Færðu inn athugasemd

Bertenggang Rasa dalam Ramadhan, Latihan hidup yang amat baik

Bertenggang Rasa

Oleh : Buya H Mas’oed Abidin

Jika seluruh tuntunan agama diamalkan sesuai nilai‑nilai yang ada dalam Ramadhan, dapat dilaksanakan, tentulah Allah Subhanau Wa Ta’ala akan menjadikan ibadah Ramadhan ini menjadi suatu sarana bagi pendidikan masyarakat se-umumnya.

Jika nilai‑nilai Ramadhan ini teramalkan dengan baik, sudah barang tentu, selesai Ramadhan ini, masyarakat kita telah terlatih memiliki cara‑cara hidup yang baik. Telah terlatih menahan diri. Telah terlatih pula untuk hidup sederhana. Telah dapat pula berperangai „tenggang rasa“ terhadap sesama manusia. Bisa bersikap saling hormat‑ menghormati. Dan yang paling utama adalah, akan lahir masyarakat yang bisa saling tolong menolong.

Sikap‑sikap terpuji, seperti kita sebutkan tadi, adalah hasil dari latihan selama Ramadhan. Sikap laku perangai (mental attitude) sedemikian, teranglah sudah merupakan sikap jiwa yang diperlukan di dalam pembangunan bangsa dan negara. Di sinilah kita mendapatkan bahwa nilai ibadah shaum Ramadhan memiliki nilai ibadah yang tinggi. Baik untuk pribadi‑pribadi maupun secara ijtima’i (kemasyrakatan). Dalam kaitannya dengan keagungan yang terkandung di dalam Ramadhan ini.


Beberapa keutamaan bulan Ramadhan, antara lain disebut sebagai syahru‑syabri, yakni bulan melatih kesabaran. Semua manusia mengetahui, bahwa sabar itu adalah sikap yang utama. Seseorang panglima di medan perang, hanya berhasil karena kesabaran yang dimilikinya. Seorang guru yang tengah mendidik, akan berhasil karena memiliki kesabaran. Seorang pencari berita, fakta dan data, akan Terkumpul karena adanya kesabaran. Pedagang di tengah pasar memerlukan kesabaran. Dokter yang sedang menghadapi pasien di meja operasi, akan berhasil lantaran memiliki kesabaran.


Kesabaran tiada sekolahnya. Tidak ada juga apotik penjual „pel tablet sabar“itu. Kesabaran hanya bisa diperdapat dan ditumbuhkan melalui latihan latihan. Latihan yang paling utama ialah menahan diri. Agama menyebutkan sebagai imsak.


Puasa Membentuk Manusia Sukses. Firman Allah, „Sesungguhnya kami telah manjadikan apa yang ada dibumi sebagai perhiasan baginya (pakaian/olahraga/alat bagi manusia), agar kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS. Al‑Kahfi, 18 : 7). Di dalam pernyataan ini terselip tentang sarana untuk keberhasilan manusia dibumi. Keberhasilan, hanya diperuntukkan bagi orang‑ orang yang disebut ayyuhum ahsanu ‘amalan, sesiapa yang terbaik amalan, usaha atau fikrah mereka. Begitulah garis dari Yang Maha Pencipta manusia.

Pendidikan Ramadhan diarahkan kepada insan‑ insan Mukmin. Dilakukan sangat intensif. Mencakup segi‑ segi ruhiyat (kejiwaan) dan jismiyat (fisik), sehingga terbentuk insan kamil. Yang mampu melahirkan dari geraknya sebagai jawaban nyata. ayyuhum ahsam ‘amalan, siapakah yang terbaik amalan mereka.


Untuk menciptakan ahsam amalan (amalan terbaik) itu, manusia memerlukan beberapa sikap positif. Antara lain berbentuk ketahanan lahir dan bathin. Selain itu juga ketabahan jiwa, keteguhan pendirian serta keandalan keyakinan.

Ketelatenan dalam berusaha, atau yang disebut istiqomah (consistence), merupakan hasil dari kejernihan berfikir (positif thinking) dan kedisiplinan dalam penggunaan waktu serta pemakaian benda dan tenaga yang tepat. Secara implisit kesemua sikap positif tadi diperdapat sebagai hasil nyata dari ibadah shaum Ramadhan.

Shaum (puasa) Ramadhan yang dilakukan tidak hanya sebagai ceremonial ritual (kebiasaan yang mengarah kepada tradisi), berpeluang besar untuk membentuk watak manusia yang berpuasa. Watak yang dilahirkan oleh tindakan puasa yang benar adalah „memperisai diri“ dari segala sikap yang tidak baik. Ashshiyaamu jumatun, (puasa itu adalah benteng), yang akan melindungi diri dari sikap‑sikap tercela. Begitu gambaran yang akan disampaikan oleh Rasulullah.


Maka, shaum yang benar pasti membentuk manusia‑ manusia sukses, berhasil dan utuh. Sesuai sabda Rasululllah,“Sesiapa yang tidak meninggalkan kesia‑siaan (laghwi) dan kecabulan (rafats), maka tidak bermakna puasa baginya“ (Al Hadist).

Jelaslah sudah, mereka yang melaksanakan shaum sesuai dengan bimbingan Rasul (mengikuti sunnah dengan benar), tentulah tidak akan melakukan hal yang sia‑sia (percuma/waste). Selain itu, tentu tidak akan melakukan kecabulan (dalam arti seluasnya). Apakah kecabulan dalam arti pelecehan sexual, atau dalam arti perbantahan, perkelahian, kerusakan, kata‑kata kotor, pemboroson, dan semacam itu. Yang lahir adalah sikap sikap terpuji, saling menghormati, saling membantu, saling merasakan beban sesama, rasa kebersamaan yang dalam, kepedulian sosial yang tinggi.


Kesemuanya merupakan modal utama manusia mencapai sukses dan berhasil dalam hidup.


Wallahu a’lamu bis-shawaab.

Færðu inn athugasemd

Skráðu umbeðnar upplýsingar að neðan eða smelltu á smámynd til að skrá þig inn:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Breyta )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Breyta )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Breyta )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Breyta )

Tengist við %s

%d bloggers like this: