Menuju Baitul Atiq

desember 24, 2008

Menyahuti Panggilan tanah suci

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Perjalanan ke Baiti el-‘Atiq

Selamat Jalan Haji Mabrur. Selamat Jalan Jamaah Haji.

di-gua-hiraIbadah haji, Rukun Islam Kelima, dilakukan seorang muslim, dalam rangka memenuhi perintah Allah SWT. semata. Ibadah adalah bukti nyata dari ikrar (syahadat) yang telah diucapkan. Di dalam ibadah ini terpancang tiga marhalah (pentahapan perjalanan).

Pertama adalah mahabbah (kecintaan mendalam) kepada Allah dan Rasul. Kecintaan ini di simbulkan dengan seruan talbiyah. Labbaika, Allahumma labbaika, laa syarika laka labbaika, hakikinya bermaknaaku datang wahai Allah, hanya memenuhi penggilanMU, karena kecintaanku semata kepadaMu, tidak ada syarikat bagiMu.

Kedua adalah tonggak ridha atau kerelaan innal hamda wa an-ni’mata laka wa al mulka laa syariika laka, hakikinya mengandung arti bahwa, sungguh semua nikmat yang kumiliki berasal dariMu dan semestinya dipergunakan untuk mematuhi printahMu saja, dan semua kerajaan, kepemilikan dan kekuasaan hanya milikMu semata, tidak ada syarikat bagiMu. Radhitu billahi rabban, wa bil-Islami Diinan, wa bi Muhammadin Nabiyyan wa Rasulan. Aku rela hanya Allah Rabb (tuhan)-ku, aku rela hanya Islam Din (Agama)-ku, aku rela kepada Muhammad SAW Nabi dan Rasul yang di utus kepadaku. Maka, ibadah Haji atau umrah adalah klimaks penyerahan diri seorang muslim secara total kepada Allah SWT. Belum lengkap ke-Islaman seseorang yang telah memiliki kemampuan (istitho’ah) bila dia belum menunaikan ibadah haji.

Ketiga adalah marhalah shibghah atau identitas Muslim muttaqin. Hati (qalbu)-nya dibuhul keyakinan tauhid. Lahir dari keimanannya itu niat atau motivasi lillahi ta’ala. Agaknya perlu dipahami bahwa haji adalah sarana untuk mencapai tujuan lebih mulia dari sikap taqwa kepada Allah. Pikiran (aqal)-nya dihiasi kejernihan fikrah Islami. Direfleksikan dalam pola berfikir, cara bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Fisik (jasad)-nya melakukan amal yang diperintahkan. Meniru kepada apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Semua pangkat dan emblem duniawi tidak bernilai apapun di hadapan Rabb el Alamin. Tidak ada harganya kekayaan dunia, kecuali hanya selembar ihram. Karenanya, di dalam Al-Qur’an, pada semua ayat yang berkaitan dengan haji, selalu diakhiri oleh Allah SWT dengan pesan yang jelas, agar bertaqwa.

Barangkali bentuk haji yang seperti inilah yang disebut sebagai Haji Mabrur. Kemabruran lantaran makbulnya amalan haji menjadi idaman setiap calon jemaah. Bukti mabrur ada pada haji yang mampu mendorong terjadinya perobahan orientasi, visi dan misi kearah peningkatan amal saleh, baik ritual maupun sosial, dalam rangka menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih sesuai dengan ajaran Islam. Haji mabrur amat berguna untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Karena itu, balasan paling pantas dan paling tinggi untuk haji mabrur hanyalah jannah (sorga) semata.

Jika dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya, haji mempunyai sifat dan karakteristik tersendiri, terutama jika dikaitkan dengan masalah waktu dan tempat pelaksanaan. Memang di dalam Islam ibadah formal (mahdhah) ada tiga bentuk pelaksanaannya. Pertama, waktu pelaksanaan ditentukan tetapi tempat pelaksanaan tidak ditentukan. Kedua, tempat pelaksanaannya ditentukan dan boleh dikerjakan kapan saja. Ketiga, waktu dan tempat pelaksanaannya diatur dan ditetapkan oleh Allah SWT.

Haji adalah ibadah katagori yang ketiga ini. Faktor inilah yang menetapkan kewajiban menunaikan haji diwajibkan Allah kepada Muslimin yang mampu hanya satu kali dalam seumur hidup. Dalam hadits riwayat Imam Muslim dan Nasa’i dari Abu Hurairah diterangkan, ketika Nabi menyampaikan bahwa Allah telah mewajibkan kepada kaum muslimin melaksanakan ibadah haji, lalu ada yang bertanya; apakah kewajiban berhaji itu setiap tahun ya Rasulullah? Nabi diam dan tidak menjawab pertanyaan ini, bahkan sampai tiga kali masalah ini ditanyakan. Kemudian Nabi menjawab: Kalau saya jawab ya, saya khawatir haji ini difardhukan Allah kepadamu setiap tahun, dan kamu pasti tidak akan sanggup melaksanakannya. Karena haji waktunya ditentukan dan harus dilakukan di lokasi tertentu pula yaitu Masy’aril Haram (Makkah, Mina, Arafah dan Muzdalifah di Saudi Arabia), maka faktor kemampuan (istitha’ah) menjadi syarat utama pelaksanaan ibadah haji.

Seringkali istitha’ah atau kemampuan hanya diartikan dari segi kemampuan finansial saja. Sehingga siapa yang dapat membayar ONH sudah dianggap mampu berhaji. Padahal konsep istitha’ah itu berkaitan pula dengan kesehatan fisik, mental, ekonomi, keamanan, pemahaman ilmu-ilmu manasik dan bahkan kesempatan untuk menunaikannya. Dan terkait pula dengan masalah akomodasi selama disana (Saudi Arabia), walaupun ini bukanlah unsur utama, namun unsur ibadah lebih menjadi sasaran utamanya.

Disini perlunya bimbingan diberikan kepada calon jema’ah haji. Diperlukan bimbingan yang berkesinambungan: sebelum melaksanakan ibadah haji, selama dalam pelak sanaan ibadah haji dan masa pasca haji (setelah kembali ke tanah air).

Menyahuti Nida’ (Seruan) Makkah

Setiap orang yang melakukan haji akan selalu mendambakan haji mabrur. Hal ini sangat wajar. Di dalam sebuah hadits, Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah SAW, bersabda : “Satu umrah yang lainnya menghapus dosa diantara keduanya, sedangkan haji mabrur balasannya tidak lain adalah surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang perlu diperhatikan oleh para penziarah (haji) yang ingin melaksanakan ibadah haji seharusnya dan seyogyanya ia sudah dan telah menjalankan atau mengamalkan rukun-rukun Islam yang lainnya dengan baik dan benar.

Sering orang mengatakan bahwa dia belum mau pergi haji karena merasa belum mendapat panggilan, padahal baik dari segi ekonomi maupun fisik dia termasuk orang yang mampu. Pemahaman seperti ini sungguh satu pandangan yang tidak benar.

Tatkala seorang menyatakan dirinya Muslim (orang Islam) dan menerima agama Islam dengan di awali mengucapkan syahadat, ketika itu ia sudah dipanggil untuk melaksanakan ibadah haji.

Tergantung kepada usaha dan kesungguhan hati dan fisiknya merealisir persyaratan-persyaratan yang dituntut perlu dipersiapkan menyahuti nida’ (panggilan) berhaji ke Makkah el Mukarramah itu.

Oleh karena itu, jika sudah mempunyai niat untuk menunaikan ibadah haji dan persyaratan telah terpenuhi, hendaklah segera melaksanakannya,. Jangan sampai ditunda-tunda lagi. Penundaan yang direncanakan apalagi yang direkayasa untuk tahun-tahun depan, padahal sudah ada kesempatan di tahun ini, dalam kenyataan biasanya menjadi beberapa tahun kemudian. Bahkan dapat tertunda untuk selama-lamanya karena sudah keburu mati.

Karena itu, bagi yang sudah mendapat panggilan ke hajji atau umrah ke rumah tua (Bait el ‘Atiq di Makkah) tunaikanlah segera dengan sebaik-baiknya. Berusahalah menjadikan ibadah haji dan umrahnya menjadi satu perjalanan rohani paling mengesankan. Jadikan menyahuti seruan Makkah ini menyenangkan. Di dalam perjalan itu akan di saksikan li yasy-haduu manafi’a lahum, artinya banyak persaksian dan sarat dengan pengalaman spiritual paling berharga. Akhirnya, akan terasakan manfaat besar, terhindar dari segala kesulitan dan kesusahan.

Persiapan Rohani

Dalam hal ini yang diperlukan adalah mempersiapkan kondisi batin dan rohani sebaik-baiknya. Semaksimal mungkin bersih dari cacat dan dosa. Tujuannya adalah agar kita bisa berangkat dalam keadaan sebersih dan sesuci mungkin. Terlepas dari segala beban yang memberatkan batin dan pikiran kita.

Agar perjalanan rohani ini bisa berlangsung dengan baik dan lancar, dan usaha meraih haji mabrur, maka setiap langkah wajib dijaga dan dipelihara.

Betulkan dan Luruskan niat.

Ibadah haji adalah kewajiban setiap hamba kepada Allah SWT. Menjadi beban bagi setiap mukmin yang mukallaf dan mampu. Langkah awal, betulkan dan luruskan nawaitu. Di dahului memasang niat yang ikhlas untuk pergi haji ataupun umrah. Niat menunaikan ibadah haji hanya karena melaksanakan perintah Allah. Semata-mata untuk mengharapkan ridha-Nya saja.

Kepergian ketanah suci bukan karena alasan-alasan lain. Hindarkan diri dari perasaan ria, ingin dipuji, merasa hebat sendiri, takabur, sombong serta sifat-sifat lainnya. Berserah diri hanya kepada Allah. Perjalanan ini dilakukan dengan ikhlas semata. Sabda Rasulullah SAW , Barang siapa yang mengerjakan ibadah haji semata-mata ikhlas karena Allah dan tidak berbuat rafats serta tidak fasik, maka kembalilah ia seperti dilahirkan oleh ibunya. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Yang dimaksud rafats ialah cabul, bersetubuh, bercumbu-kata yang menimbulkan birahi, ungkapan keji dan omongan kotor. Sedangkan fasik adalah melakukan kejahatan dan maksiat.

Latih diri bersifat sabar dan tolong menolong.

Sifat sabar amat diperlukan dalam melaksanakan ibadah haji. Sabar sudah mulai di saat menetapkan keinginan untuk berangkat ke tanah suci. Terasa berat urusan untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Kemudahan hanya dirasakan karena bantuan dari Allah SWT.

Semua urusan memerlukan sifat sabar. Kesabaran di saat pembayaran ONH, pemeriksaan kesehatan, pendaftaran, menunggu panggilan untuk keberangkatan dan lain-lainnya. Melatih sabar dalam menghadapi semua rintangan mempermudah diri meraih haji mabrur.

Di tanah suci Makkah dan Madinah, berkumpul jutaan jamaah dari berbagai penjuru dunia. Berbagai sifat dan kebiasaan mereka. Sifat sabar sangat diperlukan disana..Segala macam hal bisa terjadi di tengah ramainya jamaah itu. Mulai dari sekedar kena senggol, kena dorong atau bahkan rebutan tempat, baik di Masjid maupun di tempat penginapan. Pertengkaran suami isteri dapat pula terjadi, jika sifat sabar dan sanggup mengendalikan diri tidak dipunyai.

Puncak ujian kesabaran dirasakan pada saat berpakaian ihram. Banyak yang di haramkan dan perlu di hindari. Setiap orang dilarang bermusuhan, mencaci dan bertengkar (termasuk perbuatan jidal) sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT, …..Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, fasik dan berbuat jidal di saat mengerjakan haji…(Al-Baqarah: 197).

Selain sifat sabar, sifat tolong menolong amat perlu di tanah suci. Disana akan ditemui keadaan dimana orang lain sangat memerlukan pertolongan. Dalam keadaan demikian, jangan ragu memberikan pertolongan. Dengan pertolongan yang diberikan untuk orang lain, Insya Allah pertolongan dari Tuhan segera akan datang pula. Sudah terbukti, orang yang banyak menolong orang lain dengan ikhlas, segala urusannya akan berjalan dengan lancar. Dan akan terhindar dari kesulitan.

Perlu diingat, bahwa menolong itu hendaklah dengan penuh keikhlasan. Tanpa mengharapkan sesuatu. Kecuali hanya mencari ridha Allah semata.

Berangkat dengan Harta yang Halal dan Baik

Mengerjakan haji dan umrah salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Dalam melaksanakannya di tuntun dalam keadaan bersih dan suci. Begitu juga dengan harta yang akan kita gunakan untuk itu.

Rasulullah Saw. menyatakan: “Apabila seseorang pergi melaksanakan ibadah haji dengan nafkah yang baik (halal) dan meletakan kakinya di atas kenderaannya, maka ketika dia berseru: Labbaik Allahumma labbaik,ia akan mendapat sambutan dengan seruan dari langit: Diterima panggilanmu dan berbahagialah engkau, karena bekalmu halal dan kenderaan yang engkau pakai halal, dan hajimu diterima, tidak ditolak.’(HR. Thabrani dari Abu Hurairah)

Bersih dan sucikan diri.

Maksudnya adalah membersihkan dan mensucikan diri. Secara rohaniah dapat dilakukan dengan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah dari segala dosa. Dalam bertaubat hendaklah bertekad tidak akan kembali lagi kepada dosa. Selanjutnya, memohon maaf kepada orang tua, isteri/suami, anak, anak saudara, famili, tetangga serta para sahabat.

Dari sisi ibadah, membersihkan diri bermakna memperbaiki atau meningkatkan mutu shalat. Kalau masih sering tertinggal atau lalai di dalam mengerjakannya, maka berusahalah untuk lebih berdisiplin melaksanakan kewajiban shalat ini.

Kemudian diikuti dengan mengeluarkan zakat, bagiyang belum melakukannya. Zakat termasuk unsur “pembersih” diri dan harta, sehingga tidak bercampur dengan yang bukan hak kita. Usahakan sesering mungkin mengeluarkan infak, sadaqah, dan lain-lain sebagainya. Semua hal tersebut perlu dilakukan sebelum berangkat ketanah suci. Bersihnya diri, mudah-mudahan terhindar dari berbagai kesulitan yang mungkin datang menjadi peringatan Allah untuk kita.

Mempelajari tata cara pelaksanaan ibadah.

Ibadah haji satu rangkaian yang terkait oleh waktu dan tempat. Di antara ibadah itu ada yang merupakan rukun haji, yang kalau ditinggalkan berakibat batal (tidak sah) haji. Ada rangkaian ibadah wajib haji yang apabila tidak sempat melakukan tidak membatalkan haji, mesti ditebus dengan membayar denda atau dam. Ada pula bersifat sunnat haji. Ada pula larangan yang dapat merusak atau membatalkan ibadah haji.

Mempelajari tata cara pelaksaan haji dengan baik akan menjadikan manasik haji terlaksana dengan sempurna. Pelajari sebaik-baiknya hal yang wajib, syarat rukun, sunnat dan lainnya yang mestinya dilakukan atau ditinggalkan. Mengerjakan hal-hal yang merusak ibadah haji, tidak sempurna rukun haji, akan berakibat membatalkan ibadah haji.

Setiap calon haji dan umrah hendaknya cermat menangkap nilai hikmah yang terkandung dalam segala peragaan manasik haji.

Pelajari do’a-do’a dan bacaan ibadah.

Sebenarnya dalam melaksanakan ibadah haji, do’a dan bacaan dapat ditemui dan dibaca dari buku manasik sambil melakukan ibadah. Menghafalnya tentu lebih baik. Hafalan do’a manasik akan memperlancar pelaksanaan ibadah, tanpa harus bolak-balik melihat buku. Makna dan maksud dari do’a dan bacaan tersebut perlu juga dipelajari dan dimengerti. Supaya kita lebih bisa menghayati maksud dan kandungan dari do’a yang dibaca.

Semua do’a dalam pelaksanaan ibadah haji adalah do’a yang bagus. Intinya memohon kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat. Seperti do’a safar sebagaimana diajarkan Nabi SAW. Apabila do’a-do’a itu dapat dihayati makna dan maksudnya, Insya Allah ibadah akan menjadi lebih khusyu’.

Menyelesaikan hutang piutang

Segala hutang piutang yang memberatkan dan mengganggu ketenangan dalam menunaikan ibadah haji, sebaiknya dilunasi sebelum berangkat. Paling tidak menjelaskan masalahnya kepada keluarga yang ditinggal. Agar mereka mengetahui, dengan sebuah wasiat. Sehingga kalau terjadi sesuatu kehendak Allah dengan diri kita, mereka yang ditinggalkan dapat menyelesaikan hutang piutang itu dengan baik.

Menyiapkan bekal buat yang ditinggalkan.

Selama meninggalkan rumah dan keluarga dalam perjalanan ke tanah suci, tanggung jawab terhadap orang yang ditinggalkan di tanah air harus dipenuhi. Seharusnya, sebelum berangkat ke tanah suci, hendaknya meninggalkan bekalan untuk mereka, dengan jumlah mencukupi keperluan kehidupan selama kita berada di tanah suci.

Memahami Sejarah Perjuangan Nabi SAW

Selama berada di tanah suci tersedia kesempatan berziarah ketempat-tempat bersejarah di sekitar kita Makkah dan Madinah. Mengetahui riwayat dari tempat-tempat bersejarah di saat berziarah, akan mendatangkan kesan mendalam. Dapat memberikan gambaran sejarah perjuangan Islam yang lebih lengkap.

Mengetahui peristiwa bersejarah yang terjadi di tempat yang dikunjungi (ziarahi) yang berkaitan erat dengan perjuangan Nabi SAW dan para sahabatnya di dalam mempertahankan Islam, akan mempertebal keimanan kepada Allah. Selanjutnya akan menguatkan penghayatan terhadap nilai ajaran yang dibawa Rasulullah Saw.

Mempelajari cara shalat jenazah dan menghafal bacaannya.

Pada musim haji, baik di Masjidil Haram maupun di Masjid Nabawi, hampir selalu shalat wajibnya di iringi dengan shalat jenazah. Ini terjadi karena memang banyak jamaah haji yang meninggal dunia di tanah suci itu. Mungkin cuaca dan medan yang berat. Atau karena kondisi jamaah yang lemah.

Karena itu bagi yang belum mengetahui tata cara pelaksanaan shalat jenazah atau belum hafal bacaannya, dianjurkan untuk mempelajari serta menghafalkannya sebelum berangkat ketanah suci. Sehingga pada saat melakukannya di tanah suci dapat melaksanakan dengan baik dan benar.

Memantapkan Persiapan Jasmani

Persiapan jasmani khususnya kesehatan tentunya telah diberikan oleh dokter yang ahli. Namun, persiapan fisik perlu dijaga dengan teratur, di antaranya, Memelihara dan menjaga kondisi kesehatan tubuh sejak dari berangkat. Jika perlu melakukan general chek up kesehatan. Latihan-latihan senam, disesuaikan dengan dengan kondisi dan usia. Latihan berjalan di panas matahari. Sering-sering berkonsultasi dengan dokter.

Seperti dapat dibaca dalam buku manasik haji, ada beberapa cara melaksanakan ibadah haji, seperti, Tamattu’ ialah melaksanakan umrah terlebih dahulu di bulan-bulan haji, setelah itu baru mengerjakan haji.

Untuk pelaksanaan umrah haruslah Bersuci: mandi, berwudlu. Berpakaian ihram. Shalat sunnat ihram dua rakaat. Niat umrah dari miqat. Thawaf umrah. Sa’I umrah dan Tahallul. Untuk pelaksanaan haji, haruslah pula didahului dengan Bersuci; mandi, berwudlu. Berpakaian ihram. Shalat sunat ihram dua rakaat. Niat haji dari pemondokan masing-masing. Mabit di Mina untuk berangkat menuju Arafah (8 Dzulhijjah). Wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah). Menuju Mudzdalifah sehabis magrhib. Mengumpulkan batu di Mudzdalifah. Melontar Jumrah Aqabah (10 Dzulhijjah), Jumrah Wustha dan Jumrah al-Ulaa di Mina (pada hari tasyrik). Thawaf di Masjidil Haram, Sa’i antara Safa dan Marwa, dan Tahallul. Semuanya dilakukan dengan tertib, yang wajib di dahulukan secara beraturan. Tata cara pelaksanaannya telah ditunjukkan dengan baik di dalam buku petunjuk Manasik Haji.

Labbaika, Allahumma Labbaika. Laa syarika laka labbaika. Innal hamda wan-ni’mata laka wal mulka, laa syarika laka. Dengan persiapan rohani dan jasmani (fisik) yang baik, Insya Allah para jamaah haji tahun ini menjadi “hajjan mabruran, wa sa’yan masykuran, wa dzanban maghfuran, wa tijaratan lan taburan”. Amin Ya Rabbal Bait al ‘Atiq.

Billahit taufiq wal hidayah.

Padang, Zulhijjah 1429 H


Jangan Mengundang Musibah karena Lengah dengan Perintah Allah

desember 20, 2008

Musibah Datang karena lengah

Oleh Buya H. Mas’oed Abidin

Firman Allah, “ Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami musibah melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami…” (Q.S. At Taubah: 51). Musibah adalah ujian yang datang dari Allah SWT. Pada hakikatnya setiap manusia tidak menginginkan datangnya musibah, baik musibah hilangnya harta benda, kecelakaan, ataupun kematian. Baik musibah itu berupa ujian besar maupun kecil belaka. Akan tetapi, maklumilah bahwa ujian itu senantiasa akan datang kepada semua manusia bimana waktu saja. Walau manusia berupaya lari daripada musibah itu, namun iapun akan tetap jua datang menghampirinya.

Buya Di Depan Bab Fahd Masjidil Haram

Ditinjau dari ketentuan dari Allah (taqdir), musibah terjadi atas izin dan ketentuan Allah semata. Tanpa izin dan ketentuan-Nya tidak mungkin musibah terjadi. Dipandang dari sisi kemanusiaan atau hukum kausalitas (sebab akibat), ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan Allah SWT mendatangkan musibah kepada makhluknya.

Pertama, karena manusia kurang peduli. Tidak mau bersedekah karena terlalu sayang terhadap hartanya Berkembangnya kebiasaan hidup kikir. Bersedekah sesungguhnya akan membawa keberkahan, dan menyebabkan terhindar dari musibah. Tidak dapat dimungkiri bahwa seorang yang senang bersedekah  akan dicintai dan didukung oleh masyarakat kelilingnya. Seorang yang cekil kedekut atau kikir, dengan harta maupun dengan tenaga, akan dijauhi oleh lingkungannya. Kebakhilan akan membuka jalan bagi datangnya musibah. Berkaitan dengan anjuran bersedekah ini Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah itu akan menutup tujuh puluh pintu keburukan (musibah).” (HR. Ath Thabrani). Allah SWT berfirman: “Apa saja yang telah kalian nafkahkan (infaqkan) Allah akan menggantinya”. (Q.S. As Saba’: 39)

Kedua, kurangnya bersilaturrahim atau malas menyambung tali persaudaraan. Silaturrahim adalah amal yang diwajibkan dalam ajaran Islam. Silaturahim mesti masuk ke dalam agenda hidup Silaturahim menumbuhkan kasih sayang di antara ummat. Dengan kasih sayang persaudaraan dan persatuan dapat dibina. Kedengkian dan kebencian dapat diobati dengan silaturahim. Segala macam bencana dapat dihindari dengan kuatnya persaudaraan. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezkinya dan dipanjangkan umurnya maka hubungkanlah tali silaturrahmi (persaudaraan).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga, musibah datang karena melupakan Allah dan lalai atas perintah-perintah-Nya. Melupakan Allah, cepat ataupun lambat akan mengundang datangnya musibah. Allah SWT berfirman “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa.” (Q.S. Al An’am: 44) Na’udzubillah.

Keempat, bencana terjadi karena ulah tangan manusia belaka, seperti berbuat kerusakan, seperti penebangan hutan dan lain-lain. Ulah tangan manusia jua akan mengundang banjir, tanah longsor, bumi runtuh, ozon menipis. Peringatan Allah SWT dalam Al Quran-ul Karim pada surat Ar-Rum ayat 14 sedahlah jelas sekali.

Di dalam menghadapi musibah ini manusia terbagi kepada beberapa golongan. Ada golongan yang selalu dilindungi oleh Allah SWT. Golongan ini senantiasa berjalan lurus meniti jalan Allah, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Bahkan di setiap keadaan senantiasa berusaha bersama dengan Allah. Meyakini bahwa tiada daya dan upaya melainkan hanya dengan izin Allah SWT. Golongan ini akan mendapatkan perlindungan Allah dari semua musibah yang datang.

Ada kelompok yang manakala dalam keadaan sehat, senang dan lapang lupa kepada Allah. Ketika dikepung cobaan, mereka bersujud kembali bertaubat kepada Allah, dengan sadar, dengan memasrahkan diri bertaubat nashuha dan menyesali kelalaian mereka selama ini. Insya Allah akan mendapat keampunan dari Allah Azza wa Jalla.

Ada pula kelompok yang melupakan Allah SWT tatkala senang dan mengingatnya tatkala susah saja. Manakala kesusahan telah berlalu mereka kembali ke kesesatan. Melupakan sama sekali apa-apa yang pernah berlaku sebelumnya. Kelompok ini termasuk ke dalam orang-orang musyrik, sebagaimana dijelaskan Allah dalam Al Quran surat Yunus (10), ayat 22 dan 23.

Ada kelompok paling buruk. Hatinya mengeras seperti batu. Walaupun berbagai bencana dan musibah telah datang, namun mereka tidak hendak bermohon ampun kepada Tuhannya. Mereka malas berkata, “ Wahai Rabb-ku ! ”. Mereka tidak mau mengambil pelajaran dari musibah yang ditimpakan. Mereka menganggap semuanya ini semata karena pergantian masa dan perputaran alam sahaja Mereka menganggap semua yang terjadi tidak ada campur tangan Allah padanya. Kelompok ini adalah orang kafir.

Gempa di Sumbar

Gempa di Sumbar

Yakinilah bahwa musibah yang datang dapat menjadi teguran, dan bisa pula menjadi azab dari Allah. Musibah sebenarnya  untuk menyadarkan manusia akan kelalaiannya dan memberi ingat manusia agar kembali dan segera sadar ke jalan Allah. Marilah kita senantiasa hindari semua musibah dengan mendekatkan diri dan taat kepada Allah SWT.

Bulan Ramadhan adalah bulan latihan bagi manusia beriman untuk mengamalkan keikhlasan di dalam mengendalikan nafsu syahwat, makan dan minum, semata-mata karena mengharapkan redha Allah saja. Allahu a’lam bissawab

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh,

Buya H. Mas’oed Abidin


Talempong jo Gandang Tansa

desember 20, 2008
Talempong bagandang tansa jo pupuik sarunai garinyiak Minangkabau

Talempong bagandang tansa jo pupuik sarunai garinyiak Minangkabau


Bersangka baiklah kepada Allah

október 2, 2008

Rabu, 2008 Oktober 01

Husnudz-Dzan di Jalan Allah

Husnuz-Dzan Di Jalan Allah
Khuthbah Idul Fitri http://www.blogger.com/img/gl.photo.gif

Oleh : H. Mas’oed Abidin

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر كَبِيْرًا وَ اْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيلاً لاَ ِإلَهَ إِلاَّ الله هُوَ الله أَكْبَر، الله أَكْبَر وَ ِلله الحَمْد. الحَمْدُ لله الذِي جَعَلَ العِيْدَ مُوْسِمًا لِلخَيْرَاتِ وَ جَعَلَ لَنَا مَا فيِ الأرضِ لِلعِمَارَات وَ زَرْعِ الحَسَنَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ خَالِقُ الأرْض وَ السَّمَاوَات، و أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَ رَسُوْله الدَّاعِي إِلىَ دِيْنِهِ بِأَوْضَحِ البَيِّنَات. اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِك عَلَى سَيِّدِالكَائِنَات، نَبِيِّنَا مُحَمَّد وَ عَلىَ آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ التَّابِعِيْنَ المُجْتَهِدِين لِنَصْرَةِ الدِّين وَ إِزَالةِ المُنْكَرَات. أُوْصِيْكُمْ وَ إِيَّاىَ بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ ، الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحَمْد.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada tuhan selain Allah yang
Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah.

Allah Maha Besar sebesar-besarnya, segala puji bagi-Nya sebanyak-banyaknya, Maha Suci Allah dari pagi hingga petang hari. Tiada tuhan selain Allah, sendiri. Yang benar janji-Nya, yang memberi kemenangan kepada hamba-Nya, yang memuliakan prajurit-Nya sendirian. Tiada tuhan selain Allah, dan kita tidak beribadah kecualihanya kepada Allah, mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membenci. Tiada tuhan selain Allah. Allah Maha Besar, bagi Allah-lah segala puji.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Pada pagi hari ini kita menyaksikan ratusan juta umat manusia mengumandangkan takbir, tahlil, tasbih, dan tahmid.
Semilyar mulut menggumamkan kebesaran, kesucian, dan pujian untuk Allah Subahanhu wa Ta’ala, sekian banyak pasang mata tertunduk di hadapan kemaha-besaran Allah Azza wa Jalla, sekian banyak hati diharu-biru oleh kecamuk rasa bangga, haru, bahagia dalam merayakan hari kemenangan besar ini.

Sebuah kemenangan dalam pertempuran panjang dan melelahkan.
Bukan melawan musuh di medan laga, bukan melawan pasukan dalam pertempuran
bersenjata.
Tetapi, pertempuran melawan musuh yang ada di dalam diri kita, nafsu dan syahwat serta syetan yang cenderung ingin menjerumuskan kita.

Ibnu Sirin berkata tentang sulitnya mengendalikan jiwa, “Aku tidak pernah mempunyai urusan yang lebih pelik ketimbang urusan jiwa.”

Hasan Bashari berkata, “Binatang binal tidak lebih memperlukan tali kekang ketimbang jiwamu.”

Kemenangan melawan hawa nafsu ini adalah inti kemenangan.
Ini kemenangan terbesar.
Kemenangan utama akan melahirkan kemenangan-kemenangan lain dalam semua kancah kehidupan dunia yang kita arungi.

Kita memerlukan kemenangan seperti ini untuk memenangkan semua pertarungan yang di hadapi dalam hidup ini.
Betapapun banyaknya alat peragat berupa materi untuk merebut kemenangan yang di-kuasai oleh seseorang, kelompok, atau bangsa, ternyata mereka harus menelan kekalahan jua.
Sebenarnya, mereka menguasai ilmu dan teknologi, senjata canggih dan perlengkapan yang mencukupi.
Namun semua itu tidak berdaya ketika berhadapan dengan seseorang, kelompok, atau bangsa yang memiliki ketangguhan jiwa, mempunyai kekuatan mental, yang dibentengi oleh kematangan pribadi.

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar (memiliki ketangguhan).” (Al-Baqarah: 249).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu.

Selama sebulan penuh kita berada dalam bulan suci, bulan penuh keberkahan dan nilai.
Bulan yang mengantarkan kita kepada suasana batin yang sangat indah.
Bulan yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan bagi kita kaum Muslimin.
Bulan Ramadhan melatih kita untuk memberi perhatian kepada waktu.
Sungguh banyak manusia yang tidak bisa menghargai dan memanfaatkan waktunya.

Ramadhan melatih kita untuk selalu rindu kepada waktu-waktu shalat, yang barangkali di luar Ramadhan kita sering mengabaikan waktu-waktu shalat itu.
Adzan telah berkumandang di samping kanan kiri telinga kita, namun kita masih tetap dengan segala kesibukan kita.
Tidak tergerak bibir kita untuk menjawabnya apa lagi untuk memenuhi panggilan itu. Dan kita telah membiarkan suara Muadzin itu memantul di tembok rumah dan kantor kita, lalu pergi bersama angin lalu.

Selama bulan Ramadhan ini kita selalu menunggu suara adzan, minimal adzan Maghrib dan Shubuh. Kita tempel di rumah kita, bahkan kita hapal jadwal Imsakiyyah. Mudah-mudahan selepas Ramadhan ini rasa rindu kepada waktu shalat selalu kita pelihara.

Waktu adalah kehidupan.
Barangsiapa menyia-nyiakan waktunya berarti ia menyiakan-nyiakan hidupnya.

Ada survei tahun 1980 bahwa Jepang adalah negara pertama yang paling produktif dan efektif dalam menggunakan waktu. Disusul Amerika dan Israel.
Subhanallah, ternyata negara-negara itu kini menguasai dunia.

Sebagai seorang muslim, mestinya kita menjadi orang yang paling disiplin dengan waktu kita.

Al-Qur’an yang kita baca di bulan Ramadhan mengisyaratkan pentingnya waktu bagi kehidupan.
Bahkan pada banyak ayat Allah bersumpah dengan waktu.
Maka jika kita ingin menjadi manusia yang terhormat di antara manusia lain dan bermartabat di sisi Allah, hendaknya kita isi waktu kita dengan hal-hal yang produktif, baik untuk kepentingan dunia atau akhirat kita.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu.

Ramadhan juga melatih kita untuk memakmurkan tempat-tempat ibadah; masjid, mushalla, dan surau. Gegap gempita kita mendatangi rumah-rumah Allah ini, kita kerahkan anak istri kita untuk meramaikan tempat suci ini.
Hingga ketika menyaksikan pemandangan indah ini seseorang sempat berkhayal, “Andai Ramadhan datang dua belas kali setahun.”

Begitu indah pemandangan ini, suara pujian dan doa bersahut-sahutan dari pengeras suara di antara masjid-masjid.
Alam serasa hanyut dalam tasbih dan istighfar, di bawah naungan Asma’ al Husna.

Suasana ini perlu kita pertahankan selepas Ramadhan ini, kita perlu mengerahkan keluarga kita untuk memakmurkan masjid-masjid Allah.
Sehingga kita layak mendapatkan janji Allah, bahwa,
“Ada tujuh golongan manusia yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya di hari dimana tidak ada naungan selian naungan Allah .dan (salah satu daripadanya adalah) seseorang yang hatinya terikat dengan masjid.”

Ramadhan juga melatih kita untuk lebih mementingkan ketaatan kepada Allah dengan mengorbankan tenaga dan kepentingan kita

Di saat-saat kita masih lelah bekerja seharian, setelah sepanjang siang kita bertahan dengan rasa lapar dan dahaga. Ketika kita mestinya beristirahat dari kepenatan, namun, justru kita ruku’ dan sujud dalam shalat tarawih atau qiyamu
Ramadhan dengan satu harapan, mudah-mudahan kita mendapatkan ridha Allah. Itu semata satu-satunya yang paling berharga dalam hidup kita selaku Muslim.

Semangat ini mestinya kita pelihara tetap ada setelah Ramadhan meninggalkan kita.

Kita wajib mengabdi dan mempersembahkan apa yang kita miliki ini untuk meraih keridhaan Allah.

Sejatinya, apa yang kita miliki saat ini hanya amanah dari Allah Ta’ala, apakah kita dapat menjaga dan menunaikan amanah ini atau tidak.

Semestinya keridhaan Allah itu menjadi tujuan kita.
Tidak ada desah nafas, mulut bergerak, tangan berayun, dan kaki melangkah kecuali kita harus mengiringinya dengan satu pertanyaan, “Apakah dengan apa yang saya ucapkan dan saya lakukan ini saya akan mendapatkan ridha Allah.” ???

Hingga serasilah apa yang sering kita ikrarkan,
” Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam.”

Ramadhan melatih kita untuk mempunyai rasa solidaritas sesama manusia, dengan rasa lapar dan dahaga kita teringat akan nasib sebagian dari saudara-saudara kita yang kurang beruntung di dalam hidup ini, mereka setiap harinya dirongrong rasa lapar dan dahaga.

Rasa kemanusiaan semacam ini nyaris mulai sirna dewasa ini.
Saat budaya hedonisme mulai menjangkiti manusia modern, di mana mereka hanya disibukkan oleh urusan pribadi, nafsi-nafsi, urusanku sendiri sendiri.
Hal ini diakibatkan karena orientasi hidup manusia modern yang hanya memandang materi sebagai satu-satunya tujuan.
Terkadang untuk memenuhi ambisi kebendaannya seseorang rela menghalalkan segala cara.

Maka Solidaritas semacam ini perlu kita pelihara dan kita aplikasikan dalam hubungan dengan sesama manusia dengan melakukan shiyam-shiyam sunnah, di mana Islam telah mensyariatkannya.

Manusia maju atau modern perlu melakukan puasa untuk melatih kepekaan sosialnya

Para pejabat perlu melakukan puasa sunnah untuk merasakan derita yang dialami sebagian besar bangsa ini.
Sehingga, muncul kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada masyarakat miskin. Minimal dapat menurunkan gaya hidup kelas tinggi mereka di tengah bangsa yang menangis ini.

Di antara tanggung jawab umarak adalah melindungi orang lemah dengan memperbaiki silaturahim dan menanam tekad memancangkan keadilan di tengah kehidupan dengan saling menghormati, seperti sabda Rasulullah SAW :

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِى الأرْضِ، يَأوِى إِلَيْهِ الضَّعِيْفِ وَ بِهِ يَنْتَصِرُ المَظْلُوْمُ وَ مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ الله فِى الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ القِيَامَةِ.
رواه ابن النجار عن أبي هريرة

“Penguasa (pemerintahan) yang dilindungi oleh Allah di bumi, lantaran berlindung kepadanya orang lemah dan karena orang teraniaya mendapatkan pertolongan (dengan adil). Barang siapa di dunia memuliakan penguasa yang menjalankan perintah Allah, niscaya orang itu di hari kiamat dimuliakan pula oleh Allah” (Diriwayatkan oleh ibnu Najar dari Abu Hurairah).

Kita menyambut adanya itikad baik dari pemimpin negeri membudayakan hidup sederhana.
Alangkah indahnya jika ajakan hidup sederhana ini di terapkan oleh semua pihak, terutama para pejabat, menteri, anggota dewan, dirjen-dirjen dan lainnya. Ini akan menggurangi anggaran negara dan dapat dialokasikan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Bangsa ini masih terpuruk.
Rakyat masih menderita.
Kemiskinan menjadi pemandangan utama di setiap sudut kota dan pelosok desa. Tidaklah pantas memamerkan kemewahan di hadapan mereka.
Apalagi menggunakan fasilitas negara.

Zuhud, adalah sikap yang diajarkan Islam kepada kita dalam hidup ini.
Az-Zuhri ditanya tentang makna zuhud dan dia menjawab, “Zuhud bukanlah berpakaian yang kumal dan badan yang dekil. Zuhud adalah memalingkan diri dari syahwat dunia.”

Orang mukmin boleh kaya dan berjaya,
namun yang ada di hatinya hanyalah Allah semata.
Letakkan harta di tanganmu dan jangan letakkan di hatimu.
Demikian nasihat ulama.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu

Sungguh banyak pelatihan dalam Diklat Ramadhan kepada kita.
Besar sungguh hikmah disyariatkan shiyam sebulan penuh.
Agar sebelas bulan dalam setahun, kita lalui dengan menerapkan nilai-nilai Ramadhan.

Suasana spiritual yang dilatih selama sebulan Ramadhan ini menjadi energi bagi kita mengarungi sebelas bulan berikutnya. Agar predikat takwa itu benar-benar terjaga dalam diri.

Ketakwaan adalah bekal hidup dan modal untuk menghadapi pengadilan Allah Azza wa Jalla.

“Dan berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”

“Sesungguhnya sebaik-baik kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS,49, Al Hujurat : 13)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu

Ramadhan telah memberikan banyak perubahan dalam diri kita.
Mulai dari sikap, perilaku, dan paradigma dalam memandang hidup dan kehidupan. Mestinya ini semua menjadi bekal untuk melakukan perubahan-perubahan di masa depan. Perubahan yang mengantarkan hidup kita ke arah yang lebih baik. Apakah sebagai pribadi maupun bangsa.

Kehidupan yang kita lalui masih sulit.
Beban yang kita pikul semakin berat sebagai pribadi atau bangsa.

Kita sekarang belum juga bisa keluar dari krisis multi dimensi yang cukup pelik.
Pekerjaan kian sulit dicari.
Harga-harga masih membumbung tinggi.
Angka pengangguran masih tinggi.
Bencana alam silih berganti.
Kejahatan telah meraja-lela.

Demi sesuap nasi, nilai-nilai yang semestinya dijunjung dan dijaga tidak diindahkan lagi.
Bahkan, nyawa yang begitu mahal dan berharga oleh semua agama dan ideologi, kini menjadi taruhan yang sangat murah sekali.

Dari layar TV dan media cetak kita sering menyaksikan peristiwa pembunuhan yang sungguh menjadikan bulu kuduk kita berdiri.
Anak membantai ayah bundanya sendiri. Suami mencincang istri.
Tetangga menghabisi tetangga. Saudara menggorok leher saudara kandungnya.
Rata-rata motifnya sama,.. ekonomi… !!!.
Semua harus bangkit untuk mengatasi semua kesulitan yang melanda bangsa ini.

Tidak akan pernah ada bekal terbaik untuk menghadapi kondisi sulit ini selain ketakwaan semata.

Di dalam lubuk hati umat Islam mesti dikumandangkan pernyataan tulus Khalifah Umar Ibnu Khattab ;

نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا الله بِالإِسْلاَم فَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا العِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ
رواه الحكم

“ Kita adalah umat yang telah dibikin berjaya oleh Allah dengan bimbingan agama Islam. Kalaulah (satu kali) kita ingin mencapai kejayaan lagi dengan bimbingan selain agama Islam, (sudah pasti) malah kehinaan yang akan ditimpakan Allah kepada kita.”

Di hari yang fitri ini, di tengah merayakan kemenangan besar, di masa baru saja selesai melakukan pelatihan sebulan penuh.
Di mana nuansa kesucian masih kita rasakan.
Di saat pikiran dan hati telah mengalami pencerahan oleh nilai-nilai ketakwaan. Marilah kita menatap hari esok yang lebih baik, penuh optimisme.

Memang seorang Mukmin Muttaqin berpantang kehilangan asa dalam kondisi apapun. Optimisme adalah harga mati jika kita ingin bangkit mengatasi berbagai kesulitan ini.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu.

Ada beberapa variabel untuk membangun optimisme dalam diri kita.

Pertama, Husnudzan kepada Allah.
Husnudzan atau berprasangka baik kepada Allah harus kita kokohkan dalam diri kita. Kita sepakat bahwa tidak ada satu peristiwa yang terjadi selain hanya dengan izin dan kehendak Allah semata. Termasuk ujian dan kesulitan yang sedang kita hadapi sebagai bangsa atau Negara.

Seorang Mukmin selalu menerima semua ketentuan Allah dengan prasangka baik.
Mukmin punya prinsip bahwa apa yang menimpanya, itulah yang terbaik baginya menurut ketentuan Allah.
Mukmin tidak mau menggerutu kepada Penciptanya.

Mereka tidak pernah memberontak kepada keputusan Tuhannya.
Mukmin selalu menatap semua ujian itu dengan senyum.
Mereka yakin akan mendapatkan dua keuntungan dari ujian itu:
1. Diangkat dan dihapuskannya kesalahan dan dosa-dosanya
2. Dan tinggikan derajatnya di sisi Allah Azza wa Jalla

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ: أَنَّهُ قَالَ : عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ. إِنَّ اللهَ، إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ. فَمَنْ رَضِىَ، فَلَهُ الرِّضَا. وَ مَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

 سنن الترمذي، كتاب الزهد، باب ماجاء في الصبر على البلاء (2320)، سنن ابن ماجه، كتاب الفتن، باب الصبر على البلاء 4011

Dari Anas bin Malik RA. Rasulullah SAW bersabda: Besarnya suatu balasan amal tergantung pada besarnya cobaan yang diterima. Karena sesungguhnya Allah, jika mencintai suatu kaum, maka ia timpakan bala’ pada mereka. Siapa yang ridha, baginya keridhaan Allah. Siapa yang gundah gulana, makaia akan tersiksa karena kegundahannya (baginya kemurkaan Allah).” (HR. Turmudzi, [2320], Ibnu Majah [4021])

“Sungguh mengherankan urusan seorang Mukmin, semua urusannya berakibat baik baginya, dan itu tidak terjadi kepada selain orang-orang Mukmin, jika mereka mendapatkan kebaikan ia bersyukur dan itu baik baginya. Dan jika mereka mendapat bencana ia bersabar dan itu baik pula baginya.” (HR.Muslim)

Husnudzan harus kita pelihara dalam diri kita.
Allah tidak menghendaki dari hamba-Nya selain kebaikan di dunia dan di akhirat.
Jangan sampai kita celaka di dunia dan teraniaya di akhirat akibat prasangka buruk kepada Allah.
Na’udzu billah, tsumma na’udzu billah.

Kedua, Tidak putus dari berdoa.
Doa merupakan senjata orang beriman, berdoa merupakan ibadah dan enggan berdoa merupakan kesombongan kepada Allah Azza wa Jalla.

Sebagai bangsa, kita ini diharapkan orang lain mestinya sudah hancur berantakan, mestinya negara yang bernama Indonesia ini sudah gulung tikar.
Krisis ekonami berkepanjangan telah menggiling bangsa.
Krisis kepercayaan, rusak moral, bom meledak di mana-mana, pemerintahan yang lemah Berbagai tekanan bahkan konspirasi untuk menghancurkan bangsa kita begitu kuat dilakukan orang.
Pertikaian dan permusuhan antar suku, entis, dan antar agama menjadi-jadi.
Pertumbuhan ekonomi yang kian memburuk.
Hutang negara kian membumbung tinggi.
Semuanya itu, mestinya sudah cukup membuat kita, sebagai bangsa ambruk terkapar

Tetapi kenyataannya tidak.
Kita masih hidup sebagai bangsa yang kuat.
Apapun keadaannya, kita masih bisa berdiri tegak.
Mengapa hingga saat ini kita masih bisa bertahan…..???.

Kita yakin seyakin-yakinnya, semuanya telah terjadi berkat doa yang dipanjatkan setiap muslim di negeri ini.
Semua itu berkat ratusan juta pasang tangan yang selalu ditengadahkan ke langit. Berdoa agar negeri ini dijauhkan dari kehancuran.
Perpaduan hati dan kecintaan menjadi awal dari persatuan.
Akhlak mulia dan sifat malu pada generasi muda akan menjadikan dunia bersih tak bernoda.

Sabda Rasulullah SAW sebutkan,

العَدْلُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأُمَرَاءِ أَحْسَنُ، السَّخَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الأَغْنِيَاءِ أَحْسَنُ، اَلْوَرَعُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى العُلَمَاءِ أَحْسَنُ الصَّبْرُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الفُقَرَاءِ أَحْسَنُ، التَّوْبَةُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى الشَّبَابِ أَحْسَنُ، الَحيَاءُ حَسَنٌ وَ لَكِنْ فِى النِّسَاءِ أَحْسَنُ.
رواه الديلمى عن عمر

“Keadilan itu baik, akan tetapi lebih baik kalau berada pada umarak (pejabat pemerintahan). Kedermawanan itu baik, akan lebih baik jika ada pada orang-orang yang mampu (hartawan). Hemat cermat itu sangat baik, akan tetapi lebih baik kalau cermat itu berada pada orang berilmu. Kesabaran itu baik, namun akan lebih baik kalau ada pada orang miskin. Tobat (meninggalkan dosa itu baik), tetapi akan lebih baik kalau ada pada pemuda. Malu itu baik, tetapi akan lebih baik kalau ada pada perempuan”. (HR. Dailami dari Umar bin Khattab).

Di tangan umarak terletak kunci pemerintahan.
Penguasa yang baik akan menjadikan kehidupan dunia jernih dan saling menyayangi dalam tatanan berbangsa.

خِيَارُ أَئِمَّتُكُمُ الذِّينَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَ يُحِبُّوْنكَمُ ْو َتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَ يُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ.

“Pemimpin/penguasa kamu yang terbaik ialah yang kamu cintai dia setulus hati, sedang mereka pun mencintai kamu rakyatnya dengan sesungguh hati pula. Kamu selalu mendo’akan keselamatan mereka kepada Allah, begitu pula mereka selalu berdo’a dan berusaha keras untuk kesejahteraan kamu rakyatnya, dengan seikhlas hati pula.

وَ شِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الذِّيْنَ تَبْغُضُوْنَهُمْ وَ يَبْغْضُوْنَكُمْ تلَعِْنُوْنـَـهُمْ وَ يَلْعَنُوْنَكُمْ.
رواه مسلم عن ابن مالك

Sejahat-jahat pimpinan pengusaha kamu ialah mereka yang selalu kamu benci karena tindak tanduknya yang tidak adil, dan merekapun membenci kamu rakyatnya setengah mati. Kamu selalu mengutuk dan melaknat mereka supaya kekuasaan mereka cepat tumbang,sedangkan mereka sendiri mengutuki kamu pula dengan cara mempersulit dan menyengsarakan kamu rakyatnya….” (Hadits menurut riwayat Imam Muslim dari A’uf bin Malik).

Ketiga, meneladani para nabi dan rasul. Mereka adalah kekasih-kekasih Allah. Sungguhpun demikian, ujian dan cobaan selalu Allah timpakan kepada mereka, amat dahsyat dan tak terperikan. Bahkan di antara mereka ada yang mendapat gelar Ulil Azmi karena keberhasilan mereka dalam mengahadapi ujian berat.

Rahasianya adalah mereka tidak pernah berputus asa kepada Allah Ta’ala.

Adalah nabiyullah Zakaria yang selalu merindukan anak, namun hingga di usianya yang mulai senja, si buah hati yang di idamkannya belum kunjung datang.
Hal itu tidak membuatnya putus asa dan kehilangan optimisme.

Dengarkan Al-Quran menuturkan,
(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakariya, yaitu tatkala ia berdo`a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo`a kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya`qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai”.(QS.19, Maryam: 2-6).

Orang yang sudah tua renta, istrinya mandul pula, lalu mengharapkan mempunyai anak. Rasanya akan mustahil terjadi. Harapan akan tinggal harapan.

Kekasih Allah tidak pernah menyandarkan harapannya kepada sebab-sebab manusiawi semata.

Sebab sebab itu juga merupakan kehendak Allah.
Sungguh Allah mampu menciptakan dari yang tiada menjadi ada.
Tentulah tidak akan sulit menciptakan dari yang sudah ada, walau usia renta dan istri mandul.

Akhirnya Allah mendengar doanya dan melihat ketegarannya.
“Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS.19, Maryam: 7).

Itu pula yang dialami Ibrahim, Khalilullah, ketika beliau bermohon diberi turunan ketika berdoa “Rabbi, Hablii minas-Shalihin”.

Tidak ada yang mustahil bagi Allah.
Tugas kita hanyalah tetap berusaha dan berdoa.

Pada perang Khandaq, saat sepuluh ribu pasukan sekutu yang terdiri dari suku Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya mengepung Madinah. Sementara Rasulullah hanya didukung dua ribu pasukan dengan parit (khandaaq) yang mengelilingi sebagian sisi kota.

Sementara itu pula, orang-orang Yahudi Bani Quraidzah yang terikat perjanjian dengan kaum Muslimin untuk melindungi wilayah perbatasan kota Madinah, telah berkhianat dan membatalkan perjanjian mereka dengan kaum muslimin dan bergabung dengan pasukan sekutu.

Dengarlah bagaimana sikap Rasulullah SAW ketika menghadapi kondisi genting ini,

“ dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS.61, Ash-Shaaf : 13)

Allahu Akbar,
Bergembiralah wahai sekalian kaum Muslimin dengan kemenangan dari Allah dan pertolongan-Nya.
Ternyata Allah memperhatikan optimisme hamba terbaik-Nya. Dua ribu pasukan Muslim dapat mengalahkan sepuluh ribu pasukan sekutu plus orang-orang Yahudi Bani Quraidzah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu
Keempat, beramal dan bertawakkal.
Allah tidak menurunkan emas dari langit. Gunakan seluruh potensi yang Allah telah karuniakan kepada kita.

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yang telah kamu kerjakan”. (At-Taubah:105).

Rasulullah SAW menyebutkan kedudukan amalan karya kita di dunia ini dalam menciptakan kebahagiaan bersama-sama.

الدُّنْيَا الأَرْبَعَةُ نَفَرٍ: عَبْدٌ رِزْقَهُ الله مَالاً وَ عِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيْهِ وَ يَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ وَ يَعْلَمُ اللهُ حَقًّا فَهذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ
رواه الترمذي

“ Dunia ini berada dalam genggaman empat tahapan; seorang yang diberi rezki oleh Allah dengan kekayaan dan ilmu, lalu dengan kekayaan itu dia bertaqwa kepada Allah, selanjutnya di ikat tali silahturrahmi dengan masyarakat, kemudian di perhatikannya benar batas-batas hak untuk Allah. Maka disanalah kedudukan sebaik-baiknya.” (HR.Tirmidzi)

Indonesia adalah negara yang berpenduduk muslim terbanyak dengan tanah air paling strategis di perlintasan dunia. Indah seakan “qith’ah minal jannah fid-dunya”.

Negeri ini mesti kita bangun untuk umat masa depan.
Di awali memperbaiki silaturrahim.

صِلَةُ الرَّحِمِ وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَ حُسْنُ الِجوَارِ يُعَمِّرْنَ الدِّيَارَ وَ يَزِدْنَ فِى الأعْمَارِ.  رواه أحمد

“Menghubungkan silaturrahim, budi pekerti yang baik den berbuat baik terhadap tetangga, itulah yang akan meramaikan kampung dan menambah umur”. (HR Ahmad)

Tidak ada yang mengubah diri kita selain kita sendiri.

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikuti-nya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaga-nya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS.13, Ar-Radu: 11).

Minimal dengan memanjatkan do’a secara tulus dan ikhlas agar kemelut tidak terjadi, sebagai bagian dari mensyukuri nikmat, sesuai firman Allah,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

 (ingat juga), ketika Tuhanmu mema’lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Surat ibrahim ayat 7)

Akhirnya, dengan jiwa yang suci bersih bak seorang bayi yang baru lahir. Marilah kita tundukkan hati kita kepada kebesaran Allah, menengadah, mengharap akan karunia dan rahmat-Nya, untuk kita keluarga kita, kaum Muslimin, dan bangsa kita,

رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ اِسْرَافَنَا فِى أَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافَرْيْن.

“Ya Allah, Ampunilah dosa kami, ampunilah keteledoran kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum kafir”.

اللَّهُمَّ لاَ تُمْكِنُ الأَعْدَاءَ فِيْنَا وَلاَ تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ َيَخافُكَ وَلاَ يَرْحَمُنَا

Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau beri kemungkinan musuh berkuasa terhadap kami janganlah Engkau berikan kemungkinan mereka memerintah kami, walaupun kami mempunyai dosa. Janganlah Engkau jadikan yang memerintah kami, orang yang tidak takut kepada-Mu, dan tidak mempunyai kasih sayang terhadap kami”.

اللهُمَّ أَهْلِكِ الكَفَرَةَ الَّذِي يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَ يَكْذِبُوْنَ رَسُلَكَ وَ يُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَائَكَ

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah orang-orang yang selalu menutup jalan Engkau, yang tidak memberikan kebebasan kepada agama-Mu, dan mereka-mereka yang mendustakan Rasul-Rasul Engkau,dan mereka yang memerangi orang-orang yang Engkau kasihi”.

اللهُمَّ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لا َتَرُوْدَهُ عَنِ القَوْمِ الُمجْرِمِْينَ.

“Wahai Tuhan kami, hancurkanlah kesatuan mereka, dan pecah belah barisan mereka. Turunkan kepada mereka ‘azab sengsara-Mu, yang selalu Engkau timpakan kepada golongan-golongan yang selalu berbuat dosa”.

اللهُمَّ أَعِزِّ الإِسْلاَمِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اخْذُلِ الكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِيْنَ

“Wahai Tuhan kami, berilah kemuliaan kepada Islam dan kaum Muslimin, rendahkanlah orang-orang yang kafir dan orang musyrik”.

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللِه بَرَكَاتهُُ

Padang, 1 Syawal 1429 H / 1 Oktober 2008 M.


I’tikaf Ramadhan

september 20, 2008

I’tikaf Ramadhan

Oleh Buya H Mas’oed Abidin

“Diriwayatkan dari Anas ra ,ia berkata Rasulullah SAW biasa melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan. Kemudian beliau pernah tidak beri’tikaf pada suatu tahun, lalu pada tahun berikutnya beliau beri’tikaf selama dua puluh hari“ (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Bulan Ramadhan adalah bulan ibadah. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah didasari dengan iman kepada Allah semata. Maka Allah SWT akan mengampuninya.

I’tikaf adalah salah satu ibadah yang dapat dilakukan pada bulan Ramadhan. I’tikaf adalah salah satu sistem peribadatan dalam Islam, dengan berdiam diri di Masjid untuk sementara waktu dengan niat ibadah.

I’tikaf biasanya diisi dengan ibadah sunah, misalnya memperbanyak shalat sunah, membaca Al Quran dan berzikir Dapat juga dimanfaatkan untuk memperdalam tsaqafah (wawasan) keislaman.

Hakikatnya, I’tikaf adalah memisahkan diri untuk sementara waktu dari hiru biru kemelut kehidupan beragam di tengah masyarakat dan membenamkan diri dalam kehidupan beragama yang focus, dan dilakukan dengan berdiam diri di Masjid. Intinya adalah konsentrasi meningkatkan ketaqwaan.

Ketika ketaqwaan umat Islam mulai lemah dan sirna oleh peristiwa yang menekan atau himpitan jiwa yang tak terpenuhi dalam kehidupan berbagai tuntutan dalam sosial masyarakat, maka salah satu solusinya adalah i’tikaf. Lamanya waktu i’tikaf tergantung pada pengembalian taqwa itu. Minimal masa yang diperlukan dalam berdiam diri di masjid itu selama waktu tuma’ninah (waktu selama ruku’ dalam raka’at).

Bagaimana Rasulullah beri’tikaf? Siti Aisyah berkata. “Nabi Muhammad SAW. apabila hendak beri’tikaf beliau shalat subuh lalu masuk ke tempat i’tikaf” (Muttafaqunlaih).

Rasulullah SAW. tidak pulang pergi ketika beri’tikaf kecuali apabila ada keperluan. Siti Aisyah r.a mengatakan, “Rasulullah SAW. mengulurkan kepalanya kepada saya, sedang beliau berada di masjid, kemudian saya menyisir rambutnya, dan beliau tidak masuk rumah apabila sedang beri’tikaf, kecuali beliau ada keperluan”. (HR. Bukhari)

Mengenai bila masa i’tikaf itu dilaksanakan, sebaik-baik waktunya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, berdasarkan contoh tauladan yang telah diberikan oleh Rasulullah SAW. Merujuk penuturan Aisyah Radhiallahu ‘anha, beliau berkata, “adalah Rasulultah SAW. apabila telah masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dibangunkanlah keluarganya dan senantiasa mengencangkan ikat pinggang” (Muttafaqunalaih).

Pada bulan Ramadhan yang penuh berkah mari kita kunjungi Masjid untuk beri’tikaf. Meluangkan sedikit waktu dalam hidup kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Khaliq. Memuji kebesaran-Nya dan merenungi ke mahakuasaan-Nya. Memohon ampunan atas segala aktivitas kita yang telah banyak melalaikan sebagian seruan-seruan-Nya. Berdo’a agar umat Islam di manapun berada diberi kesabaran, ketabahan, serta kekuatan dalam memecahkan segala permasalahan hidupnya yang sangat kompleks.

I’tikaf pada dasarnya dapat dilakukan kapan saja dan dalam waktu berapa lama yang disediakan. Imam Syafi’i menyebutkan bahwa i’tikaf sudah tercapai dengan cara berdiam di Masjid beberapa saat dengan niat yang suci dan tulus ikhlas karena Allah SWT.

Di dalam peri hidup Rasulullah SAW. diceritakan bahwa baginda Rasulullah SAW selalu melakukan i’tikaf pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan Ramadhan. Ketika itu baginda Rasulullah SAW memperbanyak membaca Alquran, serta berdoa kepada Allah SWT.

Anjuran i’tikaf di malam-malam akhir Ramadhan ini berkaitan erat dengan datangnya Lailatulqadar yaitu malam kemuliaan, karena beribadah pada malam itu dinilai lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah SAW bersabda: “Carilah (malam qadar) itu pada sepuluh akhir dari bulan Ramadhan” (HR. Ahmad dan Bukhari)

Malam qadar itu wajar saja di tunggu-tunggu oleh setiap muslim yang mendambakan kebaikan dan kebahagiaan dalam hidup di dunia dan akhirat. Namun perlu diingat bahwa Lailatulqadar hanya akan datang mengunjungi seseorang pada tingkat kesucian akhlak dan spritualitas yang terjaga baik.

Di lihat dari waktu datangnya lailatul qadar itu bukan di awal, melainkan di akhir Ramadhan. Didapat pelajaran besar bagi umat Islam bahwa menjelang berakhirnya puasa Ramadhan, tentu umat akan mencapai tingkat kematangan dan kesempurnaan jiwa, melalui ibadah puasa yang telah dilakukan. Umat muslim memiliki kesiapan mental untuk menerima kehadiran malam kemuliaan yang agung itu.

Dari sisi tempat penyambutannya adalah di Masjid dengan melakukan i’tikaf sebagai kegiatan ibadah menyambut datangnya lailatul qadar itu. Masjid adalah tempat suci yang diungkap dengan sebutan Bait Allah (rumah Allah) sebagai tempat dilakukan berbagai kebajikan. Masjid adalah tempat melepaskan diri dari berbagai hiruk-pikuk kehidupan dunia yang menyesakkan, dan meraih pencerahan iman dan rohani umat muslimin.

Sesungguhnya ibadah puasa dengan i’tikaf yang intensif pada sepuluh hari terakhir Ramadhan akan dapat mengantar umat Islam meraih lailatul qadar itu. Makna terkandung dalam lailatul qadar adalah perubahan hidup dari kegelapan menuju kehidupan yang terang-benderang di bawah petunjuk hidayah Allah SWT.

Melaksanakan i’tikaf adalah suatu ibadah sangat terpuji. Rasulullah SAW. bersabda: “Siapa yang beri’tikaf sehari demi mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala semata, maka Allah benkenan membuat antara dia dan api (neraka) tiga buah parit, tiap parit lebih jauh dari masyriq dan maghrib” (HR. Thabrani).

Semoga kita diberi peluang untuk melaksanakan i’tikaf di bulan suci Ramadhan penuh berkah ini, dengan harapan semoga Allah SWT memasukkan kita ke dalam golongan para muttaqien.

Amin ya mujiib as-sa iliina.


PERKISARAN ORIENTASI MASYARAKAT MINANGKABAU DARI MASA KE MASA

september 18, 2008

PERKISARAN ORIENTASI MASYARAKAT MINANGKABAU DARI MASA KE MASA

Pendahuluan

Bila mau membicarakan apa yang jadi kandungan pemikiran masyarakat Minangkabau pada masa setelah perang kemerdekaan Indonesia usai, kiranya perlu lebih dulu meninjau sejarah perobahan yang dialami masyarakat itu sendiri. Semenjak Islam menjadi agama satu-satunya di Minangkabau, sekali 50 tahun terjadi gerakan pembaharuan (reformasi) yang bernuansa idiologis dalam tatanan adat kebudayaan Minangkabau. Tahun 1950 merupakan awal reformasi ke empat. Sedangkan tahun 2000 timbul lagi perobahan pola pemikiran dalam masyarakat.

100 tahun penjajahan Belanda memberi pengaruh yang tidak kurang pentingnya. Sehingga warna budaya Minangkabau berbentuk segi tiga dengan bidang yang tidak sama antara budaya adat, budaya agama, dan budaya barat. Sesuai dengan permintaan panitia, pokok pembicaraan ini dibatasi pada pola pemikiran budaya masyarakat Minangkabau seusai perang kemerdekaan tahun 1950. Namun ada baiknya dikemukakan lebih dahulu perobahan pemikiran sejak gerakan pembaruan ajaran Islam pada awal abad ke-19.

Dari Reformasi ke Reformasi

Perobahan atau pembaharuan pemikiran masyarakat Minangkabau terjadi setiap 50 tahun. Pada awal abad ke-19 mulai reformasi pertama dengan pulangnya 3 orang mujtahid dari Mekkah. Yakni Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik membawa gerakan pembaharuan. Terkenal sebagai Gerakan Paderi. Gerakan itu menimbulkan konflik
fisik dengan Kerajaan Pagaruyung yang didukung para penghulu adat.

Belanda mengambil kesempatan untuk menduduki Minangkabau setelah utusan Kerajaan Pagaruyung minta bantuan untuk mengalahkan Paderi. Perang antara Belanda dengan Paderi berlangsung selama 17 tahun. Walau Paderi telah dikalahkan, namun posisi penghulu di nagarinya masing-masing menurun.

Pada mulanya dalam struktur pemerintahan nagari, posisi penghulu adalah pemimpin dalam seluruh aspek kehidupan. Posisi ulama, dalam tambo disebut malin (mualim) hanya jadi perangkat dari penghulu.

Sejak Gerakan Paderi posisi ulama tidak lagi menjadi alat perangkat penghulu. Wilayah pengaruh ulama sampai ke luar batas suatu nagari atau masuk ke wilayah banyak nagari. Sedangkan penghulu hanya terbatas pada nagarinya masing-masing.

Pada tahun 50-an abad ke-19 terjadi lagi reformasi kedua ketika seorang mujahid pulang dari Mekkah. Yaitu Haji Ismail yang kemudian bergelar Tuanku Simabur, membawa ajaran Naksabandi. Ulama tradisional penganut Syattari melarang ulama
Naksabandi jadi imam, bahkan mengajar di mesjid yang ada. Pengikut Tuanku Simabur membuat mesjid baru. Ulama Syattari merasa terganggu kemampanannya.

Para penghulu merasa hukum adat terlanggar. Karena menurut aturan adat, hanya boleh ada satu mesjid dalam satu nagari. Terjadilah pembakaran mesjid dan perang batu antara pengikut yang bersiteru.

Pemerintah Belanda turun tangan. Pengikut Naqsabandi dibenarkan mendirikan mesjid sendiri. Ketentuan adat yang menetapkan satu satu nagari hanya boleh punya satu mesjid tidak berlaku lagi. Kehidupan dalam nagari tidak lagi sepenuhnya berada di tangan penghulu. Pemerintahan Belanda mengangkat seseorang menjadi pimpinan nagari dengan nama jabatan Penghulu Kepala. Dia itu bukan dipilih dalam rapat para penghulu di balairung dan tidak pula dari salah seorang penghulu.

Urusan keagamaan sejak dari berbagai upacara ritual sampai pada pernikahan menjadi urusan ulama. Maka kekuasaan penghulu tinggal pada masalah sosial-budaya. Dalam pada itu kota-kota dibangun.

Sumber ekonomi masyarakat lagi hanya pada sektor agraris komunal di bawah kuasa penghulu, melainkan juga sektor jasa dan dagang yang individual. Sekolah-sekolah pun dibangun untuk memenuhi keperluan tenaga kerja kantoran.
Semenjak itu orientasi masyarakat bercabang tiga. Beberapa tahun kemudian dalam perjalanan waktu, para penghulu yang mulai merasa kehilangan banyak perannya.

Karena disaingi oleh ulama dan kemudian oleh golongan sekolahan, para penghulu membangun institusi baru pada masing-masing nagari, yang terdiri dari ninik mamak, alim ulama dan cerdik pandai. Institusi ini dinamakan ‘Tungku tigo
sajarangan’. Namun pembagian kerja tidak jelas.

Perubahan terhadap hukum agama diputuskan oleh ulama. Perubahan aturan pemerintahan nagari diputuskan oleh pemerintah. Sehingga tugas penghulu seolah jadi bayang-bayang kekuasaan pemerintah.

Pada awal abad ke-20 terjadi lagi reformasi ketiga. Yaitu sepulangnya 3 orang mujtahid dari Mekah. Yaitu Inyik Djambek, Inyik Rasul dan Inyik Abdullah Ahmad membawa modernisasi Islam ajaran Muhammad Abduh dan Jamaluddin
al-Afghani
dari Mesir. Gerakan ini tidak hanya dimotivasi oleh gerakan pembaharuan yang sudah berkembang di Mesir tapi juga oleh dorongan rivalitas terhadap golongan berpendidikan Barat yang cara material dan sosial terlihat lebih bergengsi.

Maraknya gerakan ini bertepatan dengan Gerakan Turki Muda pimpinan Kemal Attaturk yang tujuannya mengangkat harkat bangsanya setara dengan bangsa Eropa. Penampilan golongan ini seperti membuang yang serba Arab. Mereka memakai pantalon dan berdasi. Tapi tetap berkopiah sebagai identitas muslimnya. Karena jika tanpa kopiah mereka menjuluki golongan
sinyo. Belanda tidak, Melayu pun bukan. Mereka tidak lagi menyanyikan kasidah dengan gambus. Melainkan lagu yang lebih menduniawi, baik Mesir mau pun yang bernuansa nasionalisme Indonesia dengan iringan alat musik barat. Namun untuk
perempuan, mereka masih berkompromi dengan pola tradisional. Yakni berkain berbaju kurung dan bermudawarah. Sedangkan budaya tradisional adat Minangkabau mereka jauhi.

Syekh Akhmad Khatib, ulama Minangkabau di Mekkah mengatakan: ‘Orang Minangkabau memakan harta haram karena memakan hak warisan anak yatim’.

Sedangkan Hamka mengatakan: “Adat Minangkabau sudah berlumut. Sudah patut di simpan di museum”.Pada tahun 1950, setelah Indonesia merdeka kentara lagi gerakan reformasi ke-4. Sebenarnya prosesnya sudah bermula pada masa pendudukan Jepang. Pada akhir kekuasaan Hindia Belanda, orientasi pemikiran elit Minangkabau terpola pada tiga kerangka.

Pertama, para penghulu dengan dukungan amtenar berorientas pada budaya tradisional yang disebut adat.

Kedua, para elit yang memperoleh pendidikan di sekolah berbahasa Belanda berorientasi pada budaya barat.

Ketiga, para elit Islam yang memperoleh pendidikan di perguruan madrasah moderen (istilah untuk membedakan dengan pendidikan surau) berorientasi pada gerakan Turki Muda. Masing-masing menerbitkan buku sampai buletin atau memanfaatkan koran dan majalah yang sudah ada guna memelihara identitasnya.

Pada masa pendudukan Jepang golongan elit yang berpendidikan Barat seperti kehilangan. Karena memang golongan ini tidak memiliki idiologi apa pun, namun memuja budaya barat. Ketika ternyata bangsa Belanda yang barat tidak lebih unggul dari Jepang yang timur, mereka seperti tidak dapat menemukan orientasi alternatif selain kembali kepada budaya tradisional.

Golongan penghulu sepertinya hendak berkata “Pulangnya anak Hilang”. Secara strategis penguasa militer Jepang tidak memusuhi golongan penghulu. malah memanfaatkan mereka untuk mengumpulkan beras rakyat bagi keperluan militer Jepang.


Dalam Era Awal Kemerdekaan

Mulai masa pendudukan Jepang itu, secara politis golongan Islam seperti mendapat tempat dalam pemerintah militer Jepang. Kolaborasi itu merekan manfaatkan bagi kepentingan idiologi mereka. Seperti halnya di Aceh, Jepang mendekati ulama,
dan meninggalkan golongan bangsawan yang selama ini menjadi aparatur pemerintah Belanda.

Ketika Jepang merekrut pemuda untuk menjadi perwira tentara bantuan seperti Giyugun, yang diterima ialah yang keluaran madrasah atau yang direkomendasi oleh ulama atau politisi anti Belanda. Sebagaimana diketahui, politisi non partai Islam di Sumatera Barat ialah mereka yang tamatan pada madrasah. Ketika jumlah calon perwira masih tidak cukup, barulah Jepang menerima pemuda tamatan sekolah berbahasa Belanda.

Dengan posisi demikian, kekuatan moril politik golongan Islam menyambut proklamasi kemerdekaan Indonesia. Proklamasi kemerdekaan itu menyatukan tekad perjuangan seluruh warga masyarakat. Tapi golongan Islam bertindak lebih cepat mengisi posisi penting di pemerintahan seperti bupati, camat, kepala jawatan dan mendominasi keanggotaan lembaga legislatif. Secara terselubung mereka memperkokoh posisi diri dengan membentuk barisan bersenjata dengan dukungan moril dari perwira yang berada di TNI. Golongan penghulu pun membangun barisannya sendiri. Tapi jumlahnya kecil saja, karena kekurangan logistik. Sedangkan golongan bekas amtenar pemerintah Belanda mencari payung pengaman pada partai non Islam,
seperti PSI atau PNI. Kedua partai ini secara moril mempunyai pengaruh pada perwira TNI dari non-unsur Islam, yang ternyata lebih banyak jumlahnya.

Dengan kekuatan pemilikan barisan tersebut golongan Islam mencobakan manuver pelaksanaan syariat Islam ke tengah masyarakat. Misalnya mewajibkan semua laki-laki agar ke mesjid menunaikan sembahyang Jum’at, meki pada waktu itu lagi hari pasar. Dengan cara melakukan razia oleh barisan perempuan.

Beberapa pejabat atau bupati dan tokoh politik non Islam yang menghalangi islamisasi mereka culik. Lalu terjadi baku tembak yang menimbulkan korban jiwa antar barisan peculik dengan TNI. Peristiwa itu terkenal dengan nama ‘Peristiwa 3
Maret’ pada tahun 1946.

Peperangan melawan Belanda yang menyerang sampai menduduki beberapa kota, tidak menghentikan pertarungan antara golongan Islam dengan golongan non islam. Sebetulnya persiteruan yang membangkitkan pertarungan itu bersifat nasional. Di sector militer golongan Islam menderita kekalahan demi kekalahan, sehingga kekuatannya pada tubuh TNI kikis. Pertama melalui kebijaksanaan pemerintah melakukan rasionalisasi dalam tubuh militer.

Di Sumatera Barat pelaksanaannya sebagai berikut.

Semua barisan milik partai politik dilebur ke dalam TNI. Komandan berpangkat tinggi tapi barisannya kecil. Akibatnya banyak perwira dari barisan itu mundur. Pasukan yang boleh bergabung ialah dengan perbandingan satu senjata untuk empat prajurit. Sementara itu pada saat serangan tentara Belanda, Markas Besar TNI dibawah pimpinan Kolonel A.H. Nasution, menciutkan Divisi menjadi Resimen. Setelah perang kemerdekaan usai, Kolonel A.H. Nasution mengeluarkan perintah agar semua perwira TNI ikut latihan dibawah pelatih perwira Belanda yang belum kembali ke Belanda, sesuai dengan persetujuan KMB. Perwira yang tidak mau, akan diturunkan pangkatnya dua tingkat. Pilihan lain minta pensiun muda dengan iming-iming memperoleh pesangon dan kredit usaha. Perwira-perwira keluaran madrasah pada keluar dari TNI karena tidak mungkin bisa ikut pelatihan tersebab tidak bisa berbahasa Belanda.

Jika di sekotor militer posisi golongan Islam telah kikis, namun di sektor pemerintahan posisinya menguat. Para pemuka Islam yang selama ini menjadi ustadz, mubaligh dan lainnya beralih menjadi pegawai atau pejabat pemerintah.
Seluruh tugasnya semula, diserahkan kepada negara atau kepada panitia yang terdiri dari pejabat. Misalnya sekolah agama, dakwah, kotbah dan imam sembayang, urusan ibadah haji sampai pada urusan perkawinan menjadi urusan negara. Karena segalanya telah dinegarakan, maka ibadah dan kebajikan umat seolah disatukan.

Tradisi berijtihad yang menjadi motor reformasi pemikiran Islam selama ini terhenti dengan dalih demi persatuan. Namun perguruan Tinggi Islam Negeri tidak begitu menarik dibandingkan dengan perguruan umum yang terus bertambah jumlahnya. Nampaknya dinamika yang kuat dari golongan Islam sebelumnya seperti kehilangan greget. Diperlukan motivasi yang kuat.

Tahun 1953 diadakan konferensi ulama di Bukittinggi yang bertujuan untuk menyemarakan lagi Islam. Hasilnya ialah kesepakatan untuk mendirikan perguruan tinggi Islam.

Tidak ada pemikiran atau suatu program yang strategis tentang kehidupan beragama yang dinamik dalam kehidupan masyarakat baru setelah bangsa Indonesia merdeka. Temuan yang semarak ialah mengganti konsensus dari Perjanjian Marapalam antara ulama dengan Paderi. Yakni “Adat bersendi syarak, syarak bersendiri adat” dengan jargon “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”.


Masa Dipinggirkan Sejarah

Seluruh komponen revolusi merasa bahwa mereka adalah pemenang. Mereka bangga pada Bukittinggi sebagai ibukota RI setelah Yogya dan menjadi pusat pemerintahan di Sumatera. Oleh semangat patriotik penduduk, Belanda tidak mampu menaklukan mereka. Juga Belanda gagal mendirikan Negara Minangkabau, seperti yang berhasil didirikan di seluruh daerah lain yang didudukinya.

Tetapi kenyataannya buah kemerdekaan yang dicapai dengan darah dan nyawa itu tidak seindah yang diangankan. Masalahnya sangat kompleks. Kemerdekaan memberi banyak orang mendapat jabatan tinggi di samping fasilitas perumahan dan mobil sedan yang wah untuk ukuran masa itu, pada hal pada masa gerilya mereka banyak yang tidak berbuat apa-apa di pedalaman atau enak-enak tinggal di ota.

Di samping itu ada sekian banyak orang yang jadi kaki-tangan musuh ditampung dengan failitas yang sama nilainya dengan para pejuang. Sedangkan ada ribuan rakyat yang rumahnya yang dibakar musuh atau anggota keluarga mereka yang mati atau cacat, tidak mendapat imbalan atau ganti rugi.

Ucapan terima kasih pun tidak. Maka rakyat berdemonstarasi menuntut perhatian dan politisi di DPRD mengeluarkan mosi tidak percaya pada gubernur agar turun dari jabatannya.

Oleh kekecewaan yang berat pada hasil revolusi yang memakan banyak korban itu, lambat laun permusuhan dengan Belanda seperti menghilang bagai kabut kena sinar matahari.

Musuh yang dirasakan masyarakat ialah realitias hidup yang jauh dari harapan yang tumbuh selama gempita revolusi. Sentralisme pemerintah pusat yang jawasentris, dirasakan bahwa negara Idnensia bukan lagi milik mereka. Mereka merasa banyak kehilangan dan dirugikan.

Rasa kebanggaan mereka dilecehkan. Antara lain:

  1. DPRD Propinsi dibubarkan oleh pemerintah pusat dan mengangkat orang Jawa jadi gubernur pengganti. Faktor campur tangan Hatta yang meredakan ketegangan.
  2. Setelah Divisi Banteng yang mereka banggakan di zaman revolusi itu diciutkan menjadi resimen, 2 batalyonnya ditarik keluar daerah untuk membasmi pemberontakan di Ambon dan Jawa Barat. Setelah selesai batalyon itu dibubarkan dan anggotanya dipencar-pencar ke kesatuan lain.
  3. Pemerintah pusat memprogram penghentian operasi stasiun RRI Bukittinggi dan jalur kereta api Sumatera Barat. Sebaliknya kondisi perkereta apian di Jawa direhabilitasi dengan mendatangkan lokomotif baru.
  4. Tidak diberi peluang bagi pengusaha daerah melakukan perdagangan dengan luar negeri tanpa melalui Jakarta.
  5. Di bidang seni-budaya, misalnya misi kesenian atau kebudayaan dan pendidikan ke luar negeri sangat berbau jawasenris. Anggota misi kesenian Minangkabau ke luar negeri pun orang Jakarta yang umumnya orang Jawa.
  6. Sekitar 1,5 tahun menjelang Pemilu 1955, Pemerintah Pusat dibawah pimpinan PNI, melakukan manuver politik ke Sumatera Barat dengan menggantikan pimpinan beberapa instansi sejak dari tingkat propinsi sampai kabupaten dan kota. Yaitu instansi yang akan sangat potensi untuk memenangkan Pemilu. Misalnya pada Jawatan Penerangan, Jawatan PPK dan instansi di lingkungan keuangan seperti pajak dan duane. Sedangkan pimpinan Kantor Agama diambil alih oleh NU. Meski Masyumi di Sumatera Barat menang dalam Pemilu, namun secara nasional partai itu dikalahkan oleh PNI. Koalisi PNI dan NU dengan dukungan PKI di parlemen menjadikan Masyumi kalah total.
  7. Turunnya Bung Hatta dari kursi Wakil Presiden tanpa diadakan upacara yang pantas oleh parlemen mau pun atau presiden.
  8. Penerbitan buku sejarah nasional di bidang politik, pendidikan dan budaya, baik untuk umum mau pun sekolah lebih mengutamakan tokoh-tokoh asal Jawa. Jika dihitung secara prosentase penduduk, tokoh pergerakan nasional asal
    Minangkabau tiga kali lebih banyak.

Sesungguhnya banyak keberatan terhadap sikap sentralisme pemerintah pusat, namun tidak ditemukan pernyataan gagasan atau wacana pemerintahan desentralisasi. Yang dituntut ialah rasa keadilan dalam mendapatkan hak-hak masyarakat. Mungkin jadi pemahaman tuntunan atas perobahan politik yang sentralistis beralih kepada desentralisasi, dianggap tabu. Karena masyarakat pada itu, masih trauma pada bentuk negara federasi seperti yang diciptakan Wakil Pemerintah Belanda, Van
Mook untuk memecah belah bangsa.


Peran Media Massa

Akibat kebijaksanaan sentralisasi pemerintah yang jawasentris, menumbuhkan reaksi psikologis dan politis anti pemerintah. Sebagaimana terlihat hampir setiap hari pada koran daerah seperti Haluan dan Persamaan yang terbit di Padang.

Sedangkan Koran Nyata yang terbit tahun 1956 di Bukittinggi cenderung berpihak kepada pemerintah pusat. Sekali-sekali bergema santer berita yang berpihak kepada sikap masyarakat daerah pada koran terbitan Jakarta seperti Indonesia Raya, Abadi dan Pedoman. Terutama Koran Haluan seperti bersemangat benar memunculkan jati diri. Seolah hendak menyatakan bahwa mereka adalah anak bangsa yang tidak kalah gengsinya dari suku bangsa Jawa.

Pernyataan sikap masyarakat pada masa itu nyata terlihat pada sektor sosial-budaya dan seni. Tapi juga tidak kurang semangat ekslusivisme masyarakat pada beberapa nagari karena kecemasan akan perubahan kondisi dan situasi yang tengah berlaku.

Misalnya musyawarah penghulu adat nagari Rao Rao Kabupaten Tanah Datar, nagari Silungkang dan Sulit Air di Kabupaten Solok, membuat keputusan melarang pemuda nagari mereka menikah dengan perempuan nagari lain.

Sebagaimana diketahui pada masa Hindia Belanda, orientasi elit masyarakat terpola kepada tiga jenis budaya.

Pertama, golongan penghulu adat.

Kedua, golongan Islam.

Ketiga, golongan berpendidikan barat.

Pada sektor seni budaya sangat kentara penampilan mereka. Golongan pertama sangat tegar mempertahankan keaslian budaya tradisional. Golongan kedua berpenampilan ala Arab dan Mesir. Sedangkan golongan ketiga betul-betul serba barat. Karena begitu sangat baratnya, dalam perkawinan pun mereka memakai baju penganten Belanda. Marapulai memakai smooking dan anak daro memakai sluier. Tapi mulai semenjak pendudukan Jepang golongan ketiga seperti kehilangan arah.

Setelah RI diproklamsikan mereka menoleh kembali kepada pola budaya tradisional dengan mengadaptasikan ke seni budaya Barat. Misalnya di bidang teater mulai digelarkan cerita kaba, seperti ‘Sabai nan Aluih’, ‘Umbuik Mudo’, ‘Gadih Ranti’ dan sebagainya.

Di antara babakan ditampilkan lagu dan tarian “Minangkabau” dengan iringan musik barat. Sebaliknya dengan sastra, prosa dan puisi serta senirupa tidak terpengaruh kepada orientasi kembali ke tradisi. Mungkin jadi karena sifatnya yang universal. Sastra tradisional yang lazim disebut kaba memang masih diterbitkan dengan cerita-cerita baru. Namun lambat laun hilang dari peredaran karena temanya tetap sama dengan cerita kaba lama.

Acara tetap koran Haluan menerbitkan cerita pendek berbahasa Minangkabau. Terkenal dengan kisah humoris tokoh ‘Si Jibun’ dan ‘Si Piah’. Tapi kisah itu tidak bertahan lama. Setelah pengarangnya pindah dari Padang kisah itu tidak berlanjut. Sedangkan pengarang lain yang mencoba-coba tidak berhasil menggantikannya.

Yang paling menarik, juga fenomental, adalah banyak tokoh terkemuka dalam gerakan nasionalis seperti Adinegoro, Syahbilal Rasyad, Rasyid Manggis dan beberapa orang dokter yang tidak ada hubungan dinasnya dengan kepala pemerintahan bersedia menerima gelar Datuk (gelar adat). Bahkan tokoh Islam terkemuka seperti M. Natsir, Hamka, dan Mansyur Daud tidak menolak menyandang gelar adat tersebut. Tapi itu tidak berarti mereka akan berjuang demi Minangkabau, melainkan ingin menyatakan bahwa mereka adalah orang Minangkabau.

Identitas daerah yang dtampilkan cenderung bersifat menyemarakan budaya dari pada revitalisasi.

Meski pun pemuka golongan Islam mulai menghargai budaya tradisional, tidak berarti mereka menjadi akrab dengan seni budaya tradisional. Kesenian rakyat yang biasa ditampilan di sasaran silek, tetap dijauhi. Randai tidak mereka gunakan untuk berdakwah, seperti ulama masa lalu menggunakan indang. Mereka lebih dekat kepada seni budaya barat seperti yang berlaku di Mesir, Tuki atau Irak. Dua orang ustadz keluaran Mesir dan Turki sama ikut serta dalm orkes simponi di Bukittimggi yang memainkan lagu-lagu Bethoven dan Mozart. Bahkan pawai perayaan qatam Al-Qur’an menggunakan musik gaya tanjidor. Tidak lagi memggunakan rebana. Apalagi talempong.

Jati diri Minangkabau yang ditumbuhkan pada masa tahuin 1950 lebih dekat berbaur dengan budaya Barat. Sedangkan kurikulum agama Islam seperti dicantelkan tanpa akar begtu saja. Sehingga nuansa Islami tidak dirasakan.

Sama halnya dengan mass media diseluruh Indonesia pada masa itu, koran terbitan Sementara barat sangat memberi arti penting pada perkembangan mental intelektual. Disamping memuat berita-berita aktual, juga memuat polemik tentang berbagai masalah, politi, soal dan budaya. Minimal koran dimanfaatkan oleh para pelajar SMA sebagai tempat berlatih menulis dan menyampaikan pemikiran tentang berbagai hal. Seperti yang dilakukan pada madrasah sebelum Perang Dunia II dengan
kurikulum mantiq (logika) dan ijtihad. Beruntung sekali masyarakat pembaca pada masa itu, karena koran tidak digunakan sebagai alat penodongan untuk mendapat fasilitas atau duit.


Kesimpulan

1.  Dalam sejarah sosial budaya Minangkabau, sekali 50 tahu muncul gerakan reformasi yang berakibat kian   berkurangnya peran penghulu adat.

2. Sampai akhir penjajah Belanda, masyarakat berorientasi pada tiga pola sosial budaya. Tradisional adat, Islam dan barat. Namun traidisi adat kian menciut sehubungan golongan Islam modernis lebih menyesuaikan diri pada pola budaya barat seperti yang berlaku di Mesir dan Turki.

3. Mulai pendudukan Jepang golongan orientasi barat kehilangan arah ketika tahu bahwa bangsa timur ternyata tidak kalah hebat dari barat. Sebagai bangsa mereka kembali menoleh ke pusaka nenek moyangnya.

4. Pada awal kemerdekaan, tugas dan kewajiban Islam kepada umumnya diserahkan kepada negara dengan tujuan agar Islam menjadi agama negara. Dengan demikian berakibat pada peran elit golongan ulama yang selama ini sangat penting mengangkat harkat bangsa mulai mengendor.

5. Reaksi terhadap kebijaksaan pemerintah pusat yang sentralistik dan jawa sentris menyadarkan seluruh komponen elit politik Minangkabau di kampung dan di rantau untuk menampilkan identitass dirinya yang Minangkabau.

6. Media massa pada awal kemerdekaan berperan kuat dalam membangun mental masyarakat menuju masa depan dengan cara memberi tempat pada generasi muda memuat pikirannya dan menyediakan ruangan berpolemik sehingga intelektualis bangsa berkembang. Untuk kembali ke masa lalu hampir tidak mendapat tempat.


Gamawan dan Mas’oed Prihatin Zakat Maut, Berita Harian Singgalang, Rabu 17 September 2008, halaman 2.

september 18, 2008

Home arrow Info Utama arrow Info Utama arrow Gamawan dan Mas’oed Prihatin Zakat Maut
Gamawan dan Mas’oed Prihatin Zakat Maut
Rabu, 17 September 2008

ImagePadang, Singgalang
Kasus pembagian ‘zakat maut’ yang menimbulkan korban 21 orang di Pasuruan, Jawa Timur juga menimbulkan keprihatinan Wakil Presiden Jusuf Kalla, juga banyak pihak di daerah ini, termasuk Gubernur Sumbar, Gamawan Fauzi dan Buya Masoed Abidin. Untuk itu, dia berharap para pembayar zakat untuk menggunakan manajemen yang tepat dalam penyalurannya. Pemberian zakat kepada yang berhak menerima menurut Gubernur melalui Kepala Biro Humas Setdaprov Sumbar, Devi Kurnia kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (16/9) merupakan hal yang positif. Tapi jangan sampai niat baik itu berujung pada hal-hal tidak diinginkan seperti kejadian di Pasuruan.

Selain dapat memanfaatkan badan amil zakat (BAZ) atau Lembaga Amil Zakat (LAZ) lainnya mustahiq atau pembayar zakat dapat juga memanfaatkan masjid sebagai lembaga penyaluran. Lembaga ini dinilai lebih kapabel dalam menjalankan fungsi penyaluran dan diyakini tidak akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. “Tapi kalau tetap menyedot masyarakat secara luas, harus melibatkan pihak keamanan atau kepolisian,” imbuhnya.

Namun masyarakat diharapkan untuk tidak terpancing bila ada orang kaya atau para dermawan yang ingin memberi uang atau barang. “Masyarakat harus hati-hati dan bila tetap berkeinginan jangan sampai berdesak-desakan. Harus disiplin dan antri dengan baik,” ujarnya.

Di Sumbar, BAZ atau LAZ sendiri sejak jauh hari sudah diminta gubernur untuk melakukan koordinasi. Terutama dalam penyaluran, sehingga tidak terjadi tumpang tindih. Bagaimana pun, BAZ Provinsi pastinya akan memberikan atau menyalurkan zakat yang diterima ke kab/kota. “Supaya tidak tumpang tindih diharapkan koordinasinya,” ulasnya.

Sementara itu, mantan Ketua BAZDA Sumbar, Buya Mas’oed Abidin juga merasa prihatin dengan nasib para korban rebutan zakat di Pasuruan tersebut. Dia malah geram melihat prilaku sombong pemberi zakat. “Pemerintah perlu mengambil tindakan tegas terhadap orang kaya sombong itu, karena mereka termasuk pada pembunuh,” katanya kepada Singgalang kemarin.

Sebenarnya, orang kaya katanya tidak perlu sombong. Karena, kekayaan, kepintaran, ilmu dan lainnya yang dimiliki manusia di dunia hanya lah pinjaman Allah SWT. Suatu saat bila Allah berkehendak, maka kekayaan atau apa yang dimiliki saat ini bisa diambil kembali oleh-Nya. “Kaum dhuafa sendiri seharusnya tidak mendekati orang-orang kaya yang sombong itu,” sesalnya.

Buya menyebutkan, bila mau membayar zakat maka belajarlah kepada orang yang pintar yakni Rasullah. Allah sendiri telah menetapkan supaya pembayaran zakat aman dan tertib, maka pembayarannya dapat dilakukan melalui amil zakat. “Ini ada dalam surat At Taubah ayat 60,” jelasnya.

Amil lanjut Buya sangat banyak. Seharusnya dapat dimanfaatkan dan tidak perlu mengundang orang berduyun-duyun ke rumah mereka yang bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi, dana yang diberikan hanya Rp30ribu.

Belajar dari kejadian itu, seharusnya di Kota Padang atau Sumbar tidak ikut dilakukan. Supaya, tidak menimbulkan korban jiwa atau hal-hal yang tidak diinginkan.

Dari itu, BAZ atau LAZ sebagai lembaga amil diharapkan jangan sampai membuat birokrasi. “Terima masyarakat atau muzakki harus dilayani dengan senyum dan jangan membentak-bentak mereka saat datang. Jangan pula berlakukan birokrasi, karena pimpinan BAZ bukan birokrat,” ingat Ketua BAZDA Sumbar pertama itu.

Wapres prihatin
Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengatakan peristiwa tewasnya 21 orang dalam pembagian zakat di Pasuruan merupakan hal yang sangat tragis. “Ini peristiwa paling tragis. Suatu upaya niat baik tapi hasilnya tragis,” kata Wapres Jusuf Kalla di Jakarta, Selasa pada Antara.

Wapres dalam kesempatan itu baik sebagai pemerintah maupun pribadi mengucapkan bela sungkawa dan turut berduka cita kepada para keluarga korban. Lebih lanjut Wapres berharap di kemudian hari tidak ada lagi peristiwa tragis seperti ini.

Menurut Wapres musibah yang terjadi di Pasuruan terjadi karena sistem pembagian zakat yang kurang baik. Wapres menyarankan berdasarkan pengalaman pribadi keluarganya yang setiap tahun membagikan zakat, pembagian harus dilakukan dengan cepat sebelum pukul 07.00. Selain itu, tambahnya bisa dilakukan dengan cara memberikan kupon kepada para calon penerima zakat.tersangka

Antara juga melaporkan Polresta Pasuruan, Jawa Timur, menetapkan H Farouk sebagai tersangka kasus insiden pembagian zakat yang menyebabkan 21 orang tewas dan 13 lainnya dirawat di rumah sakit.\ Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Abubakar Nataprawira di Jakarta, Selasa, mengatakan, Farouk adalah salah satu putera H Syaikhon, pengusaha yang membagikan zakat di Purworejo, Pasuruan.

Farouk ini adalah orang yang menjadi penyelanggara pembagian zakat. Dia yang mengurusi soal zakat,” katanya. Ia mengatakan, tersangka dijerat dengan pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan orang lain meninggal dunia atau luka. Polisi menetapkan tersangka setelah meminta keterangan 18 orang saksi termasuk lima orang dari kalangan penerima zakat.

Penyidik, juga akan meminta keterangan dari dokter untuk memastikan penyebab kematian 21 orang. Abubakar menilai, lokasi pembagian zakat dinilai tidak layak karena pintu pagar hanya memuat satu orang sedangkan yang datang ribuan orang. Untuk itu, Polri meminta kepada masyarakat untuk membagikan zakat lewat lembaga atau panitia zakat agar kejadian di Pasuruan tidak terulang.o104



Ramadhan Bulan Mustajab

september 18, 2008

MUSTAJAB

Oleh Buya H Mas’oed Abidin


Ramadhan datang setiap tahun membawa berkat dan rahmat untuk umat manusia (terutama muslim-mukmin), sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ; “Ramadhan awwalu-hu rahmah, awsathu-hu maghfirah, akhiru-hu ‘itqun minan-naar,”(Al Hadist).

Sehubungan dengan keutamaan Ramadhan ini disampaikan Nabi Muhammad SAW dalam satu khutbah yang panjang pada akhir bulan Sya’ban di saat perintah puasa (shaum) di wajibkan Allah untuk orang-orang yang beriman (mukmin).

Di antaranya Rasulullah SAW bersabda, “.. bahwa sesungguhnya saudara-saudara sekalian kini dinaungi oleh suatu bulan yang besar, bulan yang agung, bulan penuh keberkatan, bulan yang di dalamnya di lipat-gandakan amal ibadah serta rezki untuk orang yang beriman, bulan kelapangan dan bulan keampunan….,siapapun di bulan itu mengerjakan suatu kewajiban karena Allah niscaya dia akan mendapatkan pahala seperti tujuhpuluh kali kebajikan yang diwajibkan pada bulan yang lain, dan siapapun yang mengamalkan suatu amalan sunat karena Allah di bulan Ramadhan akan samalah nilainya dengan amalan wajib di bulan lainnya…, karena itu difardhukan kepadamu untuk berpuasa di siang harinya, dan menghidupkan malamnya (qiyamul-lail)….,Ramadhan itu awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka…”,(Hadist Shahih).

Khutbah Nabi SAW yang lengkap ini, sudah cukup dijadikan rujukan bagi seorang yang hendak memilih mengerjakan amalan terbaik di bulan Ramadhan yang mulia. Keagungan Ramadhan sebagai bulan turunnya Al-Quran, menyediakan di dalamnya satu malam rahmah yakni “malam lailatul-qadri” yang memiliki keutamaan melebihi seribu bulan. (QS.97:1-5).

Berdo’a kepada Allah di bulan ini “maqbul”, terutama saat sedang berpuasa, atau pada saat mustajab di waktu sahur dan berbuka puasa, sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW ; “Do’a orang berpuasa ketika sedang berbuka tidak ditolak,”(Hadist dari Ibnu Umar Radhiallahu “anhuma).

Di bulan ini ada ibadah khusus “shalat tarawih”, artinya shalat secara santai. Rasulullah SAW pernah mengerjakan shalat tarawih ini selama tiga malam berturut-turut di Masjid Nabawi di Madinah, yang diikuti oleh para Shahabat sebagai makmum di belakang Nabi Muhammad SAW.

Walau hanya tiga malam, namun berita shalat tarawih ini cepat menyebar ke tengah umat, dan pada malam-malam berikutnya umat bertambah banyak yang ingin shalat bersama-sama dengan Rasulullah SAW.

Akan tetapi Rasulullah SAW tidak keluar lagi dari kamar (bilik) ‘Aisyah RA, karena di dalam sanalah beliau mengerjakan shalat tarawih beliau itu, sebagai dikhabarkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah RA. Rasul SAW keluar di waktu shubuh mengimami orang banyak dan sahabat menanya Rasulullah SAW kenapa beliau tidak keluar untuk shalat malam di mana umat sudah banyak yang menunggunya? Rasulullah SAW menjawab bahwa; “beliau takut, seandainya Allah SWT mewajibkan shalat sunat (tarawih) ini, namun umatku menjadi keberatan mengerjakannya”.

Ironis sekali umat kini, rajin pergi shalat sunat tarawih berjamaah, sementara shalat maktubah acapkali terlalaikan, bahkan mungkin sudah tertinggalkan.

Ramadhan adalah bulan paling mustajab tempat bermunajah kepada Allah, saat taubatan nashuha dengan lidah basah membaca istighfar, mengharapkan ampunan dan maghfirah dari Allah. Namun, semuanya tidak berarti, bila mata hati tertutup, tidak mau melihat kepada para dhu’afa (fakir-miskin) yang papa dengan nasib, tidak punya sesuatu untuk dinikmatinya, ditambah beban berat kepahitan hidup dan himpitan ekonomi, dibebani pikulan krisis demi krisis, ujian demi ujian termasuk gempa yang menghoyak setiap ketika.

Terhadap kalangan “berpunya” yang tidak mau mengulurkan bantuan, Allah SWT mencapnya sebagai “pendusta-pendusta agama”, karena “mata mereka tertidur disebabkan perut terlalu kenyang, tetapi di sampingnya tergeletak saudaranya yang fakir-miskin dengan bola-mata mereka tidak mau tertidur karena perut kosong kelaparan, kedinginan tidur di tenda, dan rumah sudah runtuk pula.

Do’a si fakir miskin, yang menderita seperti ini, selama mereka dekat dengan Tuhan, beribadah dengan baik, tidak pula melupakan puasanya di bulan Ramadhan, niscaya doa mereka sangat mustajab.

Karena itu, Rasulullah SAW mengingatkan, bahwa yang tak peduli nasib simiskin, sesungguhnya bukanlah golongan umatku, kata Nabi Muhammad SAW.

Na’udzubillahi min Dzalik.


Sahur, latihan disiplin diri

september 17, 2008

SAHUR

oleh: H. Mas’oed Abidin

Sabda Rasulullah SAW Bersahurlah kamu, karena dalm sahur itu ada keberkatan (Al Hadist riwayat enam perawi hadist kecuali Abu Daud).

Sahur adalah pertanda awal pelaksanaan ibadah puasa di setiap hari. Bersahur adalah suatu suruhan (sunnah) Rasulullah SAW, yang juga merupakan rahmat dari Allah. Sebab itu, sahur memiliki kaitan erat dengan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Satu lagi anjuran Rasulullah tentang sahur ini ialah supaya men-takkhir-kan atau melambatkan waktu makan sahur mendekati waktu subuh.

Di samping maksudnya supaya dapat dipersiapakan kekuatan jasmani di siang hari di kala menahan (imsak), juga supaya shalat shubuh sebagai salah satu sendi asas Agama Islam itu tidak tercecerkan.

Sahur merupakan pembeda antara puasa umat Islam dengan kalangan non Islam (Yahudi, Nasrani dan sebagainya Bagi masyarakat kita (Minangkabau) makan sahur disebut makan parak siang atau makan sebelum fajar pertanda siang datang.

Selanjutnya bimbingan Allah dalam firmanNya menyebutkan bahwa pada malam hari bulan Ramadhan itu seseorang Muslim dapat melakukan hubungan dengan keluarganya dan juga dibenarkan untuk makan dan minum hingga terbitnya fajar, sebagaimana isi Wahyu Al Quran berbunyi ; wa kuluu wa asyrabuu hatta yatayyana lakum al khiatul abyadhu min al khaitil aswadi minal fajr, tsumma atimmu ash-shiyaama ila al-laili” artinya “makanlah dan minumlah hingga kamu dapat membedakan antara benang putih dan hitam di waktu fajar, dan kemudian sempurnakan puasamu hingga datang malam (QS.2:187).

Agama Islam tidak membenarkan seseorang untuk berpuasa sepanjang hari dan malam, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah merobah hukum-hukum Allah. Untuk itu puasa diawali dengan sahur dan diakhiri dengan ifthar(berbuka) setiap harinya. Demikianlah hudud (ketentuan hukum) dari Allah.

Maka pelaksanaan makan sahur sebelum fajar terbit adalah kesiapan diri dalam melaksanakan hukum-hukum Allah secara benar dan tanpa reserve.

Lebih jauh adalah mengajarkan seseorang Muslim itu teguh dalam memegang serta mengamalkan hukum-hukum yang telah digariskan dan ditetapkan dalam hidupnya.

Ini bermakna bahwa sebenarnya seseorang Muslim itu melalui ibadah-ibadah yang dikerjakan terdidik menjadi seorang yang teguh untuk mengatakan dan mengamalkan hukum-hukum kemshlahatan yang berlaku.

Dia akan berani mengatakan yang hak itu benar dan yang bathil itu adalah salah. Hukum adalah kebenaran dari Allah, bukan kekuasaan hawa nafsu.

Sebagaimana halnya juga dengan puasa (shaum) akan melahirkan sifat sabar (tabah dengan kejujuran) dan istiqamah (konsisten, teguh berpendirian) serta qanaah (sikap merasa cukup sesuai dengan hak yang dimiliki).

Ketiga sifat utama ini dilatih dengan intensif pada setiap rukun puasa dengan penuh kedisiplinan diri. Disiplin yang tidak dipaksakan dari luar tapi disiplin yang ditumbuhkan dari dalam, yang mengakar pada sikap dan berbuah dalam tindakan.

Dalam keseharian hidup di tengah kemajuan zaman seringkali diri bersedia dijual dengan harga materi bernilai rendah. Nilainya hanya sebatas kenikmatan sesaat, bahkan bisa berakibat ditukarkan dengan kesengsaraan berkepanjangan di hadapan mahkamah Rabbun Jalil, suatu kesengsaraan yang dipikil sendiri, tidak seorang pun bisa meringankannya.

Karena itu melalui berbagai kegiatan ibadah, terutama ibadah pusa (shaum) inilah setiap mukmin dilatih bahkan dididik menjadi seorang yang tahu hukum dan bisa mengamalkannya, tanpa harus dipaksa oleh kekuatan penegak hukum di sekelilingnya. Dari dalam dirinya terlahir sikap hemat menggantikan loba sebagai perangai nafsu.

Selama bulan-bulan Ramadhan dengan pengamalan ibadah yang ihtisab (penuh pengendalian) itu, seseorang muslim berlati pandai mencukupkan apa yang ada (qanaah) dan menghindari diri dari berfoya-foya (mubadzir). Dalam pelaksanaan sahur Nabi Muhammad SAW menasehatkan; “makanlah dengan makanan yang ringan-ringan,” artinya tidak terlalu berat pada pencernaan, tidak lain adalah untuk terjaganya kesehatan di siang hari kala puasa.

Sungguh benar Rasulullah SAW dengan tugasnya sebagai “rahmatan lil-alamin”.


Akhlak Mulai buah dari amaliah Ramadhan

september 17, 2008

Akhlak mulia, Buah Ramadhan

Oleh Buya H Mas’oed Abidin


Wahyu Allah mengingatkan, antara lain, “Dan tiadalah kami mengutus kamu (wahai Muhammad), melainkan untuk (menjadi) Rahmat bagi Semesta Alam”. (QS. 21 ‑ Al Anbiya ‑ ayat 107).

Jika Nabi Muhammad SAW tidak diutus sebagai Rasul, maka Alquran pun tidak akan pernah ada, dan kita tidak akan tahu, bagaimana bentuk kehidupan manusia di akhirnya.

Kebuasan binatang adalah soal biasa. Tetapi, kebuasan manusia akan menyisakan persoalan-persoalan, antara lain perkosaan manusia terhadap lainnya, pengrusakan alam lingkungan di obrak‑abrik oleh kebejatan moral manusia.

Kita wajib bersyukur kepada Allah, yang mengutus Muhammad disertai Alquran, untuk mengangkat derajat manusia menjadi yang paling mulia di antara makhluk yang ada. Ajaran Agama, mengarah kepada perubahan watak manu­sia, dan kepada tingkah laku dalam kehidupan.

Ajaran agama, akan mengikat gerak dan jalan manusia.

Ilmu pengetahuan agama, mempunyai satu tuntutan agar orang mengubah sikap dan tingkah lakunya, sesuai dengan perintah agama (perin­tah‑larangan dari Allah SWT), dalam semua persoalan hidup manusia, dengan menunjukkan cara menyelesaikan seluruh problematik kehidupan manusia.

Ajaran agama (yang bersumber dari Allah, dengan pedoman Alquran), akan menyembuhkan penyakit yang melanda manusia, yang melanda masyarakat manu­sia, lantaran kejahatan atau kerusakan moral manusia sendiri.

Segala penyakit dan wabah yang merusak nilai‑nilai kemanusiaan, akan disembuhkan secara total oleh ajaran agama, jika masyarakat manusia itu benar‑benar thaat mengikuti ajaran agama (Allah) itu.

Ajaran agama, itu berperan sebagai penangkal ancaman kerusakan dan kebejatan yang melanda masyarakat manusia. “Dan kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang‑orang yang beriman”. (QS.17 Al Isra’, ayat 82).

Syifaa‑un atau penawar, adalah pengobatan segala penyelewengan dan kejahatan yang berjangkit di tengah kehidupan manusia. Rahmatan, atau “rahmat”, adalah penangkal, pencegah datangnya penyakit, yang merusak nilai‑nilai kemanusiaan itu.

Kitapun, sebagai manusia, berada di permukaan dunia ini, mempunyai satu tugas suci, selalu memelihara nilai‑nilai kemanusiaan kita, dengan cara yang ditetapkan oleh Maha Pencipta.”Dan tidaklah diciptakan manusia, juga jin, melainkan hanya untuk pengabdian kepada KU (Allah)”, (Alquran).

Pengabdian kepada Allah (beribadah), adalah memfung­sikan aqal, dan menempatkan manusia pada konsentrasi yang benar. Jelaslah agama tidak hanya berurusan dengan masalah akhirat semata, namun juga mengatur hakekat hidup manusia di dunia.

Sebuah pertanyaan, sudahkah kita hidup sesuai dengan harkat itu? Demikian Allah SWT memanggil dengan penuh kasih sayang‑Nya, masihkah hati mengelak jauh dari Ajaran agamaNya?

Maka sahutilah segera, dengan amal kebaikan.

Ulurkan tangan membantu, ketika kita bergembira. Yang diperlukan umat kita hari ini, ketika banyak daerah kita dilanda musibah, bukan hanya pakaian saja, juga yang bertalian dengan perut dan makanan. Kebutuhan vital untuk hidup.

Maka beban ini terpulanglah kepada lembaga‑lembaga kemasyarakatan yang berkewajiban memperhatikan umat yang sedang dihimpit kesusahan.

Organisasi‑organisasi dan lembaga‑lembaga kemasyarakatan wajib kifayah setiap saat, memikirkan keadaan masyarakat di sekitarnya. Tidak hanya dalam bentuk temporer (sesaat), tetapi sepanjang masa.

Inilah resiko logis bagi suatu organisasi kemasyarakatan yang besar yang menyandang amanah umat.

Bila kita sadari, dana yang bisa kita ulurkan itu banyak tersedia, misalnya berbentuk sebaha­gian Zakat yang dikumpulkan untuk orang‑orang yang sangat memerlukan makanan, agar masyarakat di desa yang sulit tidak menjadi kelaparan dan kehausan.

Apabila kita membuka khazanah Muhsinin masa lalu, kita bisa belajar kepada isteri Khalifah Harun Al‑Rasyid, yang menjual barang perhi­asan emasnya, kemudia mengganti dengan membuat sebuah parit (saluran) air menuju kota Madinah, sehingga manfaatnya dapat dirasakan orang banyak sampai hari ini, artinya tidak semata indahnya perhiasan yang hanya dipunyai oleh pemiliknya saja.

Lagi pula, selama orang masih tetap meminum air yang di alirkan terse­but, pahalanya selalu mengalir pula kepadanya (ini adalah sesuai menurut keyakinan aqidah Islam).

Membantu orang lemah sebenar­nya adalah bukti kuatnya iman. Membiarkan orang yang lemah menjerit, sebenarnya memberi tahukan bahwa orang berada itu lebih lemah dari para dhu’afak yang menjerit itu.

Mereka lemah, tak berdaya lepas dari belenggu harta bendanya, sehingga mere­ka tidak sanggup mempergunakannya untuk meringankan beban orang lain.

Enggan membantu orang yang miskin, akan beraki­bat Allah tidak memperhatikan orang kaya itu.

Beban derita akan datang menghimpit hati. Na’udzubillah.

Pemerintah Republik Indonesia telah lama mencoba untuk menghapuskan kemiskinan, di antaranya melalui program transmigrasi. Selain itu, masyarakat di desa dan nagari, bahkan di kota-kota, selalu dihantui kemiskinan, karena tidak tersedianya sumber pendapatan yang merata.

Apakah si miskin yang lemah itu, akan dibiarkan menunggu, sepanjang waktu.

Tentu tidak.

Kini, Allah SWT mengetuk hati nurani muslim dengan musibah demi musibah. Kewaji­ban kitalah sebagai saudara, yang punya kemampuan melebihi mereka, segeralah untuk membantunya.

Kita akan menjadi bangsa yang lemah, bila kemampuan yang kita punyai tidak disalurkan untuk menga­tasi kelemahan orang‑orang yang dilanda kemiskinan itu. Ingatlah peringatan Allah dalam Al Quran surat Al Ma’uun ayat 1 .”Tahukah kamu orang‑orang yang mendustakan agama?”

Nabi Muhammad SAW menasehat­kan kita semua dengan sabda beliau yang sangat dalam artinya “Man lam yahtamma bi ammril Muslimin falaisa minhum”, artinya, Yang tidak mau tahu urusan sesama umat Muslim sebenarnya tidak pantas disebut kelompok Muslim. Begitulah Rasulullah SAW.

Mudah‑mudahan kita tidak tergolong kedalam klasifika­si yang disebut Rasulullah SAW ini.

Mari kita bantu Sauda­ra kita yang sebenarnya sangat menunggu bantuan kita, dalam bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

Allahumma Amin. ***