Ramadhan Bulan Bertaubat

ágúst 31, 2008

Bertaubatlah dengan segera

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“ Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, “ Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. ” (Q.S. At Thahrim : 8)

Setiap mukmin memerlukan pengampunan dosa dan penghapusan kesalahan. Tentulah kita tahu bahwa tidak seorangpun terlepas dari dosa dan kesalahan. Abu Tamam mengisyaratkan sebuah hadits Rasulullah SAW yang bersumber dari Anas bin Malik r.a: “Setiap orang di antara kamu sekalian melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR. Ahmad).

Dosa dan kesalahan yang dilakukan manusia akan mengotori hatinya, bagai noda hitam di atas kain putih, tiada dapat dibersihkan kecuali dengan taubat. Rasulullah SAW menjelaskan dalam sabda beliau, “Orang yang meminta ampun dari dosa seperti orang yang tidak berdosa”.(HR. Bukhari). Dan Allah SWT berfirman  “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Q.S. Al Baqarah: 222)

Syetan telah menjebak manusia dalam seluruh aspek kehidupan, dan menyesatkannya dari jalan Allah Akibatnya manusia terjauh dari jalan keselamatan dan terbukalah dengan lebar pintu-pintu jahannam dengan bujuk rayu syaithan sehingga manusia terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan dan dosa. Karena itu semestinyalah manusia segera bertaubat mengharap maghfirah Allah.

Tidak boleh berputus asa di dalam bertaubat menuju kepada keampunan dari Allah, meskipun dosa-dosa sufdah memenuhi kolong langit. Allah adalah Maha Pencipta semua makhluk dan menguji semua amal perbuatan makhluk manusia itu. Siapapun yang menyadari akan banyaknya dosa dan ingin bertaubat menyesali semua kesalahannya itu, maka pintu taubat kepada Allah selalu terbuka dengan syarat, harus menghentikan maksiat dan menyesali perbuatan yang telah terlanjur dia lakukan. Selanjutnya dia mesti berazam atau berniat sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya lagi. Dan manakala dosa yang pernah diperbuat itu ada berhubungan dengan hak manusia maka dianya harus menyelesaikannya dengan meminta maaf atau mengembalikan apa-apa barang yang wajib ia kembalikan.

Keutamaan bagi orang yang segera bertaubat ialah Allah akan menyibukkan para malaikat-Nya untuk memintakan ampunan bagi mereka yang bertaubat dan berdoa kepada Allah agar Dia melindungi mereka dari siksaan neraka jahannam, lalu memasukkan mereka ke surga yang penuh dengan kenikmatan, serta memelihara mereka agar terjauh dari kejahatan dan kesalahan. Para malaikat yang membawa ‘Arsy di langit sibuk memintakan ampunan bagi mereka yang bertaubat. Allah berfirman: “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), Ya Rabb kami, Rahmat dan Ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam sorga ‘And yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shaleh diantara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan … Dan, orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar. ” (Q.S. Al Mukmin, 40 : 7-9).

Amat banyak ayat-ayat di dalam Al Quran al Karim yang mengabarkan diterimanya taubat orang-orang yang bertaubat manakala dilakukan dengan tulus dan benar. Penerimaan taubat semata adalah karunia, ampunan dan rahmat Allah. Rahmat Allah itu diberikannya kepada hamba-hamba yang beriman. Taubat yang sesungguhnya adalah memperbaiki semua kesalahan dan menyertainya dengan beramal shaleh.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati diri-Nya dengan Asmaul Husana seperti ditemui di dalam Al Qur’an, dengan sebutan at Tawwab (Maha Menerima Taubat). Firman Allah : “ Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang melakukan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera. Maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang melakukan kejahatan yang hingga apabila datang ajal kepada seseorang, barulah ia mengatakan, “ Sesungguhnya aku bertaubat sekarang ”. Dan tidak pula diterima taubat orang-orang yang mati sedang mereka dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.(Q.S. An Nisaa’ 4 : 17-18).

Jangan menunda-nunda taubat hingga datang hari esok. Maut itu datang secara tiba-tiba. Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam Al Fawaid menuliskan, “Bila kau berpulang ke alam baqa, tidak membawa bekal taqwa, kau lihat orang-orang yang membawanya pada hari perhimpunan. Kau akan menyesal, karena kau tidak seperti mereka. Mereka mempunyai persiapan sedangkan kau tidak memilikinya.” Maka bersegeralah untuk mensucikan diri jiwa kita.

Ramadhan adalah bulan Rahmat. Ramadhan bulan Maghfirah, di mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala membuka pintu sorga dan menutup pintu neraka. Sesuai sabda Rasulullah SAW, « siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, niscaya akan diam[puni dosa-sosanya yang terdahulu ». Maka tidaklah sepantasnya kita melalaikan masa yang amat baik untuk beramal dan memasuki pintu taubat ini.

Wassalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

Buya H. Masoed Abidin.


Jadikan Ramadhan Bulan Latihan ketaatan melaksanakan perintah Allah dan mengikuti Sunnah Rasulullah SAW, sehingga musibah demi musibah dapat dihindari

ágúst 31, 2008

Musibah Itu Datang karena lengah

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَولاَنَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“ Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami musibah melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami…” (Q.S. At Taubah: 51).

Musibah adalah ujian yang datang dari Allah SWT. Pada hakikatnya setiap manusia tidak menginginkan datangnya musibah, baik musibah hilangnya harta benda, kecelakaan, ataupun kematian. Baik musibah itu berupa ujian besar maupun kecil belaka. Akan tetapi, maklumilah bahwa ujian itu senantiasa akan datang kepada semua manusia bimana waktu saja. Walau manusia berupaya lari daripada musibah itu, namun iapun akan tetap jua datang menghampirinya.

Apabila ditinjau dari sisi takdir atau ketentuan dari Allah, memang musibah terjadi atas izin dan ketentuan Allah semata. Tanpa izin dan ketentuan-Nya tidak mungkin musibah itu dapt terjadi. Manakala dilihat dari sisi kemanusiaan atau hukum kausalitas (sebab akibat), ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan Allah SWT mendatangkan musibah kepada makhluknya.

Pertama, karena manusia kurang peduli. Tidak mau bersedekah karena manusia terlalu cinta dan sayang terhadap hartanya, dan takut hartanya habis karena bersedekah. Berkembangnya kebiasaan hidup kikir. Bersedekah kepada orang lain sesungguhnya akan membawa keberkahan, menambah kekayaan lebih banyak dan menyebabkan terhindar dari musibah.

Tidaklah dapat dimungkiri bahwa seorang yang senang bersedekah akan dicintai, dibela dan didukung usahanya oleh masyarakat kelilingnya. Sebaliknya, seseorang yang cekil kedekut atau kikir, enggan bersedekah baik dengan harta maupun dengan tenaga untuk kepentingan ummat banyak, tentu akan dijauhi oleh masyarakat lingkungannya. Maka kekikiran atau bakhil akan membuka jalan bagi datangnya musibah.

Berkaitan dengan anjuran bersedekah ini Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah itu akan menutup tujuh puluh pintu keburukan (musibah).” (HR. Ath Thabrani). Allah SWT berfirman: “Apa saja yang telah kalian nafkahkan (infaqkan) Allah akan menggantinya”. (Q.S. As Saba’: 39)

Kedua, yang mendatangkan musibah ialah kurangnya bersilaturrahim atau lemah di dalam menyambung tali persaudaraan. Silaturrahim adalah amal yang diwajibkan dalam ajaran Islam. Semestinya silaturahim masuk ke dalam agenda hidup kita, krena silaturahim akan menumbuhkan kasih sayang yang mendalam di antara ummat. Dengan kasih sayang jualah persaudaraan dan persatuan dapat dibina Dengan kasih sayang pula, kedengkian dan kebencian dapat diobati, serta segala macam bencana dapat dihindari dan diatasi. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezkinya dan dipanjangkan umurnya maka hubungkanlah tali silaturrahmi (persaudaraan).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga, penyebab datangnya musibah ialah karena melupakan Allah dan lalai atas segala perintah-perintah-Nya. Melupakan Allah dan melalikan perintah-Nya, cepat ataupun lambat akan mengundang datangnya musibah. Allah SWT berfirman “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa.” (Q.S. Al An’am: 44) Na’udzubillah.

Keempat, bencana terjadi karena ulah tangan manusia belaka, seperti berbuat kerusakan, seperti penebangan hutan dan lain-lain, yang akan berdampak negatif bagi manusia, seperti banjur, tanah lonsor dll. Inilah yang diingatkan oleh Allah SWT dalam Al Quran-ul Karim pada surat Ar-Rum ayat 14

Oleh karena itu, di dalam menghadapi musibah ini manusia terbagi kepada beberapa golongan.

Pertama, golongan yang selalu dilindungi oleh Allah SWT. Golongan ini senantiasa berjalan lurus meniti jalan Allah, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Golongan ini meyakini sungguh bahwa merekalah yang senantiasa memerlukan pertolongan dari Allah, baik di kala suka atau duka, tatkala miskin maupun kaya, di masa lapang dan sempit, bahkan disetiap keadaan ia senantiasa berusaha bersama dengan Allah Mereka meyakini bahwa tiada daya dan upaya melainkan hanya dengan izin Allah SWT. Golongan ini akan mendapatkan perlindungan Allah dari semua musibah yang datang.

Kedua, kelompok yang manakala dalam keadaan sehat, senang dan lapang sering lupa kepada Allah. Namun ketika dikepung cobaan, mereka bersegera kembali bertaubat kepada Allah, dengan sadar. Hakikatnya, semua musibah datang hanya dengan mengembalikannya kepada Allah semata, dan dengan memasrahkan diri bertaubat dengan taubat yang semurni-murninya. Golongan ini Insya Allah akan mendapat keampunan dari Allah Azza wa Jalla.

Ketiga, kelompok yang melupakan Allah SWT tatkala senang dan mengingatnya tatkala susah saja. Manakala kesusahan telah berlalu mereka kembali ke dalam kesesatan Mereka melupakan sama sekali apa-apa yang pernah berlaku sebelumnya. Mereka termasuk kedalam golongan orang-orang yang musyrik, sebagaimana telah dijelaskan Allah dalam Al Quran surat Yunus (10), ayat 22 dan 23.

Keempat, golongan yang paling buruk, yang hatinya mengeras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Walaupun berbagai bencana dan musibah telah datang kepadanya namun mereka tidak hendak bermohon ampun kepada Tuhannya. Mereka malas berkata, “ Wahai Rabb-ku ! ”. Mereka tidak mau mengambil pelajaran dari musibah yang ditimpakan kepada mereka. Mereka menganggap semuanya ini semata karena pergantian masa dan perputaran alam sahaja, dan tidak ada campur tangan Allah padanya. Kelompok ini adalah orang kafir.

Karena itu, yakinilah bahwa musibah yang datang kepada kita dapat menjadi teguran, dan bisa pula berbentuk azab dari Allah. Musibah yang datang itu sebenarnya untuk menyadarkan manusia akan kelalaiannya Berbagai ujian yang datang sesungguhnya memberi ingat manusia agar kembali dan segera sadar ke jalan Allah. Marilah kita senantiasa hindari semua musibah dengan mendekatkan diri dan taat kepada Allah SWT.

Bulan Ramadhan adalah bulan latihan bagi manusia beriman untuk mengamalkan keikhlasan di dalam mengendalikan nafsu syahwat, makan dan minum, semata-mata karena mengharapkan redha Allah saja. Allahu a’lam bissawab

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh,

Buya H. Mas’oed Abidin


Nasib Rumah gadang di Padang

ágúst 6, 2008
Padang Kota Lama, Nasib Rumah Gadangmu Kini…

 

Sample Image

 

Tak terawatt : Keberadaan sejumlah rumah gadang yang ada di Kota Padang. Hanya saja sebagian dari rumah ini kondisinya tidak terawat.

 

Sabtu, 02 Agustus 2008

Rumah gadang peninggalan rang Minang di Padang lama satu persatu terlupakan. Padahal benda-benda kuno tersebut salah satu bentuk aset daerah yang dapat menarik perhatian dunia internasional di sektor pariwisata. Ilham Safutra—Padang.  Sayangnya, puluhan rumah adat yang ditinggalkan para leluhur rang Padang itu, kini nasibnya memiriskan. 

Meskipun sebagiannya terselamatkan oleh sebagian anak cucunya. Padang sebagai negeri rantau rang Minang dari negeri asalnya di Pariangan Kabupaten Tanahdatar. Negeri yang mulanya tidak berpenghuni ini dijadikan daerah panarukoan itu dijadikan sebagai negeri sendiri. Hal itu dilakukan sebagai salah satu bukti tanda daerah baru itu memang milik orang yang manaruko di sana. Dengan alasan itu rang Minang membangun rumah gadang di Padang.

Kawasan yang banyak didirikan rumah gadang di Alanglaweh, Subarangpadang, dan Tarandam. Kini rumah kebanggaan orang pribumi ini satu per satu semakin sulit ditemukan. Punahnya benda peninggalan sejarah itu disebabkan beberapa alasan.

Ada karena generasi penerus dari kaum ini tidak sanggup melakukan pemeliharaan, ada pula ditinggalkan anak cucunya merantau ke negeri seberang. Sehingga rumah itu jadi rumah tua tak berpenghuni. Dari sejumlah rumah gadang yang hilang dan yang diubah itu, ternyata masih tersisa beberapa rumah gadang lainnya yang masih berdiri cukup kokoh.

Ironisnya rumah yang tertinggal itu sebagiannya tidak lagi ditempati. Salah satunya di Jalan Ranah sekitar rumah makan Midun, Kelurahan Ranah, Kecamatan Padang Selatan. Rumah tersebut sudah dicatat sebagai cagar budaya. Umurnya sekitar seratus tahun lebih. Sayangnya rumah itu kini dihuni hewan anjing untuk beranak pinak. Buktinya ketika Padang Ekspres menyambangi rumah tersebut, hewan buas itu nyaris menyerbu.

Rina (45), salah seorang warga sekitar rumah itu, ketika disinggahi Padang Ekspres  mengatakan rumah kuno itu telah terdaftar di Pemerintah Kota (Pemko) Padang, tapi hingga sekarang bentuk aslinya yang terbuat dari bahan kayu dan semen itu semakin tidak dapat lagi ditempati.  “Rumah gadang ini hanya dihuni anjing untuk berkembang biak,” terang Rina. Di samping rumah itu, masih ada rumah gadang tua lainnya yang masih dihuni. Diperkirakan umurnya lebih muda.

Sementara itu di Jl Thamrin terdapat sekitar empat rumah gadang Padang kuno lainnya. Kondisinya tidak lagi asli. Sebagian bahan bangunan itu sudah berganti dengan bahan-bahan yang diproduksi sepuluh tahun terakhir.
Satu di antara rumah gadang di Jl Thamrin itu masih ditempati keturunannya.

Umur rumah gadang yang dihiaskan dengan ukiran-ukuiran tradisional ini sekitar 400 tahun. Rumah gadang itu dibangun pertama kali Puti Nani bersama suaminya Tuanku Saruaso dari kerajaan Pagaruyung. Rumah ini dibangun jauh sebelum Masjid Raya Ganting. Keturunan pemilik rumah ini telah 10 keturunan.  Keturunan pertama Puti Nani dua orang puti, Puti Tirajo yang kawin dengan Tuangku Saruaso dari Selayo. Seorang regen pada zaman itu. Anak keduanya Puti Sari Rajo yang dipersunting Sultan Babulu Lidah, seorang regen, dari Kerajaan Indropuro. 

Kini rumah itu masih berdiri kokoh. Meski telah mengalami tambal sulap beberapa kali, namun bentuk aslinya masih dipertahankan. Dengan luas 320 meter persegi di atas tanah 1000 meter, di rumah ini terdapat enam bilik (kamar tidur), palanta, ruang dayang, yang kini digunakan untuk ruang keluarga.  St Damhuri Bur St Khairullah (65), salah keturunan ketujuh Puti Nani ketika ditemui Padang Ekspres mengatakan ia bersama keluarga besar selalu mempertahankan bentuk asli rumah peninggalan nenek moyangnya. “Kita berusaha menjadikan rumah ini tetap seperti dulu kala.

Sayangnya biaya perawatannya tidak selalu cukup,” keluhnya didampingi sumendanya Yuharlia Rasyid (65). Sejatinya rumah itu menjadi aset daerah. Sebab rumah itu menjadi salah satu bukti peradapan orang Minang di Padang zaman dulu.  

Sementara itu, Wakil Sekretaris LKAAM Kota Padang St Lukman St Maruhun Alamsyah mengatakan rumah gadang di Padang yang ditemui saat ini tidak menggunakan gojong. Hal itu disebabkan pengaruh kedatangan orang-orang dari Kejaraan Aceh sebelum kedatangan koloni-koloni Protugis dan Belanda.

Dikatakan St Lukman, zaman itu Kerajaan Aceh hendak menyerang Kerajaan Minangkabau di Pariangan. Namun kerajaan Aceh tidak berhasil. Untuk memuaskan hatinya, kerajaan Aceh menguasai Padang. Waktu itulah Islam disebarkan ke seluruh orang Minang di Padang. Sebagai bentuk kekuasaan Aceh di Padang, maka rumah gadang yang dulunya dibangun dengan bergonjong di potong tentara Aceh. “Sebab itulah rumah gadang di Padang tidak lagi menggunakan gonjong. Selain itu juga rumah gadang padang ada kemiripan dengan rumah adat Aceh,” terang St Lukman. “Kita berharap rumah-rumah gadang yang masih tinggal itu dijadikan cagar budaya,” tutup St Lukman.       (***)

© 2008 PADANG EKSPRES – Koran Nasional Dari Sumbar