Færðu inn athugasemd

Fir’aunisme (2), Angkuh, renungan kisah wahyu

FIR’AUNISME (2)

ANGKUH

 

Oleh : H.Mas’oed Abidin

 

            Musa AS, yang di pungut dari tepian sungai Nile serta dibesarkan dalam lingkungan istana oleh Fir’aun sebenarnya dipersiapkan untuk menyambung tampuk kekuasaan Mesir bila datang masanya Fir’aun harus menghadap Ra,  penguasa matahari, karena dia tidak memiliki seorangpun putra mahkota. Keinginan penguasa Fir’aun ini ternyata bertolak belakang dengan ketentuan Allah Yang Maha Kuasa, sehingga „wa makaru wa makara Allahu, wa Allahu kharul maakirina“, mereka berencana, Allah juga berencana, dan ketentuan Allah juga yang berlaku. Keadaan yang terjadi diluar jangkauan perkiraan banyak orang.

Tak seorangpun menyangka, bila suatu hari, Musa AS bisa menjadi duri dalam daging serta penumbang kekuasaan Fir’aun semasa hidupnya. Dengan berterus terang dan lemah lembut pada mulanya, Musa AS meminta kesediaan Fir’aun agar menanggalkan keangkuhan menuhankan diri sendiri, serta bersedia mengakui dan menerima Allah sebagai „penguasa tunggal“ di sejagat raya.  Fir’aun membantah dengan angkuh.

Musa AS meminta pula agar rakyat kebanyakan, pengikut setia Nabi Ibrahim AS yang berakidah tauhid, di lepas mengatur kehidupan keyakinan mereka yang benar. Fir’aun tetap menolak dengan angkuh, tidak ada yang boleh terjadi tanpa izinnya. Rakyat merasakan keberadaan mereka selama ini tidak lebih dari budak kehendak Fir’aun. Rakyat terpuruk  parah kekendali kekuasaan dibawah penindasan. Kekuasaan  pemerintahan otoriter absolut ditangan Fir’aun menjadi kan rakyat apatis. Tidak seorangpun mengira kekuasaan itu bisa  tumbang dan berakhir dengan tenggelamya Fir’aun berikut seluruh angkatannya yang setia kedasar laut merah (QS.al-A’raf, ayat136),

Keangkuhan pula yang mendorongnya memproklamirkan diri sebagai „Ana Rabbakumul-a’laa“, atau akulah penguasa tertinggi, sederjat dengan tuhan (QS.29, an-Nazi’aat, ayat 21-25).

Rakyat tidak mampu bangkit menentang kekuasaan sang maharaja. Pilar-pilar kekuasaan yang di bangun Fir’aun sudah tertancap sampai akar dasar  kehidupan rakyat, kokoh sekali. Pemusatan kekuasan ketangannya dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya memberdayakan seluruh potensi para petinggi aliran kepercayaan penganut paham nenekmoyang dengan memobilisir bantuan para dukun ahli sihir guna memperdayakan rakyat menjadi sangat takut. Panglima Haman turut menyumbangkan keangkuhan bertahun-tahun (QS.28:8). Rakyat juga yang menjadi korban keangkuhan balatentaranya.

Qarun, orang kaya yang awalnya adalah umat Musa, bersilantas-angan pula menindas bangsa sendiri. Keberhasilan Qarun mengeruk kekayaan alam telah menumpuk di gudang-gudang perbendaharaan sekeliling negeri. Anak kunci gudang Harta Qarun, jika dikumpul, tidak mampu lagi dipikul kecuali hanya oleh orang kuat pilihan. Tapi, kekayaan sebanyak itu tidak bermanfaat besar dalam membantu rakyat lemah yang tertindas kemelaratan.

Oleh rakyat kecil selalu di ingatkan, agar Qarun jangan bertindak melewati batas. Kekayaannya supaya difungsikan untuk membina kehidupan kedepan dalam masa yang panjang (akhirat) disamping untuk kemegahan duniawiyah secara produktif. Supaya kekayaan alam yang dikuasai Qarun itu bisa menyantuni rakyat miskin yang jumlahnya semakin bertambah setiap hari. Diingatkan juga agar harta kekayaannya dipergunakan  sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat secara ihsan, sebagaimana Allah telah menganugerahkan dengan berlimpah. Supaya harta itu tidak menjadi mesin spekulasi (berbuat fasad, merusak) di bumi sendiri. Namun, semua permintaan kaum lemah itu dengan angkuh  dijawab Qarun dengan dalih, bahwa seluruh kekayaannya adalah buah kepandaian semata. Qarun lupa bahwa, kaum terdahulu telah banyak yang hancur, walau kekuatan mereka lebih andal dan ampuh serta harta kekayaan mereka lebih banyak tersedia. Hukuman yang ditimpakan hanya karena dosa keangkuhan telah melewati batas (mujrimin). (lihat QS.al-Qashash, ayat 76-78)

Akhirnya, Qarun, Fir’aun, Haman, yang mendapatkan peringatan jelas melalui Rasulullah Musa AS, tetap dengan keangkuhan (arogansi) memerintah di permukaan bumi, sampai ditimpakan hukuman tidak hanya untuk dirinya tetaopi juga mengenai seluruh pengikut-setianya. Diantara hukuman yang ditimpakan ada yang berbentuk hujan batu, atau suara keras mengguntur, bahkan dibenam kedalam bumi atau ditenggelamkan kedasar laut. Hukuman didatangkan semata karena kezaliman (aniaya) yang telah dilakukan juga (QS.69,al-‘Ankabut, 39-40).***

 

Catatan ;

Diterbitkan di Padang, September 1998 dalam HU. Mimbar Minang.

           

 

Færðu inn athugasemd

Skráðu umbeðnar upplýsingar að neðan eða smelltu á smámynd til að skrá þig inn:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Breyta )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Breyta )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Breyta )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Breyta )

Tengist við %s

%d bloggers like this: