Ein athugasemd

Menggali Potensi Zakat, Menggerakkan Umat berbasis Kemampuan dan Kompetensi

Menggali Potensi Zakat

Menggerakkan Umat berbasis Kompetensi

Oleh : H Mas’oed Abidin

Sasaran akhir puasa Ramadhan adalah la’allakum tasykurun, artinya supaya kamu bersyukur.[1] Tidak sempurna kehidupan bermasyarakat bila kegembiraan rasa syukur ini tidak di iringi dengan peduli kepada orang sekeliling, terutama kepada yang belum bernasib baik, fuqarak wal masakin.

Bersama Pengurus BAZDA Sumbar dan BAZDA Kabupaten Merangin Jambi di Nurul Iman Padang

Bersama Pengurus BAZDA Sumbar dan BAZDA Kabupaten Merangin Jambi di Nurul Iman Padang

Pembuktiannya adalah dengan mengeluarkan zakat fithrah bagi meringankan beban derita kaum tak berpunya. Satu bimbingan Islam dalam merasakan suatu kegembiraan secara bersama (ijtima’i).

Zakat Fithrah, kewajibannya fardhu’ain bagi setiap Muslim. Apabila dia telah memasuki bulan Ramadhan dan memasuki Idul Fithri. Tidak peduli, apakah dirinya sudah akil baligh ataupun belum, berbadan besar ataupun kecil, berkeadaan sanggup ataupun tidak. Sebab seyoyanya dihari itu tidak ada yang mengatakan tidak sanggup.

Dibayarkan sebelum salat Idul Fithri. Bila dibayarkan sesudah Idul Fithri, nilainya sama seperti sedekah biasa. Boleh dibayarkan sejak awal Ramadhan.

Sebaiknya dengan makanan yang kita makan. Boleh dihitung dengan nilai uang sebesar harga makanan yang dikeluarkan (3 sha’, atau 5,5 kg = sepuluh tekong beras).

Dibayarkan kepada fuqarak wal masakin. Tidak terbatas jumlah boleh menerima. Sesuai bimbingan Rasulullah SAW, aghnuhum ‘anis-suaal fii hadzal yauma, artinya kayakanlah mereka (orang-orang tak berpunya) itu dari masalah minta-meminta pada hari lebaran ini.

Bila tidak dibayar, puasanya tergantung antara bumi dan langit (al Hadist).

Hakikatnya, “zakat fithrah menjadi pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang tercela dan dari dosa, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin(HR.Abu Daud).

Perintah agama sangat tegas. Kayakan mereka orang fakir miskin yang tidak sanggup itu, pada hari lebaran idul fithri ini. Bebaskan mereka dari bertawaf, berkeliling meminta-minta dihari besar yang mulai ini. Demikian inti ajaran Islam. Maksudnya supaya satu sama lain saling ringan meringankan. Berat sepikul ringan sejinjing.

Dihari lebaran terbuka pintu pendapatan insidentil dari setiap orang fuqarak dan masakin. Jangan mereka dihina dan dihardik. Semestinya setiap orang yang berpunya merasa malu dihadapan Allah, bila dikelilingnya berserak orang-orang miskin. Secara alamiah kondisi menjamurnya kemiskinan adalah penggambaran nyata dari kondisi kekayaan orang berada yang tidak banyak bermanfaat dalam mengurangi jumlah orang miskin dikelilingnya.

Setiap diri yang berpunya, semestinya sanggup menyalahkan diri sendiri apabila banyak orang miskin disekililingnya.

Mungkin sekali sebahagiannya disebabkan karena yang kaya kurang peduli, dan enggan berzakat secara terarah. Atau karena haknya dirampas dengan prilaku tak terpuji, seperti korupsi, manipulasi, dan sebagainya.

Pada sehari lebaran Idul Fithri diperintahkan mengeluarkan zakat fithrah untuk tu’matan lil masakin, atau memberi makan orang miskin. Selanjutnya, orang miskin yang dikayakan dihari itu mampu membantu diri dan keluarganya, mampu pula melaksanakan ajaran agamanya secara teguh dan bertanggung jawab.

Zakat fithrah tidak dimaksudkan penumpukan modal oleh lembaga keuangan tetapi bias menjadi sumber modal langsung bagi simiskin yang telah menerimanya tanpa ikatan suatu akad perjanjian. Maka yang diperlukan adalah kesadaran tinggi fuqarak wal masakin itu, agar disamping keperluan konsumptif lebaran, maka dapat dijadikan modal milik sendiri yang akan dikembangkan sebagai penupang peningkatan ekonomi keluarga.

Dengan kekayaan yang diterima oleh fakir dan miskin, mereka bisa berbelanja. Bisa membeli makanan dan minuman. Bisa membesarkan hari besar jamuan Allah. Mereka bisa pula membayarkan zakat fithrahnya sendiri. Dan pada hari ini semestinya secara ideal, tidak ada lagi orang fakir dan miskin, walaupun hanya dalam bilangan sehari.

Pada hari lebaran itu, tidak ada lagi orang yang menganggap bahwa dirinya berada diatas, dan orang lain yang tidak berpunya (fuqarak wal masakin) menjadi orang dibawah, atau golongan have not any, dan tidak diperhitungkan.

Bila pada masa-masa yang panjang, yang bisa berzakat hanya si kaya, tetapi di hari Idul Fithri, yang miskin dan faqir juga ikut berzakat, dari pendapatan zakat yang mereka terima. Ini suatu gambaran masyarakat yang memiliki kekuatan ampuh, atau khaira ummah itu. Mudah-mudahan.

Membantu Ummat Yang Lemah

Perangai taqwa dan syukur merupakan satu hal yang tidak terpisah. Saling mengokohkan, ibarat aur dengan tebing.

Taqwa selalu subur dengan syukur.

Syukur akan senantiasa berbuah karena taqwa.

Nikmat yang sejati hanya ada pada diri yang selalu bertaqwa dan bersyukur itu. Nikmat seperti itu merupakan kebahagiaan hakiki, yang sanggup dirasakan sepanjang hari, dan menjadi dambaan Mukmin sejati.

Bagaimana mungkin kita akan dapat merasakan nikmatnya bahagia dan bahagianya nikmat anugerah Allah, pada hari seperti sekarang ini ??

Akankah kita dapat merasakan nikmatnya bahagia, bila disaat-saat kita semua bergembira ria, kalau disamping kita ada orang yang menangis tersedu-sedu? Sedu sedannya, seakan jeritan tanpa suara.

Padahal, mereka sedang menangis, memikirkan dan merasakan kehampaan hidup, karena tidak berpunya dan tidak punya apa-apa, kecuali nyawa berbungkus kulit …?

Akan sirnalah semua kebahagiaan pada hari ini, jika masih ada di keliling kita orang yang dengan nasib dan takdir yang ada padanya, masih menengadahkan tangan mengharap sesuap nasi, untuk dimakan anak beranak, atau karena melihat anak-anak orang lain bergembira berpakaian baru…. Alangkah malangnya nasib badan.

Padahal sebenarnya. Mereka hanya tidak memiliki kesempatan, belum berkemampuan untuk menggantinya, walau agak sepotong. Karena tidak ada sumber pendapatan, hilangnya lowongan pekerjaan, tak ada pula yang mau berbelas kasih.

Membiarkan kondisi ini, dan menganggapnya suatu hal biasa, agaknya kita akan digolongkan kepada orang-orang yang disebut-sebut, Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Na’dzu billah .., Kita dianggap sebagai pendusta kebenaran agama, walau masih menyatakan diri pemeluk agama, tetapi sebenarnya sudah jauh tercampak dari ajaran agama.

Itulah orang yang menghardik anak yatim, yang menyia-nyiakan hak anak yatim. Yang tidak peduli dengan pembinaan generasi.

Yang melecehkan ratapan para dhu’afak.

Yang tidak membantu mengatasi problema kemiskinan. Akan tetapi naifnya, malah selalu berupaya mengintip-intip kesempatan …… mencari kaya dengan memiskinkan orang lain …berladang dipunggung orang dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. [2]

Bahagia Dalam Memberi

Cobalah dibayangkan. Pada suasana lebaran seperti kita rasakan saat ini. Dipagi hari dikala Rasulullah SAW masih hidup, beliau keluar menuju tempat salat ibadah ‘Idul Fithri. Beliau lihat, seorang bocah termenung menyendiri. Dengan tatapan mata menerawang, dan disampingnya ada teman sebaya bergembira ria, berpakaian baru pembelian ayah. Ditangan temannya ada penganan enak buatan ibu.

Dari jauh si bocah hanya bisa melihat, sambil menikmatinya dengan bermenung. Alangkah indahnya kegembiraan teman sebaya. Ditemani gelak tawa penuh bahagia. Dilihat diri, jauh berbeda. Dikala itu terasa badan tersisih. Kemana ayah tempat meminta. Kemana gerangan dicari ibu tempat mengadu.

Dalam situasi seperti itu, Rasulullah SAW lewat menghampiri. Meletakkan kedua telapak tangan Beliau dikepala si bocah.

Sambil bertanya Rasul berkata, “Kenapa dikau wahai anak? Teman-temanmu gelak ketawa, dikau merana sedih menangis, gerangan apakah yang menyulitkan ?

Andaikan ada pemimpin zaman sekarang, yang menolehkan pandang kepada silemah, yang tidak pernah mengenal rasa senang. Alangkah indahnya hidup ini ?.

Dengan nada tersendat, kerongkongan tersumbat, menahan perasaan kekanakan sibocah lugu menjawab, “Wahai Rasulullah, bagaimana diri tak akan sedih, melihat teman bergembira ria, pulang kerumah ada sanak saudara, lelah bermain ada ibu menghibur, duka dihati ada ayah yang menyahuti.

Sedang diriku wahai Nabi, terasa nian malangnya hidup ini, tiada ibu tempat mengadu, ayahpun sudahlah pergi, badan tinggal sebatang kara. Yatim piatu aku kini……..,”

Mendengar rintihan kalbu bocah yang bersih, yang mengharap belas kasih dengan tulus seketika, Rasulullah SAW berkata, “…maukah engkau wahai anak, jika rumah Rasulullah menjadi rumahmu, Ummul Mukminin menjadi ibumu …?”.

Andaikan ada masa kini, pintu rumah terbuka bagi silemah, lapangan kerja tersedia bagi dhu’afak, tentulah merata bahagia ditengah bangsa ini.

Jawaban spontan Nabi, menjadikan wajah si bocah berseri-seri, walau yang didengar barulah ajakan, tetapi harapan hidup sudah terbuka.

Diri tidak sendiri lagi.

Ada pelindung pengganti bunda. Walaupun ibu dan ayah sudah tiada. Serta merta Nabi memangku si bocah. Mencium kedua pipi sianak yang sudah lama …, tidak pernah lagi dirasakannya.

Sirnalah air mata yang tadinya terurai lantaran sedih dan hampa. Berganti air mata gembira lantaran bahagia.

Demikianlah satu bukti sangat substansil dari sabda Nabi SAW disampaikan Beliau pada Kotbah Wada’ itu, “Aku dan orang-orang yang menanggung anak yatim, berada di sorga seperti ini (lalu beliau mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, seraya memberi jarak keduanya)” (HR.Bukhari, Abu Daud dan Tirmidzi, lihat Al-hadits As-Shahihah/Al-Bani:800).

Membangun Jembatan Rasa

Membangun mawaddah fil qurba, mestilah bersih dari kedurhakaan dan kemunafikan. Jembatan rasa akan kokoh kuat, bila di ikat oleh hati dan jiwa dalam kemasan kalimat tauhid.

Kesatuan hati dan hati menjadi sumber kekuatan yang ampuh dalam ukhuwah yang integrative.

Kita tidak dapat membayangkan betapa rusaknya masyarakat yang berlabel ukhuwah tetapi hati mereka tidak mau bertemu.

Mempertemukan hati dengan hati hanya mungkin dengan kekuatan tauhid. Keyakinan kepada Allah SWT.

Kekuatan kalimah tauhid, atau kalimatun thayyibah, dapat membentengi ummat dan mampu menjadi kekuatan dalam membina persaudaraan atas dasar ukhuwah imaniyah. Kalimah tauhid adalah seumpama pohon yang kokoh kuat dengan urat menghunjam bumi dan pucuk melembai awan.

Bentuk kerukunan ummat bertauhid digambarkan oleh Allah SWT..”Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (QS.14, Ibrahim : 24-25).

Disaat yang mulia, dihari jamuan Allah ini, kita besarkan Asma Allah, agar kita tidak menjadi golongan yang melupakan Allah, yang telah menganugerahi kita nikmatNya.

Supaya kita tidak terjerembab kedalam kehidupan ummat yang lupa diri.”Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS.59, Al Hasyr :19).

Mudah-mudahan pada hari ini, kita semua dapat menciptakan suasana gembira dengan kesederhanaan, serta dapat pula menciptakan kebahagian disekitar lingkungan kita.

‘Izzatun-nafs, Martabat Bangsa

Ikhlas memberi mampu mengubah sedih menjadi gembira, sanggup mengubah duka menjadi bahagia.

Nabi Muhammad SAW. menyebutkan, “Barang siapa yang menggabungkan (menanggung) anak yatim diantara kaum Muslimin, dalam makan dan minumnya, sampai mereka merasa cukup (kenyang) dari makan dan minum itu, maka ia (yang menanggung anak-anak yatim dan dhu’afak) itu pasti memperoleh sorga(HR.Abu Ya’la dan Ahmad, dalam Al Munthaqa min At Targhib (1517) dan Majma’ Az Zawa-id (8/16). Hari ini berapa banyak jumlah anak yang bernasib serupa dikeliling kita. Mereka lemah miskin, karena telah dimiskinkan oleh suasana.

Diperlukan saling peduli (ta’awun), yang menjadi alas-dasar pembentukan masyarakat berkualitas, sebagai telah digambarkan dalam salah satu semboyan Nabi SAW “tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah”.

Meujudkan masyarakat bertangan diatas, dimulai dengan menanam keyakinan akan rahmat Allah sebagai masyarakat berpunya, yang memiliki ‘izzah (harga diri), tidak menggantung nasib kepada keinginan orang lain. Harkat martabat bangsa amat ditentukan oleh kemandirian, self help bersikap kaya jiwa (ghinan-nafs) yang mampu berdiri dikaki sendiri. Bersedia membuka pintu hati mengulurkan tangan kepada orang lain dalam rangkaian mutual help (man a’thaa wat-taqaa) dan selfless-help (wa shaddaqa bil husnaa).

Sikap budaya dalam adat di Ranah Minang, singkek uleh ma uleh, kok kurang tukuak manukuak. Senyatanya, inilah sebahagian modal dasar daerah kita dalam menghadapi UU Otoda No.22 dan 25/1999.

Satu pelajaran paling berharga, yang dapat kita ambil dari Sunnah Rasulullah SAWOrang yang paling disukai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling disukai Allah adalah yang menyenangkan sesama orang Muslim (artinya janganlah ditaburkan kemaksiatan yang mengundang lahirnya bencana). Kamu hilangkanlah susahnya. Kamu lunasilah hutangnya. Kamu usirlah laparnya. Dan Aku, Muhammad SAW, lebih senang bersama saudaraku dalam satu keperluan yang diatasi secara bersama, daripada beri’tikaf dimasjidku ini, yakni Masjid Nabawi di Madinah, selama sebulan penuh”.

Pesan Nabi SAW juga menegaskan, “Sembahlah Allah Yang Maha Pengasih. Berilah makanan kepada orang yang lapar. Sebarkanlah salam kepada sesama manusia. Kalian akan masuk sorga dengan selamat” (HR. Tirmidzi (1856), Ahmad (6587, Al Musnad) dan Bukhari (981, Al Adab al-Mufrad)

Mari kita tumbuhkan kebahagiaan dalam memberi sebagai satu sikap jiwa (mental attitude) yang berguna mengubah dan memberi kecerahan dalam hidup.

Membesarkan

Asma Allah

Berbahagialah kiranya kita pada hari ini, dalam merayakan suatu kemenangan. Kemenangan dari satu perjuangan besar. Mengendalikan diri dan nafsu sebulan penuh di bulan Ramadhan. Kemenangan dalam merebut taqwa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”, (QS.2, Al Baqarah : 183)

Bersyukurlah kita kepada Allah Yang Maha Esa, yang mengaruniai kita sekalian dihari raya ini, suatu nikmat besar. Nikmat dapat melaksanakan perintah-perintah Nya. Kemudian dapat menikmati Idul Fithri.

Kembali kepada fithrah yang paling manusiawi. Yang menjadi idaman setiap Mukmin.

Bergembiralah kita semua, pada hari ini. Tatkala kita mampu menghidangkan suasana gembira. Tidak semata-mata teruntuk bagi orang yang telah melaksanakan puasa Ramadhan. Tetapi juga dapat dinikmati oleh orang-orang disekitar kita. Amatlah wajar, kalau kemeriahan hari ini diisi dengan saling bermaafan. Saling berjabat tangan, mengharap redha Allah. Saling memaafkan diantara kita. Dari anak kepada orang tuanya, dari yang kecil kepada yang besar. Dari antara teman sejawat, sekantor dan rekan sebaya. Dari murid terhadap gurunya.

Dari pemimpin terhadap rakyatnya. Secara timbal balik. Kepada setiap shaimin, yang baru meninggalkan Ramadhan beberapa jam yang lewat, kita ucapkan pula “minal ‘aidin wal faa izin, wa kullu ‘aamin wa antum bi khairin” …Berbahagialah siapa yang telah kembali dari perjuangan besar, jihadun-nafsi.

Semoga kemenangan itu selalu membawa kepada keadaan yang lebih baik dalam menanam kebaikan, ditahun-tahun mendatang.

Disamping kegembiraan itu, sepantasnya pula kita selalu mawas diri. Selalu berhati-hati terhadap kriteria yang disebut Rasulullah SAW, …berapa banyaknya orang yang berpuasa, tetapi tidak ada yang mereka peroleh, kecuali hanya lapar dan haus semata … Na’udzubillah. Mudah-mudahan kita terhindar dari apa yang telah di-gambarkan oleh Rasulullah SAW ini.

Do’a Penutup

Allahumma Yaa Rabbana, Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami semua ummat Mu yang memiliki sibghah, memiliki jati diri. Mememiliki keteguhan ‘izzah nafsi, tahu akan martabat diri.

Yaa Allah, Ya Rabbana,

Dengan hati yang bersih penuh harap, dengan kedua telapak tangan kami menengadah kepada MU, kami bermohon kepada MU ; Jangan Engkau jadikan kami menjadi ummat buih (ghutsa-an ka ghutsa-as-sail), yang dipermainkan serta diperebutkan oleh orang-orang yang tengah kelaparan, seakan memperebutkan sepiring makanan dihadapan mereka.

Wahai Allah, Yaa Lathief,

Hindarkan bangsa ini, bangsa Indonesia yang besar ini dari penyakit wahn, yakni penyakit hubbud-dunya, mencintai dunianya amat-sangat berlebihan sehingga mau menjual diri dan keyakinan mereka. Yaa ‘Aziiz, hindarkan bangsa ini dari penyakit karahiyatul-maut, penyakit enggan beramal dan berjihad dijalan MU.

Allahumma Yaa Ghaffar,

Kami menyadari sudah banyak nikmat MU kepada kami. Namun terkadang kami selalu lupa mensyukurinya. Kami sadar telah banyak kesalahan dan kezaliman kami lakukan, sadar ataupun tidak, tapi kami lalai memohon ampun. Yaa Rahmanu Yaa ‘Aziizu, ampunilah kami semua. Ampunilah kedua orang tua kami. Bimbing kami dan pemimpin bangsa kami selalu beribadah kepada MU,

Yaa Mujiibu,

Jadikan kami hamba-hamba MU yang selalu beribadah kepada MU, sesuai maksud Engkau menciptakan kami. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Allahumma, Yaa Rahiim, Yaa ‘Aziiz, Yaa Jabbar, Yaa badii’us-samawati wal ardhi, Hindarkan bangsa kami dari keruntuhan karena kelalaian orang-orang bodoh ditengah kami. Berikan kami kekuatan dan ketabahan dalam memikul setiap amanah menciptakan kebahagiaan duniawi dan ukhrawi secara tauhidik, integralistik. Hindarkan kami wahai Rahman, dari perpecahan dan poergaduhan yang akan menyebabkan hilangnya semerbak kami.

Yaa Malikul Quddus, as Salamul Mukminul Muhaimin, Jadikan kami semua hamba yang mencintai Alquran, dan mampu mengamalkan Alquran.

Dengan Alquran ini, Yaa Allah, Engkau telah keluarkan ummat manusia dari kegelapan jahiliyah kealam terang benderang dengan bimbingan hidayah Alquran,

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. (QS.14,Ibrahim:1).

Tiada yang lain tempat kami meminta, hanyalah Engkau semata. Tiada yang lain yang kami sembah, kecuali hanyalah Engkau saja.


[1] bacalah maksud dari firman Allah pada QS.2, al Baqarah: 185

[2] Lihatlah makna terkandung didalam Qs.107, al Maa’uun: 1-3.

Kemiskinan

Sumatera Barat, dengan akar budaya Minangkabau, sangat intens (basitungkin) dalam mengantisipasi berkembangnya kemiskinan. Akan tetapi luas dan letak tanah di Minangkabau sebenarnya kurang bersahabat. [1]

Perlulah pula dimaklumi, sebahagian dari luas lahan dimaksud, sudah didiami anak kemenakan warga transmigrasi. Sejak dari Pasaman, Sitiung, Lunang-Silaut, Solok Selatan. Sebahagiannya pula diolah oleh perusahaan-perusahaan perkebunan, yang menyebar dari Pasaman hingga ke batas Mandailing (Tapsel). Dari Sijunjung hingga ke batas Jambi dan Riau. Begitu pula mendekat batas Bengkulu, di ujung Pesisir Selatan.

Tanah yang tadinya berada dalam status tanah ulayat Nagari, atau dalam sako pusako tinggi, pelan-pelan berangsur tergeser. Mengiring gerak roda pengembangan wilayah.

Secara keseluruhan tanah-tanah kosong tadinya, kini mulai ditanami. Pelan-pelan tetapi pasti, menjanjikan mutiara hijau di kepingan wilayah Sumatera Barat.

Mulai dari tanaman sawit, karet, cokelat, lada/merica, kulit manis, hingga ketela pohon (ubi kayu).

Masa doeloe seketika tanah-tanah itu belum diolah, hanya dijadikan anak kemenakan sebagai hutan tempat mencari kayu api. Paling tinggi tempat simpanan kayu pembuat rumah atau untuk mencari akar-rotan.

Persawahan atau perladangan anak nagari semasa itu, merupakan hasil taruko ninik-mamak. Sawah bajanjang bapamatang dan ladang babiteh babentalak. Dari mamak turun ke kemenakan. Begitulah seterusnya.

Letaknyapun di sekeliling Dusun Taratak. Bahkan ada yang berada di keliling rumah tempat diam.

Perkembangan dusun menjadi desa, dan nagari masuk lurah, anak kemenakan ikut bertambah. Rumah kecil tak mampu lagi menampung jumlah cucu dan cicit. Bangunan barupun ditegakkan, tanah persawahan menjadi satu-satunya pilihan untuk batagak rumah baru.

Manaruko hutan menjadi sawah, tidak lagi merupakan kebiasaan masa kini. Sebaliknya yang terjadi, mengurangi areal persawahan menjadi lokasi perumahan.

Di sinilah ditemui kritisnya masalah peternakan jika dikaitkan dengan sumber pendapatan pertanian.

Akan tetapi, masyarakat Minangkabau, tidak dapat dikatakan miskin dan belum pula bisa dikatakan berada. Yang jelas, mereka tetap bisa hidup dan bertahan hidup, di areal yang makin terbatas itu.

Keadaan itu memungkinkan, karena adanya peran budaya Minang yang sedari awal intensif mengantisipasi gejala kemiskinan itu.

Antara lain, bunyi pantun.

Karatau madang di ulu,

ba buwah ba bungo balun,

marantau-lah buyuang dahulu,

di rumah paguno balun.

Adanya kebiasaan merantau menjadikan pemuda-pemuda Minangkabau (Sumatera Barat), mencari hidup di lahan orang lain. Modalnya keyakinan, kemauan dan tulang delapan karat.

Sementara itu, sang dara (gadis/remaja putri) Minangkabau, tidak pula dibiarkan hidup cengeng. Mereka diajar bertani, merenda, menjahit, menyulam, dan berbagai kepandaian puteri lainnya. Yang sungguhpun, dirasakan bahwa kepandaian-kepandaian semacam itu, kini mulai terasa langka.

Kalaulah kemiskinan yang ada, tidak dirasakan sebagai bahaya, itu hanya disebabkan karena pandainya batenggang.

Sesuai bunyi pantun;

Alah bakarih samporono,

Bingkisan rajo majopaik,

tuah basabab bakarano

pandai batenggang di nan rumik.

Selanjutnya, kepandaian batenggang itu digambarkan dalam pantun lainnya;

Latiak-latiak tabang ka pinang,

hinggok di pinang duo-duo,

satitiak aie dalam piriang,

di sinan ba main ikan rayo.

Falsafah budaya ini, bukannya menelorkan masyarakat yang statis. Sama sekali tidak. Bahkan melahirkan sikap jiwa yang digjaya. Satu iklim jiwa (mentalclimate) yang subur. Bila pandai menggunakannya dengan tepat, akan banyak membantu dalam usaha pembangunan sumber daya manusia di ranah ini.

Sifat egoistis, memang kurang diminati dalam budaya Minangkabau. Membiarkan kemelaratan orang lain, dengan menyenangkan diri sendiri, mungkin merupakan sikap yang tak pernah diwariskan. Yang ada, hanyalah tenggang manenggang dan raso jo pareso. Menurut bahasa halusnya alur dan patut.

Mengatasi masalah kemiskinan ditengah kelembagaan masyarakat Minangkabau, terlihat dari usaha dan perhatian khusus terhadap kemakmuran lahiriyah (material).

Ungkapan itu jelas tersimak dalam untaian pepatah yang menyibakkan arti kemakmuran itu.

Rumah Gadang gajah maharam

Lumbuang baririk di halaman

Rangkiang tujuah sa jaja

Sabuah si Bajau-bajau

Panenggang anak dagang lalu

Sabuah si Tinjau Lauik

Panenggang anak korong kampuang

Birawari lumbuang nan banyak

Makanan anak kamanakan

Manjilih di tapi aie

Mardeso di paruik kanyang.


Berencana Berhemat

Untuk mewujudkan terpeliharanya kondisi dimaksud, diingatkan sungguh pentingnya perencanaan dan penghematan. Perencanaan yang jauh jangkauannya ke depan, dengan pengkajian potensi yang tengah dimiliki. Penghematan dengan tujuan bisa memahami situasi, untuk mendukung berhasilnya sebuah program yang tengah dikembangkan.

Perhatian yang dalam maknanya ini, terungkap di dalam kalimat-kalimat;

Ingek sabalun kanai

Kulimek sabalun abih

Ingek-ingek nan ka pai

Agak-agak nan ka tingga.

Maka, melupakan dan mengabaikan nilai-nilai luhur budaya ini, akan berarti satu kerugian. Membangun kesejahteraan sebagai upaya mengantisipasi kemiskinan, bertitik tolak pada pembinaan unsur sumber daya manusia.

Memulainya dengan cara sederhana. Dengan apa yang ada. Yaitu potensi alam yang terbatas, dan menggerakkan potensi yang terpendam di dalam sumber daya manusianya. Terutama di pedesaan-pedesaan.

Mengembalikan kepada benih-benih kekuatan yang ada di dalam dirinya masing-masing. Melalui usaha-usaha yang terpadu serta berkesinambungan. Dengan mempertajam daya observasi, dan meningkatkan daya pikir masyarakat pedesaan dimaksud.

Usaha itu berkelanjutan dengan mendinamisir daya gerak serta memperhalus daya rasa. Kemudian meningkat pengembangan daya cipta, dan menumbuh bangkitkan daya kemauan mereka.

Supaya dapat dikembalikan kepercayaan kepada diri sendiri. Dan ditumbuhkan kemauan untuk melaksanakan sikap mandiri (self help). Sesuai bimbingan Allah:

„Allah tidak akan memberikan perubahan terhadap apa-apa dengan satu kaum, sampai kaum itu berupaya melakukan perubahan (perbaikan) terhadap sikap jiwa (apa yang ada) dalam diri mereka sendiri.“. (Ar Ra’d, 13:11).

Kita rasanya tidak perlu segan menyatakan bahwa wangsa Minangkabau hampir seratus persen penganut Islam. Sungguhpun, barangkali satu dua sudah ada yang berpindah keyakinan mereka, karena perpustakaan musim atau pergantian nilai-nilai kebudayaan.

Begitu eratnya jalinan adat dan agama ini, melahirkan pilinan adatnya bersendi syara’, syara’ bersendikan Kitabullah.

Islam yang mengajarkan nilai-nilai ukhuwah terjalinlah berkulindan dengan kebiasaan luhur.

Senteng babilai/Kurang batukuak

Batuka ba anjak/Barubah basapo.

Sebagai pengalaman amar ma’ruf, nahi munkar dalam ajaran agama yang dianut.

Anggang jo kekek bari makan

Tabang ka pantai ka duo nyo

Panjang jo singkek pa ulehkan

Makonyo sampai nan dicito.

Adat hidup, tolong manolong. Adat mati, janguak manjanguak. Adat lai, bari mambari. Adat tidak, salang manyalang (basalang tenggang).

Begitulah yang terjadi, sehingga dalam kehidupan seharian, terlihat nyata dalam perbuatan. Karajo baik ba imbauan, Karajo buruak ba hambauan.

Kalau dalam perkembangan zaman, kebiasaan-kebiasaan lama ini mengalami proses pergeseran nilai-nilai budaya asing.

Akan tetapi tetap diyakini, bahwa nilai-nilai budaya Minang itu, tidak hilang dan tidak pula habis.

Ini jelas merupakan sebuah potensi yang bisa digerakkan.

Dalam kaitannya dengan budaya merantau, terbentuklah pula ikatan-ikatan keluarga di perantauan. Sedari ikatan, dalam hubungan saparuik hingga se taratak, dusun nagari. Sampai kepada lingkungan wilayah yang luas, dari Sikiliang air Bangih, dari ombak nan badabua, sampai ka durian di takuak rajo. Artinya meliputi wilayah adat dan nilai budaya Minangkabau.

Tujuannya, pada mulanya sekedar ba suo suo. Mempererat hubungan kekeluargaan. Meningkatkan, kepada memikirkan kampuang halaman. Dan berakhir, kepada usaha membangun kampung halaman.

Belum terdata dengan akurat, berapa perbandingan jumlah orang Minang yang di rantau itu. Apakah jumlah mereka sama dengan jumlah yang tengah menetap di kampung. Atau barangkali beberapa kali lipat dari penghuni ranah sendiri.

Telah lama terjadi, bahwa orang kampung ikut menikmati hasil orang rantau. Malah sering tersua, sirkulasi hidup kampung ditentukan dari rantau. Mulai dari pembinaan pribadi keluarga, membangun rumah, menebus sawah, hingga membangun sarana umum milik nagari.

Perencanaan pembangunan nagari, sering tidak dapat dilaksanakan, tanpa diikut sertakan dunsanak yang tinggal di rantau. Begitulah kenyataan yang tersua.

Namun di dalamnya diakui merupakan satu potensi yang bisa dikembangkan.

KEKAYAAN orang rantau, mungkin tidak sebanding dengan modal yang tertanam di kampung (nagari). Karena rantau adalah lahan usaha. Umumnya bergerak dalam bidang usaha perniagaan. Sedikit yang menggarap usaha pertanian. Karena adanya ungkapan, kalau akan bertani juga, mungkin lebih baik mengolah lahan di kampung saja.

Lapangan usaha sebagai ambtenaar kata orang saisuak, sangat diminati orang Minang. Mulai berpalingnya kepada managemen perusahaan-perusahaan swasta. Bahkan dalam usaha mandiri, belakangan ini paling banyak digeluti.

Lapangan usaha itu, banyak menjanjikan pendapatan yang lumayan. Daripada menanti apa yang ditetapkan berbentuk gaji bulanan. Apalagi lapangan di kantor-kantor pemerintah makin hari makin sempit juga. Dan cepatnya gerak pembangunan bangsa, telah membuka lapangan kerja baru. Kejelian mengkaji kesempatan menyebabkan arus mobilitas horizontal menuju rantau, tak mudah di hempang.

Kerasnya hidup di rantau, suatu tantangan yang berat. Diperlukan sikap jiwa yang matang. Di samping kemauan keras, dan tulang delapan karat, dibawa juga falsafah budaya untuk pedoman mengarungi lautan kehidupan rantau.

Falsafah hidup itu, disimak dalam kehidupan keseharian tanah rantau.

Panggiriak pisau si rauik,

Patunggkek batang lintabung,

Salodang ambiak ka nyiru.

Setitiak jadikan lauik,

Sakapa (sekepal) jadikan gunuang,

Alam takambang jadi guru.

Belajar kepada alam, mengambil pelajaran dari perjalanan hidup yang tengah diarungi. Tidak lain adalah seiring bidal pantun;

Biduak dikayuah manantang ombak

Laia di kambang manantang angin.

Nangkodoh ingek kamudi

padoman nan usah dilupokan.

Pedoman dalam menempuh kehidupan itu, dikiatkan;

Hendak kayo, badikik-dikik (hemat)

Hendak tuah, batanua urai (penyantun)

Hendak mulia, tapek i janji (amanah)

Hendak luruih, rantangkan tali (mematuhi peraturan)

Hendak buliah, kuat mancari (etos kerja yang tinggi)

Hendak namo, tinggakan jaso (berbudi daya)

Hendak pandai, rajin belajar (rajin dan berinovasi)

Dek sakato mangkonyo ada (kerukunandan partisipatif)

Dek sakutu mangkonyo maju (memelihara mitra usaha)

Dek ameh mangkonyo kameh (perencanaan masa depan)

Dek padi mangkonyo manjadi (pemeliharaan sumber ekonomi)

Tidak mengherankan, bila tantangan berat di rantau mampu diatasi. Dan sesuatu yang paling menarik, bahwa perantau sanggup mengolah pekerjaan apa saja asal halal. Tidak memilih pekerjaan, dengan motivasi hidup yang tinggi. Kondisi ini membuka peluang kepada percepatan mobilitas vertical dalam bentuk peningkatan pendapatan.

Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu.

Nan gurun buek ka parak, Nan bancah jadikan sawah.

Nan padek ka parumahan, Nan munggu pandam pakuburan.

Nan gaung katabek ikan, Nan padang kapangimpauan.

Nan lambah kubagan kabau, Nan rawang ranangan itiak.

Begitulah pemeliharaan dan pemanfaatan sumber daya alam, secara optimal, untuk kesejahteraan ummat manusia.

Kekayaan nilai-nilai seperti itu, merupakan modal besar. Dan telah memberikan motivasi yang kuat, dalam upaya mengentaskan kemiskinan di ranah ini. Setidak-tidaknya berperan aktif memintasi, agar kemiskinan itu tidak meruyak. Sungguhpun kenyataan bahwa pengentasannya tidak berubah drastis.

Benteng Tawazunitas

Perubahan tata kehidupan secara ekonomis, di tengah perkembangan iptek memang satu keharusan. Perubahan itu tidak bisa ditolak, dan dia akan bergerak terus. Karena diyakini, dunia itu berisi perubahan-perubahan.

Jika manusia menjadi statis di tengah dinamika perkembangan, maka yang akan ditemui adalah penderitaan.

Yang perlu dipertimbangkan di tengah perubahan-perubahan itu, obyektifitas-nya.

Apakah manusia akan menjadi obyek dari perubahan itu? Ataukah, manusia akan berperan aktif memanfaatkan perubahan-perubahan itu, untuk peningkatan mutu kehidupannya. Baik dalam bidang material, ataupun emosional (kejiwaan).

Jawaban ini, akan banyak tergantung dari kesiapan watak, dari manusia yang menghadapi perubahan-perubahan dimaksud.

Yang paling tepat barangkali, adalah manusia memanfaatkan perubahan-perubahan, untuk diri mereka. Dan kurang manusiawi, jika manusia diperbudak oleh perubahan-perubahan itu. Yang lebih maknawi, bahwa manusia akan berusaha memilih dan memilah perubahan (inovasi) yang datang. Terapannya adalah, tepat guna dan bernilai guna.

Ukurannya, dalam manfaat nilai lebih, tanpa mengorbankan nilai-nilai positif yang hakiki, yang sebelumnya telah dipunyai. Dalam kata lain bisa diungkapkan, bahwa perubahan-perubahan (kemajuan) iptek yang mendunia (globalisasi), tidak perlu mengorbankan nilai-nilai adat maupun keyakinan (agama), dari pengendali iptek (manusia) itu.

Peningkatan tingkat kehidupan (ekonomi), tidak perlu mengorbankan kegotong royongan, umpamanya. Sikap jiwa saling memuliakan, tidak perlu diganti dengan egoistis, (siapa lu, siapa gua). Sebagaimana pernah menjangkiti kehidupan masyarakat lainnya. Akhirnya bisa berkembang kepada hilangnya kepedulian sosial.

Kita memerlukan benteng-benteng kejiwaan yang kuat. Di antaranya adalah pemeliharaan nilai keseimbangan atau disebut juga tawazunitas, menurut istilah agama.

Nilai budaya Minang mengingatkan, „sekali aie gadang sekali tapian barubah“. Yang berubah itu hanya tapian saja. Kebiasaan-kebiasaan ketepian, tapi berlaku sebagaimana biasa. Bukan berarti datangnya perubahan (aie gadang), lantas tepian pun ditinggalkan.

Yang diajarkan adalah perubahan akan selalu ada. Bahkan, dalam menghadapi setiap invasi yang akan datang, selalu diingatkan. Jangan bertemu hendaknya, „Jalan dialih urang lalu. Tepian diasak urang mandi.“.

Untuk ini diperlukan keteguhan sikap dan pendirian.

Kita tidak dapat membayangkan, bentuk masyarakat macam apa jadinya, kalau nilai-nilai (norma-norma) sudah menipis. Perlu dipertanyakan. Apakah generasi kini, atau yang akan datang masih dipersiapkan memiliki nilai-nilai budaya mereka? Masihkah nilai-nilai (norma) hukum mereka pertahankan?

Masihkah, norma-norma agama (nilai agama) mereka minati? Masihkah, nilai-nilai kebiasaan bermasyarakat menjadi kegandrungan untuk dipelihara? Bagaimana, hubungan riil yang terjadi?

Kecemasan ini beralasan sekali. Karena berkembangnya kecenderungan kehidupan serba boleh (permissive society). Yang dipertahankan adalah hak. Dan melupakan pentingnya terlebih dahulu melaksanakan kewajiban. Nilai agama dan budaya, pada dasarnya berisikan „Declaration of Human Duties“ itu. Berisikan piagam dasar kewajiban-kewajiban asasi manusia (masyarakat).

SUNGGUHPUN ukuran kelayakan telah mengalami perubahan, beriring dengan kadar perkembangan. Akan tetapi, ukuran baik dan buruk, boleh dan tidak, acuan kepantasan (normatif, manusiawi, kemasyarakatan), harus tetap dipertahankan. Diantara ukuran yang kita miliki adalah alur dan patut.

Jiko mangaji dari alif, jiko babilang dari aso.

Jiko naik dari janjang, jiko turun dari tanggo.

Memulai dengan apa yang ada.

Kita wajib bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta ‘ala, atas mulai meningkatnya taraf kemakmuran masyarakat, dengan ukuran materi. Tetapi kenaikan pendapatan masyarakat ini, menjadi tidak sebanding, dengan kebutuhan yang meningkat deras. Akibatnya pendapatan yang tadinya sebatas pemenuhan kebutuhan primer (pangan, sandang, papan), terserap oleh kebutuhan lainnya (sekunder, prestise).

Pemilihan mana yang pokok menjadi kabur. Tersebab ukuran keseragaman kehidupan, mulai menjalar di tengah kelompok masyarakat (desa).

Sering bertemu, kesalahan arah dalam menentukan pilihan. Kebutuhan mana yang didahulukan. Sering pula dikaburkan oleh dorongan bisa mendapatkan lebih mudah. Melalui hutang (kredit) tanpa jaminan, yang menjalar hingga ke pelosok-pelosok dusun.

Tanpa disadari, bahwa garis yang tadinya dibuat, mau tak mau terlintas. HIngga bayang-bayang tidak lagi sepanjang badan. Dan kemiskinan yang ditakuti itu, kian hari kian tinggi. Dan si miskin pun kian terperosok jauh ke dalam. Jumlahnya pun makin bertambah.

Di antara lain, penyebabnya karena tidak adanya sumber penghasilan yang ketat. Kehidupan desa yang tadinya hanya mengandalkan hasil pertanian, besarnya tetap segitu gitu juga.

Pengentasan hanya dimungkinkan, dengan terbukanya sumber pendapatan yang bervariasi.

Misalnya perkebunan atau peternakan. Bagi daerah-daerah tertentu, bisa dikembangkan pertukangan, kerajinan rumah tangga. Bahkan di pantai-pantai, dapat juga berbentuk nelayan, atau perikanan.

Di beberapa daerah (wilayah), kesempatan membuka lahan usaha ini sudah mulai tampak Pasaman sebagai contoh, kini mulai bergerak ke arah perkebunan besar kelapa sawit. Ribuan hektar banyaknya. Perusahaan-perusahaan besar nasional telah lama mulai menggarapnya. Diperbanyak jumlahnya oleh perusahaan agribisnis yang ada di daerah sendiri.

Tanahnya tadi adalah tanah ulayat. Diserahkan sebagai konsesi melalui izin usaha. Bahkan ada yang langsung dialihkan dengan pemindahan hak melalui jual beli.

Begitu juga di Sitiung (Sijunjung) daerah transmigrasi. Sekarang mulai dilirik Lunang-Silaut (Pesisir Selatan).

Beberapa daerah lainnya, seperti Alahan Panjang, Bidar Alam, Sungai Kunyit (daerah Solok Selatan) yang berbatasan Jambi, telah pula berkembang ke arah perkebunan Sawit, Karet, Teh dan Cokelat.

Daerah Limapuluh Kota misalnya, selain perkebunan teh Halaban, mulai pula ke Baruh Gunung, dan Suliki Gunung Emas. Kebun karet rakyat dan pengempaan gambir, mulai agak bernafas dengan leluasa.

Di kaki Gunung Sago dan Gunung talang, mulai bergerak perkebunan rakyat lainnya. Ada yang berbentuk kulit manis, murbei, markisa. Dan juga tanaman palawija, sedari lobak, kentang, bawang merah dan putih.

Sebenarnya semua ini, adalah penghasilan yang lumayan, bisa berguna dalam mengentaskan kemiskinan masyarakat pedesaan.

Idealnya, masyarakat pedesaan itu harus berani memulai. Memulai dengan apa yang ada. Karena yang ada itu sudah cukup untuk memulai. Potensi besar yang dimiliki, yang ada itu, adalah telapak tangan dan potensi alam anugerah Allah.

Dengan sedikit bimbingan pengetahuan, dan manajemen perusahaan, semua potensi yang potensial itu, niscaya kalau digerakkan akan merupakan potensi yang riil.

Maka seharusnya dan semestinya-lah perusahaan perkebunan besar di sentra-sentra tadi, mulai membangunkan untuk rakyat pedesaan warga setempat, perkebunan-perkebunan mini.

Secara selektif, dipilihkan masyarakat desa yang tidak berpunya. Hingga mereka menjadi orang berpunya, (dalam hal ini minimal sebidang perkebunan yang telah jadi).

Ada sebuah gejala yang mulai terlihat mengenaskan. Yaitu, menurunnya tingkat penghidupan penduduk desa, di sekeliling daerah perkebunan atau daerah transmigrasi.

Penduduk desa yang tadinya memiliki ulayat, sekarang bahkan ada yang tidak mempunyai sekeping tanahpun, untuk diolah mereka sebagai lahan usaha. Kalaupun ada, modal pengolahan (materil dan pengetahuan) sangat minim sekali.

Kehidupan masa depan mereka, jadinya kabur dan mungkin saja hilang.

PROSES kemiskinan bergerak tumbuh lebih cepat dari tumbuhnya komoditas perkebunan yang ditanam.

Maka, mengutamakan “peserta” perkebunan, dengan mendahulukan penduduk desa sekelilingnya menjadi lebih mendesak. Hendaknya jangan timbul penduduk “desa siluman”, yang memetik hasil dari lingkungan desa, tetapi membiarkan penduduknya tetap merana. Program PIR yang sudah ada, hendaknya lebih selektif disasarkan kepada penduduk yang beul-betul miskin.

Melalui program terpadu semacam ini, pengentasan kemiskinan niscaya bisa di-entaskan.

Hal yang sama, bisa dikembangkan pula pada sentra lain-lain. Melalui periklanan, nelayan, pertukangan, home industri, atau usaha-usaha serupa.

Sepanjang ranah pesisir, mulai dari Sikilang Air Bangis hingga mendekat Muko-Muko, bisa diperbaiki kehidupan nelayan. Warga nelayang yang miskin, secara berangsur-angsur bisa memiliki perahu-perahu pemukat, mesin tempel (motor boat), jaring-jaring pukat dan peralatan lainnya yang layak dimiliki oleh kehidupan para nelayan.

Peralatan permodalan, berupa mesin jahit, pertukangan, untuk sentra “home industri”, disasarkan juga kepada kelompok miskin.

Sungguhpun usaha ini telah dilakukan pemerintah. Tetapi keikut sertaan seluruh unsur masyarakat desa dan rantau perlu lebih dipadukan. Peranan informal leader amat menentukan.

Yang penting adalah, membuat kiat bagaimana kesejahteraan itu bermuara di desa.

Meningkatnya pendapat masyarakat desa, merupakan sumber pendapatan baru bagi masyarakt kota. Rumus ini tidak perlu diragukan lagi.

Membentuk desa binaan merupakan langkah awal yang perlu diwujudkan. Usaha ini seiring sungguh dengan garisan Allah Subhanahu wa Taala.

“Berikanlah kepada karib kerabat (masyarakt keliling, sanak keluarga di kampung halaman) haknya. Begitu pula terhadap orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Janganlah kamu menjadi orang “mubadzdzir” (pemboros, dan melakukan tindakan yang tidak bermanfaat, membuang-buang kesempatan). Karena orang-orang pemboros adalah teman dari Syaithan. Dan syaithan itu sangat inkar kepada Tuhannya.”. (QS. Al Isra’, 17:26-27).

Bukakan Pintu Hati

Kalau disadari, bahwa di keliling kita terserak sumber daya yang besar dari umat, yang sedang terpelanting dan menderita, ada berbagai kelompok dan kedudukan. Diantaranya, Pelajar dan Mahasiswa, bekas pegawai-pegawai Negeri Sipil, Militer, pegawai perusahaan-perusahaan swasta dan guru-guru sekolah partikulir (Madrasah-Madrasah), Masyarakat Tani, pedagang kecil dan buruh kecil. Semuanya adalah sumber daya manusia (SDM) yang besar kontribusinya.

Walaupun diantaranya ada yang invalid, atau yang di tinggalkan oleh yang telah gugur, ada yang menderita tekanan kehidupan, dhu’afak, kehilangan rumah atau pekerjaan. Kesemuanya merupakan kekuatan masyarakat yang perlu di bina untuk ikut berperan aktif dalam proses kehidupan bangsa ditengah bergulirnya roda pembangunan (development) itu. Untuk menghimpunnya, diperlukan usaha dengan berbagai upaya, baik yang bersifat psychologis ataupun technis. Langkah pertama, adalah buka kan “pintu hati” dan “pintu rumah” bagi mereka yang memerlukan bantuan dalam rangka pemulihan kehidupan. Tunjukkan minat kepada mereka dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.

Andaikata belum mampu memberikan bantuan sewaktu itu juga, sekurang-kurangnya sokongan moril harus diberikan. Hidupkan harapan mereka kepada kekuatan kerahiman Ilahi, suburkan kepercayaan mereka kepada kekuatan yang ada pada diri mereka sendiri, dengan hati yang tulus ikhlas.

Hati yang lebih tulus dan pikiran yang jernih serta lega akan kembali mengisii harapan. Upaya ini niscaya akan menambah himmah (gita dan minat) untuk bekerja terus. Sekurang-kurangnya, akan menambah daya tahan umat untuk menghindarkan diri dari tindakan menyalahi hukum Syar’iy, maupun urusan duniawi. Sekali-kali jangan ditinggalkan umat dengan bermacam-macam perasaan tak tentu arah. Tanpa pegangan yang pasti, umat akan patah hati dan semangat untuk bisa menjumpai kita kembali.

Kriteria untuk merebut suatu keberhasilan oleh seorang pemimpin, dalam semua level kedudukannya, adalah selalu berada ditangah umat yang di pimpinnya. “TIAP-TIAP KAMU ADALAH PEMIMPIN, DAN TIAP-TIAP PEMIMPIN AKAN DIMINTA PERTANGGUNGAN JAWAB ATAS YANG DIPIMPINNYA”(Al Hadist Riwayat Al Bukhary, dari Abdullah Ibn Umar) Begitu peringatan Rasulullah SAW.

Pemikiran (ide) seorang pemimpin walaupun belum selalu komplet dan limitatif, menjadi tidak terbatas bila berpadu dengan pengalaman. Pengalaman disertai kearifan membaca kondisi keliling merupakan pelajaran sangat berharga sebagai penggugah dan pengantar pemikiran. Pengalaman serta daya pikir dan daya cipta, bila dipadukan akan sangat bermanfaat untuk menciptakan kesempurnaan dalam praktek.

Sambil berjalan kumpulkan data pengalaman sebanyak mungkin, karena tindakan seperti ini bukan barang lama, tidak pula ilmu baru. Syukurlah, bila ada kesadaran akan kenyataan bahwa semua hal baru dapat di kerjakan oleh semua orang, asal mau. Semua barang yang lama itu tetap akan baru, selama sesorang belum mengerjakannya. Yang terpenting selalu mencoba untuk membangkitkan kreativitas dalam berusaha. Sebagai upaya inovatif untuk tetap bersemangat dalam menjalani roda kehidupan ini.

Barangkali juga dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya. Semboyan amal itu seharusnya adalah; “Yang mudah sudah dikerjakan orang, Yang sukar kita kerjakan sekarang, Yang “tak mungkin” dikerjakan besok” Demikian diantara pesan Bapak DR.Mohamad Natsir (1961).

Dengan mengharapkan hidayat Ilahi, mari kita sahuti panggilan Allah SWT, “Katakanlah : Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat”!

Gerakkan Potensi Ummat

Selalu saja menjadi pertanyaan yang agak sulit dijawab. Tentang darimana bisa diambilkan dana bagi pengentasan kemiskinan itu.

Pertanyaan selanjutnya, siapa yang berkompeten melaksanakan usaha pengentasan kemiskinan tersebut?

Bagaimana memulainya? Dan apakah kira-kira usaha itu akan berhasil segera? Barangkali, banyak lagi pertanyaan lainya yang mungkin tumbuh sesudah itu.

Harus diakui secara sadar, bahwa “pengentasan kemiskinan” itu, bukanlah pekerjaan mudah. Tidak semudah mengucapkannya. Dan hasilnya, juga tidak bisa cepat, drastis dan sekali jalan.

Secara berangsur-angsur, adalah pasti. Sesuai hukum alam, sebagai satu “sunnatullah” yang telah digariskan. Yaitu, “thabaqan ‘an thabaq”, atau “selangkah demi selangkah”.

Jika tidak seluruhnya bisa berhasil, bukan berarti pula seluruhnya tidak dikerjakan. Kerjakan juga mana yang mungkin. Inilah dasar dari optimisme cita luhur itu.

Pandangan ajaran Islam lebih tegas lagi. Setiap muslim, tidak dibebaskan membiarkan saudaranya (tetangganya) kelaparan di sampingnya. Sementara dia tidur kekenyangan. Begitu jelasnya ajaran Rasulullah, Shallallahu alaihi wa sallam.

Karena itu, tugas ini menjadi beban setiap Muslim yang berada. Fii amwalihim naqqun ma luum. Di dalam hartanya, ada hak orang lain. Hak itu berupa infaq, shadaqah dan zakat.

Zakat sebagai sumber dana ummat (Islam), pernah berperan membiayai perjuangan kemerdekaan. Lihatlah, bagaimana gencarnya pengumpulan zakat, untuk pembeli senjata, pemberli pesawat udara (Seulawah satu). Dimasa kita berjuang mencapai kemerdekaan dimasa penjajahan kolonial Belanda dahulu (1945).

Jauh sebelumnya, bahkan hingga kini, zakat merupakan satu sumber pembangunan bidang pendidikan (agama). banyak Madrasah, pesantren, yang telah dibangun dengan “dana zakat” itu.

Masjid dan Mushalla, barangkali adalah pembuatan toko, kebun, kapal atau pabrik dengan uang zakat. Dan hasilnya diperuntukkan bagi kepentingan si miskin.

Untuk melakukan studi banding, beberapa negeri tetangga telah lebih dahulu melakukannya.

Mesir, sudah lebih dari seribu tahun mengelola uang zakat, untuk penguasaan tana-tanah produktif (pertanian), dan sarana-sarana ekonomi (perdagangan, dan pabrik-pabrik). Hasilnya samapai hari ii, menyantuni lembaga pendidikan tertua Al Azhar. Tidaklah berlebihan bila disebutkan bahwa Institut Al Azhar Mesir ini, merupakan institut terkaya, yang mengelola harta waqaf dan zakat.

Bagaimana soalnya dengan kontraktor? Masihkah zakat dikeluarkan sebagai halnya petani? Sebahagiannya, ada yang mempersoalkan bahwa mereka terikat beban hutang dengan bank.

Bagaimana pula dengan bank-bank, yang sekarang telah menjadi perusahaan (PT)? Adakah mereka mengeluarkan zakat?

Pertanyaan juga kepada para pegawai, yang jika dihitung, ada yang mendapatkan gaji, rendahnya Rp. 2,4 juta per tahung? Bahan ada yang lebih, hingga 50 sampai 100 juta? Atau yang yang menengah saja, sekitar Rp 12 juta setahun? Masihkah dipersoalkan, bahwa kami masih dihimpit hutang, karana pembelian mobil dan lain-lainnya, sampai dua atau tiga buah?

Secara sederhana, bisa dimulai menghitungnya. Berapa besar DIP yang diberikan pemerintah pusat untuk daerah Sumbar tahun ini. Semuanya jelas dikerjakan oleh kontraktor (perusahaan). Kalaulah 2,5 persen dikeluarkan dalam bentuk zakat, barangkali kita memiliki sumber dana sekian milyar rupiah.

Kalaulah 2,5 persen pula dari keuangan perusahaan besar seperti PT Semen Padang, PT Bank-bank, dan PT-PT lainnya, maka akan bertambah pula sekian ratus juta rupiah, pertahunnya.

Menghitung, memang lebih mudah daripada memungut atau mengeluarkannya. Disinilah peluang kerja bagi BAZIS. Dan, seharusnya BAZIS itu, menjadi perencana, penghitung, pembagi, dan penggerak. Semacam badan perencanaan pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Penyedia istimewa (sumber pendapatan) bagi orang-orang yang perlu diangkatkan.

Begitulah angan-angan yang gerangan perlu dikembangkan.

GEBU MINANG, bisa juga berperan mulai dari rantau. Badan amal ini bisa bertindak sebagai penggerak pula, untuk mewujudkan Desa-desa Binaan. Mungkin dengan mengeluarkan obligasi dan mengajak pihak-pihak berpunya, untuk menanamkan modalnya bagi kesejahteraan anak kemenakan di kampung halaman.

Mungkin sekali, mengajak kerjasama “Bank Muamalat Indonesia”, dalam bentuk syarikat usaha. Berbagai hasil kelaknya, dengan mengawali pada berbagai tugas dan kerjaan.

Masyarakat Minang terangnya adalah masyarakat muslim, yang bagi mereka adat dan agama Islam berjalin-berkelindan. Adatnya bersendi syara’ , dan syara’ bersendi Kitabullah (Al Quran).

Masjid dan Mushalla, serta Lembaga-lembaga Agama Islam, yang selama ini telah berperan sebagai ujung tombak “pengumpul zakat”. Bisa lebih difungsikan, dengan memberikan mutu dan kualitas ummat Islam sendiri.

Akhirnya, “mass-media”, bisa dimintakan partisipasinya pula. Terutama dalam pengumuman dan pelaporan setiap kegiatan pengumpulan dan pemanfaatan dana-dana ummat. Tentu secara berkala dan bertanggung jawab.

“Apa yang bisa dilakukan di sini” adalah awal dari gagasan tulisan ini. Kalimat itu juga mengakhirinya. Terpulanglah kepada kita, darimana akan dimulai. Menggerakkan potensi ummat dengan mengharap ridha Allah, adalah tujuan utamanya.

“Allahumma zidha ‘ilman”. Wahai Allah, tambahlah ilmu kami. Ilmu yang bermanfaat yang bisa dikembangkan, bisa diaplikasikan menjadi kenyataan. Karena Engkau tela berfirman,”Sesiapa yang telah Engkau berikan hikmah (yakni ilmu yang bermanfaat, bisa diterapkan untuk menciptakan kemaslahatan ummat banya, atas dasar ridha Engkau). Berarti mereka telah Engkau anugerahkan kebaikan yang besar.” (Al Quran)


PENGENTASAN kemiskinan, dengan pengertian usaha bersama-sama mengurangi tingkat kemiskinan perlu ditampilkan. Perlu dipentaskan. Karena usaha mengatasi kemisikinan di tengah kehidupan ummat, sesungguhnya merupakan usaha yang mulia.

Agama Islam, dengan mempedomani Al Quran dan Sunnah Rasulullah selalu memberikan perhatian yang besar serta berkesinambungan terhadap masalah sosial ini. Ajaran Al Quran amat memperhatikan usaha-usaha penanggulangan kemiskinan.

Tidak diragukan lagi, ayat-ayat pertama dari Mashhaf Al Quran, memberikan ciri-ciri sifat dan sikap seorang Muttaqin (orang yang bertaqwa). Diantaranya, orang yang percaya kepada Yang Ghaib (Allah), mendirikan shalat serta membelanjakan sebahagian rezekinya (hartanya) untuk kemaslahatan ummat banyak. Artinya, memberikan perhatian penuh terhadap kehidupan orang-orang miskin. Seperti tertera dalam Wahyu Allah, Surat Al Baqarah, 2 : 3 (Al Quran).

Karena itu, seorang Muslim seyogyanya tidak perlu merasa sungkan dan segan, dalam berusaha mementaskan setiap usaha ke arah pengentasan kemiskinan.

Al Quran yang menjadi pedoman setiap Muslim (jumlah kita diakui terbanyak di Dunia ini), seyogyanya mengambilkan pelajaran tentang cara-cara yang diajarkannya guna mengentaskan kemiskinan ummat.

Karena sudah pasti, yang terbanyak di antara ummat yang berada di bawah garis kemiskinan itu, tentulah Muslim pula.

Al Quran menceritakan, di kala seorang kafir (yang menolak ajaran Allah), dimasukkan ke dalam neraka, mereka ditanya, Apa sebabnya mereka tercampak ke dalam kehinaan (Neraka) ini. Jawabnya karena, pertama, Kami bukanlah termasuk golongan orang-orang yang shalat.

Kedua, Kami tidak hendak memberi makan orang miskin.

Ketiga, Kami asyik membicarkan kebathilan. Tanpa berusaha sedikitpun menghapus kebathilan itu. Habis hari karena berbincang. Tak ada waktu tersisa untuk mengubah kepincangan-kepincangan.

Keempat, Kami mendustakan hari pembalasan (hari akhirat). Keyakinan mereka hanya terpaut kepada hal-hal duniawiyah semata. Yang ada hanya pemikiran masa kini, di sini. Tidak ada sama sekali berpikir dan berbuat untuk hari esok. Hari yang pasti didatangi setiap diri. Nanti, setelah mati.

Keterangan tersebut jelas diterangkan Allah dalam Firman Nya, Al Quran Surah ke 74, Al Muddatsir ayat 40 – 47.

Yang menjadi titik perbincangan adalah memberi makan orang miskin.

Ruang lingkungan luas. Termasuk memberi makan, juga adalah menyiapkan sumber atau lahan usaha bagi si miskin. Hingga setiap saat mempunyai harapan dari hasil garapannya. Mereka tidak lagi disibukkan mengumpulkan sesuap nasi atau setekong beras untuk makan gari ini. Tapi, sudah mempunyai sumber usaha yang menghasilkan makan setiap hari. Untuk dirinya sendiri dan untuk keluarganya pula. Jadi, usaha melahirkan kemandirian.

Secara konvensional, yang disebut miskin itu peminta-minta. Dia tidak punya kerja, kecuali hanya meminta-minta. Sungguhpun mereka punya hak untuk meminta-minta kepada orang yang berpunya (lihat Surat Adz Dzariyat, 51:19-20). Tapi sama-sama tidak bermartabat, membiarkan diri selalu menjadi peminta-minta. Atau juga tidak mulia tindakan si kaya yang memupuk terpeliharanya kebiasaan orang yang selalu meminta-minta.

Dalam sebuah ajaran Rasululah Shallallahu ‘alaihi wassalam ditegaskan, “Mencari kayu api ke hutan, mengikatnya dan kemudian menjualnya, (berusaha dengan tangan sendiri, memeras keringat), kemudian hasilnya kamu terima, dan kamu makan berserta keluarga di rumah. Usaha demikian itu lebih bermartabat, daripada kamu berkeliling menengadahkan tangan meminta-minta, diberi ataupun tidak diberi oleh orang lain. Allah lebih senang kepada tangan yang di atas daripada tangan yang di bawah (peminta-minta).

Menelurkan Harga Diri.

Umar bin Khattab, memberikan arahan lebih keras. Tatkala dilihatnya seorang pemuda, duduk mendo’a menengadahkan tangan meminta rezeki. Tanpa berusaha meninggalkan pojok dinding Ka’bah. Sedari pagi hingga malam, hanya berseru dengan nada memelas.

“Wahai Tuhan, berilah aku rezeki harta”. Begitulah yang didengar Umar bin Khattab, keluhan remaja yang memiliki tubuh sehat dan otot perkasa.

Dengan nada keras, sembari mengancam dengan mata pedang, Umar mengingatkan,

“Wahai pemuda. Janganlah sekali-kali kamu hanya pandai menengadahkan tangan, meminta-minta diturunkan rezeki harta. Kamu harus tahu, sejak langit berkembang, Allah tidak pernah menurunkan hujan emas dan perak. Gerakkan tanganmu! Allah akan beri kamu rezeki.”.

Peringatan keras ini, memiliki ajaran dan pandangan yang sungguh dalam.

Larangan meminta-minta. Tumbuhkan sikap berusaha. Melahirkan etos kerja yang tinggi. Sebagai pembuka jalan bagi pintu rezeki.

Di sinilah terdapat salah satu kunci. Mengentaskan kemiskinan melalui “pemberian pelajaran”, menunbuhkan “harga diri”. Menumbuhkan “rasa malu” selalu menjadi beban orang lain. Jadi, harus ada program jelas untuk mengubah sikap kebiasaan.

Orang miskin adalah orang yang serba kekurangan. Orang yang berkekurangan lantaran tidak mempunyai apa-apa. Tidak memiliki mata pencaharian. Tidak mempunyai kepandaian dalam mencari nafkah. Mereka perlu dibantu dan diangkatkan derajatnya.

Dicarikan baginya lahan dan lapangan pekerjaan. Dibuatkan untuk mereka sumber pengidupan. Dididik mereka untuk bisa berusaha untuk hidup. Ajarkan mereka arti dan makna “madiri” dalam bentuk perbuatan dan kenyataan.

Lebih halus ta’rif atau definisi yang diberikan Rasul Shallallahu ‘alaihi wassalam, sebagaimana diriwatkan Bukhari Muslim dalam shahihnya.

“Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta (sebagai pemulung), agar diberikan kepadanya sesuap nasi atau sebuah dua biji korma. Tapi orang miskin itu, adalah mereka yang hidupnya tidak layak berkecukupan. Kemudian mereka diberi sedekah, dan sesudah itu mereka tidak pergi lagi meminta-minta kepada orang lainnya.”. (HR. Bukhari dan Muslim, Shahih Insya Allah).

Hadist lainnya menyebutkan;

“Orang miskin itu, hanyalah orang yang menjaga kehormatannya.”.

Mereka perlu mendapatkan perhatian. Terhadap nasib mereka perlu ditumbuhkan kepedulian yang tinggi.

Perangi Kemiskinan,

Kemelaratan dan Kebodohan

Pelunturan kadar ummat Islam lebih banyak disebabkan berjangkitnya wabah „kemelaratan“ dan „kebodohan“, pada sebahagian besar ummat alternatif ini.

Walaupun sebenarnya sinyal Al Quran menyebutkan bahwa posisi ummat itu berada pada papan atas, sesuai Firman Allah ; “Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnasi, ta’muruuna bil ma’rufi wa tanhauna ‘anil munkari, wa tu’minuuna billahi”, artinya sebenarnya kamu adalah umat terbaik yang di tampilkan di tengah kehidupan manusia, karena kamu senantiasa mengajak kepada yang ma’ruf dan menegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah. (QS.

Shibghah (identitas) sebagai „umat terbaik“ itu, tidak akan terwujud bila kadar ummat itu tersungkup oleh kemelaratan (baik secara fisik, materiil, dan keyakinan atau keimanan kepada Allah Yang Maha Esa). Kadar ummat itu pun akan luntur tersebab oleh kebodohan yang membelit seperti kebiasaan meniru apa yang ada pada orang lain tanpa memilih dan memilah bentuk yang akan ditiru itu (kerangka piki­ran, pandangan, dan polah tingkah), dalam fenomena kehid­upan aliran.

Kemelaratan adalah musuh besar kemanusiaan, memelukan perlawanan gigih melenyapkannya, sesuai peringatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam „hampir saja kefakiran (kemelara­tan) itu yang membuka peluang untuk kufur (durhaka dan menolak kebenaran ajaran agama„.

Kemelaratan adalah hasil sikap perbuatan manusia, seperti dalam memenuhi kebutuhan melalui kredit dan riba, dan hilangnya ukuran kepantasan dan kepatutan. Kemelaran juga terlahir karena hilangnya etos kerja, serta berjangkitnya perangai malas dan lalai (syaithaniyah). Kemelaratan, berkembang menjadi wabah di tengah ummat tatkala berdampingan dengan kebodohan.

Kebodohan dalam membuat perhitungan serta pernilaian, terhadap urgensi, efisiensi, dan kurang teliti dalam melakukan pengukuran antara bayang‑bayang dan badan, atau antara pasak dengan tiang.

Pada hakekatnya riba (kredit lunak berbunga besar), atau pinjaman yang salah penerapannya akan berakibat „meningkatnya harga barang yang normal menjadi sangat tinggi“, atau berpengaruh besar terhadap neraca pembayaran antar bangsa, kemudian berakibat melejitnya laju inflasi, akibatnya akan dirasakan pada semua orang pada semua tingkah penghidupan.

Benih malas dominan mewarnai bangsa yang melarat dan bodoh, tumbuh subur pada generasi yang tidak memiliki kemampuan mengatur diri sendiri (mandiri) yang pada giliorannya terpaku pada konsepsi orang yang lebih kuat, membuka peluang eksploitasi manusia di tengah‑tengah manusia yang merdeka. Generasi yang malas dan bodoh mustahil diharap­kan memimpin bangsanya karena tidak memiliki aset apa‑apa (bernilai kosong) untuk dipersandingkan pada arena dunia kompetisi, terutama pada abad dua puluh satu, akan berpeluang dikutak‑katik‑kan orang lain, lantaran terlahir bermentalkan itik yang bisa dihalau hanya dengan sebilah ranting.

Inilah problema yang akan di hadapi di abad mendatang, di saat dunia akan digeluti oleh persaingan yang keras dan perlombaan yang tajam, pada era persaingan bebas. Kebodohan serta segala keterbelakangan yang mendera umat Islam diberbagai belahan dunia saat ini sangat wajar dipulangkan kepada umat Islam. Dia harus benar‑benar menjadikan ajaran Allah sebagai sumber keberkatan kehidu­pannya. Sebaliknya, umat Islam itu maupun sebagai aparat pemerintahan maupun sebagai rakyat biasa, sangat wajar berusaha terus‑menerus menimba ilmu pengetahuan yang ada dalam kitab suci Alquran. Serta menjadikan Alquran benar‑benar sebagai pedoman hidup untuk mencapai kesejahteraan di dunia maupun di akhirat.

Kajian menjadi sangat penting, bila kita sadari bahwa pelunturan kadar ummat Islam di negara ini, akan berakibat fatal bagi hilangnya kekuatan nasional, pada lebih dari 85 prosen penduduk negeri tercinta, Nusantara Indonesia, yang di awali dari hilangnya kesadaran berbangsa dan pudarnya semangat kebersamaan. Kalaulah umat Islam masih saja „mendua“, maksudnya tidak sepenuh hati menjadikan Alqur’an sebagai pedoman hidup, maka selama itu pulalah umat Islam akan ditimpa berbagai macam kegelisahan dengan berbagai bentuk penderitaan. Sebab, umat Islam yang menderita itu, tidak bisa dilepas­kan dari keingkarannya pada kebenaran ayat‑ayat Alqur’an. Oleh sebab itu, marilah kita benar‑benar menjadikan Alqur­’an sebagai pedoman hidup yang membawa kesejahteraan secara keseluruhan. Wallahu a’lamu bis-shawaab.

Fakir dan miskin, adalah bayangan kehidupan yang berbahaya. Bahayanya jelas digambarkan oleh Rasulullah. Beliau berkata, “Hampir-hampir kefaqiran yang membawa kekufuran”. Walaupun tidak selamanya orang kufur itu terdiri dari orang fakir. Atau sebaliknya tidak pula selamanya orang berpunya terjauh dari kekufuran.

Namun, dapat disimak terminologi sosialnya, bahwa kekufuran itu terbuka itu terbuka pada salah satu pintunya kefakiran.

Maka mengatasi kefakiran dan kemiskinan, bermakna menghambat peluang kearah kekufuran. Disini terletak satu peran utama setiap muslim yang mampu. Kewajiban asasi, dalam kaitannya dengan “hablum minan saasi” atau hubungan horizontal antara sesama manusia (Muslim).

Dalam hubungan ini, Ali bin Abi thalib mengandaikan. “Andaikata, kefakiran atau kemiskinan mewujudkan dirinya dalam sosok tubuh seperti manusia, niscaya aku akan cabut pedangku. Aku tebas batang lehernya. Sehingga kemiskinan (kefakiran) itu tidak sempat hidup ditengah kehidupan manusia banyak.”.

Demiakian Ali bin Abi Thalib, mengumumkan perang terhadap kemiskinan (kefakiran).

Akan tetapi Umar bin Khattab, langsung mementaskan di arena kekhalifahan beliau. Bagaimana beliau sendiri berperan langsung dalam mengentaskan kemiskinan di zamannya.

Diantaranya tersebut kisah, bahwa Umar bin Khattab selalu melakukan perjalanan incognito, ke pelosok-pelosok desa, ke gubuk-gubuk reot. Melihat dan meneliti keadaan kehidupan masyarakat kalangan bawah.

Di suatu malam, Umar bin Khattab mendengan suara tangisan anak-anak dari sebuah gubuk. Terdengar pula dendangan ibu menentramkan tangisan anak itu.

Setelah mendekat, Umar bin Khattab meminta izin kepada sang Ibu agar diperbolehkan masuk. Dalam dialog pendek, dari sang ibu didapat penjelasan, bahwa dia berusaha menenangkan tangisan anaknya yang tengah kelaparan. Untuk menghubur dan menenangkan anak menjelang tidur, ibu itu sengaja merebus batu.

Umar bertanya kepadanya, “Wahai ibu, kenapa ibu tidak datang saja kepada Amirul Mukminin (Umar bin Khattab), untuk meminta pangan? Sehingga tidak perlu berbohong terhadap anakmu?”.

Sang Ibu menjawab, “Seharusnya Amirul Mukminin tahu tentang nasib rakyatnya.”.

Umar segera bangkit dan pamit dengan wajah duka. Di dalam hatinya berkecamuk rasa iba dan tanggung jawab. Memang kewajibannya, membela rakyatnya yang miskin.

Dia kumpulkan gandum yang ada dirumahnya. Dimasukkannya ke dalam karung. Dipikulnya sendiri dengan pundaknya. Dibawanya juga di malam hari itu, ke rumah ibu yang merebus baru untuk anaknya yang kelaparan.

Dia masak sendiri gandum bawaannya hingga matang. Siap dihidangkan sebagai makanan yang layak. Dia berikan kepada anak yang tengah kelaparan itu. Diapun bergurau dengan anak itu sampai sang anak tertidur. Tidur bukan karena lapar. Tapi tidur dengan perut berisi.

Demikian salah satu bentuk adegan, bagaimana Umar bin Khattab “mementaskan” usaha-usaha mengentaskan kemisikinan di zamannya.

Yang dapat dipetik dari pementasan itu, usaha-usaha pengentasan kemisikinan, perlu dilakukan secara nyata. Tidak sebatas keinginan dan teori belaka.

Umar bin Khattab menjadi orang yang pertama dalam banyak hal. Pertama mendirikan baitul-maal, (pembagian warisan). Juga pertama kali mengirimkan bahan makanan melalui Laut Merah dari Mesir ke Madinah. Menetapkan pengenaan zakat atas ternak kuda. Menyediakan gudang-gudang yang berisi gandum (bahan pangan) bagi orang-orang yang kehabisan bahan makanan (fakir miskin).

Zakat dan Prinsip

ZAKAT merupakan satu institusi yang dapat dipakai sebagai alternatif bagi pengentasan kemiskinan ummat. Minimal terbatas bagi kalangan Muslim. Di tengah kehidupan sesama muslim.

Atas dasar, “Saling bertolonganlah kamu atas kebaikan dan ketaqwaan”. (QS. Al Maidah, 5:2).

Dengan demikian Al Quran, meletakkan prinsip ta‘awunitas atau partisipatif (saling tolong bertolongan untuk kebaikan dan ketaqwaan). Tidak ada prinsip ta’awunitas itu untuk keburukan maupun kema’shiyatan.

Harus dibedakan, antara zakat dengan infaq dan shadaqah, dalam kaitannya sebagai perintah Allah. Walaupun diakui semuanya merupakan sumber dana ummat.

ZAKAT merupakan dana yang wajib dikeluarkan, wajib di-tagih, wajib di-pungut, dari pemegang dana.

INFAK dan SHADAQAH lainnya (diluar zakat), harus digalakkan untuk dikeluarkan, sebagai alat untuk meningkatkan ukhuwwah (solidaritas) dan jihad ff sabiilillah (peningkatan amaliyah dalam meningkatkan dan mempertahankan aqidah dan kaedah di jalan Allah).

Zakat, sebagaiman halnya shalat, merupakan satu arkaan min arkaanil-Islam. Sendi-sendi dari Islam. Zakat merupakan rukun (sendi) Islam yang ke-empat, setelah syahadatain, shalat, dan shaum (puasa).

Dalam Kitab suci Al Quranul Karim, selalu diseiringkan perintah shalat dan zakat ini. Hingga dapat dikatakan, zakat inilah yang membedakan apakah seseorang itu mukmin atau kafir (munafik).

Orang mukmin yang benar, selain mempercayai hari akhir, serta mengerjakan shalat, dan tidak mempersekutukan Allah, juga seorang pembayar zakat.

Karena Al Quran selalu menghubungkan antara shalat dan zakat, maka para sahabat Rasulullah (salafus-shalih), selalu berperdapat, antara keduanya tidak boleh ada pemisahan.

Al Quranul Karim juga menyebutkan zakat dengan kata-kata shadaqah. Bermakna shadaqah yang wajib. Sebagai pembuktian atas pembenaran perintah Allah, yang melekat pada harta benda seorang mukminin.

Membayarkan zakat kewajiban muslim, sama halnya dengan kewajiban shalat. Maka memungut zakat dari seorang yang berkewajiban zakat merupakan perintah Allah pula. (At Taubah, 9:103). “Ambillah (pungutlah) dari sebahagian harta mereka sadaqah (zakat).

Dalam pelaksanaan pemungutan zakat, harus ada satu badan. Bagi negara-negara Islam, perintah pemungutan datangnya dari Kepala Negara (Amirul Mukminin). Tentu melalui satu penegasan perundang-undangan, sesuai dengan Kitabullah. Untuk daerah kita, bisa dilakukan oleh Baitul Maal atau BAZIS.

Karena itu, dalam pandangan Al Quran (Islam), seorang belum dapat disetarakan dengan orang-orang yang bertaqwa, sebelum dia mengeluarkan sebahagian hartanya (berupa zakat). Tanpa zakat, seseorang terjauh dari rahmat Allah.

Kewajiban Asasi

Tatkala Rasulullah mengirimkan utusan ke Yaman, bernama Mua’adz bin Jabal, Nabi menginstruksikan beberapa patokan yang harus dijalankannya. Antara lain, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam shahihnya.

“Kau akan berada di tengah ummat Ahli Kitab. Ajaklah mereka mengakui, tidak ada Tuhan selain Allah dan Saya (Muhammad) adalah Rasul-Nya.

“Bila mereka menerima (mengakui), beritahukanlah kepada mereka, bahwa mereka wajib melaksanakan shalat lima kali dalam sehari semalam.

“Bila mereka telah menjalankannya, beritahukan pula, mereka diwajibkan mengeluarkan zakat, yang dipungut dari orang-orang kaya dan dikembalikan kepada orang-orang miskin.

Dan bila mereka menjalankannya (shalat dan zakat ), maka kau harus melindungi harta kekayaan mereka itu. Selanjutnya rasulullah menegaskan lagi .

“Dan takutlah kepada doa-doa orang yang teraniaya (diantaranya orang-orang miskin). Karena antara doa orang teraniaya dengan allah tidak ada batas (penghalang)“ (HR.Bukhari muslim, dari Anas Radhiallahu “anhu).

“Aku diperintahkan memerangi manusia, kecuali bila meraka meng-ikrar0kan syahadat, bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul Allah (kemudian) mendirikan Shalat dan membayarkan zakat”. (HR.Bukhari Muslim).

Peringatan Rasullulah lainnya, berbunyi “Bila shadaqah (zakat) bercampur dengan kekayaan laian. Bila harta kekayaan tidak dikeluarkan zakatnya . Kekayaan itu akan binasa “ (HR Bazar dan Baihaqi , liaht Nailul Authar, jilid IV-126).

Jelaslah zakat itu bagi seseorang Mukmin yang memiliki harta kekayaan, memiliki beberapa fungsi ,

1. Perintah Allah (tanda pembenaran syahadat da shalat)

2. Pembesih harta kekayaan

3. Pengentasn Kemiskinan ummat, karena ditujukan kepada orang miskin.

4. Sumber dana ummat, penggunaanya diarahkan kepada obyek tertentu (hasnaf delapan)

5. Pembeda antara Mukmin & Munafik

Kehidupan sehari-hari menberiakan bukti nyata “tidak ada orang yang melarat lantaran mengeluarkan zakat“. Bahkan sebaliknya yang sering bersua, orang kaya (Muslim), akhirnya tidak pernah mengenyan ketentraman , lantaran selalu menahan hak zakat..

Zakat wajib dikelola dengan management yang benar. Sumbernya menjadi jelas, sebagai mana ditetapkan Al-qur’an. Setiap muslim yang mempunyao harta, wajib berzakat. Kewajiban demikian ditentukan berdasarkan batas (hisab) dari segi jumlahnya . Batas juga dari waktu (haul), dalam setahun. Dan batas besarnya kewajiban yang wajib dikeluarkan . Sedari tingkat 2,5 (dua setengah) persen, 5 persen, 10 persen, bahkan ada yang sampai 20 persen dari besarnya kekayaan (hisab).

Penerima zakat, juga dijelaskan dengan tegas. Antaranya Al Quran Surat At Taubah (IX) ayat 60. Ayat dari Firma Allah tersebut menjelaskan penerima zakat tersebut adalah “orang-orang”. Subjeknya kelompok perorangan. Terdiri dari (1) .orang fakir (2) . Orang Miskin (3). Orang (para) Amil (pengelola zakat ). (4). Orang (para) Muallaf yang dibujuik hatinya. (5). Mereka (orang) yang diperhamba (membebaskan perbudakan ). (6). Merka yang dililit hutang (mandi hutang). (7). Jihad dijalan Allah . (8). Dan orang yan gterlantar dalam perjalanan .

“Demikian diwajibkan Allah Maha Tahu Maha Bijaksana (QS 9 : 60).

Lima kelompok dari delapan asnaf ini adalah orang-orang yang amat memerlukan perhatian khusus. Karena mereka tengah berada ditepi jurang kemelaratan. Mereka adalah fakir,miskin, budak yang diperhamba, orang yang dililit hutang dan yang terlantar dalam perjalanan.

Dua kelompok tengah berhadapan dengan medan dakwah illallah . Ya’ni, Muallaf dan fisabilillah. Kelompok yang dengan kesadaran hati mereka menerima Islam, Problema yang dihadapi mereka bukan sedikit. Kadang-kadang berbentuk pengucilan dari kelompok (agama) anutan lamanya.

Mereka cenderung tengah berproses kearah kemiskinan, jika tidak segera diantisipasi.

Sebagaimana juga halnya “fisabilillah “. Merka tengah berjihad. Bisa sebagai pejuang di meda laga, karena mempertahankan aqidah Islamiah. Bisa juga mereka yang tengah berdakwah didaerah sulit.

Ruang lingkup fisabilillah ini cukup luas. Bisa juga mereka yang tengah menuntut ilmu pengetahuan, kemudian berkewajiban kembali ke tengah ummatrnya, membina dan mencerdaskan kel;ingkungannya.

Pada hakekatnya, mereka bukanlah berjuang untuk diri sendiri, tetapi untuk kepentingan orang banyak . Atas redha Allah semata. Maka mereka perlu mendapatkan perhatian yang mendalam.

Kesemua kelompok itu, mendapatkan porsi dari sumber zakat menurut prioritas secara kondisional dan situasional. Pengelolaanya adalah “amil” zakat. Untuk itu, mereka berhak mendapatkan bahagian. Intisarinya agar amanah untuk pihak-pihak yang diprioritaskan, tidak menyimpang kepada yang lainnya . Terciptanya keadilan dan pemerataan sesuai dengan program yang hendak dikembangkan. Amil zakat tetap akan menerima bahagian dari zakat itu, walau merka terdir dari orang-orang berpunya juga. Terserah apakah bahagian imerka akan mereka nikmati berbentuk materi, atau akan mereka kembalikan lagi dalam bentuk shadaqah. Semuanya ini lebih banyak ditentukan oleh kualitas pribadi para amail.

Bahkan ada kalanya orang-orang “berduit” yang diberi amanah sebagai “amil” zakat, bisa meniru aa yang dilakukan oleh Kaum Anshar (Madinah) terhadap kaum Muhajirin, dalm sejarah Hijrah Rasullullah Shallallahu a’alaihi Wa Salam..

Mulianya sikap merka seperti diceritakan Allah di dalam Al Hasyr (QS.LIX) ayat -9 , antara lain mereka tunjukkan kasih sayang kepada orang berpindah ke kampung mereka, (Dewasa ini sebagai program Transmigrasi .Pen).

Dan tidak meraka menaruh keinginan dalam hati terhadap apa yang diberikan kepada merka (yang berpindah itu). Bahkan mereka utamakan kawannya lebih dari diri mereka sendiri meskipun mereka dalam kesusahan (pula)..

Begitu kira-kira bentuk-bentuk dari kualitas ummat, yang terbina karena iman mereka terhadap Allah. Hidup dalam kehidupan redha Allah.

Harus dipungut

Tidak pantas, zakat dihitung oleh pemilik harta kekayaan, menurut keinginan dan kepentingannya semata.

Zakat harus dipungut. Karena itu institusi “amil” perlu membagi dirinya menjadi pemungut (collector) dan pembagi zakat (distributor).

Demi memudahkan para pemungut (kolektor,amil) dalam menjalankan tugasnya maka kemajuan iptek sekarang ini, memungkinkan sekali untuk menyusun lebih dahulu kohir (formulir zakat) .

Selengkapnya dapat berisikan cara-cara yang tepat dan mudah bagi pemilik harta kekayaan untuk menghidupkan semangat berzakat. Juga memudahkan menghitung berapa sesungguhnya besar zakat mereka yang semestinya dikeluarkan.

Akan salah kiprah jadinya, kalau ditemuinya juga pembayar zakat hanya mengeluarkan berupa kain sarung tua, ampelop uang di akhir tahun . Sebagaimana biasanya di bulan-bulan Ramadhan . Kemudian membagikan secara merata kepada siapa saja yang menurutnya pantas . Karena mungkin sasarannya kurang tetap. Dampaknya bisa berakibat memperbanyak jumlah orang miskin. Pendistribusian zakat perlu dipandu oleh Amil Zakat. Hal ini akan mempermudah terlaksananya “pementasan “ dan “pemintasan” dari usaha-usaha ke arah “pengentasan kemiskinan” ummat..

Zakat sesungguhnya bukanlah milik pembayar zakat. Zakat adalah “harta milik Allah”, yang diamanahkan untuk dibayarkan kepda orang-orang tertentu “ yang ditentukan oleh Allah. Mungkin saja terjadi,pemilik zakat menyerahkan kepada badan (amil) tertentu . Tersebab karena keragu-raguan hati semata. Apakah zakatnya sampai kesasaran atau tidak.

Maka dalam hal demikian itu menjadi tugas pokok dari amillah untuk mengumumkan pertanggung jawaban secara terbuka kepada ummat. Bisa sekali dengan memanfaatkan media massa yang ada dan menjangkau seluruh lapisan ummat.

Pantas,pintas dan pentas

Zakat sebagai penghapus kemiskinan telah dipentaskan sejak mas aRasullullah Shallalahu ‘alaihi Wassalam. Dalam sebuah hadist, sebagai mana diriwayatkan Bukhari Muslim, Rasullullah mengingatkan, “Meminta-minta tidak halal kecuali salah seorang dari tiga beban “. Pertama ,”orang yang menanggung beban berat (tidak mampu memikul sendiri ),maka baginya halal meminta “,Ketiga “orang yang dibalut kemiskinan maka baginya pun halal meminta sampai dia kembali tegak dan hidup secara wajar “.”Selain dari tersebut diatas haram baginya makan hasil meminta-minta.“. (HR.Bukhari Muslim, dari Qabishah al Hilali).

Batasan dan larangan Rasulullah ini, membuka peluang boleh meminta sampai terangakat kemiskinan dan di dalamnya terkandung makna berilah kepada seorang miskin sessuatu yang menyebabkan sesudahnya di a bisa hidup wajar (terangkat kembali dari garis kemiskinan).

Hidup layak, sebagai ukuran “kepantasan“, bervariasi sesuai kondisi kehidupan ummat dikala itu. Makanya kalangan miskin diangkat melalui pendidikan, pengajaran bagaimana membina hidup yang layak. Mengajarkan cara-cara mengolah kehidupan. Siap untuk membentuk hidup yang layak. Bisa melalui lapangan hidup pertanian, pertukangan, (nelayan) perikanan, perkebunan. Bahkan juga meniti usaha-usaha perniagaan.

Untuk itu tentu perlu dikaji kesediaan “simiskin” untuk mengubah sikap jiwa. Dari menerima kemudian memakan .Menjadi penerima,pengolah, pemelihara dan baru memakan hasilnya, untuk dirinya dan keluarganya.

Karena itu,tepat dan pantas jika kafir miskin diberi zakat hingga ia berkecukupan . Boleh dalam bentuk peralatan permodalan . Besarnya bantuan itu boleh disesuaikan dengan keperluan (untuk mengentaskan kemiskinan), agar dari usahanya diperoleh keuntungan. Meskipun jumlah permodalan itu besar (Imam Nawawi, Syarah Minhaj -VI/159).

Bahkan Imam Syafei menegaskan, ”Bantuan zakat bisa dalam bentuk memberikan sebuah pekerjaan. Malah kemudian bisa pula ditambah untu usaha-usaha lainnya hingga dapat memenuhi kebutuhan si-miskin” (Al Umm). Yang kemudian pendapat ini disepakati pula oleh Imam Ahmad,”orang miskin boleh mengambil zakat untuk seluruh kebutuhan hidup (berupa sumber usaha yang berketerusan)” (Al Inshaf,III/238).

Selanjutnya Ma’alim as Sunnah (II/239) menjelaskan pendapat Khattabi, ”Batas pemberian zakat adalah kecukupan (bagi simiskin yang diangkatkan derajatnya). Dengan zakat diciptakan kehidupan seseorang menjadi lebihj baik. Batas itu disesuaikan dengan kondisi serta tingakat kehidupan umum yang berlaku.Tentu akan berbeda pada tiap orang, sesuai dengan keadaaan mereka (bangsa)”.

Pendapat-pendapat itu merujuk kepada kebijaksanaan umum yang pernah dilakukan oleh Umar bin Khattab. ”Kalau memberikan bantuan hendaknya mencukupi.”. Umar mementaskan dalam masa pemerintahannya . Umar pernah memberikan bantuan (zakat) berupa tiga ekor unta kepada seorang laki-laki yang memerlukan bantuan.

Kemudian Umar pernah mengatakan niatnya yang teguh dalam “mengentaskan kenmiskinan “ di tengah rakyatnya .Akan aku ulangi pembagian zakat (sedekah) walaupun diantara mereka baru akan cukup dengan menyerahkan seratus ekor unta”.(Al Anwaal,565-566).

Ternyatalah ,institusi zakat dapat dipergunakan secara efektif. Dalam usaha meningkatkan taraf hidup sesama muslimin untuk menjadi keluarga yang mampu dan hidup penuh dengan kelayakan, dalam ukuran ekonomis. Entaskan kemiskinan.

Ini pula yang menjadi paham dai Imam Al Ghazzali (Ihya,I/207, al Halabi), ”Hendaknya zakat dapat dipakai untuk pembeli tanah (diolah bagi keperluan orang miskin ) dan hasilnya cukup untuk seumur hidup”.

Maka termasuk “pantas” mempergunakan zakat untuk usaha yang berkesinambungan mendatangkan hasil tetap.Pantas juga membuka perkebunan dan lahan-lahan pertanian . Sebagai jalan “pintas” untuk mengentaskan kemiskinan itu.

Yang perlu dijaga tujuan utamnyahanya untuk kepentingan peningakatan taraf hidup orang melarat. Tidak untuk kepentingan yang lain dari itu.

Disinilah peran BAZIS. 

Jangan Berpangku Tangan

Dengan tidak mengurangi penghargaan terhadap apa yang tengah di lakukan untuk menyalurkan aspirasi umat, yang selama ini terpelanting timbull pertanyaan, apakah kita boleh pasif dan berpangku tangan saja sambil menunggu-nunggu apa yang sedang terjadi dan akan dilaksanakan oleh “pihak yang berwajib” itu ? Jawabnya tentu tidak !

Seorang “pemimpin” pemandu dan pembina umat, tidak boleh pasif dengan berpangku tangan. Pertanggungan jawab moral seorang tidak mengizinkannya untuk bertindak tidak acuh (pasif) terhadap keadaan umat yang di pimpinnya. Terutama semua yang oleh umum dianggap mempunyai kedudukan pemimpin tadinya, dalam seluruh strata kepemimpinan.

Bencana akan menimpa umat, apabila golongan pemimpin, besar ataupun kecil, disaat seperti sekarang ini asyik merawati diri, lalu mendandani kehidupan masing-masing. Kemudian larut dan membiarkan umat tenggelam di dalam nasibnya tanpa pegangan yang pasti. Umat yang lebih lemah tidak boleh dibiarkan mencari nasib masing-masing tanpa pegangan dan arah yang pastiserta tanpa bimbingan dan panduan. Inilah beban seorang “pemimpin”.

Timbul pertanyaan; Apakah yang dapat dilakukan sekarang ? Sementara, mungkin sekali pemimpin umat itu belum dan tidak mempunyai apa-apa?. Tidak mempunyai kapital, tidak pula mempunyai wewenang apa-apa. Memang ada bedanya, bagi yang sudah dianggap orang sebagai pemimpin dari orang ‘awam.

Makanya yang dianggap seorang pemimpin itu, ialah karena memiliki beberapa hal. Seharusnya, seorang pimimpin yang bijak wajib memiliki; (a). Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, (b). Daya-pikir dan daya-cipta, (c). Cara hidup yang bersih, (d). Akhlak dan budi pekerti yang baik, (e). Rasa cinta kepada Agama, Nusa dan Bangsa pada umumnya, (f). Rasa setia kawan yang telah pernah terhimpun dalam hubungan persaudaraan, sebagai pembawaan sejarah dan persamaan pandangan hidup khususnya.

Yang dimiliki itu tidak dapat diukur dengan ukuran materiil atau kekuatan lahir. Akan tetapi tidak syak lagi, semua itu adalah modal dan tenaga pendorong. Di samping itu ada pula modal yang terdapat di luar kita, yakni pada diri umat yang bersangkutan sendiri, berupa kemauan, kecakapan menurut bakat masing-masing, dan ketabahan hati menghadapi kesukaran, yang sudah tidak asing lagi bagi kehidupan mereka selama ini.

Disekeliling kita terbentang bumi Allah yang kaya raya. terkandung di dalamnya seribu satu macam sumber hidup bagi tiap-tiap seseorang yang sungguh-sungguh berkemauan menggali dan mempergunakannya. Semuanya merupakan modal yang cukup besar dan effektif apabila dipergunakan dengan sebaik-baiknya, dan akan diberkati oleh Allah Yang Maha Rahiem, bila dipergunakan dengan mengharapkan keredhaan Nya.

Pariwisata Luhak Agam

Antara Potensi dan Nilai-nilai

Adat dan Agama

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Pendahuluan

Dari mana akan kita mulai ???

Pertanyaan ini mengusik kita untuk mendahului.

Padahal sebelumnya, kita sudah berada didepan. Tapi tidak pernah mencapai garis finish.

Allah telah mentakdirkan kita sebagai satu kaum yang menempati dataran tinggi. Berbukit, berlurah, dihiasi tebing dan munggu. Sungainya mengalir melingkar membalut negeri, seperti Batang Sianok diam – diam mengalir terus. Ditingkah gemercik air menimpa dedaunan dipagi hari. Bila hujan pun tidak turun, embun tetap menyuburkan tanah. Dikelilingnya didapati sawah berjenjang, ladang berbintalak. Diapit gunung menjulang tinggi, dikawal Singgalang dan Merapi.

Danau Maninjau airnya biru, tampak nan dari Embun Pagi..

Sungguhpun risau sering mengganggu, kampung halaman selalu menanti.

Indah sekali !!!

Alam yang indah karunia Ilahi ini, seakan “qith’ah minal jannah fid-dunya”, sepotong sorga tercampak kebumi. Mengundang orang yang datang berdecak kagum.

Keindahan alam ini, bertambah cantik, karena ada pagar adat yang kuat dan agama yang kokoh. Tampak dalam tata pergaulan dan sikap laku sejak dahulu. Masyarakatnya ramah. Peduli dengan anak dagang.

Pendidikannya maju.

Dengan negeri ribuan dokter, dan para ahli. Hanya didataran tinggi ini, ditemui Parabek dan Canduang. Tempat bermukim para penuntut ilmu dari seluruh penjuru.

Bahkan dari Malaysia, Brunei, Thailand dan Pattani. Disamping dari seluruh Nusantara, bahkan dari Aceh, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Disini pula didapati satu-satunya Kwik School, sekolah guru, kata orang doeloe, yang melahirkan banyak pujangga dan pendidik.

Dari halamannya tempat bermain para cendekiawan, Agus Salim, Hatta, Syahrir, Natsir, dan sederetan nama yang panjang, yang dikenal menjadi negarawan yang diakui.

Dan ini adalah bahagian dari kaba itu.

Bila kaba ini ingin di lanjutkan pula.

Yang bersua adalah hidup anak negeri berpagarkan nilai-nilai.

Nilai-nilai Adat

Sebagai masyarakat beradat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pula pelajaran-pelajaran antara lain:

1). Bekerja:

Ka lauik riak mahampeh. Ka karang rancam ma-aruih. Ka pantai ombak mamacah. Jiko mangauik kameh-kameh. Jiko mencancang, putuih – putuih. Lah salasai mangko-nyo sudah.

Artinya setiap yang dilakukan haruslah program oriented. Sama sekali bukanlah kemauan perseorangan (orientasi personal) semata. Sejak dari perencanaan hingga sasaran yang hendak dicapai terpolarisasi melalui persilangan pendapat masyarakat ditempat mana program itu akan dilaksanakan.

2). Caranya:

· Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo.

Artinya, ada kesamaan visi dan kesediaan kontrol.

· Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan di cito,

Artinya, harus dihidupkan kerja sama, tidak hanya sebatas sama bekerja.

· Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang, (basalang tenggang.).

Maknanya, kesediaan investasi mensukseskan misi yang ada pada visi yang sama.

· Karajo baiak ba-imbau-an, Karajo buruak bahambau-an.

Tiada lain yang diminta adalah terjalinnya network yang sempurna.

· Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru.

Dipastikan adanya satu kearifan, membaca setiap perubahan dalam membuat satu estimasi.

· Jiko mangaji dari alif, Jiko babilang dari aso, Jiko naiak dari janjang, Jiko turun dari tanggo.

Adanya prinsip taat asas, dan terjaminnya law enforcement, pelaksanaan program pada koridor yang tepat.

· Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Disinan api mangko hiduik

Dituntut adanya kesepahaman akan adanya keberagaman usaha, yang satu sama lain terikat, terkait dan saling mendukung, serta sustainable.

· Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai, Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali, Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso, Handak pandai rajin balaja.

Kaedah ini tiada lain adalah penerapan dinamika kehidupan masyarakat yang inovatif, kreatif, yang sangat diperlukan untuk pengembangan daerah dalam menggali potensinya.

· Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju, Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangkonyo manjadi.

Arti yang lebih menukik adalah kooperatif. Adalah wajar sekali, kalau bapak koperasi itu lahir dari putra Minangkabau.

· Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek kaparak. Nan bancah jadikan sawah, Nan munggu pandam pakuburan, Nan gauang katabek ikan, Nan padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak.

Makna yang lebih dalam adalah berlakunya prinsip-prinsip ekonomi pembangunan secara makro dan mikro, dengan berwawasan lingkungan.

· Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik.

Modal utama untuk siap bersaing dan bertanding disaat AFTA-2003, persaingan global dan akan diterapkannya borderless-community system itu

· Latiak-latiak tabang ka Pinang. Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo.

Ada suatu unggulan yang sangat spesifik dan mendorong kepada optimisme yang tinggi. Lebih egaliter, tak pernah mau dikalahkan. Konsekwensinya, adalah siap tampil dengan keungulan. Tidak hanya semata tampil beda.

3). Kemakmuran :

Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja. Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu. Sabuah si Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan.

Makmur tidak milik satu orang. Kemakmuran akan terpelihara bila keamanan terjamin. Semua orang dapat menimati kemakmuran secara patut dan pantas dalam keserta-mertaan. Dalam pengembangan setiap usaha, sangat diperlukan pemerataan penghasilan.

Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik kanyang.

4). Perhatian dengan penuh kehati-hatian sangatlah penting.

Ingek sabalun kanai, Kulimek balun abih,

Ingek-ingek nan ka-pai. Agak-agak nan ka-tingga.

Teranglah sudah …., bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat lahir dan batin material dan spiritual pasti dia akan menemui disini satu iklim mental climate yang subur. Bila pandai menggunakannya dengan tepat akan banyak sekali membantunya dalam usaha membangun anak nagari dan kampung halaman.

Lah masak padi ‘rang singkarak, masaknyo batangkai-tangkai, satangkai jarang nan mudo. Kabek sabalik buhua sontak, Jaranglah urang nan ma-ungkai, Tibo nan punyo rarak sajo.

Artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku. Melupakan atau mengabaikan ini, lantaran menganggap sebagai barang kuno, yang harus dimasukkan kedalam museum, di zaman modernisasi sekarang, ini berarti satu kerugian. Sebab berarti mengabaikan satu partner „yang amat berguna“ dalam pembangunan masyarakat dan negara.

Nilai Agama

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka ? (Pada hal), Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri mereka sendiri.

Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olokkannya” (QS.30, Ar-Rum, ayat 9-10).

Sekarang, kita tengah menyaksikan satu kondisi terjadinya pergeseran pandangan masyarakat dunia dewasa ini.

Maka masyarakat Minang, khususnya di Luhak Agam yang umatnya seratus prosen Islam wajib berperan aktif kedepan diabad XXI.

Dengan upaya menjadikan firman Allah sebagai aturan kehidupan.

Melaksanakan secara murni konsep agama dalam setiap perubahan. Agar peradaban kembali gemerlapan.

Berpaling dari sumber kekuatan murni, Kitabullah dan Sunnah Rasul, dengan menanggalkan komitmen prinsip syar’i dan akhlak Islami akan berakibat fatal untuk umat Islam, bahkan penduduk bumi.

Pada gilirannya umat Islam akan menjadi santapan konspirasi dari kekuatan asing.

Konsekwensinya adalah wilayah yang sudah terpecah akan sangat mudah untuk dikuasai.

Kembali kepada watak Islam tidak dapat ditawar-tawar lagi. Bila kehidupan manusia ingin diperbaiki.

Tuntutan kedepan agar umat lahir kembali dengan iman dan amal nyata dalam ikatan budaya (tamaddun).

· Tatanan masyarakat harus dibangun diatas landasan persatuan (QS.al-Mukminun:52).

· Mayarakat mesti ditumbuhkan dibawah naungan ukhuwwah (QS.al-Hujurat:10).

· Anggota masyarakatnya didorong hidup dalam prinsip ta’awunitas (kerjasama) dalam al-birri (format kebaikan) dan ketakwaan (QS.al-Maidah:2).

· Hubungan bermasyarakat didasarkan atas ikatan mahabbah (cinta kasih), sesuai sabda Rasul: “Tidak beriman seorang kamu sebelum mencintai orang lain seperti menyayangi diri sendiri”.

· Setiap masalah diselesaikan dengan musyawarah (QS.asy-Syura:38).

· Tujuan akhirnya, penjelmaan satu tatanan masyarakat yang pantang berpecah belah (QS.Ali Imran:103).

Rahasia keberhasilan adalah “tidak terburu-buru” (isti’jal) dalam bertindak. Tidak memetik sebelum ranum. Tidak membiarkan jatuh ketempat yang dicela. Kepastian amalan adanya husnu-dzan (sangka baik) sesama umat. Mengiringi semua itu adalah tawakkal kepada Allah.

Dalam tatanan berpemerintahan, kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak, sebelum kekuasaan itu menjejak bumi.

Ukurannya adalah adil dan tanggap terhadap aspirasi yang berkembang.

Takarannya adalah kemashlahatan umat banyak.

Kemasannya adalah jujur secara transparan.

Kekuatan hati (dhamir) penduduk (rakyat) terletak pada ditanamkannya kecintaan yang tulus.

Menghidupkan energi ruhanik lebih didahulukan sebelum menggerakkan fisik umat.

Titik lemah umat karena hilangnya akhlaq, moralitas Islami.

Enggan memahami syari’at, berakibat hilangnya kecintaan (kesadaran) terhadap Islam. Lahirnya radikalisme, berlebihan dalam agama, menghapuskan watak Islam.

Tidak menghormati hubungan antar manusia, merupakan kebodohan pengertian terhadap prinsip sunnah. Akibatnya adalah tindakan merusak (anarkis).

Potensi Pariwisata Di Luhak Agam

1. Keindahan Alamnya sangat potensial. Indah. Sangat indah. Menjadi alat promosi pariwisata internasional. Sudahkah dicatatkan sebagai trade mark ???

2. Adatnya kokoh. Masih tersimpan dalam prilaku empat jinih di nagari nan ampek kali ampek (IV Angkat Canduang, IV Koto, Tilatang Kamang, Sungai puar). Masihkah masyarakat Minang tahu di nan ampek ???

3. Agamanya kuat. Banyak sekolah, madrasah yang bisa diangkat kualitasnya. Sebab promosinya sudah lama dikenal. Problematikanya, kenyataan bahwa jalinan ini mulai mengendur. Karena pergeseran nilai-nilai. Akibatnya, kita kehilangan salah satu asset yang amat potensial. Apa upaya mendudukkanny kembali ???

4. Rakyatnya rajin. Bagaimana memelihara dan memacunya ???

5. Setiap daerah memiliki keunggulan. Dari segi makanan, ada Rinuak Maninjau, Karak kaliang Sungai Jariang, Pisang di Jambak, Kampung Pisang dan Baso, Gulai Itiak Koto Gadang, Daun Kahwa dari Pagadih, Randang Koto Tuo, Kue Kacang dari Biaro, Sarang Balam dari Batagak, Bika dari Batu Palano, Kue Sangko dari Sungai Puar, Saka Lawang dan Sungai Landir, Nasi Kapau dari Tilkam. Banyak sekali potensi yang bisa dijual. Siapakah yang menjualnya sekarang ???

6. Setiap desa ada produk. Jauh sebelum Jepang menerapkan “one village one product”. Tenunan Pandai Sikek (Batagak), Kerajinan emas (Guguak Tinggi, Guguak Randah), Silver Work (Kotogadang), Konveksi (IV Angkat), Kerajinan Besi (Sungai Puar), Tarawang (IV Angkat), Suji (Kamang dan Tilatang). Tugas kedepan, adalah mebuat perubahan program dari memperdayakan kepada memberdayakan. Mampukah kita ???

Kesimpulan

Pariwisata, mengundang orang untuk melihat apa yang tidak ada pada mereka.

Pariwisata yang berhasil adalah yang menyajikan produk wisata yang bisa mengasilkan pendapatan anak nagari. Mendorong mereka untuk hidup, dan memberi hidup.

Pariwisata menyajikan produk yang belum atau tidak dimiliki orang lain (produk unggulan). Semuanya itu, memerlukan kesiapan-kesiapan antara lain ;

1. Melibatkan seluruh unsur anak nagari berprilaku yang menarik.

2. Melibatkan kembali semua anak nagari memakaikan adat dan agama yang terjalin erat dan rapi. Sehingga menjadi bahan penelitian bagi orang lain. Contoh dinegeri orang, seperti di Bali, Brunei, Malaysia, India, yang melaksanakan apa yang kita sebutkan “indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan”, yaitu budaya dan tamaddun.

3. Pariwisata yang akan lama bertahan dimasa mendatang, di abad keduapuluh satu, adalah wisata budaya, alam, spiritual, ilmu pengetahuan, disamping situs-situs peninggalan lama. Di Agam masih tersimpan semuanya itu. Lebih jauh, akan lahir dengan sendirinya para peneliti, kolektor potensi-potensi budaya tersebut.

4. Latihan pemandu wisata, yang beradat dan beragama menjadi satu yang sangat utama sebagai pendukung pariwisata Luhak Agam.

5. Event-event Internasional,

· Pertemuan pelukis sketsa Manca Negara dikaki Merapi, Singgalang, Embun Pagi Danau Maninjau dan sebagainya.

· Pencak Silat Harimau Campo Luhak Agam,

· Layang-layang seperti Jepang atau Thailand,

· Festival tari, folk-lore, dan sejenisnya. Dan banyak lagi yang bias digali secara kreatif.

Akhirulkalam, gagasan ini sesungguhnya bisa dikembangkan dalam scope yang lebih luas Minangkabau, sebagai asset pariwisata Sumatera Barat.

Insya Allah.



[1] Ada sinyalemen Prof. Emil Salim (pernah menjabat Menteri KLH, Kabinet Pembangunan V), tentang lahan Ranah Minang. Sebagai dikatakannya, tanah di Minangkabau, tidak (kurang) bersahabat. „Dari keseluruhan wilayah Sumatera Barat, hanya sekitar 14 persen saja yang kondisi tanahnya subur dan cocok untuk areal pertanian.“. Begitulah kira-kira, kesimpulan Prof. DR. Emil Salim, (sebagai diungkapkan Singgalang, Rabu, 7 Juli 1993, halaman pertama) dari Musyawarah Pola Dasar Pembangunan Sumbar.

Auglýsingar

One comment on “Menggali Potensi Zakat, Menggerakkan Umat berbasis Kemampuan dan Kompetensi

Færðu inn athugasemd

Skráðu umbeðnar upplýsingar að neðan eða smelltu á smámynd til að skrá þig inn:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Breyta )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Breyta )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Breyta )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Breyta )

Tengist við %s

%d bloggurum líkar þetta: