Ein athugasemd

Puasa Menciptakan Ketenteraman

PUASA MENCIPTAKAN KETENTERAMAN

Oleh Buya H Mas’oed Abidin

Ketika bulan Ramadhan datang menjelang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam menyambutnya dengan wajah berseri. Bahkan sejak bulan Rajab, beliau telah berdoa, “wahai Allah berkatilah kami dalam Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke dalam Ramadhan”. Hal tersebut semata karena kemuliaan bulan itu.

Ramadhan adalah bulan shiyam (puasa), selai dari pada Ramadhan adalah bulan ditunkannya Alquran. Ramadhan juga disebut bulan maghfirah (keampunan). Maka, dengan kehadiran bulan ini, sesungguhnya dapat dipahami sebagai momentum pen­gembalian manusia kepada fithrah atau jatidirinya Ibadah‑ibadah yang ada selama Ramadhan ‑‑ terutama shiyam dan qiyam el lail akan berujung dengan memperoleh keampunan dari Allah SWT.

Keampunan yang diterima dari Allah, tentulah akan membawa kepada kesucian diri, dan hasilnya kejernihan berfikir, dan kebersihan ber­tindak. Dengan itu terbentuk peribadi yang bertanggungjawab, mempunyai disiplin hidup yang tinggi, serta berakhlaq mulia.

Momentum keampunan dari Allah SWT ini, akan berbuah kepada kehidupan yang tenteram dan seimbang (stabil) baik secara peribadi, lingkungan, regional dan bahkan nasional. Hidup yang seimbang antara fisik jasmaniah dengan mental ruhaniah akan memberikan keceriaan bagi masyarakat di dalam mengharungi kehidupan duniawi, sehingga dapat menghasilkan „hari esok yang lebih baik dari hari ini“.

Dorongan batiniah berupa himmah atau keinginan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik ini, menjadi satu prinsip yang perlu di dalam proses pembangunan berbangsa di daerah atau di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.

Selain itu, bulan Ramadhan memberikan nilai tambah ibadah, karena bulan ini disebut sebagai bulan berlapang‑lapang (syahrul muwassah). Tidak satupun gerakan, tindakan, dan fikiran, dari orang-orang yang sedang berpuasa, yang terlepas dari ikatan ibadah (taqarrub ilal­lah). Pada hakekatnya, ibadah adalah kepatuhan dan kesetiaan kepada Allah Yang Maha Kuasa, yang mempunyai nilai pembentangan (junnatun) terhadap orang yang berpuasa itu.

Shaum Ramadhan itu dapat menghambat timbulnya perbantahan dan perselisihan antar peribadi, maupun kelompok, sesuai pesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam, “ bila di antara kalian terjadi perselisi­han, perbantahan, atau perkelahian, tolaklah dengan mengatakan „inii-shaim„, artinya aku sedang berpuasa„.

Tidaklah pantas apabila di saat-saat berpuasa, sebagai taqarrub ilaa Allah (mendekatkan diri kepada Allah) ini diisi dengan perselisihan atau perbantahan sesama kita. Semestinya, di dalam melaksanakan puasa Ramadhan ini, yang lahir dari setiap diri orang yang berpuasa, hanya kerukunan dalam arti yang dalam dan penuh makna.

Maka ibadah puasa menciptakan keselamatan, dan tentu saja muaranya adalah keamanan dan ketentraman, sebagai modal yang tidak kecil artinya dalam proses pembangunan bangsa dan daerah kita Sumatera Barat. Selamat menunaikan ibadah puasa.

Auglýsingar

One comment on “Puasa Menciptakan Ketenteraman

  1. selamat menunaikan ibadah puasa.

Færðu inn athugasemd

Skráðu umbeðnar upplýsingar að neðan eða smelltu á smámynd til að skrá þig inn:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Breyta )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Breyta )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Breyta )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Breyta )

Tengist við %s

%d bloggurum líkar þetta: