Færðu inn athugasemd

Idul Qurban mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Taqarrub, mendekatkan diri kepada Allah

ALHAMDULILLAH, hari raya Idul Adhha tahun 1434 H telah dapat kita rayakan pada hari ini. Kita sambut dengan Shalat ’Iedul Adh-ha, sebagai tanda mensyukuri nikmat NYA. Setelah ini kita iringi dengan ibadah qurban. Untuk taqarrub ila Allah yakni mendekat diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Pada hari kemarin, tanggal 9 bulan Dzulhijjah (di bulan keduabelas) tahun 1434 H ini, sebagaimana setiap tahun telah terjadi, berjuta umat Islam telah berkumpul di Padang Arafah. Melaksanakan wuquf. Berhenti dan tafakur. Mengingati Allah. Memohonkan keampunan. Di tengah padang luas beratapkan langit. Di bawah terik sinar mentari atau sejuknya semilir angin padang pasir.

Semenjak dzuhur, hingga menjelang terbenam matahari. Beratus suku bangsa dari seluruh pelosok dunia. Berhimpun disana. Berbagai warna kulit dan langgam bahasa. Semua berpakaian sama. Tiada bedanya. Sepasang pakaian ihram. Membalut badan. Sehelai selempang. Terbuka bahu sebelah kanan. Sehelai lagi menjadi sarung. Penutup aurat. Tiada berjahit. Semua berwarna putih. Tiada lagi ada beda pangkat atau jabatan.

Raja raja meninggalkan tanda kehormatan yang tersemat di dada. Semua mahkota ditanggalkan. Semua kepala terbuka. Tanpa penutup. Hanya perempuan yang memakai jilbab. Tanpa cadar penutup muka. Tidak ada beda antara raja dan rakyat jelata. Semua sama.

إِنَّ أَكرَمَكُمْ عِندَاللهِ أتقَاكُم, إنَّ اللهَ علِيمٌ خَبيرٌ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al Hujurat 13)

Allahu Akbar Wa lillahil hamd.

Tawakkal, berlindung dengan teguh hanya kepada Allah

Inilah didikan Allah dengan aqidah agama Islam. Menjadi karakter umat dalam setiap ibadahnya. Amat jelas nyata di dalam ibadah haji.

Semua amalan manasik punya latar belakang sejarah. Misalnya ketika melakukan Sa’i antara bukit Safa dan Marwa. Diingatkan betapa teguhnya hati Siti Hajar. Mengasuh dan memelihara putranya Ismail. Ketika masih mengandung dan telah dekat saat melahirkan, tibatiba Ibrahim suaminya, meninggalkan istrinya, dan anak yang masih dalam kandungan itu. Pada sebuah lembah. Tiada tumbuhan sama sekali. Dia ditinggalkan. Hanya dengan segeribah (sekantong) air. Mulanya dengan air mata berlinang. Siti Hajar menahan suaminya. Karena merasa takut dan cemas. Ditinggal sendiri dalam beban yang berat pula. Tetapi Ibrahim suaminya, tidak dapat ditahan. Dia terus hendak pergi berjalan. Akhirnya si isteri bertanya.

آللهُ آمُرُكَ بِهَذَا

“ Allahkah yang menyuruh engkau berbuat begini ..”

Yakni meningalkan isteri yang sedang mengandung. Di tempat sepi begini. Ibrahim mengangguk. Lalu Siti Hajar berkata; Kalau memang Tuhan yang memerintahkan engkau meninggalkan aku seorang diri di sini. Pastilah Tuhan akan menjamin keselamatanku tinggal sendirian. Di sini. Sebab itu pergilah..”

Inilah sebuah asas pendidikan karakter mukmin mengajarkan “Sabar” intinya adalah “ketaatan”. Kepatuhan kepada Allah Azza wa Jalla. Keyakinan, bahwa perlindungan hanya ada di tangan Allah semata.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لآ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لآ يَعْلَمُونَ

Artinya, “Maka tegakkan wajahmu (berjuanglah) untuk agama yang hanif ini. Inilah agama fitrah, yang Allah telah ciptakan manusia selaras dengannya. Tidak ada perubahan dalam penciptaan Allah. Itulah agama (yang jadi pegangan hidup) kekal bernilai. Walau pun kebanyakan manusia tidak mau mengerti” (QS.ar Rum : 30)

Allahu Akbar Wa lillahil hamd.

Keberuntungan bagi orang yang bertakwa

Tidak lama setelah Ibrahim pergi, Siti Hajar melahirkan anak laki-laki. Terkenal dengan nama Ismail. Anak yang diberi nama oleh Allah. Lantaran makbulnya doa Ibrahim yang bersungguh sungguh.

وقال إني ذاهب إلى ربي سيهدين.. رب هب لي من الصالحـين .. فبشرناهُ بغلامٍ حليــمٍ

 “ dan Ibrahim berkata: „Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.  Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (lapang dadanya, yakni Ismail AS)..” (QS.37, Ash-Shaffat : 99-101).

Tidak lama setelah anak lahir, persediaan air habis. Air susu makin kering. Anak makin kehausan. Dengan perasaan tawakkal kepada Allah dimulainya berjalan. Mencari air. Dari bukit Shafa diteruskan ke bukit Marwah. Kadangkala dia berjalan cepat. Kadang kadang tertegun. Sambil berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ;

 ربنا وسعَت كلّ شَيْءٍ رَحْمَةٌ وَ علمَـا

„Ya Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu..”,

Dengan idzin Allah, tidak lama diunjuran kaki Ismail, muncul air yang jernih. Siti Hajar berlari mengumpulkan air yang telah membusat keluar. Sambil berkata zam-zam! (berkumpul, jangan mengalir). Menggenanglah air itu disana.  Kemudian menjadi sumur yang sampai kini disebut Zam-Zam, sejak lahirnya Nabi Ismail sekitar 2000 tahun sebelum Isa ibni Maryam. Hingga kini sudah lebih dari 4000 tahun berlalu. Ratusan juta manusia telah menziarahi Masjidil Haram. Menyauk dan mereguk air zam zam ini. Bahkan sekarang telah dibuat pipa sampai ke kota Madinah. Berpuluh juta liter air zam zam diangkut keluar tanah Haram ketika haji dan umroh setiap tahun. Karena meminumnya adalah sunat. Bahkan air zam zam dapat pula menjadi obat.

مَـا ءُ زَمْزَمَ لِمَـا شُرِبَ لَهُ

“ air zam zam diminum menurut niat yang meminumnya”.

Hingga kiamat sumur itu tidak akan kering. Bukti kekuasaan Allah. Lebih mendalam dapat dipahami bahwa amalan Sa’i antara bukit Shafa dan Marwah adalah bukti betapa besar pengaruh tawakkal kepada Allah, menumbuhkan semangat hidup yang tidak pernah pernah mengenal putus asa dari lindungan Allah Azza wa Jalla.

وَ مَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا … وَ يَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ … وَ مَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللهَ بَالِغُ أَمْرِهِ، قَدْ جَعَلَ اللهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“ Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguh nya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki) Nya. Sesungguh nya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS.65, Ath-Thalaq :2-3)

Karena itu ingatlah selalu, meskipun belum kentara sesuatu yang diharapkan, yakinlah bahwa pertolongan Allah itu pasti datang segera. Akan titik dari langit dan membusat dari bumi.

Beruntunglah orangorang yang bertakwa. Berbahagia orang yang bertawakkal, yakni berserah diri kepada Allah. Hidup didunia memerlukan sikap teguh pantang menyerah. Setiap insan Muslim selalu hidup dalam sikap optimistis dengan taqwa yang benar kepada Allah Azza wa Jalla dan senantiasa berserah diri.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوْا وَ اتَّقُوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَ اْلأَرْضِ

“Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”.( QS.7, al A’raf : 96).

Ujian kesabaran dan ketaatan

Didalam mengerjakan haji ada satu rukun. Melontar tiga jumrah, yakni Jumratul Aqabah, Jumratul Ula dan Jumratul Wustha, sesuai latar belakang sejarah dalam Surat Ash-Shaffat ayat 102 – 107 ;

فلَمَّآ بلغَ مَعَهُ السَّعْيَ قال يآبُنَيَّ إنى أرى في المنامِ أَنِّي أذبحُكَ .., فآنْظُرْ ماذَا تَرَى

Artinya ; “ .. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: „Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah, apa pendapatmu!“

قال يَآأبَتِى إفْعَلْ مَآ تُؤْمَرُ … سَتَجِدُنِي إنْشَآءاللهُ من الصَّآبِرِيْـنَ

ia menjawab: „Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah akan engkau dapati aku termasuk orang-orang yang sabar“.

فََلَـَّمآ أَسْلَمَآ وَتَلَّهُو لِلْجَبِـيْنِ وَنَادَيْنَآهُ أَنْ يَإِبْرَهِـيْمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَآ …

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya (nyatalah kesabaran kedua nya). Dan Kami panggillah dia: „Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.

Sudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail. Maka Allah melarang menyembelih Ismail. Allah mengganti dengan seekor sembelihan yang besar. Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkan Qurban pada setiap hari raya haji atau idul Qurban.

 

إنآكَذَالِكَ نَجْزِى ألْمُحْسِنِـيْنَ … إنَّ هذا لَهُوَالْبَلآ ؤُا الْمُبِينَ , وفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar .. “.

وتَرَكْنَـا عَلَيْهِ فِى أْلآخِرِيْنَ … سَلآمٌ على إِبْرَاهـِـيْمَ  , إنآكَذَالِكَ نَجْزِى ألْمُحْسِنِـيْنَ …

“ Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian, (yaitu) „Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim“. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS.Ash.Shaffat :108-110).

Maknanya, Kami tinggalkan kisah nyata ini sebagai peringatan untuk orang lain. Yang datang kemudian. Ibrahim telah menerima perintah Allah, melalui mimpinya. Mimpi Rasul adalah wahyu. Kesucian dan kebersihan jiwa menjadikan mimpi suci dan bersih pula. Ibrahim berhasil dalam melaksanakan perintah Allah walaupun setiap saat tetap digoda Syaithan anak tercinta anugerah Allah dikala usia telah tua pula. Akan disembelih oleh tangan sendiri … Bisikan syaithan ini tiga kali kepada Ibrahim dan tiga kali pula dia lontar syaithan itu. Hingga akhirnya Ibrahim berhasil menunaikan perintah dengan tawakkal. Allahu Akbar wa Lillahil-hamd.

Ujian Musibah dan Nikmat Allah selalu datang beriringan

Kesabaran didapat melalui latihan menahan diri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberi kepada kita  tuntunan di dalam Alquranul Karim, „Dan sesungguhnya Kami akan mengujimu dengan sesuatu cobaan, seperti ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah‑buahan. Gembirakanlah orang‑orang yang sabar,

الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ قَالُوْا إِنَّا ِللهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

yaitu orang‑orang yang bila ditimpa malapetaka, musibah, diucapkannya „Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un“.

أُوْلَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَ رَحْمَةٌ وَ أُلَئِكَ هُمُ اْلمُهْتَدُوْنَ

Merekalah orang‑orang yang mendapat berkat dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka pulalah orang‑orang yang mendapat petunjuk.“ (QS.2,Al‑Baqarah,ayat 155‑157).

Musibah adalah sisi lain dari nikmat.

Nikmat dan musibah dua hal yang silih berganti dalam hidup. Musibah memberi ingat manusia agar kembali kepada Allah Yang Maha Kuasa. Dalam konsep Islam, musibah adalah pertanda kasih sayang Allah, bahwa ;

إن ألله إذآ أحب قوم إبتلاهم

“apabila Allah menyayangi suatu kaum, di datangkan kepada mereka cobaan-cobaan”.

Hakikat tujuan didatangkan musibah adalah agar umat menjadi tabah dan sabar. Satu sikap jiwa yang terpuji dan mahal harganya. Menghadapi musibah sewajarnya manusia meningkatkan rasa syukur kepada Allah, agar nikmat berlipat ganda sesudah itu.

وَ إِذْ تَأَذَّنَ رَبَّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ َلأَزِيْدَنَّكُمْ وَ لَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ

“Dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya apabila kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat Kami kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. 14, Ibrahim : 7.)  

Musibah adalah imtihan atau ujian dalam kehidupan. Di balik ujian, tersedia yang lebih baik dari sebelumnya.

عَسَى أَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَ عَسَى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئًا وَ هُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَ اللهُ يَعْلَمُ وَ أَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS.2, Al-Baqarah : 216.).

Allahi Akbar wa Lillahil hamd.

Dibalik Musibah selalu menanti Hikmah yang besar

Pada hakekatnya, dibalik musibah tersimpan hikmah besar. Begitulah hingga saat ini. Tiap kali kita ingin berkurban. Memberikan apa yang mahal dalam ingatan kita. Pikiran dan Was was timbul di dalam hati. Syaithan ingin mendominasi. Semua itu harus kita atasi. Dengan mengharap redha Ilahi. Maka ibadah pada umumnya adalah tekad atau sikap selalu siap melaksanakan perintah Allah dengan jujur dan taat. Setia dalam menunaikan semua aturan Tuhan. Teguh (istiqamah, konsisten). Ingin selalu berbuat baik (al-khair) sesuai bimbingan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا ارْكَعُوْا و اسْجُدُوْا و اعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artinya, “Wahai orang yang beriman, rukuklah dan sujudlah (artinya patuh, taat, setia kepada aturan Allah), dan sembahlah tuhanmu, dan lakukanlah al-khair,(artinya yang baik, sesuai dengan ajaran dan syariat Islam), agar kamu berjaya menang (QS.22, al Hajj : 77).

Ibadah erat kaitannya dengan akidah Islam disebut tauhid ibadah menjadi dasar ibadah sesuai ketentuan Allah menurut Sunah Rasulullah yang dikerjakan meng- harap redha Allah sebagai pembuktian syahadah secara jujur. Karena itu marilah kita memupuk kegemaran berkurban. Saling membantu dan sama menanamkan sikap saling menghormati. Suka memaafkan. Menjaga kesatuan dan persatuan lebih mudah tumbuh oleh satu perasaan yang terjalin karena cinta kepada bangsa dan tanah air yang telah kita dirikan dengan darah dan air mata ini. Mengharap redha Allah sebagai bukti ketakwaan akan menjadi modal besar untuk membangun kehidupan bahagia masa depan.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَد

Artinya, Wahai orang yang beriman, hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah setiap diri merenungkan apa yang telah dilakukannya untuk hari esok (hari akhiratnya) (QS.al Hasyr : 18).

Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Akhlak mulia tumbuh dengan latihan kesabaran

Keutamaan risalah para Nabi menerapkan konsep tata laku yang baik guna membentuk kenyamanan hidup.  Makin mulia akhlak yang dimiliki semakin damai hidup dibumi. Rasulullah SAW menyebutkan ciri perangai ;

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنِ إِيْمَانا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، اَلْمُوَطِؤُّوْنَ أَكْنَافًا، الذِين يَألَّفُوْن و يُؤْلَفُوْنَ  (رواه الطبراني و أبو نعيم)

Artinya, “Iman orang-orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya, lembut perangainya, bersikap ramah dan disukai pergaulannya” (HR.Thabrani).[1]

Kelembutan dipunyai oleh insan sabar dan saling menyayangi, 

مَنْ لاَ يَرْحَمُ النَّاسَ، لاَ يَرْحَمُهُ اللهُ     (متفق عليه)

”Barangsiapa yang tidak menyayangi sesama manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya” (HR.Muttafaq ‘alaihi)[2] . Allahu Akbar wa Lillahil hamd.

Sayangi penduduk bumi agar yang dilangit ikut menyayangi

Satu‑satunya benteng menghadapi setiap perubahan dengan mengamalkan intisari ajaran tauhid dan berupaya menjadi penyayang sesama umat.

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمُ اللهُ مَنْ فِى السَّمَاءِ    (رواه أبوداود)

“Orang-orang penyayang itu disayang oleh Yang Maha Penyayang – Allah Rabb al ‘alamien –. Sayangilah penduduk  bumi, maka kalian akan disayangi oleh penghuni langit.” (HR.Abu Dawud).[3]

Sabar adalah kekayaan jiwa sumber kekuatan. 

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرْضِ، إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ   (متفق عليه)

“ Bukanlah kaya dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan itu adalah kaya jiwa” (HR.Muttafaq ‘alaihi).[4]

Kaya jiwa mematuhi semua perintah Allah dengan senang hati adalah bukti sabar yang benar. Setiap musibah bila mampu di hadapi dengan benar dan sabar akan mencerdaskan seorang. Menghidupkan fikiran. Menggerakkan tenaga. Berbuat yang di redhai Allah. Dengan harapan agar Allah meredhai usaha‑usaha kita. Firman Allah menunjukkan bagaimana Nabi Ya’kub alaihissalam mengajari anak anaknya yang pergi mencari berita tentang Yusuf dan saudaranya dengan bekal kesabaran dan teguh hati.

وَلاَ تَايْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللهِ إِنَّهُ لاِ يَايْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُوْنَ.

“ dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir” (QS.12, Yusuf:87).


[1]  HR. Thabrani ini ditemui dalam  al Ausath dan Abu Nu’aim dari Ibnu Sa’ad yang dihasankan oleh Albani dalam Shahih al Jami’ ash-Shaghir.

[2] Riwayat dari Imam Bukhari ditemui didalam al Adab dan Imam Muslim dalam al Fadhaa-il.

[3] Shahih Abu Dawud (4921), dan Imam Tirmizi menyebutnya Hasan Shahih (1925).

[4] Muttafaq ‘alihi dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah, lihat Lu’Lu’ wal-Marjan (1334-1335),

Auglýsingar

Færðu inn athugasemd

Skráðu umbeðnar upplýsingar að neðan eða smelltu á smámynd til að skrá þig inn:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Breyta )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Breyta )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Breyta )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Breyta )

Tengist við %s

%d bloggurum líkar þetta: