Færðu inn athugasemd

Ramadhan Bulan Mustajab

MUSTAJAB

Oleh Buya H Mas’oed Abidin


Ramadhan datang setiap tahun membawa berkat dan rahmat untuk umat manusia (terutama muslim-mukmin), sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ; “Ramadhan awwalu-hu rahmah, awsathu-hu maghfirah, akhiru-hu ‘itqun minan-naar,”(Al Hadist).

Sehubungan dengan keutamaan Ramadhan ini disampaikan Nabi Muhammad SAW dalam satu khutbah yang panjang pada akhir bulan Sya’ban di saat perintah puasa (shaum) di wajibkan Allah untuk orang-orang yang beriman (mukmin).

Di antaranya Rasulullah SAW bersabda, “.. bahwa sesungguhnya saudara-saudara sekalian kini dinaungi oleh suatu bulan yang besar, bulan yang agung, bulan penuh keberkatan, bulan yang di dalamnya di lipat-gandakan amal ibadah serta rezki untuk orang yang beriman, bulan kelapangan dan bulan keampunan….,siapapun di bulan itu mengerjakan suatu kewajiban karena Allah niscaya dia akan mendapatkan pahala seperti tujuhpuluh kali kebajikan yang diwajibkan pada bulan yang lain, dan siapapun yang mengamalkan suatu amalan sunat karena Allah di bulan Ramadhan akan samalah nilainya dengan amalan wajib di bulan lainnya…, karena itu difardhukan kepadamu untuk berpuasa di siang harinya, dan menghidupkan malamnya (qiyamul-lail)….,Ramadhan itu awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka…”,(Hadist Shahih).

Khutbah Nabi SAW yang lengkap ini, sudah cukup dijadikan rujukan bagi seorang yang hendak memilih mengerjakan amalan terbaik di bulan Ramadhan yang mulia. Keagungan Ramadhan sebagai bulan turunnya Al-Quran, menyediakan di dalamnya satu malam rahmah yakni “malam lailatul-qadri” yang memiliki keutamaan melebihi seribu bulan. (QS.97:1-5).

Berdo’a kepada Allah di bulan ini “maqbul”, terutama saat sedang berpuasa, atau pada saat mustajab di waktu sahur dan berbuka puasa, sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW ; “Do’a orang berpuasa ketika sedang berbuka tidak ditolak,”(Hadist dari Ibnu Umar Radhiallahu “anhuma).

Di bulan ini ada ibadah khusus “shalat tarawih”, artinya shalat secara santai. Rasulullah SAW pernah mengerjakan shalat tarawih ini selama tiga malam berturut-turut di Masjid Nabawi di Madinah, yang diikuti oleh para Shahabat sebagai makmum di belakang Nabi Muhammad SAW.

Walau hanya tiga malam, namun berita shalat tarawih ini cepat menyebar ke tengah umat, dan pada malam-malam berikutnya umat bertambah banyak yang ingin shalat bersama-sama dengan Rasulullah SAW.

Akan tetapi Rasulullah SAW tidak keluar lagi dari kamar (bilik) ‘Aisyah RA, karena di dalam sanalah beliau mengerjakan shalat tarawih beliau itu, sebagai dikhabarkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah RA. Rasul SAW keluar di waktu shubuh mengimami orang banyak dan sahabat menanya Rasulullah SAW kenapa beliau tidak keluar untuk shalat malam di mana umat sudah banyak yang menunggunya? Rasulullah SAW menjawab bahwa; “beliau takut, seandainya Allah SWT mewajibkan shalat sunat (tarawih) ini, namun umatku menjadi keberatan mengerjakannya”.

Ironis sekali umat kini, rajin pergi shalat sunat tarawih berjamaah, sementara shalat maktubah acapkali terlalaikan, bahkan mungkin sudah tertinggalkan.

Ramadhan adalah bulan paling mustajab tempat bermunajah kepada Allah, saat taubatan nashuha dengan lidah basah membaca istighfar, mengharapkan ampunan dan maghfirah dari Allah. Namun, semuanya tidak berarti, bila mata hati tertutup, tidak mau melihat kepada para dhu’afa (fakir-miskin) yang papa dengan nasib, tidak punya sesuatu untuk dinikmatinya, ditambah beban berat kepahitan hidup dan himpitan ekonomi, dibebani pikulan krisis demi krisis, ujian demi ujian termasuk gempa yang menghoyak setiap ketika.

Terhadap kalangan “berpunya” yang tidak mau mengulurkan bantuan, Allah SWT mencapnya sebagai “pendusta-pendusta agama”, karena “mata mereka tertidur disebabkan perut terlalu kenyang, tetapi di sampingnya tergeletak saudaranya yang fakir-miskin dengan bola-mata mereka tidak mau tertidur karena perut kosong kelaparan, kedinginan tidur di tenda, dan rumah sudah runtuk pula.

Do’a si fakir miskin, yang menderita seperti ini, selama mereka dekat dengan Tuhan, beribadah dengan baik, tidak pula melupakan puasanya di bulan Ramadhan, niscaya doa mereka sangat mustajab.

Karena itu, Rasulullah SAW mengingatkan, bahwa yang tak peduli nasib simiskin, sesungguhnya bukanlah golongan umatku, kata Nabi Muhammad SAW.

Na’udzubillahi min Dzalik.

Auglýsingar

Færðu inn athugasemd

Skráðu umbeðnar upplýsingar að neðan eða smelltu á smámynd til að skrá þig inn:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Breyta )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Breyta )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Breyta )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Breyta )

Tengist við %s

%d bloggurum líkar þetta: