Færðu inn athugasemd

Akhlak Mulia

Akhlak Mulia

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

Peran dakwah Risalah diantaranya adalah membentuk tata-masyarakat kesatuan (universal), dengan prinsip persaudaraan, menentang anasir perpecahan, menjauhi hasut-fitnah, toleransi dan saling menghargai, dengan menggerakkan upaya ta’awunitas (QS.49,al-Hujurat : 6-13).

 

Missi kerasulan Muhammad SAW adalah memperbaiki tatanan laku perangai (moral) manusia, dengan mengedepankan akhlak mulia (al-Hadist). Akhlak karimah (mulia) mencakupi hubungan manusia dengan Khalik (hablum minallah), penataan sikap dan kepribadian manusia (ihsanisasi), dan pemeliharaan hubungan antar makhluk manusia maupun alam lingkungan (mu’amalah ma’an-naas). Nilai hidup manusia lebih ditentukan oleh moral (akhlak) yang dimilikinya.

 

Kelanjutan hidup manusia di permukaan bumi turun temurun, perlu disadari adalah karena terjalinnya hubungan setara antara dua jenis manusia. Lelaki dan Perempuan.

Keutamaan risalah dakwah Muhammad SAW adalah menerapkan dakwah peduli perempuan. Pada masa jahiliyah, sebelum di utusnya Muhammad SAW dengan ajaran agama Islam, selalu berlaku pelecehan gender terhadap kaum perempuan. Hal ini terbukti pada setiap kelahiran anak perempuan selalu di sambut dengan kematian. Memiliki anak perempuan sama halnya dengan menyandang kehinaan tiada taranya,(QS.QS.16,an-Nahl :57-60).

Kondisi jahiliyah ini merupakan kebalikan dari masa fir’aun, yang menerapkan pembedaan etnis dan gender (jenis kelamin) dengan secara ketat diterapkan kepada setiap anak lelaki yang lahir dari kaum Musa (keluarga ‘Imran). Kelahiran anak lelaki dari etnis Musa harus disambut dengan “bunuh”. Pada masa modern sekarang, kondisinya mirip dengan penerapan rasilalisme yang masih diterapkan dibeberapa negara dunia (Israel, Hitam-putih di Amerika Serikat, Albanian dan Serbian di Kosovo), yang pada ujungnya kerapkali berakhir dengan ethnic cleansing.

Inilah bentuk Virus jahiliyah, yang selalu akan gentayangan pada tatanan sistim hidup manusia, hingga kepada zaman serba tombol cyberspace ini, apabila tidak ada upaya memeranginya dengan scanning anti virus.  Scanning anti virus jahiliyah ini hanyalah dengan memakai paradigma tauhid,  penerapan ajaran agama Islam yang benar, serta akhlak karimah (mulia).

 

Wahyu al-Quran yang dibawa Muhammad SAW, menempatkan perempuan pada posisi azwajan (pasangan hidup kaum lelaki), mitra sejajar/setara (QS.16:72), berperan menciptakan sakinah (kebahagiaan), mewujudkan rahmah yang tenteram, melalui mawaddah berupa kasih sayang (QS.30:21).  

Citra perempuan ini diperankan secara sempurna dengan posisi sentral sebagai IBU (Ikutan Bagi Ummat), salah satu unit inti dalam keluarga besar (extended family, bundo kanduang di Minangkabau). Perempuan adalah “tiang negeri” (al Hadist). Posisi ini adalah penghormatan mulia, “sorga terletak di bawah telapak kaki ibu” (al Hadist). Mengemban citra ini, semestinya kaum perempuan wajib mempertahankan pembedaan jenis kelamin (dual sex) secara pasti. Padanya tersimpulkan rahasia mendalam akan pentingnya aturan “aurat”, sebagai ujud ciri-ciri feminim. Seperti ungkapan perempuan bijak, “sifat feminim yang merupakan sumber kasih sayang, kelembutan, keindahan, dan sumber cahaya Ilahi, mempunyai potensi untuk menyerap dan mengubah kekuatan kasar menjadi sensitivitas, rasionalitas menjadi intuisi, dan dorongan seksualitas menjadi spiritualitas, sehingga memiliki daya tahan terhadap kesakitan, penderitaan dan kegagalan” (Hani’ah, HISKI 1997).

Bahkan, “hancurnya sebuah rumah tangga ideal akibat sikap istri terlalu maskulin” (Armiyn Pane, Belenggu). Menggejalanya mode unisex sebagai limbah budaya western pasti berdampak langsung kepada hilangnya citra kaum perempuan.

 

Al Quran mencontohkan tipe kaum perempuan, yang tidak boleh ditiru, (a). perempuan yang kufur dan khianat kepada suaminya, contohnya isteri Nuh dan Luth, berakhir keneraka (QS.66,at Tahrim :10), (b). perempuan yang meninggalkan bengkalai sampai tua, siang harinya menenun, dan malamnya mengungkai kembali (QS.16, an-Nahl :92).

Disamping, ada tiga tipe perempuan perlu dicontoh, (a). Selalu menghindar dari kelaliman dan kemusyrikan, senantiasa mengharapkan rumah di sorga, seperti Asiyah isteri Fr’aun (QS.66 at-Tahrim : 11). (b). Perempuan yang berupaya agar generasi mendatang yang di lahirkan dari kandungannya menjadi zurriyat yang memegang teguh amanah membela agama Allah, seperti isteri ‘Imran ibu dari Maryam (QS.3, Ali Imran : 35-36), dan (c). Perempuan yang selalu memelihara faraj, yakni Maryam sendiri (QS.66:12).

Semoga salam dan salawat kita sampai kepada beliau, Allahumma shalli ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa alihii wa ash-habihii ajma’in.

 

 

 

 

 

Auglýsingar

Færðu inn athugasemd

Skráðu umbeðnar upplýsingar að neðan eða smelltu á smámynd til að skrá þig inn:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Breyta )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Breyta )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Breyta )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Breyta )

Tengist við %s

%d bloggurum líkar þetta: