Færðu inn athugasemd

Melarat dan Bodoh, Beban umat kini

Kemelaratan dan Kebodohan

oleh : H.Mas’oed Abidin

 

                Pelunturan kadar ummat Islam lebih banyak disebabkan berjangkitnya wabah „kemelaratan“ dan „kebodohan“, pada sebahagian besar ummat alternatif ini.

                Walaupun sebenarnya sinyal Al Quran menyebutkan bahwa posisi ummat itu berada pada papan atas, sesuai Firman Allah ; “Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnasi, ta’muruuna bil ma’rufi wa tanhauna ‘anil munkari, wa tu’minuuna billahi”, artinya sebenarnya kamu adalah umat terbaik yang di tampilkan di tengah kehidupan manusia, karena kamu senantiasa mengajak kepada yang ma’ruf dan menegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah. 

                Shibghah (identitas) sebagai „umat terbaik“ itu, tidak akan terwujud bila kadar ummat itu tersungkup oleh kemelaratan (baik secara fisik, materiil, dan keyakinan atau keimanan kepada Allah Yang Maha Esa). Kadar ummat itu pun akan luntur tersebab oleh kebodohan yang membelit seperti kebiasaan meniru apa yang ada pada orang lain tanpa memilih dan memilah bentuk yang akan ditiru itu (kerangka piki­ran, pandangan, dan polah tingkah), dalam fenomena kehid­upan aliran.

                Kemelaratan adalah musuh besar kemanusiaan, memelukan perlawanan gigih melenyapkannya, sesuai peringatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam „hampir saja kefakiran (kemelara­tan) itu yang membuka peluang untuk kufur (durhaka dan menolak kebenaran ajaran agama„.

                Kemelaratan adalah hasil sikap perbuatan manusia, seperti dalam memenuhi kebutuhan melalui kredit dan riba, dan hilangnya ukuran kepantasan dan kepatutan. Kemelaran juga terlahir karena hilangnya etos kerja, serta berjangkitnya perangai malas dan lalai (syaithaniyah). Kemelaratan, berkembang menjadi wabah di tengah ummat tatkala berdampingan dengan kebodohan.

                Kebodohan dalam membuat perhitungan‑perhitungan serta pernilaian, terhadap urgensi, efisiensi, dan kurang teliti dalam melakukan pengukuran antara bayang‑bayang dan badan, atau antara pasak dengan tiang.

                Pada hakekatnya riba (kredit lunak berbunga besar), atau pinjaman yang salah penerapannya akan berakibat „meningkatnya harga barang yang normal menjadi sangat tinggi“, atau berpengaruh besar terhadap neraca pembayaran antar bangsa, kemudian berakibat melejitnya laju inflasi, akibatnya akan dirasakan pada semua orang pada semua tingkah penghidupan.

                Benih malas dominan mewarnai bangsa yang melarat dan bodoh, tumbuh subur pada generasi yang tidak memiliki kemampuan mengatur diri sendiri (mandiri) yang pada giliorannya terpaku pada konsepsi orang yang lebih kuat, membuka peluang eksploitasi manusia di tengah‑tengah manusia yang merdeka. Generasi yang malas dan bodoh mustahil diharap­kan memimpin bangsanya karena tidak memiliki aset apa‑apa (bernilai kosong) untuk dipersandingkan pada arena dunia kompetisi, terutama pada abad dua puluh satu, akan berpeluang dikutak‑katik‑kan orang lain, lantaran terlahir bermentalkan itik yang bisa dihalau hanya dengan sebilah ranting.

                Inilah problema yang akan di hadapi di abad mendatang, di saat dunia akan digeluti oleh persaingan yang keras dan perlombaan yang tajam, pada era persaingan bebas.             Kebodohan serta segala keterbelakangan yang mendera umat Islam diberbagai belahan dunia saat ini sangat wajar dipulangkan kepada umat Islam. Dia harus benar‑benar menjadikan ajaran Allah sebagai sumber keberkatan kehidu­pannya. Sebaliknya, umat Islam itu maupun sebagai aparat pemerintahan maupun sebagai rakyat biasa, sangat wajar berusaha terus‑menerus menimba ilmu pengetahuan yang ada dalam kitab suci Alquran. Serta menjadikan Alquran benar‑benar sebagai pedoman hidup untuk mencapai kesejahteraan di dunia maupun di akhirat.

                Kajian menjadi sangat penting, bila kita sadari bahwa pelunturan kadar ummat Islam di negara ini, akan berakibat fatal bagi hilangnya kekuatan nasional, pada lebih dari 85 prosen penduduk negeri tercinta, Nusantara Indonesia, yang di awali dari hilangnya kesadaran berbangsa dan pudarnya semangat kebersamaan. Kalaulah umat Islam masih saja „mendua“, maksudnya tidak sepenuh hati menjadikan Alqur’an sebagai pedoman hidup, maka selama itu pulalah umat Islam akan ditimpa berbagai macam kegelisahan dengan berbagai bentuk penderitaan. Sebab, umat Islam yang menderita itu, tidak bisa dilepas­kan dari keingkarannya pada kebenaran ayat‑ayat Alqur’an. Oleh sebab itu, marilah kita benar‑benar menjadikan Alqur­’an sebagai pedoman hidup yang membawa kesejahteraan secara keseluruhan.

                Wallahu a’lamu bis-shawaab.

 

 

Færðu inn athugasemd

Skráðu umbeðnar upplýsingar að neðan eða smelltu á smámynd til að skrá þig inn:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Breyta )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Breyta )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Breyta )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Breyta )

Tengist við %s

%d bloggers like this: