Færðu inn athugasemd

Filosofi Minangkabau dalam upaya Memerangi Kemiskinan

filosofi MiNangKABAU DALAM UPAYA memerangi kemiskinan

 

Oleh : H Mas’oed Abidin

 

Sumatra Barat, dengan akar budaya Minangkabau, sangat basitungkin mengantisipasi kemiskinan. Letak tanah di Minangkabau – Sumatera Barat -sebenarnya kurang bersahabat. [1]

 

Masa doeloe seketika tanah-tanah itu belum diolah, hanya dijadikan tempat mencari kayu api. Paling tinggi tempat simpanan kayu pembuat rumah atau untuk mencari akar-rotan.

Persawahan dan perladangan anak nagari adalah hasil taruko ninik mamak. Sawah bajanjang bapamatang dan ladang babiteh babentalak. Dari mamak turun ke kemenakan. Letaknya di sekeliling Dusun Taratak. Bahkan, di keliling rumah tempat diam. Kemudian berkembang dusun menjadi nagari. Nagari masuk lurah.  Anak kemenakan ikut bertambah. Rumah kecil tak mampu menampung jumlah cucu dan cicit. Bangunan barupun ditegakkan.          

 Tanah persawahan menjadi satu-satunya pilihan untuk batagak rumah. Manaruko hutan menjadi sawah, tidak lagi merupakan kebiasaan masa kini. Yang lazim terjadi adalah menjual tanah pusaka.

 

Akhirnya bahaya kemelaratan datang mengancam. Berkurangnya  areal sawah menjadi lokasi perumahan. Di sini datangnya krisis bertalian sentra pertanian dan peternakan dikaitkan dengan sumber pendapatan.

Satu keluarga perantau Minangkabau pedagang konveksi di pasar Kuala Lumpur

masyarakat Minangkabau, tidak dapat dikatakan miskin dan belum pula bisa dikatakan berada.       Mereka tetap bisa hidup dan bertahan hidup, di areal yang makin terbatas. Ini dimungkinkan, karena adanya peran budaya Minangkabau.

Dari awal, budaya itu intensif mengantisipasi gejala kemiskinan. Antara lain,

          Karatau madang di ulu,

          ba buwah ba bungo balun,

          marantau-lah buyuang dahulu,

                di rumah paguno balun.[2]

Adanya kebiasaan merantau menjadikan pemuda-pemuda Minangkabau, mencari hidup di lahan lain. Modalnya keyakinan. Kemauan dan tulang delapan karat. Merantau menuntut ilmu untuk hidup.

Dinamika lahir di dukung segala kekurangan berbungkus kemiskinan. Modal nya sangat besar. Kemauan yang kuat ingin maju. Mengubah diri.

Di kampung, anak dara gadis Minangkabau, tidak pula dibiarkan hidup cengeng. Mereka diajar bertani, merenda, menjahit, menyulam. Dibekali berbagai kepandaian puteri lainnya.

Kepandaian-kepandaian semacam itu, kini mulai terasa langka.   Kalau kemiskinan, tidak dirasakan sebagai bahaya, hanya karena pandai batenggang. Sesuai bunyi pantun;

          Alah bakarih samporono,

          Bingkisan rajo majopaik,

          tuah basabab bakarano

                pandai batenggang di nan rumik.[3]

Falsafah budaya ini tidak pernah menumbuhkan masyarakat statis. Lahir dari filosofi hidup tersebut sikap jiwa digjaya. Satu iklim jiwa (mentalclimate) yang subur.

Apabila pandai menggunakannya dengan tepat, akan banyak membantu dalam usaha pembangunan sumber daya manusia di ranah ini. Egoistis jarang bersua dalam budaya Minangkabau.

Membiarkan orang lain melarat, dengan menyenangkan diri sendiri, sikap yang tak pernah diwariskan. Jika sekarang bertemu, itulah pengaruh dari luar. Tenggang manenggang dan raso jo pareso menjadi sikap hidup. Halusnya alur dan patut. Mengatasi masalah kemiskinan ditengah masyarakat Minangkabau, khusus mesti terarah kepada memakmurkan anak nagari secara lahiriyah (material). Agar  untaian pepatah menyibakkan arti kemakmuran itu dapat menjadi kenyataan.

          Manjilih di tapi aie

          Mardeso di paruik kanyang.[4]

 

Mewujudkan kemakmuran anak nagari dengan berencana dan berhemat. Perencanaan jangkauannya ke depan. Mengkaji potensi yang dipunyai. Penghematan dengan memahami situasi akan mendukung hasil dari program yang dikembangkan. Perhatian dalam makna ini, terungkap di dalam kalimat-kalimat;

          Ingek sabalun kanai

          Kulimek sabalun abih

          Ingek-ingek nan ka pai

          Agak-agak nan ka tingga.[5]

Melupakan dan mengabaikan nilai-nilai luhur budaya ini, akan berarti satu kerugian. Membangun kesejahteraan berarti mengantisipasi lahirnya kemiskinan. Bertitik tolak pada pembinaan unsur sumber daya manusia. Dimulai dengan cara sederhana. Dengan apa yang ada. Potensi alam yang terbatas. Menggerakkan potensi terpendam di dalam sumber daya manusia. Terutama di nagarinagari. Mengembalikan kepada benih-benih kekuatan yang ada di dalam dirinya masing-masing. Melalui usaha  terpadu (integrated), berketerusan dan menyeluruh (holistik). Dengan mempertajam daya observasi, dan meningkatkan daya pikir masyarakat nagari dimaksud.

Komplek Perkampungan Minangkabau  di Padangpanjang

Selanjutnya, mendinamisir daya gerak. Memperhalus daya rasa. Meningkatkan pengembangan daya cipta. Menumbuh bangkitkan daya kemauan anak nagari.

Supaya dapat dikembalikan kepercayaan kepada diri sendiri. Ditumbuhkan kemauan untuk melaksanakan sikap mandiri (self help). Sesuai bimbingan Allah:

لَهُ مُعقَّبتٌ من بَيْن يَديْه و من خَلْفِه، يَحْفظوْنه، من أمْر اللهِ إنَّ اللهَ يُغَيِّر مَا بقوْم حتَّى يغيِّروا مَا بِأنْفُسِهمْ و إِذَا أراد اللهُ بقومٍ سوْءا فلا مردَّ له، وما لهُم من دوْنه من والٍ.

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS.13, Ar Ra’d :11-12)

Tidak perlu segan menyatakan bahwa anak turunan Minangkabau seratus persen beragama Islam. Satu dua mungkin, sudah ada berpindah keyakinan. Sebabperputaran  musim dan pergantian nilai yang dianutnya. Jalan di alih orang lalu. Cupak ditukar orang penggalas. Anak kemenakan Minangkabau akan diperdagangkan oleh orang lain yang lebih kuat budayanya !!! Apabila turunan Minangkabau itu tidak kokoh mengenal budaya sendiri, maka satu natuur-wet (sunnatullah) akan berlaku seperti itu.

Dalam mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar menurut syarak. Anggang jo kekek bari makan/Tabang ka pantai ka duo nyo/Panjang jo singkek pa ulehkan/Makonyo sampai nan dicito. Adat hidup, tolong manolong. Adat mati, janguak manjanguak. Adat lai, bari mambari. Adat tidak, salang manyalang. Menghidupkan hidup tolong menolong. Basalang tenggang. Dalam kehidupan nyata berwujud perbuatan. Karajo baik ba imbauan, Karajo buruak ba hambauan. Saling membantu di dalam senang maupun susah. 

Dalam perkembangan zaman telah terjadi pergeseran nilai. Kebiasaan tradisi lama mengalami proses di lupakan. Diyakini, bahwa nilai-nilai budaya Minangkabau itu, tidak hilang dan tidak pula habis. Masyarakat Minangkabau mulai senang mengadopsi budaya lain tanpa seleksi. Ini jelas merugikan untuk generasi Minangkabau mendatang. 

Budaya merantau, membentuk silaturrahmi di dalam ikatan keluarga di perantauan. Sedari ikatan hubungan saparuik hingga se taratak, dusun nagari. Hingga lingkup wilayah yang luas, dari Sikiliang air Bangih, dari ombak nan badabua, sampai ka durian di takuak rajo. Artinya meliputi wilayah adat dan budaya Minangkabau. Pada mula sekedar ba suo suo. Mempererat hubungan kekeluargaan. Meningkat kepada memikirkan kampuang halaman. Berakhir dengan usaha membangun kampung halaman.

Belum ada data akurat. Berapa perbandingan jumlah orang Minangkabau di rantau itu. Apakah jumlahnya sama dengan jumlah yang menetap di kampung. Atau, barangkali berlipat kali dari penghuni ranah sendiri. Satu hal terbukti dan telah lama terjadi, bahwa orang kampung ikut menikmati hasil orang rantau.

Sirkulasi hidup kampung sering ditentukan dari rantau. Mulai pembinaan pribadi, keluarga, bangun rumah, tebus sawah, hingga membangun sarana umum milik nagari.

Rencana pembangunan nagari sering tidak terlaksana tanpa keikutsertaan dunsanak di rantau. Kenyataan ini membuktikan ada satu potensi budaya Minangkabau yang dapat dikembangkan. Apabila dapat dipadu dengan potensi yang ada di nagari.

Kekayaan orang rantau – termasuk pegawai negeri yang berkiprah di kota-kota –, mungkin tidak sebanding dengan modal yang tertanam di kampung (nagari). Rantau adalah lahan usaha.  Perantau Minangkabau umumnya bergerak dalam bidang usaha perniagaan. Sedikit sekali yang menggarap usaha pertanian.

Karena, kalau akan bertani juga, mungkin lebih baik mengolah lahan di kampung saja. Lapangan pegawai atau ambtenaar kata orang saisuak, sangat diminati orang Minangkabau. Walaupun saat ini, para perantau Minangkabau mulai berpaling kepada managemen perusahaan swasta.

Jeli mengkaji kesempatan. Arus mobilitas horizontal menuju rantau, tak mudah di hempang. Kerasnya hidup di rantau, suatu tantangan yang berat. Perlu modal. Sikap jiwa yang matang. Disamping kemauan keras ada tulang delapan karat. Dan bekal lain, falsafah budaya Minangkabau untuk pedoman mengarungi lautan kehidupan  di rantau.

Falsafah hidup itu, disimak dalam kehidupan keseharian tanah rantau. Panggiriak pisau si rauik, Patunggkek batang lintabung, Salodang ambiak ka nyiru. Setitiak jadikan lauik, Sakapa (sekepal) jadikan gunuang, Alam takambang jadi guru.[6]

Belajar kepada alam, mengambil pelajaran dari perjalanan hidup yang tengah diharungi. Seiring bidal pantun; Biduak dikayuah manantang ombak/Laia di kambang manantang angin/Nangkodoh ingek kamudi/padoman nan usah dilupokan.[7] 

Pedoman menempuh kehidupan dikiatkan dengan arif bertindak dan memilih.

             Hendak kayo, badikik-dikik             (hemat)

             Hendak tuah, batanua urai   (penyantun)

             Hendak mulia, tapek i janji             (amanah)

             Hendak luruih, rantangkan tali     (mematuhi peraturan)

             Hendak buliah, kuat mancari          (etos kerja yang tinggi)

             Hendak namo, tinggakan jaso        (berbudi daya)

             Hendak pandai, rajin belajar           (rajin dan berinovasi)

             Dek sakato mangkonyo ada            (rukun dan partisipatif)

             Dek sakutu mangkonyo maju          (memelihara mitra usaha)

             Dek ameh mangkonyo kameh          (perencanaan masa depan)

             Dek padi mangkonyo manjadi        (pelihara sumber  ekonomi)

Tidak mengherankan, bila tantangan berat di rantau mampu diatasi.

Salah satu Rumah Makan Minangkabau di Kuala Lumpur Malaysia,

tumbuh dari budaya merantau dan modalnya pandai memasak

Paling menarik, bahwa perantau sanggup mengolah pekerjaan apa saja asal halal. Tidak memilih pekerjaan, karena motivasi hidup tinggi.

Kondisi ini membuka peluang percepatan mobilitas vertical. Penghasilan meningkat.  Kekayaan nilai-nilai ini adalah modal besar. Memberi motivasi kuat, dalam upaya menghapuskan kemiskinan.

Sungguhpun kenyataan bahwa penghapusan itu tidak berbuah drastis.  Di atas segala itu,  karena keyakinan kepada Rahmat Allah. Ini buah utama pengajian di surau.

Cap Raja Pagarruyung, bertuliskan ;

Sultan

Tunggal Alam Bagagar Ibnu

Sulthan Kalifatullah

yang Mempunyai Tahta Kerajaan

dalam Negeri Pagaruyung  Daar

el Qarar Johan berdaulat

zillullah fil ‘alam.

 


[1] Prof. Emil Salim mengatakan, „Dari keseluruhan wilayah Sumatra Barat, hanya sekitar 14 persen saja yang kondisi tanahnya subur dan cocok untuk areal pertanian.“. Singgalang, Rabu, 7 Juli 1993, Musyawarah Pola Dasar Pembangunan Sumbar.

 

[2] Keratau madang di hulu. Berbuah berbunga belum. Merantau buyung dahulu. Di rumah berguna belum.

[3]   Sudah berkeris sempurna. Bingkisan raja Majapahit. Tuah bersebab  berkarena. Pandai bertenggang pada yang rumit. Artinya, hemat dan pandai melewati masa sulit akan menjadi anak nagari kembali kepada tuah kejayaannya.

[4]  Menjilih (berbersih-bersih) hanya mungkin di  tepi air. Merdeso (leluasa) hanya mungki di perut kenyang. Kaleluasaan dan kemerdekaan bertindak, berpikir oleh anak nagari akan hilang kalau perut mereka kosong. Anak nagari otomatis akan menjadi budak di tangan orang yang memberinya makan. Bagaimana jadinya kalau yang memegang pusat-pusat kekuatan ekonomi nagari itu adalah bangsa asing ??? Nagari Minangkabau akan tertindas kembali. Karena itu wujudkan segera peraturan yang jelas tentang aset nagari, terutama hak ulayat mereka. 

[5]  Ingat sebelum kena. Hemat sebelum habis. Ingat-ingat (hati-hati)  yang akan pergi. Agak-agak (perhitungkan) yang akan tinggal.Mencakup padanya warning, aba-aba, untuk menjaga diri, menjaga martabat keluarga, menjaga nama nagari, menjaga anak keturunan dan seluruh aset dan budaya Minangkabau).

[6]  Penggirik (pelobang) pisau siraut (yang tajam dan runcing). Bertongkat batang lintabung. Setetes jadikan laut. Sekepal jadikan gunung. Alam terkembang jadikan guru. Belajar kealam guru pertama manusia

[7]  Biduk di kayuh menantang ombak. Layar dikembang menantang angin. Nakhoda ingat (selalu memegang kendali) kemudi. Pedoman jangan pernah dilupakan.Maknanya ada pedoman adat dan syarak. Ada kemudi istiadat dan budaya. Ada kendali kokoh iman dan taqwa. Modal utama orang Minangkabau merantau. Jika di zaman ini modal itu di lupakan, mustahil generasi Minangkabau kedepan berhasil di rantau orang. Ilmu banyak dengan iman tipis akan melahirkan generasi lemah pendirian. Tidak tahan menghadapi  cobaan hidup.

Auglýsingar

Færðu inn athugasemd

Skráðu umbeðnar upplýsingar að neðan eða smelltu á smámynd til að skrá þig inn:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Breyta )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Breyta )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Breyta )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Breyta )

Tengist við %s

%d bloggurum líkar þetta: