Ein athugasemd

Zakat Fitrah, Membesarkan Asma Allah

 

Zakat  Fithrah

 

Oleh : H Mas’oed Abidin

 

Sasaran akhir puasa Ramadhan adalah la’allakum tasykurun, artinya supaya kamu bersyukur.[1] Tidak sempurna kehidupan bermasyarakat bila kegembiraan rasa syukur ini tidak di iringi dengan peduli kepada orang sekeliling, terutama kepada yang belum bernasib baik, fuqarak wal masakin.

            Pembuktiannya adalah dengan mengeluarkan zakat fithrah bagi meringankan beban derita kaum tak berpunya. Satu bimbingan Islam dalam merasakan suatu kegembiraan secara bersama (ijtima’i).

            Zakat Fithrah, kewajibannya fardhu’ain bagi setiap Muslim. Apabila dia telah memasuki bulan Ramadhan dan memasuki Idul Fithri. Tidak peduli, apakah dirinya sudah akil baligh ataupun belum, berbadan besar ataupun kecil, berkeadaan sanggup ataupun tidak. Sebab seyoyanya dihari itu tidak ada yang mengatakan tidak sanggup.

            Dibayarkan sebelum salat Idul Fithri. Bila dibayarkan sesudah Idul Fithri, nilainya sama seperti sedekah biasa. Boleh dibayarkan sejak awal Ramadhan.

            Sebaiknya dengan makanan yang kita makan. Boleh dihitung dengan nilai uang sebesar harga makanan yang dikeluarkan (3 sha’, atau 5,5 kg = sepuluh tekong beras).

            Dibayarkan kepada fuqarak wal masakin. Tidak terbatas jumlah boleh menerima.  Sesuai bimbingan Rasulullah SAW, aghnuhum ‘anis-suaal fii hadzal yauma, artinya kayakanlah mereka (orang-orang tak berpunya) itu dari masalah minta-meminta pada hari lebaran ini.

            Bila tidak dibayar, puasanya tergantung antara bumi dan langit (al Hadist).

Hakikatnya, “zakat fithrah menjadi pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang tercela dan dari dosa, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin(HR.Abu Daud).

            Perintah agama sangat tegas. Kayakan mereka orang fakir miskin yang tidak sanggup itu, pada hari lebaran idul fithri ini. Bebaskan mereka dari bertawaf, berkeliling meminta-minta dihari besar yang mulai ini. Demikian inti ajaran Islam. Maksudnya supaya satu sama lain saling ringan meringankan. Berat sepikul ringan sejinjing.

            Dihari lebaran terbuka pintu pendapatan insidentil dari setiap orang fuqarak dan masakin. Jangan mereka dihina dan dihardik. Semestinya setiap orang yang berpunya merasa malu dihadapan Allah, bila dikelilingnya berserak orang-orang miskin. Secara alamiah kondisi menjamurnya kemiskinan adalah penggambaran nyata dari kondisi kekayaan orang berada yang  tidak banyak bermanfaat dalam mengurangi jumlah orang miskin dikelilingnya.

Setiap diri yang berpunya, semestinya sanggup menyalahkan diri sendiri apabila banyak orang miskin disekililingnya.

Mungkin sekali sebahagiannya disebabkan karena yang kaya kurang peduli, dan enggan berzakat secara terarah. Atau karena haknya dirampas dengan prilaku tak terpuji, seperti korupsi, manipulasi, dan sebagainya.

            Pada sehari lebaran Idul Fithri diperintahkan mengeluarkan zakat fithrah untuk tu’matan lil masakin, atau memberi makan orang miskin. Selanjutnya, orang miskin yang dikayakan dihari itu mampu membantu diri dan keluarganya, mampu pula melaksanakan ajaran agamanya secara teguh dan bertanggung jawab.

            Zakat fithrah tidak dimaksudkan penumpukan modal oleh lembaga keuangan tetapi bias menjadi sumber modal langsung bagi simiskin yang telah menerimanya tanpa ikatan suatu akad perjanjian. Maka yang diperlukan adalah kesadaran tinggi fuqarak wal masakin itu, agar disamping keperluan konsumptif lebaran, maka dapat dijadikan modal milik sendiri yang akan dikembangkan sebagai penupang peningkatan ekonomi keluarga.

            Dengan kekayaan yang diterima oleh fakir dan miskin, mereka bisa berbelanja. Bisa membeli makanan dan minuman. Bisa membesarkan hari besar jamuan Allah. Mereka bisa pula membayarkan zakat fithrahnya sendiri. Dan pada hari ini semestinya secara ideal, tidak ada lagi orang fakir dan miskin, walaupun hanya dalam bilangan sehari.

            Pada hari lebaran itu, tidak ada lagi orang yang menganggap bahwa dirinya berada diatas, dan orang lain yang tidak berpunya (fuqarak wal masakin) menjadi orang dibawah, atau golongan have not any, dan tidak diperhitungkan.

            Bila pada masa-masa yang panjang, yang bisa berzakat hanya si kaya, tetapi di hari Idul Fithri, yang miskin dan faqir juga ikut berzakat, dari pendapatan zakat yang mereka terima. Ini suatu gambaran masyarakat yang memiliki kekuatan ampuh, atau khaira ummah itu. Mudah-mudahan.

 

Membantu  Ummat  Yang  Lemah

Perangai taqwa dan syukur merupakan satu hal yang tidak terpisah. Saling mengokohkan, ibarat aur dengan tebing.

Taqwa selalu subur dengan syukur.

Syukur akan senantiasa berbuah karena taqwa.

Nikmat yang sejati hanya ada pada diri yang selalu bertaqwa dan bersyukur itu. Nikmat seperti itu merupakan kebahagiaan hakiki, yang sanggup dirasakan sepanjang hari, dan menjadi dambaan Mukmin sejati.

Bagaimana mungkin kita akan dapat merasakan nikmatnya bahagia dan bahagianya nikmat anugerah Allah, pada hari seperti sekarang ini ??

Akankah kita dapat merasakan nikmatnya bahagia, bila disaat-saat kita semua bergembira ria, kalau disamping kita ada orang yang menangis tersedu-sedu? Sedu sedannya, seakan jeritan tanpa suara.

Padahal, mereka sedang menangis, memikirkan dan merasakan kehampaan hidup, karena tidak berpunya dan tidak punya apa-apa, kecuali  nyawa berbungkus kulit …?

Akan sirnalah semua kebahagiaan pada hari ini, jika masih ada di keliling kita orang yang dengan nasib dan takdir yang ada padanya, masih menengadahkan tangan mengharap sesuap nasi, untuk dimakan anak beranak, atau karena melihat anak-anak orang lain bergembira berpakaian baru…. Alangkah malangnya nasib badan.

Padahal sebenarnya. Mereka hanya tidak memiliki kesempatan, belum berkemampuan untuk menggantinya, walau agak sepotong. Karena tidak ada sumber pendapatan, hilangnya lowongan pekerjaan, tak ada pula yang mau berbelas kasih.

Membiarkan kondisi ini, dan menganggapnya suatu hal biasa, agaknya kita akan digolongkan kepada orang-orang yang disebut-sebut, Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?  Na’dzu billah .., Kita dianggap sebagai pendusta kebenaran agama, walau masih menyatakan diri pemeluk agama, tetapi sebenarnya sudah jauh tercampak dari ajaran agama.

Itulah orang yang menghardik anak yatim, yang menyia-nyiakan hak anak yatim. Yang tidak peduli dengan pembinaan generasi.

Yang melecehkan ratapan para dhu’afak.

Yang tidak membantu mengatasi problema kemiskinan. Akan tetapi naifnya, malah selalu berupaya mengintip-intip kesempatan …… mencari kaya dengan memiskinkan orang lain …berladang dipunggung orang  dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. [2]

 

Bahagia Dalam Memberi

Cobalah dibayangkan. Pada suasana lebaran seperti kita rasakan saat ini. Dipagi hari dikala Rasulullah SAW masih hidup, beliau keluar menuju tempat salat ibadah ‘Idul Fithri. Beliau lihat, seorang bocah termenung menyendiri. Dengan tatapan mata menerawang, dan disampingnya ada teman sebaya bergembira ria, berpakaian baru pembelian ayah. Ditangan temannya ada penganan enak buatan ibu.

Dari jauh si bocah hanya bisa melihat, sambil menikmatinya dengan bermenung. Alangkah indahnya kegembiraan teman sebaya. Ditemani gelak tawa penuh bahagia. Dilihat diri, jauh berbeda. Dikala itu terasa badan tersisih. Kemana ayah tempat meminta.  Kemana gerangan dicari ibu tempat mengadu.

Dalam situasi seperti itu, Rasulullah SAW lewat menghampiri. Meletakkan kedua telapak tangan Beliau dikepala si bocah.

 Sambil bertanya Rasul berkata, “Kenapa dikau wahai anak? Teman-temanmu gelak ketawa, dikau merana sedih menangis, gerangan apakah  yang menyulitkan ?

Andaikan ada pemimpin zaman sekarang, yang menolehkan pandang kepada silemah, yang tidak pernah mengenal rasa senang. Alangkah indahnya hidup ini ?.

Dengan nada tersendat, kerongkongan tersumbat, menahan perasaan kekanakan sibocah lugu menjawab, “Wahai Rasulullah, bagaimana diri tak akan sedih, melihat teman bergembira ria, pulang kerumah ada sanak saudara, lelah bermain ada ibu menghibur, duka dihati ada ayah yang menyahuti.

Sedang diriku wahai Nabi, terasa nian malangnya hidup ini, tiada ibu tempat mengadu, ayahpun sudahlah pergi, badan tinggal sebatang kara. Yatim piatu aku kini……..,”

Mendengar rintihan kalbu bocah yang bersih, yang mengharap belas kasih dengan tulus seketika, Rasulullah SAW berkata, “…maukah engkau wahai anak, jika rumah Rasulullah menjadi rumahmu, Ummul Mukminin menjadi ibumu …?”.

Andaikan ada masa kini, pintu rumah terbuka bagi silemah, lapangan kerja tersedia bagi dhu’afak, tentulah merata bahagia ditengah bangsa ini.

Jawaban spontan Nabi, menjadikan wajah si bocah berseri-seri, walau yang didengar barulah ajakan, tetapi harapan hidup sudah terbuka.

Diri tidak sendiri lagi.

Ada pelindung pengganti bunda. Walaupun ibu dan ayah sudah tiada. Serta merta Nabi memangku si bocah. Mencium kedua pipi sianak yang sudah lama …,  tidak pernah lagi dirasakannya.

Sirnalah air mata yang tadinya terurai lantaran sedih dan hampa. Berganti air mata gembira lantaran bahagia.

Demikianlah satu bukti sangat substansil dari sabda Nabi SAW disampaikan Beliau pada Kotbah Wada’ itu, “Aku dan orang-orang yang menanggung anak yatim, berada di sorga seperti ini (lalu beliau mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, seraya memberi jarak keduanya)” (HR.Bukhari, Abu Daud dan Tirmidzi, lihat Al-hadits As-Shahihah/Al-Bani:800).

Membangun Jembatan Rasa

Membangun mawaddah fil qurba, mestilah bersih dari kedurhakaan dan kemunafikan. Jembatan rasa akan kokoh kuat, bila di ikat oleh hati dan jiwa dalam kemasan kalimat tauhid.

Kesatuan hati dan hati menjadi sumber kekuatan yang ampuh dalam ukhuwah yang integrative.

Kita tidak dapat membayangkan betapa rusaknya masyarakat yang berlabel ukhuwah tetapi hati mereka tidak mau bertemu.

Mempertemukan hati dengan hati hanya mungkin dengan kekuatan tauhid. Keyakinan kepada Allah SWT.

Kekuatan kalimah tauhid, atau kalimatun thayyibah, dapat membentengi ummat dan mampu menjadi kekuatan dalam membina persaudaraan atas dasar ukhuwah imaniyah. Kalimah tauhid adalah seumpama pohon yang kokoh kuat dengan urat menghunjam bumi dan pucuk melembai awan.

Bentuk kerukunan ummat bertauhid digambarkan oleh Allah SWT..”Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (QS.14, Ibrahim : 24-25).

Disaat yang mulia, dihari jamuan Allah ini, kita besarkan Asma Allah, agar kita tidak menjadi golongan yang melupakan Allah, yang telah menganugerahi kita nikmatNya.

Supaya kita tidak terjerembab kedalam kehidupan  ummat yang lupa diri.”Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS.59, Al Hasyr :19).

Mudah-mudahan pada hari ini, kita semua dapat menciptakan suasana gembira dengan kesederhanaan, serta dapat pula menciptakan kebahagian disekitar lingkungan kita. 

‘Izzatun-nafs, Martabat Bangsa

Ikhlas memberi mampu mengubah sedih menjadi gembira, sanggup mengubah duka menjadi bahagia.

Nabi Muhammad SAW. menyebutkan, “Barang siapa yang menggabungkan (menanggung) anak yatim diantara kaum Muslimin, dalam makan dan minumnya, sampai mereka merasa cukup (kenyang) dari makan dan minum itu, maka ia (yang menanggung anak-anak yatim dan dhu’afak) itu pasti memperoleh sorga(HR.Abu Ya’la dan Ahmad, dalam Al Munthaqa min At Targhib (1517) dan Majma’ Az Zawa-id (8/16).   Hari ini berapa banyak jumlah anak yang bernasib serupa dikeliling kita. Mereka lemah miskin, karena telah dimiskinkan oleh suasana.

Diperlukan saling peduli (ta’awun), yang menjadi alas-dasar pembentukan masyarakat berkualitas, sebagai telah digambarkan dalam salah satu semboyan Nabi SAW “tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah”.

Meujudkan masyarakat bertangan diatas, dimulai dengan menanam keyakinan akan rahmat Allah sebagai masyarakat berpunya, yang memiliki ‘izzah (harga diri), tidak menggantung nasib kepada keinginan orang lain.          Harkat martabat bangsa amat ditentukan oleh kemandirian, self help bersikap kaya jiwa (ghinan-nafs) yang mampu berdiri dikaki sendiri. Bersedia membuka pintu hati mengulurkan tangan kepada orang lain dalam rangkaian mutual help  (man a’thaa wat-taqaa) dan selfless-help (wa shaddaqa bil husnaa).

Sikap budaya dalam adat di Ranah Minang, singkek uleh ma uleh, kok kurang tukuak manukuak. Senyatanya, inilah sebahagian modal dasar daerah kita dalam menghadapi UU Otoda No.22 dan 25/1999.

Satu pelajaran paling berharga, yang dapat kita ambil dari Sunnah Rasulullah SAWOrang yang paling disukai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling disukai Allah adalah yang menyenangkan sesama orang Muslim (artinya janganlah ditaburkan kemaksiatan yang mengundang lahirnya bencana). Kamu hilangkanlah susahnya. Kamu lunasilah hutangnya. Kamu usirlah laparnya.  Dan Aku, Muhammad SAW, lebih senang bersama saudaraku dalam satu keperluan yang diatasi secara bersama, daripada beri’tikaf dimasjidku ini, yakni Masjid Nabawi di Madinah, selama sebulan penuh”.

Pesan Nabi SAW juga menegaskan, “Sembahlah Allah Yang Maha Pengasih. Berilah makanan kepada orang yang lapar. Sebarkanlah salam kepada sesama manusia. Kalian akan masuk sorga dengan selamat” (HR. Tirmidzi (1856), Ahmad (6587, Al Musnad) dan Bukhari (981, Al Adab al-Mufrad)

Mari kita tumbuhkan kebahagiaan dalam memberi sebagai satu sikap jiwa (mental attitude) yang berguna mengubah dan memberi kecerahan dalam hidup.

 

Membesarkan

Asma Allah

Berbahagialah kiranya kita pada hari ini, dalam merayakan suatu kemenangan. Kemenangan dari satu perjuangan besar. Mengendalikan diri dan nafsu sebulan penuh di bulan Ramadhan. Kemenangan dalam merebut taqwa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”, (QS.2, Al Baqarah : 183)

Bersyukurlah kita kepada Allah Yang Maha Esa, yang mengaruniai kita sekalian dihari raya ini, suatu nikmat besar. Nikmat dapat melaksanakan perintah-perintah Nya. Kemudian dapat menikmati Idul Fithri.            

Kembali kepada fithrah yang paling manusiawi. Yang menjadi idaman setiap Mukmin.

Bergembiralah kita semua, pada hari ini. Tatkala kita mampu menghidangkan suasana gembira. Tidak semata-mata teruntuk bagi orang yang telah melaksanakan puasa Ramadhan. Tetapi juga dapat dinikmati oleh orang-orang disekitar kita. Amatlah wajar, kalau kemeriahan hari ini diisi dengan saling bermaafan. Saling berjabat tangan, mengharap redha Allah. Saling memaafkan diantara kita. Dari anak kepada orang tuanya, dari yang kecil kepada yang besar. Dari antara teman sejawat, sekantor dan rekan sebaya. Dari murid terhadap gurunya.

Dari pemimpin terhadap rakyatnya.  Secara timbal balik. Kepada setiap shaimin, yang baru meninggalkan Ramadhan beberapa jam yang lewat, kita ucapkan pula “minal ‘aidin wal faa izin, wa kullu ‘aamin wa antum bi khairin” …Berbahagialah siapa yang telah kembali dari perjuangan besar, jihadun-nafsi.

            Semoga kemenangan itu selalu membawa kepada keadaan yang lebih baik dalam menanam kebaikan, ditahun-tahun mendatang.

Disamping kegembiraan itu, sepantasnya pula kita selalu mawas diri. Selalu berhati-hati terhadap kriteria yang disebut Rasulullah SAW, …berapa banyaknya orang yang berpuasa, tetapi tidak ada yang mereka peroleh, kecuali hanya lapar dan haus semata … Na’udzubillah. Mudah-mudahan kita terhindar dari apa yang telah di-gambarkan oleh Rasulullah SAW ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Do’a Penutup

Allahumma Yaa Rabbana, Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami semua ummat Mu yang memiliki sibghah, memiliki jati diri. Mememiliki keteguhan ‘izzah nafsi, tahu akan martabat diri.

Yaa Allah, Ya Rabbana,

Dengan hati yang bersih penuh harap, dengan kedua telapak tangan kami menengadah kepada MU, kami bermohon kepada MU ; Jangan Engkau jadikan kami menjadi ummat buih (ghutsa-an ka ghutsa-as-sail), yang dipermainkan serta diperebutkan oleh orang-orang yang tengah kelaparan, seakan memperebutkan sepiring makanan dihadapan mereka.

Wahai Allah, Yaa Lathief,

Hindarkan bangsa ini, bangsa Indonesia yang besar ini dari penyakit wahn, yakni penyakit hubbud-dunya, mencintai dunianya amat-sangat berlebihan sehingga mau menjual diri dan keyakinan mereka. Yaa ‘Aziiz, hindarkan bangsa ini dari penyakit karahiyatul-maut, penyakit enggan beramal dan berjihad dijalan MU.

Allahumma Yaa Ghaffar,

Kami menyadari sudah banyak nikmat MU kepada kami. Namun terkadang kami selalu lupa mensyukurinya. Kami sadar telah banyak kesalahan dan kezaliman kami lakukan, sadar ataupun tidak, tapi kami lalai memohon ampun. Yaa Rahmanu Yaa ‘Aziizu, ampunilah kami semua. Ampunilah kedua orang tua kami. Bimbing kami dan pemimpin bangsa kami selalu beribadah kepada MU,

Yaa Mujiibu,

Jadikan kami hamba-hamba MU yang selalu beribadah kepada MU, sesuai maksud Engkau menciptakan kami. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Allahumma, Yaa Rahiim, Yaa ‘Aziiz, Yaa Jabbar, Yaa badii’us-samawati wal ardhi, Hindarkan bangsa kami dari keruntuhan karena kelalaian orang-orang bodoh ditengah kami. Berikan kami kekuatan dan ketabahan dalam memikul setiap amanah menciptakan kebahagiaan duniawi dan ukhrawi secara tauhidik, integralistik. Hindarkan kami wahai Rahman, dari perpecahan dan poergaduhan yang akan menyebabkan hilangnya semerbak kami.

Yaa Malikul Quddus, as Salamul Mukminul Muhaimin, Jadikan kami semua hamba yang mencintai Alquran, dan mampu mengamalkan Alquran.

Dengan Alquran ini, Yaa Allah, Engkau telah keluarkan ummat manusia dari kegelapan jahiliyah kealam terang benderang dengan bimbingan hidayah Alquran,

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. (QS.14,Ibrahim:1).

Tiada yang lain tempat kami meminta, hanyalah Engkau semata. Tiada yang lain yang kami sembah, kecuali hanyalah Engkau saja.

 

 

 


[1] bacalah maksud dari firman Allah pada QS.2, al Baqarah: 185

[2] Lihatlah makna terkandung didalam Qs.107, al Maa’uun: 1-3.

Auglýsingar

One comment on “Zakat Fitrah, Membesarkan Asma Allah

  1. Bila tidak dibayar, puasanya tergantung antara bumi dan langit (al Hadist).

    Mohon diteliti kembali kedudukan hadits tersebut.

Færðu inn athugasemd

Skráðu umbeðnar upplýsingar að neðan eða smelltu á smámynd til að skrá þig inn:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Breyta )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Breyta )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Breyta )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Breyta )

Tengist við %s

%d bloggurum líkar þetta: