Færðu inn athugasemd

MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIYHI WA SALLAM

MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIYHI WA SALLAM

Oleh: H.Mas’oed Abidin*

http://www.masoedabidin.multiply.com

Memperingati “maulid-rasul” sebenarnya menanamkan keinginan kuat mengikuti jejak langkah — sunnah Rasul — yang di wariskannya, sesuai Wahyu Allah tentang keutusan Muhammad Rasulullah SAW menjadi “Rahmat bagi seluruh alam” , dan rela menjadikannya “uswah hasanah” , suri ketauladanan yang teramat sempurna dari “nabi terakhir” yang telah melakukan perubahan (ishlah) menyeluruh terhadap berbagai prilaku kearah yang lebih baik dalam kehidupan manusia, dari kondisi dzulummat (kegelapan) kepada peradaban (civilisasi) yang terang benderang, transparan, an-nur atau kehidupan yang penuh cahaya.

Bila disadari sungguh-sungguh kehadiran manusia di permukaan bumi memikul dua beban utama untuk melakukan ishlah (perubahan, perbaikan, reform) dan untuk uswah (pencontohan) dalam peran kekhalifahan. Tanpa kedua sikap ini sebenarnya tidak terdeteksi eksistensi manusia.

Perubahan yang di bawa Rasulullah SAW, berdasar bimbingan Wahyu Allah SWT, menuntun manusia kepada fithrahnya menjadi ummat bertuhan (tauhidic weltanschaung) dan berakhlaq budi pekerti. Terbukti bahwa perubahan dimaksud tidak semata bertumpu kepada keinginan pribadi, tetapi selalu dengan bimbingan Khaliq Maha Pencipta. Dan prilaku manusia yang terbimbing wahyu Allah dan sunnah Rasul ini, pasti terjauh dari pertentangan dalam kehidupan manusia. Inilah perbedaan mendasar dalam hal perubahan yang di lakukan reformer lainnya yang sering melahirkan pemaksaan kehendak, tindakan kekerasan bahkan anarkis.

Perubahan berdasar Sunnah Rasulullah SAW, bermuara kepada “syari’at Islam”, dan berintikan proses perubahan dan perbaikan berbentuk tajdid (pemurnian) , Ishlah (penyempurnaan dan penyelesaian) dan taghyir (perubahan sikap) . Perubahan prilaku yang berperadaban kearah perbaikan prilaku tanpa merusak.

Ajaran Islam mengingatkan ummat untuk menghindari tindakan merusak (fasad=anarkis) dalam tatanan prilaku maupun idea (pemikiran) dengan berupaya menjauhi pemaksaan kehendak.

Agama Islam menghormati prinsip tidak ada paksaan dalam agama . Kewajiban asasi melembagakan musyawarah dalam setiap urusan. Teguh identitas (shibghah) dalam ujud amar ma’ruf (proaktif mengajak dan mengamalkan kebaikan-kebaikan) dan nahyun ‘anil munkar (taat asas menolak setiap kejahatan).

Gerakan amar makruf-nahiy munkar bertujuan melawan segala corak kemakshiyatan menyangkut tatanan dan hubungan pribadi, keluarga, masyarakat, lingkungan, bangsa dan negara. Tujuan utamanya menciptakan ummat berkualitas “khaira ummah” atas dasar “iman” kepada Allah. Intensitas tinggi berpacu dalam menggairahkan perlombaan kepada kebaikan “fastabiqul-khairat”.

Ajaran Islam terbukti dalam sejarah panjang peradaban manusia berhasil menciptakan suatu komunitas ummat yang kian hari bertambah jumlahnya sampai akhir zaman .

Risalah Rasulullah SAW, mencatat kegelapan perilaku kehidupan jahiliyah masa lalu, antara lain ;“Kami adalah orang jahiliyah, penyembah berhala (kepatuhan kepada selain Allah dengan pemberhalaan kedudukan, kekuasaan, harta kekayaan), pemakan bangkai (tidak mengenal halal-haram), memutus silaturrahim (dengan penidasan, anarkis, intimidasi), berbuat bencana terhadap jiran tetangga, dan perbuatan keji (judi,rampok,korupsi,zina) , sehingga yang kuat menelan yang lemah (arogansi kekuasaan, pemupukan kekuatan golongan dan kelompok). Sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul dari kalangan kami sendiri, yakni Muhammad SAW yang sangat kami kenal nasab, kebenaran, kejujuran, amanah (tranparansi), dan baik pekertinya. Karena itu kami mempercayainya, dan kami benarkan risalahnya” (HR.Buchari, Abu Daud).

Hadist ini sebenarnya berisikan;

Pertama, Risalah Rasulullah SAW diterima karena kejujuran pembawanya (pribadi Muhammad Al-Amin).

Kedua, keutamaan Wahyu Allah mampu merombak tata prilaku kehidupan masyarakat secara kaffah (menyeluruh).

Ketiga, keteguhan ummat dengan tingkat konsistensi (istiqamah) yang tinggi dalam kerangka jihad fii sabilillah.

Keempat, teguh keyakinan kepada kehidupan ukhrawi, bahwa hidup tidak semata materil fisik.

Kelima, kecerdasan ummat melihat cerdas Agama Islam adalah konsep hidup terbaik.

Kelima faktor ini yang menjadi pembangkit utama harakah Islam sebagai kekuatan alternatif masa datang. Ummat Islam hari ini di tuntut berperan aktif sebagai pengisi konsep, pelaku penggerak kehidupan duniawi berkeadilan.

Agama Islam tidak hanya ibadah dalam arti sempit (puasa, shalat, zikir dan do’a), tetapi menata amalan nyata yang shalih dalam membentuk kualitas hidup “hasanah” di dunia dan di akhirat.

Ummat Islam mesti sadar bahwa Dakwah Ilaa Allah selalu berhadapan dengan kekuatan konsep fikrah (ghazwul fikriy) Yahudi dan Salibi , dalam penguasaan ekonomi tersistim kearah pemelaratan ummat yang kaya menjadi sangat tergantung kepada belas kasihan para pemodal sehingga lahirlah masyarakat yang miskin dari kekayaan.

Keadaan seperti ini, akhirnya diperparah oleh percaturan politik dengan bungkus demokratisasi, humanisasi, dan hak asasi yang pada dasarnya menjadi kemasan dari phobia terhadap Islam yang berujung dengan intimidasi terhadap ummatnya. Dalam rangka ini kita peringati Maulid Nabi.

Padang, Rabi’ul Awwal 1430 H/ Maret 2009 M.

Færðu inn athugasemd

Skráðu umbeðnar upplýsingar að neðan eða smelltu á smámynd til að skrá þig inn:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Breyta )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Breyta )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Breyta )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Breyta )

Tengist við %s

%d bloggers like this: