Færðu inn athugasemd

Akhlak Benteng Akidah Umat

Akhlak Benteng Aqidah Umat

 

Oleh : H Mas’oed Abidin

 

            Memelihara daerah dari bahaya penetrasi budaya adalah dengan menjaga keutuhan nilai‑nilai adat dan budaya sendiri. Daerah ini memiliki nilai budaya yang kaya. Bahwa ranah ini adatnya bersendi syara’ dan syara’ bersendi Kitabullah. Sangat penting menjaga keutuhan ukhuwah. Semuanya hanya dimung­kinkan dengan menghidupkan kembali nilai‑nilai „tungku tigo sajarangan“. Melibatkan seluruh unsur (elemen masyarakat), alim ulama, ninik mamak dan para cendekiawan. Baik yang duduk dalam pemerintahan maupun yang ada di kalangan perguruan tinggi.

Pekerjaaan berat hari ini dan kedepan adalah menumbuhkan ilmuan beragama (Islam) yang beradat, dan menanamkan kembali rumpun masyarakat beradat yang ber-agama Islam, atau para cendekiawan yang beradat dan beragama Islam. Peran ini adalah peran yang mestinya diangkat bersama. Usaha ini menjadi sangat krusial dalam menciptakan tatanan masyarakat ber-adat, dengan adatnya bersendi syarak dan syarak ber-sendi Kitabullah (al-Quran). Tidak dapat dilupakan adalah tentang pentingnya peran kegotong‑royongan sebagai buah dari ajaran ta’awun sebagai inti aqidah tauhid. Membendung usaha‑usaha yang men-diskreditkan umat dan bahkan memurtadkan umat Islam dari agama mereka, tidak semata ber-sifat mempertahankan diri. Tetapi adalah juga memperdalam pemahaman terhadap agama dan akhlak.

 

 

4.1. Memelihara kerukunan beragama

Umat Islam diperintahkan untuk berada dalam kalimatin sawa, atau kata persamaan, yakni :

ü Tidak menyembah kepada selain Allah, dan tidak menyeku­tukan‑Nya dengan sesuatu apapun.

ü Tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan, selain Allah. Jika mereka berpaling, saksikanlah bahwa kami adalah orang‑orang muslim.

Pedoman baku dalam segala hal, termasuk dalam hubungan antar agama, antara lain :

w  Islam dinyatakan sebagai agama di sisi Allah, namun Islam melarang pemaksaan dalam agama.

w  Islam mengajarkan, bahwa golongan agama lain adalah manusia yang juga memiliki hak dan kewajiban. Alkan tetapi diingatkan bahwa Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada umat Islam, sehingga umat Islam mengikuti agama mereka.

w  Akan didapati orang‑orang yang paling keras permusuhan­nya kepada orang‑orang yang beriman, yakni orang‑orang Yahudi dan mereka yang menyekutukan Allah.

Dalam kamus orang‑orang beragama, tidak ada pengertian semua agama adalah benar. Yang ada, agamanyalah yang benar. Karena itu agamanya harus disampaikan kepada siapa saja, dan dengan cara apa saja. Untuk menciptakan keruku­nan itu, mutlak di-perlukan kebijakan dari semua pihak yang dapat juga disebut semacam kode etik.

Membendung usaha‑usaha yang mendis-kreditkan umat Islam dan bahkan memurtadkan umat dari agama mereka, adalah semata‑mata ber-sifat mempertahankan diri. Bersifat self defence.

Umat Islam diperintahkan untuk mengajak golongan lain kepada kalimatin sawa’, atau kata persamaan, yakni :

ü Tidak menyembah kepada selain Allah, dan tidak menyeku­tukan‑Nya dengan sesuatu apapun.

ü Tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan, selain Allah.

ü Jika mereka berpaling, saksikanlah bahwa kami adalah orang‑orang muslim.

 

            Pedoman baku dalam segala hal, termasuk dalam hubungan anta­r agama, antara lain :

F Islam dinyatakan sebagai agama di sisi Allah, namun Islam melarang pemaksaan dalam agama.

F Islam mengajarkan, golongan Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada umat Islam, sehingga umat Islam mengikuti agama mereka.

F Akan didapati orang‑orang yang paling keras per-musuhan­nya kepada orang‑orang yang beriman, yakni orang‑orang Yahudi dan mereka yang menyekutukan Allah. v

 

 

4.2. Menerapkan Iptek

 

            Firman Allah dalam QS. 3, Ali Imran : 110, artinya, “Kamu adalah umat yang paling baik (khaira ummah, umat pilihan), yang dilahirkan untuk kepentingan manusia; menyuruh mengerjakan yang benar dan melarang membuat salah, serta beriman kepada Allah. Sekranya orang-orang keturunan Kitab itu beriman, sesungguhnya itu baik untuk mereka. Sebahagian mereka beriman, tetapi kebanyakannya orang-orang yang jahat”.

Dijelaskan bahwa Umat Islam adalah umat pilihan, terbaik. Bila keturunan Kitab sebelumnya mau menerima dinul Islam , mereka akan lebih baik dari umat ini. Tetapi mereka kufur, dan sebahagian lagi  jahat, menolak ajaran Allah SWT. Disinilah terdapat tantangan disamping peluang terhadap umat pilihan (umat Islam) sepanjang masa dalam meniti setiap perubahan zaman.

Khaira ummah yang menjadi identitas umat Islam itu selalu istiqamah (Konsisten) dengan perangai utama. Tetap membawa, menyeru, mengajak umat kepada yang baik, amar makruf. Melarang membuat salah, nahyun ‘anil munkar. Tetap beriman dengan Allah.

Amar makruf, hanya bisa dilaksanakan dengan ilmu pengatahuan. Karena itulah tatkala pertama kali manusia diciptakan kepadanya beberapa perangkat ilmu (QS.2:30-35). Dalam mengemban misi mulia, khalifah di permukaan bumi. Nahyun ‘anil munkar, melarang dari yang salah. Perlu ilmu pengetahuan tentang makruf dan munkar artinya mengerti tentang suruhan berbuat baik dan larangan berbuat salah (QS.3:104,114; QS.5:78-79; QS.9:71,112; QS.22:41; QS.31:17). Amar Makruf Nahi Munkar sangat sesuai dengan martabat manusia.

Patokan makruf (baik, disuruh) dan munkar (salah, terlarang) dipagari oleh halal (right, benar) dan haram (wrong, salah). Bukan like or dislike (suka atau tidak). Kerancuan menerapkan benar dan salah dikehidupan sehari-hari disebab kurangnya ilmu pengetahuan tentang right dan wrong. Selain dari kebiasaan meninggalkan ajaran agama, tidak teguh (tidak istiqamah) menjalankan right dan wrong tersebut.

Bila diteliti bahwa ayat pertama turun adalah (Iqra’, artinya baca) QS. 96, Al ‘Alaq 1-5. Membaca dan menulis, adalah “jendela ilmu pengetahuan”. Dijelaskan, dengan membaca dan menulis akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui (‘allamal-insana maa lam ya’lam). Ilham dan ilmu belum berakhir. Wahyu Allah berfungsi sebagai sinyal dan dorongan kepada manusia untuk mendalami pemahaman sehingga mampu membaca setiap perubahan zaman dan pergantian masa.

Keistimewaan ilmu, menurut wahyu Allah, antara lain ;

·         Yang mengetahui pengertian ayat-ayat mutasyabihat hanyalah Allah dan orang-orang yang dalam ilmunya (QS.2:7).

·         Orang berilmu mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (QS.3:18).

·         Diatas orang berilmu, masih ada lagi yang Maha Tahu, (QS.12:76).

·         Bertanyalah kepada ahli ilmu kalau kamu tidak tahu, (QS.16:43, dan 21:7).

·         Jangan engkau turut apa-apa yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu (QS.17:36).

·         Kamu hanya mempunyai ilmu tentang ruh sedikit sekali (QS.17:85).

·         Memohonlah kepada Allah supaya ilmu bertambah (QS.20:114).

·         Ilmu mereka (orang yang menolak ajaran agama) tidak sampai tentang akhirat (QS.27:66).

·         Hanyalah orang-orang berilmu yang bisa mengerti (QS.29:43).

·         Yang takut kepada Tuhan hanyalah orang-orang berilmu (QS.35:28).

·         Tuhan meninggikan orang-orang beriman dan orang-orang berilmu beberapa tingkatan (QS.58:11).

·         Tuhan mengajarkan dengan pena (tulis baca) dan mengajarkan kepada manusia ilmu yang belum diketahuinya (QS.96:4-5).

 

Pengamal wahyu Allah (Islam) memiliki identitas (ciri, sibghah) yang jelas, yaitu menguasai ilmu pengetahuan. Mereka adalah innovator, memiliki daya saing, imagination, kreatif, inisiatif, teguh dalam prinsip (istiqamah, consern), berfikir objektif dan mempunyai akal budi. Teknologi hanyalah suatu keterampilan, hasil dari ilmu pengetahuan berkenaan dengan teknik, serba mesin itu. Teknologi tidak berarti bila manusia dibelakang teknologi itu tidak berfungsi, tidak berperan dan mati. Sebelum teknologi dihidupkan, wajib lebih dahulu menghidupkan dhamir manusia yang akan mempergunakan perangkat teknologi, agar hasil yang diperoleh bermanfaat untuk kehidupan manusia. Jangan sebaliknya merusak kehidupan itu sendiri.

 

Pemilik ilmu pengetahuan dan pengguna teknologi mestinya mampu mencipta dan menampilkan produk teknologi ditengah kehidupan dunia menyeluruh (global) tanpa merusak harkat manusia melalui produk hasil ciptaan teknologi tersebut. Disini sebenarnya arti penerapan Iptek dari sudut pandang agama Islam. Iptek menjadi musuh kemanusian bila hasilnya menghancurkan harkat (derajat) manusia. Iptek sangat penting teramat berguna dalam meningkatkan taraf hidup manusia. Karena itu perlu ada saringan pengguna iptek itu. Saringannya adalah agama, akal budi, dan di Minangkabau adalah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Segera laksanakan dan jangan sebatas semboyan.

 

 

                                  

4.3. Menggali dari ajaran islam

            Ajaran Islam sangat banyak memberikan dorongan kepada sikap-sikap untuk maju. Antara lain:

 

1.    Keseimbangan

Hukum Islam menghendaki keseimbangan antara  perkembangan hidup rohani dan perkembangan jasmani ;

a)      Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu) pun berhak atasmu supaya kamu pelihara“ (Hadist).

b)      Berbuatlah untuk hidup akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup selama-lamanya„.  (Hadist).

 

2.    Self help

       Mencari nafkah dengan „usaha sendiri“,  dengan cara yang amat sederhana sekalipun adalah „lebih terhormat“, daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain :

       c)    Kamu ambil seutas tali, dan  dengan itu kamu pergi kehutan belukar mencari kayu bakar untuk dijual pencukupan nafkah bagi keluargamu, itu adalah lebih baik bagimu dari pada berkeliling meminta-minta“.  (Hadist).

       Diperingatkan bahwa membiarkan diri hidup dalam kemiskinan dengan tidak berusaha adalah salah :

       d).   Kefakiran (kemiskinan)  membawa orang kepada kekufuran (keengkaran)  (Hadist).

 

3.    Tawakkal

       Tawakkal bukan berarti „hanya menyerahkan nasib“ kepada Tuhan, dengan tidak berbuat apa-apa;

e)      Jangan kamu menadahkan tangan dan berkata : “Wahai Tuhanku, berilah aku rezeki, berilah aku rezeki“, sedang kamu tidak berikhtiar apa-apa. Langit tidak menurunkan hujan emas ataupun perak. (Khalif Umar bin Khattab).

       f)   Bertawakkal lah kamu, seperti burung itu bertawakkal„. (Atsar dari Shahabat).

       Tak ada kebun tempat ia bertanam, tak ada pasar tempat ia berdagang. Tetapi tak kurang, setiap pagi dia terbang meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar, dan setiap sore dia kembali dalam keadaan „kenyang“.

 

4.    Kekayaan Alam

g)      Alam sekeliling yang merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Diarahkan pandangan dan penelitian kepada alam tumbuh-tumbuh yang indah, berbagai warna, menghasilkan buah bermacam rasa.

h)     “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit kemudian dengan air hujan itu berbagai-bagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan dia telah memudahkan  pula untukmu sungai-sungai ” (QS.14, Ibrahim : 32).

                        Alam hewan dan ternak serba guna dapat dijadikan kendaraan pengangkutan barang berat, dagingnya dapat dimakan, kulitnya dapat dipakai sebagai sandang.  “Dia telah menciptakan binatang ternak untukmu, padanya ada bulu (kulit) yang menghangatkan, dan berbagai-bagai manfa’at, dan sebagiannya kamu makan” (QS.16, An Nahl : 5).

            Perbendaharaan bumi yang berisi logam yang mempunyai kekuatan besar dan banyak manfaat. “Dan Dia telah menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untkmu. Dan bintang-bintang itu dimudahkan untukmu dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang memahaminya. Dan Dia menundukkan pula apa-apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mau mengambil pelajaran” (QS.16, An Nahl : 12-13).

            Lautan samudera terhampar luas, berisikan ikan dan berdaging segar, dan perhiasan yang dapat dipakai, permukaannya dapat diharungi dengan kapal-kapal; supaya kamu dapat mencari karunia-Nya (karunia Allah).

Demikian itu, tiada lain  supaya manusia pandai  bersyukur.“ Ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan : Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih ” (QS.14, Ibrahim : 7) .

                        Kepada bintang di langit, yang dapat digunakan sebagai petunjuk-petunjuk jalan, penentuan arah bagi musafir“. Lihat juga QS.16 : 15-16

 

5.    Time – Space – Consciousness

h.      Kesadaran kepada ruang dan waktu (space and time consciousness) kepada peredaran bumi, bulan dan matahari, pertukaran malam dan siang dan pertukaran musim, yang memudahkan perhitungan bulan dan tahun, antara lain juga saat untuk menunaikan rukun Islam yang kelima kepada kepentingan nya waktu yang kita pasti merugi bila tidak diisi dengan amal perbuatan. Lihat juga QS.16 : 17 dan QS.14,Ibrahim : 33

       i.     Kami jadikan malam menyelimuti kamu (untuk beristirahat), dan kami jadikan siang untuk kamu mencari nafkah hidup„. (QS.78, An Naba’ : 10-11).

j.        „Dibandingkan kesadaran kepada bagaimana luasnya bumi Allah ini“ dianjurkan supaya jangan tetap tinggal terkurung dalam lingkungan yang kecil, dan sempit“ Lihat juga QS.4, An Nisak : 97.

Karena kalau dihitung segala ni’mat Allah, tak akan mampu manusia menghitungnya.“Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tidak dapat m,enentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi maha Penyayang” (QS.16, An Nahl : 18).

         Dan Dia lah Allah yang telah menjadikan bumi mudah untuk kamu gunakan. Maka berjalanlah di atas permukaan bumi, dan makanlah dari rezekiNya dan kepada Nya lah tempat kamu kembali. “Maka berpencarlah kamu diatas bumi, dan carilah karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan Allah, supaya kamu mencapai kejayaan„.  (QS.62, Al Jumu’ah : 10).

 

6.    Jangan Boros

k.      „Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu harus pandai mengendalikan diri, agar jangan melewati batas, dan berlebihan”. „Wahai Bani Adam, pakailah perhiasanmu, pada tiap-tiap (kamu pergi) ke masjid (melakukan ibadah); dan makanlah dan minumlah, dan jangan melampaui batas; sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas„. (QS..7, Al A’raf : 31)

Bekerja: Ka lauik riak mahampeh, Ka karang rancam ma-aruih, Ka pantai ombak mamacah. Jiko mangauik kameh-kameh, Jiko mencancang, putuih – putuih, Lah salasai mangko-nyo sudah.

     Artinya bekerja sepenuh hati, dengan mengerahkan semua potensi yang ada. Bila mengerjakan sesuatu tidak menyisakan kelalaian ataupun ke-engganan. Tidak berhenti sebelum sampai, dan tidak akan berakhir sebelum benar-benar sudah.

Caranya: Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo. Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari,  Adat tidak salang ma-nyalang, 

     Basalang tenggang, artinya saling meringankan dengan kesediaan memberikan pinjaman untuk mendukung kehidupannya.

            Melupakan atau mengabaikan ini, mungkin lantaran menganggapnya sebagai barang kuno yang harus dimasukkan kedalam museum saja, di zaman modernisasi sekarang ini berarti satu kerugian. Sebab berarti mengabaikan satu partner „yang amat berguna“ dalam pembangunan masyarakat dan negara.

            Membangun kesejahteraan dengan bertitik tolak pada pembinaan unsur manusia nya, sehingga menjadi homo ekonomikus, sebagaimana yang kita lihat sekarang dapat dimulai setiap waktu. Tidak menunggu sampai datangnya kredit luar negeri, atau kapital asing yang akan mendirikan pabrik-pabrik modern di negeri kita lebih dulu. Tidak.

            Sebab dia dimulai dengan apa yang ada.

            Yang ada ialah kekayaan alam dan potensi yang terpendam dalam unsur manusia.

            Ibarat orang mengaji dia memulai dari alif. Sesudah itu baa, kemudian taa, dan seterusnya.

            Selangkah demi selangkah – step by step – thabaqan ‘an thabag.

            Dia mulai dengan memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia, masyarakat pedesaan itu.

            Kepada kesadaran akan benih-benih kekuatan yang ada dalam dirinya masing-masing.

Yakni :           

            observasi dipertajam,

            daya pikir ditingkatkan,

            daya gerak didinamiskan ,

            daya cipta diperhalus,

            daya kemauan dibangkitkan.

            Dimulai dengan menumbuhkan atau mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri.

            Dengan kemauan untuk melaksanakan idea self help kata orang sekarang  sesuai dengan peringatan Ilahi.„Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak merobah keadan sesuatu kaum, kecuali mereka mau merubah apa-apa yang ada dalam dirinya masing-masing ….“

            Cukupkan dari yang ada …  Telapak tangan….

            Di sini kita melihat peranan hakiki dari Sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu mengolah dan memelihara alam kurnia Allah untuk meningkatkan kesejahteraan lahiriyah, dimulai dengan nilai-nilai rohani.

       „Jangan berhenti tangan mendayung,

       nanti arus membawa hanyut“ …..

            Begitu bunyi suara hati mereka.

            Itu pula yang ada dibelakang hasil lahiriyah yang dipamerkan dalam setiap amalan seseorang itu.

            Mereka masih mengaji alif-baa-taa.

            Kemauan mereka akan melanjutkan kaji khatam.

            Memang pada permulaan, terasa lambat kaji beralih, dari reka ke reka berangsur-angsur.

            Disatu saat kaji self help (menolong diri sendiri) beralih kepada kaji mutual help, tolong-menolong.

            Bantu-membantu, dalam rangka pembagian pekerjaan, ber-ta’awun kata ahli agama. Sesuai dengan anjuran Islam, „Bantu membantu, ta’awun, mutual help dalam rangka pembagian pekerjaan (division of labour) menurut keahlian masing-masing ini, akan mempercepat proses produksi, dan mempertinggi mutu, yang dihasilkan.

            Dari taraf ini berangsur-angsur kepada take-off kata orang sekarang. Dimana ibarat mesin sudah hidup, baling-baling sudah berputar pesawatnya mulai bergerak, meluncur di atas landasan, naik berangsur-angsur semakin lama semakin tinggi.

            Kalau sudah demikian maka akan sampailah ke taraf ketiga, yaitu taraf yang biasa kita namakan selfless help yaitu dimana kita sudah dapat memberikan bantuan kepada orang yang memerlukan dengan tidak mengharapkan balasan apa-apa.

            Itulah taraf ihsan yang hendak kita capai.

            Sesuai dengan maqam yang tertinggi yang dapat dicapai dalam hidup duniawi ini oleh seorang Muslim dan masyarakat Muslimah.

            Yakni untuk melaksanakan Firman Ilahi; „Berbuat baiklah kamu (kepada sesama makhluk) sebagaimana Allah berbuat baik terhadapmu sendiri (yakni berbuat baik tanpa harapkan balasan). (QS.28, Al Qashash : 77)

            Satu kemajuan Insya Allah akan terwujud dengan semboyan:  „Mulai dengan melatih diri sendiri, mulai dengan alat yang ada, mencukupkan dengan apa yang ada. Yang ada itu adalah cukup untuk memulai”.

            Kita menuju kepada taraf yang memungkinkan kita untuk melakukan selfless help, memberikan bantuan atau infaq fii sabilillah dari rezeki yang telah diberikan kepada kita tanpa mengharapkan balasan jasa. „Pada hal tidak ada padanya budi seseorang yang patut dibalas, tetapi karena hendak mencapai keredhaan Tuhan-Nya Yang Maha Tinggi“. (Q.S. Al Lail, 19 – 20).

            Itu tujuan yang hendak kita capai. Begitu khittah yang hendak kita tempuh. Yang sesuai dan munasabah dengan fithrah kejadian manusia yang universil.

Kalau disimpulkan ;

1.      Alam ditengah-tengah mana manusia berada ini, tidak diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan sia-sia. Di dalamnya terkandung faedah-faedah kekuatan, dan khasiat-khasiat yang diperlukan oleh manusia untuk memperkembang dan mempertinggi mutu hidup jasmaninya.

2.      Manusia diharuskan berusaha membanting tulang dan memeras otak untuk mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam sekelilingnya itu, menikmatinya, sambil mensyukurinya, beribadah kepada Ilahi. Menjaga dari pada melewati batas-batas yang patut dan pantas, agar jangan terbawa hanyut oleh materi dan hawa nafsu yang merusak. Dan ini semua adalah suatu bentuk persembahan manusia kepada Maha Pencipta, yang menghendaki keseimbangan antara kemajuan dibidang rohani dan jasmani.

3.      Sikap hidup (attitude towards life) yang demikian, tak dapat tidak merupakan sumber dorongan bagi kegiatan penganutnya, juga di bidang ekonomi, yang bertujuan terutama untuk keperluan-keperluan jasmani (material needs). „Hasil yang nyata“ dari dorongan-dorongan tersebut tergantung kepada dalam atau dangkalnya sikap hidup tersebut berurat dalam jiwa penganutnya itu sendiri, kepada tingkat kecerdasan yang mereka capai dan kepada keadaan umum di mana mereka berada.

4.      Sebagai masyarakat beradat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pula pelajaran-pelajaran. Dalam rangka satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam „iklim adat basandi syara’ syara’ basandi Kitabullah“.

5.      Dalam rangka pembinan negara dan bangsa kita keseluruhannya. Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan „nawaitu“ dalam diri masing-masing. Untuk membina umat dalam masyarakat desa harus di ketahui pula kekuatan. Baik kekuatan ataupun kelemahan di dalamnya, dalam setiap kondisi suka dan duka, manis dan pahitnya.”

            Bekerjalah ….. ,

            Bismillah …… – 

 

 Indarung, 28 Juli 2000

 

Auglýsingar

Færðu inn athugasemd

Skráðu umbeðnar upplýsingar að neðan eða smelltu á smámynd til að skrá þig inn:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Breyta )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Breyta )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Breyta )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Breyta )

Tengist við %s

%d bloggurum líkar þetta: