Færðu inn athugasemd

Ihwal Surau

ihwal surau

Oleh : H Mas’oed Abidin

surau  amat sesuai menjadi pusat pembinaan umat. Surau adalah satu anak tangga dari jenjang bermasyarakat di nagari yang teguh melaksanakan prinsip musyawarah (demokrasi).

Surau adalah pondasi dasar dan utama dalam menerapkan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Dukungan masyarakat adat dan kesepakatan tungku tigo sajarangan, bundo kanduang dan rang mudo, menjadi penggerak utama mewujudkan tatanan sistim di nagari. Konsepnya tumbuh dari akar nagari sendiri.

Masyarakat  Minangkabau yang beradat-beragama selalu  ingat kepada  hidup sebelum mati dan hidup sesudah  mati.

Surau masa dulu di tengan perkampungan Minangkabau.

Masjid Padang Luar Banuhampu, Pada masa dahulu masih memakai atap ijuk, dan  zaman sekarang sudah dilakukan berapa kali perubahan. Renovasi pembangunan  disesuai kan dengan permintaan zaman.

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَ مِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُوْنَهُ مِنْ أَمْرِاللهِ إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَ إِذَا أَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ سَوَءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُوْنِهِ مِنْ وَالٍ.

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.  (QS.Ar-Ra’du : 11)

Peran dakwah di Ranah Minangkabau sekarang ini adalah menyadarkan umat dalam membentuk diri mereka sendiri. Kenyataan sosial terhadap anak nagari diawali dengan mengakui keberadaan puncak-puncak kebudayaan mereka, dan mendorong kepada satu bentuk kehidupan bertanggung jawab. Inilah tuntutan Dakwah Ila-Allah.

Seruan atau ajakan kepada Islam yang diberikan Khaliq untuk manusia, yang sangat sesuai dengan fithrah manusia itu. Islam adalah agama Risalah, dan penyiarannya dilanjutkan oleh dakwah.

Di Ranah Minangkabau tempat nya adalah surau atau masjid. Keberhasilan suatu upaya dakwah (gerak dakwah) memerlukan pengorganisasian (nidzam). Perangkat organisasi surau, selain orang-orang, adalah juga peralatan dakwah dan penguasaan kondisi umat, tingkat sosialnya dan budaya yang melekat pada tata pergaulan mereka yang dapat dibaca dalam peta dakwah.

Bimbingan syarak mengatakan  al haqqu bi-laa nizham  yaghlibuhu al baathil bin-nizam. Artinya, tanpa mengindahkan pengaturan (organisasi) selalu akan kalah oleh kebatilan yang terorganisir. Pekerjaan mengajak manusia akan berhasil dengan ilmu, hikmah, akhlak dan menyeru kejalan Allah, dengan petunjuk yang lurus. Maka, da’iya (Imam khatib di Nagari) adalah pewaris tugas Nabi Muhammad Rasulullah S.A.W.

وما أرْسَلْنَاك إلاَّ كافةً للناس بشيرًا و نذيرًا ولَكنَّ أكْثرَ النَّاسِ لا يعْلَموْن

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. Saba’, 34 : 28).

Menghidupkan surau (masjid) dalam masa ini adalah menetapkan visi untuk menentukan program pembinaan di tengah anak nagari yang akan mendukung percepatan pembangunan nagari itu. Koordinasi akan mempertajam faktor pendukungnya.

يأيُّها النبيُّ إنا أرْسلْناكَ شاهدًا و مُبشّرًا و نذيْرًا. و داعيًا إلى اللهِ بإذْنِهِ و سرَاجًا منيْرًا. و بَشِّرِ الْمُؤمنِيْنَ بأنَّ لَهمْ مِن اللهِ فضْلاً كبيرًا

Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mu’min bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah. (QS.Al-Ahzab, 33 : 45-47).

Anak-anak dan amak-amak mengaji ke surau

Seruan untuk menyembah Allah, kepada seluruh manusia. Tidak boleh musyrik. Meminta hanya kepadaNya dan mempersiapkan diri kembali kepadaNya.

Kaedah syarak  akan mendorong keberhasilan dakwah menghidupkan adagium adat basandi syarak syara; basandi Kitabullah. Aktualisasi Kitabullah (nilai-nilai Alqurani) hanya dapat dilihat melalui gerakan amal nyata yang terus menerus terkait dengan seluruh segi kehidupan anak nagari, seperti kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (dakwah), merapatkan potensi barisan (shaff) mengerjakan amal-amal Islami secara jamaah.

ولا يصدُّنَّك عنْ آياتِ اللهِ بعدَ إذْ أُنْزِلتْ إليْكَ وادْعُ إلى ربِّكَ ولا تكوْننَّ من المُشرِكيْنَ. ولا تدْعُ مع اللهِ إلها آخرَ لا إله إلاَّ هو كُلُّ شيءٍ هالكٌ إلاَّ وجهَهُ له الحُكْمُ و إليهِ تُرجَعُون.

Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. BagiNyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS.Al Qashash, 28 : 87)

Tugas ini menjadi tugas para Rasul. Umat sekarang menjadi penerus dakwah sepanjang masa. Terlaksananya tugas-tugas dakwah dengan baik akan menjadikan umat Islam mampu menjawab harapan masyarakat dunia.[1]

Maka perlu setiap Da’iyaImam, Khatib, Urang Siak, Tuanku, alim ulama suluah bendang di nagarinagari  meneladani pribadi Muhammad SAW

لَقَدْ كانَ لكُمْ فِي رَسُوْل اللهِ أُسْوةٌ حسنةٌ لِمنْ كان يَرْجوا اللهَ و اليومَ الآخرَ وذكرَ الله كثِيْرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab, 33 : 21)

Contoh di dalam membentuk effectif leader menuju kepada inti dan isi Agama Islam (tauhid).  قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ   Katakanlah bahwa berimanlah dengan Allah dan  istiqamah, tetap pendirian.  و خَالِقِ النَّاسَ بِخُلْقٍ حَسَنٍ  Diciptakan manusia dengan perangai yang baik (terpuji).

Umat kini akan menjadi baik dan  berjaya, bila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu di kembalikan.                                                                      

إلَهِي أنْتَ مَقْصُودِي ورِضَاكَ مَطْلُوبِ

Tuhanku, Engkau semata tujuan hidupku. Dan keredhaan-Mu semata pula yang aku tuntut.

Kita mestinya bertindak atas dasar syarak ini. Mencari redha Allah, dan mengajak orang lain untuk menganutnya.

Allah menghendaki kelestarian Agama dengan mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak berlaku bersitegang. Usaha ini akan menjadi gerakan antisipatif terhadap arus globalisasi negatif abad sekarang. Mengembangkan surau berorientasi kepada mutu. Sehingga pembinaan surau berkembang menjadi center of exellence, yang menghasilkan generasi berparadigma ilmu komprehensif.

Terintegrasinya pengetahuan agama, budi akhlaq dan keterampilan (memasak, menjahit, mengaji, bersilat) yang mendorong anak surau sanggup hidup mandiri.

Peran surau menghidupkan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah menjadi tugas setiap insan anak nagari  yang telah terikat dalam „umat dakwah“ menurut Kitabullah – yakni nilai-nilai Alqurani  di bawah konsep mencari ridha Allah.

ولتَكُن مِّنْكم أمةٌ يدْعوْنَ إلى الخيْرِ و يأْمروْنَ بِالمعْرُوفِ و ينهوْن عنِ المنْكر و أولئِك همُ المفْلحُون.

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.(QS. Ali Imran, 3 : 104 )       

Peningkatan kualitas pembinaan umat melalui surau dapat dicapai. Organisasi suaru lebih menjadi viable — dapat hidup terus, berjalan tahan banting, bergairah, aktif dan giat – menurut permintaan zaman, dan durable – yakni dapat tahan lama – seiring perubahan dan tantangan zaman. Peran serta masyarakat adalah  menerapkan manajemen mengelola surau lebih accountable dari segi keuangan maupun organisasi.

Kitabullah  mendeskripsikan agama Islam adalah sempurna, utuh dan di ridhai. 

Melalui peningkatan ini, sumber finansial masyarakat dapat di pertanggung jawabkan secara lebih efisien. Setiap Muslim, dengan nilai-nilai Kitabullah wajib mengemban missi  mulia yaitu merombak kekeliruan ke arah kebenaran secara hakiki di dalam „perjalanan kepada kemajuan (al madaniyah)“.

Gerakan Kembali Ke Suaru perlu di sosialisasikan bersama-sama

 



[1] Diperlukan watak-watak, yang ditunjukkan oleh pendakwah pertama, Rasulullah SAW (Mohammad Natsir, Tausiyah 24 tahun Dewan Dakwah, Media Dakwah, Jakarta 1992, Dakwah kita adalah Dakwah Ila-Allah).

 

Færðu inn athugasemd

Skráðu umbeðnar upplýsingar að neðan eða smelltu á smámynd til að skrá þig inn:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Breyta )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Breyta )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Breyta )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Breyta )

Tengist við %s

%d bloggers like this: