Færðu inn athugasemd

Menuju Baitul Atiq

Menyahuti Panggilan tanah suci

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Perjalanan ke Baiti el-‘Atiq

Selamat Jalan Haji Mabrur. Selamat Jalan Jamaah Haji.

di-gua-hiraIbadah haji, Rukun Islam Kelima, dilakukan seorang muslim, dalam rangka memenuhi perintah Allah SWT. semata. Ibadah adalah bukti nyata dari ikrar (syahadat) yang telah diucapkan. Di dalam ibadah ini terpancang tiga marhalah (pentahapan perjalanan).

Pertama adalah mahabbah (kecintaan mendalam) kepada Allah dan Rasul. Kecintaan ini di simbulkan dengan seruan talbiyah. Labbaika, Allahumma labbaika, laa syarika laka labbaika, hakikinya bermaknaaku datang wahai Allah, hanya memenuhi penggilanMU, karena kecintaanku semata kepadaMu, tidak ada syarikat bagiMu.

Kedua adalah tonggak ridha atau kerelaan innal hamda wa an-ni’mata laka wa al mulka laa syariika laka, hakikinya mengandung arti bahwa, sungguh semua nikmat yang kumiliki berasal dariMu dan semestinya dipergunakan untuk mematuhi printahMu saja, dan semua kerajaan, kepemilikan dan kekuasaan hanya milikMu semata, tidak ada syarikat bagiMu. Radhitu billahi rabban, wa bil-Islami Diinan, wa bi Muhammadin Nabiyyan wa Rasulan. Aku rela hanya Allah Rabb (tuhan)-ku, aku rela hanya Islam Din (Agama)-ku, aku rela kepada Muhammad SAW Nabi dan Rasul yang di utus kepadaku. Maka, ibadah Haji atau umrah adalah klimaks penyerahan diri seorang muslim secara total kepada Allah SWT. Belum lengkap ke-Islaman seseorang yang telah memiliki kemampuan (istitho’ah) bila dia belum menunaikan ibadah haji.

Ketiga adalah marhalah shibghah atau identitas Muslim muttaqin. Hati (qalbu)-nya dibuhul keyakinan tauhid. Lahir dari keimanannya itu niat atau motivasi lillahi ta’ala. Agaknya perlu dipahami bahwa haji adalah sarana untuk mencapai tujuan lebih mulia dari sikap taqwa kepada Allah. Pikiran (aqal)-nya dihiasi kejernihan fikrah Islami. Direfleksikan dalam pola berfikir, cara bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Fisik (jasad)-nya melakukan amal yang diperintahkan. Meniru kepada apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Semua pangkat dan emblem duniawi tidak bernilai apapun di hadapan Rabb el Alamin. Tidak ada harganya kekayaan dunia, kecuali hanya selembar ihram. Karenanya, di dalam Al-Qur’an, pada semua ayat yang berkaitan dengan haji, selalu diakhiri oleh Allah SWT dengan pesan yang jelas, agar bertaqwa.

Barangkali bentuk haji yang seperti inilah yang disebut sebagai Haji Mabrur. Kemabruran lantaran makbulnya amalan haji menjadi idaman setiap calon jemaah. Bukti mabrur ada pada haji yang mampu mendorong terjadinya perobahan orientasi, visi dan misi kearah peningkatan amal saleh, baik ritual maupun sosial, dalam rangka menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih sesuai dengan ajaran Islam. Haji mabrur amat berguna untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Karena itu, balasan paling pantas dan paling tinggi untuk haji mabrur hanyalah jannah (sorga) semata.

Jika dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya, haji mempunyai sifat dan karakteristik tersendiri, terutama jika dikaitkan dengan masalah waktu dan tempat pelaksanaan. Memang di dalam Islam ibadah formal (mahdhah) ada tiga bentuk pelaksanaannya. Pertama, waktu pelaksanaan ditentukan tetapi tempat pelaksanaan tidak ditentukan. Kedua, tempat pelaksanaannya ditentukan dan boleh dikerjakan kapan saja. Ketiga, waktu dan tempat pelaksanaannya diatur dan ditetapkan oleh Allah SWT.

Haji adalah ibadah katagori yang ketiga ini. Faktor inilah yang menetapkan kewajiban menunaikan haji diwajibkan Allah kepada Muslimin yang mampu hanya satu kali dalam seumur hidup. Dalam hadits riwayat Imam Muslim dan Nasa’i dari Abu Hurairah diterangkan, ketika Nabi menyampaikan bahwa Allah telah mewajibkan kepada kaum muslimin melaksanakan ibadah haji, lalu ada yang bertanya; apakah kewajiban berhaji itu setiap tahun ya Rasulullah? Nabi diam dan tidak menjawab pertanyaan ini, bahkan sampai tiga kali masalah ini ditanyakan. Kemudian Nabi menjawab: Kalau saya jawab ya, saya khawatir haji ini difardhukan Allah kepadamu setiap tahun, dan kamu pasti tidak akan sanggup melaksanakannya. Karena haji waktunya ditentukan dan harus dilakukan di lokasi tertentu pula yaitu Masy’aril Haram (Makkah, Mina, Arafah dan Muzdalifah di Saudi Arabia), maka faktor kemampuan (istitha’ah) menjadi syarat utama pelaksanaan ibadah haji.

Seringkali istitha’ah atau kemampuan hanya diartikan dari segi kemampuan finansial saja. Sehingga siapa yang dapat membayar ONH sudah dianggap mampu berhaji. Padahal konsep istitha’ah itu berkaitan pula dengan kesehatan fisik, mental, ekonomi, keamanan, pemahaman ilmu-ilmu manasik dan bahkan kesempatan untuk menunaikannya. Dan terkait pula dengan masalah akomodasi selama disana (Saudi Arabia), walaupun ini bukanlah unsur utama, namun unsur ibadah lebih menjadi sasaran utamanya.

Disini perlunya bimbingan diberikan kepada calon jema’ah haji. Diperlukan bimbingan yang berkesinambungan: sebelum melaksanakan ibadah haji, selama dalam pelak sanaan ibadah haji dan masa pasca haji (setelah kembali ke tanah air).

Menyahuti Nida’ (Seruan) Makkah

Setiap orang yang melakukan haji akan selalu mendambakan haji mabrur. Hal ini sangat wajar. Di dalam sebuah hadits, Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah SAW, bersabda : “Satu umrah yang lainnya menghapus dosa diantara keduanya, sedangkan haji mabrur balasannya tidak lain adalah surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang perlu diperhatikan oleh para penziarah (haji) yang ingin melaksanakan ibadah haji seharusnya dan seyogyanya ia sudah dan telah menjalankan atau mengamalkan rukun-rukun Islam yang lainnya dengan baik dan benar.

Sering orang mengatakan bahwa dia belum mau pergi haji karena merasa belum mendapat panggilan, padahal baik dari segi ekonomi maupun fisik dia termasuk orang yang mampu. Pemahaman seperti ini sungguh satu pandangan yang tidak benar.

Tatkala seorang menyatakan dirinya Muslim (orang Islam) dan menerima agama Islam dengan di awali mengucapkan syahadat, ketika itu ia sudah dipanggil untuk melaksanakan ibadah haji.

Tergantung kepada usaha dan kesungguhan hati dan fisiknya merealisir persyaratan-persyaratan yang dituntut perlu dipersiapkan menyahuti nida’ (panggilan) berhaji ke Makkah el Mukarramah itu.

Oleh karena itu, jika sudah mempunyai niat untuk menunaikan ibadah haji dan persyaratan telah terpenuhi, hendaklah segera melaksanakannya,. Jangan sampai ditunda-tunda lagi. Penundaan yang direncanakan apalagi yang direkayasa untuk tahun-tahun depan, padahal sudah ada kesempatan di tahun ini, dalam kenyataan biasanya menjadi beberapa tahun kemudian. Bahkan dapat tertunda untuk selama-lamanya karena sudah keburu mati.

Karena itu, bagi yang sudah mendapat panggilan ke hajji atau umrah ke rumah tua (Bait el ‘Atiq di Makkah) tunaikanlah segera dengan sebaik-baiknya. Berusahalah menjadikan ibadah haji dan umrahnya menjadi satu perjalanan rohani paling mengesankan. Jadikan menyahuti seruan Makkah ini menyenangkan. Di dalam perjalan itu akan di saksikan li yasy-haduu manafi’a lahum, artinya banyak persaksian dan sarat dengan pengalaman spiritual paling berharga. Akhirnya, akan terasakan manfaat besar, terhindar dari segala kesulitan dan kesusahan.

Persiapan Rohani

Dalam hal ini yang diperlukan adalah mempersiapkan kondisi batin dan rohani sebaik-baiknya. Semaksimal mungkin bersih dari cacat dan dosa. Tujuannya adalah agar kita bisa berangkat dalam keadaan sebersih dan sesuci mungkin. Terlepas dari segala beban yang memberatkan batin dan pikiran kita.

Agar perjalanan rohani ini bisa berlangsung dengan baik dan lancar, dan usaha meraih haji mabrur, maka setiap langkah wajib dijaga dan dipelihara.

Betulkan dan Luruskan niat.

Ibadah haji adalah kewajiban setiap hamba kepada Allah SWT. Menjadi beban bagi setiap mukmin yang mukallaf dan mampu. Langkah awal, betulkan dan luruskan nawaitu. Di dahului memasang niat yang ikhlas untuk pergi haji ataupun umrah. Niat menunaikan ibadah haji hanya karena melaksanakan perintah Allah. Semata-mata untuk mengharapkan ridha-Nya saja.

Kepergian ketanah suci bukan karena alasan-alasan lain. Hindarkan diri dari perasaan ria, ingin dipuji, merasa hebat sendiri, takabur, sombong serta sifat-sifat lainnya. Berserah diri hanya kepada Allah. Perjalanan ini dilakukan dengan ikhlas semata. Sabda Rasulullah SAW , Barang siapa yang mengerjakan ibadah haji semata-mata ikhlas karena Allah dan tidak berbuat rafats serta tidak fasik, maka kembalilah ia seperti dilahirkan oleh ibunya. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Yang dimaksud rafats ialah cabul, bersetubuh, bercumbu-kata yang menimbulkan birahi, ungkapan keji dan omongan kotor. Sedangkan fasik adalah melakukan kejahatan dan maksiat.

Latih diri bersifat sabar dan tolong menolong.

Sifat sabar amat diperlukan dalam melaksanakan ibadah haji. Sabar sudah mulai di saat menetapkan keinginan untuk berangkat ke tanah suci. Terasa berat urusan untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Kemudahan hanya dirasakan karena bantuan dari Allah SWT.

Semua urusan memerlukan sifat sabar. Kesabaran di saat pembayaran ONH, pemeriksaan kesehatan, pendaftaran, menunggu panggilan untuk keberangkatan dan lain-lainnya. Melatih sabar dalam menghadapi semua rintangan mempermudah diri meraih haji mabrur.

Di tanah suci Makkah dan Madinah, berkumpul jutaan jamaah dari berbagai penjuru dunia. Berbagai sifat dan kebiasaan mereka. Sifat sabar sangat diperlukan disana..Segala macam hal bisa terjadi di tengah ramainya jamaah itu. Mulai dari sekedar kena senggol, kena dorong atau bahkan rebutan tempat, baik di Masjid maupun di tempat penginapan. Pertengkaran suami isteri dapat pula terjadi, jika sifat sabar dan sanggup mengendalikan diri tidak dipunyai.

Puncak ujian kesabaran dirasakan pada saat berpakaian ihram. Banyak yang di haramkan dan perlu di hindari. Setiap orang dilarang bermusuhan, mencaci dan bertengkar (termasuk perbuatan jidal) sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT, …..Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, fasik dan berbuat jidal di saat mengerjakan haji…(Al-Baqarah: 197).

Selain sifat sabar, sifat tolong menolong amat perlu di tanah suci. Disana akan ditemui keadaan dimana orang lain sangat memerlukan pertolongan. Dalam keadaan demikian, jangan ragu memberikan pertolongan. Dengan pertolongan yang diberikan untuk orang lain, Insya Allah pertolongan dari Tuhan segera akan datang pula. Sudah terbukti, orang yang banyak menolong orang lain dengan ikhlas, segala urusannya akan berjalan dengan lancar. Dan akan terhindar dari kesulitan.

Perlu diingat, bahwa menolong itu hendaklah dengan penuh keikhlasan. Tanpa mengharapkan sesuatu. Kecuali hanya mencari ridha Allah semata.

Berangkat dengan Harta yang Halal dan Baik

Mengerjakan haji dan umrah salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Dalam melaksanakannya di tuntun dalam keadaan bersih dan suci. Begitu juga dengan harta yang akan kita gunakan untuk itu.

Rasulullah Saw. menyatakan: “Apabila seseorang pergi melaksanakan ibadah haji dengan nafkah yang baik (halal) dan meletakan kakinya di atas kenderaannya, maka ketika dia berseru: Labbaik Allahumma labbaik,ia akan mendapat sambutan dengan seruan dari langit: Diterima panggilanmu dan berbahagialah engkau, karena bekalmu halal dan kenderaan yang engkau pakai halal, dan hajimu diterima, tidak ditolak.’(HR. Thabrani dari Abu Hurairah)

Bersih dan sucikan diri.

Maksudnya adalah membersihkan dan mensucikan diri. Secara rohaniah dapat dilakukan dengan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah dari segala dosa. Dalam bertaubat hendaklah bertekad tidak akan kembali lagi kepada dosa. Selanjutnya, memohon maaf kepada orang tua, isteri/suami, anak, anak saudara, famili, tetangga serta para sahabat.

Dari sisi ibadah, membersihkan diri bermakna memperbaiki atau meningkatkan mutu shalat. Kalau masih sering tertinggal atau lalai di dalam mengerjakannya, maka berusahalah untuk lebih berdisiplin melaksanakan kewajiban shalat ini.

Kemudian diikuti dengan mengeluarkan zakat, bagiyang belum melakukannya. Zakat termasuk unsur “pembersih” diri dan harta, sehingga tidak bercampur dengan yang bukan hak kita. Usahakan sesering mungkin mengeluarkan infak, sadaqah, dan lain-lain sebagainya. Semua hal tersebut perlu dilakukan sebelum berangkat ketanah suci. Bersihnya diri, mudah-mudahan terhindar dari berbagai kesulitan yang mungkin datang menjadi peringatan Allah untuk kita.

Mempelajari tata cara pelaksanaan ibadah.

Ibadah haji satu rangkaian yang terkait oleh waktu dan tempat. Di antara ibadah itu ada yang merupakan rukun haji, yang kalau ditinggalkan berakibat batal (tidak sah) haji. Ada rangkaian ibadah wajib haji yang apabila tidak sempat melakukan tidak membatalkan haji, mesti ditebus dengan membayar denda atau dam. Ada pula bersifat sunnat haji. Ada pula larangan yang dapat merusak atau membatalkan ibadah haji.

Mempelajari tata cara pelaksaan haji dengan baik akan menjadikan manasik haji terlaksana dengan sempurna. Pelajari sebaik-baiknya hal yang wajib, syarat rukun, sunnat dan lainnya yang mestinya dilakukan atau ditinggalkan. Mengerjakan hal-hal yang merusak ibadah haji, tidak sempurna rukun haji, akan berakibat membatalkan ibadah haji.

Setiap calon haji dan umrah hendaknya cermat menangkap nilai hikmah yang terkandung dalam segala peragaan manasik haji.

Pelajari do’a-do’a dan bacaan ibadah.

Sebenarnya dalam melaksanakan ibadah haji, do’a dan bacaan dapat ditemui dan dibaca dari buku manasik sambil melakukan ibadah. Menghafalnya tentu lebih baik. Hafalan do’a manasik akan memperlancar pelaksanaan ibadah, tanpa harus bolak-balik melihat buku. Makna dan maksud dari do’a dan bacaan tersebut perlu juga dipelajari dan dimengerti. Supaya kita lebih bisa menghayati maksud dan kandungan dari do’a yang dibaca.

Semua do’a dalam pelaksanaan ibadah haji adalah do’a yang bagus. Intinya memohon kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat. Seperti do’a safar sebagaimana diajarkan Nabi SAW. Apabila do’a-do’a itu dapat dihayati makna dan maksudnya, Insya Allah ibadah akan menjadi lebih khusyu’.

Menyelesaikan hutang piutang

Segala hutang piutang yang memberatkan dan mengganggu ketenangan dalam menunaikan ibadah haji, sebaiknya dilunasi sebelum berangkat. Paling tidak menjelaskan masalahnya kepada keluarga yang ditinggal. Agar mereka mengetahui, dengan sebuah wasiat. Sehingga kalau terjadi sesuatu kehendak Allah dengan diri kita, mereka yang ditinggalkan dapat menyelesaikan hutang piutang itu dengan baik.

Menyiapkan bekal buat yang ditinggalkan.

Selama meninggalkan rumah dan keluarga dalam perjalanan ke tanah suci, tanggung jawab terhadap orang yang ditinggalkan di tanah air harus dipenuhi. Seharusnya, sebelum berangkat ke tanah suci, hendaknya meninggalkan bekalan untuk mereka, dengan jumlah mencukupi keperluan kehidupan selama kita berada di tanah suci.

Memahami Sejarah Perjuangan Nabi SAW

Selama berada di tanah suci tersedia kesempatan berziarah ketempat-tempat bersejarah di sekitar kita Makkah dan Madinah. Mengetahui riwayat dari tempat-tempat bersejarah di saat berziarah, akan mendatangkan kesan mendalam. Dapat memberikan gambaran sejarah perjuangan Islam yang lebih lengkap.

Mengetahui peristiwa bersejarah yang terjadi di tempat yang dikunjungi (ziarahi) yang berkaitan erat dengan perjuangan Nabi SAW dan para sahabatnya di dalam mempertahankan Islam, akan mempertebal keimanan kepada Allah. Selanjutnya akan menguatkan penghayatan terhadap nilai ajaran yang dibawa Rasulullah Saw.

Mempelajari cara shalat jenazah dan menghafal bacaannya.

Pada musim haji, baik di Masjidil Haram maupun di Masjid Nabawi, hampir selalu shalat wajibnya di iringi dengan shalat jenazah. Ini terjadi karena memang banyak jamaah haji yang meninggal dunia di tanah suci itu. Mungkin cuaca dan medan yang berat. Atau karena kondisi jamaah yang lemah.

Karena itu bagi yang belum mengetahui tata cara pelaksanaan shalat jenazah atau belum hafal bacaannya, dianjurkan untuk mempelajari serta menghafalkannya sebelum berangkat ketanah suci. Sehingga pada saat melakukannya di tanah suci dapat melaksanakan dengan baik dan benar.

Memantapkan Persiapan Jasmani

Persiapan jasmani khususnya kesehatan tentunya telah diberikan oleh dokter yang ahli. Namun, persiapan fisik perlu dijaga dengan teratur, di antaranya, Memelihara dan menjaga kondisi kesehatan tubuh sejak dari berangkat. Jika perlu melakukan general chek up kesehatan. Latihan-latihan senam, disesuaikan dengan dengan kondisi dan usia. Latihan berjalan di panas matahari. Sering-sering berkonsultasi dengan dokter.

Seperti dapat dibaca dalam buku manasik haji, ada beberapa cara melaksanakan ibadah haji, seperti, Tamattu’ ialah melaksanakan umrah terlebih dahulu di bulan-bulan haji, setelah itu baru mengerjakan haji.

Untuk pelaksanaan umrah haruslah Bersuci: mandi, berwudlu. Berpakaian ihram. Shalat sunnat ihram dua rakaat. Niat umrah dari miqat. Thawaf umrah. Sa’I umrah dan Tahallul. Untuk pelaksanaan haji, haruslah pula didahului dengan Bersuci; mandi, berwudlu. Berpakaian ihram. Shalat sunat ihram dua rakaat. Niat haji dari pemondokan masing-masing. Mabit di Mina untuk berangkat menuju Arafah (8 Dzulhijjah). Wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah). Menuju Mudzdalifah sehabis magrhib. Mengumpulkan batu di Mudzdalifah. Melontar Jumrah Aqabah (10 Dzulhijjah), Jumrah Wustha dan Jumrah al-Ulaa di Mina (pada hari tasyrik). Thawaf di Masjidil Haram, Sa’i antara Safa dan Marwa, dan Tahallul. Semuanya dilakukan dengan tertib, yang wajib di dahulukan secara beraturan. Tata cara pelaksanaannya telah ditunjukkan dengan baik di dalam buku petunjuk Manasik Haji.

Labbaika, Allahumma Labbaika. Laa syarika laka labbaika. Innal hamda wan-ni’mata laka wal mulka, laa syarika laka. Dengan persiapan rohani dan jasmani (fisik) yang baik, Insya Allah para jamaah haji tahun ini menjadi “hajjan mabruran, wa sa’yan masykuran, wa dzanban maghfuran, wa tijaratan lan taburan”. Amin Ya Rabbal Bait al ‘Atiq.

Billahit taufiq wal hidayah.

Padang, Zulhijjah 1429 H

Auglýsingar

Færðu inn athugasemd

Skráðu umbeðnar upplýsingar að neðan eða smelltu á smámynd til að skrá þig inn:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Breyta )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Breyta )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Breyta )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Breyta )

Tengist við %s

%d bloggurum líkar þetta: