Færðu inn athugasemd

Menetapkan pilihan menjadi Ibadu r-Rahman

“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang (Ibadurrahman) itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan)  yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya ia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami …Anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami, penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam sorga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan-ucapan selamat di dalamnya.” (Q.S. Al Furqan: 63-75)

Ibadurrahman adalah hamba-hamba yang dinisbatkan kepada Allah semata (Ar Rahman) yang mengandung pengertian, bahwa mereka adalah hamba-hamba yang layak mendapatkan rahmat Allah dan mereka selalu berada dalam lingkup rahmat-Nya. Mereka adalah orang-orang yang menyadari kekuasaan Allah dan memenuhi hak-hak-Nya, yang memurnikan agama karena Allah dan Allah memurnikan agama-Nya bagi mereka.

Dinisbatkannya mereka kepada Allah Yang Maha Rahman – sebagaimana yang dinyatakan langsung oleh Allah – oleh karena disana juga ada golongan-golongan hamba yang lain, seperti hamba syeitan, hamba taghut, hamba syahwat, hamba uang, hamba khamar, hamba narkoba, hamba birahi, hamba harta, hamba tahta, hamba wanita.

Ibadurrahman mempunyai sifat dan tanda-tanda sebagaiman yang disebutkan Allah di dalam ayat-ayat di atas. Sifat-sifat tersebut adalah:

1.  Tawadhu’ dan rendah hati

2.  Murah hati

3.  Mendirikan shalat malam (Qiyamullail)

4.  Takut neraka

5.  Sederhana dalam membelanjakan harta

6.  Tauhid

7.  Menjauhi tindak pembunuhan dan menghormati kehidupan

8.  Menjauhi zina

9.  Taubat Nasuha

10.   Tidak bersumpah palsu dan meninggalkan pekerjaan yang tidak bermanfaat

11.   Menyelami ayat-ayat Allah

12. Memohon kebaikan bagi istri dan keluarganya

Sifat Ibadurrahman yang pertama: Tawadhu’

Sifat Ibadurrahman yang pertama diungkapkan oleh Al Qur’an bahwa mereka berjalan di muka bumi dalam keadaan rendah hati dan penuh tawadhu’.

Ibadurrahman berjalan di muka bumi dalam keadaan  rendah hati, tawadhu’ dan lemah lembut, berjalan dengan penuh kewibawaan dan kehormatan, tidak dengan sikap sombong dan semaunya sendiri, tidak merasa lebih tinggi dari siapapun, tidak menyeramkan dan tidak congkak.

Syaikh Yusuf Al Qardhawy mengatakan maksud berjalan dengan rendah hati bukan berarti berjalan dengan cara membungku-bungkuk seperti orang sakit, sebab Rasulullah SAW tidak berbuat seperti itu, begitu pula para sahabat. Sebagaimana yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib r.a, dari Nabi SAW, bahwa saat berjalan badan beliau bergerak-gerak seperti sedang meniti jalan menurun. Ini merupakan jalannya orang-orang yang penuh semangatdan pemberani, seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim di dalam Zadul Ma’ad . Abu Hurairah juga pernah berkata, “Aku tidak melihat sesuatu pun yang lebih bagus dari pada Rasulullah SAW. Seolah-oleh matahari berjalan di muka beliau. Aku juga tidak melihat seseorang yang lebih jalannya daripada beliau, seakan-akan bumi menjadi turun di hadapan beliau. Kami sudah berusaha menyeimbangi beliau, tapi beliau seperti tidak peduli.”

Rasulullah tidak berjalan seperti orang sakit atau lamban. Tapi maksud cepat disini bukan berarti cara berjalan yang menghilangkan kewibawaan, yang berjalan terlalu cepat. Artinya sedang-sedang saja, tidak terlalu cepat tidak terlalu lambat, sesuai dengan perawakan, umur dan kemampuan.

Rasulullah SAW juga para sahabat beliau telah menyontohkan kepada kita sikap tawadhu’ yang pada dasrnya adalah salah satu landasan sikap dan akhlak mereka.

Kemudian marilah kita simak kata-kata hikmah berikut ini yang terdapat dalam kitab Muzakarah fi manazili as Shiddiqin wa ar Rabbaniyyin; min khilali an Nushus wa Hikam Ibnu ‘Athaillah Sakandary karya Syaikh Sa’id Hawwa:

“Barangsiapa yang beranggapan bahwa dirinya tawadhu’ pada hakikatnya dia orang-orang yang sombong, sebab anggapan tawadhu’ seperti ini tidak timbul kecuali lantaran rasa tinggi diri/tinggi hati. Karena itu, jika engkau beranggapan bahwa dirimu telah tawadhu’ sebenarnya engkau adalah orang yang takabur (sombong).”


« Murah Hati »

وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Q.S. Fushilat: 34)

Sifat Ibadurrahman yang kedua: Murah hati

Sifat Ibadurrahman yang kedua adalah sifat Murah Hati saat bergaul dengan manusia, terutama dengan orang-orang yang jahil dan bodoh. Sebagaimana firman Allah SWT,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى اْلأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا

“… dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, maka mereka mengucapkan kata-kata yang baik (yang mengandung keselamatan),” (Q.S. Al Furqan: 63)

Mengucapkan kata-kata yang baik artinya membebaskan diri dari kata-kata yang mengandung dosa, celaan, fitnah dan rasa dendam. Tidak membals keburukan dengan keburukan yang sama, meskipun itu sanggup dilakukan dan punya hak untuk membalasnya.

Allah SWT berfirman:

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ لا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling dari padanya dan mereka berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang yang jahil.” (Q.S AlQashash: 55)

Ketika orang-orang jahil menyapa, maka Ibadurrahman mengucapkan perkataan yang baik, tidak melumuri lidahnya dengan kata-kata yang sia-sia, tidak meladeni dan menghindarinya. Karena mereka tidak mau waktu mereka terbuang hanya untuk melayani sesuatu yang tidak bermanfaat, bukankah waktu sangat berharga apalagi bagi Ibadurrahman. Begitulah Ibadarurrahman, mereka menjaga lidah, waktu dan umur, melindungi lembaran-lembaran kebaikan yang sudah ada dan mengisi dengan kebaikan-kebaikan yang lain, menghindari keburukan dan sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat bagi mereka.

Nabi Isa a.s pernah berjalan melewati sekumpulan orang-orang Yahudi, lalu mereka melontarkan kata-kata  yang tidak senonoh kepda beliau, tapi beliau menanggapi perkataan mereka dengan kebaikan. Maka ada beberapa orang bertanya kepada  beliau, “Orang-orang itu telah melontarkan kata-kata tidak senonoh kepada engkau, namun engkau justru mengatakan yang baik kepada mereka.” Beliau menjawab, “Segala sesuatu mengeluarkan apa yang ada di dalamnya.”

Anas bin Malik r.a pernah berkata; “Jika ada yang mengucapkan kata-kata kasar kepadamu, misalnya dengan ungkapan, “Wahai orang zalim, fasik, pendusta, pembohong”, atau kata-kata lain yang tidak senonoh, maka hadapilah ia dengan berkata, “Kalau memang engkau berkata bahwa aku ini seperti yang engkau katakan, semoga Allah mengampuni kesalahanku. Jika engkau dusta atau mengada-adaatau memfitnah dengan kata-katamu itu, semoga Allah mengampuni kedustaanmu.”

Allah SWT berfirman: “Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Q.S. Fushilat: 34)

Di dalam ayat di atas Allah memerintahkan kita untuk tetap berlaku baik bahkan yang lebih baik kepada orang yang berbuat jahat kepada kita, agar dia berbalik menjadi teman yang setia. Karena manusia itu menjadi tawanan kebaikan. Jika kita berbuat baik kepada seseorang, maka kebaikan itu akan mengikat dirinya  dengan diri kita, sebagaimana yang dikatakan seorang penyair:

“Tundukkan hati manusia dengan berbuat baik kepadanya. Karena hanya kebaikan yang dapat menundukkan hati manusia”.

Dalam pembahasan sebelumnya banyak disebut tentang orang-orang yang jahil dan bagaimana menykapinya dalam pergaulan. Siapakah mereka yang disebut dengan orang-orang yang jahil? … Menurut Syaikh Yusuf Al-Qardhawy, jahil menurut Al Qur’an adalah setiap orang yang durhaka kepada Allah Azza wa Jalla, setiap orang yang memberi kekuasaan kepada hawa nafsu untuk  mengalahkan kebenaran dan setiap orang yang memberi kekuasaan kepada syahwat untuk mengalahkan akal sehat. Orang-orang yang meremehkan, mengolok-olok  masalah yang serius dan mengejek kebenaran. Begitupun setiap orang yang akhlaknya buruk.

Al Qur’an menceritakan ketika para wanita tertarik dan terpesona saat menatap wajah tampanNabi Yusuf a.s, maka Nabi Yusuf a.s berkata, “…Dan jika tidak Engkau hindarkan aku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk memenuhi keinginan mereka, dan tentulah aku termasuk orang-orang yang jahil.” (Q.S. Yusuf: 33)

Al Qur’an juga menceritakan ketika Nabi Musa a.s memerintahkan kaumnya agar menyembelih sapi betina, maka mereka berkata, “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.” (Q.S. Al Baqarah: 67)

Sebagai penutup dari pembahasan kedua sifat Ibadurrahman marilah kita simak hadits Rasulullah SAW berikut ini:

“Bersabda Nabi SAW kepada ‘Uqbah bin ‘Amir r.a, “Wahai ‘Uqbah, maukah engkau aku beritahukan budi pekrti ahli dunia dan akhrat yang paling utama? Yaitu: Melakukan silaturrahmi (menghubungkan kekeluargaan) dengan orang yang telah memutuskannya, memberi kepad orang yang tidak pernah memberimu, dan memaafkan orang yang pernah menganiayamu.” (H.R. Hakim)

Sifat Ibadu r-Rahman yang Ketiga

«  Menyukai Mendirikan Shalat Malam  »

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

Dan pada sebagian malam hari, (shalat) tahajjudlah sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhamu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”

(Q.S. Al Israa: 79)

Sifat Ibadurrahman yang ketiga: Shalat Malam

Pada malam hari Ibadurrahman berada dalam keadaan antara sujud dan berdiri, yang berarti mereka sedang mendirian shalat (Qiyamullail). Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Q.S. Al Furqn: 64)

Mereka diberi sifat sujud, karena mereka meletakkan kening di atas tanah, menghadap Allah. Dan mereka juga berdiri, membaca Kalamullah. Mereka melakukan itu bukan mencari kehormatan di mata manusia, bukan untuk mencari ketenaran dan pujian, tapi mereka melakukannya karena mengharap ridha Allah dan rahmat-Nya serta karena takut akan azab-Nya.

Di dalam riwayat banyak sekali yang menceritakan tentang keadaan Rasulullah SAW dalam melewati waktu malamnya. Salah satunya diriwayatkan bahwa suatu hari Ubaid bin Umair dan Atha’ bin Abu Rabbah mendatangi rumsh Sayyidah Aisyah r.a lalu mereka bertanya, “Beritahukanlah kepada kami sesutau yang paling menakjubkan yang engkau lihat pada diri Rasulullah SAW!” Setelah diam beberapa saat, Aisyah menjawab, “Suatu malam beliau berkata kepadaku, ‘Hai Aisyah, biarkan aku malam ini beribadah kepada Rabbku.” Aku berkata, “Demi Allah, aku suka selalu dekat dengan engkau, namun aku juga suka apa yang membuat engkau senang.”

Maka beliau bangkit, bersuci, lalu berdiri untuk mengerjakan shalat. Beliau terus menerus menangis, lalu beliau duduk dan masih tetap menangis hingga janggut beliau basah oleh air mata. Lalu beliau berdiri dan  terus menangis hingga tanah di dekat beliau basah. Kemudian Bilal datang mengumandangkan Azan Subuh. Ketika melihat beliau menagis, Bilal menghampiri beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, engkau menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lampau dan dosa-dosamu yang akan datang.” Beliau menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?”

Begitulah waktu malam yang dilalui oleh Rasulullah SAW, dan begitu juga yang dilakukan oleh para sahabat beliau. Al Hasan bin Shaleh – salah salah seorang fuqaha salaf – pernah menjual seorang budak perempuan kepada sekumpulan orang. Ketika memasuki sepertiga terakhir dari waktu malam, wanita budak bangun dan menyeru  mereka, “sahalat, shalat!” Mereka bertanya-tanya, “Apakah sudah subuh? Apakah fajar sudah terbit?” Wanita budak itu  balik bertanya, “Apakah kalian tidak shalat kecuali subuh saja?” Mereka menjawab, “Memang, kami hanya biasa mengerjakan shalat fardhu.” Maka budak itu menemui Al Hasan dan memohon kepadanya dengan berkata, “Tuan menjual aku kepada sekumpulan orang yang tidak mendapatkan bagian apapun dari waktu malam. Demi Allah aku memohon agar tuan mengambil aku kembali.”

Barangsiapa yang tidak bisa melakukan semua itu (Shalat malam), maka hendaklah ia mendirikan shalat fardhu tepat pada waktunya dan tidak mengulur-ulur shalat subuh sehingga matahari hampir terbut dan lebih suka tidur.

Syaikh Yusuf Al Qardhawy mengatakan, “Pola hidup manusia sudah banyak yang rusak. Dulu mereka suka tidur lebih cepat dan bengun lebih cepat pula. Ketika berbagai macam perangkat dan fasilitas modern, media massa, TV, film, Video  ada dimana-mana, maka mereka belum tidur hingga tengah malam, dan mereka pun  kesulitan bangun lebih dini.”

“Disebutkan dari Nabi SAW, bahwa ada seseorang yang tidur sepanjang malam hingga pagi hari. Maka beliau bersabda, “Itulah orang yang dikencingi syeithan di bagian telinganya.” (H.R. Bukhari & Muslim)

Rasulullah SAW bersabda:

“Syeithan membuat tiga simpul tali dibagian  belakang kepala salah seorang diantara kalian, yang pada setiap simpul tali ia bubuhkan stempel, ‘Malam masih panjang, maka tidurlah lagi’, Jika ia bangun dan menyebut nama Allah, maka simpul itupun terburai. Jika ia wudhu’, maka satu simpul lagi terburai, dan jika ia mendirikan shalat, maka seluruh simpul terburai, sehingga dia menjadi bersemangat dan tentram jiwanya. Jika tidak, maka tertekanlah jiwanya dan (timbullah) malas.” (H.R. Bukhari)

Simpul tali syeithan itu senantiasa ada di kepala setiap orang. Karena itu Rasulullah SAW bersabda;

“Lepaskanlah simpul tali syeithan itu meskipun dengan dua rakaat.” (H.R. Ibnu Khuzaimah)

Syaikh DR. Yusuf Al Qardhawy mengatakan, “Shalat malam dapat dikerjakan seusai shalat Isya hingga waktu fajar. Kita bisa memilih bagian dari bentangangan waktu itu. Shalatlah menurut kesanggupan, bisa dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat, delapan rakaat, hingga dua belas rakaat, dan akhirilah dengan shalat witir, karena sesungguhnya akhir shalat malam itu dipersaksikan. Tuntunan yang paling sederhana dari setiap muslim ialah melaksanakan shalat fardhu. Tapi Allah mensifati Ibadurrahman, bahwa mereka adalah orang-orang yang sujud dan berdiri melaksanakan shalat di waktu malam (Qiyamullail), dan tidak mensifati mereka sebagai orang-orang yang hanya memelihara dan mendirikan shalat fardhu. Memang memelihara shalat fardhu merupakan satu tingkatan, tapi itu bukan tingkatan Ibadurrahman. Artinya, Ibadurrahman memiliki tingkatan yang lebih tinggi lagi.”

Abdullah bin Sallam berkata, “Ketika pertama kali Rasulullah SAW menginjakkan kaki di Madinah, maka orang-orang berkerumun mengelilingi beliau, dan aku termasuk mereka yang ikut berkerumun. Setelah aku amati kuperhatikan wajah beliau, maka aku tahu bahwa wajah itu bukanlah wajah pendusta. Perkataan yang  pertama kali aku dengar dari beliau adalah :

“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, jalinlah hubungan persaudaraan dan shalatlah pada malam setelah manusia tidur, niscaya kalian akan masuk  sorga dengan sejahtera.” (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)

Allahi A’lam bi as Shawab

Sifat Ibadu r-Rahman yang Keempat adalah «  Takut akan Bahaya Neraka  »

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ (1) وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ (2) عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (3) تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً (4) تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ ءَانِيَةٍ (5) لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إلاَّ مِنْ ضَرِيعٍ (6) لاَ يُسْمِنُ وَلاَ يُغْنِي مِنْ جُوعٍ

“Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan?, Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (Q.S Al Ghasyiyah: 1-7)

Sifat Ibdurrahman yang keempat: Takut Neraka

Pada edisi sebelumnya telah dibicarakan tentang sifat-sifat yang dimiliki Ibadurrahman yaitu:

1.  Berjalan di muka bumi  dengan rendah hati (Tawadhu’), dan ini merupakan keadaan yang ada pada diri mereka.

2.  Mengucapkan kata-kata yang baik (murah hati) jika mereka disapa orang-orang jahil. Ini merupakan keadaan mereka bersama orang lain.

3.  Melalui waktu malam dengan sujud dan berdiri menghadap Rabb mereka. Ini merupakan keadaan mereka bersama Allah. Dikala orang lain lalai dan tidur pulas, justru mereka bangun dan mendirikan shalat lail, bermujahadah menghadapi Allah.

Hamba-hamba yang disifati langsung oleh Allah  sebagai Ibadurrahman ini, melakukan semua yang disebutkan di atas karena ada rasa takut dan harap yang selalu merasuki diri mereka. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang memiliki rasa takut yang begitu besar kepada Allah, kepada azab-Nya, seakan-akan neraka terpampang nyata di hadapan mereka. Karena itu timbullah rasa harap akan maghfirah Allah, ampunan dan ridha-Nya, hidayah dan rahmat-Nya serta harapan akan dijauhkan dari jilatan api neraka yang sangat dahsyat. Mereka menyadari bahwa mereka hidup di dunia nyata, tertuntun dengan sekian ragam kewajiban kehidupan. Namun, meskipun demikian, mereka tidak dapat menafikan bahwa suatu hari kematian pasti akan datang menjemput. Setelah kematian ada kebangkitan.

Setelah kebangkitan ada pengumpulan. Setelah itu ada hisab (perhitungan), mizan (timbangan), ada penyerahan kitab. Tiada seorangpun yang mengetahui dengan tangan apa ia akan menerimanya, tangan kanan (ash-habul yamin) atau dengan tangan kirinya (ash-habul syimal)? Tidak ada yang mengetahui ke sisi mana timbangan amalnya, ke sisi kebaikan atau keburukan?. Yang lebih menggetarkan lagi, kemana ia diantar, apakah ke dalam syurga tau dilempar ke dalam neraka? Maka tidak heran jika para Ibadurrahman  merasa seakan-akan neraka jahannam itu terpampang dengan nyata di hadapan mereka, yang seakan-akan neraka itu hendak meluluh lantakkan diri mereka dan lidah-lidah apinya seakan hendak menjilati kulit mereka dan menembus ubun-ubun mereka. Karena itu mereka berdoa.

Setiap orang akan melewati shirah yang di bawahnya api neraka yang menganga. Tiada yang tahu apakah dia selamat melintasi/menyeberangi jembatan yang ada di atas neraka itu ataukah akan jatuh ke dalamnya? Apakah ia dapat melewatinya secara cepat ataukah melewatinya secara tertati-tatih dan akhirnya jatuh di dalamnya? Allah SWT berfirman:

وَإِنْ مِنْكُمْ إلاَّ وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا (71) ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

“Dan tidak ada seorangpun dari kamu sekalian melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabb-mu adalah suatu kepastian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (Q.S. Maryam: 71-72)

Setiap individu muslim dan keluarga muslim harus menanamkan keimanan dalam diri dan keluarganya serta menjaganya dari jilatan api neraka.

Diriwayatkan bahwa Nabi Daud pernah berkata:

“Ya Ilahi, aku tak pernah sabar akan panasnya terik matahari. Lantas, bagaimana mungkin aku bisa sabar akan panasnya api neraka-Mu?”

Nabi Isa a.s pernah berkata:

“Beberapa banyak badan yang bagus, lisan yang fasih, wajah yang berseri, kelak berada di atas api neraka sambil berteriak-teriak kesakitan.”

Syeikh Yusuf Al Qardhawy mengatakan:

“Kematian merupakan pintu, dan setiap orang akan memasukinya. Tempat tinggal macam apakah yang ada di balik pintu itu? Tempat tinggal engkau adalah sorga, selagi engkau mengerjakan hal-hal yang diridhai Allah. Jika tidak, maka nerakalah tempat tinggal engkau. Keduanya merupakan tempat tinggal yang berbeda. Maka pilihlah tempat tinggal engkau.”

Allah dan Rasul-Nya telah mengingatkan dan menggambarkan keadaan neraka sedemikian rupa, sehingga begitu jelas dan tanda-tandanya tampak di depan mata, agar kelak kita tidak lagi mempunyai hujjah di hadapan Allah. Karena itu manusia harus berada diantara takut dan harap, tidak boleh terlalu dikuasai harapan sehingga mereka merasa aman dari tipu daya Allah, dan tidak pula terlalu dikuasai rasa takut, sehingga putus asa terhadap rahmat Allah. Tapi jika seseorang merasa dosanya terlalu banyak, kedurhakaannya menumpuk, kitab amalnya dipenuhi dengan kesalahan-kesalahan, maka dia harus lebih banyak merasa takut daripada berharap, selalu mengingat dosa-dosanya dan tidak melalaikannya.

Menghisab (menghitung) dirinya sebelum dihisab, menimbang amalnya sebelum ditimbang, bertanya kepada dirinya sebelum ditanya. Dia harus mengingat neraka dan bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Apa yang telah engkau lakukan? Apa yang telah engkau abaikan? Apa yang telah engkau langgar?” Siapa tahu yang demikian ini bisa meluruskan, membuat dia menyadari apa yang telah luput, lalu membenarkan apa yang telah diabaikanya, sehingga hari ini lebih baik dari kemaren, dan besok lebih baik dari pada hari ini. Beginilah keadaan orang-orang mukmin.

Allahu A’lam bi Ash Shawab

This slideshow requires JavaScript.


Færðu inn athugasemd

Skráðu umbeðnar upplýsingar að neðan eða smelltu á smámynd til að skrá þig inn:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Breyta )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Breyta )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Breyta )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Breyta )

Tengist við %s

%d bloggers like this: