Færðu inn athugasemd

Energi Ruhanik

Pendidikan dan Kegiatan Remaja,

Hari Ini dan Prospeknya Di Masa Depan.

 

Oleh : H.Mas’oed Abidin

 

1.    Masalah besar umat hari ini memasuki era globalisasi terjadinya interaksi dan ekspansi kebudayaan secara meluas melalui media massa yang di tandai dengan semakin berkembangnya pengaruh budaya pengagungan materia secara berlebihan (materialistik), pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik), dan pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik).

Gejala ini merupakan penyimpangan jauh dari budaya luhur turun temurun serta merta telah memunculkan berbagai bentuk Kriminalitas, Sadisme, Krisis moral secara meluas.

2.    Dunia pendidikan akhir-akhir ini digoncangkan oleh fenomena kurang menggembirakan terlihat dari banyaknya terjadi tawuran pelajar, pergaulan a-susila dikalangan pelajar dan mahasiswa, kecabulan pornografi tak terbendung, sebahagian cendekiawan berminat tinggi terhadap kehidupan non-science asyik mencari kekuatan gaib belajar sihir, mencari jawaban dari paranormal menguasai kekuatan jin, bertapa ketempat angker menyelami black-magic dan mempercayai mistik. 

Diperparah oleh limbah budaya barat berbentuk sensate-culture yang selalu bertalian dengan hedonistik dengan orientasi hiburan selera rendah 3-S tourisme sun-sea-sex dan gaya hidup konsumeristis, rakus, boros, cinta mode, pergaulan bebas sex ittiba’ syahawat (runtutan hobi nafsu syahawat), individualistik kebebasan salah arah lepas dari kawalan agama dan adat luhur dengan tampilan permissivisness dan anarkis.

Sensate culture menurut Pitirim Sorokin; “…based upon the ultimate principle that true reality and value are sensory and that the beyond the reality and values wich we can see, hear, smell, touch and taste there is no other reality and no real values……….

Despite its lipservice to the values of the Kingdom of God, it cares mainly about sensory values of wealth, health, bodily confort, sensual pleasures and last for power and fame. It’s dominant ethic is invariably utilitarian and hedonistic….. Its politics and economics are also decisively utilitarian and hedonistic……..” (Sorokin, Pitirim, “The Basic Trends of Our Time”, New Haven, College & University Press, 194, p.17-18).

Budaya sensate memuja nilai rasa panca indera, menonjolkan keindahan sebatas yang di lihat (tonton), di dengar, dirasa, di sentuh, dicicipi, dengan tumpuan kepada sensual, erotik, seronok, kadang-kadang ganas, mengutamakan kesenangan badani (jasmani).

Orientasi mereka terfokus kepada hiburan melulu, terlepas dari kawalan agama, adat luhur, moral akhlak, ilmu dan filsafat, dan tercerabut dari budaya dan nilai-nilai normatif lainnya. Seni dibungkus selimut art for art’s sake, sesnsual, eksotik, erotik, horor, ganas, yang lazimnya melahirkan klub malam, night club, kasino dan panti pijat.

Budaya sensate ini dipertajam dampaknya dalam kehidupan remaja oleh budaya popular kekota (urban popular culture) yang hedonistik (mulai berkembang 1960), dan berkembang lagi US culture imperialisme (uncle Sam Culture) dan the globalization of lifestyle gaya hidup global, world wide sing sejak tah.1990 di pra kondisi globalisasi.

Prilaku sedemikian banyak melahirkan split personalities, pribadi yang terbelah “too much science too little faith”, lebih banyak ilmu dengan tipisnya kepercayaan keyakinan agama, berkembangnya paham nihilisme budaya senang lelang (culture contenment).

Remaja masa depan (era globalisasi) yang diminta lahir dengan budaya luhur (tamaddun) yang berpaksikan tauhidik, kreatif dan dinamik, memiliki utilitarian ilmu berasaskan epistemologi Islam yang jelas, tasawwur (world view) yang integratik dan ummatik sifatnya (bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan).

 

3. Langkah-langkah kedepan;

a.         pembinaan human capital melalui keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan,

b.         pembinaan generasi muda yang akan mewarisi pimpinan berkualiti, memiliki jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif.

c.          Mengasaskan agama dan akhlak mulia sebagai dasar pembinaan generasi muda.

d.         Langkah drastik mencetak ilmuan Muslim yang benar-benar beriman taqwa.

e.         Pembinaan minda wawasan generasi muda kedepan yang bersatu dengan akidah, budaya dan bahasa bangsa.

f.           Secara sungguh-sungguh mewujudkan masyarakat madani yang berteras kepada prinsip keadilan (equity) sosial yang terang.

 

4. Proses pembangunan SDM-SDU yang mesti ditempuh,

a.         Membangun tahap kesadaran tinggi (to create the high level awareness), kesadaran tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Langkahnya perlu dengan penggarapan secara sistemaatik dan [pendekatan proaktif mendorong terbangunnya proses  pengupayaan (the process of empowerment).

b.         Tahap perencanaan dengan rangka kerja yang terarah, terencana mewujudkan keseimbangan dan minat (motivasi) dan gita kepada iptek, keterampilan dan pemantapan siyasah.

Aspek pendidikan dan latihan adalah faktor utama dalam pengupayaan. Konsep-konsep visi, misi, selalu terbentur dalam pencapaian karena lemahnya metodologi dalam operasional pencapaiannya.

 

Perkembangan cyber space, internet, informasi elektronik dan digital, walaupun kenyataannya sering terlepas dari sistim nilai dan budaya sangat cepat terkesan oleh generasi muda yang cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen baru yang merangsang.

c.          Tahap aktualisasi secara sistematis (the level of actualization). Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus disamping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu pembentukan kualita pendidik (murabbi) yang sedari awal mendapatkan pembinaan. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik dan bukan utopis.

Kalangan remaja memang tengah dijangkiti kebiasaan bolos sekolah, minuman keras, kecanduan ectasy (XTC), budak kokain dan morfin, kesukaan judi dalam urban popular culture, musro, world-wide sing, dan sejenisnya.

Para remaja cenderung bergerak menjadi generasi buih terhempas dipantai menjadi dzurriyatan dhi’afan  suatu generasi yang bergerak menjadi “X-Gthe loses generation dan tidak berani ikut serta didalam perlombaan ombak gelombang samudera globalisasi.

Pada hakekatnya semua prilaku a-moral tersebut lahir karena lepas kendali dari nilai-nilai agama dan menyimpang jauh terbawa arus deras keluar dari alur budaya luhur bangsa. Kondisi seperti itu telah memberikan penilaian buruk terhadap dunia pendidikan pada umumnya.

Padahal semestinya diyakini bahwa remaja akan menjadi aktor utama dalam pentas kesejagatan (millenium ketiga), karena itu generasi muda (remaja) harus dibina dengan budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik yang relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi.

Budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya. Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan himpunan institusi masyarakat yang memiliki kapasitas berkemampuan dalam mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Perkembangan kedepan banyak ditentukan oleh peranan remaja sebagai generasi penerus dan pewaris dengan kepemilikan  ruang interaksi yang jelas menjadi agen sosialisasi guna menggerakkan kelanjutan  survival kehidupan kedepan.

Kecemasan atas penyimpangan prilaku kemunduran moral dan akhlak, kehilangan kendali para remaja, sepatutnya menjadi kerisauan semua pihak. Ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja.

Saya tidak senang menggeneralisasi kenakalan remaja terjerumus kedalam lembah dekadensi moral dan kenakalan remaja. Analisa realitas objektif menunjukkan bahwa tidak seluruhnya remaja rusak.

Dengan berpikiran positif tidak pula harus ditunggu setelah semua remaja terpuruk kedalam umpur a-moral barulah upaya perbaikannya dilaksanakan dengan intensif. Kenakalan remaja lebih banyak disebabkan rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan.

 

Kerusakan diperparah oleh hilangnya tokoh panutan, berkembangnya kejahatan orang tua, luputnya tanggung jawab institusi lingkungan masyarakat, impotensi dikalangan pemangku adat, hilangnya wibawa ulama, bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi lembaga bisnis, dan profesi guru dilecehkan.

 

5. Pergeseran budaya dengan mengabaikan nilai-nilai agama atau pengamatan nilai-nilai tidak komprehensif dan sistematik, melahirkan tatanan hidup masyarakat pengidap penyakit sosial kronis dengan kegemaran berkorupsi.

Aqidah umat memang sudah bertauhid namun akhlaknya tidak mencerminkan akhlak Islami, ekonominya bersistim Yahudi, muamalahnya tidak sesuai dengan muamalah yang diajarkan Islam, politiknya Machiavellis, budayanya hedonistik, materialistik dan sekularistik.

Mengatasi penyakit kronis umat perlu gerakan jihad, Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sungguh-sungguh. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. Ikutilah millah (agama) orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslimin dari dahulu (yakni sudah tertera didalam kitab-kitab suci yang telah diwahyukan sebelumnya), dan begitu juga di dalam Al Quran ini; supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu menjadi saksi atas sumua manusia. Maka dirikanlah shalat,  bayarkanlah zakat, dan berpegang teguhlah pada tali Allah (artinya tetaplah menjalankan perintah-perintah Allah). Dia adalah pelindungmu, maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong”. (QS.22, al-Hajj:78).

Menampilkan generasi dengan citra Islam sebagai gambaran QS.22, al-Hajj:41 yaitu, orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

Proses pembinaan umat dengan mengukuhkan kecintaan kepada negeri, memperkaya potensi percaya diri dan menjauhkan isolasi diri, dan memupuk kemandirian sesuai bimbingan agama, amar makruf nahi munkar.

Generasi kedepan wajib digiring menjadi taat hukum dimulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga dengan memperkokoh peran orang tua, ibu bapak ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif dalam menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur dan aqidah shahih kepada generasi pelanjut bertumpu kepada cita rasa patah tumbuh hilang berganti.

Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlaq akan melahirkan saintis tak bermoral agama, konsekwensinya ilmu banyak dengan sedikit kepedulian.

Menanamkan kesadaran tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah, penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam.

 

Memperkaya warisan budaya dengan setia mengikuti dan mempertahankan, istiqamah pada agama yang dianaut, teguh politik, kukuh ekonomi, melazimkan musyawarah dengan disiplin dan bijak memilih prioritas pada yang hak sebagai nilai puncak budaya Islam  yang benar. Sesuatu akan selalu indah selama benar.

 

6.                  Lembaga pendidikan sebagai mesin sosial bertujuan menggerakkan segala dimensi kehidupan kemanusian disegala sektor, sosial, ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan, teknologi, politik dan agama, Seluruh sektor mestinya berkembang saling terkait harmonis serasi dalam menghasilkan suatu bentuk masyarakat idaman (kahira ummatin) melalui penjelmaan nilai-nilai bukan pendangkalan.

Bila terjadi inequilibrium kelahirannya adalah krisis-krisis,

(a). krisis nilai, menyangkut etika individu dan sosial berubah drastik dalam sikap menilai baik buruk, yang padamulanya dalam pandangan luhur dilihat sebagai buruk dan dijauhi bergeser kencang kearah tidak acuh dan bahkan lebih parah mentolerir.

(b). krisis konsep pergeseran pandang (view) cara hidup ukuran nilai jadi kabur, sekolahan yang merupakan cerminan idealitas masyarakat tidak bisa bertahan.

(c). krisis kridebilitas dengan erosi kepercayaan terpampan di pergaulan orang tua, guru dan muballig pada mimbar-mimbar kehidupan  mengalami kegoncangan wibawa.

(d). krisis beban institusi pendidikan terlalu besar dengan tuntutan memikul tanggung jawab moral sosial kultural dikekang oleh sisitim dan aturan birokrasi berbelit membelenggu dinamika institusi pada akhirnya tidak mampu (impoten) memikul beban tanggung jawab.

(e). krisis relevansi program pendidikan yang mendukung kepentingan elitis non-populis, tidak demokratis, tidak berorientasi kearah kepentingan mempertahankan prestasi eksistensi kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat namun beralih kepada orientasi prestise keijazahan. (f). membesarnya kesenjangan miskin kaya sehingga kesempatan mendapatkan pendidikan tidak merata dan kemudian yang terjadi adalah kurangnya idealisme (citra remaja) tentang peran dimasa datang. Generasi yang mampu mencipta menjadi syarat utama keunggulan. 

Lembaga-lembaga (institusi) di tuntut adil, demokratis, persamaan dan usaha ilmiah sistematis yang mampu merumuskan epistemologi[1] dan aksiologi[2] dengan memberikan penekanan kepada

(i). Rumusan ulang kiblat (arah), acuan orientasi pengembangan pendidikan agama.

 

Fenomena dimasa Orde Baru pengembangan pendidikan terlihat arahnya ke barat, kebebasan, dan akibat terasa mengikis karakteristik asli pendidikan agama yaitu akhlak.

(ii). Revitalisasi pendidikan agama, diajarkan oleh seluruh komponen masyarakat, muatan pendididkan agama terlihat pada seluruh mata pelajaran memaparkan apa adanya dan membimbing kepada yang seharusnya berdasarkan paradigma tauhid membentuk suatu iklim pendidikan agama terasa pada seluruh lembaga sekolah, masyarakat, rumah tangga).

(iii).Kewajiban perguruan tinggi memikul beban moral intelektual sebagai bangsa berkomunitas muslim terbesar.

(iv).Buku dasar pegangan mesti memiliki kesamaan visi dan misi mengacu kepada platform yang sama. Akhlak agama semestinya dijadikan ruh pendidikan bangsa.

 

7.                  Tujuan pendidikan yang akan dikembangkan adalah pendidikan akhlak, budi pekerti. Akhlak merupakan jiwa pendidikan, inti ajaran agama dan buah dari keimanan.

Maka akhlak karimah (budi pekerti sempurna) adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah diri dalam menerima ilmu-ilmu lainnya.

Ilmu yang benar membimbing umat kearah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang shaleh (baik).

Pendidikan moral generasi berpaksikan tauhid, akhlak, penghormatan terhadap orang tua, mengenal kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan, adab percakapan ditengah pergaulan, keteguhan memilih dan mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar seperti tertera dalam QS.31, Lukman:13-17  merupakan ketahanan mental dan moral, iman dan ibadah, menjadi awal dari ketahanan bangsa.

Ketahanan umat bangsa terletak pada kekuatan ruhaniyah keyakinan agama dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan.

Bila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi (QS.7,al-A’raf:96).

Dipahami kekuatan hubungan ruhaniyah spiritual emosional dengan iman dan taqwa memberikan ketahanan bagi umat dan hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional.

Hakikatnya generasi yang menjaga destiny, individu yang berakhlak berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa yang dipadukan dengan kerja sama berdisiplin gigih serta memiliki vitalitas tinggi.

Membentuk generasi remaja yang berjiwa inovatif dengan motivasi yang bergantung kepada Allah akan tampil menjadi penyelesai masalah. Generasi yang patuh kepada Allah dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.

 

8.                  Umat yang akan dibentuk adalah umatan wasathan, sesuai Firman Allah Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil (wasit) dan pilihan, agar kamu menjadi saksi (patron) atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad SAW) menjadi saksi atas perbuatan kamu” (QS.2:143) yang mampu menjadi wasit yang berada pada posisi tengah, adil dan moderat.

Washatiyat (moderasi) mengundang umat Islam berinteraksi, berdialog dan terbuka dengan semua pihak (agama, aliran, budaya, peradaban) atas dasar syuhada’-a ‘ala an-naas, menjadi patron yang diteladani oleh seluruh umat manusia (QS.5:48) sehingga langsung bisa berperan dalam proses globalisasi.

 

9.                  Alaf Baru  (diawali abad keduapuluh satu) ditandai serba cepat, modern dengan persaingan kompetitif dan komunikasi serba efektif, dunia tak ada jarak seakan global village, akan banyak ditemui limbah budaya kebaratan westernisasi, harus diyakini bahwa kehadirannya tak bisa di cegah.

Umat mesti mengantisipasi dengan penyesuaian agar tidak menjadi kalah.

Memantapkan watak terbuka, integrasi moral yang kuat dengan perhatian besar terhadap masalah sosial umatisasi, responsif dan kritis terhadap perkembangan zaman, memacu penguasaan ilmu pengetahuan dengan pendalaman ajaran agama tafaqquh fid-diin berpijak pada nilai-nilai ajaran Islam yang universal, tafaqquh fin-naas kaya dimensi dalam pergaulan mencercahkan rahmatan lil ‘alamin menampilkan kecerahan bagi seluruh alam.

Model yang dikembangkan semestinya adalah pemurnian wawasan fikir,  kekuatan zikir, ketajaman visi, perubahan melalui ishlah dengan mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar benar kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi.  

Menguatkan solidaritas persaudaraan beralaskan pijakan iman dan adat istiadat luhur meng-interpretasi-kan “nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso” dalam upaya intensif menjauhi kehidupan materialistis sebagai di sebutkan dalam pantun “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

Memperkuat kesepahaman dalam memelihara hubungan-hubungan spiritual (aqidah, keyakinan agama) dan emosional (adat, tamaddun,  istiadat luhur) dibingkai ukhuwah kokoh akan menghasilkan energi ruhanik selama tidak dicabik-cabik pergeseran beralihnya kedamaian kepada benci. Firman Allah menyebutkan dalam Surat Al Hujurat, ”Wahai orang yang beriman, janganlah satu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang di olok-olok itu lebih baik dari mereka yang mengolok-olok dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olok wanita yang lainnya karena boleh jadi wanita yang di perolok-olokkan itu lebih baik dari wanita yang mengolok-olok dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah fasiq sesudah iman. Dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang yang zalim”.

Wahai orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (prejudice), sesungguhnya sebahagian purbasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan jangan pula sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lainnya. Sukakah salah seorang kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaubatlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.  (QS.49:11-12).

Upaya ini memerlukan keserasian pergaulan bijak memilih ungkapan baik, tepat dalam mengkounter idea informasi, yang teramat penting bersatunya hati dan hati, Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua kekayaan yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka (dengan iman dan taqwa). Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS.8:63) dengan keimanan dan taqwa.

 

10.              Keberagamaan seseorang atau kelompok masyarakat semestinya terus menerus meningkat dari formalitas verbalitas kearah substansi esensi yang menyingkap nilai-nilai untuk kemudian di transformasikan dalam kehidupan sosial dalam kerangka amar makruf nahi munkar.

Didalam  al-Quran surat .al Anfal:24 salah satu peran  dakwah adalah untuk menghidupkan umat secara sistematik.

Memberdayakan umat dalam melaksanakan tugas-tugas individu dan masyarakat ditujukan agar umat selalu berada pada garis aqidah, ibadah, akhlak, muamalah secara konsisten.

 

11.              Pudarnya energi ruhanik berupa lemahnya iman taqwa berakibat hilang kekuatan bangsa walaupun secara historik berpenduduk kuat aman tenteram dan kesejahteraan rezeki dari berbagai penjuru, hanya karena kufur nikmat akan dipasangkan kepada mereka libaas al-ju’I pakaian lapar dan al khauf ketakutan dan krisis keamanan  tersebab kelalaian yang disengaja (QS.16, an-Nahl:112). 

 

 

  

 

 

 


[1] Epistemology, bahagian dari ilmu filsafat yang berkenaan dengan asal usul, sifat dan batas-batas pengetahuan, atau teori tentang pengetahuan (lih.The CEID, Jakarta 1996, p.616).

[2] aksiologi, axiology, bahagian ilmu filsafat studi tentang sifat-sifat, jenis, kriteria dan status nilai-nilai manusia, studi ilmu mengenai layak dan pantas.(id.p.153).

Auglýsingar

Færðu inn athugasemd

Skráðu umbeðnar upplýsingar að neðan eða smelltu á smámynd til að skrá þig inn:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Breyta )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Breyta )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Breyta )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Breyta )

Tengist við %s

%d bloggurum líkar þetta: