Færðu inn athugasemd

Pemantapan Iman dan Taqwa

Pemantapan Iman dan Taqwa

Generasi Muda menghadapi Millenium Ketiga.

 

Oleh : H. Mas’oed Abidin.*

 

 

Generasi Pelopor

Masa depan ditentukan oleh umat yang memiliki kekuatan budaya yang dominan.[i]

 

Generasi pelopor penyumbang dibidang pemikiran (aqliyah), dan pembaruan (inovator), perlu dibentuk di era pembangunan. [2]                

 

Keunggulan generasi pelopor akan di ukur ditengah masyarakat dengan pengetahuan dan pemahaman (identifikasi) permasalahan yang dihadapi umat, dengan equalisasi mengarah kepada kaderisasi (patah tumbuh hilang berganti). Keunggulan ini di iringi dengan kemampuan penswadayaan kesempatan-kesempatan. Pentingnya menumbuhkan generasi pelopor menjadi relevansi tuntutan agama dalam menatap kedepan.[3]

 

Mantapnya pemahaman agama dan adat budaya (tamaddun) dalam perilaku seharian jadi landasan dasar kaderisasi re-generasi.

Usaha kearah pemantapan metodologi pengembangan melalui program pendidikan dan pelatihan, pembinaan keluarga, institusi serta lingkungan mesti sejalin dan sejalan dengan pemantapan Akidah Agama pada generasi mendatang [4].

 

Political action berkenaan pengamalan ajaran Agama menjadi sumber kekuatan besar menopang proses pembangunan melalui integrasi aktif, dimana umat berperan sebagai subjek dalam pembangunan bangsa itu sendiri.[5]

 

Pemberdayaan lembaga adat, agama, perguruan tinggi, untuk meraih keberhasilan, mesti sejalan dengan kelompok umara’ yang adil (kena pada tempatnya).

 

Pertemuan pendapat ilmuan dan para pengamat melalui dialog, penekanan amanah kepada pemegang kendali ekonomi, menyatukan gerak masyarakat disertai do’a (harapan) sebagai perpaduan usaha, menjadi pekerjaan mendesak meniti pengembangan pembangunan (development).  Peran da’i ilaa Allah [6] aktif menyokong mempertahankan nilai-nilai ruhaniyah sebagai modal dalam menghasilkan yang belum dimiliki.

 

Generasi pelopor (inovator) pembangunan harus dipersiapkan supaya tidak lahir generasi pengguna (konsumptif) yang tidak produktif, yang merupakan benalu bagi bangsa dan negara.[7].

 

 

Melemahnya jati diri

Kelemahan mendasar ditengah perkembangan zaman adalah melemahnya jati diri, dan kurangnya komitmen kepada nilai luhur agama yang menjadi anutan bangsa [8].

 

Isolasi diri karena tidak berkemampuan menguasai “bahasa dunia” (politik, ekonomi, sosial, budaya, iptek), berujung dengan hilangnya percaya diri. Kurangnya kemampuan dalam penguasaan teknologi dasar yang akan menopang perekonomian bangsa, dipertajam oleh kurangnya minat menuntut ilmu, menjadikan isolasi diri masyarakat bertambah tertutup. Kondisi ini akan menjauhkan peran serta di era-kesejagatan (globalisasi), dan akhirnya membuka peluang menjadi anak jajahan di negeri sendiri.[9]

 

Sosialisasi pembinaan jati diri bangsa mesti disejalankan dengan pengokohan lembaga keluarga (extended family), dan peran serta masyarakat pro aktif menjaga kelestarian adat budaya (hidup beradat, di masyarakat Minangkabau adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah).

 

Setiap generasi yang di lahirkan dalam satu rumpun bangsa wajar tumbuh menjadi kekuatan yang peduli dan pro-aktif menopang pembangunan bangsa.

 

Melibatkan generasi muda secara aktif menguatkan jalinan hubungan timbal balik antara masyarakat serumpun di desa dalam tata kehidupan sehari-hari.

Aktifitas ini mendorong lahirnya generasi penyumbang yang bertanggung jawab, di samping antisipasi lahirnya generasi lemah. [10]

 

Yang diperlukan adalah generasi yang handal, dengan daya kreatif, inno­vatif, kritis, dinamis, tidak mudah terbawa arus, memahami nilai‑nilai budaya luhur, siap bersaing dalam knowledge based society, punya jati diri yang jelas, memahami dan mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual.

Kekuatan yang memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan.

 

 

Arus Globalisasi

Kearifan Menangkap Ruh Perubahan Zaman

Menjelang berakhirnya alaf kedua memasuki millenium ketiga, abad dua puluh satu ditemui lonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pesat.[11]

Globalisasi sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau proses menjadikan sesuatu mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya.[12]

 

Era globalisasi adalah era perubahan cepat.

Dunia akan transparan, terasa sempit seakan tanpa batas. Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan jarak satu sama lain menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri, hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Arus globalisasi juga menggeser pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat industri dan perdagangan modern.[13]

Arus kesejagatan (globalisasi) secara dinamik memerlukan penyesuaian kadar agar arus kesejagatan tidak mencabut generasi dari akar budaya bangsanya. Sebaliknya arus kesejagatan mesti di rancang bisa merobah apa yang tidak di kehendaki [14].

Membiarkan diri terbawa arus deras perubahan sejagat tanpa memperhitungkan jati diri akan menyisakan malapetaka.

         

Globalisasi menyisakan banyak tantangan (sosial, budaya, ekonomi, politik, tatanan, sistim, perebutan kesempatan menyangkut banyak aspek kehidupan kemanusiaan.[15]

 

Globalisasi juga menjanjikan harapan dan kemajuan.

Setiap Muslim harus ‘arif dalam menangkap setiap pergeser­an dan tanda-tanda perubahan zaman. Kejelian dalam menangkap ruh zaman (zeitgeist) mampu men- jaring peluang‑peluang yang ada, sehingga memiliki visi jauh ke depan.[16]

 

Diantara yang menjanjikan itu adalah pertumbuhan ekonomi yang pesat.

 

Pesatnya pertumbuhan ekonomi menjadi alat untuk menciptakan kemakmuran masyarakat.[17]

 

Sungguh nikmat yang wajib disyukuri. „Lain syakartum la adzidannakum„. Yang mampu menjaga nikmat Allah (syukur), secara ekonomis dan politis mampu menjaga pertumbuhan ekonomi dan memelihara stabilitas kawasan, maka nikmat itu akan ditambah.

 

Bila tindakan tidak terpuji menjadi kenyataan, korupsi, kolusi, pemeliharaan lingkungan dilupakan, nikmat akan diubah menjadi bencana seperti krisis moneter (krismon) berkembang menjadi krisis ekonomi (krisek) seterusnya menjadi krisis total (kristal), yang telah melanda kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia sejak tahun 1998.

Namun di kawasan ini masih tersimpan potensi besar, berbentuk natural resource, dengan jumlah populasi penduduk yang besar dan menjanjikan tersedianya human power resources yang tinngi dimasa depan. Apa artinya semua ini? Kita akan menjadi pasar raksasa.[18]

 

Pertanyaan perlu jawaban segera, “sudahkah kita siap mengha­dapi perubahan zaman yang cepat dan penuh tantangan ini?” Jawabannya segera melaksanakan kewajiban memper­siapkan generasi baru yang siap bersaing dalam era global terse­but dengan memadukan seluruh potensi yang ada.

 

Karena itu, perlu sekali penjalinan kerja sama lembaga-akademik dengan penggunaan fasilitas akan mendorong penelitian terhadap perubahan yang terjadi dan memberikan petunjuk dalam menggali ekoteknologi yang memiliki kearifan ramah lingkungan.

Konsekwensinya wajib ditanamkan keyakinan bahwa apa yang ada sekarang, sebenarnya menjadi milik generasi mendatang. Generasi kini berkewajiban memelihara secara utuh nilai-warisan yang akan diserahkan secara estafeta kepada generasi pengganti, secara yang lebih baik dan lebih sempurna.

 

Tujuan yang hendak dicapai adalah terwujudnya kesejahteraan dengan adil melalui program pembangunan merata yang perlu disertai prinsip jelas, equiti berkesinambungan, sehingga partisipasi tumbuh dari bawah sehingga setiap individu di dorong maju, aman dan terjamin kesejahteraan [19].

Perancangan pembangunan arus bawah di hidupkan dengan pendekatan holistik (holistic approach). Sasaran berikut pemantapan jati diri bangsa dan bernegara untuk memperkuat interaksi kesejagatan.[20]

Pemberdayaan institusi (lembaga) kemasyarakatan yang ada (adat, agama, perguruan tinggi), dalam meraih keberhasilan, mesti disejalankan dengan kelompok umara’, penguasa yang adil (kena pada tempatnya. Dari sini akan dirasakan spitrit reformasi.

 

Mengantisipasi perkembangan kedepan melahirkan keharusan memelihara gerak pertumbuhan dari bawah (bottom-up). Usaha nyata di kembangkan melalui ekonomi keluarga dengan memfungsikan kekuatan ekonomi pasar dimulai dari pedesaan.

Yang akan memimpin orang banyak adalah yang bisa berbuat banyak untuk orang banyak itu.

 

Ada pula kewajiban untuk membentuk Sumber Daya Umat (SDU) yang bercirikan kebersamaan dengan nilai asas „gotong royong“, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas.

 

Betapapun krisis tengah melanda Indonesia sebagai bahagian dari kawasan Asia Tenggara, namun sebagai bangsa yang besar semestinya bersikap optimis dengan dorongan semangat besar bahwa bangsa (kawasan) ini akan menjadi pusat kegiatan di masa datang, dalam penguasaan ekonomi ataupun intelektual menghadapi percaturan abad ke duapuluh satu.

 

Suatu kenyataan selama ini instalasi kekuatan ekonomi terpegang jumlah terkecil (selected minority) dari pelaku ekonomi dan menguasai kebutuhan mayoritas penduduk di pedesaan.

