah luas dibandingkan rumah yang pernah ditempati Natsir.

Di samping kiri rumah  masih mengalir Batang Hiliran Gumanti dengan airnya yang masih jernih, di atasnya ada jembatan namun tidak lagi jembatan kayu jati yang berukir, telah diganti jembatan beton, walaupun nama jalan di depan rumah itu tetap Jembatan Berukir.

Di dalam rumah masih ada satu set kursi rotan milik Sutan Rajo Ameh, semasa ayah Natsir tinggal di rumah itu, juga ada kursi malas dari kayu jati, serta lemari yang penuh peralatan dari kuningan, peninggalan zaman Natsir saat di rumah itu.

Kolam ikan di belakang rumah sudah tidak ada lagi, kincir air dibelakang rumah dekat rumpun bambu masih ada, namun tidak lagi digunakan. Di seberang jembatan berukir tidak ada lagi lapangan hijau yang luas yang dinaungi barisan pohon pinang. Lapangan itu telah berubah menjadi terminal bus dan angkutan umum, letaknya bersebelahan dengan pasar Alahan Panjang.

Rumah itu dijaga seorang penjaga buta, Zulfikar. Ia adalah kerabat si pemilik rumah Hamdi El Gumanti yang mewarisi rumah itu dari ibunya. Hamdi sendiri tinggal di Jakarta.

“Saya dititipi rumah ini karena ini rumah kelahiran Pak Natsir, karena yang punya merantau semua ke Jakarta, tetapi saya tidak banyak tahu tentang beliau,” kata Zulfikar.

Ia sehari-hari bertugas memelihara rumah, menyapu, membersihkan halaman.

“Sudah banyak yang datang ke rumah ini, karena mereka ingin melihat rumahnya pak Natsir, pernah bupati, gubernur, beberapa  menteri dan pernah pula orang dari Arab yang datang dan numpang sholat di rumah ini karena tahu tempat ini rumah kelahiran Pak Natsir,” kata Zul.

Hamdi El Gumanti sang pemilik rumah mengatakan, tidak banyak lagi orang yang tahu tentang masa kecil Natsir di Alahan Panjang.

“Yang tahu itu seangkatan nenek saya,dan itu tentu sudah meninggal semua, saya saja tahu cerita Natsir pernah di sana dari nenek , karena nenek saya umurnya sampai 103 tahun jadi saat saya SMA dan nenek tinggal di Jakarta bersama kami, di situlah beliau sering bercerita,” kata Hamdi El Gumanti.

Masa kecil Natsir dihabiskan di berbagai tempat mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai pegawai Kolonial Belanda. Setelah dari Alahan Panjang, Natsir sempat tinggal di Maninjau dan bersekolah hingga kelas dua. Kemudian pindah ke Padang, untuk bersekolah di HIS Adabiyah.

Tak lama berselang, dia pindah ke Solok. Dan ketika sang ayah pindah ke Makassar, Natsir kembali ke Padang tinggal bersama kakaknya. Di sana dia menamatkan pendidikan dasarnya sebelum akhirnya melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onder­wijs (MULO) di Bandung.

Orang Maninjau
Di Danau Maninjua, jejak masa kecil Natsir juga kabur, orang lebih banyak mengenalnya sebagai sosok Natsir yang ikut memimpin perjuangan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). 

Kedua orang tua Muhammad Natsir berasal dari Maninjau, Kabupaten Agam. Namun tidak diketahui apakah Natsir kecil pernah ke Maninjau. Turunan pihak ibu Natsir memiliki ‘rumah gadang’ di Maninjau. Letaknya di Kelok Satu, sekitar 200 meter dari tepian Danau Maninjau. Dari tempat  itu, Danau Maninjau terlihat jelas.

Di jalan Kelok Satu itu beberapa rumah tua dari kayu masih berdiri salah satunya rumah Roslinar, 64 tahun, kemenakan jauh Natsir dari keturunan kakak dari  ibu Natsir.

Rumah yang ditempati Roslinar bersebelahan dengan rumah yang disebut-sebut rumah Natsir.

Sebenarnya rumah Natsir itu adalah ‘rumah gadang’ milik suku dari pihak perempuan keluarga ibu Natsir. Dulunya rumah itu rumah kayu, namun pada 1990 dibangun menjadi rumah beton dengan atap seng model bagonjong. Di halaman rumah ditutupi paving blok dan dipagar besi. Rumah bercat kuning itu disewakan untuk kost siswa.

“Saya tidak tahu persis apakah saat kecil Pak Natsir pernah singgah ke rumah ini, karena ayah dan ibu Pak Natsir kan memang tidak pernah tinggal di Maninjau, yang jelas itu adalah rumah keluarga ibunya Pak Natsir,” kata Roslinar.

Di dalam rumah itu tidak ada selembar pun foto Nastir. Menurut Roslinar, karena pada masa PRRI semua foto Natsir dan keluarganya disembunyikan dalam plastik sehingga rusak.

“Saat PRRI dulu banyak tentara yang setiap hari ke rumah ini dengan senjata terkokang menanyakan Pak Natsir, jadi seluruh foto-fotonya dan keluarganya kami simpan jauh-jauh di dalam plastik disembunyikan, akhirnya rusak,” kata Roslinar.

Roslinar mengatakan Natsir pernah dua kali berkunjung ke rumah itu. Pertama semasa PRRI dan kedua pada 1980-an.

“Saat masa PRRI saya tidak terlalu ingat, karena masih kanak-kanak, tetapi saat 80-an lalu saya yang sibuk memasak dan jadi tuan rumah karena Pak Natsir datang dan berkumpul di rumah itu bersama sanak dan kemenakannya,” kata Roslinar.

Ia ingat, Natsir banyak bercerita ringan dengan sanak keluarganya, juga nasehat agar bila ingin maju harus mengutamakan pendidikan.

“Pak Natsir tidak menginap, beliau pulang ke Padang, saat pulang saya ditinggali uang Rp150 ribu, katanya untuk belanja di rumah, itulah terakhir kalinya Pak Natsir berkunjung ke rumah ini,” kata Roslinar.

Roslinar mengatakan, tidak tahu banyak tentang masa kecil Natsir. Ia adalah satu-satunya keluarga dari pihak ibu Natsir yang tinggal di Maninjau.
Sekitar 500 meter dari rumah  Natsir  kini berdiri sebuah perpustakaan yang dinamakan Perpustakaan Mohamad Natsir.

Perpustakaan ini didirikan 2005 lalu oleh Ikatan Perantau Maninjau di Jabodetabek.

Di dalam pustaka dengan luas 180 meter persegi itu cukup banyak koleksi buku. Di salah satu lemari terdapat 20-an buku karangam Natsir dan buku tentang Natsir yang disumbang keluarga M. Natsir untuk perpustakaan.

Selain itu juga ada buku-buku fiksi, sastra, buku anak-anak, dan majalah.
“Perpustakaan ini untuk semua umur, setiap hari paling sedikit 10 orang yang membaca di sini,” kata Santi, salah seorang penjaga pustaka.

Ia mengatakan, perpustakaan ini memakai nama M. Natsir karena untuk mengenang tokoh asal Maninjau itu.

“Ini kan daerah asalnya Pak Natsir, walaupun beliau tidak lahir di sini, tetapi beliau orang sini,” kata Santi.

Ia mengatakan, beberapa perantau asal Inggris tahun lalu pernah mengirimkan sumbangan buku-buku anak-anak satu kardus besar langsung dari Inggris. Selain itu mereka juga menyumbang satu perangkat komputer untuk perpustakaan itu.** 

Zakat Fitrah, Membesarkan Asma Allah

 

Zakat  Fithrah

 

Oleh : H Mas’oed Abidin

 

Sasaran akhir puasa Ramadhan adalah la’allakum tasykurun, artinya supaya kamu bersyukur.[1] Tidak sempurna kehidupan bermasyarakat bila kegembiraan rasa syukur ini tidak di iringi dengan peduli kepada orang sekeliling, terutama kepada yang belum bernasib baik, fuqarak wal masakin.

            Pembuktiannya adalah dengan mengeluarkan zakat fithrah bagi meringankan beban derita kaum tak berpunya. Satu bimbingan Islam dalam merasakan suatu kegembiraan secara bersama (ijtima’i).

            Zakat Fithrah, kewajibannya fardhu’ain bagi setiap Muslim. Apabila dia telah memasuki bulan Ramadhan dan memasuki Idul Fithri. Tidak peduli, apakah dirinya sudah akil baligh ataupun belum, berbadan besar ataupun kecil, berkeadaan sanggup ataupun tidak. Sebab seyoyanya dihari itu tidak ada yang mengatakan tidak sanggup.

            Dibayarkan sebelum salat Idul Fithri. Bila dibayarkan sesudah Idul Fithri, nilainya sama seperti sedekah biasa. Boleh dibayarkan sejak awal Ramadhan.

            Sebaiknya dengan makanan yang kita makan. Boleh dihitung dengan nilai uang sebesar harga makanan yang dikeluarkan (3 sha’, atau 5,5 kg = sepuluh tekong beras).

            Dibayarkan kepada fuqarak wal masakin. Tidak terbatas jumlah boleh menerima.  Sesuai bimbingan Rasulullah SAW, aghnuhum ‘anis-suaal fii hadzal yauma, artinya kayakanlah mereka (orang-orang tak berpunya) itu dari masalah minta-meminta pada hari lebaran ini.

            Bila tidak dibayar, puasanya tergantung antara bumi dan langit (al Hadist).

Hakikatnya, “zakat fithrah menjadi pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang tercela dan dari dosa, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin(HR.Abu Daud).

            Perintah agama sangat tegas. Kayakan mereka orang fakir miskin yang tidak sanggup itu, pada hari lebaran idul fithri ini. Bebaskan mereka dari bertawaf, berkeliling meminta-minta dihari besar yang mulai ini. Demikian inti ajaran Islam. Maksudnya supaya satu sama lain saling ringan meringankan. Berat sepikul ringan sejinjing.

            Dihari lebaran terbuka pintu pendapatan insidentil dari setiap orang fuqarak dan masakin. Jangan mereka dihina dan dihardik. Semestinya setiap orang yang berpunya merasa malu dihadapan Allah, bila dikelilingnya berserak orang-orang miskin. Secara alamiah kondisi menjamurnya kemiskinan adalah penggambaran nyata dari kondisi kekayaan orang berada yang  tidak banyak bermanfaat dalam mengurangi jumlah orang miskin dikelilingnya.

Setiap diri yang berpunya, semestinya sanggup menyalahkan diri sendiri apabila banyak orang miskin disekililingnya.

Mungkin sekali sebahagiannya disebabkan karena yang kaya kurang peduli, dan enggan berzakat secara terarah. Atau karena haknya dirampas dengan prilaku tak terpuji, seperti korupsi, manipulasi, dan sebagainya.

            Pada sehari lebaran Idul Fithri diperintahkan mengeluarkan zakat fithrah untuk tu’matan lil masakin, atau memberi makan orang miskin. Selanjutnya, orang miskin yang dikayakan dihari itu mampu membantu diri dan keluarganya, mampu pula melaksanakan ajaran agamanya secara teguh dan bertanggung jawab.

            Zakat fithrah tidak dimaksudkan penumpukan modal oleh lembaga keuangan tetapi bias menjadi sumber modal langsung bagi simiskin yang telah menerimanya tanpa ikatan suatu akad perjanjian. Maka yang diperlukan adalah kesadaran tinggi fuqarak wal masakin itu, agar disamping keperluan konsumptif lebaran, maka dapat dijadikan modal milik sendiri yang akan dikembangkan sebagai penupang peningkatan ekonomi keluarga.

            Dengan kekayaan yang diterima oleh fakir dan miskin, mereka bisa berbelanja. Bisa membeli makanan dan minuman. Bisa membesarkan hari besar jamuan Allah. Mereka bisa pula membayarkan zakat fithrahnya sendiri. Dan pada hari ini semestinya secara ideal, tidak ada lagi orang fakir dan miskin, walaupun hanya dalam bilangan sehari.

            Pada hari lebaran itu, tidak ada lagi orang yang menganggap bahwa dirinya berada diatas, dan orang lain yang tidak berpunya (fuqarak wal masakin) menjadi orang dibawah, atau golongan have not any, dan tidak diperhitungkan.

            Bila pada masa-masa yang panjang, yang bisa berzakat hanya si kaya, tetapi di hari Idul Fithri, yang miskin dan faqir juga ikut berzakat, dari pendapatan zakat yang mereka terima. Ini suatu gambaran masyarakat yang memiliki kekuatan ampuh, atau khaira ummah itu. Mudah-mudahan.

 

Membantu  Ummat  Yang  Lemah

Perangai taqwa dan syukur merupakan satu hal yang tidak terpisah. Saling mengokohkan, ibarat aur dengan tebing.

Taqwa selalu subur dengan syukur.

Syukur akan senantiasa berbuah karena taqwa.

Nikmat yang sejati hanya ada pada diri yang selalu bertaqwa dan bersyukur itu. Nikmat seperti itu merupakan kebahagiaan hakiki, yang sanggup dirasakan sepanjang hari, dan menjadi dambaan Mukmin sejati.

Bagaimana mungkin kita akan dapat merasakan nikmatnya bahagia dan bahagianya nikmat anugerah Allah, pada hari seperti sekarang ini ??

Akankah kita dapat merasakan nikmatnya bahagia, bila disaat-saat kita semua bergembira ria, kalau disamping kita ada orang yang menangis tersedu-sedu? Sedu sedannya, seakan jeritan tanpa suara.

Padahal, mereka sedang menangis, memikirkan dan merasakan kehampaan hidup, karena tidak berpunya dan tidak punya apa-apa, kecuali  nyawa berbungkus kulit …?

Akan sirnalah semua kebahagiaan pada hari ini, jika masih ada di keliling kita orang yang dengan nasib dan takdir yang ada padanya, masih menengadahkan tangan mengharap sesuap nasi, untuk dimakan anak beranak, atau karena melihat anak-anak orang lain bergembira berpakaian baru…. Alangkah malangnya nasib badan.

Padahal sebenarnya. Mereka hanya tidak memiliki kesempatan, belum berkemampuan untuk menggantinya, walau agak sepotong. Karena tidak ada sumber pendapatan, hilangnya lowongan pekerjaan, tak ada pula yang mau berbelas kasih.

Membiarkan kondisi ini, dan menganggapnya suatu hal biasa, agaknya kita akan digolongkan kepada orang-orang yang disebut-sebut, Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?  Na’dzu billah .., Kita dianggap sebagai pendusta kebenaran agama, walau masih menyatakan diri pemeluk agama, tetapi sebenarnya sudah jauh tercampak dari ajaran agama.

Itulah orang yang menghardik anak yatim, yang menyia-nyiakan hak anak yatim. Yang tidak peduli dengan pembinaan generasi.

Yang melecehkan ratapan para dhu’afak.

Yang tidak membantu mengatasi problema kemiskinan. Akan tetapi naifnya, malah selalu berupaya mengintip-intip kesempatan …… mencari kaya dengan memiskinkan orang lain …berladang dipunggung orang  dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. [2]

 

Bahagia Dalam Memberi

Cobalah dibayangkan. Pada suasana lebaran seperti kita rasakan saat ini. Dipagi hari dikala Rasulullah SAW masih hidup, beliau keluar menuju tempat salat ibadah ‘Idul Fithri. Beliau lihat, seorang bocah termenung menyendiri. Dengan tatapan mata menerawang, dan disampingnya ada teman sebaya bergembira ria, berpakaian baru pembelian ayah. Ditangan temannya ada penganan enak buatan ibu.

Dari jauh si bocah hanya bisa melihat, sambil menikmatinya dengan bermenung. Alangkah indahnya kegembiraan teman sebaya. Ditemani gelak tawa penuh bahagia. Dilihat diri, jauh berbeda. Dikala itu terasa badan tersisih. Kemana ayah tempat meminta.  Kemana gerangan dicari ibu tempat mengadu.

Dalam situasi seperti itu, Rasulullah SAW lewat menghampiri. Meletakkan kedua telapak tangan Beliau dikepala si bocah.

 Sambil bertanya Rasul berkata, “Kenapa dikau wahai anak? Teman-temanmu gelak ketawa, dikau merana sedih menangis, gerangan apakah  yang menyulitkan ?

Andaikan ada pemimpin zaman sekarang, yang menolehkan pandang kepada silemah, yang tidak pernah mengenal rasa senang. Alangkah indahnya hidup ini ?.

Dengan nada tersendat, kerongkongan tersumbat, menahan perasaan kekanakan sibocah lugu menjawab, “Wahai Rasulullah, bagaimana diri tak akan sedih, melihat teman bergembira ria, pulang kerumah ada sanak saudara, lelah bermain ada ibu menghibur, duka dihati ada ayah yang menyahuti.

Sedang diriku wahai Nabi, terasa nian malangnya hidup ini, tiada ibu tempat mengadu, ayahpun sudahlah pergi, badan tinggal sebatang kara. Yatim piatu aku kini……..,”

Mendengar rintihan kalbu bocah yang bersih, yang mengharap belas kasih dengan tulus seketika, Rasulullah SAW berkata, “…maukah engkau wahai anak, jika rumah Rasulullah menjadi rumahmu, Ummul Mukminin menjadi ibumu …?”.

Andaikan ada masa kini, pintu rumah terbuka bagi silemah, lapangan kerja tersedia bagi dhu’afak, tentulah merata bahagia ditengah bangsa ini.

Jawaban spontan Nabi, menjadikan wajah si bocah berseri-seri, walau yang didengar barulah ajakan, tetapi harapan hidup sudah terbuka.

Diri tidak sendiri lagi.

Ada pelindung pengganti bunda. Walaupun ibu dan ayah sudah tiada. Serta merta Nabi memangku si bocah. Mencium kedua pipi sianak yang sudah lama …,  tidak pernah lagi dirasakannya.

Sirnalah air mata yang tadinya terurai lantaran sedih dan hampa. Berganti air mata gembira lantaran bahagia.

Demikianlah satu bukti sangat substansil dari sabda Nabi SAW disampaikan Beliau pada Kotbah Wada’ itu, “Aku dan orang-orang yang menanggung anak yatim, berada di sorga seperti ini (lalu beliau mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, seraya memberi jarak keduanya)” (HR.Bukhari, Abu Daud dan Tirmidzi, lihat Al-hadits As-Shahihah/Al-Bani:800).

Membangun Jembatan Rasa

Membangun mawaddah fil qurba, mestilah bersih dari kedurhakaan dan kemunafikan. Jembatan rasa akan kokoh kuat, bila di ikat oleh hati dan jiwa dalam kemasan kalimat tauhid.

Kesatuan hati dan hati menjadi sumber kekuatan yang ampuh dalam ukhuwah yang integrative.

Kita tidak dapat membayangkan betapa rusaknya masyarakat yang berlabel ukhuwah tetapi hati mereka tidak mau bertemu.

Mempertemukan hati dengan hati hanya mungkin dengan kekuatan tauhid. Keyakinan kepada Allah SWT.

Kekuatan kalimah tauhid, atau kalimatun thayyibah, dapat membentengi ummat dan mampu menjadi kekuatan dalam membina persaudaraan atas dasar ukhuwah imaniyah. Kalimah tauhid adalah seumpama pohon yang kokoh kuat dengan urat menghunjam bumi dan pucuk melembai awan.

Bentuk kerukunan ummat bertauhid digambarkan oleh Allah SWT..”Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (QS.14, Ibrahim : 24-25).

Disaat yang mulia, dihari jamuan Allah ini, kita besarkan Asma Allah, agar kita tidak menjadi golongan yang melupakan Allah, yang telah menganugerahi kita nikmatNya.

Supaya kita tidak terjerembab kedalam kehidupan  ummat yang lupa diri.”Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS.59, Al Hasyr :19).

Mudah-mudahan pada hari ini, kita semua dapat menciptakan suasana gembira dengan kesederhanaan, serta dapat pula menciptakan kebahagian disekitar lingkungan kita. 

‘Izzatun-nafs, Martabat Bangsa

Ikhlas memberi mampu mengubah sedih menjadi gembira, sanggup mengubah duka menjadi bahagia.

Nabi Muhammad SAW. menyebutkan, “Barang siapa yang menggabungkan (menanggung) anak yatim diantara kaum Muslimin, dalam makan dan minumnya, sampai mereka merasa cukup (kenyang) dari makan dan minum itu, maka ia (yang menanggung anak-anak yatim dan dhu’afak) itu pasti memperoleh sorga(HR.Abu Ya’la dan Ahmad, dalam Al Munthaqa min At Targhib (1517) dan Majma’ Az Zawa-id (8/16).   Hari ini berapa banyak jumlah anak yang bernasib serupa dikeliling kita. Mereka lemah miskin, karena telah dimiskinkan oleh suasana.

Diperlukan saling peduli (ta’awun), yang menjadi alas-dasar pembentukan masyarakat berkualitas, sebagai telah digambarkan dalam salah satu semboyan Nabi SAW “tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah”.

Meujudkan masyarakat bertangan diatas, dimulai dengan menanam keyakinan akan rahmat Allah sebagai masyarakat berpunya, yang memiliki ‘izzah (harga diri), tidak menggantung nasib kepada keinginan orang lain.          Harkat martabat bangsa amat ditentukan oleh kemandirian, self help bersikap kaya jiwa (ghinan-nafs) yang mampu berdiri dikaki sendiri. Bersedia membuka pintu hati mengulurkan tangan kepada orang lain dalam rangkaian mutual help  (man a’thaa wat-taqaa) dan selfless-help (wa shaddaqa bil husnaa).

Sikap budaya dalam adat di Ranah Minang, singkek uleh ma uleh, kok kurang tukuak manukuak. Senyatanya, inilah sebahagian modal dasar daerah kita dalam menghadapi UU Otoda No.22 dan 25/1999.

Satu pelajaran paling berharga, yang dapat kita ambil dari Sunnah Rasulullah SAWOrang yang paling disukai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling disukai Allah adalah yang menyenangkan sesama orang Muslim (artinya janganlah ditaburkan kemaksiatan yang mengundang lahirnya bencana). Kamu hilangkanlah susahnya. Kamu lunasilah hutangnya. Kamu usirlah laparnya.  Dan Aku, Muhammad SAW, lebih senang bersama saudaraku dalam satu keperluan yang diatasi secara bersama, daripada beri’tikaf dimasjidku ini, yakni Masjid Nabawi di Madinah, selama sebulan penuh”.

Pesan Nabi SAW juga menegaskan, “Sembahlah Allah Yang Maha Pengasih. Berilah makanan kepada orang yang lapar. Sebarkanlah salam kepada sesama manusia. Kalian akan masuk sorga dengan selamat” (HR. Tirmidzi (1856), Ahmad (6587, Al Musnad) dan Bukhari (981, Al Adab al-Mufrad)

Mari kita tumbuhkan kebahagiaan dalam memberi sebagai satu sikap jiwa (mental attitude) yang berguna mengubah dan memberi kecerahan dalam hidup.

 

Membesarkan

Asma Allah

Berbahagialah kiranya kita pada hari ini, dalam merayakan suatu kemenangan. Kemenangan dari satu perjuangan besar. Mengendalikan diri dan nafsu sebulan penuh di bulan Ramadhan. Kemenangan dalam merebut taqwa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”, (QS.2, Al Baqarah : 183)

Bersyukurlah kita kepada Allah Yang Maha Esa, yang mengaruniai kita sekalian dihari raya ini, suatu nikmat besar. Nikmat dapat melaksanakan perintah-perintah Nya. Kemudian dapat menikmati Idul Fithri.            

Kembali kepada fithrah yang paling manusiawi. Yang menjadi idaman setiap Mukmin.

Bergembiralah kita semua, pada hari ini. Tatkala kita mampu menghidangkan suasana gembira. Tidak semata-mata teruntuk bagi orang yang telah melaksanakan puasa Ramadhan. Tetapi juga dapat dinikmati oleh orang-orang disekitar kita. Amatlah wajar, kalau kemeriahan hari ini diisi dengan saling bermaafan. Saling berjabat tangan, mengharap redha Allah. Saling memaafkan diantara kita. Dari anak kepada orang tuanya, dari yang kecil kepada yang besar. Dari antara teman sejawat, sekantor dan rekan sebaya. Dari murid terhadap gurunya.

Dari pemimpin terhadap rakyatnya.  Secara timbal balik. Kepada setiap shaimin, yang baru meninggalkan Ramadhan beberapa jam yang lewat, kita ucapkan pula “minal ‘aidin wal faa izin, wa kullu ‘aamin wa antum bi khairin” …Berbahagialah siapa yang telah kembali dari perjuangan besar, jihadun-nafsi.

            Semoga kemenangan itu selalu membawa kepada keadaan yang lebih baik dalam menanam kebaikan, ditahun-tahun mendatang.

Disamping kegembiraan itu, sepantasnya pula kita selalu mawas diri. Selalu berhati-hati terhadap kriteria yang disebut Rasulullah SAW, …berapa banyaknya orang yang berpuasa, tetapi tidak ada yang mereka peroleh, kecuali hanya lapar dan haus semata … Na’udzubillah. Mudah-mudahan kita terhindar dari apa yang telah di-gambarkan oleh Rasulullah SAW ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Do’a Penutup

Allahumma Yaa Rabbana, Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami semua ummat Mu yang memiliki sibghah, memiliki jati diri. Mememiliki keteguhan ‘izzah nafsi, tahu akan martabat diri.

Yaa Allah, Ya Rabbana,

Dengan hati yang bersih penuh harap, dengan kedua telapak tangan kami menengadah kepada MU, kami bermohon kepada MU ; Jangan Engkau jadikan kami menjadi ummat buih (ghutsa-an ka ghutsa-as-sail), yang dipermainkan serta diperebutkan oleh orang-orang yang tengah kelaparan, seakan memperebutkan sepiring makanan dihadapan mereka.

Wahai Allah, Yaa Lathief,

Hindarkan bangsa ini, bangsa Indonesia yang besar ini dari penyakit wahn, yakni penyakit hubbud-dunya, mencintai dunianya amat-sangat berlebihan sehingga mau menjual diri dan keyakinan mereka. Yaa ‘Aziiz, hindarkan bangsa ini dari penyakit karahiyatul-maut, penyakit enggan beramal dan berjihad dijalan MU.

Allahumma Yaa Ghaffar,

Kami menyadari sudah banyak nikmat MU kepada kami. Namun terkadang kami selalu lupa mensyukurinya. Kami sadar telah banyak kesalahan dan kezaliman kami lakukan, sadar ataupun tidak, tapi kami lalai memohon ampun. Yaa Rahmanu Yaa ‘Aziizu, ampunilah kami semua. Ampunilah kedua orang tua kami. Bimbing kami dan pemimpin bangsa kami selalu beribadah kepada MU,

Yaa Mujiibu,

Jadikan kami hamba-hamba MU yang selalu beribadah kepada MU, sesuai maksud Engkau menciptakan kami. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Allahumma, Yaa Rahiim, Yaa ‘Aziiz, Yaa Jabbar, Yaa badii’us-samawati wal ardhi, Hindarkan bangsa kami dari keruntuhan karena kelalaian orang-orang bodoh ditengah kami. Berikan kami kekuatan dan ketabahan dalam memikul setiap amanah menciptakan kebahagiaan duniawi dan ukhrawi secara tauhidik, integralistik. Hindarkan kami wahai Rahman, dari perpecahan dan poergaduhan yang akan menyebabkan hilangnya semerbak kami.

Yaa Malikul Quddus, as Salamul Mukminul Muhaimin, Jadikan kami semua hamba yang mencintai Alquran, dan mampu mengamalkan Alquran.

Dengan Alquran ini, Yaa Allah, Engkau telah keluarkan ummat manusia dari kegelapan jahiliyah kealam terang benderang dengan bimbingan hidayah Alquran,

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. (QS.14,Ibrahim:1).

Tiada yang lain tempat kami meminta, hanyalah Engkau semata. Tiada yang lain yang kami sembah, kecuali hanyalah Engkau saja.

 

 

 



[1] bacalah maksud dari firman Allah pada QS.2, al Baqarah: 185

[2] Lihatlah makna terkandung didalam Qs.107, al Maa’uun: 1-3.

Memerangi Kemiskinan

Memerangi Kemiskinan

Oleh : H. Mas’oed Abidin

            Sumatera Barat, dengan akar budaya Minangkabau, sangat intens (basitungkin) dalam mengantisipasi berkembangnya kemiskinan. Akan tetapi luas dan letak tanah di Minangkabau sebenarnya kurang bersahabat. [1]

            Perlulah pula dimaklumi, sebahagian dari luas lahan dimaksud, sudah didiami anak kemenakan warga transmigrasi. Sejak dari Pasaman, Sitiung, Lunang-Silaut, Solok Selatan. Sebahagiannya pula diolah oleh perusahaan-perusahaan perkebunan, yang menyebar dari Pasaman hingga ke batas Mandailing (Tapsel). Dari Sijunjung hingga ke batas Jambi dan Riau. Begitu pula mendekat batas Bengkulu, di ujung Pesisir Selatan.

            Tanah yang tadinya berada dalam status tanah ulayat Nagari, atau dalam sako pusako tinggi, pelan-pelan berangsur tergeser. Mengiring gerak roda pengembangan wilayah.

            Secara keseluruhan tanah-tanah kosong tadinya, kini mulai ditanami. Pelan-pelan tetapi pasti, menjanjikan mutiara hijau di kepingan wilayah Sumatera Barat.

            Mulai dari tanaman sawit, karet, cokelat, lada/merica, kulit manis, hingga ketela pohon (ubi kayu).

            Masa doeloe seketika tanah-tanah itu belum diolah, hanya dijadikan anak kemenakan sebagai hutan tempat mencari kayu api. Paling tinggi tempat simpanan kayu pembuat rumah atau untuk mencari akar-rotan.

            Persawahan atau perladangan anak nagari semasa itu, merupakan hasil taruko ninik-mamak. Sawah bajanjang bapamatang dan ladang babiteh babentalak. Dari mamak turun ke kemenakan. Begitulah seterusnya.

            Letaknyapun di sekeliling Dusun Taratak. Bahkan ada yang berada di keliling rumah tempat diam.

            Perkembangan dusun menjadi desa, dan nagari masuk lurah, anak kemenakan ikut bertambah. Rumah kecil tak mampu lagi menampung jumlah cucu dan cicit. Bangunan barupun ditegakkan, tanah persawahan menjadi satu-satunya pilihan untuk batagak rumah baru.

            Manaruko hutan menjadi sawah, tidak lagi merupakan kebiasaan masa kini. Sebaliknya yang terjadi, mengurangi areal persawahan menjadi lokasi perumahan.

            Di sinilah ditemui kritisnya masalah peternakan jika dikaitkan dengan sumber pendapatan pertanian.

            Akan tetapi, masyarakat Minangkabau, tidak dapat dikatakan miskin dan belum pula bisa dikatakan berada. Yang jelas, mereka tetap bisa hidup dan bertahan hidup, di areal yang makin terbatas itu.

            Keadaan itu memungkinkan, karena adanya peran budaya Minang yang sedari awal intensif mengantisipasi gejala kemiskinan itu.

            Antara lain, bunyi pantun.

Karatau madang di ulu,

ba buwah ba bungo balun,

marantau-lah buyuang dahulu,

di rumah paguno balun.

            Adanya kebiasaan merantau menjadikan pemuda-pemuda Minangkabau (Sumatera Barat), mencari hidup di lahan orang lain. Modalnya keyakinan, kemauan dan tulang delapan karat.

            Sementara itu, sang dara (gadis/remaja putri) Minangkabau, tidak pula dibiarkan hidup cengeng. Mereka diajar bertani, merenda, menjahit, menyulam, dan berbagai kepandaian puteri lainnya. Yang sungguhpun, dirasakan bahwa kepandaian-kepandaian semacam itu, kini mulai terasa langka.

            Kalaulah kemiskinan yang ada, tidak dirasakan sebagai bahaya, itu hanya disebabkan karena pandainya batenggang.

Sesuai bunyi pantun;

Alah bakarih samporono,

Bingkisan rajo majopaik,

tuah basabab bakarano

pandai batenggang di nan rumik.

            Selanjutnya, kepandaian batenggang itu digambarkan dalam pantun lainnya;

Latiak-latiak tabang ka pinang,

hinggok di pinang duo-duo,

satitiak aie dalam piriang,

di sinan ba main ikan rayo.

            Falsafah budaya ini, bukannya menelorkan masyarakat yang statis. Sama sekali tidak. Bahkan melahirkan sikap jiwa yang digjaya. Satu iklim jiwa (mentalclimate) yang subur. Bila pandai menggunakannya dengan tepat, akan banyak membantu dalam usaha pembangunan sumber daya manusia di ranah ini.

            Sifat egoistis, memang kurang diminati dalam budaya Minangkabau. Membiarkan kemelaratan orang lain, dengan menyenangkan diri sendiri, mungkin merupakan sikap yang tak pernah diwariskan. Yang ada, hanyalah tenggang manenggang dan raso jo pareso. Menurut bahasa halusnya alur dan patut.

            Mengatasi masalah kemiskinan ditengah kelembagaan masyarakat Minangkabau, terlihat dari usaha dan perhatian khusus terhadap kemakmuran lahiriyah (material).

            Ungkapan itu jelas tersimak dalam untaian pepatah yang menyibakkan arti kemakmuran itu.

Rumah Gadang gajah maharam

Lumbuang baririk di halaman

Rangkiang tujuah sa jaja

Sabuah si Bajau-bajau

Panenggang anak dagang lalu

Sabuah si Tinjau Lauik

Panenggang anak korong kampuang

Birawari lumbuang nan banyak

Makanan anak kamanakan

Manjilih di tapi aie

Mardeso di paruik kanyang.

 


Berencana Berhemat

 

            Untuk mewujudkan terpeliharanya kondisi dimaksud, diingatkan sungguh pentingnya perencanaan dan penghematan. Perencanaan yang jauh jangkauannya ke depan, dengan pengkajian potensi yang tengah dimiliki. Penghematan dengan tujuan bisa memahami situasi, untuk mendukung berhasilnya sebuah program yang tengah dikembangkan.

            Perhatian yang dalam maknanya ini, terungkap di dalam kalimat-kalimat;

Ingek sabalun kanai

Kulimek sabalun abih

Ingek-ingek nan ka pai

Agak-agak nan ka tingga.

            Maka, melupakan dan mengabaikan nilai-nilai luhur budaya ini, akan berarti satu kerugian. Membangun kesejahteraan sebagai upaya mengantisipasi kemiskinan, bertitik tolak pada pembinaan unsur sumber daya manusia.

            Memulainya dengan cara sederhana. Dengan apa yang ada. Yaitu potensi alam yang terbatas, dan menggerakkan potensi yang terpendam di dalam sumber daya manusianya. Terutama di pedesaan-pedesaan.

            Mengembalikan kepada benih-benih kekuatan yang ada di dalam dirinya masing-masing. Melalui usaha-usaha yang terpadu serta berkesinambungan. Dengan mempertajam daya observasi, dan meningkatkan daya pikir masyarakat pedesaan dimaksud.

            Usaha itu berkelanjutan dengan mendinamisir daya gerak serta memperhalus daya rasa. Kemudian meningkat pengembangan daya cipta, dan menumbuh bangkitkan daya kemauan mereka.

            Supaya dapat dikembalikan kepercayaan kepada diri sendiri. Dan ditumbuhkan kemauan untuk melaksanakan sikap mandiri (self help). Sesuai bimbingan Allah:

“Allah tidak akan memberikan perubahan terhadap apa-apa dengan satu kaum, sampai kaum itu berupaya melakukan perubahan (perbaikan) terhadap sikap jiwa (apa yang ada) dalam diri mereka sendiri.”. (Ar Ra’d, 13:11).

            Kita rasanya tidak perlu segan menyatakan bahwa wangsa Minangkabau hampir seratus persen penganut Islam. Sungguhpun, barangkali satu dua sudah ada yang berpindah keyakinan mereka, karena perpustakaan musim atau pergantian nilai-nilai kebudayaan.

            Begitu eratnya jalinan adat dan agama ini, melahirkan pilinan adatnya bersendi syara’, syara’ bersendikan Kitabullah.

            Islam yang mengajarkan nilai-nilai ukhuwah terjalinlah berkulindan dengan kebiasaan luhur.

Senteng babilai/Kurang batukuak

Batuka ba anjak/Barubah basapo.

Sebagai pengalaman amar ma’ruf, nahi munkar dalam ajaran agama yang dianut.

Anggang jo kekek bari makan

Tabang ka pantai ka duo nyo

Panjang jo singkek pa ulehkan

Makonyo sampai nan dicito.

            Adat hidup, tolong manolong. Adat mati, janguak manjanguak. Adat lai, bari mambari. Adat tidak, salang manyalang (basalang tenggang).

            Begitulah yang terjadi, sehingga dalam kehidupan seharian, terlihat nyata dalam perbuatan. Karajo baik ba imbauan, Karajo buruak ba hambauan.

            Kalau dalam perkembangan zaman, kebiasaan-kebiasaan lama ini mengalami proses pergeseran nilai-nilai budaya asing.

            Akan tetapi tetap diyakini, bahwa nilai-nilai budaya Minang itu, tidak hilang dan tidak pula habis.

            Ini jelas merupakan sebuah potensi yang bisa digerakkan.

            Dalam kaitannya dengan budaya merantau, terbentuklah pula ikatan-ikatan keluarga di perantauan. Sedari ikatan, dalam hubungan saparuik hingga se taratak, dusun nagari. Sampai kepada lingkungan wilayah yang luas, dari Sikiliang air Bangih, dari ombak nan badabua, sampai ka durian di takuak rajo. Artinya meliputi wilayah adat dan nilai budaya Minangkabau.

            Tujuannya, pada mulanya sekedar ba suo suo. Mempererat hubungan kekeluargaan. Meningkatkan, kepada memikirkan kampuang halaman. Dan berakhir, kepada usaha membangun kampung halaman.

            Belum terdata dengan akurat, berapa perbandingan jumlah orang Minang yang di rantau itu. Apakah jumlah mereka sama dengan jumlah yang tengah menetap di kampung. Atau barangkali beberapa kali lipat dari penghuni ranah sendiri.

            Telah lama terjadi, bahwa orang kampung ikut menikmati hasil orang rantau. Malah sering tersua, sirkulasi hidup kampung ditentukan dari rantau. Mulai dari pembinaan pribadi keluarga, membangun rumah, menebus sawah, hingga membangun sarana umum milik nagari.

            Perencanaan pembangunan nagari, sering tidak dapat dilaksanakan, tanpa diikut sertakan dunsanak yang tinggal di rantau. Begitulah kenyataan yang tersua.

            Namun di dalamnya diakui merupakan satu potensi yang bisa dikembangkan.

 

            KEKAYAAN orang rantau, mungkin tidak sebanding dengan modal yang tertanam di kampung (nagari). Karena rantau adalah lahan usaha. Umumnya bergerak dalam bidang usaha perniagaan. Sedikit yang menggarap usaha pertanian. Karena adanya ungkapan, kalau akan bertani juga, mungkin lebih baik mengolah lahan di kampung saja.

            Lapangan usaha sebagai ambtenaar kata orang saisuak, sangat diminati orang Minang. Mulai berpalingnya kepada managemen perusahaan-perusahaan swasta. Bahkan dalam usaha mandiri, belakangan ini paling banyak digeluti.

            Lapangan usaha itu, banyak menjanjikan pendapatan yang lumayan. Daripada menanti apa yang ditetapkan berbentuk gaji bulanan. Apalagi lapangan di kantor-kantor pemerintah makin hari makin sempit juga. Dan cepatnya gerak pembangunan bangsa, telah membuka lapangan kerja baru. Kejelian mengkaji kesempatan menyebabkan arus mobilitas horizontal menuju rantau, tak mudah di hempang.

            Kerasnya hidup di rantau, suatu tantangan yang berat. Diperlukan sikap jiwa yang matang. Di samping kemauan keras, dan tulang delapan karat, dibawa juga falsafah budaya untuk pedoman mengarungi lautan kehidupan rantau.

            Falsafah hidup itu, disimak dalam kehidupan keseharian tanah rantau.

Panggiriak pisau si rauik,

Patunggkek batang lintabung,

Salodang ambiak ka nyiru.

Setitiak jadikan lauik,

Sakapa (sekepal) jadikan gunuang,

Alam takambang jadi guru.

            Belajar kepada alam, mengambil pelajaran dari perjalanan hidup yang tengah diarungi. Tidak lain adalah seiring bidal pantun;

Biduak dikayuah manantang ombak

Laia di kambang manantang angin.

Nangkodoh ingek kamudi

padoman nan usah dilupokan.

            Pedoman dalam menempuh kehidupan itu, dikiatkan;

Hendak kayo, badikik-dikik       (hemat)

Hendak tuah, batanua urai          (penyantun)

Hendak mulia, tapek i janji         (amanah)

Hendak luruih, rantangkan tali   (mematuhi peraturan)

Hendak buliah, kuat mancari      (etos kerja yang tinggi)

Hendak namo, tinggakan jaso     (berbudi daya)

Hendak pandai, rajin belajar       (rajin dan berinovasi)

Dek sakato mangkonyo ada        (kerukunandan partisipatif)

Dek sakutu mangkonyo maju     (memelihara mitra usaha)

Dek ameh mangkonyo kameh     (perencanaan masa depan)

Dek padi mangkonyo manjadi    (pemeliharaan sumber ekonomi)

            Tidak mengherankan, bila tantangan berat di rantau mampu diatasi. Dan sesuatu yang paling menarik, bahwa perantau sanggup mengolah pekerjaan apa saja asal halal. Tidak memilih pekerjaan, dengan motivasi hidup yang tinggi. Kondisi ini membuka peluang kepada percepatan mobilitas vertical dalam bentuk peningkatan pendapatan.

 

 

Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu.

Nan gurun buek ka parak, Nan bancah jadikan sawah.

Nan padek ka parumahan, Nan munggu pandam pakuburan.

Nan gaung katabek ikan, Nan padang kapangimpauan.

Nan lambah kubagan kabau, Nan rawang ranangan itiak.

            Begitulah pemeliharaan dan pemanfaatan sumber daya alam, secara optimal, untuk kesejahteraan ummat manusia.

            Kekayaan nilai-nilai seperti itu, merupakan modal besar. Dan telah memberikan motivasi yang kuat, dalam upaya mengentaskan kemiskinan di ranah ini. Setidak-tidaknya berperan aktif memintasi, agar kemiskinan itu tidak meruyak. Sungguhpun kenyataan bahwa pengentasannya tidak berubah drastis.

 

Benteng Tawazunitas

            Perubahan tata kehidupan secara ekonomis, di tengah perkembangan iptek memang satu keharusan. Perubahan itu tidak bisa ditolak, dan dia akan bergerak terus. Karena diyakini, dunia itu berisi perubahan-perubahan.

            Jika manusia menjadi statis di tengah dinamika perkembangan, maka yang akan ditemui adalah penderitaan.

            Yang perlu dipertimbangkan di tengah perubahan-perubahan itu, obyektifitas-nya.

            Apakah manusia akan menjadi obyek dari perubahan itu? Ataukah, manusia akan berperan aktif memanfaatkan perubahan-perubahan itu, untuk peningkatan mutu kehidupannya. Baik dalam bidang material, ataupun emosional (kejiwaan).

            Jawaban ini, akan banyak tergantung dari kesiapan watak, dari manusia yang menghadapi perubahan-perubahan dimaksud.

            Yang paling tepat barangkali, adalah manusia memanfaatkan perubahan-perubahan, untuk diri mereka. Dan kurang manusiawi, jika manusia diperbudak oleh perubahan-perubahan itu. Yang lebih maknawi, bahwa manusia akan berusaha memilih dan memilah perubahan (inovasi) yang datang. Terapannya adalah, tepat guna dan bernilai guna.

            Ukurannya, dalam manfaat nilai lebih, tanpa mengorbankan nilai-nilai positif yang hakiki, yang sebelumnya telah dipunyai. Dalam kata lain bisa diungkapkan, bahwa perubahan-perubahan (kemajuan) iptek yang mendunia (globalisasi), tidak perlu mengorbankan nilai-nilai adat maupun keyakinan (agama), dari pengendali iptek (manusia) itu.

 

            Peningkatan tingkat kehidupan (ekonomi), tidak perlu mengorbankan kegotong royongan, umpamanya. Sikap jiwa saling memuliakan, tidak perlu diganti dengan egoistis, (siapa lu, siapa gua). Sebagaimana pernah menjangkiti kehidupan masyarakat lainnya. Akhirnya bisa berkembang kepada hilangnya kepedulian sosial.

            Kita memerlukan benteng-benteng kejiwaan yang kuat. Di antaranya adalah pemeliharaan nilai keseimbangan atau disebut juga tawazunitas, menurut istilah agama.

            Nilai budaya Minang mengingatkan, “sekali aie gadang sekali tapian barubah”. Yang berubah itu hanya tapian saja. Kebiasaan-kebiasaan ketepian, tapi berlaku sebagaimana biasa. Bukan berarti datangnya perubahan (aie gadang), lantas tepian pun ditinggalkan.

            Yang diajarkan adalah perubahan akan selalu ada. Bahkan, dalam menghadapi setiap invasi yang akan datang, selalu diingatkan. Jangan bertemu hendaknya, “Jalan dialih urang lalu. Tepian diasak urang mandi.”.

            Untuk ini diperlukan keteguhan sikap dan pendirian.

            Kita tidak dapat membayangkan, bentuk masyarakat macam apa jadinya, kalau nilai-nilai (norma-norma) sudah menipis. Perlu dipertanyakan. Apakah generasi kini, atau yang akan datang masih dipersiapkan memiliki nilai-nilai budaya mereka? Masihkah nilai-nilai (norma) hukum mereka pertahankan?

            Masihkah, norma-norma agama (nilai agama) mereka minati? Masihkah, nilai-nilai kebiasaan bermasyarakat menjadi kegandrungan untuk dipelihara? Bagaimana, hubungan riil yang terjadi?

            Kecemasan ini beralasan sekali. Karena berkembangnya kecenderungan kehidupan serba boleh (permissive society). Yang dipertahankan adalah hak. Dan melupakan pentingnya terlebih dahulu melaksanakan kewajiban. Nilai agama dan budaya, pada dasarnya berisikan “Declaration of Human Duties” itu. Berisikan piagam dasar kewajiban-kewajiban asasi manusia (masyarakat).

 

            SUNGGUHPUN ukuran kelayakan telah mengalami perubahan, beriring dengan kadar perkembangan. Akan tetapi, ukuran baik dan buruk, boleh dan tidak, acuan kepantasan (normatif, manusiawi, kemasyarakatan), harus tetap dipertahankan. Diantara ukuran yang kita miliki adalah alur dan patut.

Jiko mangaji dari alif, jiko babilang dari aso.

Jiko naik dari janjang, jiko turun dari tanggo.

 

 

 

Memulai dengan apa yang ada.

 

            Kita wajib bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta ‘ala, atas mulai meningkatnya taraf kemakmuran masyarakat, dengan ukuran materi. Tetapi kenaikan pendapatan masyarakat ini, menjadi tidak sebanding, dengan kebutuhan yang meningkat deras. Akibatnya pendapatan yang tadinya sebatas pemenuhan kebutuhan primer (pangan, sandang, papan), terserap oleh kebutuhan lainnya (sekunder, prestise).

            Pemilihan mana yang pokok menjadi kabur. Tersebab ukuran keseragaman kehidupan, mulai menjalar di tengah kelompok masyarakat (desa).

            Sering bertemu, kesalahan arah dalam menentukan pilihan. Kebutuhan mana yang didahulukan. Sering pula dikaburkan oleh dorongan bisa mendapatkan lebih mudah. Melalui hutang (kredit) tanpa jaminan, yang menjalar hingga ke pelosok-pelosok dusun.

            Tanpa disadari, bahwa garis yang tadinya dibuat, mau tak mau terlintas. HIngga bayang-bayang tidak lagi sepanjang badan. Dan kemiskinan yang ditakuti itu, kian hari kian tinggi. Dan si miskin pun kian terperosok jauh ke dalam. Jumlahnya pun makin bertambah.

            Di antara lain, penyebabnya karena tidak adanya sumber penghasilan yang ketat. Kehidupan desa yang tadinya hanya mengandalkan hasil pertanian, besarnya tetap segitu gitu juga.

            Pengentasan hanya dimungkinkan, dengan terbukanya sumber pendapatan yang bervariasi.

            Misalnya perkebunan atau peternakan. Bagi daerah-daerah tertentu, bisa dikembangkan pertukangan, kerajinan rumah tangga. Bahkan di pantai-pantai, dapat juga berbentuk nelayan, atau perikanan.

            Di beberapa daerah (wilayah), kesempatan membuka lahan usaha ini sudah mulai tampak Pasaman sebagai contoh, kini mulai bergerak ke arah perkebunan besar kelapa sawit. Ribuan hektar banyaknya. Perusahaan-perusahaan besar nasional telah lama mulai menggarapnya. Diperbanyak jumlahnya oleh perusahaan agribisnis yang ada di daerah sendiri.