Apabila masyarakat pedesaan dengan kekuatan kecil ini mampu dibangkitkan peran sertanya dalam penguasaan kebutuhan primer terbesar masyarakat, maka adalah suatu keniscayaan semata bangsa ini akan dapat bergerak secara pasti menjadi umat yang di perhitungkan.

 

Upaya intensif ini semestinya menjadi penggiring Sumber Daya Umat dengan tetap bertumpu kepada science dengan nilai agama dan budaya, dan secara tegas tidak terjatuh kepada sikap-sikap non-science. Tugas ini perlu di emban secara terpadu.

 

 

Dzurriyatan dhi’aafan

The Loses Generation

Kecemasan di tengah perkembangan zaman (era globalisasi) tampilnya generasi yang belum siap memerankan tugas di masa depan. Gejala itu terlihat dari banyaknya generasi bangsa yang terdidik menjadi ikut pengembang prilaku non-science seperti kecenderungan kepada hal-hal yang berbau mistik, paranormal, pedukunan, penguasaan kekuatan jin, budaya lucah, pergaulan bebas, free sex, kecanduan ectacy (XTC), menjadi konsumen setia penanyangan pornografi (VCD,Internet,booklet,majalah), ditengah-tengah berkembangnya iptek.

Gejala ini tampil kepermukaan pergaulan dan tidak jarang telah dipermudah oleh kemajuan teknologi informasi dan produk cyber space.

 

Kecemasan lain adalah tumbuhnya pemenuhan keinginan non- selektif (mubazir., wasted), peniruan gaya hidup tidak berukuran. Tindakan non-ekonomis ini jangka pendek berdampak menghambat kesiapan menatap masa depan.

Kondisi ini terjadi lebih banyak dikarenakan kurangnya interest terhadap agama dan karena mulai meninggalkan puncak-puncak budaya yang diwarisi. Situasi masyarakat yang mulai kehilangan ukuran pantas dan patut, diperberat oleh tindakan para pemimpin formal dan non-formal yang seringkali banyak terpaut pada pengamalan tradisional  dan non-science tersebut.

Problematika sosial dan prilaku ini hanya bisa diatasi dengan memelihara kemurnian Akidah (paradigma tauhid) agar tidak terjadi pemahaman agama yang campur aduk, dan tidak pula terjerumus kepada pengamalan kehidupan materialis yang berakhir dengan hedonistik.

 

Kecemasan lain ada sebahagian generasi yang bangkit kurang menyadari tempat berpijak.

Pada kawasan yang tengah berkembang memang lazim ditemui pemeranan kolektivitas lebih mengedepan daripada aktivitas individu. Solusinya dapat diatasi dengan menyatukan gerak langkah tetap memelihara sikap harmonis guna menghindari eksploitasi dalam hubungan bermasyarakat. Implementasi konsep aktual sangat penting dikembangkan melalui research untuk membentuk kondisi.

 

 

Paradigma Tauhid

Paradigma tauhid, laa ilaaha illa Allah, mencetak manusia menjadi ‘abid, hamba yang mengabdi kepada Allah dalam arti luas,  berkemampuan melaksanakan ajaran syar’iy mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul Allah, untuk menjadi manusia mandiri (self help), sesuai dengan eksistensi manusia itu di jadikan.[21]

 

Manusia pengabdi (‘abid) adalah manusia yang tumbuh dengan Akidah Islamiah yang kokoh. Akidah Islamiah merupakan sendi fundamental dari dinul Islam, dan titik dasar paling awal untuk menjadikan seorang muslim.

 

Akidah adalah keyakinan bulat tanpa ragu, tidak sumbing dengan kebimbangan, membentuk manusia dengan watak patuh dan ketaatan yang menjadi bukti penyerahan total kepada Allah.

         

Akidah menuntun hati manusia kepada pembenaran  kekuasaan Allah secara absolut. Tuntunan Akidah membimbing hati manusia merasakan nikmat rasa aman dan tentram dalam mencapai Nafsul Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.[22]

          Manusia berjiwa bersih (muthmainnah) selalu memenuhi janjinya terhadap Allah (Yang Maha Menjadikan), dan tidak pernah merusak perjanjian dengan Allah dalam melaksanakan semua perintah Allah secara konsekwen, serta berupaya membina diri untuk tidak mencampurkan iman dengan kedzaliman (syirik).[23]

          Konsistensi istiqamah adalah sikap yang tidak mencampur-baur keimanan dan kemusyrikan dalam mengamalkan syari’at Islam secara tidak terputus ibarat akar dengan pohonnya.[24]

          Karena itu, sangat mustahil bagi muslim untuk hidup dengan tidak memiliki iman (Akidah) secara benar. Hakikinya tanpa Akidah tidak ada artinya seorang muslim.

          Akidah Islamiah ialah Iman kepada Allah dengan mengakui eksistensiNya (wujudNya).

Akidah adalah landasan utama (dasar) Dinul Islam yang bersifat Abadi dan Universal (tidak berubah sepanjang masa).

 Konsekwensi misi risalah, menempatkan Allah pada titik Centris atau pusat dari segala-galanya, mewajibkan semua makhluk untuk menempatkan kepatuhan, mono loyalitas kepada Allah semata. [25]

Dengan paradigma tauhid secara mudah dapat dipahami posisi ibadah dalam spirit penghambaan kepada Allah bukan dalam pengertian sempit semata-mata tetapi secara konsisten penuh keikhlasan melaksanakan semua perintah-perintah Allah tanpa reserve dengan penuh disipilin diri mencari redha Allah.

Sikap tawakkal merupakan konsekwensi dari ikhtiar dan usaha  yang keduanya berjalin berkulindan merupakan mekanisme terpadu dalam kerangka kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa dan Agung. Keyakinan tauhid mengajarkan kesadaran mendalam bahwa Allah selalu ada disamping manusia. Karena itu keyakinan iman dan taqwa mampu menepis rasa takut untuk berbuat dan gentar menghadapi resiko hidup. Apabila Akidah tauhid telah hilang, dapat dipastikan akan lahir prilaku fatalistis dengan hanya menyerah kepada nasib sambil bersikap apatis dan pesimis. Sikap negatif ini adalah virus berbahaya bagi individu pelopor penggerak pembangunan.

Keyakinan tauhid secara hakiki menyimpan kekuatan besar berbentuk energi ruhaniah yang mampu mendorong manusia untuk hidup inovatif. ***

Menuju Masyarakat Madani

          Salah sekali anggapan bahwa agama Islam hanya sebatas ritual pada hari-hari tertentu. Sesat sekali pendapat beragama hanya di batasi ruang-ruang masjid, langgar, pesantren, majlis ta’lim semata. Terlalu sesat memahami agama yang tidak kena mengena (relevan) dengan gerak kehidupan riil, tatanan politik pemerintahan, sosial ekonomi, budaya, hubungan hak asasi manusia, atau ilmu pengetahuan dan teknologi.

Agama Islam berdasar al Quran berperan multifungsi, “mengeluarkan manusia dari sisi gelap kealam terang cahaya (nur)[26].

          Bila Islam tidak diamalkan dari inti nilai-nilai dasar (basic of value) Dinul Islam, atau hanya sebatas kulit luar berupa ritual ceremonial, maka umat ini tidak akan berkemampuan bertarung di tengah perkembangan dunia global pada abad keduapuluh satu mendatang.

          Masyarakat yang lalai senang menerima, suka menampung dan menagih apa-apa yang tidak diberikan orang, cenderung menjadi bangsa pengemis yang kesudahannya membawa bangsa ini bertungkus lumus (terjerumus) kepada penggadaian menjual diri, dan tampillah pelecehan nilai-nilai bangsa.

          Dinul Islam menyimpan rahasia besar “gerakkan tanganmu, Allah akan menurunkan untukmu rezeki[27].

          Nilai ajaran dinul Islam melahirkan masyarakat proaktif menghadapi berbagai keadaan sebagai suatu realitas perbaikan kearah peningkatan mutu masyarakat.

Abad kedepan akan banyak berperan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan (knowledge base society), berbasis budaya (culture base sociaty) dan berbasis agama (religious base society). Peran terbesar para intelektual aktif menata ulang masyarakat dengan nilai-nilai kehidupan berketuhanan dan bertamaddun sebagai mata rantai tadhamun al Islami (modernisasi, pengenalan Islam ketengah peradaban manusia). Peran ini penting untuk menggiring masyarakat Indonesia ini menuju masyarakat madaniyah (maju, beradab). [28]

 

Menghidupi Masyarakat  Desa

(Kaum Dhu’afak)

Mengangkat taraf hidup kelompok lemah, akar serabut (grass root) dari masyarakat alas terbawah piramida, bukan usaha mustahil dikerjakan. Asal saja dapat merasakan nilai kepentingan, mempunyai daya inisiatif dan imagination (daya cipta) mengangkatnya, tentu akan dapat memulainya. [29]

         

Kepandaian-kepandaian betapapun sederhananya, seperti membuat tempe, tahu dan kecap, membibitkan buah-buahan, menanam sayur mayur, merangkai dan mengatur bunga, menganyam tikar, beternak itik ataupun ayam buras, dengan jumlah kecil, dizaman jet supersonic dan satelit-satelit mengitari bumi seperti sekarang ini, tidak dapat dikatakan apalah artinya. Tidak dapat dianggap rendah usaha-usaha kecil yang mungkin oleh banyak kalangan dianggap kurang bermakna.

Proses mempertinggi kesejahteraan hidup dhu’afak, adalah rangkaian gerbong yang erat terkait dengan proses pembangunan ekonomi bangsa.

Proces geraknya bisa dipercepat. Ada undang-undang bajanya sendiri, yang tak dapat tidak, harus dijalani, yang umumnya bersifat natuurlijk (alami dan sunnatullah), yaitu faktor manusia yang terikat erat dengan adat kebiasaan. Karena sering dilupakan, akhir kesudahannya menanggung akibat-akibat yang mengecewakan.

Andai kata faktor kebiasaan masyarakat sengaja dilupakan maka nasibnya tak ubah dari nasib induk ayam menetaskan telor itik. Akibat langsung adakalanya program tidak jalan, pemborosan disegala sektor, malah didapati tindakan yang wasted (mubazir).

Dalam setiap proses pembangunan keumatan (umatisasi) tidak selalu harus ditilik dari sudut efisiensi dan rendemen ekonomis semata, tetapi perlu ada pemahaman mendalam kedalam lubuk hati serta kemauan pada diri umat secara individu ataupun kelompok yang akan dibawa serta dalam proses pembangunan itu..

          Daerah kita terkenal sebagai daerah yang kaya dengan sumber alam. Sumber Daya Alam (natural resources) belum seluruhnya di olah. Dapat dikatakan bisa mendukung suatu pertumbuhan ekonomi yang sehat. Tetapi kecenderungan penduduknya dibidang ekonomi baru kepada mencari nafkah dengan memindah-mindahkan barang-barang dari satu tempat ke tempat yang lain saja.

Adapun menghasilkan barang belum cukup mendapat perhatian. Padahal sumber kemakmuran yang asasi adalah produksi, yakni menghasilkan barang.  Peran ini seringkali “dilupakan”. Latar belakang  usaha sebenarnya adalah merombak tradisi dengan membuka pikiran masyarakat dan merintis jalan baru, memulai dari urat masyarakat dengan cara-cara yang praktis.

 

          Melalui amaliyah yang sepadan dengan kekuatan yang tersedia dalam tubuh masyarakat mestinya disertai serentak membangun jiwa dan  pribadi untuk menjadi umat yang sadar. Umat perlu dihidupkan jiwanya menjadi satu umat yang mempunyai falsafah dan tujuan hidup (wijhah) yang nyata, memiliki identitas (shibgah), bercorak kepribadian terang (transparan) untuk ikut berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan. Suatu bentuk dan susunan hidup berjama’ah yang diredhai Allah yang dituntut oleh “syari’at” Islam. sesuai dengan Adat basandi Syara’ dan Syara’ nan basandi Kitabullah. Upaya ini secara luas merupakan “satu aspek dari Social Reform”, yang tidak dapat diabaikan. Memang begitulah hakekatnya. Karena pekerjaan ini akan menafaskan jiwa lain, yaitu berusaha di urat masyarakat.

         

Menumbuhkan kekuatan yang terpendam dikalangan yang lemah (kaum dhu’afak), di awali oleh memerankan hubungan kepedulian terhadap kebiasaan hidup melalui program silaturrahmi yang saling memahami dan bukan dalam bentuk sekedar “meminta atau membagi nasi bungkus”.

Pembinaan dhu’afak di dukung oleh cita-cita hendak menjelmakan tata-cara hidup kemasyarakatan berdasarkan

(a).  hidup dan memberi hidup, (ta’awun) bukan falsafah berebut hidup,

(b).  menanam tanggung jawab atas kesejahteraan lahir batin dari tiap anggota masyarakat sebagai suatu kesatuan menyeluruh secara timbal balik (takaful dan tadhamun);

(c).  mengajarkan keragaman serta ketertiban  dan disiplin jiwa dari dalam, bukan penggembalaan dari luar;

(d).  menumbuhkan ukhuwwah yang ikhlas, bersendikan Iman dan Taqwa;

(e).  mengajarkan hidup seimbang (tawazun) antara kecerdasan otak dan ketangkasan otot tangan, antara ketajaman akal dan ketinggian akhlak, antara amal dan ibadah, antara ikhtiar dan do’a.

 

Demikian pandangan hidup dan identitas  umat yang hendak di pancangkan.

Tentu tidak seorangpun yang berpikiran sehat di negeri ini yang akan keberatan terhadap penjelmaan masyarakat semacam itu dengan cara dan alat-alat sederhana tetapi dengan api cita-cita yang berkobar-kobar dalam dada masing-masing, dengan nawaitu tertanam sejak semula. Yang perlu dijaga adalah agar api nawaitu jangan padam atau berubah di tengah jalan.

 

Besar kecilnya nilai amal terletak dalam niat yang menjadi motif untuk melakukannya. Tinggi atau rendahnya nilai hasil yang dicapai sesuai dengan tinggi rendahnya mutu niat dari yang mengejar hasil itu.

          Amal akan kering dan hampa, tatkala kulit luarnya di lakukan, tetapi tujuan nawaitu-nya hilang di tengah jalan. Bila kondisi ini kelihatan tanda-tanda akan kehilangan nawaitu-nya, maka kewajiban social control (nahyun ‘anil munkar) harus lekas-lekas dilaksanakan, agar masyarakat jangan berserak dan terseret hanyut oleh arus pengejaran benda-benda yang bertebaran semata, perlu pula lekas-lekas dipintasi dengan mengemukakan social support (amar makruf) secara jelas. Insya Allah masyarakat lemah (dhu’afak) akan kuat dan masuk shaf kembali. Itulah inti kesatuan dan persaudaraan (ukhuwah dan badunsanak ) itu.

Sebenarnya seorang pemimpin pelopor penggerak pembangunan memikul beban menghidupkan dapur masyarakatnya dengan sungguh-sungguh.

Kebahagiaan tertinggi seorang pemimpin tatkala dapat menghidupkan salah satu dari ribuan dapur yang senantiasa berasap karena usahanya. Tak ada bahagia dalam kekenyangan sepanjang malam, bila si-jiran setiap akan tidur diiringi lapar  (al Hadist).

Semestinya di pahami apa yang terkandung dalam kalimat-kalimat sederhana, menyesuaikan ikrar dengan ucapan, menyelaraskan perencanaan dengan pelaksanaan, menyamakan harapan dengan kenyataan, memerlukan kesungguhan gerak disamping gagasan. Apa yang diucapkan oleh lidah dan tergores dalam hati dapat dijadikan bimbingan untuk menerjemahkan kesetiaan kepada kalangan bawah (dhu’afak) kaum lemah melalaui perlakuan nyata dalam amal perbuatan.

Tujuan akhir yang lebih mulia adalah mencari keridhaan Allah jua, Moga-moga, Amin. ***

         

 

Perankan Aktivitas Kembali Masjid

Tatkala orang partai dan masyarakat sibuk berpolitik, berorganisasi, dan berlambang maka kalimat ajakan “Makmurkan Masjid kembali, Tegakkan Jamaah dari sana”, sering disambut dengan sikap skeptis dan dingin.

Sipongang seruan itu kurang menarik. Masalahnya dirasakan kurang aktuil. Program ini dianggap tidak vital bila di banding dengan nafas “demam perjuangan politik” atau “spirit reformasi”.

            Sikap ini sebenarnya lahir karena sudah lama terkurung tanpa sadar dalam kerangka cara berpikir konvensional dan statis. Pada hal “Masjid sebagai pusat pembinaan potensi umat” adalah warisan tak ternilai yang diterima umat Islam dari Rasulullah SAW. [30]

         

Masjid bukan semata-mata tempat shalat.[31]

          Masjid adalah untuk menegakkan ibadah dan menyusun umat. Islam tidak dapat tegak tanpa jamaah. Ajaran-ajaran Islam adalah jalinan ibadah dan muamalah. Yang satu “mu’amalah dengan Khaliq (hablum min Allah)”, yang lainnya “mu’amalah dengan makhluk (hablum min an-naas)”. Ini kaji, yang sudah terang perintah wajibnya. Masyarakat Islam memikul kewajiban membina masyarakat (jamaah) karena beban langsung dari agamanya. Masjid dalam warisan Risalah Islam berfungsi sebagai pangkalan Umat tempat membina jamaah, menambah pengertian dan wawasan, mempertinggi kecerdasan, menanamkan akhlaq, memelihara budi pekerti, mendinamika jiwa, memberikan pegangan hidup bagi para anggota masyarakat (jamaahnya), guna menghadapi masalah pokok dalam persoalan hidup.

         

Masjid dan Langgar (surau) yang hidup dan dinamis, berperan sebagai pusat bimbingan untuk menaikkan jiwa umat (mendinamisirnya) untuk mencapai taraf kemakmuran hidup lebih baik.[32]

          Masjid yang hidup sebagai pusat pembinaan umat, akan meng- hidupkan jiwa jamaahnya supaya terpelihara “Izzah”, kepribadian umat yang sedang berkecimpung dalam masyarakat ramai dari berbagai corak,, ibarat ikan ditengah air laut yang hidup, tetap dapat memelihara dagingnya tetap segar dan tawar walaupun terus menerus berendam dalam air asin.

 

Jamaah umat Islam dapat saling berlomba dengan masyarakat lainnya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan secara bersama-sama guna menyuburkan kebajikan untuk masyarakat umum. Begitulah fungsi Masjid secara hakiki.

 

Kewajiban Umat “Membina Jamaah melalui Masjid” ini tidak boleh dilalaikan (di kucawaikan) dalam keadaan bagaimanapun. Hidupkan Masjid kembali. Dari masjid yang hidup akan terpancar jiwa yang memancarkan cahaya hidup kepada umat disekelilingnya. Inilah program umatisasi.

          Masjid adalah sumber kekuatan umat Islam masa lalu, sekarang dan di masa depan.[33]

 

          Alangkah meruginya Umat Islam, bila mereka tidak kunjung mengenal dan mempergunakan modal kekayaan tak ternilai jumlahnya yang dapat dijadikan sumber kekuatannya ini.

 

Kepada Umat Muhammad SAW, di amanatkan, Masjid yang hidup berfungsi untuk “mencetak” manusia yang hidup yang tidak kenal gentar selain hanya kepada Allah..

Apakah kita sudah lupa bahwa, hanya yang akan memakmurkan masjid-masjid Allah :

“ orang-orang yang beriman kepada Allah,

“ dan kepada hari kemudian,

“ serta menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat,

“ dan tidak takut melainkan (hanya) kepada Allah,

          maka mudah-mudahan, mereka termasuk orang yang terpimpin” (QS..9,at-Taubah:18).

 

          Ini tuntutan yang mesti di terima Umat Islam dari Syariat Islam yang tidak dapat disangkal wajib berlakunya atas pemeluknya di negeri ini. Kembali ke Masjid.

 

Wallahu a’lam.***

 

 


*  Makalah Ketua Dewan Dakwah Islamiah Indonesia Sumbar Padang, disampaikan pada pelatihan Sarjana Pelopor Penggerak Pembangunan Desa (SP3D), di BLKP Lubuk Selasih, Selasa 13 Juli 1999.

[i]  Masyarakat Minang ber paradigma “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah

[2] QS.3:139, menyiratkan optimisme besar penguasaan masa depan. Masa depan ditentukan oleh aktivitas amaliyah (QS.6:135) bandingkan QS.11:93 dan QS.11:121, juga QS.6:132, Kemuliaan (darjah) sesuai dengan sumbangan hasil usaha.

[3] Lihat QS.9:105, amaliyah khairiyah menjadi bukti kehidupan manusia (dunia).

[4]  Sesuai QS.3:102, kemuliaan hanya pada bangsa yang bertaqwa (QS.49:13).

[5] Silahkan teliti wahyu Allah “wa man yattaqillaha yaj’allahuu makhrajan”(QS.65:2-3), dan juga  QS.3:160, QS.47:7.

 

[6] Da’I Ilaa Allah, artinya orang yang mengajak kejalan Allah, mengajarkan agama, memelihara terlaksananya ajaran agama dengan baik.

[7]  (silahkan lihat QS.28:83 )

[8] Melemahnya jati diri karena lupa kepada Allah atau hilangnya Akidah tauhid, lihat QS.9:67, lihat juga QS:59:19.

[9] Lihat QS.9:122, berisi anjuran mendalami ilmu pengetahuan dan peringatan supaya bisa menjaga diri (antisipatif).

[10] Lihat QS.4:9, penanaman budaya taqwa dan perkataan (perbuatan) benar. Generasi yang tumbuh dalam persatuan yang kokoh kuat dengan I’tisham kepada Allah dan menjauhi setiap perpecahan (lihat QS.3:103, perbandingkan QS.4:145-146, sesuai QS.22:78).

[11]   Ditandai dengan lajunya teknologi komuni­kasi dan informasi (information technology). Gejala arus globalisasi, diantaranya“perdagangan bebas, yang memacu dunia ini dalam satu arena per­saingan yang tinggi dan tajam.

[12]  The act of process or policy making something worldwide in scope or application menurut pengertian The American Heritage Dictionary.

[13] Pergeseran sosial yang terjadi cepaat di era globalisasi antara lain dari kebersa­maan bergeser kepada individualis, lamban kepada serba cepat. Asas nilai sosial menjadi konsumeris materi­alis, tata kehidupan tergantung dari alam kepada kehi­dupan menguasai alam. Kepemimpinan formal kepada kepe­mimpinan profesional.

[14] Lihat QS.19:40, dan QS.21:105, pewaris bumi adalah hamba Allah yang shaleh (baik), bandingkan QS.7:128. Lihat juga QS.3:145 dan 148, juga QS.4:134, bandingkan QS.28:80.

[15] Aspek globalisasi menyangkut langsung kepentingan negara-negara memelihara kepentingannya, tanpa memperhatikan nasib negara lain, yang bisa melahirkan kembali „Social Darwinism„, dimana dalam persaingan bebas bentuk apapun, yang kuat akan bisa bertahan dan yang lemah akan mati sendiri (Wardiman, 1997).Kondisi mirip kehidupan masyarakat jahiliyah, seperti ungkapan Ja’far bin Abi Thalib kepada Negus, penguasa Habsyi abad ke‑7, yang nota bene berada di alaf pertama: Kunna nahnu jahiliyyah, nakkulul qawiyyu minna dha’ifun minna,  artinya: „Kami masyarakat jahiliyyah, yang kuat dari kami berke­mampuan menelan yang lemah di antara kami.“.Kehidupan sosial jahiliyyah hanya dapat diperbaiki dengan kekuatan Wahyu Allah, aplikasi syari’at Islam dengan penerapan ajaran tauhid ibadah dan tauhid sosial (Tauhidic Wel­tanschaung). Ini suatu bukti tamaddun pendekatan historik yang merupakan keberhasilan masa lalu (the glory of the past). Lihat Q.S. 2: 141.

[16]Laa tansa nashibaka minaddunya„, artinya „jangan sampai kamu melupakan nasib/peranan kamu dalam percaturan hidup dunia (Q.S. 28: 77).

[17] Indonesia, bagian dari Asia Tenggara, tiga dasawarsa (1967-1997) telah menikmati pertumbuhan ekonomi yang pesat. Bank Dunia menyebutnya „The Eight East Asian Miracle“ yang berkembangan menjadi macan-macan Asia bersama: Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Hong Kong, Thailand, Singapura, Malaysia.

    Dalam tenggang waktu itu, negara‑negara Asean menikmati pertumbu­han rata‑rata 7‑8 % pertahun, Amerika dan Uni Eropa hanya pada tingkat pertumbuhan rata‑rata 2,5 sampai 3 % pertahun.

     Populasi Asean sekarang 350 juta, diperkirakan tahun 2003 saat memasuki AFTA, mencapai 500 juta (Adi Sasono, Cides, 1997). Bila pertumbuhan ini terpelihara, Insya Allah pada tahun 2019, saat skenario APEC, kawasan ini akan menguasai 50,7 % kekayaan dunia, Amerika dan Uni Eropa hanya 39,3% dan selebihnya 10 % dikuasai Afrika dan Amerika Latin (Data Deutsche Bank, 1994)

[18] Kawasan ini akan diperebutkan. Bangsa akan dihadapkan pada „Global Capitalism„. Kalau tidak hati‑hati keadaan akan bergeser menjadi „Capitalism Imperialism“ menggantikan „Colonial­ism Imperialis“ yang sudah dihalau 50 tahun silam. Dengan „Capitalism Imperialism“ anak negeri akan terjajah di negeri sendiri tanpa kehadiran fisiki penjajah, tapi penjajahan ekonomi, moneter, dan pemaksaan idea kehendak.

[19] Lihat QS.30:41, dan  Lihat QS.66:6 bandingkan dengan QS.5:105, dan Lihat QS.4:58, selanjutnya dasar equiti (keadilan) adalah bukti ketaqwaan (QS.5:8), Lihat QS.66:6 bandingkan dengan QS.5:105.

[20]  Sebagai bimbingan wahyu Allah, silahkan lihat QS.6:54, QS.16:97, dan bandingkan QS.25:70-71..

[21]  Lihat QS.adz-Dzariat, : 57.

[22]  Lihat QS.89:27, dan  QS.13:20-24

[23]  Sesuai bimbingan dalam  QS.6:82.

[24]  Lihat QS.14:24-25.

[25]  Lihatlah dalam beberapa ayat QS. 7:65, 7:73, 7:85, 11:50, 11:61, 11:84, 16:36, 21:25.

[26]  Diantaranya terdapat dalam A.1:14,QS.Ibrahim.

[27]  Ungkapan Umar bin Khattab RA, kepada seorang pemuda yang hanya mendoa dibawah naungan Ka’bah adalah;Harrik yadaka unzil ‘alaika ar-rizqa”. (al atsar).

[28]  Sebagai catatan, kata-kata madani belum ada dalam kamus bahasa Indonesia. Bukan berarti bahwa masyarakat madani adalah “masyarakat yang belum ada dalam kamus”. Atau masyarakat guyon, madaniyee.  Mada, berarti bengal, tak mau di ajar, bhs.Minang, atau “pahit” bhs Kawi. Tetapi, masyarakat Madani adalah masyarakat maju dengan basic ilmu pengetahuan, kultur dan agama (Akidah tauhid) yang benar.

[29] Firman Allah Subhanahu wa ta’ala yang artinya; “Dan orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh pada (jalan) kami, sesungguhnya kami akan pimpin mereka di jalan-jalan kami: dan sesunggunya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Al-Ankabut, ayat 69.).

 

[30] Masjid Quba di Madinah itu adalah pusat penyusunan dan pembangunan Umat Islam yang pertama; pembina kekuatan umat dizaman pancaroba penuh cobaan dan derita.

[31] Kalau sekedar untuk shalat yang lima waktu dan sunnat bernafsi-nafsi seluruh punggung bumi yang bundar ini adalah tempat Umat Islam bershalat, sesuai sabda Rasulullah SAW, “Ju’ilat liiyal ardhi kulluhu masjidan” (al Hadist).

[32] Para ahli (expert) yang mencintai umat, dapat menghidupkan masjid dengan menjadikan tempat pembinaan masalah penghidupan masyarakat dan pelatihan-pelatihan. Persoalan umat sebenarnya masalah sederhana dan elementer; soal ternak, tanaman, pupuk, mempertinggi hasil bumi, tambak dan tebat ikan, kerajinan masyarakat agraris, soal cangkul patah dan belum berganti, masalah sapi yang belum berobat, atap tiris yang belum disisip, anak yang belum sekolah. Hal yang elementer tidak kunjung dapat dipecahkan oleh teori ekonomi yang hebat-hebat dan menurut sistim cyberspace, sistem hightec, sistem jet yang naik turun tanpa landasan.

[33] “Hitunglah beberapa betullah jumlah gedung-gedung,(kebudayaan, markas-markas organisasi, stadion-stadion dengan lapangannya), dinegeri ini. Bandingkan dengan milyunan masjid besar kecil langgar dan surau milik umat Islam yang bertebar-tabur dinegeri ini. Tinggal mengisi dan menghidupkannya. Bukan sekedar memperindahnya untuk dilagakkan, ibarat orang menghias kuburan cina dengan marmer berukir-ukir, didalamnya hanya tersimpan mayat tak bernyawa.

About these ads

Færðu inn athugasemd

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Breyta )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Breyta )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Breyta )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Breyta )

Connecting to %s

Fylgja

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: